Thursday, February 21, 2013

The Perks of Being a Wallflower




The Perks of Being a Wallflower
Simon & Schuster
232 hal
(Birthday gift from Astrid)

In social situations, a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn't socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals. The term comes from the image of a person isolating themselves from areas of social activities at ballroom dances and parties, where the people who did not wish to dance (or had no partner) remained close to the walls of the dance hall.
(from Wikipedia)

Awalnya agak bingung membayangkan apa sih maksudnya dengan wallflower. Jadilah gue bertanya pada Om Goole, yang langsung merujuk ke web-nya Om Wiki. Barulah gue bisa menangkap dengan lebih jelas sosok Charlie di dalam buku ini.

Sekilas, Charlie seperti anak yang polos, dalam pandangan orang-orang yang disebut ‘culun dan gak gaul. Teman satu-satunya – Michael – meninggal karena bunuh diri. Charlie jadi tidak punya teman, dan memutuskan untuk menulis ‘surat’. Charlie pun bercerita hari-harinya ketika ia akhirnya memiliki teman baru, bernama Patrick dan jatuh cinta pada Sam yang usianya lebih tua.

Di mata orang, mungkin Charlie rada aneh. Gue pun sempat berpikir, apakah Charlie ini anak autis? Tapi ternyata bukan. Ia hanya gak ‘gaul’, gak populer. Anak yang polos. Tapi seorang pendengar yang baik, bisa menjaga rahasia, jujur, tapi juga sangat sensitif.  Perhatian orang terhadap dia, sekecil apa pun, akan sangat berarti untuk dia. Charlie gak segan-segan membela Patrick yang diolok-olok oleh anak-anak di sekolah.

Untung ada seorang guru bernama Bill, terus mendorong Charlie untuk lebih ‘berpartisipasi’ dalam pergaulan. Charlie ini anak yang pintar, hanya saja, dia terlalu banyak bertanya, lebih berpikir secara logika, dan bingung dengan teori. Seperti dalam pelajaran matematika, sampai gurunya bilang ‘stop bertanya dan kerjakan saja sesuai teori’. Akhirnya… Charlie lancar-lancar aja tuh…

Charlie bukanlah tokoh yang sempurna, tapi justru yang seperti ini malah membuat gue ‘jatuh cinta’ dan mudah untuk menyukainya. Ditulis dalam bentuk surat, berasa Charlie yang lagi curhat ke gue. Ikutan seneng saat Charlie jatuh cinta, ikutan sedih saat Charlie cerita peristiwa di hari  ulang tahunnya, atau pengen ikut ‘puk-puk’ Patrick waktu dia putus sama pacarnya. Jadi pengen bales suratnya Charlie, bilang ke Charlie, it’s ok to be different, just be who you are, who you want to be… 



Makin ‘kenal’ dengan Charlie.. well.. dia gak se-innocent yang kita kira koq.. hehehe…

Menutup buku ini, gue jadi pengen bisa ikutan denger pilihan lagu-lagunya Charlie dan juga baca buku-buku yang dibaca Charlie. Di balik segala yang kata orang aneh, he is really a good friend. Dia selalu siap mendengarkan curhat teman-temannya. Tokoh cerita yang likeable dan loveable. 

Karena buku ini sudah ada film-nya, mau gak mau gue jadi membayangkan tokoh-tokoh ini dengan para pemerannya di dalam film (meskipun gue belum nonton sih). Yang paling susah adalah membayangkan sosok Emma Watson sebagai Sam di sini. Masih terbayang-bayang sosok Hermione sih.

(Thank you, Astrid for the book… really like it..)

4 comments:

Nana Khaira said...

kalo udah nonton filmnya, nggak bakalan terlalu kerasa kok sosok Hermione-nya Emma Watson kok mbak :))

Filmnya likeable dan loveable juga kok seperti bukunya. I love it!

ferina said...

@nana: ah.. harus buru2 cari film-nya nih...

desty said...

aku udah nonton filmnya duluan. kalo di filmnya digambarkan Charlie ga pernah mau bertanya. Dia diam aja di kelas. :)

Azia Azmi said...

kmrn mikir2 antara beli novel ini atau farenheit 451,dua2nya menarik. akhirnya aku beli yg farenheit 451. :D

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang