Showing posts with label Harry Potter. Show all posts
Showing posts with label Harry Potter. Show all posts

Thursday, August 15, 2013

Harry Potter and The Deathly Hallows




Harry Potter and The Deathly Hallows (Harry Potter dan Relikui Kematian)
JK Rowling @ 2007
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Januari 2008
1008 Hal
Untuk anak 12 tahun ke atas
(via Yuni Zai)

Bingung mau nulis apa tentang buku ini. Buku pamungkas dari seri Harry Potter. Buku yang paling menguras energi karena tebal, menguras emosi karena di dalamnya begitu banyak bagian-bagian yang mencekam, yang bikin haru dan sedih.

Dari awal sudah beraura gelap. Voldemort dan abdi-abdi setianya, para Pelahap Maut semakin merajalela, Kementerian Sihir mereka kuasai, mereka memburu para keturuan Muggle, memata-matai orang-orang yang menentang Voldemort. Harry Potter, Ron dan Hermione memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, mereka lebih memilih mencari sisa horcrux untuk menghancurkan Voldemort.

Puncaknya adalah pertempuran di Hogwarts yang melibatkan para guru dan murid, melawan Pelahap Maut. Dan tentu saja bagian puncak yang sangat menegangkan.

Isi buku ini gak melulu penuh adegan kejar-kejaran antara ketiga sahabat ini dengan Pelahat Maut. Ada bagian di mana, kita diajak menelusuri masa lalu Dumbledore – seperti Harry Potter, yang antara percaya dan gak percaya membaca kisah yang ditulis Rita Skeeter. Banyak kebenaran yang terungkap, termasuk siapa Profesor Snape sebenarnya.

Berat banget jadi Harry Potter. Semua bertarung melawan Voldemort, banyak yang mengorbankan nyawa – hiks… teringat beberapa tokoh – guru yang nyentrik, pasangan yang sehidup semati, juga seseorang yang baik hati, lucu dan ceria yang turut jadi korban. Kalau mau sinis, siapa dia Harry Potter ini? Dia kan ‘cuma’ anak kecil yang kebetulan selamat dari kutukan Voldemort, dan seluruh negeri rela mati untuk menyelamatkannya. Tapi, Harry Potter bukanlah sosok hebat dan pintar seperti Hermione. Untung aja dulu dia dititipkan di rumah Uncle Vernon, hingga ia jadi orang yang rendah hati. Andaikata ia ada di lingkungan penyihir, bukan gak mungkin ia bakal jadi orang yang sombong.

Tapi udah ah, gue ‘cinta’ Harry Potter koq… itu hanya sekilas pikiran aja. Harry Potter masih menjadi serial buku favorit gue, yang udah beberapa kali gue baca, tetap gak ada bosennya. Berkali-kali nonton, malah bikin gue bernostalgia… berasa ‘mengikuti’ perjalanan hidup para pemeran Harry Potter, Ron dan Hermione… dari anak-anak culun jadi remaja yang ganteng dan cantik.

Kalo mau ditulis banyak banget yang berkesan – berkesan senang dan juga sebel … bagian 7 Harry Potter, ngebayangin Bellatrix yang ‘sinting’, atau tas doraemon Hermione – gila ya, sampe tenda aja muat dalem tas itu.. kenapa Harry gak ngumpet di sana aja ya? Heheheh… marahannya Hermione sama Ron, sampai di saat genting eh sempet-sempetnya ‘kissing’…. Tapi… kalo inget pemeran Ginny, kenapa gue gak rela banget ya Harry sama Ginny… kenapa Harry gak naksir Hermione?

Penasaran nih sebenernya, selama rentang tahun 19 tahun itu, Harry Potter ngapain aja? Kerjanya apa? Dan gimana kehidupan Hogwarts setelah pertempuran akbar itu? 

Rasanya gue jadi pengen mengarang-ngarang sendiri …


Tulisan ini dibuat untuk event:


Monday, July 01, 2013

Harry Potter and the Half-Blood Prince




Harry Potter and the Half-Blood Prince 
(Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran)
JK Rowling @ 2005
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Januari 2006
816 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

Dengan semakin kuatnya Voldermort, perlindungan terhadap Harry Potter juga semakin diperketat. Menjelang tahun keenam di Hogwarts, Dumbledore sendiri yang bahkan turun tangan untuk menjemput Harry Potter, untuk kemudian diantar ke The Burrow. Aura kegelapan semakin kuat di dalam buku ini. Kondisi Dumbledore juga mengkhawatirkan – semakin ringkih, rapuh dan lelah.

Ada sebuah kejutan dalam ‘pengaturan’ guru-guru di semester ini. Akhirnya Profesor Snape mendapatkan posisi yang menurut rumor sangat diidam-idamkannya, yaitu sebaga guru Pertahanan terhadap Ilmu Sihir Hitam. Sementara itu, pelajaran ramuan diisi oleh seorang guru baru, bernama Profesor Horace Slughorn.

Bukan sebuah kebetulan kenapa Profesor Dumbledore meminta Profesor Slughorn untuk kembali ke Hogwarts. Selama ini Profesor Slughorn bersembunyi dari para pengikut Voldemort yang memintanya bergabung dengan Pangeran Kegelapan. Profesor Slughorn dulunya juga guru dari Voldermort.

Profesor Slughorn ini gemar ‘mengkoleksi’ murid-murid top – sebut saja tentunya Harry Potter. Ia gemar mengadakan pesta pribadi dengan murid-murid favoritnya ini. Harry Potter awalnya tidak berniat untuk mengambil pelajaran Ramuan di semester enam ini, tapi karena nilainya masih memungkinkan, ia pun ikut. Dan ia dipinjami buku milik ‘Pangeran Berdarah Campuran’ yang misterius, yang catatan-catatan kecil di buku itu sangat membantu Harry dalam pelajaran Ramuan. Tips and trick yang semakin membuat Harry jadi murid favorit.

Masa lalu Voldemort semakin terkuak di buku ini. Bagaimana awal mula ia dijemput oleh Dumbledore di sebuah panti asuhan, bagaimana ketika ia lulus ia ingin menjadi guru di Hogwarts dan mengapa ia begitu membenci ayah yang tak pernah ia temui itu.  Harry mengetahui hal-hal tersebut lewat sesi pribadinya bersama Profesor Dumbledore. Dan tak hanya itu, tugas Harry dari Profesor Dumbledore yang cukup berat, adalah membujuk Profesor Slughorn untuk membagi sedikit kenangannya bersama Voldemort, kenangan yang ingin ia lupakan. Di buku ini, Harry dan Profesor Dumbledore ‘memburu’ Horcrux, benda-benda yang digunakan Voldemort untuk ‘memecah-mecah’ jiwanya.

Sementara itu, kebencian Harry Potter terhadap Profesor Snape dan Draco Malfoy semakin menjadi-jadi, terutama ketika ia menyaksikan bagaimana Malfor berhasil meloloskan Pelahap Maut ke dalam Hogwarts, dan ketika ia harus menyaksikan sendiri pengkhianatan Profesor Snape tanpa bisa berbuat apa-apa.

Tapi… ada cinta yang sedikit memberikan warna merah jambu ada buku ini. Ada persahabatan yang semakin kuat antara Ron, Hermione dan Harry. Membaca cemburunya Hermione, deg-degannya Harry setiap ngeliat Ginny, jadi ‘pencair’ suasana yang tegang di dalam buku ini.

Semua tokoh di dalam buku ini semakin dewasa, tapi juga lebih temperamental atau mungkin emosional. Tapi, gue menyukai perkembangan yang gue lihat dari sejak gue baca dari buku pertama sampai buku ke enam ini.

Waktu dulu pertama baca buku ke enam ini, gue 'mengetahui' satu buku lagi, gue akan 'berpisah' sama Harry Potter. Ada rasa penasaran, siapa yang akan bertahan di akhir cerita. Seperti apa pertempuran terakhir antara Harry Potter dan Voldemort. Seperti apa Hogwarts setelah kejadian di akhir cerita buku ke enam ini....

Sesuati yang membuat gue jadi sedih, berpisah dengan tokoh cerita yang begitu 'melekat'...
 


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:

Event Fun Year WithChildren’s Literature yang dihost oleh B’zee

Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku

Wednesday, April 03, 2013

Harry Potter and the Prisoner of Azkaban




Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
(Harry Potter dan Tawanan Azkaban)
JK Rowling @ 1999
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. V, Mei 2011
432 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

Masuk ke tahun ketiga…. Di buku ketiga ini, Harry Potter gak ketemu sama Voldermort. Tapi… tetap aja dong, ada pengalaman yang menegangkan di buku ini.

Ok… jadi apa yang baru di buku ketiga ini ya?

1. Knight Bus (Bus Ksatria) 

 
via David Edward Byrd

Gara-gara Harry Potter ‘menggelembungkan’ kakak Paman Vernon, Harry terpaksa kabur dari  Privet Drive. ‘Luntang-lantung’ gak karuan, tiba-tiba aja muncul sebuah bus, yang disebut Bus Ksatria, bus-nya para penyihir, yang akhirnya membawa Harry ke Diagon Alley. Di bus ini, penumpang bisa pesan mau pakai kasur apa gak, mau plus kopi atau gak.

2. Profesor Lupin 

via Alicia Logic


Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Penampilannya tak meyakinkan – lusuh. Tapi, ternyata murid-murid – rrr.. kecuali murid dari Slytherine, semua menyukai Profesor Lupin. Karena baru kali ini mereka benar-benar belajar menghadapi makhluk-makhluk aneh. Ada rahasia yang disembunyikan oleh Profesor Lupin, yang kalau ada murid-murid atau orang tua murid yang tahu, pasti akan protes karena dianggap sangat berbahaya. Hermione yang cerdas berhasil mengetahui rahasia itu. Tapi toh, gak membuat mereka berhenti menyukai guru yang baik ini.

3. Dementor 

via DeviantArt

Ihhh.. makhluk ini benar-benar mengerikan. Wujudnya seperti kain hitam yang melayang-layang. Tak kelihatan apakah ia memiliki wajah atau gak. Yang pasti, Dementor adalah penjagan penjara Azkaban. Berhadapan dengan Dementor, rasanya semua kesedihan, kemalangan langsung terbayang-bayang. Karena memang kebahagiaan orang adalah ‘makanan’ Dementor. Dementor memiliki ‘kecupan’ yang mematikan. Lebih baik mati beneran, daripada harus ‘dikecup’ sama Dementor.

Karena berulang kali pingsan setiap bertemu dengan Dementor, Harry Potter kembali menjadi ejekan Draco Malfoy. Profesor Lupin pun mengajarkan Harry cara untuk mengusir Dementor, yaitu dengan Patronus.

4. Hippogriff

Via Harry Potter Wiki

Hagrid menjadi guru Pemeliharaan Satwa Gaib. Namanya juga Hagrid, pastinya gak akan menjadikan pelajaran itu pelajaran yang biasa. Bukunya aja udah ‘brutal’, harus dipakein ikat pinggang biar gak saling ‘memakan’ sesama buku. Hewannya, juga ajaib tentunya. Kali ini bintangnya adalah Hippogriff yang bernama Buckbeak


5. Profesor Trelawney

via film guardian

Guru lain yang tak kalah heboh – Profesor Trelawney yang mengajar Ramalan. Setiap melihat Harry, dia langsung meramalkan tentang kematian. Kelas pelajaran Ramalan ada di sebuah menara. Di dalamnya terasa hangat, jendela-jendela tertutup. Hermione yang tak tahan dengan profesor Trelawney, akhirnya memilih untuk mundur dari pelajaran ini.

6. Dua seeker baru , saingan Harry – selain Draco Malfoy tentunya… hmmm kasih tau gak ya siapa dua seeker ini?

7. Mauraders Map

via Harry Potter Wiki

Barang baru yang super cool – Mauraders Map – ciptaan Moony, Wormtail, Padfoot dan Prongs – empat sekawan yang iseng, yang bikin Snape benci setengah mati. Konon si kembar Weasley pun kalah iseng…


8. Sirius Black
 
via Fairy Tales and Fantasy Literature

Tentunya tokoh yang paling penting dalam buku ini, yang sempat membuat Harry Potter marah besar dan membuat Harry menyimpan dendam untuk menghabisinya. Sirius Black - adalah tahanan yang berhasil kabur dari penjara Azkaban, dan disinyalir sebagai pengikut Voldemort. Gosip yang beredar, Sirius Black mengincar Harry Potter. Tapi, Sirius Black pula yang nantinya akan membuka rahasia masa lalu orang tua Harry Potter.
 


Masih banyak sih, yang ‘baru’ di buku ini – seperti Firebolt – sapu terbang keren yang diterima Harry dari pengirim misterius, Boggart, pembalik waktu yang dipakai Hermione untuk mengikuti beberapa pelajaran di jam yang sama, Hogsmeade – tempat para penyihir hang out. Ada bagian Ron, Harry musuhan sama Hermione dan Scrabbers si tikus pun punya peran di dalam buku ini.

Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:


-    EventHotter Potter yang dihost oleh Surga Buku *ma’ap.. bulan ini telat setoran*


Tuesday, February 26, 2013

Harry Potter and the Chamber of Secret




Harry Potter and the Chamber of Secret
(Harry Potter dan Batu Bertuah)
JK Rowling @ 1998
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. II, November 2000
432 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas
(Gramedia – Hero Gatot Subroto)

Sinopsis via goodreads:
HARRY POTTER sudah tidak tahan lagi melewati liburan musim panas bersama keluarga Dursley yang menyebalkan, dan dia ingin sekali bisa segera kembali ke Sekolah Sihir Hogwarts. Tetapi tiba-tiba muncul makhluk aneh bernama Dobby, yang melarangnya kembali ke sana. Malapetaka akan menimpa Harry kalau dia berani kembali ke Hogwarts.


Dan malapetaka betul-betul terjadi. Karena pada tahun keduanya di Hogwarts muncul siksaan dan penderitaan baru, dalam wujud guru baru sok bernama Gilderoy Lockhart, hantu bernama Myrtle Merana yang menghantui toilet anak perempuan, dan perhatian tak diinginkan dari adik Ron Weasley Ginny.


Tetapi semua itu cuma gangguan kecil dibandingkan dengan bencana besar yang kemudian melanda sekolah: Ada yang mengubah murid-murid Hogwarts menjadi batu. Mungkinkah pelakunya Draco Malfoy yang jahat, pesaing utama Harry? Mungkinkah dia Hagrid, yang riwayat masa lalunya akhirnya terbongkat? Atau, mungkinkah pelakunya anak yang paling dicurigai semua orang di Hogwarts... yakni Harry Potter sendiri???


Di buku kedua ini, yang menjadi ‘highlight’ adalah:

1. The Burrow – rumah keluarga Weasley yang keren menurut gue.
2. Ginny yang udah mulai naksir Harry Potter
3. Mr. Weasley yang bekerja di Kementerian Sihir bagian Penyalahgunaan Barang-barang Muggle – tapi ternyata mengkoleksi benda-benda Muggle – salah satunya Ford Anglia yang menerbangkan Ron dan Harry Potter ke Hogwarts
4. Munculnya Peri Rumah – Dobby. Wujudnya yang bikin kasihan.

5. Tanaman ajaib lain – Mandrake dan juga Dedalu Raksasa
6. Aragog – si  laba-laba raksasa hasil peliharaan Hagrid.
7. Terungkapnya fakta kenapa Hagrid sampai dikeluarkan
8. Hantu Myrtle Merana
9. Muncul isitilah Parselmouth, Squib, dan Howler
10.Murid-murid yang membatu.
11.Dan juaranya adalah…. Gilderoy Lockhart, guru Pertahanan Terhadap Ilmu Sihir yang sangat flamboyan, super duper narsis, ngeselin dan lain-lain…!!

Di buku kedua ini, keadaan juga gak makin baik. Dari awal tahun pelajaran, Harry Potter sudah dibuat susah. Misalnya Dobby, peri hutan yang tiba-tibu muncul dan melarang Harry Potter kembali ke Hogwarts, palang pintu menuju peron ¾ yang tak bisa ditembus, bludger yang membabi buta mengejar Harry saat pertandingan Quidditch, semua seolah ingin mencelakakan Harry.


Yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa lagi-lagi, guru untuk pelajaran yang sangat penting, malah diisi oleh orang yang gak kompeten. Dulu Mr.Quirell yang gagap, kali ini Mr. Lockhart yang ampun… ampun narsisnya… Gue jadi ‘terjijay-jijay’ sendiri kalo baca bagian Gilderoy Lockhart yang sok seleb ini.

Isu Kamar Rahasia yang menelan korban merebak. Semua bertanya-tanya siapa pewaris yang sebenarnya? Isu ini bikin merinding saat membacanya, ditambah lagi, waktu mereka lagi pada kumpul di kamar mandi perempuan yang dihantui oleh Myrtle Merana. (gue jadi inget kamar mandi di SD gue yang spooky… gelap… jarang banget lampunya nyala)

Dan di buku kedua ini, Harry Potter kembali berhadapan dengan Lord Voldemort yang muncul dalam wujud dirinya di umur 16 tahun.

Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:
-          eventFun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee (bulan pertama: kategori Bildungsroman) 

Friday, February 08, 2013

Hotter Potter February Meme




Absen di Hotter Potter January meme, kali ini saya mau coba ikutan untuk edisi bulan February ini , dan pertanyaan yang saya pilih adalah:

Play the matchmaker. Kamu bisa jadi mak comblang dua karakter di Harry Potter yang sebenarnya nggak punya hubungan khusus apa-apa, tapi kamu pengen mereka jadi kekasih atau sahabat.

Di bulan yang katanya bulan kasih sayang ini, saya mencoba menjadi ‘mak comblang’. Ok, saya akan duduk manis… menatap bola kristal di depan saya…. Dan…

.. inilah kisah dari hasil penerawangan di bola kristal saya:

Di suatu malam, dua orang murid Hogwarts mengendap-endap keluar dari asrama masing-masing. Semua teman-teman mereka sudah terlelap tidur. Mereka berdua mengucapkan kata sandi dari masing-masing asrama, dan mulai berjalan menyusuri lorong-lorong di Hogwarts yang remang-remang.

Berhati-hati mereka berjalan. Repot urusannya kalau sampai terpergok oleh Flinch dan kucingnya, Mrs. Norris,  belum lagi hantu-hantu asrama yang berkeliaran, terutama si hantu iseng, Peeves.

Mereka sudah berjanji untuk bertemu di ruang tempat cermin Tarsah dulu disimpan. Yah, tampaknya sudah tak ada lagi yang bermain-main ke daerah ini.

Draco Malfoy, salah satu dari anak itu, sampai duluan di ruangan tersebut. Ia menanti dengan gelisah. Berbagai ketakutan muncul di hatinya. Tak biasanya seorang Draco Malfoy bersikap seperti ini. Ia takut pesan yang tadi siang ia titipkan tak sampai ke orang yang ia tuju, takut kalau ada guru-guru yang tiba-tiba muncul – meskipun ia yakin kalau Profesor Snape yang memergokinya, ia bisa berhasil lolos dengan berbagai alasan. Dan ketakutan yang terbesar adalah orang datang menemuinya, justru bukan orang yan ia tunggu, melainkan musuh besar – Harry Potter.

Tak lama, pintu ruangan itu terbuka, tapi tak terlihat ada orang yang datang. Lalu, muncullah sosok yang seolah tersingkap dari balik jubah tak terlihat (di siang harinya, Ginny sudah meyakinkan Ron untuk 'meminjam' jubah gaib milik Harry Potter. Meskipun bertanya-tanya, apa urusan Ginny dengan jubah gaib itu, Ron menyanggupi permintaan Ginny - meskipun ada rasa bersalah terhadap Harry)

Draco menarik napas lega dan berkata, “ Well, Ginny… finally…”

Ginny Weasley pun tersenyum, “Here I am, Draco… “

via ~PinkFireFly

Di ruangan itu, mereka berbicara tentang apa yang ada di antara mereka. Tentang rasa di antara mereka, tentang cemooh yang akan datang dari orang-orang di sekitar mereka, tentang halangan dan rintangan yang mungkin akan mereka hadapi.

Tengah malam mereka pun kembali ke asrama mereka masing-masing.

Dan keesokan harinya, saat mereka berpapasan di lorong sekolah, Draco Malfoy dan Ginny Weasley kembali bagai dua orang asing. Draco tetap dengan tatapan yang mencemooh dan Ginny yang berjalan dengan tertunduk.

---
Kenapa saya memilh Draco dan Ginny? Karena menurut saya, mereka akan jadi sepasang kekasih yang ‘menarik’ dan penuh konflik. Tidak hanya karena, mereka ada di dua asrama yang selalu ‘bermusuhan’. Tapi, juga karena jelas-jelas Draco membenci Harry Potter, sahabat dari Ron Weasley. Belum lagi, sikap Draco yang selalu mencela keluarga Weasley.

Motif awalnya adalah, untuk membuat Harry Potter semakin ‘menderita’ dan sakit hati, melihat perempuan yang ia sukai ternyata direbut sama Draco. Dan Ginny pun pada awalnya, merasa Draco hanya memanfaatkan dia.

Tapi, lama-lama, Draco sendiri akhirnya beneran jatuh cinta sama Ginny. Ginny yang sederhana, pemalu dan pendiam, yang justru jelas-jelas berada di pihak Harry Potter. Tapi, justru yang membuat Draco merasa tertantang untuk menaklukkan Ginny. Ginny gak seperti cewek-cewek Slytherin yang jelas-jelas menguntit ke mana Draco pergi.

Ginny pun luluh karena usaha keras Draco… Tapi, mereka berdua selalu ada di persimpangan jalan… bingung mau belok ke mana… karena faktor orang tua mereka yang juga mendukung hal yang berlawanan.

via Fanpop.com

Dalam bayangan saya, ini bagaikan kisah Romeo dan Juliet… semoga tak berakhir dengan tragis juga…

... entahlah.. bola kristal saya belum memberikan penampakan lagi

Monday, January 28, 2013

Harry Potter and The Philosopher’s Stone




Harry Potter and The Philosopher’s  Stone
(Harry Potter dan Batu Bertuah)
JK Rowling @ 1997
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – September 2000
384 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas
(Gramedia – Hero Gatot Subroto)

“Harry Potter… “ (ucapkan dengan nada a la Profesor Snape)

Entah sudah berapa kali saya membaca buku Harry Potter dan Batu Bertuah ini, dan gak ada bosennya. Membaca buku ini, malah membuat saya bernostalgia, mengenang ‘perkenalan’ saya dengan Harry Potter dan teman-temannya. Bisa dibilang agak terlambat saya mengenal Harry Potter. Saat pertama saya membaca buku ini, buku kedua juga sudah diterjemahkan. Adalah ‘mantan’ pacar saya yang bilang “Beli Harry Potter deh, katanya bagus tuh.” Dan… saya tak menyesal sudah membeli buku ini.

Susah ya, untuk mereview buku pertama ini. Karena saya harus berusaha ‘menghilangkan’ sosok terakhir dari Harry Potter. Gak perlu kali ya ditulis sinopsis atau sekilas cerita, pastinya udah pada hafal lah cerita Harry Potter yang pertama ini.

Membaca seri pertama ini, saya langsung terkagum-kagum dengan imajinasi dari seorang JK Rowlings. Yah, buku yang mengantarkan beliau menjadi salah satu orang terkaya di Inggris.

-          Dimulai dari surat yang berterbangan di rumah Paman Vernon, yang mengikuti keberadaan Harry Potter sampai di pondok terpencil saat badai hebat sedang berlangsung.

-          Lalu, daerah Diagon Alley. Dengan berbagai toko perlengkapan sihir, seperti kuali berpantat emas dan berbagai jenis kuali lainnya. Toko tongkat sihir-nya Oliver yang bernurut gue paling kental nuansa magisnya.

-          Kemegahan Sekolah Sihir Hogwarts, dengan segala sihir yang ada di dalamnya. Hantu-hantunya, kastil-kastil tua, guru-guru yang sifatnya beraneka ragam. Bahkan bisa-bisanya JK Rowlings kepikiran untuk bikin tokoh guru dalan sosok hantu untuk pelajaran sejarah sihir.

-          Tak ketinggalan Quidditch. Sampai gue nonton film-nya, gue gak punya bayangan, seperti apa permainan Quidditch ini.

-          Tokoh-tokoh yang selain Harry Potter tentunya, yang juga memberi kesan ‘mendalam’ saat membaca buku ini, tanpa mereka, Harry Potter gak akan lengkap:

a.      seperti Ron – sahabat Harry Potter dengan ciri khas rambut merahnya, agak sinis, pengen juga tampil hebat seperti Harry. Ron yang takut dengan laba-laba dan jago banget main catur. Di akhir buku pertama ini, Ron bahkan berhasil mengalahkan catur yang sudah disihir oleh Profesor McConagal.

b.      Hermione, gadis ‘muggle’ yang pintar. Kepintarannya melebih penyihir berdarah murni sekalipun. Sempat jadi sosok yang menyebalkan untuk Harry dan Ron, tapi gara-gara troll mereka pun bersahabat.

c.      Neville – yang gugup dan penakut, tapi pintar di pelajaran Herbiologi.

d.      Si kembar, Fred dan George Weasley (duh, jadi sedih kalo inget si kembar ini). Mereka ini isengnya bukan main, tapi malah jadi membuat Hogwarts lebih ceria.

e.      Tak ketinggalan Draco Malfoy – si ganteng yang jadi tokoh antagonis. Dari kecil keliatan banget sombongnya.

f.        Profesor Snape yang selalu sinis sama Harry Potter. Yeah, di buku pertama ini, beliau jadi sosok  yang menyebalkan dan ngeselin

g.      Guru-guru yang baik, seperti Profesor McGonagal, Dumbledore

h.      Nyaris beneran pingsan kalo ngebayangin Profesor Quirell yang berbau bawang putih itu (hmm… lebay sih gue)

i.      Tak ketinggalan hantu-hantu dari tiap menara. Mereka ini seolah jadi maskot dari masing-masing menara. O ya, ada Peeves si hantu jail, plus Flich dan si kucing Mrs. Norris.

j.    Voldermort, musuh  besar Harry Potter. Kalo mau dibilang, seri Harry Potter ini adalah masalah pribadinya Harry Potter dengan Voldermort, tapi bikin seluruh dunia penyihir jadi kacau balau. Sosoknya yang dingin, bikin saya merasa berdekatan dengan es. Serius nih… Gak heran, keberadaannya sering bikin kepala Harry  sakit, karena bekas luka di kepalanya itu yang berdenyut-denyut hebat.

k.    Jubah gaib, cermin tarsah, permen kodok, permen yang rasanya macem-macem itu, foto yang bisa bergerak, hutan terlarang, topi seleksi…. Duh, banyak lagi hal-hal gaib dan unik di dalam buku ini.

Aduh, apa lagi ya yang terlewat? Ma’af kalo ada yang ketinggalan.

Di buku pertama ini, tak hanya Harry harus berjuang melawan musuh besarnya, tapi juga pencarian jati diri akan siapakah dia sebenarnya. Identitas yang dirahasiakan oleh Paman Vernon dan Bibi Petunia. Di Hogwarts pun, Harry harus bersikap ‘biasa’ ketika orang memandangnya dengan kagum, mencoba berkenalan dengannya, atau bahkan merasa kasihan. Sementara Harry sendiri tak tahu, kejadian hebat yang membuat dirinya terkenal. Bijaksana bagi Dumbledore untuk menitipkan Harry di keluarga Durdsley, agar dirinya tak jadi sombong.

Harry Potter membuat saya menyukai fantasi. Tanpa perlu berkhayal dengan susah payah, membayangkan seperti apa dunia Harry Potter itu. Gak seperti saat saya membaca Trilogi Lord of The Rings. Ceritanya pun, meskipun serius, tapi tak terasa berat. Adanya para muggle, membuat cerita ini jadi lebih ‘dekat’. Terus, ngelirik kiri-kanan.. hmm… jangan-jangan, di sekitar saya ada penyihir… atau malah berkhayal, pengen jadi ‘wizard’ juga… hehehe…

Kembali ke buku pertama, bikin kangen, pengen nonton dan baca lagi.. lagi dan lagi…

*review edisi nostalgia… hehehe*

Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:


-    Event Fun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee (bulan pertama: kategori Bildungsroman) 


 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang