Thursday, February 28, 2013

Midah: Simanis Bergigi Emas




Midah: Simanis Bergigi Emas
Pramoedya Ananta Toer
Lentera Dipantara
Cet. 1, Juli 2003
432 hal.

Di kata pengantar, tertulis bahwa ini adalah ‘Ini adalah novel ringan. Ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada warsa 50-an dengan setting tempat: DJAKARTA’ (hal. 5). Ringan tapi

Berkisah tentang Midah, anak perempuan yang manis, dimanja oleh kedua orang tuanya. Selama 9 tahun, ia menjadi anak satu-satunya. Hadji Abdul benar-benar memanjakan putri semata wayangnya itu. Midah selalu ditimang, dipangku, diajak mendengarkan nyanyian dari Umi Kulsum, penyanyi asal Mesir.

Hadji Abdul, gambaran juragan di tahun 1950an. Asal Cibatok. Pernah pergi ke Mesir dan sangat membanggakan bahwa ia berhasil keluar dari kampungnya, tak seperti teman-temannya yang katanya penakut. Taat shalat, rajin berdzikir.

Sebagai laki-laki, tentulah ia mendambakan punya anak laki-laki. Siang-malam, tak henti-hentinya ia berdoa kepada Allah. Dan suatu hari, Allah pun berkenan mengabulkan doanya. Selamat besar-besaran diadakan. Kegembiraan terus berlanjut hingga lahirlah bayi yang ditunggu-tunggu, tak hanya satu, tapi adik Midah terus bertambah.

Namun, justru inilah awal kesedihan dan pemberontakan Midah. Dengan lahirnya adik-adik Midah, ia tak lagi jadi pusat perhatian orang tuanya. Midah pun mencari kesenangan lain di luar. Salah satunya dengan mengikuti rombongan orkes keroncong yang sedang berkeliling. Dari sini pengetahuan musik Midah bertambah. Tak lagi hanya kenal Umi Kulsum, tapi juga lagu-lagu yang kala itu sedang terkenal. Tapi, bagi ayahnya, musik-musik seperti ini adalah hal yang haram. Kemarahan Hadji Abdul jadi tak terkendali.

‘Penderitaan’ bagi Midah mengalami puncaknya kala ia dinikahkan dengan Hadji Trebus, pria pilihan ayahnya asal Cibatok yang kaya dan juga taat beragama, yang ternyata sudah punya istri banyak. Dalam keadaan hamil, Midah memutuskan untuk melarikan diri.

Perjuangan hidup bagi Midah yang sesungguhnya dimulai. Dari anak yang biasa dimanja, segalanya serba ada, Midah harus berusaha sendiri, mencari uang dengan bergabung di rombongan pemusik keliling, alias mengamen di rumah makan. Kecantikannya begitu menggoda bagi anggota rombongan yang mayoritas laki-laki itu.

Dalam keadaan hamil dan kemudian melahirkan bayi laki-laki membuat posisi Midah makin sulit. Anggota pemusik itu tak lagi mau menerima Midah. Midah akhirnya dibantu oleh seorang polisi, yang kemudian akan membuka jalan Midah menjadi penyanyi radio.

Yah, inilah cerita tentang Midah, yang berjuang untuk bertahan hidup. Ia berusaha menjaga moralnya sebagai perempuan dan seorang ibu. Tapi, di belantara Djakarta ini, tak mudah untuk melawan pesona seorang laki-laki yang begitu baik. Belum lagi cemooh orang-orang kala ia hamil dan melahirkan tapi tak ada suami yang mendampinginya. Begitu mudah terkadang orang menilai, menghakimi seseorang, tanpa tahu apa permasalahan yang sebenarnya.

Dan ternyata, rajin shalat dan berdzikir tak menjadikan seseorang rendah hati. Harta juga masih dianggap yang utama. Lihat bagaimana Hadji Abdul memilih jodoh untuk Midah. Lain halnya Hadji Trebus, yang tampak tak risau istrinya pergi dalam keadaan hamil. 



__ ‘Perkenalan dengan karya Pramoedya Ananta Toer’__

Dimulai ketika munculnya buku-buku PAT, yaitu Tetralogi Pulau Buru di Gramedia. Kontroversi yang masih melekat kala itu, sempat membuat beberapa orang yang tahu gue membaca buku itu ‘khawatir’. Alasan gue membeli buku beliau ketika itu, yah, pertama sih karena pengen tahu ya. Mungkin sekitar tahun 2000, pengaruh milis pasarbuku, membuat gue jadi ikut penasaran, pengen ikut ‘sok bersastra Indonesia’, padahal biasanya bacaan gue berkisah buku-buku novel Danielle Steel atau romance lainnya. Si mantan pacar ini bilang, “Baca deh, sekali-sekali baca yang begini.”

Ok… gue pun baca Bumi Manusia(dan oopss… baru buku ini yang gue punya dari seri Tetralogi Pulau Buru). Dan, ternyata… bagus… Gue gak terlalu ngerti dengan segala kontroversi yang bikin PAT sampai dipenjara dan karya-karyanya dilarang terbit. Bagi gue, Bumi Manusia adalah novel bernuansa sejarah.

Setelah itu, gue mulai membaca buku-buku PAT yang lain, tapi lebih ke yang tipis-tipis. Hehehe, seperti Gadis Pantai, Midah: Simanis Bergigi Emas, dan Bukan Pasar Malam. Rahib Tanzil juga salah satu (yang lagi-lagi) mempengaruhi gue untuk membaca karya-karya PAT.


Salah satu peninggalan Pramoedya Ananta Toer yang paling berharga untuk gue adalah, di buku Nyanyian Sunyi Seorang Bisu, yang dihadiahkan temen gue pas gue ulang tahun, ada tanda tangan beliau lengkap dengan ucapan ulang tahun…. Hmmm… sampai sekarang gue gak tau bagiaman temen gue ini bisa dapet tanda tangan beliau…

Les Misérables



Les Misérables
Victor Hugo @ 1862
Reyvita Mutiara Andriany (Terj.)
Visi Media – Cet. 1, Desember 2012
482 hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

Berkisah dengan setting Perancis antara tahun 1815 – 1832, diawali dengan mengenalkan tokoh Tuan Charles-Francois-Bienvenu Myriel, yang diangkat menjadi Uskup di Kota D – beliau ini kemudian dikenal dengan nama Tuan Welcome. Sebagai uskup, kehidupannya sangat sederhana. Harta yang ia miliki, ia berikan untuk kepentingan ibadah dan membantu orang-orang miskin. Ia tak takut akan bahaya apapun, karena ia yakin, Tuhan akan selalu menjaganya. Ia bersedia menukar tempat tinggalnya yang besar demi menampung orang-orang sakit. Pintu rumahnya tak pernah terkunci. Menyebabkan kekhawatiran pada diri dua perempuan yang setia menemaninya – adiknya dan pengurus rumah.

Karena pintu rumah tak terkunci inilah, ia akhirnya mengenal sosok Jean Valjean – seorang mantan narapidana yang dihukum selama 19 tahun untuk melakukan kerja paksa di atas sebuah kapal. Kesalahan Jean Valjean, sebenarnya ‘ringan’ saja. Ia mencuri roti demi keluarganya yang kelaparan. Tapi, ia dihukum demikian berat dan menyebabkan ia berpisah dengan keluarganya. Setelah bebas, tak ada seorang pun yang mau menerimanya. Ia menjadi sosok yang ditakuti karena beredar kabar bahwa ia adalah orang yang sangat kejam. Cap sebagai ‘narapidana’ memberinya posisi yang sangat tidak enak. Orang langsung menjauh dan tak mau memberi bantuan, meskipun hanya untuk makan dan tidur.

Untung ada seorang perempuan baik hati yang memberi tahu, agar Jean Valjean mencoba datang ke rumah Monsieur Welcome. Jean Valjean juga sudah terlanjur memberi cap negatif gereja dan kerajaan .Karena merekalah yang menyebabkan dirinya menjadi seperti ini. Dan betapa terkejut dan malunya Jean Valjean, saat Monsieur Welcome membantunya dan membebaskan dirinya dari jerat hukum. Jean Valjean pun memutuskan untuk berubah dan membalas kebaikan Monsieur Welcome dengan berbuat kebajikan. Ia mengubah identitasnya menjadi Tuan Madelaine, dan menjadi tokoh yang dikagumi banyak orang.

Sementara itu, satu lagi warga yang tak beruntung, seorang perempuan cantik bernama Fantine. Karena kesalahan di masa remajanya, ia harus menjadi orang tua tunggal untuk anak perempuannya, Cosette. Dalam perjalanannya menuju kota M Sur M, ia bertemu dengan seorang perempuan yang tampak baik hati, bernama Nyonya Thenardier. Fantine pun menitipkan Cosette pada perempuan itu. Yang ternyata pada akhirnya, hanya bertujuan mendapatkan uang semata dan terus memeras Fantine. Sementara itu, di tempat Fantine bekerja, perempuan-perempuan bergosip, penasaran akan latar belakang Fantine, iri dengan kecantikannya.

Fantine menjadi sosok yang membenci Tuan Madelaine, karena menganggap dia sebagai salah satu penyebab nasib buruknya. Sementara itu, seorang polisi bernama Javert, mulai mencium ada sesuatu yang salah dengan Tuan Madelaine. Ia curiga bahwa Tuan Madelaine tak lain adalah Jean Valjean.

Di balik gemerlapnya Perancis saat ini, menyisakan sebuah sejarah yang penuh dengan penderitaan bagi kaum miskin. Mereka tidak bisa membela diri saat dinyatakan bersalah. Kesalahan yang kecil, diadili dan diberi hukuman yang sangat berat. Sementara para pejabat dan orang-orang kaya berfoya-foya dan menghamburkan kekayaan mereka. Seorang yang pernah menjadi narapidana, seolah tak mendapatkan tempat di masyarakat. Ia terus dicemooh dan dianggap berbahaya. 

Jean Valjean, tokoh yang menjadi keras karena penderitaan yang ia lewati. Tak percaya pada gereja, pemerintah dan hukum. Dan ia pun bertekad untuk menjadi seorang yang lebih baik. Saat dirinya dihadapkan pada sebuah pilihan, apakah membiarkan seseorang yang tak bersalah bernama Champmathieu dihukum,m atau mengakui siapakah sebenarnya sosok dibalik Tuan Madelaine?

Sosok Javert mewakili seorang penegak hukum yang taat. Tapi, sayangnya, terkadang ambisi juga mengaburkan mana yang benar dan salah. Saat Fantine membalas perlakukan Tuan Bamatabois, Javert tak peduli siapa yang sebenarnya salah. Yang ia tahu adalah Tuan Bamatabois adalah orang yang terpandang, itu artinya kesalahan ada di pihak Fantine. 

Sementara Fantine, hanyalah seorang ibu yang ingin anaknya bahagia dan sejahtera. Apa pun ia korbankan agar sang anak bisa hidup lebih baik daripada dirinya. Sayangnya, ia terlalu percaya dengan pasangan Thernadier dengan permintaannya yang semakin melambung.

Bagi pembaca yang senang cerita yang langsung menawarkan ketegangan atau konflik, buku ini rasanya kurang cocok. Karena di awal cerita, kita akan diajak dulu untuk berkenalan dengan Uskup Welcome, baru kemudian masuk ke tokoh utama, yaitu Jean Valjean dan Fantine. Alurnya lambat dan rada bertele-tele, cenderung membuat orang jadi bosan. Lain untuk penyuka historical-fiction, yang pasti tertarik dengan sejarah Perancis di masa-masa revolusi.

Awalnya, saya nyaris meletakkan buku ini dan ganti ke buku yang lain. Ini terjadi, saat saya membaca bagian pertama di buku ini, ya, bagian Uskup Welcome, tapi, begitu ganti ke bagian kedua, mulai masuk ke pengenalan seorang Jean Valjean, ditambah munculnya tokoh Fantine yang bisa membuat hati perempuan teriris-iris dan Javert yang membuat gemas karena kekakuannya, semakin membuat saya tertarik untuk melanjutkan membaca buku ini.

Buku ini ternyata masih ada lanjutannya, karena akhir cerita masih menggantung. Bagaimana dengan nasib Cosette dan kelanjutan kisah dari Jean Valjean yang kembali menjadi pelarian? Apakah Javert masih terus memburunya? Semoga saja Visi Media segera menerbitkan kelanjutan dari buku ini. Jangan karena booming film-nya, lalu setelah ‘gaung’nya selesai, kelanjutannya tak jelas kabarnya.



Lewat perannya sebagai Fantine, Anne Hathaway meraih Golden Globe dan Piala Oscar untuk kategori Aktris Pendukung Wanita Terbaik.

Wednesday, February 27, 2013

The London Eye Mystery




The London Eye Mystery (Misteri London Eye)
Siobhan Dowd @ 2007
Yoga Nandiwardhana (Terj.)
GPU, Januari 2013
256 hal.
Untuk  usia 11 tahun ke atas
(Gramedia Plaza Semanggi)

Satu lagi buku tentang anak yang ‘berbeda’ setelah The Perks of Being a Wallflower. Kali ini tentang Ted. Ted ini senang mengamati cuaca. Bukan sekedar hari ini cuaca cerah, berawan atau hujan, tapi sampai ke berbagai fenomena cuaca, perhitungan kapan badai akan terjadi, probabilita turun hujan dan lain-lain.

Suatu hari, rumah Ted kedatangan seorang sepupu bernama Salim, yang datang bersama ibunya, Bibi Gloria. Mereka mampir ke rumah Ted sebelum bertolak ke New York di mana Bibi Gloria mendapatkan pekerjaan baru. Sebenarnya Salim enggan untuk meninggalkan Manchester, tapi, apa daya, ia harus menuruti kemauan ibunya. Ted yang tak biasa dengan orang baru, berusaha untuk menjalin pertemanan dengan Salim.

Ted dan Kat, kakaknya pun, mengajak Salim untuk naik The London Eye, atraksi turis yang sedang happening di London. Saat sedang mengantri tiket untuk naik London Eye, seorang pria tiba-tiba menawarkan satu tiket gratis. Dengan segera, Kat memberikan tiket itu untuk Salim dan Salim pun naik London Eye sendiri.

Sesuai waktu yang sudah diperhitungkan dengan cermat oleh Ted, London Eye berhenti berputar dan mereka pun menanti Salim keluar dari salah satu kapsul. Tapi, Salim tak kelihatan batang hidungnya, bahkan setelah penumpang terakhir keluar.

Panik pun melanda Bibi Gloria. Ted dan Kat bertekad untuk memecahkan misteri ini. Ted mempunyai banyak teori. Tapi karena ia dianggap ‘aneh’, orang tua mereka tak mau mendengar apa yang coba Ted sampaikan. Tapi, semakin dilarang, keinginan Ted dan Kat untuk menyelidiki hilangnya Salim semakin kuat. 

via Panoramio

Ted yang aneh, tapi memiliki otak yang cerdas. Ia terbiasa berpikir dari sudut pandang yang berbeda dengan orang lain, hingga akhirnya mencapai sebuah kesimpulan yang membantu memecahkan masalah ini. 

Jadi, berada di manakah Salim sebenarnya? Apa ia menghilang, diculik, masih hidup kah, atau malah - terbakar - mengikuti salah satu teori Ted ...

Menarik banget mengikuti penulusuran Ted dan Kat. Bahkan Ted sempat berpedoman pada salah satu teori Sherlock Holmes. Ingatannya yang kuat, cara berpikir yang berbeda, justru jadi kunci utama. Bibi Gloria dan Detektif Inspektur Pearce berkali-kali memuji kecerdasan Ted. Kalau pembaca juga secermat Ted, pasti juga bisa mengambil kesimpulan yang sama seperti Ted.

Satu yang gue dapat dari buku ini, adalah anak-anak itu juga pengen didengar pendapatnya. Di sini contohnya adalah Salim, Ted dan Kat. Salim, berusaha bilang kalau dia gak pengen ke New York, tapi bagi Bibi Gloria, Salim harus ikut ke mana dia pergi. Ted, dengan segala ‘keanehan’ yang membuatnya dianggap berbeda, juga ingin didengar pendapatnya yang ternyata sangat membantu. Kat, ciri remaja ‘pemberontak’, yang semakin disuruh nurut, malah semakin melawan.

Misteri London Eye ini memenangi Penghargaan NASEN dan TES Special Educational Needs Children’s Book ada tahun 2007. Siobhan Dowd meninggal dunia pada tahun 2007, di usianya yang ke 47 tahun karena penyakit kanker.

Buku Siobhan Dowd yang lain adalah A Swift Pure Cry.

---
The London Eye - salah satu atraksi di kota London yang menarik perhatian wisatawan. Seperti kincir angin raksasa, di mana ada 32 kapsul yang masing-masing bisa menampung 22 orang (ini sesuai perhitungan Ted). London Eye berputar di atas Sungai Thames dan dari sana kita bisa melihat pemandangan kota London - yang kata Kat, mirip sempoa. Ada satu waktu, di mana para turis dikumpulkan di satu sisi, dan diambil fotonya (salah satu yang membantu Ted memecahkan masalah)

---


Wishful Wednesday 25



Kali ini edisi recap dari Wishful Wednesday yang udah 24 kali gue ikuti. Di awal-awal gue sempet ‘mandeg’ karena ya.. alasan klise… ribet sama kerjaan. Tapi, setelah dibuat lebih ‘rajin’, asyik juga ikut Wishful Wednesday ini, saatnya berandai-andai…

Inilah recapnya:
1. Buku-buku Haruki Murakami yang cover hitam putih
2. George's Cosmic Treasure Hunt (George Berburu Harta Karun) (Lucy dan Stephen Hawking)
4. Buku-buku Vandaria Saga - sejauh ini udah berhasil punya 3 buku: Takdir Elir (Hans J. Gumulia), Ratu Seribu Tahun (Ardani Perdana Subagio) dan Kumcer Kristalisasi
5. Crossed dan Reached (Ally Condie)
6. The Book Thief (Markus Zusak)
7. 1984 (George Orwell) - akhirnya berhasil punya ini, beli di bukumoo123
9. The Rise of Nine (Pittacus Lore)
10. The Not-so Amazing Life of @aMrazing (Alexander Thian) - udah baca
11. The Ring of Solomon (Jonathan Stroud) - belum punya, tapi udah beli duluan buat event Secret Santa ;)
12. The Doll People (Ann Martin)
13. Rasa Cinta dalamKopi (The Various Flavours of Coffe) (Anthony Capella)
14. 11.22.63 (Stephen King)
15. Dongeng Sekolah Tebing (Clara Ng) - udah punya, beli sama yang punya perpuskecil
16. Bliss (Kathryn Littlewood) - udah punya
17. The Hobbit (JRR Tolkien) – edisi cover film
18. Gone Girl (Gillian Flynn)
19. Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan (Agustinus Wibowo)
21. Splendors and Glooms (Laura Amy Schlitz)
22. Rectroverso (Dewi Lestari) – edisi cover baru

Hmm.. ternyata dari 24, hanya beberapa ya yang ‘terwujud’… asyik-asyik  berkhayal, tapi justru pas udah sampe di toko buku, malah ngelirik buku lain.

Dan… karena kali ini edisi giveaway, misalnya gue menang, pengennya sih milih buku Titik Nol atau Gone Girl atau Rasa Cinta dalam Kopi atau salah satu buku Penguin English Library atau … hehehe… semua aja… Eh, tapi beneran, yang paling gue idam-idamkan adalah Titik Nol atau buku classic dari si Penguin.

*Mr. Random… kali ini berbaik hatilah sama gue… please…*

Seru kan ikutan Wishful Wednesday… thank you ya, Astrid for hosting this blog hop…

Kalo mau ikutan, silahkan liar rulesnya ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Tuesday, February 26, 2013

Harry Potter and the Chamber of Secret




Harry Potter and the Chamber of Secret
(Harry Potter dan Batu Bertuah)
JK Rowling @ 1998
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. II, November 2000
432 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas
(Gramedia – Hero Gatot Subroto)

Sinopsis via goodreads:
HARRY POTTER sudah tidak tahan lagi melewati liburan musim panas bersama keluarga Dursley yang menyebalkan, dan dia ingin sekali bisa segera kembali ke Sekolah Sihir Hogwarts. Tetapi tiba-tiba muncul makhluk aneh bernama Dobby, yang melarangnya kembali ke sana. Malapetaka akan menimpa Harry kalau dia berani kembali ke Hogwarts.


Dan malapetaka betul-betul terjadi. Karena pada tahun keduanya di Hogwarts muncul siksaan dan penderitaan baru, dalam wujud guru baru sok bernama Gilderoy Lockhart, hantu bernama Myrtle Merana yang menghantui toilet anak perempuan, dan perhatian tak diinginkan dari adik Ron Weasley Ginny.


Tetapi semua itu cuma gangguan kecil dibandingkan dengan bencana besar yang kemudian melanda sekolah: Ada yang mengubah murid-murid Hogwarts menjadi batu. Mungkinkah pelakunya Draco Malfoy yang jahat, pesaing utama Harry? Mungkinkah dia Hagrid, yang riwayat masa lalunya akhirnya terbongkat? Atau, mungkinkah pelakunya anak yang paling dicurigai semua orang di Hogwarts... yakni Harry Potter sendiri???


Di buku kedua ini, yang menjadi ‘highlight’ adalah:

1. The Burrow – rumah keluarga Weasley yang keren menurut gue.
2. Ginny yang udah mulai naksir Harry Potter
3. Mr. Weasley yang bekerja di Kementerian Sihir bagian Penyalahgunaan Barang-barang Muggle – tapi ternyata mengkoleksi benda-benda Muggle – salah satunya Ford Anglia yang menerbangkan Ron dan Harry Potter ke Hogwarts
4. Munculnya Peri Rumah – Dobby. Wujudnya yang bikin kasihan.

5. Tanaman ajaib lain – Mandrake dan juga Dedalu Raksasa
6. Aragog – si  laba-laba raksasa hasil peliharaan Hagrid.
7. Terungkapnya fakta kenapa Hagrid sampai dikeluarkan
8. Hantu Myrtle Merana
9. Muncul isitilah Parselmouth, Squib, dan Howler
10.Murid-murid yang membatu.
11.Dan juaranya adalah…. Gilderoy Lockhart, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Sihir yang sangat flamboyan, super duper narsis, ngeselin dan lain-lain…!!

Di buku kedua ini, keadaan juga gak makin baik. Dari awal tahun pelajaran, Harry Potter sudah dibuat susah. Misalnya Dobby, peri hutan yang tiba-tibu muncul dan melarang Harry Potter kembali ke Hogwarts, palang pintu menuju peron ¾ yang tak bisa ditembus, bludger yang membabi buta mengejar Harry saat pertandingan Quidditch, semua seolah ingin mencelakakan Harry.


Yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa lagi-lagi, guru untuk pelajaran yang sangat penting, malah diisi oleh orang yang gak kompeten. Dulu Mr.Quirell yang gagap, kali ini Mr. Lockhart yang ampun… ampun narsisnya… Gue jadi ‘terjijay-jijay’ sendiri kalo baca bagian Gilderoy Lockhart yang sok seleb ini.

Isu Kamar Rahasia yang menelan korban merebak. Semua bertanya-tanya siapa pewaris yang sebenarnya? Isu ini bikin merinding saat membacanya, ditambah lagi, waktu mereka lagi pada kumpul di kamar mandi perempuan yang dihantui oleh Myrtle Merana. (gue jadi inget kamar mandi di SD gue yang spooky… gelap… jarang banget lampunya nyala)

Dan di buku kedua ini, Harry Potter kembali berhadapan dengan Lord Voldemort yang muncul dalam wujud dirinya di umur 16 tahun.

Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:
-          eventFun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee (bulan pertama: kategori Bildungsroman) 

Friday, February 22, 2013

A Tale Dark & Grimm




A Tale Dark & Grimm
Adam Gidwitz @ 2010
Khairi Rumantati (Terj.)
Penerbit Atria – Cet. II, Oktober 2011
226 hal.
(Sewa di ReadingWalk)

Gue selalu tertarik untuk membaca novel yang diadaptasi dari dongeng-dongeng yang biasa saya dengar atau baca waktu kecil. Bahwa ending-nya tak selalu happily ever after, atau perjalanan sang tokoh yang tak sekedar naik ke menara yang tinggi lalu menyelamatkan sang putrid. Atau tokoh yang selama ini dikenal baik, justru menyimpan sifat buruk. Ada beberapa buku jenis ini yang pernah gue baca, contohnya The Book of Lost Thing – John Connoly, Sisters Red – Jackson Pearce atau The Sisters Grimm – Michael Buckley.

Nah, di dalam A Tale Dark & Grimm tokoh utama ada Hansel dan Gretel. Di cerita dongeng yang kita kenal, Hansel dan Gretel tersesat di hutan, dan tergiur melihat rumah dari roti bertabur cokelat warna-warni, di mana ternyata sudah menunggu nenek sihir yang konon gemar memakan anak-anak.

Buku ini diawali dengan kakek dari Hansel dan Gretel – raja dari Kerajaan Grimm yang mangkat. Sebelum meninggal ia berpesan kepada pelayannya yang setia untuk membimbing Putera Mahkota yang akan segera menjadi raja. Raja berpesan agar jangan membuka satu kamar yang berisi lukisan putri yang sangat cantik. Karena jika sampai Pangeran melihat lukisan itu, ia akan jatuh cinta dan akan membuat nyawanya terancam.

Tapi, dasar ya, pangeran ini masih muda, masih belum bijaksana, jadi maksa-maksa si pelayan untuk buka kamar itu. Dan inilah awal segala malapetaka….

Ya, singkat kata, si pangeran menikah dengan putri cantik ini dan melahirkan si kembar Hansel dan Gretel. Tapi, ada saja yang harus dikorbankan untuk bisa hidup tenang dan sejahtera.

Hansel dan Gretel kecewa dengan kedua orang tuanya dan memilih untuk kabur. Mulailah petualangan mereka – bertemu dengan nenek sihir di dalam rumah roti, pindah lagi bertemu dengan sepasang suami istri yang mendambakan anak perempuan, berpisah karena Hansel yang ditangkap pemburu, bertemu Iblis dan akhirnya memburu naga demi menyelamatkan Kerajaan Grimm.

Ok, pertama, ini memang gak cocok untuk anak-anak. Terlalu kelam, gelap. Nanti diceritain begini pada takut lagi. Banyak adegan yang mengerikan, seperti adegan potong jari, pemenggalan kepala, pembunuhan… yah, banyak darah deh.

Lalu, kedua, yang rada ngeselin adalah selingan dari narrator di tengah-tengah cerita. Mungkin maksudnya biar rada ‘lucu’ tapi  buat gue ini ngeselin. Gak usah pake selingan-selingan garing begitu kaya’nya lebih pas.

Sekuel dari buku ini adalah In a Glass Grimmly - yang mengadaptasi Jack and the Beanstalk

Thursday, February 21, 2013

The Perks of Being a Wallflower




The Perks of Being a Wallflower
Simon & Schuster
232 hal
(Birthday gift from Astrid)

In social situations, a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn't socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals. The term comes from the image of a person isolating themselves from areas of social activities at ballroom dances and parties, where the people who did not wish to dance (or had no partner) remained close to the walls of the dance hall.
(from Wikipedia)

Awalnya agak bingung membayangkan apa sih maksudnya dengan wallflower. Jadilah gue bertanya pada Om Goole, yang langsung merujuk ke web-nya Om Wiki. Barulah gue bisa menangkap dengan lebih jelas sosok Charlie di dalam buku ini.

Sekilas, Charlie seperti anak yang polos, dalam pandangan orang-orang yang disebut ‘culun dan gak gaul. Teman satu-satunya – Michael – meninggal karena bunuh diri. Charlie jadi tidak punya teman, dan memutuskan untuk menulis ‘surat’. Charlie pun bercerita hari-harinya ketika ia akhirnya memiliki teman baru, bernama Patrick dan jatuh cinta pada Sam yang usianya lebih tua.

Di mata orang, mungkin Charlie rada aneh. Gue pun sempat berpikir, apakah Charlie ini anak autis? Tapi ternyata bukan. Ia hanya gak ‘gaul’, gak populer. Anak yang polos. Tapi seorang pendengar yang baik, bisa menjaga rahasia, jujur, tapi juga sangat sensitif.  Perhatian orang terhadap dia, sekecil apa pun, akan sangat berarti untuk dia. Charlie gak segan-segan membela Patrick yang diolok-olok oleh anak-anak di sekolah.

Untung ada seorang guru bernama Bill, terus mendorong Charlie untuk lebih ‘berpartisipasi’ dalam pergaulan. Charlie ini anak yang pintar, hanya saja, dia terlalu banyak bertanya, lebih berpikir secara logika, dan bingung dengan teori. Seperti dalam pelajaran matematika, sampai gurunya bilang ‘stop bertanya dan kerjakan saja sesuai teori’. Akhirnya… Charlie lancar-lancar aja tuh…

Charlie bukanlah tokoh yang sempurna, tapi justru yang seperti ini malah membuat gue ‘jatuh cinta’ dan mudah untuk menyukainya. Ditulis dalam bentuk surat, berasa Charlie yang lagi curhat ke gue. Ikutan seneng saat Charlie jatuh cinta, ikutan sedih saat Charlie cerita peristiwa di hari  ulang tahunnya, atau pengen ikut ‘puk-puk’ Patrick waktu dia putus sama pacarnya. Jadi pengen bales suratnya Charlie, bilang ke Charlie, it’s ok to be different, just be who you are, who you want to be… 



Makin ‘kenal’ dengan Charlie.. well.. dia gak se-innocent yang kita kira koq.. hehehe…

Menutup buku ini, gue jadi pengen bisa ikutan denger pilihan lagu-lagunya Charlie dan juga baca buku-buku yang dibaca Charlie. Di balik segala yang kata orang aneh, he is really a good friend. Dia selalu siap mendengarkan curhat teman-temannya. Tokoh cerita yang likeable dan loveable. 

Karena buku ini sudah ada film-nya, mau gak mau gue jadi membayangkan tokoh-tokoh ini dengan para pemerannya di dalam film (meskipun gue belum nonton sih). Yang paling susah adalah membayangkan sosok Emma Watson sebagai Sam di sini. Masih terbayang-bayang sosok Hermione sih.

(Thank you, Astrid for the book… really like it..)

Wednesday, February 20, 2013

Wishful Wednesday 24





Lagi gak ada buku yang cukup ‘nendang’ untuk dimasukin ke Wishful Wednesday, tapi, saat kemarin sore seperti biasa mondar-mandir di Gramedia Plaza Semanggi, ada 2 buku lokal yang menarik perhatian: Paris: Aline – Prisca Primasari dan Penari Kecil - Sari Safitri Mohan.

Kenapa gue pilih dua buku ini:
 
Pertama, untuk yang Paris: Aline – Prisca Primasari. Udah beberapa kali sih baca buku tulisan Prisca Primasari, meskipun ceritanya gak jauh-jauh dari percintaan, tapi yang gue suka adalah para tokoh dan setting-nya. Tokohnya selalu tokoh asing – entah dari Rusia, Perancis atau Jepang, ada musik klasik dan makanan yang enak. Tempatnya juga bikin pengen cepet-cepet liburan.



Sinopsis untuk Paris: Aline :

Dari Paris, sepotong kisah cinta bergulir, merupakan racikan istimewa dari tangan terampil Prisca Primasari yang sudah dikenal reputasinya dengan karya-karya sebelumnya Éclair, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa.

Ini tentang sebuah pertemuan takdir Aline dan seorang laki-laki bernama Sena. Terlepas dari hal-hal menarik yang dia temukan di diri orang itu, Sena menyimpan misteri, seperti mengapa Aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12 malam pula? Dan mengapa pula laki-laki itu sangat hobi mendatangi tempat-tempat seperti pemakaman Père Lachaise yang konon berhantu?

Setiap tempat punya cerita. Dan inilah sepotong kisah cinta yang kami kirimkan dari Paris dengan prangko yang berbau harum.

Enjoy the journey,

EDITOR

Lalu, yang kedua – Penari Kecil – Sari Safitri Mohan, kalo ini… errr… lebih karena cover-nya yang terlihat klasik dengan warna hitam putih. Tapi, ceritanya juga tampak menarik, ada unsur budaya tradisionalnya.


Ini sinopsisnya:

Ira anak bungsu Ibrahim, pengusaha tailor yang galak dan keras. Berbeda dengan si sulung yang selalu patuh, sejak kecil Ira tetap berusaha mematuhi peraturan atau larangan sang ayah tapi dengan sedikit “penyesuaian” di sana-sini demi tetap mendapatkan yang ia mau.

Larangan sang ayah ditujukan pada kecintaan Ira menari, perkawanannya dengan teman lelaki, hingga larangan yang berbenturan dengan apa yang begitu diingini Ira. Bagaimana Ira menjalani hidup dengan semua kungkungan dan larangan ayahnya? Dapatkah akhirnya Ira menari sesuai dengan musik pengiring yang diingininya sendiri?

Penari Kecil memasukkan benturan nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern, cinta anak pada orangtua, dan unsur-unsur kemanusiaan universal.

Seperti biasa, rules untuk ikutan Wishful Wednesday, adalah:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Friday, February 15, 2013

In the Company of Cheerful Ladies




In the Company of Cheerful Ladies
Alexander McCall Smith @ 2004
Abacus, 2005
264 hal
(QB World Books – Plaza Semanggi)

Terakhir saya membaca seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency, adalah yang berjudul Morality for Beautiful Girls. Lompat dua judul – The Kalahari Typing School for Men dan The Full Cupboard of Life. Di buku ke 6 ini, kehidupan Precious Ramotswe, atau yang akrab dipanggil Mma Ramotswe sudah berubah. Ia sudah menikah dengan pemilik bengkel Tlokweng Road Speedy Motors – Mr. J.L.B Matekoni. Mereka tinggal bersama dua anak angkat mereka di Zebra Drive.

The No. 1 Ladies’ Detective Agency pun berkembang dengan baik, masih dibantu asistennya, Grace Makutsi.

Membaca buku ini, jangan berharap sebuah cerita detektif yang penuh ketegangan atau berdarah-darah, penuh adegan terror atau dar-der-dor. Tapi, ini adalah cerita tentang misteri sehari-hari, yang ada di sekitar Mma Ramotswe. Kasus besar yang saat ini ditangani oleh Mma Ramotswe adalah pencarian orang Zambia yang diduga membawa kabur sejumlah uang. Tapi, misteri ini justru tak mendapatkan porsi yang besar di buku ini.

Misteri pertama yang ditemui oleh Mma Ramotswe adalah seorang laki-laki yang masuk ke rumahnya dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Kalau saja, si laki-laki itu gak bersuara, Mma Ramotswe gak akan tau kalau ada orang di bawah tempat tidurnya. Laki-laki itu bersuara gara-gara Mma Ramotswe tidur di tempat tidur tempat ia bersembunyi di bawahnya. Badan Mma Ramotswe yang menurut istilahnya ‘traditionally built’ alias besar… Tak diketahui siapa laki-laki yang melarikan diri tanpa memakai celana luar itu.

Yang kedua, penyelidikan terhadap salah satu pegawai magang di bengkel Tlokweng Road Speedy Motors, yang tiba-tiba saja punya banyak uang dan bergaul dengan seorang perempuan yang tampak berusia lebih tua. Dan ternyata ini membawa penyeledikan yang lebih lanjut dan masalah yang lebih rumit.

Tak hanya itu, Mma Ramotswe kedatangan mantan suaminya, Note Mokoti, yang membawa kabar buruk, yang akan mengancam kelangsungan pernikahannya dengan Mr. J. L. B. Matekoni. Mma Ramotswe pun sempat cemas. Tapi, seperti biasa, ketenangannya, justru membawa hasil yang lebih baik.

Sementara itu, Mma Makutsi, lulusan sekolah sekretaris dengan nilai yang nyaris sempurna, mengikuti kelas dansa dan bertemu dengan seorang pria.

Apa yang saya suka dari serial ini ada pada karakter Mma Ramotswe. Seorang perempuan Botswana, berbadan besar tapi fashionable. Pembawaannya tenang dan sangat sabar. Dengan mobil van putihnya, ia melakukan penyelidikan. Ceritanya juga gak aneh-aneh, dan terkadang mengundang senyum.

Yang menarik juga cover-nya yang selalu memasukkan corak budaya Afrika dengan warna-warni yang cerah.
 
Sejauh ini seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency sudah ada 14 judul.  Selain seri ini, Alexander McCall Smith juga menulis serial The Sunday Philosophy Club, and the 44 Scotland Street.


Posting ini dibuat dalam TBRR Mystery Reading Challenge (bulan Pebruari: tema serial mystery)
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang