Monday, February 11, 2013

Singgah





Singgah
Jia Effendie, Taufan Gio, Alvin Agastia Zirtaf, Yuska Vonita, Adellia Rosa, Dian Harigelita, Anggun Prameswari, Aditia Yudis, Bernard Batubara, Putra Perdana, Artasya Sudirman @ 2012
GPU, Januari 2013
232 hal
(Kinokuniya Plaza Senayan)

Karena hidup adalah persinggahan

Wow, kalimat pertama di dalam buku ini langsung membuat saya ‘termenung’. Yah… benar juga ya… dunia ini adalah sebuah persinggahan, sebelum akhirnya nanti kita semua pulang ke rumah kita yang sebenarnya.

Sebenarnya saya ada rasa ‘pesimis’ ketika saya membeli buku kumpulan cerpen ini. Kenapa? Karena beberapa kali saya membaca kum-cer, yang ada malah membuat kening saya berkerut, ‘gak ngerti dengan isi cerpen yang saya baca. Isinya terlalu rumit untuk dicerna otak saya yang pas-pasan ini… Apakah berarti saya termasuk pembaca yang tak berotak dong? #ooopsss…. Entah kenapa ya, di pandangan saya, penulis-penulis lokal sering kali memasukkan hal-hal yang rumit ke dalam cerita-cerita mereka…

Tapi, aduh.. ma’afkan saya, mbak Jia dan teman-teman penulis di Singgah… ternyata, cerpen-cerpen dalam buku ini gak semuanya rumit… malah saya suka sebagian besar ceritanya.

Judulnya singkat saja – Singgah – dalam kumpulan cerpen ini, semua cerita mengambil setting di tempat-tempat persinggahan – pelabuhan, bandara, terminal dan stasiun. Dari cover  yang keren ini, terlihat ada gambar pesawat, kapal lauh, kereta api dan bis. Ada 13 cerita, yang ditulis oleh 11 penulis.

Rata-rata cerpen bercerita tentang kematian dan sarat dengan kesedihan.

Jia Effendi menulis 2 cerita, Jantung – yang bercerita tentang seorang perempuan yang menuntut pertanggungjawaban kekasihnya (buat saya, ini cerita yang paling aneh sekaligus mengerikan) – dan Pertemuan di Dermaga – tentang sepasang mantan kekasih, yang sebenarnya masih saling mencintai, tapi yah, rada-rada gengsi untuk mengakui kebenaran.

Taufan Gio berkisah tentang napak tilas seorang pria, menyusuri jejak-jejak perjalanan kekasihnya yang sudah tiada dalam dalam cerita Dermaga Semesta. Unik, si pria meletakkan kembali foto-foto yang diambil kekasihnya di tempat semula.

Kisah sedih seorang bapak yang setia menanti sang istri di stasiun, ditulis oleh Alvin Agastia Zirtaf di Menunggu Dini. Cerita ini, membuat saya terharu...

Moksha, yang ditulis oleh Yuska Vonita, bercerita tentang kisah cinta dalam dua budaya yang berbeda. Dalam sebuah perbedaan, biasanya selalu ada banyak pertentangan.

Kemenangan Apuk karya Bernard Batubara, bercerita tentang seorang anak bernama Apuk yang punya trauma terhadap air. Ia tak berani berenang karena sungai Kapuas telah mengambil kedua orang tuanya. Tapi, ejekan teman-temannya membuat ia mencoba mengalahkan rasa takut dan meladeni tantangan teman-temannya.

Langit di Atas Hujan, kisah seorang perempuan bernama Kinan, yang merasa menemukan cinta sejatinya di kota Yogya. Tapi, apa daya, di Jakarta, juga sudah menunggu seorang pria,  bernama Ardy, yang sering kali menilainya secara fisik. Cerita ini ditulis oleh Dian Harigelita.

Semanis Gendhis karya Anggun Prameswari. Cerita ini ber-setting di sebuah terminal, yang akan segera digusur untuk dijadikan mall. Para supir angkot tak berdaya melawan orang-orang yang berkedudukan lebih tinggi. Sementara Sukro, seorang pedagang asongan, tak berdaya menyaksikan perempuan pujaannya bersedih lantaran kehilangan pria yang ia cintai.

Lagi karya Anggun Prameswari. Ternyata tak semua orang menganggap rumah tempat tinggal mereka selama ini adalah rumah untuk pulang karena tak merasa nyaman di rumah itu sendiri. Inilah yang digambarkan di dalam Rumah untuk Pulang.

Memancing Bintang, karya Aditia Yudis. Salah satu kisah yang berakhir bahagia. Tentang seorang pria yang mencari pasangan memancing.

Para Hantu & Jejak-Jejak di Atas Pasir , tulisan Bernard Batubara. Tentang dua anak kembar yang terdampar di sebuah pulau karena musibah tsunami. Cerita yang rada spooky dan (lagi-lagi) aneh, menurut saya.

Cerita Koper tulisan Putra Perdana membuat saya penasaran… sebenarnya apa sih isi koper yang bikin si tokoh ketakutan itu?

Dan yang terakhir adalah Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita – tulisan Artasya Sudirman. Cerita tentang seorang anak yang sangat kehilangan ayahnya yang sudah meninggal. Padahal mereka berdua sudah berencana akan berlibur ke Eropa bersama. Di sini, tokoh perempuan bernama Venus, digambarkan memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan ibunya.

Saya jadi kesulitan menentukan cerpen favorit, karena ternyata well, ada selain yang aneh-aneh itu, saya suka dengan cerpen-cerpen di buku ini – tapi setelah diingat-ingat, cerpen Moksha (Yuska Vonita) dan Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita (Artasya Sudirman) lebih melekat di ingatan saya. Karena, pertama meskipun di kedua cerita ini masih tetap ada nuanasa yang ‘sedih’, tapi endingnya menurut saya adalah kebahagiaan bagi sang tokoh. Lalu, kedua, latar ceritanya, misalnya di Moksha yang memasukkan unsur budaya India dan di Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita, setting-nya ada di kapal pesiar yang akan membawa tokohnya ke awal perjalanan keliling Eropa.

Hmmm… mau bikin ‘pengakuan dosa’, lagi-lagi ketika membaca judul ‘Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita’, saya langsung memberi ‘cap’, bahwa ini akan jadi cerita yang ‘aneh’.

Rasanya, menyenangkan ketika menutup buku dengan rasa puas. Gak menggerutu karena gak ngerti jalan ceritanya.

--- 


Di hari Jum’at, tanggal 8 Pebruari 2013, Astrid, Esi dan saya sempat ‘singgah’ ke acara launching buku ini di Kinokuniya, Plaza Senayan. Meskipun – ma’af – gak sempat ikut sampai selesai.

Adalah seorang bernama Ikal yang awalnya melontarkan ide ini. Dan kemudian ‘ditangkap’ oleh Jia Effendi yang kebetulan sedang membuat beberapa proyek kumpulan cerpen. 8 penulis diminta secara langsung oleh Jia, dan 2 penulis lainnya dipilih melalui sayembara. Dalam pengumpulan cerita, ternyata, justru cerita dengan setting bandara yang paling sulit dikumpulkan. Padahal, dalam bayangan Jia, cerita tentang bandara yang akan paling banyak peminatnya. O ya, ternyata nih, di antara penulis ini, justru ada yang belum saling kenal, ada yang baru kenalan setelah duduk bersebelahan saat launching ini.

Saya jadi iri dengan penulis-penulis ini yang seperti gampang aja memperoleh ide. Seperti mbak Artasya (yang setiap namanya disebut, selalu disambut tepuk tangan yang paling ramai), yang berkata ‘janin adalah persinggahan setiap manusia. Kita semua pernah singgah  di janin ibu selama 9 bulan’. Lalu, Putra yang mengembangkan cerita tentang Koper yang tertukar. Lain halnya, mbak Anggun Prameswari, yang justru mendapatkan judulnya dulu, baru kemudian bikin ceritanya.

Sementara untuk penulis yang lain, saya tak sempat mendengar lebih lanjut ide-ide di balik cerita mereka.

Agaknya menulis kumpulan cerpen lagi trend ya… dan ini memang salah satu awal bagi penulis-penulis baru untuk memperkenalkan karya mereka sebelum akhir menerbitkan buku atas nama mereka sendiri.

8 comments:

Dhieta said...

Waaahhh, thaks buat reviewnya... saya udah beli buku ini sejak seminggu yang lalu, tapi belum dibaca... Masih ngantri hahaha

ferina said...

@Dhieta: sama2, mbak.. buruan baca.. mumpung masih hangat :)

Keke said...

Teeima kasih banyak udah datang launching & mereview buku kami :)

ferina said...

@Keke: sama-sama, mbak...:)

astrid said...

feeer, ternyata bukunya oke ya? pingin pinjem yaaah nanti pas kita ketemuan lagi aja hihi...oiya thanks juga buat reportase nya =D

ferina said...

@astrid: lumayan lah... ntar gue kirim sekalian balikin buku2 loe..

Althesia Silvia said...

wah trnyata bukunya oke ya? abis mba astrid aku antri pinjem juga ya hehehe

btw persinggahan janin di pelabuhan ceritanya tdk mengecewakan juga ya..hahaha sepertinya qta trlalu cepat menilai ya waktu itu hihihi

ferina said...

@Esi: boleh.. boleh.. silahkan antri :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang