Wednesday, April 12, 2017

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage


Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
Haruki Murakami
Harvill Secker – August 2014
298 hal.

Dari segelintir buku Harumi Murakami yang udah gue baca, buku ini yang rasanya paling ‘mudah’. Berkisah tentang seorang pemuda bernama Tsukuru Tazaki. Hidupnya terasa sepiiiii banget. Tinggal sendiri di apartemennya di Tokyo dan nyaris tanpa teman. Sehari-harinya hanya kantor, apartemen, kadang dia menyibukkan dirinya dengan berenang. Selebihnya, tak ada jadwal hang out bareng temen-temen, gak ada kesibukan lain yang mewarnai hidupnya, bahkan kebutuhan sehari-hari ya.. seadanya aja.

Di masa SMA-nya di Nagoya, Tsukuru punya empat teman akrab, teman satu ‘gang’ lah. Dua orang cowok bernama Akamatsu dan Oumi, dan dua perempuan, bernama Shirane dan Kurono. Uniknya, jika diartikan, nama teman-teman Tsukuru mengandung unsur warna. Akamatsu yang berarti merah, Oumi ‘biru laut’, Shirane ‘ putih’ dan Kurono ‘hitam’. Hanya nama Tsukuru sendiri yang gak ada unsur-unsur warnanya. Kadang karena ini dia merasa agak berbeda, tapi teman-temannya gak ada yang berpikir seperti itu. Hubungan mereka tetap dekat, walaupun Tsukuru melanjutkan kuliahnya di Tokyo. Setiap pulang ke Nagoya, mereka pasti kumpul-kumpul bareng lagi.

Hingga satu hari, Tsukuru mendapat kabar, bahwa keempat temannya tidak mau berhubungan lagi dengan Tsukuru. Tanpa penjelasan apa pun dan Tsukuru pun meskipun bertanya-tanya dalam hati, menerima saja keputusan sepihak itu.

Kejadian itulah yang menyebabkan akhirnya Tsukuru hidup dalam kesendirian. Hingga 16 tahun kemudian, Sara, teman dekat perempuan Tsukuru menyarankan agar Tsukuru mencari teman-temannya itu dan mencoba untuk berbicara kembali dengan mereka.

Tentu saja, ada bagian-bagian ‘absurd’ yang menurut gue tetap rada-rada ‘ganjil’,  berkisar tentang mimpi-mimpi Tsukuru, dan cerita-cerita Haida, satu-satunya teman dekat Haida selama di Tokyo, dan Haida-pun lenyap tanpa kabar.

Ending-nya emang bikin pengen getok-getok kepala. Terlalu tenang, setenang alur cerita sepanjang buku ini. Buat gue, Tsukuru ini setenang air dari luar, tapi loe gak akan tau emosi apa yang berkecamuk dalam benaknya. Bagaimana ia mengatasi kesendirian dengan begitu tenang, bagaimana selama 16 tahun ia hidup dengan rasa penasaran tapi seolah gak punya keinginan untuk mencari tahu.

Buku ini cocok untuk ‘pemula’, yang baru pengen baca buku-bukunya Murakami. Gak aneh, gak bikin kening berkerut dan ceritanya juga simple.

Somehow, tokoh-tokoh model Tsukuru gini nih, bikin gue ngerasa ada kesamaan antara gue dan Tsukuru, misalnya dalam kehidupan pergaulan gue, kadang ada masa-masa di mana gue ngerasa sepi dan sendiri … *curcol*. At the end of the book, I just wanted to ‘puk puk’ Tsukuru.





Submitted for: Name in a Book

Wednesday, March 29, 2017

FOR SALE !!

BBW kan udah deket nih, jadi dengan alasan butuh space untuk buku-buku baru nanti, maka, buku-buku berikut gue relakan untuk pindah ke pemilik yang lain ... silahkan diliat-liat, kalo berminat, hubungi via email ya di ferina.permatasari@gmail.com

Terima kasih 😊


@ IDR25,000


@IDR30,000


@IDR35,000


@IDR40,000 

Wednesday, March 22, 2017

Mosquitoland


Mosquitoland
Speak – March 2016
368 hal

“I am a collection of oddities, a circus of neurons and electrons: my heart is the ringmaster, my soul is the trapeze artist, and the world is my audience. It sounds strange because it is, and it is, because I am strange.” 

Perkenalkan: Mary Iris Malone, atau lebih suka dipanggil Mim, gadis berusia 16 tahun,  yang ya… rada-rada aneh. Seperti quote di atas lah, apa yang dia lakukan, dia tulis, dia katakan, terkadang rada absurd. Ayah Mim, khawatir, Mim akan jadi seperti Isabel, adik ayah Mim. Mim didiagnosis mengidap psychosis (PSIKOTIK (PSYCHOTIC) Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh – sumber: perawatpskiatri.blogspot.com/2008/11/psikotik-psychotic.html)

Suatu hari, Mim dipanggil ke kantor kepala sekolah, dan ia secara tidak sengaja mendengar percakapan kepala sekolah dengan ayah Mim dan ibu tirinya, yang sedang membicarakan bahwa ibu Mim, Eve, sedang sakit keras. Mim pun kaget, berbagai pertanyaan timbul di kepalanya. Dan Mim bertekad mencari tau jawabannya.

Maka, Mim memutuskan untuk kabur dari rumah, berbekal uang simpanan ibu tirinya, Mim berangkat menempuh perjalanan panjang, menuju Cleveland, tempat ibunya sekarang tinggal.

Perjalanan Mim dimulai dengan bus antar kota. Di perjalanan, Mim sebenarnya memutuskan untuk tidak berkomunikasi dengan orang-orang seperjalanannya. Tapi yah, ada aja yang ngajak dia ngobrol, sampai akhirnya Mim sendiri ingin tau, siapa diri teman bicaranya itu. Sampai di suatu kota, Mim memutuskan untuk turun dan tidak ikut bis itu lagi.

Kisah tentang Mim juga diceritakan dalam bentuk jurnal/surat-surat kepada Isabel, di mana Mim menceritakan berbagai kejadian di masa lalu, hubungannya dengan kedua orang tuanya, saat-saat special Mim bersama ibunya, hubungan Mim dengan ibu tirinya yang tidak harmonis, dan juga sesi terapi bersama dokter.

Yahh… jujur aja sih, kalo gue kecewa dengan buku ini. Gue suka cerita Mim ketika dia masih dalam perjalanan dengan bus, bertemu dengan orang-orang baru, ulahnya yang bikin satu bis kebauan, Mim yang berusaha ngeles atau pemikiran-pemikirannya yang ajaib, tapi juga cerdas sih menurut gue, di mana di mata gue, Mim adalah gadis yang unik. Gue juga suka dengan tulisan-tulisan di suratnya untuk Isabel.

Tapi, begitu Mim gak ikut bis itu lagi, ceritanya jadi kurang menarik lagi. Mim, jadi terkesan ‘biasa-biasa’ aja, apalagi pake ada romance-romance-nya. Tokoh-tokoh lain j

Jadilah buku ini gak meninggalkan kesan yang istimewa



Submitted for: Young Adult

Friday, March 10, 2017

The Boy who Drew Monsters


The Boy who Drew Monsters
Maria Renata (Terj.)
Qonita – November 2016
420 hal.

Jack Peter, tidak akan pernah mau diajak keluar rumah. Dia juga hidup dalam dunianya sendiri. Jarang berkomunikasi dengan orang tuanya, bahkan sering kali menolak sentuhan kasih sayang dari orang tuanya.  Menurut dokter, kondisi ini disebut dengan Syndrome Asperger, atau gangguan dalam perkembangan yang mempengaruhi seorang anak untuk bersosialisasi dan berkomunikasi. Satu-satu teman Jack Peter, adalah Nick. Ibu Jack Peter ingin agar anaknya ditangani oleh seorang ahli, sejak Jack Peter masih  bayi, ia sudah merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan anaknya. Ketika Nick tertawa-tawa, menangis dan bermain dengan ceria, Jack Peter menurutnya terlalu tenang untuk seorang bayi. Tapi, ayah Jack Peter beranggapan, ini hanyalah soal waktu, ada saatnya nanti Jack Peter akan keluar dari dunianya, dan bersosialisasi dengan normal. Setiap bulan, kunjungan rutin ke dokter menjadi saat-saat yang paling ‘mengerikan’ dan melelahkan. Karena kedua orang tuanya harus bekerja keras mengajak Jack Peter untuk keluar rumah. Namun, kondisi ini semakin membuat ibunya khawatir, ketika tanpa sengaja Jack Peter meninjunya, hanya karena ia kaget ibunya membangunkannya.

Jack Peter senang menggambar. Akhir-akhir ini, ia sering menggambar monster. Awalnya, orang tua Jack Peter justru mendukung kegiatan Jack Peter ini. Bahkan, ia diberikan satu set alat menggambar oleh ibunya sebagai hadiah Natal. Tapi, tampaknya ada yang aneh dengan gambar-gambar itu. Dan hanya Nick yang pada akhirnya menyadari hal itu. Apa yang digambar oleh Jack Peter seolah menjadi nyata. Kedua orang tua Jack Peter mulai khawatir ketika mereka juga merasa melihat hal-hal aneh tapi tak bisa dijelaskan dengan nyata.

Novel ini semakin dibuat ‘spooky’ dengan sebuah cerita tentang legenda kapal yang tenggelam di lautan dekat mereka tinggal. Sebagian mayat-mayat penumpang kapal itu tidak ditemukan. Ibu Jack Peter merasakan menjadi sedikit terobsesi dengan kisah ini, karena beberapa musim panas yang lalu, Jack Peter dan Nick hampir tenggelam. Ditambah lagi, ditemukan sebuah tulang yang diyakini Holly, ibu Jack Peter, sebagai salah satu tulang dari mayat-mayat itu.

Awalnya gue kira ini adalah novel untuk anak-anak, ya at least seumuran Mika, udah bisa lah menikmati ini. Gue sempet bilang ke Mika untuk baca, karena dia lagi suka-sukanya novel misteri macam Goosebumps. Untung banget belum gue kasih, karena ternyata ada bagian-bagian dalam novel ini, meskipun sekilas, tapi untuk konsumsi orang dewasa.

Tokoh Jack Peter, dalam diamnya, dia berhasil membuat ‘teror’ tersendiri untuk orang-orang di sekitarnya. Dan gak ada yang sadar kalau dia ketakutan, gak ada yang percaya dengan cerita-cerita monster yang ia ceritakan ke orang tuanya. Hanya Nick yang tau dan yakin bahwa ia harus menyelamatkan Jack Peter.

Di awal, buku ini memang agak lambat alurnya. Suara-suara yang didengar oleh orang tua Jack Peter, seolah hanya halusinasi mereka masing-masing, kehidupan yang nyaman di rumah impian di tepi pantai, di musim dingin ini tiba-tiba jadi mimpi buruk. Baru di bagian-bagian tengah ke belakang, cerita ini mulai jadi lebih menegangkan dengan munculnya monster-monster yang seolah jadi nyata.

Aura novel ini udah membuat gue merinding sejak awal. Musim dingin, tempat yang sepi, karena daerah ini adalah tempat orang-orang berlibur ketika musim panas, tokoh yang hanya beberapa orang, rasa takut dari masing-masing tokoh dengan problemnya masing-masing, legenda kapal tenggelam, tambahan seorang tokoh perempuan Jepang dengan cerita mistisnya, bahkan lukisan kapal yang tenggelam ini, bikin gue juga merinding ngebayangin nasib para penumpang, seolah - seperti Holly - ikut 'tersedot' ke dalam pusaran air yang gelap. Ending-nya juga seolah bisa bikin cerita baru dengan horor yang berbeda.



Submitted for: Fantasy

Tuesday, February 28, 2017

Crenshaw


Crenshaw
Harper Collins – 2015
256 hal.

Di usia yang belia, Jackson sangatlah dewasa. Ia lebih suka dengan fakta, meskipun itu sangatlah menyakitkan. Apa pun itu pastilah ada penjelasan yang logis menurut Jackson. Bahkan ketika muncul seekor kucing gendut, besar berwarna ungu, dia akan tetap berpikir, ini pasti ada penjelasan, ini pasti ada yang bisa dibuktikan …

Keluarga Jackson sedang dalam kondisi keuangan yang sulit. Mereka terpaksa harus pindah dari apartemen yang sekarang mereka tempati karena tidak mampu membayar sewanya. Ayah dan ibu Jackson tidak punya pekerjaan yang tetap. Sering kali mereka kekurangan makanan, terpaksa menjual perabotan rumah mereka.

Crenshaw, si kucing gendut ungu yang menggemaskan ini, adalah teman khayalan Jackson. Ia membantu Jackson melewati hari-hari susah dalam keluarganya, membantu Jackson menghadapi kenyataan dan berkata pada orang tuanya untuk selalu berterus terang meskipun pahit.

Tapi gak hanya itu, Crenshaw juga akhirnya membuat Jackson sadar, bahwa sedikit bersenang-senang, berkhayal atau bermimpi juga gak ada salahnya koq. Kalo kata Marisol, teman Jackson, nikmati aja keajaiban yang ada, jangan dipaksain semua harus ada penjelasannya.

Bagi orang tua, kadang gak mau anaknya sampai tau kalau mereka sedang dalam kesulitan. Pokoknya, anak-anak itu  harus happy, gak usah mikir susah, biar orang tua aja yang susah. Jadi, sebenarnya, buku ini, gak hanya anak yang harus jujur, tapi juga orang tua juga perlu jujur sama anak. Biar anak juga jadi belajar dan siap kalau gak semuanya itu seneng-seneng #notetomysel.

Yang paling sedih dalam buku itu ada tokoh teman khayalan, adalah ketika harus pisah sama si teman khayalan itu, atau ternyata teman khayalan itu gak dibutuhkan lagi. Dan Crenshaw ini, sepintas rada ngeselin, tapi sebenernya dia ‘bijak’ banget.

“Imaginary friends are like books. We're created, we're enjoyed, we're dog-eared and creased, and then we're tucked away until we're needed again.”



Submitted for: Children Literature

Tuesday, February 21, 2017

Second Chance Summer


Second Chance Summer (Kesempatan Kedua)
Cindy Kristanto (Terj.)
GPU – November 2016
456 hal.

Taylor Edwards menyambut liburan musim panas kali ini dengan perasaan yang berat. Setelah 5 tahun, ia akhirnya harus kembali menghabiskan musim panasnya di rumah musim panas keluarganya di Phoenix Lake. Karena itu artinya ia harus kembali berhadapan dengan orang-orang yang ingin ia lupakan – sebut saja Lucy, mantan sahabatnya, dan juga Henry, pacar pertamanya.

Namun, bukan masalah itu saja yang bikin hati Taylor gundah gulana. Ia baru saja mendapatkan kabar, bahwa ini kemungkinan akan jadi liburan musim panas terakhir keluarga Edwards dengan anggota keluarga yang lengkap. Ayah Taylor didiagonosa menderita kanker pankreas stadium 4, dan diperkirakan hanya bertahan paling lama 3 atau 4 bulan.

Dan bener aja, gak bisa dihindari kalau ia akhirnya akan bertemu kembali dengan Henry dan Lucy. Kedua bersikap dingin terhadap Taylor, bahkan cenderung ketus. Maunya biasa-biasa aja, tapi Taylor malah deg-degan tiap ngeliat Henry yang makin keren, atau terpaksa bertemu Lucy tiap hari di tempat dia bekerja paruh waktu di kedai makanan.

Tanpa disadari, musim panas kali ini malah membuat Taylor semakin dekat dan mengenal ayahnya. Dan demi ayahnya, Taylor bertekad memperbaiki keadaan dan tidak akan lari lagi dari masalah. Keluarga Edwards mungkin salah satu contoh yang jarang menunjukkan perasaan satu sama lain, tapi seperti Taylor, sebenernya dia pengen banget bilang kalau dia menyayangi ayahnya. Ada rahasia-rahasia dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang terkadang dilakukan Taylor bersama ayahnya.

Gue kira masalah apa gitu yang bikin Taylor jadi males banget balik ke Phoenix Lake. Kirain ada yang serius banget atau ada tragedi apa … hehehe… gue berharap lebih dramatis lagi … tapi mungkin sih masalah ini udah dramatis banget untuk anak usia 12 tahun. Gue sempat penasaran banget, apa sih yang bikin Lucy dan Henry marah  banget sama Taylor. Di tengah-tengah, diselipkan bab yang menceritakan kejadian di musim panas lima tahun yang lalu.

Gue suka transformasi dari para tokoh, meskipun jujur aja, Taylor ini rada ngambang. Sebagai anak tengah, dia jadi ‘tenggelam’ di antara Warren, kakaknya - yang serba tau dan pinter – dan Gesley, yang jago balet. Taylor juga sepertinya gak punya banyak teman di sekolah. Ini sih kesimpulan gue aja, karena selama liburan, Taylor gak pernah dapet telepon atau sms seru dari teman-teman sekolahnya. Padahal kan di usia Taylor, lagi rumpi-rumpinya, heboh ngomongin cowok-cowok yang mereka temui di tempat liburan mereka.

Lalu, Warren dan Gesley juga banyak berubah selama liburan. Warren ini tipe yang ‘nerdy’ banget, dan a little bit gengezz dengan segala pengetahuan macam Google aja.

Gue tau, gue akan menemukan ending yang sedih dalam buku ini, tapi seperti kata Taylor, yang mengutip Dicken, ada satu saat di mana ada kebaikan, sekaligus keburukuan (gitu deh kira-kira). Dan, jarang-jarang terjadi, tiba-tiba mata gue berkaca-kaca …. for personal reason …. Yes… I miss my father … dan gak bener banget tiba-tiba di dalam bis gue nyari tissue ….untuk lagi pilek …

Baca buku ini bikin jadi pengen liburan ... pengen santai-santai kaya’ Taylor, seru-seruan berenang di danau, ngupi-ngupi cantik atau beli roti di toko rotinya Henry. Gak pas banget dengan suasana lagi hujan ketika gue baca buku ini. Samar-samar, berasa lagi baca Lima Sekawan, tapi dalam versi romance minus petualangan J.


Submitted for: Award Winning (California Book Award Gold Medal for Young Adult (2012))


Monday, February 20, 2017

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi


Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Yusi Avianto Pareanom
Banana Publishing - 2016
450 hal.

Alkisah, ada seorang pemuda bernama Sungu Lembu. Usianya masih muda, tapi hidup sudah memberinya pelajaran dan pengalaman yang sangat banyak. Ia mengembara dengan tujuan balas dendam kepada Watugunung, raja dari Gilingwesi, yang sudah membuat keluarganya dan juga rakyat Banjaran Waru sengasara.

Pertemuan Sungu Lembu dengan Raden Mandasia berawal di rumah dadu Nyai Manggis. Ternyata Raden Mandasia adalah salah satu anak dari Watugunung. Kalau bukan karena permintaan Nyai Manggis, mungkin Sungu Lembu sudah membunuh Raden Mandasia. Nyai Manggis berpesan agar Sungu Lembu mengikuti Raden Mandasai dalam perjalanannya menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Maka dimulailah perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia, melintasi gurun pasir, terombang-ambing di lautan, bahkan bertemu bajak laut. Lama-lama, Sungu Lembu pun sedikit banyak mengenal Raden Mandasia, pangeran yang ‘kabur’ dari istana demi mencegah peperangan besar, pangeran yang punya kebiasaan ajaib, yaitu mencuri daging sapi.

Dan meskipun demikian, keinginan Sungu Lembu untuk mengabisi Watugunung tidak surut. Tapi, sesampainya ia di kerajaan Gilingwesi, mau tak mau, nyalinya sedikit ciut, melihat kemampuan Watugunung dalam memainkan pedang dan betapa ia sangat tangguh di medan laga.

Kalau berpikir Raden Mandasia yang jadi tokoh utama dalam buku ini, kemungkinan akan sedikit kecewa, karena menurut gue, ini murni tentang kisah Sungu Lembu. Bahkan gue gak menaruh perhatian sedikit pun sama Raden Mandasia yang malah seolah jadi ‘pelengkap’ Sungu Lembu. Raden Mandasia baru menarik perhatian gue, ketika ia turut bertempur melawan prajurit Kerajaan Gerbang Agung. Tiba-tiba Raden Mandasia jadi gagah gitu dalam bayangan gue .. hehehe… Dan sosok Raden Langkir, saudara kembar Raden Mandasia, mengingatkan gue pada Tyrion Lannister. Ini bikin Sungu Lembu pengen ketawa-tawa terus kalau liat Raden Langkir dan gak percaya kalau dia ini adalah saudara kembar Raden Mandasia.

Yang gue suka dari Sungu Lembu, adalah pembawaannya yang santai, kadang rada ngeselin, tapi penuh dengan kewaspadaan. Ia terlatih mengenal berbagai jenis racun – hasil didikan pamannya, Banyak Wetan. Lalu, ia suka membaca, plus sebenarnya Sungu Lembu ini juga cerdas sih menurut gue.

Membaca novel ini harus sabar, karena Sungu Lembu membawa kita ke awal terjadinya cerita ini, lalu ada di tengah-tengah, baru kemudia terjun ke masa sekarang, dengan terkadang mundur dikit lagi. Terkadang mungkin akan ikut memaki-maki bersama Sungu Lembu, dan oh… ya ampun, ikutan ‘ngiler’ dengan penjabaran berbagai bagian daging sapi lengkap dengan masakan yang pas untuk bagian itu. Dan tentu saja gak ketinggalan adegan-adegan dewasa yang kadang bikin gue ‘jengah’ bacanya.          

Bagian favorit gue adalah ketika Sungu Lembu bertemu dengan Dewi Sinta, ibunda Raden Mandasia, kaya’nya tenang gitu, setelah menghabiskan sebagian besar novel yang penuh peperangan, jatuhnya ribuan mayat dari langit, dan perjalanan yang penuh berbagai hambatan dan tantangan.  

Tadinya gue sempat ‘membandingkan’ novel ini dengan novel-novelnya Eka Kurniawan. Tapi ternyata, jujur aja gue lebih suka sama novel ini. Menurut gue sih, bahasa dalam Raden Mandasia ini lebih ‘halus’. Meskipun ada maki-makian a la Sungu Lembu, tapi malah jadi ‘penyegar’ dalam novel ini.



Submitted for: Award Winning (Kusala Sastra Khatulistiwa – Kategori Prosa)

Tuesday, February 14, 2017

Death on the Nile


Death on the Nile
Harper Collins – 2001  
416 hal.

Hercule Poirot sedang menikmati liburannya ke Mesir, menyusuri sungai Nil, berkunjung ke Pyramid dan tempat-tempat bersejarah di Mesir lainnya. Tapi tetap saja, detektif handal ini tak bisa santai. Saat yang seharusnya jadi waktu bersantainya, tetap saja ‘mengundang’  sebuah kasus pembunuhan.

Di dalam kapal pesiar, seorang perempuan muda, cantik dan kaya raya, Linnet Ridgeway, ditemukan tewas dengan luka tembakan. Linnet sendiri baru saja menikah dengan Simon Doyle. Simon Doyle ini sebelum menikah dengan Linnet adalah kekasih dari sahabat baik Linnet, Jacqueline Bellefort. Tentu saja, tersangka utama jatuh kepada Miss Bellefort. Di dinding kabin Linnet, tertulis inisial ‘J’ berwarna merah kecokelatan.

Beberapa hari sebelum kejadian itu, Linnet pernah curhat ke Poirot kalau dia merasa terganggu dengan keberadaan Miss  Bellefort yang seolah ‘menguntit’ Linnet dan suaminya ke mana pun mereka pergi. Linnet minta Poirot untuk berbicara dengan Miss Bellefort.

Miss Bellefort sendiri mengatakan kepada Poirot, bahwa ia sangat sakit hati karena Linnet merebut Simon, dan berniat untuk menghabisi Linnet. Bahkan ia menunjukkan pistol yang ia bawa dan ingin ia gunakan untuk membunuh Linnet.

Ketika penyelidikan sedang berlangsung, dua pembunuhan terjadi lagi. Dan ada sangkut pautnya dengan pembunuhan terhadap Linnet. Semua berpotensi jadi tersangka, karena jika dirunut-runut, para penumpang ada kemungkinan punya hubungan dengan Linnet. Tak terkecuali Simon Doyle, suami Linnet yang terbaring di kamar karena luka tembak, dan tentu saja Miss Bellefort. Tapi kedua, segera saja dicoret dari daftar tersangka, karena punya alibi yang kuat.

Siapa pelakunya – tentu saja terbatas dengan penumpang di kapal pesiar tersebut. Wisata menyusuri sungai Nil jadi perjalanan yang menegangkan.  Dan bagi Poirot, alibi kuat bukan berarti tak bersalah. Bahkan, penyeledikan juga mengungkap kejahatan-kejahatan lain.

Seperti biasa, Poirot menyelidiki dengan sangat teliti, ia mengamati dan melihat semua hal, sampai yang sekecil-kecilnya, yang biasanya akan luput dari perhatian orang lain.

Misteri dalam buku ini tidak terlalu rumit atau menegangkan. Motif sudah pasti karena harta, mengingat Linnet memiliki banyak harta. Jika ia meninggal, hartanya sudah pasti jatuh ke tangan suaminya. Lalu, siapa lagi yang mungkin punya kepentingan terhadap harta Linnet jika ia tiada? Apakah sahabatnya yang justru tidak ada di kapal ini? Atau pengacara Linnet? Atau wali Linnet yang mengurus harta kekayaan Linnet?

Dan tragedi kematian Linnet sendiri baru terjadi di pertengahan buku. Mungkin bagi pembaca yang pengen segera merasakan aura misteri atau ketegangan, bakal harus bersabar, menunggu Poirot keliling Mesir dulu, berkenalan dengan para tokoh, sambil mungkin menganalisa perilaku mereka sejak awal.



Submitted for: Thriller and Crime Fiction

Tuesday, February 07, 2017

Crazy Rich Girlfriend


Crazy Rich Girlfriend (Kekasih Kaya Raya)
Kevin Kwan @ 2015
GPU - 2017
456 hal.

Rachel Chu akhirnya akan menikah dengan Nicholas Young, si professor tajir melintir dari Singapura, calon pewaris harta kekayaan keluarga Young, tapi karena awalnya keluarga  Young tidak setuju dengan hubungan ini -  bahkan Nick tidak mau ibunya sampai tau kabar pernikahan ini, maka segala pengamanan ekstra ketat diberlakukan. Meskipun begitu, terasa ada yang kurang bagi Rachel, karena ayah kandungnya yang tidak ia ketahui keberadaannya tidak hadir untuk mengantarkannya ke altar.

Tapi, kebetulan yang sangat luar biasa, ketika Eleanor Young, ibu Nicholas, bisa menemukan seseorang yang menjadi penghubung dalam menemukan ayah Rachel dan akhirnya memberi restu terhadap pernikahan itu. Ya tentu saja sih, pada akhirnya, ada udang di balik bakwan, karena gak mungkin Eleanor begitu saja menyetujui pernikahan itu.

Tak hanya akhirnya menikah, Rachel berkenalan dengan Collete Bing, seorang sosialita yang memperkenalkan Rachel kepada kehidupan yang membuatnya menganga lebar …. Clubbing di Hong Kong, belajar heboh di Paris, melihat rumah yang luar biasa yang lengkap dengan spa pribadi, bioskop pribadi, pokoknya segala fasilitas VVIP. Dan pun ‘menganga’ dengan segala kemewahan yang ditampilkan oleh Collete.

Sementara itu, Astrid Leong kembali rukun dengan Michael, suaminya yang sekarang sukses dengan perusahaan IT-nya. Tapi, kekayaan membuat Michael berubah, hingga Astrid merasa tidak mengenal lagi sosok pria yang membuatnya jatuh cinta dulu.

Lalu, Kitty Pong, mantan artis Hong Kong, berjuang agak eksistensinya diakui oleh kalangan sosialita. Dan luar biasanya, orang-orang seperti Kitty sampai memerlukan konsultan untuk mengatur semuanya – busana, acara yang perlu dihadiri, bahkan gereja yang harus didatangi.

Sejujurnya, gue mulai ‘pusing’ baca buku ini, pusing dengan segala ke’gilaan’ para tokoh yang belanja-belanji tanpa batas itu, beli pesawat, beli baju bermerk, makan di resto super mahal, segala atribut rumah, mobil mewah, bahkan pesawat – udah pada kaya’ beli kacang rebus .. gak mikir duitnya bakal abis.

Dan rasanya juga mulai lelah dan berharap cukup sekian, jangan dilanjutin lagi ini buku … etapi, penasaran juga sih sama buku ketiganya .. tapi udah dong… ini penulis bikin buku dengan tema yang lain atau latar belakang lain gitu. Bosen juga sih kalo ternyata isinya kaya’ gini terus. Pertama sih oke lah, seru … lucu… ini antara buku ‘fantasi’ – buat gue sih ini fantasi banget, tapi beneran ada di dunia nyata… tapi, baca buku kedua, mulai lelah … gue mulai ngelewatin tuh bagian-bagian belanja di Paris.

Tokoh favorit gue tetap Astrid Leong… ini kali ya, yang namanya effortless , dia pake baju polos keluaran butik ‘biasa’ pun, tetap  bikin orang penasaran, siapa nama perancang busananya itu.

Dan Rachel Chu malah jadi ‘tenggelam’ di antara cewek-cewek lain yang bertebaran di buku ini. Yang gak kalah luar biasa adalah Kitty Pong, yang bersiap-siap mengeluarkan ‘cakar’nya.




Submitted for: Asian Literature

Friday, February 03, 2017

Golden


Golden
Wisnu Wardhana (Terj.)
Penerbit Spring – Januari 2017
308 Hal.

Parker Frost, seorang remaja yang hidupnya seolah sudah ‘dipetakan’, ia sudah tau tujuannya selepas SMA, meskipun sejujurnya, itu bukan sesuatu yang terlalu ia inginkan. Ibunya yang ambisius ingin Parker berhasil mendapatkan beasiswa Cruz-Farnetti dan masuk ke fakultas kedokteran. Parker gak pernah bolos sekolah, selalu teratur dan memang termasuk murid yang berprestasi.

Cruz-Farnetti, adalah sebuah yayasan yang didirikan untuk mengenang pasangan Shane Cruz dan Jullianna Farnetti yang tewas dalam badai salju. Keduanya digambarkan sebagai pasangan yang ideal dan sempurna di SMA Summit Lake, sekolah tempat Parker menuntut ilmu. Sepuluh tahun yang lalu, terjadi kecelakaan yang merengut nyawa mereka berdua. Mereka seolah jadi ‘legenda’ dan terus dikenang oleh penduduk Summit Lake. Jenazah mereka tidak pernah ditemukan.

Salah satu guru di SMA Summit Lake, Mr. Kinney, selalu memberikan buku jurnal untuk siswa-siswa tahun terakhir di sekolah itu. Beliau mengajukan pertanyaan ‘Apa yang kamu lakukan terhadap hidupmu yang berharga ini?’ Dan di akhir tahun pelajaran, buku jurnal itu akan dimasukkan ke dalam amplop dan disegel untuk disimpan dan akan dikirimkan kepada mereka sepuluh tahun kemudian.

Parker bertugas sebagai asisten Mr. Kinney, membantu untuk menempelkan perangko dan label alamat untuk mengirimkan jurnal-jurnal itu. Untuk tahun ini, salah satu jurnal itu adalah milik Julianna Farnetti. Rasa ingin tahu, membuat Parker membuka dan membaca jurnal itu. Seperti apakah kehidupan dan pribadi Julianna Farnetti yang melegenda itu? Apakah benar ia sesempurna yang seperti yang terpampang di billboard besar di Summit Lake?

Membaca jurnal itu, tak hanya membuka pikiran Parker tentang Julianna Farnetti, tapi juga membuka hal-hal baru dalam diri Parker – tentang keberanian untuk mencoba hal-hal baru, melakukan hal-hal ‘melenceng’ sesekali dan menentukan pilihan-pilihannya sendiri. Sebuah harapan baru juga yang membuat Parker berani melakukan perjalanan, mencari jejak Julianna.

Yang gue suka dari buku ini, pertama: covernya, kedua, gue suka bagian-bagian tulisan Julianna Farnetti, sayangnya kurang banyak. Pengen gitu gue lebih jauh mengenal Julianna, Shane dan Orion. Menarik untuk menulis apa yang kita pikirkan sekarang, lalu dibaca lagi entah beberapa tahun kemudian. Mungkin nih, kaya’ kalo baca diary jaman-jaman SMP-SMA dulu, mungkin berasa malu karena koq gue bisa ‘senorak’ itu, atau justru merasa bersyukur karena hidup gue lebih baik dari pada yang dulu.

Gue suka Parker dengan mimpi-mimpinya ini, gadis yang penurut ini, menjadi lebih hidup dengan Kat, sahabatnya, yang serba spontan. Jadi mengimbangi karakter Parker.

Submitted for:




Kategori: Young Adult

Tuesday, January 31, 2017

The Circle


The Circle
Dave Eggers @ 2013
Marcalais Fransisca (Terj.)
Bentang – Agustus 2016
594 Hal.

Menjadi bagian dari The Circle adalah sebuah kebanggaan. Perusahaan internet dan teknologi yang paling berkuasa saat ini. Bekerja di The Circle menjadi sebuah gengsi tersendiri. Beruntung bagi Mae Holland untuk bisa bekerja di sana berkat bantuan Annie, sahabatnya. The Circle dibangun oleh 3 orang yang ahli di bidangnya, yang disebut ‘Wise Men’. Para pekerja di The Circle memuja mereka – Ty, yang misterius, Tom Stenton dan Eamon Bailey – para jenius di balik The Circle. Tujuan The Circle adalah ‘transparansi’ – artinya tidak ada lagi yang perlu dirahasiakan, semua orang berhak untuk tahu apa yang menjadi minat orang lain, semua orang harus berbagi. Mungkin ada tujuan baiknya , misalnya masalah keamanan – para orang tua tidak keberatan jika suatu saat di dalam tubuh anak mereka ada sebuah chip, yang tujuannya adalah mengontrol keberadaan anak mereka, hal ini dimaksudkan untuk mencegah penculikan atau tindak kejahatan lain terhadap anak. Atau misalnya, mencari buronon, dengan aplikasi SoulSearch, hanya dalam waktu 20 menit, dijamin, buronan itu akan segera ditemukan.

Penemuan mereka yang paling mutakhir adalah SeeChange, sebuah kamera kecil yang dipasang di setiap sudut, di mana saja – agar semua orang bisa mengetahui apa yang sedang terjadi. Semua tentu saja bertujuan mulia.

Tapi, sampai titik manakah seseorang akan rela untuk menjadi ‘transparan’, ketika mereka pada akhirnya gak punya lagi kehidupan untuk pribadi mereka sendiri, gak punya rahasia lagi sekecil apa pun – karena bagi The Circle – Rahasia adalah sebuah kejahatan dan  berbagi adalah salah satu bentuk kepedulian – apa pun itu.

Mae Holland yang awalnya ditugaskan di bagian Customer Experience, perlahan mulai menarik perhatian. The Circle penuh dengan segala komunitas, dan setiap pekerja secara halus diwajibkan untuk ambil bagian. Hidup Mae jadi dipenuhi angka-angka, statistik, follower. Setiap saat wajib memberi tanggapan atas segala berita, wajib kasih tanda ‘senyum’, atau emoticon-emoticon lain. Mae jadi ambisius mengejar peringkat, sampai akhirnya ia jadi menjauh dari orang tuanya. Apa yang tadinya menjadi minat Mae sebelum masuk The Circle, menjadi hal yang biasa-biasa saja.

Mengerikan ya … apalagi kalau diliat, sekarang ini media sosial menjadi saran untuk eksis. Banyak selebriti dadakan gara-gara media sosial. Teknologi yang katanya mendekatkan yang jauh, tapi juga menjauhkan yang dekat. Liat aja orang tua Mae yang akhirnya milih bersembunyi, dan bahkan Mae juga semakin jarang menghubungi orang tuanya.

Latar belakang cerita ini menarik – memberi peringatan pada kita nih, bahwa bisa jadi apa yang ada di buku ini benar-benar kejadian, semua mau di-sharing, mau dibagi-bagi, nyaris tanpa saringan. Segala macem di-publish, di-posting.

Tapi, koq gue kurang mendapat kesan tentang Mae. Mae, memang jadi tokoh penting dalam buku ini, tapi, apa yang dia lakukan terasa kurang ‘greget’ gitu, berasa datar aja. Lalu, tokoh yang gue pikir akan muncul sebagai ‘pendobrak’ atau yang melawan, justru menghilang dengan cepat dan kurang menonjol. Pengennya Annie juga lebih banyak gitu peranny, gak hanya muncul, terus ilang, padahal dia kan sahabat dekatnya Mae. Atau, tentang Ty yang misterius .. Terus gue juga merasa, kadang-kadang penjelasan terlalu panjang dan muter-muter gitu. Dan yang gue kurang suka adalah novel ini terasa tanpa ‘jeda’, gak ada pergantian bab, nyambung aja gitu. Terus.. kenapa ending-nya menggantung begitu …. Jadi, apa dong .. gimana??

Tapi eniwei…. Terima kasih untuk memilihkan buku ini ya… tuntas sudah rasa penasaran gue ….

Hmmm… tebakan gue, si secret giver ini – tak lain adalah ‘speakercoret’ alias mute …
Dari awal banget , even baca paragraf pertamanya aja, gue langsung nebak beliau ini. Hihihi… ternyata kita pernah ngubek-ngubek tempat yang sama …


Terima kasih buku-bukunya, dan tentu saja ma kasih loh, indomie-nya … J

Submitted for:



Kategori: Brick Books


Monday, January 30, 2017

Holy Mother


Holy Mother
Akiyoshi Rikako
Andry Setiawan (Terj.)
Penerbit Haru – Oktober 2016
284 Hal.

Di kota Aiidee, Jepang, ditemukan mayat seorang anak laki-laki dengan kondisi  yang mengerikan. Tapi tidak temukan tanda-tanda yang mengarah pada pelakunya. Tak ada jejak, semua sangat rapi. Bahkan, kalo menurut detektif yang menyelidiki kasus ini, mayat tersebut diperlakukan dengan penuh ‘cinta’.

Kota Aiidee adalah kota yang tingkat kriminalnya sangat minim. Ketika kasus ini terjadi, karuan membuat orang tua jadi parno. Sebut saja Honami, yang bertekad melindungi putri satu-satunya dan akan melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan putrinya.

Namun, saat kepolisian belum berhasil menemukan titik terang, jatuh korban kedua. Dengan kondisi yang sama. Tapi … sang pelaku justru merasa ada yang salah … ada bekas-bekas kejahatan lain, sesuatu yang tidak ia lakukan. Berarti ada orang lain yang mengetahui perbuatannya tersebut.

Pelaku mengincar anak laki-laki kecil, yang punya kecenderungan bersikap kasar terhadap teman perempuannya. Dengan membunuh anak laki-laki itu, ia yakin sudah ‘mengurangi’ laki-laki yang berpotensi jahat ketika beranjak dewasa.

Berbeda dengan novel-novel misteri yang sering gue baca – dalam novel misteri Jepang, pembaca seperti diajak menelusuri jejak masa lalu pelaku, bermain dengan emosi dan psikologi pelaku pembunuhan tersebut. Sekilas gak akan beda dengan orang-orang ‘biasa’ – contoh di novel ‘OUT’ atau dalam ‘Kesetiaan Mr. X’, pelakunya adalah ibu rumah tangga – yang di luar apa yang mereka lakukan, memiliki kehidupan yang biasa-biasa aja.

Ending dari novel ini benar-benar gak terduga, sempat membuat gue bingung dan menyesatkan … tapi ini yang lagi-lagi membuat gue ‘cinta’ sama novel-novel Jepang, di mana gue menemukan sesuatu yang ‘aneh’, yang tak terduga dan gak bisa, tapi tetap bisa gue terima.

Satu yang gak suka dari novel ini, adalah cover-nya yang ‘spooky’ banget. Sama dengan dua buku lainnya, yang juga gak kalah ‘spooky’ tapi setelah baca ini, malah ‘memanggil-manggil’ untuk gue baca. 

Hehehe.. review singkat aja, karena kalo panjang-panjang takut spoiler.


Submitted for:


Kategori: Thriller and Crime Fiction

Friday, January 13, 2017

The Storied Life of A.J. Fikry


The Storied Life of A.J. Fikry
Abacus (2015)
306 hal.

A.J. Fikry – pemilik sebuah took buku bernama Island Books. Ia adalah seorang pria yang pemarah, penggerutu, kadang-kadang suka mabuk. Intinya, bukan pria yang menyenangkan. Ia hidup sendiri setelah istrinya meninggal dunia karena kecelakaan. Penjualan di took bukunya sendiri juga tidak berjalan lancar. Island Books paling ramai ketika musim panas, saat turis-turis datang ke Alice Island. Ia makin merasa kacau balau ketika buku langka yang ia miliki tiba-tiba hilang. Buku itu berjudul Tamerlane – buku edisi pertama karya Edgar Allan Poe yang langka, yang ia simpan untuk saat-saat darurat. Lalu, ia juga bersikap tidak menyenangkan kepada Amelia, wakil dari penerbit yang menawarkan buku-buku terbaru. Kesimpulannya ia adalah pria yang menyebalkan dan sombong.

Suatu hari, ia menemukan seorang anak perempuan berusia 2 tahun, yang ditinggalkan ibunya di Island Books. Hanya ada selembar surat yang meminta AJ FIkry untuk merawat anak perempuan bernama Maya itu. Dan sejak itulah, AJ Fikry perlahan berubah. Ternyata ia juga pria yang lembut, yang ternyata bisa jatuh hati dan merawat Maya dengan penuh kasih sayang, bahkan ia pun membuka diri untuk menjalin hubungan baru dengan Amelia.

Adanya Maya, juga hanya bikin AJ Fikry jadi lebih hidup, Island Books juga jadi lebih ramai. Polisi sahabat AJ FIkry, Lambaise, bikin book club khusus untuk buku-buku bertema crime, atau ibu-ibu rumah tangga yang bikin book club khusus untuk buku-buku yang di judulnya ada kata ‘WIFE’.

Dan satu nih yang lucu, ada nenek-nenek yang mau ngembaliin bukunya, karena dia sebel sama AJ Fikry yang kasih rekomendasi buku yang naratornya adalah ‘Death’ … tau dong ini buku apa ??

Ini kali ya, yang disebut-sebut ‘the book will warm your heart’ …  gue suka narasi AJ Fikry di seti
ap pergantian bab , yang ditandai dengan judul-judul cerita pendek favorit AJ Fikry. Bahkan gue bikin list-nya, dan langsung browsing.

Gue jadi pengen kaya’ Maya, yang tinggal di atas toko buku, yang bisa setiap saat langsung cari buku baru tiap kehabisan bacaan, yang langsung bisa tanya rekomendasi buku bagus ke yang punya toko. Tapi, AJ Fikry juga tokoh yang rada gak suka dengan yang namanya e-book … sedikit menyindir keberadaan e-book yang ‘menggusur’ toko-toko buku besar. Dan kalo sepintas mungkin rada kurang berasa ‘bonding’ antara AJ Fikry dengan Maya, tapi kalo dicermati lebih dalam lagi, justru lewat tulisan-tulisan AJ Fikry akan terasa kalau dia adalah pria penyayang.

Serasa pengen ikutan ‘mewek’ menjelang akhir novel ini. Ini mungkin mirip-mirip yang gue rasakan tiap abis baca buku Mitch Albom, begitu selesai bukunya, langsung bikin terdiam sejenak. Karakter yang sempat menyebalkan, malah meninggalkan banyak kesan.


Senang rasanya di awal tahun baca buku bagus begini … dan ini adalah postingan pertama untuk BBI Read and Review Challenge.

Submitted for:

Kategori: Name in A Book

Tuesday, January 10, 2017

BBI Read and Review Challenge 2017



Tahun 2016 – blog ini bener-bener kacau … postingan buku, kalo satu bulan ada satu aja … itu udah bagus banget … dan bahkan sama sekali gak pernah ikutan posting bareng BBI – kecuali untuk posting buku dari Secret Santa … huhuhu .. ma’afkan aku, Bebi ….

Tahun 2017 ini, gue ‘bertekad’ bakal lebih rajin lagi … dan semakin semangat lagi , karena divisi Event BBI bikin reading & review challenge yang seru .

Kalo liat dari kategorinya, sepertinya bisalah ikutan di beberapa kategori. Nah, kategorinya sendiri adalah:

Kategori Single Point
1.      Classic Literature, adalah buku-buku sastra klasik seperti buku-buku Jane Austen, Charles Dickens, etc.
2.    Children Literature, adalah buku-buku bertema dan cocok untuk anak-anak kecil hingga usia middle grade (SMP), atau usia hingga 15 tahun. Contoh, Rick Riordan
3.      Young Adult Literature, adalah buku-buku bertema remaja (Young Adult) dan New Adult (NA), berusia SMA hingga kuliahan, atau berusia 16-22 tahun. Contoh, Sarah Dessen, John Green, Jennifer L. Armentrout, dll
4.  Asian Literature, buku-buku yang berlatar belakang Asia, bertema kehidupan Asia, atau penulisnya berasal dari Asia. Contoh, Kevin Kwan, Akiyoshi Rikako
5.       Indonesian Literature Before 80’s, buku-buku asli dari Indonesia yang terbit sebelum tahun 1980
6.    Self-Improvement & Self-Help, merupakan buku-buku pengembangan diri. Contoh, buku-buku John C. Maxwell, chicken soup, dll
7.       Poetry, buku-buku puisi, baik dari Indonesia maupun luar Indonesia. Contoh, Tidak Ada New York Hari Ini, atau sonnet Shakespeare
8.  Biografi Pahlawan Indonesia, adalah buku-buku yang menceritakan kisah hidup pahlawan Indonesia, seperti tentang Ir. Soekarno, Jenderal Soedirman, dsb
9.       Award Winning Books, adalah buku-buku yang memenangkan sebuah penghargaan atau lebih, misalnya pemenang RITA Awards, Goodreads Choice Awards, dsb
10. Science-Fiction, buku-buku dengan genre utama science-fiction. Contoh, Star Trek, Ender’s Game, Across The Universe
11.   Dystopia, buku-buku dengan genre utama dystopia. Contoh, The Hunger Games, The Maze Runner
12.   Adventure, buku-buku mengenai petualangan dan memiliki tema utama petualangan, contoh: buku-buku Enid Blyton, Robinson Crusoe, dll
13. Historical Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fiksi historis. Bisa romance, non romance. Contoh: Ruta Sepetys, Julia Quinn, Lisa Kleypas (romance)
14.  Fantasy Fiction, adalah buku-buku dengan genre utama fantasy. Contohnya, buku-buku Neil Gaiman
15. Paranormal Romance, adalah buku-buku dengan genre dan elemen utama paranormal romance, tentang vampire/shifter/makhluk non-manusia. Contohnya: Ilona Andrews, Nalini Singh, Thea Harrison, dll
16.   Contemporary Romance, adalah buku-buku yang memiliki genre utama romance dan berlatar belakang kontemporer, dengan tokoh yang sudah berusia dewasa. Contoh, Cecilia Ahern, Sophie Kinsella, Jojo Moyes, Colleen Hoover, Elle Kennedy, Lauren Blakely, dll
17.   Erotic Romance, buku-buku dengan genre utama romance dan memiliki unsur eroticism yang besar. Contohnya, E.L. James, Sylvia Day, C.D. Reiss
18.   Sport Fiction, buku-buku fiksi dengan tema olahraga, baik romance maupun non-romance. Contoh: Susan Elizabeth Phillip
19.   Thriller and Crime Fiction, adalah buku-buku yang memiliki genre utama thriller dan fiksi kejahatan. Contoh, Stephen King, J.D. Robb, David Baldacci, John Grisham, etc
20.   Wedding Literature, buku-buku yang memiliki tema pernikahan (wedding)
21.   Graphic Novels & Comic Books, adalah buku-buku komik, novel bergambar, dan novel berilustrasi.
22.   Debut Authors, adalah buku dari pengarang yang melakukan debut pada tahun 2017 (buku pertama), bisa fiksi bisa non fiksi
23.   Hobby Nonfiction, adalah buku-buku nonfiksi mengenai hobi, seperti crafting, travel, fotografi, motor dan mobil, dsb
24.   Brick Books, adalah buku-buku yang memiliki ketebalan buku minimal 500 halaman dalam bentuk fisik (paperback/hardback) maupun digital (sesuai dengan edisi Kindle/ebook)
25.   Name In A Book, adalah buku-buku yang memiliki nama tokoh (nama depan/belakang) pada judulnya, dan bukan pada nama serinya

Kategori Ten Point
1.       Full Series, membaca dan mereview satu seri penuh selama tahun 2017, minimal memiliki 3 buku (trilogi) dalam satu seri dan semua review dimasukkan ke dalam linky [EDIT] tidak termasuk komik, dan novella tidak dihitung (buku-buku pendamping)
2.       Buku Pengarang Lima Benua, mereview buku-buku dari masing-masing satu pengarang dari setiap benua (Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia), sehingga dalam tema ini akan ada 5 link/tautan review. Buku yang dibaca boleh fiksi, bisa nonfiksi
3.       Lima Buku dari Penulis yang Sama, membaca dan mereview lima buku dari penulis yang sama, namun bukan bagian dari seri (harus stand-alone), bisa fiksi maupun nonfiksi
4.       Historical Non Fiction, merupakan buku-buku historis nonfiksi, bisa berupa ensiklopedi, buku sejarah, dll

Mungkin gak akan bisa ikutan di semua kategori, karena ada beberapa kategori yang kaya’nya bukan tipe-tipe buku yang gue ‘lirik’. Tapi, mudah-mudahan, dari setiap buku yang gue baca, masuklah ke salah satu kategori.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang