Wednesday, May 15, 2013

Wishful Wednesday 32






Browsing saat laper, malah bikin salah satu buku masuk jadi wishlist. Pas lagi liat-liat opentrolley, nyari bukunya Jerry Spinelli yang lain (ini gara-gara suka baca Milkweed, meskipun baru awal-awal)… nah tiba-tiba menemukan salah satu bukunya dengan cover yang lucu… jadi tiba-tiba pengen indomie telor (plus cabe rawit…)

Silahkan disimak sinopsisnya:


Eggs is a quirky and moving novel about two very complicated, damaged children. David has recently lost his mother to a freak accident, his salesman father is constantly on the road, and he is letting his anger out on his grandmother. Primrose lives with her unstable, childlike, fortuneteller mother, and the only evidence of the father she never knew is a framed picture. Despite their age difference (David is 9, Primrose is 13), they forge a tight yet tumultuous friendship, eventually helping each other deal with what is missing in their lives.

Jerry Spinelli received the Newbery Medal for Maniac Magee and a Newbery Honor for Wringer. His other books include Smiles to Go, Loser, Space Station Seventh Grade, Who Put That Hair in My Toothbrush?, Dump Days, and Stargirl. His novels are recognized for their humor and poignancy, and his characters and situations are often drawn from his real-life experience as a father of six children. Jerry lives with his wife, Eileen, also a writer, in Wayne, Pennsylvania.

Yuk... yang juga mau ikutan Wishful Wednesday, ini rules-nya ya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

opentrolley.co.id



Gue amat sangat jarang belanja buku import via online. Biasanya sih, hanya buku-buku terjemahan atau lokal yang gue beli via toko buku online. Soalnya, kalo beli buku import, rata-rata kan harus pakai kartu kredit, udah gitu, suka takut lama nunggu bukunya dateng (gak sabar gitu ceritanya).

Suatu hari, datanglah sebuah email yang memberikan penawaran voucher sebesar IDR 20,000. Ditawarin voucher tentu saja seneng dong. Maka, dengan semangat gue pun membuka www.opentrolley.co.id. Mulailah, browsing, mencari-cari buku inceran selama ini. Tapi, glek… hmm.. harga yang ada di opentrolley lumayan juga ya. Ada buku-buku yang rasanya lebih murah kalau beli langsung, seperti di Periplus atau Books & Beyond. Kaya’nya meskipun udah pakai voucher, gak berasa ‘nendang’ discount-nya. Belum lagi, ternyata ada ongkos kirim sebesar IDR 10,000 (kalau beli satu buku, rada berasa rugi sih.. jadi mending beli sekalian banyak)

Tapi… yang namanya udah browsing, ngeliat buku-buku keren, tentu saja gue tetap ‘tergiur’. Maka gue pun memutuskan untuk menggunakan voucher tersebut.

Ternyata, belanja di opentrolley cukup ‘menyenangkan’. Buku-buku yang ditawarkan beragam dan user friendly. Kita bisa melihat buku-buku berdasarkan genre, penulis, bahkan harga – dengan berbagai edisi pilihan cover yang berbeda.

Yang menyenangkan dari opentrolley ini adalah, setelah kita melakukan konfirmasi pemesanan, kemudian pembayaran, pihak opentrolley juga segera mengirimkan email konformasi balik. Sebelum konfirmasi pemesanan, customer juga bisa mengecek ketersediaan buku itu. Di setiap buku yang kita klik ada informasinya, apakah pre-order, in-stock, low-stocking atau re-stocking. Pada saat buku kita akan dikirim, opentrolley juga mengirimkan email tracking number paket kita. Pengiriman juga tepat waktu, sesuai yang mereka sebutkan di dalam website mereka atau dalam email konfirmasi.

O ya untuk cara pembayaran, selain via ATM, internet banking, sekarang opentrolley juga sudah menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Cara opentrolley mengemas paket pesanan kita juga rapi. Selain plastik dari jasa pengiriman, juga dilengkapi dengan kardus dan bubble wrap. Jadi gak khawatir deh, buku bakal basah atau rusak. Selamat sampai tujuan dengan rapi.






Overall, pelayanan di opentrolley ini memuaskan. Dan rasanya, gue bakalan belanja di sini lagi next time. Banyak buku-buku yang udah masuk wishlist nih jadinya gara-gara bolak-balik browsing di sini. Mungkin kalau sekali-sekali bisa diadakan discount besar-besaran seru juga tuh. Atau ada kolom khusus buku-buku obral. Hmm.. kasih bonus bookmark juga boleh tuh.. hehehe..

Biar gak menyesal dengan buku yang gue beli, maka gue blogwalking ke beberapa blog, mencari review-review keren, mencatat sana-sini. Sampai akhirnya, ini nih buku yang gue pesan. Gue menemukan buku ini saat membaca The Book Thief. Di lembar-lembar terakhir, ada daftar buku yang direkomendasikan oleh penerbitnya.


Milkweed (by Jerry Spinelli)

He’s a boy called Jew. Gypsy. Stopthief. Runt. Happy. Fast. Filthy son of Abraham.

He’s a boy who lives in the streets of Warsaw. He’s a boy who steals food for himself and the other orphans. He’s a boy who believes in bread, and mothers, and angels. He’s a boy who wants to be a Nazi some day, with tall shiny jackboots and a gleaming Eagle hat of his own. Until the day that suddenly makes him change his mind. And when the trains come to empty the Jews from the ghetto of the damned, he’s a boy who realizes it’s safest of all to be nobody.
Newbery Medalist Jerry Spinelli takes us to one of the most devastating settings imaginable—Nazi-occupied Warsaw of World War II—and tells a tale of heartbreak, hope, and survival through the bright eyes of a young orphan.

Pandawa Tujuh




Pandawa Tujuh
Pitoyo Amrih
Diva PRESS – Juni 2012
494 Hal
(Dari Diva PRESS)

Pandawa Lima, Khrisna, Perang Baratayuda dan nama-nama lain dalam dunia pewayangan memang bukan istilah yang aneh buat gue, karena ada dari buku-buku yang gue baca menyebutkan nama-nama tersebut. Tapi, untuk asal mula keberadaan Pandawa Lima, nah ini yang gue masih belum tau. Maklum gue bukan pembaca kisah-kisah wayang macam Mahabarata.

Dalam Pandawa Tujuh ini, dikisahkan latar belakang, asal usul dari Pandawa Lima. Dan kenapa akhirnya justru disebut Pandawa Tujuh.

Pandawa Lima adalah sebutan bagi kelima anak Pandu – Raja Hastinapura. Dari istri pertama – Dewi Kunti: Samiaji (Yudhistira) – anak yang paling bijaksana dan rajin membaca, Bratasena (Bima, yang ketika lahir sudah membuat ‘gempar’ dan Permadi (Arjuna), anak yang paling gagah dan tampan. Lalu dari istri kedua, Dewi Madrim, beliau mendapatkan keturunan si kembar – Nakula dan Sadewa. Dalam dunia pewayangan, adalah hal yang lumrah berganti-ganti nama apabila mereka memperoleh pencapaian di satu titik tertentu.

Ketika Raja Pandu mangkat, seharusnya Samiaji lah yang menjadi Raja Hastinapura, tapi karena belum cukup umur, maka adik Raja Pandu yang sementara menjalankan pemerintahan. Tapi, karena umurnya yang sudah tua, justru Sangkuni dan Duryudana yang banyak berperan. Keadaan di Hastinapura menjadi tidak baik. Ditambah lagi dengan kehadiran 100 Kurawa yang maunya membuat kacau saja.

Beberapa kali Samiaji ditantang dalam sebuah pertaruhan dan selalu kalah. Yang menyebabkan Pandawa Lima beserta anak istrinya harus keluar dari Hastinapura. Bahkan sampai nyaris melecehkan Drupadi – istri Samiaji (Yudhistira) Dalam perjalanannya, Pandawa Lima membentuk kerajaan sendiri. Tapi, yang namanya napsu ternyata tak menghentikan Duryudana untuk tetap merebut Hastinapura meskipun Pandawa Lima telah menyingkir. Maka meletuslah Perang Baratayuda, perang di mana Pandawa Lima mencoba mendapatkan lagi hak mereka atas Hastinapura, meskipun berat tetap mereka jalani. Dalam Perang Baratayuda ini, Bima kehilangan anaknya, Gatotkaca.

Setelah perang, Pandawa Lima akhinya memilih untuk ‘menyingkir’ dari pemerintahan dan berbaur dengan rakyat biasa. Pada akhirnya, meskipun memperoleh kemenangan, toh tak memuaskan batin mereka karena begitu banyak yang harus dikorbankan.

Adalah Khrisna dan Satyaki yang selalu mendampingi Pandawa Lima dalam berbagai kejadian penting. Khrisna meskipun berat hati karena harus ‘melawan’ saudara sendiri, memilih mendukung Pandawa Lima. Sedangkan Satyaki adalah sepupu dari Khrisna dan Pandawa. Ia mengorbankan nyawanya untuk melindungi Pandawa Lima setelah kemenangan Pandawa Lima dalam Perang Baratayuda. Dengan adanya Khrisna dan Satyaki, maka mereka pun disebut Pandawa Tujuh.

Menarik sebenarnya menurut gue. Banyak hal yang akhirnya gue tahu dari mana asal mulanya – misalnya nih, seperti Bima dengan senjatanya yang mematikan.  Tokohnya mungkin gak banyak, tapi karena suka berganti-ganti nama, adakalanya gue jadi bingung dan sedikit mengulang ke halaman-halaman sebelumnya. Dan juga banyak kejadian yang tumpang-tindih.

Apa yang ada di dalam buku ini, menunjukkan sifat manusia yang tak pernah puas – apalagi dalam hal kekuasaan. Nafsu memiliki yang bukan haknya, atau nafsu ingin menambah terus dan terus meski sudah memiliki penggantinya.

Gue sempat heran dengan Yudhistira, yang menurut gue paling bijaksana. Kenapa dia mau aja diajak taruhan sama Kurawa, padahal dia tahu, Kurawa bakalan curang dan Yudhistira juga bakalan kalah, bahkan nyaris merendahkan harga diri Drupadi. Tapi ternyata, justru Yudhistira yang mau kasih pelajaran ke para Kurawa itu.

Mungkin gue bakal melirik-lirik lagi buku-buku dari DIVAPress yang berkisah tentang dunia pewayangan.

(hmmm.. ma’afken, kalo ada nama-nama yang salah tulis ya, dalam review ini)

Terima kasih, Dion dan DivaPress untuk bukunya.

Friday, May 10, 2013

A Werewolf Boy




A Werewolf Boy
Kim Mi Ri @ 2012
Julian Tan & Iingliana (Terj.)
GPU – April 2013
208 Hal
(Gramedia Plaza Semanggi)

Profeson Park Jong Do melakukan penelitian terhadap makhluk yang diduga adalah manusia serigala. Tak banyak yang tahu tentang penyelidikan ini. Maklum memang hal ini bersifat rahasia dan dilakukan di sebuah rumah yang letaknya terpencil. Tujuan ‘menciptakan’ makhluk ini adalah untuk memperkuat angkatan bersenjata Korea. Setelah Profesor Park Jong Do meninggal dunia, rumah itu terbengkalai dan tak ada kelanjutan dari penelitian itu.

Beberapa tahun kemudian, keluarga Kim Sooni datang dan menempati rumah itu. Kim Sooni pindah ke rumah itu setelah ayahnya meninggal dan harta mereka habis untuk membayar hutang-hutang. Kim Sooni sendiri menderita penyakit yang mengharuskan ia menjalani pengobatan dan tak boleh terlalu lelah.

Saat mereka datang, rumah itu begitu kotor dan tak terawat. Saat sedang membersihkan sebuah gudang di belakang rumah itu, Kim Sooni dan ibunya menemukan anak laki-laki yang sangat kotor. Dan anehnya lagi, anak laki-laki ini tidak bisa berbicara. Awalnya Sooni menganggap anak laki-laki ini sangat mengganggu. Ibu Sooni memutuskan untuk melaporkan anak ini ke polisi.

Sementara menunggu feedback dari pihak kepolisian, Ibu Sooni merawat anak laki-laki itu dan memberinya nama Cheol Soo. Lama-lama, justru Sooni dan Cheol Soo pun bersahabat. Sooni mengajar Cheol Soo membaca, berbicara.

Tapi ada salah satu anak laki-laki yang tak menyukai hubungan mereka, yaitu Ji Tae. Anak dari pemilik rumah yang membantu keluarga Sooni. Ji Tae selalu berusaha memancing emosi Cheol Soo dan berusaha membuktikan bahwa Cheol Soo itu berbahaya.

Cheol Soo selalu melindungi Sooni sampai akhirnya, karena emosi yang tak bisa ditahan lagi, Cheol Soo berubah menjadi manusia serigala.

Mungkin banyak yang bakal mikir, apakah ini adalah Twilight versi Asia. Tapi, buat gue, sih gak ya, kalau Twilight menunjukkan sosok werewolf yang ‘gagah perkasa’, justru di sini si werewolf justru makhluk yang rapuh. Ia tak sadar akan kekuatannya sendiri. Kim Sooni berusaha membuat Cheol Soo menjadi lebih ‘normal’, ia tahu Cheol Soo tidak akan menyakitinya. Dan dari Kim Sooni, Cheol Soo belajar artinya bergaul, mencintai dan menyayangi.

Buku ini (yang diadaptasi dari sebuah film dengan judul sama) ‘berpotensi’ bikin nangis. Ya, khas drama-drama Korea gitu kali ya. Bagian-bagian perpisahan dan juga pertemuan rasa sukses ‘mengiris-iris’ hati.

Wednesday, May 08, 2013

Wishful Wednesday 31



Asyik.. besok libur.. eh tapi.. gak asyik ah.. ada Jum’at kejepit. Enaknya, hari ini berkhayal pengen buku apa ya? Cari yang bacaan yang ringan-ringan aja kali ya, yang pas kalo dibaca pas weekend atau liburan…

Kebetulan pas kemarin liat-liat di Books and Beyond, eh, ketemu buku Sophie Kinsella yang baru. Dulu nih, pas awal-awal chicklit lagi ‘booming’, gue beli deh hampir semua chicklit – dari penulis yang berbeda-beda, gak peduli ceritanya yang nyaris setipe. Tapi, karena cover-nya yang cerah dan lucu, ya.. jadinya gitu deh… lama-lama koq bosen juga ya dengan si chicklit ini. Dan akhirnya, hanya beberapa penulis aja yang masih ‘setia’ gue tunggu karya-karyaya.

Salah satunya, adalah Sophie Kinsella. Selain terkenal dengan karakter Becky Bloomwood di serial Shopaholic itu, Sophie Kinsella juga nulis buku-buku lain dengan karakter yang sama kocaknya, tapi tetap terasa beda.

Dan inilah novel terbaru dari Sophie Kinsella – Wedding Night



Ini dia sinopsisnya:

Lottie just knows that her boyfriend is going to propose during lunch at one of London’s fanciest restaurants. But when his big question involves a trip abroad, not a trip down the aisle, she’s completely crushed. So when Ben, an old flame, calls her out of the blue and reminds Lottie of their pact to get married if they were both still single at thirty, she jumps at the chance. No formal dates—just a quick march to the altar and a honeymoon on Ikonos, the sun-drenched Greek island where they first met years ago.

Their family and friends are horrified. Fliss, Lottie’s older sister, knows that Lottie can be impulsive—but surely this is her worst decision yet. And Ben’s colleague Lorcan fears that this hasty marriage will ruin his friend’s career. To keep Lottie and Ben from making a terrible mistake, Fliss concocts an elaborate scheme to sabotage their wedding night. As she and Lorcan jet off to Ikonos in pursuit, Lottie and Ben are in for a honeymoon to remember, for better . . . or worse.

Yuk... yang juga mau ikutan Wishful Wednesday, ini rules-nya ya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Thursday, May 02, 2013

The Book Thief




The Book Thief
Markus Zusak @ 2005
Knopf – 2007
552 hal
Untuk anak 12 tahun ke atas
(Rental @ ReadingWalk)

Gue bingung mau nulis review apa untuk buku ini. Buku ini termasuk yang bikin gue sesak napas.. sedih….  Dari awal, sarat dengan aura ‘kematian’… dan wajar saja, karena narator dari buku The Book Thief ini adalah Malaikat Maut….

Malaikat Maut ini dekat dengan kehidupan Liesel Meminger. Pertama kali ‘perjumpaan’ mereka, tahun 1939, ketika ia menjemput adik Liesel. Saat pemakaman adiknya ini, Liesel menemukan sebuah buku – The Graver Digger’s Handbook. Inilah kali pertama Liesel mencuri buku. Buku yang biasa-biasa saja itu menjadi istimewa bagi Liesel.

Selain ia harus kehilangan adiknya, Liesel juga harus berpisah dengan ibunya. Liesel dibawah ke Himmel Street, Molching, Jerman, untuk kemudian diasuh oleh pasangan suami-istri – Hans dan Rosa Hubermann.

Rosa Hubermann, adalah perempuan yang kalau sekilas diambil kesimpulan adalah perempuan dengan karakter keras. Ia sering mengkritik, memanggil orang dengan sebuah kasar dan suka membicarakan kejelekan orang. Rosa bekerja sebagai pencuci baju dari rumah ke rumah. Tapi, pada dasarnya, ia adalah perempuan yang penyayang dan memperlakukan Liesel dengan baik.

Sedangkan Hans Hubermann, adalah laki-laki dengan figure kebapakaan. Ia lah yang menenangkan Liesel setiap kali Liesel bermimpi buruk, yang mengajari Liesel membaca dan akhirnya mencintai buku.

Liesel kemudian berteman dengan seorang bocah laki-laki bernama Rudy Steiner. Rudy Steiner bermimpi menjadi seorang pelari, seperti Jesse Owen. Bersama Rudy, Liesel melalui banyak kejadian – termasuk berbagai kenakalan.

The Graver Digger’s Handbook, bukan satu-satunya buku yang dicuri oleh Liesel. Secara diam-diam, Liesel ‘menyelamatkan’ sebuah buku yang hendak dibakar, lalu ia juga mengambil beberapa buku di  rumah Ilsa Hermann – salah seorang pemakai jasa Rosa. Dan di kemudian hari, Ilsa Hermann akan menjadi penyelamat Liesel.

Cerita semakin rumit, ketika rumah mereka kedatangan tamu bernama Max Vandenburg, seorang Yahudi. Hans memang berhutang budi pada ayah Max dan ia  bersedia menyembunyikan Max di ruang bawah tanah rumah mereka. Bersama Max, Leise juga banyak belajar, tentang persahabatan. Liesel bercerita, membaca bukunya.

Perjumpaan lainnya tahun 1943, Malaikat Maut lagi-lagi menjemput orang-orang yang disayangi Liesel. Gue merinding membaca narasi dari Malaikat Maut. Kematian datang tanpa rasa sakit… Napas gue serasa tertahan… perut gue jadi berasa diaduk-aduk. Mual … Nyeri.. Sedih… dan ikut merasa kehilangan.

Yah, dalam perang, maut memang menjadi ‘sahabat karib’. Ada yang cukup beruntung untuk lolos dari maut, ada yang menyongsongnya tanpa rasa sakit. Dan bagi Liesel, buku menjadi penyelamatnya. Bersembunyi saat serangan udara datang, Liesel membawa bukunya dan membacakan keras-keras agar bisa didengar oleh semua orang.

Berbicara tentang Malaikat Maut di sini – dalam bayangan orang, ia adalah sosok dengan jubah hitam tanpa wajah, tapi, entah kenapa, gue merasa, Malaikat Maut di sini juga punya ‘perasaan’. Ia tak tega mencabut nyawa orang-orang yang jadi korban dalam perang, terutama anak-anak… Dan ia tahu, siapa yang siap bertemu dengannya dengan suka rela. Dan buat ia, tak semua orang bisa lolos dari maut dalam ‘persinggungan’ selama beberapa kali, seperti Hans Hubermann. Tapi, adakalanya Malaikat Maut juga kesal dengan pekerjaan yang tak ada habisnya ini dalam peperangan… Well, the Death needs to have some rest too…

Buku ini termasuk kategori Young Adult. Jangan berpikir bahwa tema dalam buku ini terlalu berat untuk anak-anak usia 12 tahun atau yang beranjak remaja. The Book Thief memang mengambil latar perang, masa Holocaust, masa-masa kejayaan Hitler – yang mengklaim bahwa bangsa mereka lebih baik dari pada orang-orang keturunan Yahudi, yang pada akhirnya harus ‘dihabiskan’.

Tanpa bermaksud untuk menggurui, menurut gue, dengan  membaca buku ini, mereka akan tahu, bahwa dari sudut pandang seorang anak, mereka gak peduli apa sih suku, agama atau ras mereka. Yang suka mengkotak-kotakkan itu kan orang dewasa, demi kepentingan politik. Bagi anak-anak, yang mereka tahu adalah berteman, bersahabat. Lihat Liesel yang setia menunggu Max, ketika orang-orang Yahudi berbaris. Ia nekat memberikan roti untuk orang-orang Yahudi itu. Beruntung Liesel juga diasuh oleh Hans dan Rosa Hubermann yang juga tak peduli dengan yang namanya orang Yahudi.

Siapa tahu, anak-anak yang membaca buku ini, jadi punya pandangan yang lebih luas dan bisa jadi pemimpin yang lebih baik… Buku ini mengajarkan tentang persahabatan, cinta, kasih sayang, kesedihan, bahkan kematian.

Dan… ok… sekarang gue pengen baca buku Markus Zusak yang lain, dan seperti yang Markus Zusak bilang, “ This is the first time I’ve ever missed characters that I’ve written – especially Liesel and Rudy.”.. yeah.. me too… I missed Liesel.. and all the characters in this book – Rudy, Max, Hans and Rosa Hubermann…


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:




Wednesday, May 01, 2013

Wishful Wednesday 30






Kalau Wishful Wednesday gue kali ini ‘kembaran’ sama Astrid boleh kan? Sebenernya, gue tuh gak suka kalo cover buku itu ada ‘muka’ orangnya. Tapi, kaya’nya untuk buku satu pengecualian.

Well… gue ‘kesengsem’ sama Mas Leo sejak di Growing Pains, terus berlanjut pas di Titanic … eh koq jadi ngomongin Leonardo DiCaprio sih #salahfokus


Tapi, gue pernah nyaris beli buku ini, yang edisi terjemahan, tapi rada gak sreg dengan covernya…  Dan ngeliat cover versi film ini, kesannya mewah, dengan warna emas dan para bintang yang berbusana glamour.

Ini dia sinopsisnya:

The Great Gatsby, F. Scott Fitzgerald’s third book, stands as the supreme achievement of his career. This exemplary novel of the Jazz Age has been acclaimed by generations of readers. The story of the fabulously wealthy Jay Gatsby and his love for the beautiful Daisy Buchanan, of lavish parties on Long Island at a time when The New York Times noted “gin was the national drink and sex the national obsession,” it is an exquisitely crafted tale of America in the 1920s.The Great Gatsby is one of the great classics of twentieth-century literature.

Yuk... yang juga mau ikutan Wishful Wednesday, ini rules-nya ya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Tuesday, April 30, 2013

Kisah-Kisah di Hutan




Kisah-Kisah di Hutan (The Woodland Folk Tales)
Tony Wolf
Dini Pandia (Terj.)
GPU - 2006
Untuk  usia 5 tahun ke atas

Saat pertama kali melihat buku berjudul ‘Hutan’, hati gue rasanya jadi ikutan ceria dan riang gembira. Cover-nya yang berwarna cerah denga ilustrasi hewan-hewan di hutan yang menggemaskan langsung membuat gue tertarik.

Hutan adalah salah satu judul dari seri Kisah-Kisah di Hutan. Buku lainnya adalah Liliput, Raksasa, Peri, Kurcaci dan Naga. Meskipun bisa dibaca sebagai bagian yang terpisah, masing-masing buku memiliki benang merah dengan buku-buku yang lainnya.

Hutan – berkisah tentang kehidupan hewan-hewan di hutan (tentunya) dengan segala aktivitas kehidupan mereka yang serus. Misalnya saja pernikahan burung, berbagi jagung yang baru saja dipanen, lomba kacang polong, berlayar pakai perahu sepatu raksasa, atau berenang di danau.

Dalam cerita Liliput – penghuni hutan yang mengalami banjir, dibantu oleh para Liliput dan mereka diterima dengan tangan terbuka untuk tinggal di negeri Liliput. Liliput juga makhluk yang kreatif, pintar dan bijaksana. Lihat bagaimana ketika salah satu tikus patah kaki, mereka membantu membangun sebuah ‘lift’ agar para penghuni rumah pohon gak perlu repot naik tangga, naik balon udara atau menyelam dengan kapal selam untuk mengambil kunci emas. Sebagai penghargaan kepada Liliput yang sudah membantu mereka, warga hutan membuat sebuah patung liliput besar.

via

Di buku ketiga, berkisah tentang Raksasa – meskipun bertubuh besar, tapi ia baik hati, liliput dan hewan-hewan menyayanginya. Raksasa membantu mereka yang mungil-mungil ini dalam aktifitas mereka sehari-hari.

Peri muncul di buku keempat, mereka ini adalah teman-teman Liliput. Ratu Peri mengutus enam peri – Iris, Tulip, Nettle, Anggrek, Aprikot dan Buah Pinus – untuk berlibur ke negeri Liliput. Liliput dan warga hutan menyambut kedatangan mereka dengan gembira. Para peri mengadakan lomba bikin kue atau belajar membuat es krim.

Nah, sedangkan Kurcaci – adalah makhluk yang iseng dan nakal. Ada saja akal mereka untuk mengganggu para Liliput dan warga hutan. Padahal… jumlah mereka hanya tiga. Liliput dan warga hutan mencari cara untuk membuat para kurcaci itu jera.

via Ba Hons CG Arts & Animation


Dan, bisakah makhluk mengerikan seperti Naga, berteman dengan Liliput dan hewan-hewan hutan? Dunia Naga yang gelap dan suram, seketika berubah ketika mereka bertemu.

Yang gue suka dari buku-buku ini, selain ya, karena ilustrasinya yang cerah dan lucu-lucu, adalah nilai-nilai moral yang bisa diambil. Mereka bisa saling tolong-menolong dan hidup rukun berdampingan, meskipun dari dua dunia yang berbeda. Yang besar tidak membuat yang kecil ketakutan, yang menyeramkan bisa juga tertawa karena yang kecil-kecil ini. Kehidupan mereka tampak selalu riang gembira dan menyenangkan.

Anak-anak akan belajar nilai-nilai positif dengan cara yang asyik dan tak menggurui.

Tony Wolf juga menulis beberapa buku lain untuk anak-anak – dan yang pasti tetap dengan ilustrasi yang menyegarkan mata – seperti serial Terbang Ke Masa Lalu. 




 

Harry Potter and the Goblet of Fire




Harry Potter and the Goblet of Fire
(Harry Potter dan Piala Api)
JK Rowling @ 2000
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. V, Oktober 2011
896 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

*Spoiler Allert*

Buku Harry Potter ke 4 ini, diawali dengan peristiwa yang menggembirakan (ya, terlepas dari Harry yang tiba-tiba saja merasakan nyeri di lukanya). Bersama keluarga Weasley, Harry menyaksikan secara langsung Piala Dunia Quidditich. Di lapangan yang luas, semua penyihir dari segala penjuru dunia berkumpul. Para penyihir panitia sibuk mengelilingi stadion itu dengan sihir, agar para muggle tidak curiga.  Di Piala Dunia Quidditich ini, pemain dari Bulgaria – Viktor Krum – menjadi idola.

Tapi, di balik keriaan Piala Dunia Quidditich, mereka dikejutkan dengan munculnya Tanda Kegelapan. Para Pelahap Maut – abdi setia Voldemort – kembali berkumpul.

Keseruan lain di buku ini adalah diselenggarakannya Turnamen Triwizard yang berhadiah 1000 Galeon. Kali ini Hogwarts menjadi tuan rumah. Sekolah ini kedatangan tamu dari sekolah sihir lain yaitu Beauxbatons dan Durmstrang.

Karena Turnamen Triwizard ini sangat berat, maka persyaratannya juga berat, siswa yang mendaftarkan diri harus berusia minimal 17 tahun. Ada saja yang berusaha mengelabui persyaratan ini, contohnya si kembar Fred dan George Weasley.

Di hari yang telah ditentukan, nama-nama pemenang dari masing-masing sekolah pun keluar dari Piala Api – mereka adalah Cedric Diggory dari Hogwarts, Fleur Delacour dari Beauxbatons dan … Viktor Krum dari Durmstrang. Tapi, tentu saja ada kejutan lain… sebuah kertas bertuliskan nama Harry Potter melayang keluar dari Piala Api.

Meskipun penuh pro dan kontra, keputusan itu tak bisa dibatalkan. Harry Potter harus tetap mengikuti Turnamen Triwizard. Banyak yang mencibir dan mencela Harry Potter. Mereka pikir Harry hanya cari sensasi. Bahkan Ron pun menjauhinya.

3 tugas berat menanti mereka – berhadapan dengan naga, menyelam ke danau yang dalam, dingin dan penuh makhluk bawah air yang menyeramkan dan menyelamatkan orang-orang yang terdekat – dan yang terakhir mencari Piala Triwizard di tengah-tengah labirin yang juga penuh bahaya.

Harry Potter ke 4 ini adalah seri yang paling gue suka. Bagi gue ini adalah buku yang paling emosional – yang pertama di dalam seri Harry Potter. Awal ‘kebangkitan’, buku yang mengawali saat-saat kegelapan di Hogwarts. Pertama kalinya ada kematian dan Voldemort pun ‘mendapatkan’ kembali wujudnya.

Harry Potter #4 ini juga berhasil membuat gue tegang selama membacanya – terutama saat Harry dan para peserta turnamen Triwizard ada di dalam labirin. Kalau biasanya, gue menutup Harry Potter dengan ceria, kali ini ada rasa kehilangan.

Ehem… ada yang main mata di sini… yang bakalan married di buku ke 7. Ada yang cemburu… ada yang naksir diam-diam…

Pendatang baru di dalam buku ini adalah Mad-Eye Moody – mantan Auror – yang menjadi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.

Dan, satu momen yang paling membuat gue ‘merinding’ adalah saat Harry Potter duel dengan Voldemort, ketika tongkat sihir mereka ‘beradu’, muncullah arwah dari korban-korban Voldemort – mulai dari Cedric, korban terakhir sampai ayah dan ibu Harry Potter. Mereka melindungi Harry dari serangan Voldemort, sehingga Harry bisa kembali lagi ke Hogwarts.


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:

Event Fun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee



Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku


Monday, April 29, 2013

Jalan Bandungan




Jalan Bandungan
NH Dini @ 1989
GPU – November 2009
438 hal.

Muryati, adalah anak seorang prajurit, yang ketika jaman perjuangan melawan penjajah Belanda, ia pun ikut ‘bergerilya’ di dalam hutan. Mengikuti ke mana pun ayahnya berjuang. Bersama keluarganya, ia harus hidup di hutan, bersembunyi dari penjajah. Di antara anak-anak, mereka tetap bermain, belajar, tapi adakalanya, mereka juga merasakan ketegangan di antara para orang dewasa. Tak jarang, suasana gelap, terdengar bunyi ledakan senjata. Mereka juga harus hidup berpindah-pindah, mencari tempat aman.

Di sinilah, pertama kali ia bertemu dengan Widodo, seorang prajurit anak buah ayahnya. Tapi, kala itu ia tak tahu siapa nama pemuda itu, meskipun ada rasa penasaran. Setelah, perang selesai, keluarga Muryati bisa kembali ke kota, menempati rumah yang nyaman dan aman. Barulah, Widodo kerap datang ke rumah mereka. Tutur kata dan sikap yang sopan menarik hati orang tua Muryati.

Singkat kata, Widodo pun melamar Muryati. Meski hati berkata lain, Muryati pun menerima anjuran orang tuanya untuk menerima lamaran Widodo itu. Tapi, berbagai kejanggalan sebenarnya sudah terlihat sebelum pernikahan resmi dilaksanakan – Widodo yang tak pernah memperkenalkan keluarga mereka dengan orang tuanya, Widodo selalu datang dengan pamannya, Widodo yang awalnya supel dan ramah, tiba-tiba jadi kaku dan sering mengatur. Muryati dibesarkan dalam keluarga yang demokratis, bebas mengeluarkan pendapat. Sosok Widodo yang seperti ini membuat hatinya berontak. Tapi, ketika ayahnya meninggal, Muryati tak punya pilihan lain kecuali menikah dengan Widodo.

Dan benar saja, Widodo ini, tipe laki-laki yang tidak mau diatur perempuan, maunya dilayani, dan gak mau ditanya apa pun yang berkaitan dengan pekerjaannya. Buat dia, yang penting uang gaji sudah dikasih ke istri, jadi istri gak perlu tanya macam-macam. Meski kadang protes, tapi ya Muryati tidak  bisa berbuat apa-apa.

Lalu, tiba-tiba saja, Widodo tidak pulang dan akhirnya Muryati mendapat kabar bahwa Widodo ditangkap karena terlibat dalam aktivitas partai terlarang.

Mulailah kehidupan Muryati sebagai istri seorang tahanan tapol, bagaimana kesulitannya untuk kembali mengajar karena status barunya itu. Beruntung Muryati memiliki teman-teman yang terus mendukungnya, ditambah dengan bantuan beberapa orang yang berpengaruh hingga akhirnya Muryati bisa pergi ke Belanda. Kemudian bertemu dengan Handoko, adik iparnya, yang akhirnya menjadi suami keduanya.

Sejujurnya, gue merasa salah pilih buku. Dari dulu, gue pengen baca karyanya NH Dini, dan kebetulan gue melihat buku ini ada di rak buku di rumah adek gue. Karena tema baca bareng BBI bulan ini adalah buku yang ditulis oleh perempuan atau tentang perempuan, gue rasa buku ini cocok untuk baca bareng. Tapi, ternyata gue kecewa. Buku ini gak mampu membangkitkan ‘emosi’ ketika gue membacanya. Mungkin ya, emosi sama si Widodo itu, tapi, selebihnya, gak ada rasa penasaran atau rasa empati dengan Muryati. Datar aja gitu…  Mungkin karena dari penuturan ceritanya. Di sini gue merasa membaca sebuah biografi yang tanpa ‘gejolak’. Cerita bertutur sejak Muryati kecil, sampai ia akhirnya dewasa melewati berbagai macam peristiwa. Mungkin minimnya dialog yang menyebabkan buku ini jadi kurang ‘greget’ (sekali lagi, buat gue ya…) Ceritanya menurut gue hanya difokuskan pada Muryati seorang. Padahal di awal gue berharap, ada konflik yang ‘seru’ seputar hubungannya dengan Widodo dan Handoko. Atau jatuh-bangunnya Muryati sebagai istri tahanan politik. Tapi, entah kenapa, konflik itu semua terasa lancar jaya aja. Seolah semua diterima begitu lapang dada oleh Muryati, sampai akhirnya cara berceritanya pun jadi biasa. Belum lagi, cara bicara yang sangat sopan, yang jadi terasa kaku. Bahkan di antara sesama sahabat, dialognya kaku banget. Padahal, salah satu yang bikin cerita itu menarik untuk gue dan enak dibaca, adalah dialog yang mengalir dengan ‘santai’.

Menurut gue, ya.. mungkin karena tokoh utama, tokoh sentral ada di Muryati, tokoh yang lain jadi ‘ketutup’. Di sini gue malah gemes dengan tokoh Handoko, yang harusnya menurut gue bisa membuat cerita lebih hidup, malah koq akhirnya jadi ‘diem’ dan ‘nurut’ aja gitu.

Karean hal ini, ketika membaca buku ini, maunya cepet-cepet aja. Ada rasa gak sabar. Ya, pengen tau ending-nya aja… setelah berpanjang-panjang dengan sedetail-detailnya, jadi apa sih akhirnya.

Tapi, terlepas dari ‘kekurangsreg-an’ gue dengan buku ini, kalau bicara tentang perjuangan seorang perempuan, menurut gue, sosok Muryati mewakili sosok perempuan yang kuat, tabah dan mau untuk maju. Sejak remaja, Muryati punya cita-cita, dan tidak ada keinginannya untuk cepat-cepat menikah. Keluarga juga mendukung cita-cita Muryati. Meskipun tetap harus pasrah apa pun yang dibilang suami, tapi Muryati tetap mau berubah dan berusaha untuk keluarga. Selain itu juga, terlepas dari penggambaran yang terlalu datar itu, di dalam dunia nyata, sebagai istri seorang tahanan politik, pastinya susah dalam pergaulan – omongan orang yang pedas, gunjingan, birokrasi yang bertele-tele, juga anak-anak yang mungkin minder (ini juga nih kurang ‘dikupas’)

Selain itu, teman-teman Muryati – sahabat-sahabatnya – Mur, Sri dan Ganik – juga bukan perempua yang lemah. Mur adalah seorang dokter, Sri yang suaminya selingkuh juga berani mengambil keputusan, lalu Ganik, dengan penyakit kanker yang dideritanya juga tidak menjadikan ia perempuan yang lemah. Mereka berempat saling memberi semangat untuk maju. Juga ibu Muryati, sepeninggalan suaminya, ia tak gengsi membuka warung yang menjual keperluan dapur, meskipun mereka tinggal di kawasan elite dan jadi bahan cemoohan orang.

Ok.. akhir kata.. adakah rekomendasi buku-buku NH Dini yang lain – yang mungkin bisa ‘mengobati’ kekecewaan gue?

#Posting bareng BBI bulan April 2013, kategori: Penulis Perempuan; buku tentang Perempuan

And the Winners are...


Dear All,

Ma'af ya, baru bisa bikin pengumuman pemenang BBI 2n Anniversary Giveaway Hop. Terima kasih untuk semua yang udah ikutan giveaway di blog Lemari Bukuku.

Dan yang beruntung adalah:


Nur Ailina

dan 


Dian

Selamat ya untuk Nur Ailina dan Dian - pemenang akan dihubungi via email dan twitter. Ditunggu konfirmasi alamat kalian via email (ferina.ardinal@gmail.com, atau bisa DM saya via twitter di @f3r1n4) dalam waktu 2 x 24 jam.

Untuk yang lain, ma'af kali ini, belum beruntung. Semoga ada kesempatan di giveaway yang lain. 

Terima kasih, sampai jumpa di Giveaway yang lain...
 
Blog Design By Use Your Imagination Designs With Pictures from Pinkparis1233
Use Your Imagination Designs