Monday, June 13, 2016

We were Liars


We were Liars (Para Pembohong)
E. Lockhart @ 2014
GPU – 2016
296 hal.


Keluarga Sinclair adalah salah satu keluarga kaya di Amerika. Setiap liburan musim panas, keluarga tersebut menghabiskan liburan mereka di salah satu pulau pribadi di Martha’s Vineryard.

Ketiga cucu-cucu tertua, Cadence, Mirren, Johnny dan salah satu kerabat bernama Gat, membentuk kelompok sendiri, karena usia mereka yang sebaya. Mereka menamakan diri mereka ‘Para Pembohong’. Grandad Sinclair tidak punya anak laki-laki, dan rumah tangga anak-anaknya berantakan, berakhir dengan perceraian. Ada ‘intrik-intrik’ di antara kakak beradik anak-anak Sinclair yang sering meminta cucu-cucunya untuk bersikap baik dan merebut hati kakeknya demi ‘keamanan’ warisan mereka. Penny berharap, Cadence-lah sebagai cucu tertua yang kelak menjadi pewaris utama Sinclair, sementara Carrie ini Johnyy, sebagai cucu laki-laki tertua yang mendapatkan keistimewaan itu.

Di musim panas ke 15, Cadence atau yang akrab dipanggil Cady, memulai kisah buku ini.  Cady menderita amnesia sejak kecelakaan 2 tahun lalu, atau tepat di musim panas ke 13. Ia tak bisa menginat apa pun tentang kecelakaan itu, sementara semua anggota keluarga seolah sepakat untuk merahasiakan apa pun yang terkait dengan tragedi itu dari Cady.

Banyak perubahan yang terjadi, rumah lama kakeknya direnovasi besar-besaran, ibu dan adik-adiknya jadi lebih ‘akrab’, Cady diminta lebih dekat dengan sepupu-sepupu kecilnya, Sementara, Cady dan Gat bolak-balik berusaha kembali dari awal.

Entah kenapa ya, di awal-awal gue merasa buku ini rada gak greget, gue merasa ada sesuatu yang gak pas. Gak tau apa karena terjemahannya .. atau karena cover-nya .. atau karena ceritanya yang tipikal ... keluarga kaya raya, yang cewek cantik dengan rambut pirangnya, yang cowok ganteng dan atletis, cinta-cintaan hubungan terlarang, intrik-intrik perebutan kekuasaan. Tapi ya, di awa-awal, emang rada bingung baca buku ini ... ada sesuatu yang gak nyambung ... emang harus sabar nunggu sampai akhir .. baru bisa manggut-manggut ...

Satu kalimat Gat yang ‘mengena’ adalah bahwa Sinclair adalah keluarga kaya, tapi gak peduli dengan para pekerja yang membantu mereka selama mereka di pulau itu – juru masak, tukang bersih-bersih dan lain-lain.  Sementara Gat sendiri – berbeda dengan keluarga Sinclair, adalah keturunan Indian, yang dikhawatirkan Penny, jika Cady terlalu dekat dengan Gat, akan berpengaruh pada ‘penilaian’ Grandad.

Tapi yang menarik dari novel ini, tentu saja misteri di balik tragedi yang menimpa Cady. Dalam bayangan gue, We were Liars adalah versi remaja dari buku Before I Go to Sleep.  Meskipun gue ‘hanya’ kasih 3 bintang untuk buku ini, ending-nya lumayan bikin gue ‘terkejut’ dan ‘merinding’. Meskipun ‘klise’, tapi cerita-cerita berlatar amnesia, masih menarik buat gue – karena kadang membuat sebuah cerita jadi berbeda dan membolak-balikan fakta yang sebelumnya ada.

Tuesday, June 07, 2016

Second Life


Second Life
S. J. Watson @ 2015
Harper
402 hal.

Don’t play with fire, if you don’t want to get burned!!!

Itu kira-kira pesan moral dari novel ini.

Bermula dari keinginan menyelidiki kematian Kate, adiknya, Julia nekat membuat profile untuk kencan online. Berdasarkan informasi dari sahabatnya, Kate kerap berkencan secara online, bahkan sesekali bertemu dengan salah satu dari mereka. Julia yakin, salah satu teman kencan Kate itu adalah pelaku pembunuhan Kate.

Dengan melihat profile Kate, Julia akhirnya menemukan salah satu di antara teman kencan Kate itu yang kira-kira ‘berpontensi’ untuk dicurigai. Itulah awalnya Julia pun membuat profile palsu untuk situs tersebut. Tapi, lama-lama dengan segala kata-kata manis dan berbunga-bunga dari Lukas, Julia pun sedikit ‘tergoda’. Memakai alasan untuk mengungkap misteri tersebut, Julia bersedia bertemu dengan Lukas, bahkan melanjutkan ke hubungan yang lebih intim.

Keluarga jadi taruhan. Bahkan Julia pernah berbohong kepada suaminya, untuk menunda acara makan siang di hari ulang tahun Julia, karena di hari yang sama, Julia sudah ada janji untuk bertemu Lukas.

Tapi, lama-lama, Lukas semakin aneh – mulai tiba-tiba muncul ketika Julia sedang di bioskop bersama anaknya ,Connor. Lalu ketika Julia memutuskan untuk menghentikan semua ini, Lukas tiba-tiba menghilang, dan lalu tiba-tiba muncul lagi sebagai dengan identitas lain dan bertunangan dengan teman baik Kate.

Namun, Julia tidak bisa begitu saja membongkar rahasia Lukas, karena Lukas mengancam untuk menyebarluaskan foto dan video ketika Lukas dan Julia sedang berdua.

Lalu siapa sebenarnya pembunuh Kate? Apa motifnya?

Agak sulit buat gue menyukai tokoh Julia. Sosok ibu rumah tangga, selalu berusaha menjadi istri yang baik, dan ibu yang perhatian terhadap anaknya. Fakta bahwa Connor adalah anak Kate, terkadang mempersulit komunikasi di antara mereka. Julia adalah mantan pencadu alkohol, makanya Hugh, sang suami sangat berhati-hati terhadap hal itu. Julia juga terkadang ‘terbayang-bayang’ dengan kehidupan masa lalunya, ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Markus di Berlin. Julia berprofesi sebagai fotografer lepas. Sampai di sini, di mata gue, Julia masih sosok istri dan ibu yang normal.

Tapi, begitu kenal Lukas, Julia jadi sosok yang ‘menyebalkan’ buat gue. Seperti mencoba ‘dimaklumi’ bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk memecahkan misteri, tapi koq lama-lama menjadi salah satu obsesi tersendiri bagi Julia.


Sosok Lukas berhasil membuat gue ‘merinding’. Dengan tingkah yang tiba-tiba manis, lalu jadi psycho. Kemunculan kembali di rumah Julia, jadi salah satu bagian yang membuat gue penasaran untuk segera mengetahui ending novel ini.

Thursday, May 19, 2016

Real World


Real World
Vintage, 2008
208 hal.

Suatu pagi, Toshi mendengar ada kegaduhan di rumah tetangga yang berada tepat di sebelah rumahnya. Meskipun rada parno, tapi Toshi tidak ambil pusing. Toh ia juga gak terlalu akrab dengan tetangga barunya itu – yang terdiri dari pasangan suami-istri dan satu anak mereka. Keluarga yang aneh katanya, gak bergaul. Toshi menjuluki anak laki-lakinya dengan sebutan ‘Worm’.

Dan keesokan harinya, terdengar kabar, bahwa sang istri tewas dibunuh. Pelakunya dicurigai adalah anak laki-lakinya sendiri. Karuan Toshi kaget, karena di pagi harinya, ia baru saja bertemu dengan Worm, yang terlihat biasa-biasa saja. Tanpa Toshi sadari, Worm mengambil sepeda dan telepon genggam milik Toshi.

Dari sinilah awal mulai Worm berhubungan dengan ketiga teman akrab Toshi – Yuzan, Kirarin dan Terauchi. Toshi memilih untuk tidak memberitahu perihal Worm kepada polisi yang menyelidiki kasus ini.

Lewat nomer yang terdaftar dalam kontak Toshi, Worm menghubungi Yuzan, Kirarin dan Terauchi. Yuzan membantu pelarian Worm dengan memberikan sepeda miliknya dan juga membelikan telepon genggam untuk Worm. Kirarin – secara ‘sukarela’ menemani Worm. Dan Terauchi, diminta Worm untuk menuliskan sesuatu yang bisa membuat Worm jadi ‘legend’ karena perbuatannya itu.

Dari awal, nuansa ‘gelap’ sudah terasa. Bukan karena unsur cerita yang menegangkan tapi, karena karakternya yang ‘dark’. Gak spoiler kalo gue bilang emang Worm yang membunuh ibunya sendiri. Tapi, yang menarik adalah motif apa yang membuat Worm sampai melakukan perbuatan itu. Segitu bencinya dia sama ibunya sendiri.

Yang membuat gue justru gak habis pikir adalah ‘kerelaan’ Yuzan dan Kirarin untuk membantuk Worm. Seolah membuat Worm justru jadi role model untuk mereka. Bukan karena perbuatan itu, tapi justru karena mereka menilai Worm ‘berani’ mengambil keputusan, tau apa yang dia mau.

Kalau katanya Toshi, Yuzan, Kirarin dan Terauchi ini adalah sahabat karib ala-ala Genk Cinta gitu … gue malah merasa ada yang ‘ganjil’ dengan pertemanan mereka. Di luar mungkin katanya mereka akrab, tapi di dalam pribadi masing-masing justru merasa ada ketidaknyamanan. Mereka berasa mengenal satu sama lain, tapi justru juga menyimpan banyak rahasia. Seolah mereka punya dunia sendiri yang gak bisa dimasuki oleh yang lain. Misalnya Yuzan yang ternyata penyuka sesama jenis, Kirarin yang paling punya ‘pengalaman’ dengan laki-laki, Terauchi yang punya rahasia tentang ibunya dan Toshi yang kaya’nya lebih introvert dibandingkan yang lain.

Ini adalah salah satu buku hasil berburu di Big Bad Wolf. Dan gue memutuskan untuk membaca buku ini, karena gue lagi butuh bacaan yang rada-rada bikin gue jantungan, gue tadinya berharap dalam buku ini gue menemukan aroma-aroma ‘thriller’. Gue berharap, bisa merasakan lagi ‘kengerian’ ketika baca buku ‘Out’. Tapi kadang, ekspektasi di awal itu suka terlalu ‘tinggi’ (yahh.. paling gak menurut gue lho…). Berulang kali, gue ngerasa bosan dan ngantuk … bahkan gak sempat ketiduran … Buku ini gak seperti bayangan gue. Justru menjelang akhir buku ini gue baru merasa, yah… koq udah abis, karena di bagian akhir inilah yang justru menarik perhatian gue. Gue baru bisa ngerti karakter para tokoh, Dan, untung gue bertahan untuk  menyelesaikan buku ini.

Monday, April 18, 2016

A Game of Thrones


A Game of Thrones – A Song of Ice and Fire #1
(Perebutan Takhta)
Barokah Ruziati (Terj.)
Fantasious – Maret 2015
968 hal.

Mungkinnnn kalau A Game of Thrones ini gak diterjemahin ke dalam bahasa Indonesia, gue gak akan pernah ‘tenggelam’ dalam intrik-intrik perebutan kekuasaan antar kerajaan-kerajaan besar… gue gak akan melirik buku ini, yang tebalnya luar biasa, plus gue yakin gue gak akan sanggup baca versi bahasa Inggrisnya. Gue juga udah langsung merasa gak akan bisa menghafal begitu banyak tokoh dengan cerita yang pastinya rumit dan penuh intrik-intrik. Lalu .... datanglah Mbak Maria @hobbybuku ... yang akhirya membuat gue 'luluh' dan menyerah ... lalu memesan buku ini ...

Dan ternyata … gue gak bisa berhenti baca buku ini … gue rela bawa buku bantal ini ke mana-mana demi menuntaskan rasa penasaran gue... Yah, ngeri-ngeri sedep gitulah perasaan gue saat baca buku ini. Dan karena gue belum pernah nonton serial tv-nya, gue jadi gak ‘terganggu’ atau terbayang-bayang dengan tokoh dalam serial itu. Meskipun .. akhirnya yah, gue menyerah juga … pengen tau ‘wujud’ Jon Snow kaya’ apa sih J

Seperti terlihat dari judulnya, novel ini akan penuh dengan peperangan, perebutan kekuasaan, pengkhianatan, dan tentu saja ‘darah’. Konon kabarnya, George R.R. Martini ini, gak segan-segan membunuh atau mematikan tokoh utama yang baik hati dan dapat dipercaya. Tapi siapa sih yang bisa benar-benar dipercaya dalam cerita kaya’ begini? Yang terlihat baik, ternyata bermuka dua, yang kaya’nya antagonis, tapi kalo dia bicara, koq ya ada benernya juga …

Gue gak akan nulis tentang cerita dari buku ini, gue cuma mau sharing beberapa tokoh yang menarik perhatian gue.

Pertama tentu saja Jon Snow J Faktor ‘anak haram’ menjadikannya berbeda dari anak-anak Klan Stark lainnya. Dia tak diakui oleh ibu tirinya, lalu memilih bergabung dengan Garda Malam. Menghadapi dilema apakah akan tetap setia sama Garda Malam atau ikut berperang

Lalu ada Bran Stark, bocah laki-laki berusia 7 tahun ini, terpaksa tidak bisa melakukan kegemarannya menjelajah menara-menara setelah lumpuh akibat terjatuh. Tapi Bran punya semangat dan kekuatan sendiri. Meskipun tau ia cacat, ia tak mau terlihat lemah. Ia bertekad harus kuat demi adik kecilnya, Rickon.

Arya Stark – anak perempuan ini tangguh, dan tomboy. Ketika kakaknya, Sansa Stark, belajar tata karma, dan segala tetek bengek urusan kerajaan. Arya lebih suka melatih keterampilannya memegang pedang.

Semetara itu, dari klan Lannister yang ambisius ini, ada Tyrion Lannister, adik sang ratu yang kerap dicemooh karena postur tubuhnya yang cebol. Gue juga jadi kadang kasian dan simpati sama Tyrion ini, yang suka dilupakan sama ayahnya. Bahkan gue terhibur dengan lelucon-lelucon sinis a la Tyrion. Meskipun punya ambisi tersendiri, dia seolah gak ada beban, santai aja menghadapi kekacauan yang tengah terjadi.

Dari Klan Targaryens, ada Daneryn Targaryens, pewaris terakhir dari klan ini. Di mana raja mereka dibunuh oleh Raja Baratheon, dan mulai menyusun kekuatan untuk merebut kembali takhta tertinggi itu. Tapi, yang justru menarik perhatian gue adalan Khal Drogo, suami Daneryn. Dalam bayangan gue, ini orang gedeeee banget. Rambutnya panjang, penuh dengan lonceng-lonceng, menandakan dirinya tak pernah terkalahkan. Khal Drogo ini berasal dari klan Penunggang Kuda – yang rada-rada bar-bar sih. Mengerikan kalo udah  baca gimana perlakukan mereka terhadap orang-orang yang mereka taklukan.

O ya, satu lagi yang rasanya pengen gue ‘jitakin’ adalah Pangeran Jeoffreys. Setelah raja mangkat, otomatis dia jadi raja. Di usia belia, dia udah naik mudahnya memengal kepala orang.

Dalam cerita kaya’ begini, tentu saja banyak tokoh-tokohnya. Di awal-awal, gue sempet bolak-balik karena agak-agak ‘tersesat’. Tapi, meskipun begitu, gak seperti membaca Lord of the Rings, dalam Game of Thrones, pelan-pelan gue bisa mengenal para tokoh. Dan langsung ikutan ngeri ketika tokoh-tokoh utama mulai ‘tumbang’….  

Jon, Robb Stark, Arya, Pangeran Jeoffrey, Sansa, Bran – mereka baru berusia belasan tahun, tapi sudah sangat dewasa dalam berpikir dan bertindak. Mereka diajarkan sejarah kerajaan dan klan mereka di usia dini, berlatih menggunakan pedang, dan bagaiman bertindak dengan bijaksana.


Yang bikin buku ini gak membosankan adalah pergantian karakter dalam setiap bab. Meskipun mereka berada di tempat yang jauh berbeda, tapi tetap terasa hubungan cerita satu sama lain, dan membuat gue juga lebih mengenal para tokoh-tokoh utama.

Tuesday, April 05, 2016

A Monster Calls


A Monster Calls (Panggilan Sang Monster)
Nadya Andwiani (Terj.)
GPU – Februari 2016
216 hal.

'Jika kau mengutarakan kebenaran, bisik sang monster di telinganya, kau akan sanggup menghadapi apa pun yang akan terjadi.'

Merelakan seseorang yang sangat kita sayangi, adalah hal yang paling berat yang gue rasakan … Adakalanya, denial jadi salah satu pelarian … berharap semua ini bohong dan … yup… seperti salah satu iklan yang pernah gue liat di facebook … berharap kalau bokap gue lagi ‘main petak umpet’ .. cuma lagi pergi bentar … ketika gue melihat beliau terbaring … gue berharap tiba-tiba bokap gue bangun ..  *ma’ap curhat bentar*

Connor, berusia 13 tahun. Ia sering mengalami mimpi buruk, tapi ia selalu diam, sendirian, gak mau cerita pada siapa pun. Terlebih lagi pada ibunya yang sedang sakit keras. Suatu hari, tepat jam 00.07, monster berwujud pohon Yew, mendatangi Connor. Connor beranggapan itu hanya mimpi buruk belaka, sampai di pagi hari ia melihat daun-daun pohon Yew berserakan di kamarnya. Di bukit di  belakang rumah Connor, memang ada pohon yew yang tumbuh, menaungi kuburan di sekitarnya.

Meskipun agak-agak takut, tapi Connor berusaha menunjukkan kalau dia gak takut dengan monster itu. Setiap malam, di jam yang sama, sang Monster datang. Ia menceritakan 3 kisah, yang bikin Connor sedikit ‘emosi’ karena buat dia gak jelas itu cerita apaan. Tapi, si monster ini dengan bijaksana, berusaha menjelaska bahwa yang jahat tidak selalu jahat, dan yang baik bukan gak mungkin berbuat salah.

Sementara itu, dalam kehidupan sehari-harinya, keadaan juga tak lebih baik. Kondisi ibunya semakin parah, berbagai pengobatan tak berhasil. Sementara, ayah Connor berada di Amerika bersama keluarga barunya. Di sekolah, Connor juga kerap di-bully. Tapi ia tetap diam dan memilih sendiri.

Monster ini meskipun terlihat seram, tapi dia berusaha ‘membentuk’ Connor menjadi lebih berani dan siap - berani mengakui kebenaran dan siap menghadapi kenyataan meskipun sangat pahit sekali pun … well… mau juga sih kalo ketemu monster baik hati begini …

Dan ya ampun .. ini buku cerita yang sarat kesedihan, rasa tertekan dan kesepian …. Dari judulnya, gue berpikir ini adalah cerita fantasi tentang sebuah negeri antah berantah dengan nama tokoh yang aneh-aneh dan susah diinget, plus cerita petualangan memerangi si monster … tapi, ini lebih rumit, lebih dari sekadar buku untuk anak-anak, yang mungkin bakal bikin depresi…. Cerita fantasi tapi dalam kehidupan sehari-hari yang ‘nyata’, dengan tokoh keluarga biasa-biasa aja, tanpa kemampuan ajaib.

Buku ini ditulis berdasarkan ide dari Siobhan Dowd, seorang penulis cerita anak-anak yang meninggal karena penyakit kanker. Didukung dengan ilustrasi dari Jim Kay, gue ikut ‘tertarik’ ke dalam dunia Connor – membuat gue merasa, apa yang yang gue alami dan rasakan, gak ada apa-apanya dibandingkan Connor …. *cari tissue …*


Friday, April 01, 2016

Lelaki Harimau


Lelaki Harimau
EkaKurniawan @ 2004
GPU – Cet. 4, Februari 2016
190 hal.

Suatu hari yang berjalan seperti  biasa .. tenang … ketika semua orang melakukan rutinitasnya sehari-hari. Tiba-tba dikejutkan dengan berita tragis … Anwar Sadat tewas .. mati terbunuh oleh Margio. Dengan kondisi yang sangat mengerikan. Anwar Sadat mati dengan luka menganga di lehernya.

Karuan hal ini jadi pertanyaan .. apa yang menyebabkan Margio berbuat sadis seperti itu? Jawaban Margio simple aja ‘Ada harimau dalam tubuhku’

Selesai .. sekian … itulah awal yang akan menggiring pembaca kepada kilas balik perjalanan hidup seorang Margio.

Margio lahir dalam sebuah keluarga yang tidak bahagia. Ayah yang kasar, ibu yang seolah hidup dalam dunianya sendiri. Ibu Margio, Nuraeni, adalah seorang kembang desa. Jodohnya sudah ditetapkan ketika ia berusia belasan tahun. Komar bin Syuaeb lah jodohnya. Dalam pernikahan itu, Margio kerap menyaksikan ayahnya memukul ibunya, bahkan Margio juga sering jadi sasaran amukan ayahnya. Dan akibatnya, Margio sangat membenci ayahnya, puncaknya ia melarikan diri dari rumah, karena takut emosinya memuncak hingga ia kerap berkata ingin membunuh ayahnya. Sikap Nuraeni yang tak peduli, pasrah dan masa bodoh itu timbul karena kekecewaan atas pengaharapan masa percintaan yang indah dan manis.

Sebagai anak muda, Margio penuh dengan emosi yang meluap-luap … tapi sayangnya itu bukan emosi dengan energi positif. Penuh kebencian dalam diri Margio, hasil dari kehidupan yang jauh dari kedamaian dan kenyamanan. Ada kalanya, ketika Nuraeni tiba-tiba rajin menanam bunga, Komar, dan juga Margio serta Mameh, adiknya,  berharap itulah saat Nuraeni berubah. Tak lagi hanya duduk di dapur dan berbicara dengan panci-panci. Tapi ternyata … rumah mereka malah mirip semak belukar. Ketika memang akhirnya Nuraeni bersolek, justru terjadi karena aib yang baru diketahui kemudia hari.

Emosi negatif Margio tersalurkan dengan berburu babi hutan, minum-minuman keras di warung kampung bersama teman-temannya. Tapi sesungguhnya, di balik itu semua, Margio adalah anak yang berbakti pada ibunya. Ia membiarkan kesenangan ibunya yang tiba-tiba, demi melihat seulas senyum dan rona bahagia di wajah ibunya.

Silahkan membenci Komar dengan segala kekasaran dan kebengisannya, silahkan mengasihani Nuraeni karena menerima semua perlakuan tak pantas itu. Tapi, jangan kaget, kalau tiba-tiba sikap itu akan berbalik. Seperti gue, yang seketika iba pada Komar dan memandang jijik pada Nuraeni.

Gue cukup sabar untuk gak membuka halaman terakhir, untuk mencari tahu ending dari cerita ini. Menikmati lembar demi lembar, yang minim dialog, dan .. surprisingly, gue gak bosan … Gue malah semakin penasaran mencari tahu ke mana cerita ini akan mengalir.


‘Perkenalan’ pertama dengan novel Eka Kurniawan. Seandainya buku ini gak menjadi salah satu nominasi Man Booker Prize, mungkin gue gak akan pernah melirik buku ini. Melihat judulnya aja, jujur .. sudah gak menarik bagi gue. Dan, menyenangkan rasanya perkenalan pertama ini membuat gue ingin membaca karya-karya beliau yang lain. 

Tuesday, March 29, 2016

Inteligensi Embun Pagi


Inteligensi Embun Pagi
DeeLestari @ 2016
Bentang - February 2016
724 hal.

Peretas ….

Sarvara …

Infiltran ….

Asko ….

…. dan lain-lain ….

Apa itu?? Aku bingung baca buku ini … ma’af banget ya, untuk semua fans garis keras-nya Dee … Tadinya, cuma mau kasih 2 bintang … tapi aku gak tega … sayang rasanya buku setebal ini, hasil kerja keras selama belasan tahun … jadi, bolehlah 3 bintang….

Okelah, aku senang akhirnya semua tokoh ketemu .. tapi, kenapa mereka jadi sosok superheroes dengan misi menyelamatkan dunia .. dan tiba-tiba banyak tokoh yang di awal biasa-biasa aja, jadi punya peran penting …

Yang baik, taunya jadi tokoh antagonis …

Mungkin kalau lupa sama cerita ini awalnya gimana, ada baiknya dibaca ulang lagi deh dari KPBJ .. meskipun gue masih gak nyambung … gimana cerita yang awalnya ada karangan Dimas dan Reuben, tiba-tiba jadi ‘nyata’ …

Tokoh favorit gue masih tetap Elektra dan Bodhi. Elektra yang rada-rada ‘konyol’, dan Bodhi yang misterius.

Kalo boleh  milih, gue lebih suka ketika tokoh-tokoh itu masih pada sendiri-sendiri di masing-masing buku .. biarkan mereka tetap misterius … gue gak merasakan adanya ‘chemistry’ (atau karena gue gak ngerti ya?? Hehehe …) waktu mereka bareng-bareng … even itu antara Gio dan Zarah … tapi gue suka hubungan ‘baru’ antara Elektra dan Mpret aka. Toni …

Dan kenapa tokoh-tokoh di awal novel ini, misalnya Dimas, Reuben, Ferre bahkan Diva … koq kaya’ jadi pelengkap aja? Kaya’ buat nyambung-nyambungin gitu antara cerita yang mereka tulis dengan para jagoan itu?

Aku … aku gak bisa nulis review-nya … karena aku terlalu bingung … aku jadi emosi baca buku ini .. berharap menemukan suatu jawaban …


Tapi .. gue masih menantikan karya-karya Dee yang lain … yang kira-kira lebih ‘membumi’, yang ringan tapi gak menye-menye … yang kira-kira rada berat tapi masih bisa dicerna …
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang