Wednesday, September 21, 2016

Crazy Rich Asians


Crazy Rich Asians (Kaya Tujuh Turunan)
Kevin Kwan @ 2013
Cindy Kristanto (Terj.)
GPU - 2016
480 Hal.

Ketika pertama liat cover edisi bahasa Inggris, gue sama sekali gak tertarik, meskipun dengan gemerlap di cover. Bahkan gue kirain ini buku non-fiksi. Buku ini bisa membuat loe ‘sinting’ ngebayangin betapa gampangnya para tokoh dalam buku ini ngabisin uang, atau ternyata harta, kekayaan tetap jadi faktor penting dalam pergaulan dan perjodohan.

Tapi jujur aja, membaca buku ini,  bagaikan nonton opera sabun atau sinetron dalam versi ringkas. Selesai dalam satu buku, lengkap dengan segala intrik-intrik tokoh yang sirik, iri, seorang ibu yang menggunakan berbagai cara biar anaknya berpaling dari kekasihnya, menggunakan uang agar tetap terlihat paling ‘gemerlap’, bahkan salah satu yang ajaib, adalah ketika salah satu tokoh menikah, dia bukannya deg2an, tapi malah sibuk memerhatikan tamu yang datang, menebak-nebak rancangan siapa busana yang mereka pakai.

Mungkin di awal akan pusing ketika kita langsung disajikan pohon keluarga dari tiga marga yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Tapi ini akan sangat membantu di awal-awal, karena banyaknya tokoh yang bertebaran. Bukan hanya tokoh utama, tapi teman-teman dari si tokoh, turut ‘meramaikan’ buku ini. Dan membuat buku ini jadi seru!!

Berpusat pada pasangan Nicholas Young dan Rachel Chu. Nicholas Young adalah salah satu pemuda tampan, super kaya, tapi juga pintar. Mereka berdua berprofesi sebagai dosen di New York. Rachel gak tau dengan latar belakang Nick yang sebenarnya.

Masalah dimulai ketika Nick mengajak Rachel pulang ke Singapura, di mana Nick diminta sahabatnya untuk jadi pengiring pengantin pria. Berita kepulangan Nick dan pacarnya malah sudah tersebar sebelum pasangan ini naik pesawat. Ibu Nick mulai kasak-kusuk mencari tahu siapa Rachel sebenarnya. Anak  siapakah dia, keturunan klan siapakah dia …

Selain Nick dan Rachel, tokoh utama dalam buku ini adalah Astrid Leong. Seorang sosialita, yang beli baju udah kaya’ beli gorengan … tapi ternyata harta memang gak selalu menjamin kebahagiaan, buktinya rumah tangga Astrid sedang dalam bahaya, ketika suaminya merasa tidak nyaman dengan segala hal-hal tersebut.


Banyak yang nyebelin, tapi juga lucu. Misalnya Eddie yang pengen banget keluarganya tampil sempurna, atau jet pribadi, kapal pesiar pribadi yang bertebaran dalam buku ini. Oya, selain itu, tiba-tiba para perempuan single, mantan-mantan pacar Nick, sibuk mencari cara untuk merebut perhatian Nick kembali, emak-emak nyinyir yang bergosip plus saling kompor. Pokoknya sepanjang buku ini, pembaca akan disuguhi dengan segala kemewahan yang super luar biasa, yang kadang malah bikin Nick dan Rachel jadi gak menarik. I love Astrid more, dengan kesederhanaan yang ‘berkelas’, tanpa berusaha keras untuk ‘unjuk diri’, orang tahu siapa dirinya.

Friday, September 16, 2016

A Tale of Two Cities


A Tale of Two Cities
Reinitha Lasmana (Terj.)
Qanita – Maret 2016
496 hal.

Cuplikan cerita via goodreads:

Seandainya hidup memberiku kesempatan, aku akan mengorbankan apa saja untukmu.

Inggris abad 17, Lucie Manette tinggal bersama sang ayah, Dokter Manette, mantan korban kekejaman bangsawan Perancis. Kecantikan dan kebaikan hati Lucie merebut hati Charles Darnay, bangsawan pelarian Perancis. Bak gayung bersambut, Lucie pun tertarik pada Charles. Sydney Carton, yang membantu pelarian Charles sebenarnya juga mencintai Lucie. Namun Sydney memilih memendam perasaannya karena dia sadar, dirinya yang serampangan tak pantas bersanding dengan Lucie.

Revolusi Perancis pecah dan Charles dipanggil pulang ke negaranya untuk menyelamatkan nyawa seorang teman. Tetapi, dia malah dijebloskan ke penjara, bahkan diancam hukuman mati gara-gara dosa masa lalu ayah dan pamannya. Demi Lucie, Dokter Manette melakukan segala upaya untuk membebaskan Charles dari Pisau Guillotine. Namun apakah pengaruh Dokter Manette saja cukup? Di saat-saat kritis, muncul pertolongan dari seseorang yang tak terduga. Pertolongan berlandaskan cinta.

----

Gue gak akan nulisin ringkasan cerita, karena pastinya akan panjang banget karena gue kesulitan memilah-milah inti cerita. Jadi gue ambil saja dari goodreads. Tergoda oleh cover yang cantik, gue nekat beli buku ini. As usual, emosi terpendam bikin ‘asal’ ambil buku. Tapi … ternyata … cukup ‘memuaskan’ untuk gue. Gue menikmati cerita ini sejak awal sampai akhir cerita. Gue bukan penggemar cerita-cerita klasik, karena terkadang gue kesulitan mengartikan kata-kata yang bersayap.

Tak terkecuali dalam buku ini. Inti kisah ini buat gue tetaplah kisah cinta. Antara sepasang manusia yang menderita karena keadaan yang memburuk, kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, dan kesetiaan seorang teman hingga rela membahayakan nyawanya sendiri. Tapi yang bikin jadi lebih dramatis adalah latar  belakang revolusi Perancis yang kuat.

Cerita terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama ketika Dr. Manette kembali dalam kehidupan ‘normal’ dan bertemu kembali dengan Lucie, bagian kedua, pertemuan pertama Lucie dan Charles Darnay, dan bagian ketiga, bagian ‘badai’ dalam kehidupan para tokoh.

Bagian ketiga ini adalah bagian yang paling gue suka. Karena buat gue, bagian ini lebih emosional. Dari sisi keluarga Manette, di mana Lucie harus pasrah ketika suaminya ditahan di penjara paling mengerikan di Perancis saat itu, hanya karena dendam kesumat warga Perancis terhadap para petinggi.

Di dalam cerita ini, digambarkan bagaimana para kaum bangsawan berlaku semena-mena terhadap rakyat kecil. Mereka berfoya-foya, hidup dalam kemewahan, sementara rakyat diperlakukan dengan sangat kasar, lebih rendah daripada binatang sekalipun.

Akhirnya rakyat berontak, mereka mulai menyusun kekuatan dan menghabisi para bangsawan. Sebuah senjata mematikan hampir setiap hari memakan korban dan proses ini menjadi tontonan setiap harinya.

Mungkin narasi yang panjang akan menjadi ‘hambatan’ dalam membaca buku ini. Ada aura puitis, tapi juga suram dan menegangkan. Lucie, tokoh yang cantik yang nampaknya mudah bagi siapa pun untuk menyayangi dirinya, lemah lembut, sabar, tabah dan penuh kasih sayang. Mr Lorry dan Miss Pross, gambaran teman-teman yang setia, yang rela membela dan menjaga keselamatan keluarga Manette. Gue dibuat sebal dan merinding sama Madame Defarge, yang demi tujuan revolusi, tanpa tahu latar belakang, berniat ‘menghabisi’ semua yang terkait dengan para bangsawan, entah mereka bersalah atau tidak.

O ya, jangan lupa, tokoh yang kemunculannya mungkin tidak terlalu sering, tapi ternyata memegang peranan penting, yaitu Sydney Carton. Sydney yang juga menyimpan perasaan terhadap Lucie, akan memberikan kejutan di akhir cerita. Cuma nih… gue rada gak demen adegan berurai air matanya Sydney dan Lucie.


Pada akhirnya, A Tale of Two Cities menjadi salah satu buku yang berkesan di antara buku-buku yang gue baca selama tahun 2016 ini.

Thursday, September 08, 2016

The Girls


The Girls (Gadis-Gadis Misterius)
Maria Lubis (Terj.)
GPU – Juli 2016
360 hal.

Setelah baca buku yang membuat gue ‘terkenang-kenang’ seperti All the Light We Cannot See, biasanya gue bakal bingung cari bacaan selanjutnya. Pengennya, gue juga bakal langsung ‘tergugah’ atau dapet ‘feel’ yang sama begitu membaca kalimat pertama. Dan ini sering berakibat, pada kebosanan ketika baca buku berikut dan akhirnya gak selesai.

Atau seperti kasus dalam buku ini, yang membuat gue kecewa. Dengan cover yang cerah ini, gue berharap cerita yang riang gembira, secerah covernya, lebih berwarna dan bersemangat. Tapi, cerita dalam buku ini membuat gue memandang ‘aneh’ sosok Evie Boyd, membuat gue ikutan merasa ‘lusuh’ dan gerah.

Evie Boyd, sosok remaja yang sedang dalam proses ‘memperoleh pengakuan diri’. Kehidupan sehari-harinya rada membosankan. Ibunya sedang dalam proses pendekatan dengan berbagai laki-laki, sabahatnya juga jadi gak asyik lagi. Sampai suatu hari, ia melihat seorang perempuan yang begitu cuek, gak peduli keadaan sekitar, berlaku sesuka mereka tapi tetap merasa nyaman. Evie langsung tertarik.

Ketertarikan itu terlihat jelas, hingga Suzzane, si gadis itu mengajak Evie ke tempat mereka tinggal. Meskipun tempat itu kumuh, tapi ada aura misterius tersendiri yang membuat Evie tersedot. Evie merasa menemukan sesuatu hal baru,meskipun aneh, ia tak keberatan melakukan hal-hal yang diminta di sana.

Meskipun lama-lama, Evie mulai merasa jengah dengan bentuk pemujaan terhadap pemimpin mereka yang bernama Russell, yang demi Russell, Suzanne dan teman-temannya rela melakukan apa saja.

I did not enjoy reading this book. A little bit boring. Gue hanya gak ‘klik’ dengan sosok Evie. Mencoba mengerti, bahwa Evie, di usia yang lagi ‘labil-labil’nya tentu semangat ketika menemukan sebuah hal baru yang tampak ‘wow’, ketika ia sendiri sedang dalam masa-masa kesepian, gundah-gulana. Kaya’nya gue akan lebih suka dengan buku ini, kalau cerita tentang latar belakang yang membuat Evie terkenal lebih di-explore, sekalian aja gitu jadi thriller. Ini sejujurnya rada ngambang. Atau mungkin Evie terlibat lebih jauh dalam kasus itu. *hehehe.. kaya’ gue bisa ngarang aja* Gue jadi merasa, buku ini gak sesuai ekspektasi gue. Itu aja. 


Wednesday, September 07, 2016

All the Light We Cannot See


All the Light We Cannot See
Fourt Estate – 2015
531 hal.

Ini adalah jenis buku yang langsung ‘menarik’ gue sejak kalimat pertama. Ma’afkan kalo penggambaran gue rada lebay … tapi suer .. buku ini ditulis dengan kalimat-kalimat yang ‘indah’… meskipun terkadang panjang lebar dan detail.. tapi gak bikin gue terkantuk-kantuk… kalimat-kalimat indah, kadang ‘bersayap’, tapi gak membuat loe pusing mencari artinya … Meskipun novel ini tebal dan beralur lambat dan maju-mundur, gue tetap maju, pantang mundur, menikmati kisah Marie-Laure dan Werner.

Marie-Laure, gadis berusia 16 tahun, yang buta sejak ia berusia 6 tahun. Ia tinggal bersama ayahnya, seorang pegawai di Natural History Museum di Paris. Ibunya sudah meninggal. Setiap hari, Marie-Laure ikut ayahnya bekerja. Sementara ayahnya bekerja, Marie-Laure menjelajah berbagai sudut museum, dan ia gemar bertanya dan  belajar hal baru. Agar Marie-Laure lebih mandiri, ayahnya membuat miniature kota Paris, lengkap dengan jalan-jalan yang sering mereka lalui, yang bagaikan sebuah labirin bagi Marie Laure. Ia ‘dipaksa’ sang ayah untuk menghafal jalan-jalan tersebut. Hal lain yang unik, di setiap hari ulang tahun, ayahnya akan memberikan berbagai hadiah tersembunyi, dan Marie-Laure harus mencarinya. Hadiah yang paling istimewa menurut Marie-Laure adalah buku Julius Verne dalam huruf braille. Rasa penasaran membuat Marie-Laure dengan cepat melahat buku-buku itu.

Sementara di Jerman, di sebuah panti asuhan, tinggal seorang pemuda bernama Werner dan adik perempuannya, bernama Jutta. Werner ini, pemuda yang cerdas, jago banget benerin berbagai peralatan, sampai akhirnya bisa benerin radio, di mana setiap malam ia mendengar siaran radio dari Perancis, yang membacakan sebuah cerita dan berita-berita. Karena keahliannya itu, ia diterima di sekolah pelatihan tentara Jerman. DI sana ia mulai ragu dengan pilihannya, mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Berlatar Perang Dunia II, terselip sebuah legenda tentang batu antik yang dipercaya bisa melindungi sang pemilik, memberi kekuasaan tak terbatas dan hidup abadi, meskipun sebagai gantinya, ada sebuah kutukan di mana orang-orang di sekitarnya akan menemui malapetaka. Batu ini yang membuat seorang perwira tentara Jerman nekat mengancam dan mencari ke pelosok-pelosok Perancis.

Kisah tentang peperangan, tak melulu harus penuh senjata dan kebrutalan. Di sisi lain, ada kisah tentang kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, sejauh di mana pun ia berada, di dalam surat-surat selalu tertulis kata-kata yang menghibur meskipun yang sebenarnya buruk. Ada kisah persahabatan antara dua generasi yang berbeda, ada rasa empati meskipun berada di pihak yang bersebarangan, tapi tetap ada juga pihak-pihak dengan ambisi untuk menguasai.

Novel yang ditulis dengan banyak detail-detail, menuntut kesabaran, tapi worth it … jangan bosan dan jangan berhenti di tengah-tengah, karena kita akan tau apa yang menghubungkan Marie-Laure dan Werner sejak awal.

Yang paling berkesan buat gue dari buku ini, adalah hadiah-hadiah unik dari Papa Etienne untuk Marie-Laure.

All the Bright Places


All the Bright Places
Knopf 2015
388 hal.

Buku ini.. adalah tipe buku yang membuat gue pengen ngamuk-ngamuk sama tokoh-tokohnya … karena … si tokoh ini menyisakan pertanyaan di akhir-akhir cerita… tapi eniwei.. begini ceritanya …

Finch, cowok yang ‘terobsesi’ dengan kematian. Dia rajin mengumpulkan referensi tentang berbagai cara untuk bunuh diri. Di sekolah, Finch dikenal sebagai ‘trouble maker’. Dia juga sering jadi korban ‘bully’. Di rumahnya, Finch memiliki tempat yang ia sebut ‘benteng’, di mana di tempat itu, Finch bisa mencurahkan segala unek-unek, entah dalam bentuk tulisan, lagu-lagu, ada hanya potongan kata-kata yang sekilas tak berarti. Hubungan dengan ayahnya juga tak terlalu mulus. Sejak bercerai, Finch dan saudari-saudarinya wajib berkunjung ke rumah baru ayah mereka untuk sekedar makan siang. Karakter Finch juga rumit dan misterius. Suka mengutip kalimat-kalimat dari buku dan mengeluarkan komentar-komentar sinis. Finch suka berganti-ganti ‘karakter’ sesuai mood-nya. Bahkan suka menggunakan bahasa Inggris dengan dialek-dialek tertentu. Setiap minggu, dia harus mengikuti konseling di sekolah.

Singkat kata, Finch ini rada-rada bad boy, tapi bukan bad boy populer yang keren dan bikin cewek-cewek meleleh. Entah apa ya, karakter Finch yang rumit ini, justru juga bikin penasaran. Gue justru tertarik sama Finch dengan segala pikiran-pikirannya yang suram, tapi juga unik.

Violet, gadis berusia hampir 18 tahun ini, dulunya termasuk gadis populer di sekolah. Ia pacaran dengan salah satu cowok terkeren, berteman dengan cewek-cewek populer juga. Tapi, setelah kakaknya meninggal, Violet dihantui rasa bersalah, dan trauma gak mau naik mobil lagi. Dia bela-belain pergi ke sekolah naik sepeda atau jalan kaki.

Mereka berdua bertemu di sebuah menara, Finch sedang merenung, apa yang akan terjadi kalau dia bunuh diri. Sementara Violet justru memang berniat untuk bunuh diri. Finch-lah yang menyelamatkan Violet, meskipun yang diberitakan justru sebaliknya.

Melalui tugas sekolah, mereka semakin dekat. Meskipun Finch tetaplah cowok ‘freak’ yang dengan segala obsesi tentang bunuh dirinya, dengan segala omongan yang ‘sinis’. Gue berharap Finch bisa menghilangkan depresi di dalam dirinya dan menghilangkan segala ide konyol tentang bunuh diri, dan juga berharap Violet bisa kembali bangkit dari rasa bersalah.

Bahkan Finch dan Violet berhasil membuat gue penasaran dengan buku Virginia Wolf, sering dijadikan ‘sarana’ komunikasi oleh Finch dan Violet melalui kutipan-kutipan. Lalu, pergi ke tempat-tempat unik, meninggalkan jejak dan juga kalau lebih jeli, sebuah petunjuk.

Kenapa gue bilang pengen ngamuk-ngamuk sama tokohnya … karena gue berharap .. Violet berusaha lebih keras… tried to convice Finch harder … *gemes*… dan Finch… pengennya … dengan adanya Violet, bisa lebih terbuka, mau sharing …


Tapi, at the end, gue juga jadi bertanya-tanya … apakah akan jadi lebih baik, kalau Finch memilih jalan lain?

Monday, June 13, 2016

We were Liars


We were Liars (Para Pembohong)
E. Lockhart @ 2014
GPU – 2016
296 hal.


Keluarga Sinclair adalah salah satu keluarga kaya di Amerika. Setiap liburan musim panas, keluarga tersebut menghabiskan liburan mereka di salah satu pulau pribadi di Martha’s Vineryard.

Ketiga cucu-cucu tertua, Cadence, Mirren, Johnny dan salah satu kerabat bernama Gat, membentuk kelompok sendiri, karena usia mereka yang sebaya. Mereka menamakan diri mereka ‘Para Pembohong’. Grandad Sinclair tidak punya anak laki-laki, dan rumah tangga anak-anaknya berantakan, berakhir dengan perceraian. Ada ‘intrik-intrik’ di antara kakak beradik anak-anak Sinclair yang sering meminta cucu-cucunya untuk bersikap baik dan merebut hati kakeknya demi ‘keamanan’ warisan mereka. Penny berharap, Cadence-lah sebagai cucu tertua yang kelak menjadi pewaris utama Sinclair, sementara Carrie ini Johnyy, sebagai cucu laki-laki tertua yang mendapatkan keistimewaan itu.

Di musim panas ke 15, Cadence atau yang akrab dipanggil Cady, memulai kisah buku ini.  Cady menderita amnesia sejak kecelakaan 2 tahun lalu, atau tepat di musim panas ke 13. Ia tak bisa menginat apa pun tentang kecelakaan itu, sementara semua anggota keluarga seolah sepakat untuk merahasiakan apa pun yang terkait dengan tragedi itu dari Cady.

Banyak perubahan yang terjadi, rumah lama kakeknya direnovasi besar-besaran, ibu dan adik-adiknya jadi lebih ‘akrab’, Cady diminta lebih dekat dengan sepupu-sepupu kecilnya, Sementara, Cady dan Gat bolak-balik berusaha kembali dari awal.

Entah kenapa ya, di awal-awal gue merasa buku ini rada gak greget, gue merasa ada sesuatu yang gak pas. Gak tau apa karena terjemahannya .. atau karena cover-nya .. atau karena ceritanya yang tipikal ... keluarga kaya raya, yang cewek cantik dengan rambut pirangnya, yang cowok ganteng dan atletis, cinta-cintaan hubungan terlarang, intrik-intrik perebutan kekuasaan. Tapi ya, di awa-awal, emang rada bingung baca buku ini ... ada sesuatu yang gak nyambung ... emang harus sabar nunggu sampai akhir .. baru bisa manggut-manggut ...

Satu kalimat Gat yang ‘mengena’ adalah bahwa Sinclair adalah keluarga kaya, tapi gak peduli dengan para pekerja yang membantu mereka selama mereka di pulau itu – juru masak, tukang bersih-bersih dan lain-lain.  Sementara Gat sendiri – berbeda dengan keluarga Sinclair, adalah keturunan Indian, yang dikhawatirkan Penny, jika Cady terlalu dekat dengan Gat, akan berpengaruh pada ‘penilaian’ Grandad.

Tapi yang menarik dari novel ini, tentu saja misteri di balik tragedi yang menimpa Cady. Dalam bayangan gue, We were Liars adalah versi remaja dari buku Before I Go to Sleep.  Meskipun gue ‘hanya’ kasih 3 bintang untuk buku ini, ending-nya lumayan bikin gue ‘terkejut’ dan ‘merinding’. Meskipun ‘klise’, tapi cerita-cerita berlatar amnesia, masih menarik buat gue – karena kadang membuat sebuah cerita jadi berbeda dan membolak-balikan fakta yang sebelumnya ada.

Tuesday, June 07, 2016

Second Life


Second Life
S. J. Watson @ 2015
Harper
402 hal.

Don’t play with fire, if you don’t want to get burned!!!

Itu kira-kira pesan moral dari novel ini.

Bermula dari keinginan menyelidiki kematian Kate, adiknya, Julia nekat membuat profile untuk kencan online. Berdasarkan informasi dari sahabatnya, Kate kerap berkencan secara online, bahkan sesekali bertemu dengan salah satu dari mereka. Julia yakin, salah satu teman kencan Kate itu adalah pelaku pembunuhan Kate.

Dengan melihat profile Kate, Julia akhirnya menemukan salah satu di antara teman kencan Kate itu yang kira-kira ‘berpontensi’ untuk dicurigai. Itulah awalnya Julia pun membuat profile palsu untuk situs tersebut. Tapi, lama-lama dengan segala kata-kata manis dan berbunga-bunga dari Lukas, Julia pun sedikit ‘tergoda’. Memakai alasan untuk mengungkap misteri tersebut, Julia bersedia bertemu dengan Lukas, bahkan melanjutkan ke hubungan yang lebih intim.

Keluarga jadi taruhan. Bahkan Julia pernah berbohong kepada suaminya, untuk menunda acara makan siang di hari ulang tahun Julia, karena di hari yang sama, Julia sudah ada janji untuk bertemu Lukas.

Tapi, lama-lama, Lukas semakin aneh – mulai tiba-tiba muncul ketika Julia sedang di bioskop bersama anaknya ,Connor. Lalu ketika Julia memutuskan untuk menghentikan semua ini, Lukas tiba-tiba menghilang, dan lalu tiba-tiba muncul lagi sebagai dengan identitas lain dan bertunangan dengan teman baik Kate.

Namun, Julia tidak bisa begitu saja membongkar rahasia Lukas, karena Lukas mengancam untuk menyebarluaskan foto dan video ketika Lukas dan Julia sedang berdua.

Lalu siapa sebenarnya pembunuh Kate? Apa motifnya?

Agak sulit buat gue menyukai tokoh Julia. Sosok ibu rumah tangga, selalu berusaha menjadi istri yang baik, dan ibu yang perhatian terhadap anaknya. Fakta bahwa Connor adalah anak Kate, terkadang mempersulit komunikasi di antara mereka. Julia adalah mantan pencadu alkohol, makanya Hugh, sang suami sangat berhati-hati terhadap hal itu. Julia juga terkadang ‘terbayang-bayang’ dengan kehidupan masa lalunya, ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Markus di Berlin. Julia berprofesi sebagai fotografer lepas. Sampai di sini, di mata gue, Julia masih sosok istri dan ibu yang normal.

Tapi, begitu kenal Lukas, Julia jadi sosok yang ‘menyebalkan’ buat gue. Seperti mencoba ‘dimaklumi’ bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk memecahkan misteri, tapi koq lama-lama menjadi salah satu obsesi tersendiri bagi Julia.


Sosok Lukas berhasil membuat gue ‘merinding’. Dengan tingkah yang tiba-tiba manis, lalu jadi psycho. Kemunculan kembali di rumah Julia, jadi salah satu bagian yang membuat gue penasaran untuk segera mengetahui ending novel ini.

Thursday, May 19, 2016

Real World


Real World
Vintage, 2008
208 hal.

Suatu pagi, Toshi mendengar ada kegaduhan di rumah tetangga yang berada tepat di sebelah rumahnya. Meskipun rada parno, tapi Toshi tidak ambil pusing. Toh ia juga gak terlalu akrab dengan tetangga barunya itu – yang terdiri dari pasangan suami-istri dan satu anak mereka. Keluarga yang aneh katanya, gak bergaul. Toshi menjuluki anak laki-lakinya dengan sebutan ‘Worm’.

Dan keesokan harinya, terdengar kabar, bahwa sang istri tewas dibunuh. Pelakunya dicurigai adalah anak laki-lakinya sendiri. Karuan Toshi kaget, karena di pagi harinya, ia baru saja bertemu dengan Worm, yang terlihat biasa-biasa saja. Tanpa Toshi sadari, Worm mengambil sepeda dan telepon genggam milik Toshi.

Dari sinilah awal mulai Worm berhubungan dengan ketiga teman akrab Toshi – Yuzan, Kirarin dan Terauchi. Toshi memilih untuk tidak memberitahu perihal Worm kepada polisi yang menyelidiki kasus ini.

Lewat nomer yang terdaftar dalam kontak Toshi, Worm menghubungi Yuzan, Kirarin dan Terauchi. Yuzan membantu pelarian Worm dengan memberikan sepeda miliknya dan juga membelikan telepon genggam untuk Worm. Kirarin – secara ‘sukarela’ menemani Worm. Dan Terauchi, diminta Worm untuk menuliskan sesuatu yang bisa membuat Worm jadi ‘legend’ karena perbuatannya itu.

Dari awal, nuansa ‘gelap’ sudah terasa. Bukan karena unsur cerita yang menegangkan tapi, karena karakternya yang ‘dark’. Gak spoiler kalo gue bilang emang Worm yang membunuh ibunya sendiri. Tapi, yang menarik adalah motif apa yang membuat Worm sampai melakukan perbuatan itu. Segitu bencinya dia sama ibunya sendiri.

Yang membuat gue justru gak habis pikir adalah ‘kerelaan’ Yuzan dan Kirarin untuk membantuk Worm. Seolah membuat Worm justru jadi role model untuk mereka. Bukan karena perbuatan itu, tapi justru karena mereka menilai Worm ‘berani’ mengambil keputusan, tau apa yang dia mau.

Kalau katanya Toshi, Yuzan, Kirarin dan Terauchi ini adalah sahabat karib ala-ala Genk Cinta gitu … gue malah merasa ada yang ‘ganjil’ dengan pertemanan mereka. Di luar mungkin katanya mereka akrab, tapi di dalam pribadi masing-masing justru merasa ada ketidaknyamanan. Mereka berasa mengenal satu sama lain, tapi justru juga menyimpan banyak rahasia. Seolah mereka punya dunia sendiri yang gak bisa dimasuki oleh yang lain. Misalnya Yuzan yang ternyata penyuka sesama jenis, Kirarin yang paling punya ‘pengalaman’ dengan laki-laki, Terauchi yang punya rahasia tentang ibunya dan Toshi yang kaya’nya lebih introvert dibandingkan yang lain.

Ini adalah salah satu buku hasil berburu di Big Bad Wolf. Dan gue memutuskan untuk membaca buku ini, karena gue lagi butuh bacaan yang rada-rada bikin gue jantungan, gue tadinya berharap dalam buku ini gue menemukan aroma-aroma ‘thriller’. Gue berharap, bisa merasakan lagi ‘kengerian’ ketika baca buku ‘Out’. Tapi kadang, ekspektasi di awal itu suka terlalu ‘tinggi’ (yahh.. paling gak menurut gue lho…). Berulang kali, gue ngerasa bosan dan ngantuk … bahkan gak sempat ketiduran … Buku ini gak seperti bayangan gue. Justru menjelang akhir buku ini gue baru merasa, yah… koq udah abis, karena di bagian akhir inilah yang justru menarik perhatian gue. Gue baru bisa ngerti karakter para tokoh, Dan, untung gue bertahan untuk  menyelesaikan buku ini.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang