Sunday, December 27, 2015

The Book and The Riddle – Secret Santa 2015


Dear Secret Santa,

Terima kasih untuk bukunya. Seneng banget ketika di hari-hari ‘kering’ paket, tiba-tiba dikasih tau ‘ada paket di depan nih, mbak …’ Hmm… padahal lagi gak nunggu pesenan buku dari mana-mana …. Tapi … apakah itu paket dari santa-ku? Segeralah aku ke depan, dan langung buka deh paket itu di ruangan. Ternyata … di dalamnya ada dua buku – The Girl on Train dan Project Rossie … Tapi, dibolak-balik… sambil bertanya-tanya, ‘ini bener dari secret santa? Atau malah dari secret admirer?’ *ngarep*
Soalnya gak ada petunjuk sama sekali. Hanya ada selembar kertas rincian order.




Hah??? Gak ada riddle-nya?? Trus gimana aku harus nebak dongg….? *teganya dirimu ….*

Akhirnya, riddle pun diterima via wa … dan mau pingsan ini …. Riddle dari dirimu berisi kode-kode bahasa planet yang sangat ajaib …. *aku pusinnnnnng*


Minta bantuan para detektif riddle, beberapa langsung kasih alternative gimana cara memecahkan riddle itu …

Dan sampai detik ini… aku masih terus berjuang….

Semoga aku bisa menebak dengan jitu dan tepat sasaran …


Terima kasih sekali lagi, dear Secret Santa ….

Friday, November 06, 2015

Dark Places


Dark Places (Tempat Gelap)
Dharmawati (Terj.)
GPU 2015
472 hal.

25 tahun yang lalu, sebuah pembunuhan keji terjadi di Kinnakee, Kansas. Korbannya adalah seorang ibu dan dua perempuan. Mereka tewas dengan cara yang sangat keji dan sadis. Korban yang selamat, Libby Day, yang ketika itu berusia 7 tahun, bersaksi bahwa Ben Day, kakak laki-lakinya yang sudah membunuh ibu dan dua saudara perempuannya. Banyak yang menduga, mereka dijadikan korban untuk pemujaan setan.

Libby Day jadi terkenal, banyak orang yang bersimpati. Mereka memberikan bantuan secara moril dan materil. Beranjak dewasa, Libby menjadi pribadi yang cenderung malas, tertutup dan masa bodoh. Ia bergantung pada uang hasil bantuan orang-orang, Ketika uang itu mulai menipis, mau tak mau, ia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Tapi, karena mala situ, ia tak tertarik pada pekerjaan apa pun atau bahkan untuk mencari pekerjaan.

Secara kebetulan, datang tawaran dari sebuah perkumpulan rahasia bernama Klub Bunuh. Kasus ini menarik bagi sekelompok orang-orang, yang sebagian besar percaya bahwan Ben tak bersalah. Mereka juga bersedia membayar mahal untuk benda-benda yang berasal dari keluarga Day.

Meskipun awal pertemuan tidak berjalan dengan lancar, tapi justru membawa Libby kepada suatu hal yang baru. Ia malah berusaha mencari jawaban dari apa yang sudah terjadi di malam itu. Penyelidikan itumembawa Libby ke berbagai pelosok, mencari jejak dan membuat Libby memberanikan diri untuk membuka kembali kenangan masa lalunya.

Awal cerita rada lamban, berselang-seling antara Libby di masa sekarang, dan penuturan Ben dan Patty – ibu Libby, pada tanggal 2 Januari 1985, hari di mana terjadi kejadian tragi situ. Ben dan Patty ‘menggambarkan’ keadaan di rumah mereka, sejak pagi hingga tengah malam.

Jujur aja, sejak awal ketika bagaimana korban digambarkan, gue udah harap-harap cemas, setiap membaca bagian Ben dan Patty, karena setiap judul bab ditulis dalam hitungan jam, gue pun jadi deg-degan ketika waktu semakin menunjukkan tengah malam, menjelang detik-detik kejadian. Dan gue ‘jijay’ banget sama Diondra, pacarnya Ben,  yang super jorok.

Suasana di dalam buku ini suraaammmm banget. Keluarga yang berantakan, ibu yang bingung, anak yang gak keurus, (mantan) suami yang pemabuk, teman-teman yang tukang teler.

Meskipun gak ‘sesarap’ Gone Girl, tapi buku ini yang tetap bikin penasaran. Ada satu bagian yang gue merasa, koq biasa aja, ketika Libby berhadapan dengan sang pembunuh. Gue merasa, sering banget sering ngeliat ini di film atau baca di buku-buku lainnya.


Yang pasti, setelah dua kali baca buku Gillian Flynn, pastikan ‘jantung’ sehat, emosi kuat dan jangan bad mood, karena buku-bukunya beliau ini cenderung membuat pembaca emosi jiwa dan ikutan sinting.

Wednesday, November 04, 2015

Wishlist Secret Santa 2015



Hai .. hai .. hai …
Seneng banget akhirnya datang juga event yang ditunggu-tunggu … apalagi kalau bukan Secret Santa …
Sekarang nih pastinya, mulai pada sibuk bikin riddle, harap-harap cemas .. siapa nih santa gue kali ini … sibuk nyari buku buat wishlist … dan para detektif riddle siap beraksi …

Jadi meskipun akhir-akhir ini, blog ini rada ‘terbengkalai’, gue gak akan melewatkan event Secret Santa.

Halo Secret Santa-ku …
Ini wishlist-ku kali ini … semoga gak susah nyarinya ya …


‘Cukup’ 6 aja wishlist-ku .. kebanyakan browsing malah bingung sendiri :D
Yang mana pun itu, aku terima dengan senang hati. Silahkan di klik di judul bukunya untuk tahu link online shop-nya.


Terima kasih  banyak , Secret Santa-ku 

Thursday, September 17, 2015

Cupcakes at Carrington’s


Cupcakes at Carrington’s
Nurkinanti Larakusuma (Terj.)
GPU 2015
368 hal

Georgie Hart bekerja di bagian penjualan tas mewah di Carrington, sebuah department store di kota tepi pantai. Terkadang, saat ia ingin santai, ia mampir ke café milik temannya yang terletak di department store yang sama. Di sana, ia berpuas-puas diri untuk mengudap cupcakes yang super enak.

Karena resesi ekonomi, maka Carrington pun terkena dampaknya. Diputuskan untuk melakukan peremajaan. Pimpinan Carrington mendatangkan seorang wanita bertangan besi, bernama Maxine. Ia dipercaya untuk melakukan perombakan demi menyelamatkan Carrington.

Semua pegawai, tak terkecuali Georgie, dituntut untuk menunjukkan performance terbaik mereka agar bisa mempertahankan pekerjaan mereka.

Georgie harus bersaing dengan rekan kerjanya, James plus Tom, pegawai baru yang ganteng dan bikin Georgie deg-degan. Jadinya, selain galau karena kerjaan, Georgie juga galau, pilih James apa Tom … soalnya dua-duanya ganteng sih ….

Tapi, Georgie merasa ada yang gak beres dengan Maxine. Maka ia pun bertekad mencari latar belakang Maxine dan berusaha membongkar kebusukan dan permainan kotor Maxine, meskipun pekerjaannya jadi taruhan.

Sebenernya sih, tipikal cewek dalam buku – Georgie Hart, gak jauh bedalah sama rata-rata buku chicklit lainnya. Kehidupan percintaan yang gak terlalu oke, terbelit hutang di bank, doyan ngemil tapi gak mau gemuk, dan kadang-kadang bersikap konyol. Tapi, masa lalu Georgie yang rada suram membuat gue jadi simpati sama Georgie. Ibunya meninggal, sementara ayahnya di penjara, hingga Georgie harus tinggal bersama orang tua asuh. Ia tidak mendapatkan perawatan yang layak, dan ketika ia dewasa ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang lebih baik.

Buat gue, buku ini pas banget dibaca setelah baca Everything I Never Told You yang muram itu. Buku ini juga pas dibaca sambil santai-santai, ngupi-ngupi cantik sambil ngemil cupcakes. Pas kan sama judul bukunya … cover cantiknya juga ‘menggugah’ selera, hingga akhirnya gue memutuskan membaca buku ini. Buku yang menghibur.


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Cover Lust
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015


Wednesday, September 16, 2015

Everything I Never Told You


Everything I Never Told You
Black Friars
297 hal

Kalau mood lagi kurang bagus, sebaiknya jangan baca buku ini. Karena keseluruhan isi buku ini bakal bikin tertekan dan depresi.

Lydia ditemukan tewas, tenggelam di danau dekat rumah mereka. Berbagai pertanyaan timbul di benak Marilyn dan James Lee. Lydia yang mereka kenal adalah anak yang penurut, pintar dan selalu mengikuti apa yang diinginkan oleh orang tua mereka, terutama mengikuti keinginan Marilyn berambisi mewujudkan impian masa mudanya pada diri Lydia. Sementara James, ingin Lydia jadi anak yang supel, mudah bergaul dengan teman-temannya. Tapi mereka berdua tidak pernah bertanya apa yang sesungguhnya diinginkan Lydia. Apa Lydia benar-benar menyukai segala pelajaran sains atau matematika? Apa benar Lydia punya teman-teman dekat seperti yang diyakini James? Lydia selalu menjadi favorit kedua orang tuanya, hingga kadang mereka lupa, masih ada Nathan dan Hannah.

Terlahir dari keluarga campuran Amerika – Cina, membuat Lydia sedikit sulit dalam pergaulan. Sebagai minorita, Lydia kerap jadi olok-olokan karena berbeda. Banyak teman-temannya yang hanya memanfaatkan kepintaran Lydia, tapi tak mengajak Lydia untuk bergaul.  Karena ini membahagiakan ibunya, maka Lydia berjanji untuk selalu patuh. Ia melakukan apa pun yang diinginkan ibunya meskipun tersiksa.

Sementara itu, Nathan, kakak Lydia merasa, Jack, salah satu pemuda di lingkungan mereka punya andil dalam perubahan sikap Lydia di hari-hari terakhir menjelang ia menghilang. Lalu, Hannah, si anak terkecil yang sering tidak dianggap, justru yang paling mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Dalam suasana duka, keluarga ini membuka rahasia-rahasia yang selama ini menghantui diri mereka masing-masing.

Marilyn, si gadis kulit putih, gadis yang cerdas, yang punya cita-cita tinggi ingin jadi dokter, tapi akhirnya melupakan impan itu ketika menikah dengan James, seorang pemuda keturunan imigran Cina. Ia harus meyakinkan ibunya sendiri, bahwa pilihannya tepat. Gagal dengan cita-ditanya itu, ia pun berharap sangat besar sama Lydia. Sejak kecil, Lydia sudah dibiasakan untuk menghafal perkalian, fisika, anatomi tubuh manusia. Di kamarnya ada poster rumus kimia, hadiah ulang tahun berupa stetoskop dan buku-buku yang super tebal. Karena Lydia tidak pernah mengeluh, maka Marilyn pun gak sadar ada yang salah sama anaknya.

James, si pemuda minoritas, seorang dosen yang terkadang dianggap sebelah mata karena perbedaannya itu. Ia ingin anak-anaknya bisa bebas bergaul dengan siapa saja. Sementara itu, ia juga merasa ada yang salah dengan pernikahannya, ia beranggapan Marilyn tidak bahagia.

Nathan, yang berjuang sendiri agar diperhatikan orang tuanya. Sebenernya nih, Nathan ini juga pintar, ia tahu apa yang ia inginkan, minatnya ke mana. Tapi ,sayangnya, perhatian orang tuanya tercurah sama Lydia, hingga kadang mereka gak liat kemampuan anan tertua mereka ini. Selain itu, Lydia sendiri takut, suatu hari nanti abangnya ini akan meninggalkan dia sendirian, menghadapi segala tekanan dari orang tua, ejekan dari teman-temannya. Padahal nih, Nathan sendiri sempat merasa benci sama Lydia.

Si kecil Hannah, menyerap semua kejadian di sekitarnya dalam diam. Tapi, ia sebenarnya yang mengerti dan memahami semua rahasia dalam diri Lydia.

Jadi, apa sih yang menyebabkan kematian Lydia? Apakah ada orang yang jahat? Apa ini bunuh diri seperti yang diduga polisi? Tapi yang jelas, di dalam buku ini ada tentang bullying, tentang orang tua yang berharap terlalu besar sama anaknya, sampai lupa tanya si anak ini maunya apa sih? Sementara keterbukaan di antara mereka, komunikasi juga minim.

Apa yang bikin baca buku ini jadi membuat gue ikut depresi? Karena suasana yang muram dari awal, karena semua orang jadi merasa bersalah. Jujur aja, gak ada ‘keceriaan’ dalam buku ini. kadang 'aura' dalam buku, ikut pengaruh sama yang baca... bener gak sih? Baca buku ini, selain depresi, bikin jadi gregetan dan ngeselin. Cuma rasa penasaran yang udah dari awal, sejak kalimat pertama baca buku ini, yang akhirnya bikin gue bisa bertahan. 

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Favorite Color
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Thursday, August 20, 2015

I’ll Give You the Sun


I’ll Give You the Sun
Walker Books, 2015
429 pages

Gue jarang membaca kisah tentang anak kembar – kecuali serial St. Claire. Kalo itu sih cerita tentang anak kembar yang kaya’nya tanpa masalah atau problem yang rumit. Tapi di buku ini, gue menemukan dunia anak kembar yang sedikit bikin pusing.

Buku ini diceritakan secara bergantian oleh Noah dan Jude – Noah yang berumur 14 tahun dan ketika Jude berumur 16 tahun.

Noah – tipe-tipe anak lelaki yang penyendiri, suka melukis dan berimajinasi. Dalam narasinya, suka diselipkan kalimat ide dari lukisan atau potongan adegan dalam kehidupan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Berbeda dengan Jude, saudari kembarnya yang gaul.

Di usia remaja, usia di mana terjadi sedikit ‘pemberontakan’ dalam diri Jude. Semakin diatur sama ibunya, semakin Jude menunjukkan sifat berlawanan.

Kedekatan mereka ‘terganggu’ oleh rasa kecewa yang ada di dalam diri Noah dan Jude. Diawali dengan Noah yang kecewa karena Jude mendekati cowok yang dia sukai. Lalu, adanya ‘kompetisi’ yang diadakan ibu mereka, tanpa sengaja membuat jarak di antara mereka.

Ini gara-garaya, konon arwah Nenek mereka yang baru meninggal, berpesan bahwa Noah dan Jude harus masuk sekolah seni. Maka ibu mereka mengajak Noah dan Jude ke museum lalu membuat sketsa, dan akan dipilih siapa yang dirasa paling berbakat. Di sinilah Jude merasa bahwa ibu mereka lebih berpihak pada Noah. Jude merasa dilupakan.

Mungkin bakal dibuat bingung antara narasi Noah 14 tahun dan Jude 16 tahun. Apa yang terjadi di rentang dua tahun itu, akan mengerucut menjadi sebuah titik di mana pembaca akan jelas apa sebenarnya yang sedang terjadi. Menjawab berbagai pertanyaan kenapa Noah jadi ‘berantakan’, koq malah Jude yang masuk sekolah seni, siapa si English guy yang keren itu atau si pemahat yang misterius.

Buku yang diceritakan secara bergantian begini, selalu berhasil membuat gue penasaran. Satu kejadian dengan berbagai sudut pandang, yang bikin berbagai dugaan jadi sebuah kesimpulan. Ketika membaca bagian Noah, gue ikutan merasa sendiri dan kesepian, berasa ikut bermimpi bareng Noah. Ketika bagian Jude – yang cenderung lebih kelam, gue merasa ikutan  meresa hopeless, atau gelisah atau merasa bersalah, pengen berbaikan lagi dengan Noah.

Tokoh-tokohnya juga likeable. Noah si pemimpi – duh gue pengen gitu bisa bikin sketch kaya’ Noah. Atau Jude yang percaya sama hal-hal yang rada mistis. Gue suka hubungan antara Noah dan Jude, dengan hubungan yang gak terlalu harmonis, tapi mereka tetap saling melindungi, biarpun hanya dari jarak jauh.

Ooo.. gak ketinggalan Granma Sweetwine, dengan bible-nya yang berisi hal-hal superstitious, yang punya panggilan sayang untuk Tuhan. J

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Cover Lust
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Friday, August 14, 2015

Al Capone Does My Shirts


Al Capone Does My Shirts
Puffin Books
April 2006
288 hal.

Aduh ya ampunnn… udah lama banget sejak terakhir gue nulis blog ini. Entah kenapa mood nulis, bahkan mood baca rada menurun. Satu buku bisa lama banget gue selesain. Dan kalo pun udah selesai baca, ya udah, balikin lagi ke rak buku, terus lupa mau di-share di blog.

Mumpung lagi agak lowong dan agak-agak pengen santai dikit, gue mencoba mengingat-ingat beberapa buku terakhir yang gue baca.

Baca buku kategori anak memang selalu menyenangkan, gak harus melulu bercerita tentang hal-hal yang happy sepanjang buku, tapi juga cerita segala kerumitan dalam dunia anak yang kadang bikin gue ngerasa, masalah yang gue hadapi belum seberapa dibanding yang ada di dalam cerita.

Al Capone Does My Shirts – judulnya menggoda banget, selain cover-nya yang merah cerah. Siapa yang gak tau Al Capone, seorang gangster Amerika yang sangat berbahaya. Ia terlibat dalam berbagai kriminal – sebut aja penyelundupan minuman keras, penggelapan pajak, bahkan prostitusi. Tapi, ia juga bagai Robin Hood, di mana ia menggunakan uang illegal untuk membantu berbagai berbagai kegiatan amal. Al Capone juga diduga mendalangi sebuah pembunuhan masal di hari Valentine. Ia pun ditahan di penjara Alcatraz, sebuah penjara yang sangat ketat, dikenal dengan sebutan The Rock.

Okelah … ini bukan buku tentang Al Capone. Ini tentang Moose, anak laki-laki berusia 12 tahun yang harus pindah ke Pulau Alcatraz karena ayahnya mendapatkan pekerjaan sebagai penjaga penjara. Tentu saja pindah ke pulau, jauh dari pusat kota, menjadi hal yang menyebalkan buat Moose. Kebayang betapa membosankannya , ia harus meninggalkan teman-teman lama-lamanya, masuk ke sekolah yang baru, beradapatasi lagi.  Belum lagi, ia harus menemani kakak perempuannya, Natalie yang mengidap sindrom autis. Ayahnya sibuk bekerja, sementara ibunya juga mencurahkan seluruh perhatian untuk Natalie. Tentu saja sebagai ibu, ia berharap Natalie bisa menjadi gadis ‘normal’, berkomunikasi dengan baik. Hal ini kadang membuat Moose merasa terabaikan, dan ingin sedikit merasakan kebebasan tanpa harus dibebani tugas untuk menjaga Natalie.

Di tempat  baru ini, Moose mulai berkenalan dengan beberapa anak sebaya – ada yang menjadi teman, dan ada satu anak perempuan yang ngeselin dan merasa sangat berkuasa hanya karena dia anak sipir Penjara Alcatraz. Dan mulailah Moose ‘terlibat’ dalam sebuah kegiatan yang melibatkan nama Al Capone untuk menarik perhatian. Melihat narapidana di Alcatraz, apalagi yang sekaliber Al Capone menjadi keinginan tersendiri bagi para anak-anak itu. Karena melihat narapidana adalah hal yang terlarang di Alcatraz.  Maka sekecil apa pun hal-hal yang berhubungan dengan narapidana menjadi hal yang menarik untuk anak-anak itu. Jadi dihembuskanlah desas-desus bahwa baju-baju mereka akan dicuci oleh Al Capone. Karuan saja, meskipun antara percaya dan tak percaya, teman-teman baru Moose tergoda untuk merelakan uang mereka demi agar baju mereka dicuci oleh Al Capone.

Gak kebayang gimana rasanya tinggal di lingkungan penjara. Apakah akan mengerikan, takut atau gak nyaman? Tapi katanya, justru di sinilah tempat yang paling aman. Ya, liat aja, para narapidana kan terkunci dengan ketat di balik jeruji, dengan penjagaan yang super ketat. Konon katanya lagi, pagar-pagar tak terkunci, anak-anak juga bebas bermain sampai  batas-batas yang ditentukan. Hanya saja, para perempuan – anak-anak atau dewasa, harus berpakaian tertutup. Karena kan .. .mmm.. ada banyak narapidana pria yang bertahun-tahun gak liat perempuan, jadi ya jaga-jaga aja deh… jadi, the most scariest place in the world, justru tempat yang paling aman. Belum lagi, ternyata fasilitasnya juga lengkap – kantor pos, sekolah, toko kelontong dan fasilitas penunjang lain. Gambaran ini membuat gue mendapatkan banyangan seperti apa keadaan keluarga Moose.

Satu lag yang menarik, buku ini gak hanya bercerita tentang petualangan Moose di Alcatraz, tapi juga sekelumit kisah tentang keluarga yang salah satu anggotanya pengidap sindrom autis. Bagaimana sang ibu yang berusaha keras agar Natalie bisa mendapatkan pendidikan atau terapi yang bisa membantunya keluar dari dunianya sendiri, bagaimana ayah Moose yang bekerja keras atau Moose yang menyayangi kakaknya, tapi juga kadang emosi dan frustasi hingga ingin menjauh dari kakaknya.


Gennifer Choldenko mengangkat kisah seputar keluarga yang tinggal di Alcatraz. Di bagian akhir cerita, ada beberapa wawancara dengan anak-anak yang dulu tinggal di sana. Dan Al Capone Does My Shirts adalah salah satu buku dari 3 seri Al Capone at Alcatraz.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Freebies Time
New Author Reading Challenge 2015
Children Literature Project

Project Baca Buku Cetak 2015

Thursday, June 04, 2015

To All the Boys I’ve Loved Before


To All the Boys I’ve Loved Before
Jenny Han @ 2014
Airien Kusumawardani (Terj.)
Penerbit Spring - 2015
380 hal.

Lara Jean memiliki sebuah kotak topi pemberian mendiang ibunya. Di dalam kotak ini, ia menyimpan segala benda-benda berharga dan sangat rahasia. Di antaranya adalah surat-surat yang ia tujukan kepada cowok-cowok yang pernah ia sukai. Tapi gak dikirim sih, tepatnya, surat ini sebagai sarana untuk melampiaskan rasa sedih, kecewa dan patah hati karena gak kesampaian punya hubungan special dengan cowok itu. Setelah surat itu selesai, maka Lara Jean akan merasa lebih lega, karena segala macem perasaan dia ke cowok itu bakal hilang.

Tapi, suatu hari … tanpa disangka-sangka, surat-surat itu terkirim secara misterius. Karena .. ya sayangnya, meskipun surat itu gak dikirim, di amplopnya tetap tertulis nama dan alamat penerima. Salah satu penerima surat itu, Peter Kavinsky, cowok yang pernah disukai Lara Jean, tiba-tiba mendatanginya sambil membawa surat tersebut. Karuan Lara Jean panik, karena surat-surat itu bukan hanya ditujukan untuk Peter, tapi juga ada yang ke Josh, mantan pacar kakaknya, yang juga tetangga Lara Jean dan sering banget main ke rumah.

Setelah kejadian ini, dunia Lara Jean tak sama lagi. Lara Jean jadi gak tenang. Hubungan dia dengan Josh juga jadi kaku. Lara Jean takut mengkhianati kakaknya. Sampai akhirnya, biar Josh gak ‘mengganggu’, maka Lara Jean membuat kesepakatan dengan Peter, bahwa mereka akan berpacaran bohong-bohongan.

Tapi, hubungan pura-pura itu juga jadi rumit, Lara Jean bukan termasuk gadis yang populer di sekolah, sementara Peter Kavinsky adahal salah satu cowok idola para gadis dan baru saja putus dengan pacarnya. Perasaan Lara Jean juga jadi terbelah, antara masih memendam perasaan sama Josh, tapi juga koq ya ada rasa-rasa yang ‘gak bener ketika dia bersama Peter.

Lara Jean ini, tipe gadis yang susah untuk keluar dari comfort zone-nya. Takut mencoba hal baru, takut dengan segala perubahan dan lebih sering mengorbankan perasaannnya daripada  harus membuat orang yang ia sayangi kecewa. Sebagai anak kedua, ia terbiasa dengan perasaan secure dengan adanya seorang kakak perempuan. Lara Jean memiliki satu kakak perempuand dan satu adik perempuan. Ibu mereka sudah meninggal, sehingga mereka terbiasa mengurus segala urusan rumah tangga sendiri. Tentu saja dengan Margot yang in charge dalam  berbagai hal. Ketika Margot sekolah ke Skotlandia, Lara Jean jadi sedikit kehilangan pegangan, terbiasa melimpahkan segala persoalan ke Margot, dan kini di saat ia panik karena rahasianya terbongkar, Lara Jean yang biasa tertutup, harus menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Gue suka dengan latar belakang keluarga ini, blasteran Korea-Amerika membuat mereka jadi keluarga dengan latar yang unik. Kebiasaan Amerika, bercampur dengan budaya Korea.

Dan di akhir cerita, gue jadi bingung – harus ‘puk-puk’ Josh apa Peter ya …  Baca cerita ABG begini, seru juga, sekali-sekali biar rada 'mudaan' dikit .. inget-inget masa ABG. Cerita yang ringan, berasa kaya’ mereka ini ya tetangga sebelah rumah gue.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Who Are You Again?
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Wednesday, May 20, 2015

The Golem and The Jinni


The Golem and The Jinni (Sang Golem dan Sang Jin)
Helena Wecker
Lulu Fitri Rahman (Terj.)
GPU - 2015
664 hal.

Ini adalah sebuah kisah persabahatan yang unik, yang bermula dari hal-hal yang tak terduga.

Seorang pria kesepian, mencari seorang istri. Tapi karena penampilan yang tertalu menarik, padahal ia banyak uang, ia agak kesulitan mendekati wanita. Maka, ia pun menempuh cara yang sangat ekstrim dan ajaib. Ia datang kepada seorang Rabi bernama Yehudah Schaalman, dan minta dibuatkan sebuah golem dalam wujud perempuan untuk ia jadikan istri. Meskipun ini adalah permintaan yang tak biasa, toh Rabi menyanggupinya. Ketika golem itu selesai, sejumlah petunjuk diberikan kepada pria itu, sebelum ia ‘menghidupkan’ golem tersebut.

Berlayarlah golem dan pria itu menuju New York. Karena tak sabar, golem itu segera ‘dihidupkan’. Golem yang diberi nama Chava itu akan mengikuti apa pun perintah tuannya – yang sayangnya dalam perjalanan itu meninggal dunia karena sakit. Golem perempuan itu dipandang sebagai janda yang berduka, meskipun menimbulkan banyak pertanyaan dari penumpang lain.

Tak tahu harus berbuat apa, maka Chava tiba di Amerika. Chava sangat lugu dan polos, tapi ia juga punya rasa takut ketika nyaris ditangkap polisi. Untung ada Rabi Meyer yang menyelamatkannya. Sang Rabi tahu bahwa Chava adalah sosok yang berbeda. Sejak saat itu, Rabi Meyer mengajak Chava tinggal bersama, mencarikan pekerjaan dan membimbing Chava agar bisa berbaur. Sulit bagi Chava untuk menahan diri, karena ia bisa ‘mendengar’ apa yang ada di benak orang-orang.

Sementara itu, ada jin yang tanpa sengaja dibebaskan dari guci yang hendak diperbaiki di sebuah bengkel pandai besi. Arbeely, pemilik bengkel itu, tentu saja kaget ada makhluk berwujud laki-laki muncul begitu saja. Jin itu diberi nama Ahmad. Terkurung 1000 tahun dalam guci, membuat Ahmad sedikit bingung karena menemukan dirinya ‘terdampar’ jauh dari tempat asalnya. Ternyata kedatangan Ahmad membuat bengkel Arbeely tambah maju, karena Ahmad ini juga terampil mengolah logam.

Ketika Chava dan Ahmad bertemu, mereka berdua langsung tahu kalau mereka berbeda. Chava sempat ketakutan, tapi lama-lama menantikan pertemuan mereka, di mana mereka mengenal satu sama lain dan pelan-pelan saling memahami. Ahmad mengajak Chava melihat hal-hal baru, Chava yang pemalu pun mulai membuka dirinya. Hingga akhirnya, mereka berdua sampai pada satu titik yang membuat mereka sama.

Sulit membayangkan bahwa Chava, sosok perempuan, berbadan ‘besar’ dan ‘kekar’, tapi punya sisi yang lembut. Tapi juga harus hati-hati, jika ada yang mengganggunya, maka sifat asli sebagai ‘penghancur’ akan timbul. Sementara, Ahmad, jin yang tentu saja berasal dari api, membawa kehangatan dan rasa nyaman. Ahmad sosok yang misterius, yang terus mencari apa yang membawanya sampai ia bisa terperangkap dalam guci. Chava dan Ahmad, sama-sama mencari kebebasan, sama-sama sendiri .

Termasuk kategori novel ‘bantal’ tapi rasanya menyenangkan membaca kisah mereka berdua. Pergantian bab dengan sudut pandang yang berbeda, berpindah secara ‘mulus’. Ada banyak detail yang berbeda di dalam buku ini. Pertama, tentu saja sosok Chava dan Ahmad. Lalu latar budaya, misalnya lingkungan tempat Chava tinggal, mayoritas adalah umat Yahudi, sementara Ahmad berada di lingkungan yang mayoritas Muslim.

Berbagai karakter manusia juga ada di dalam buku ini, Yehudah Schaalman yang menurut gue sih rada tamak dan mau menguasai segalanya, Rabi Meyer yang sabar, Maryam Faddoul yang ramah, tapi juga ‘rumpi’, Sophia – mewakili kalangan kelas atas di New York, putri keluarga terpandang yang tentu saja segala aib menyangkut dirinya harus disembunyikan rapat-rapat.


Membaca novel tebal ini jadi gak terasa membosankan, malah semakin ke belakang, semakin menarik dengan berbagai detail yang bikin penasaran.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Chunky Brick
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, April 28, 2015

Secret Daughter


Secret Daughter

William Morrow – 2010
346 pages

Dahanu, India
Seorang perempuan bernama Kavita, berjuang menghadapi persalinannya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi, bayi perempuan yang akan segera lahir itu harus segera ‘disingkirkan’. Bayi ini adalah anak kedua Kavita dan Jasu, tapi lagi-lagi perempuan. Jasu bersikap masa bodoh, dan tak peduli apa yang akan dilakukan Kavita terhadap bayi tersebut.

3 hari setelah dilahirkan, Ashu – bayi perempuan itu, diserahkan ke panti asuhan di Mumbai.

Setahun kemudian, Kavita mengandung lagi, kali ini laki-laki dan disambut dengan suka cita oleh Jasu dan keluarganya. Perlakukan mereka terhadap Kavita sangat berbeda dibanding ketika Kavita mengandung anak perempuan.

Amerika
Sementara itu, Somer dan Khrisnan, pasangan dokter ini, menghadapi masalah. Lagi-lagi, Somer keguguran dan divonis tidak akan bisa mengandung lagi karena mengalami ‘menopause dini’.

DI tengah keputusasaan, Khrisnan menawarkan alternatif untuk mengadopsi anak dari India. Dengan birokrasi yang berbelit-belit, akhirnya, seorang anak perempuan resmi diadopsi oleh Somer dan Khrisnan.

Masalah budaya, adat istiadat, kepercayaan dan social menjadi isu di dalam buku ini. Pertama, bahwa anak laki-laki dinilai lebih ‘berharga’ dibanding anak perempuan. Anak laki-laki diharapkan menjadi tulang punggung dan kebanggaan keluarga, yang akan membawa keluarganya ke arah yang lebih baik. Sementara, anak perempuan dianggap bawa ‘sial’ – yang nantinya akan nyusahin, terutama saat akan menikah. Dalam budaya India, pihak calon mempelai perempuanlah yang harus membayar mahar. Dan semakin tua umur perempuan, semakin sulit mendapatkan calon menantu yang layak. Maka itu, banyak jabang bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup, dibuang atau diserahkan ke panti asuhan.

Dalam hal Somer, sebagai perempuan Amerika, tentu saja sulit untuk menerima atau menyerap budaya India. Terkadang ia merasa ada jarak antara dirinya dan Asha, yang otomatis lebih mirip dengan Khrisnan yang memang berasal dari India.

Tapi gue salut dengan keluarga Khrisnan, yang meskipun orang India yang sangat menghargai tradisi dan budaya, bisa menerima Somer dan tak membahas masalah infertilitas Somer.

Yang membuat gue agak terganggu, adalah terlalu banyak cerita dari berbagai sudut pandang – ada Kavita, Asha, Somer, Khrisnan, Jasu. Gue mungkin masih bisa lebih menikmati kalau yang bercerita adalah Kavita, Somer dan Asha. Biar lebih fokus dan ‘terasa’ dramanya.


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: It’s Been There Forever
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015


Tuesday, March 24, 2015

Me Before You


You (Sebelum Mengenalmu)

Jojo Moyes @ 2012
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Mei 2013
656 hal.


*  Watch Out!! Ada SPOILER sedikit*

*sigh* … gimana nih mau nulisnya … abis ceritanya sedih sih … meskipun sejak awal gue bakal tau ending-nya kaya’ gimana … tapi dengan bodohnya gue berharap akhir yang berbeda …

Louisa Clark, seorang gadis muda dengan pembawaan yang ceria, penggemar fashion yang rada aneh untuk ukuran kota kecil. Karena pemilik café tempatnya bekerja memutuskan pulang ke Australia, Lou-pun kehilangan pekerjaannya. Padahal ia adalah tulang punggung keluarga. Sampai akhirnya, bursa kerja menawarkan pekerjaan baru dengan bayaran yang cukup tinggi. Meskipun tanpa pengalaman, Lou diterima bekerja sebagai perawat Will Traynor.

Will Traynor, mantan pengusaha yang lumpuh akibat kecelakan motor. Will yang tadinya aktif, seorang petualang dan bertubuh bugar ,menjadi pribadi yang murung, pendiam dan mudah marah. Ya, Dengan kondisi yang nyaris 24 jam butuh bantuan, tentu saja membuat Will frustasi.

Menjadi perawat Will tentu saja tak mudah bagi Lou – yang kaya’nya semua yang Lou kerjakan selalu salah dan mendapatkan tanggapan sinis dari Will. Tapi, dasar Lou ini orangnya cuek, adakalanya Lou malah balik ‘menantang’ kata-kata Will. Dan berkat sifat Lou yang polos ini, Will perlahan mulai sedikit lebih ceria.

Tapi, tentu saja lelah ya.. hidup hanya berputar-putar dengan kursi roda, gak bisa ngapa-ngapain tanpa dibantu, mudah sakit dan lain-lain. Lou mengetahui keputusan Will untuk menghubungi Dignitas – kira-kira artinya rumah sakit yang memberikan ‘pelayan’ bagi orang-orang yang sakit untuk ‘bunuh diri’ secara legal atau meninggal lebih cepat dari waktunya. Maka Lou pun berusaha membuat Will mengubah keputusannya – mulai dari mengajak Will nonton pacuan kuda, nonton musik klasik, sampai jalan-jalan ke Mauritius.

Dan bukan hanya Will yang jadi lebih bersemangat, tapi diam-diam Will juga berperan dalam perubahan pada Lou – gadis yang hanya berani bermimpi dan takut untuk keluar dari zona nyamannya. Sindiran-sindiran, ledekan Will malah membuat Lou percaya bahwa ia bisa ‘mengepakkan sayap’ dan terbang mewujudkan mimpinya.

Rasanya lucu membayangkan chemistry yang pelan-pelan terbangun antara Lou dan Will. Lou, gadis dari keluarga sederhana, mampu membuat Will, yang tajir mampus ini luluh. Bukan kisah cinta klise antara si kaya dan si miskin.. tapi antara dua orang yang berbeda kutub tapi mampu menjadi sahabat dan kemudia mencintai.

Entahlah … apakah cerita ini berakhir sedih atau bahagia … tapi, keduanya sama-sama tersenyum di akhir cerita … bahagia dan saling menghargai keputusan masing-masing.

Pilihan yang berat bagi Will, keluarganya juga Lou .. seperti menentang Tuhan, atau malah cermin keputusasaan … tapi, membaca kondisi Will, yang akan selalu bergantung pada orang lain seumur hidup, bukan hanya membuat Will lelah, tapi juga bakal membuat orang-orang di sekitarnya juga lelah. Adalah takdir – yang mempertemukan Lou dan Will, agar kehidupan mereka jadi lebih berarti meskipun dalam waktu singkat *eh .. spoiler lagi  ya?*

Yang rada menggangu buat gue sih, ketika ada narasi dari orang lain, kaya’ Nathan, ayah Will atau Katrina, adik Lou – mungkin tujuannya untuk memberikan pandangan dari pihak lain, tapi koq rada gak pas aja menurut gue.

Mungkin karakter Lou sedikit ‘lebay’ ya – 26 tahun tapi masih suka konyol dan kekanak-kanakan, rada egois – bahkan sama keponakannya sendiri sedikit gak mau ngalah. Tapi  ya, kadang gue selalu berusaha nyari ‘pembenaran’ atas karakter seseorang, mungkin Lou berpikir, selama ini dia yang menopang keluarga itu, jadi ya wajar kalo dia sedikit menuntut – misalnya pengen kamar yang lebih besar. Tapi karakter Lou yang ceria ini jadi penyeimbang karakter Will yang muram.

Selesai baca buku ini … aku patah hati … *huhuhu* … tapi gue ikut senyum bareng Lou yang lagi ngupi-ngupi di Paris …

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Chunky Brick
New Author Reading Challenge 2015

Project Baca Buku Cetak 2015

Wednesday, March 18, 2015

Hopeless


Hopeless (Tanpa Daya)

Shandy Tan (Terj.)
GPU – 2015
496 hal.

Yang Sky tahu, ia adalah anak angkat dari Karen. Ibu yang baik tapi juga rada ajaib – menolak segala bentuk teknologi macam televisi, internet, telepon genggam bahkan Sky pun sampai usia 16 tahun menjalani pendidikan dengan cara homeschooling. Tapi, meskipun Sky ini bisa dibilang anak ‘rumahan’, ternyata ia dikenal dengan reputasi sebagai ‘cewek nakal’. Di usia yang ke tujuh belas tahun, Sky pertama kali bersekolah di sekolah umum dan langsung mendapat sambutan yang kurang hangat. Tapi, Sky ternyata termasuk anak yang gak pedulian, jadi ia gak ambil pusing dengan segala teror yang dia terima.

Lalu, ia pun berkenalan dengan Holder, cowok yang sempat menghilang dari peredaran, dan menurut gosip ia berada di penjara karena kasus pemukulan. Dan singkat kata, keduanya langsung cocok, dan melanjutkan ke hubungan yang lebih dalam lagi.

Di bagian-bagian awal, sejujurnya ‘berpotensi’ untuk gue tinggalkan ini buku. Karena isinya ..well… menurut gue ‘hanya’ dua anak muda – ABG – yang pengen ngerasain kissing …atau *uhuk* berbuat lebih jauh. Tentang rasa ingin memiliki, melindungi, rasa sayang bla.. bla..bla.. tapi malah menurut gue, lebih banyak ‘nafsu’nya. Entahlah… apakah gue sudah terlalu ‘tua’ untuk baca buku-buku young adult kaya’ gini. As Emak-Emak… gue langsung ‘pusing’ membaca ‘tingkah laku’ Sky dan Holder.

Tapi, di separuh buku ke belakang, gue jadi tertarik – menelusuri masa lalu Sky dan sekelumit tentang Holder. Yang ternyata menjadi mimpi buruk bagi keduanya. Menjadikan buku ini yang tadinya menurut gue ‘hanya’ berkisar dua anak remaja yang ‘kebelet’ pengen kissing and having sex, jadi bertema rada berat – tentang pelecehan seksual dan pedofilia. Tiba-tiba, gue menaruh simpati pada Sky.

Dan ya…satu lagi yang ‘menolong’ dari buku ini … ya tentu saja si Holder. Cowok yang rada-rada bad boy, dengan sedikit rahasia gelap, nyaris belum pernah gagal ‘memikat’ hati gue.

O ya, cara penulisan bab dengan hari, tanggal, bulan, tahun, bahkan jam, juga menjadikan salah satu hal yang bikin penasaran. Apa yang terjadi sebenarnya, karena di bab pembuka, gue serasa pengen ‘nampar’ Holder karena bilang ‘Kau harus keluar sekarang’ … tapi tenang lah, Holder … dirimu berhasil membuat gue langsung baca kisahmu di Losing Hope … semoga kali ini dapet bintang lebih bagus ya ..



Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Favorite Color

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, March 17, 2015

Wintergirls


Wintergirls

Laurie Halse Andeson @ 2009

Speak - 2010

278 pages


Bersiaplah untuk ikut merasa depresi dan ‘tersedot’ dalam kegelapan bersama Lia dan Cassie.

Kedua gadis ini mengidap anoreksia dan bulimia. Keduanya sama-sama berjanji untuk menjadi the skinniest girls. Semua tentu saja karena tuntutan lingkungan sekolah mereka. Sebenarny Cassie lah yang mengajak Lia untuk bersama-sama jadi gadis paling kurus, sebagai sahabat yang baik, Lia meng-iyakan ajakan Cassie tersebut. Tapi, persahabatan mereka putus. Namun tak menghentikan Lia untuk terus menghitung berapa banyak jumlah kalori yang ia konsumsi dalam setiap makanan dan minuman.

Lia merasa bersalah ketika Cassie ditemukan tewas di sebuah kamar motel … sendirian. Semakin terpuruk ketika ia tahu Cassie meneleponnya sebanyak 33 kali dan tak dijawabnya.

Sejujurnya karakter Lia ini lumayan ngeselin buat gue. Kaya’nya gak mau gitu diperhatiin, diurusin sama orang. Lia bukan berasal dari keluarga yang ‘kacau balau’ atau istilahnya ‘broken home’. Ayah Lia seorang professor dan Ibu Lia seorang dokter bedah jantung. Memang Ibu Lia cenderung mengatur apalagi dalam hal pola makan … tapi ya, gue sih ngerti aja.. mana ada gitu orang tua yang pengen anaknya jadi sekurus sapu … Lia juga akrab dengan ibu tirinya. Bahkan, perhatian dengan adik tirinya, Emma. Memang Lia bukanlah gadis yang popular di sekolah seperti Cassie, tapi toh dia gak terlalu kesepian.

Sementara terus ‘memberontak’ dengan aturan-aturan dari orang tuanya, Lia juga harus berurusan dengan Cassie yang menghantui Lia. Cassie seolah malah member semangat bagi Lia untuk terus mengurangi makannya, dan malah berharap Lia akan segera ‘bergabung’ dengannya. Gue jadi bertanya-tanya, si Lia ini sebenernya kenapa? Apa yang pengen dia buktikan terhadap orang tuanya? Apakah sebagai bukti dia bukan anak-anak lagi? Atau hanya ingin protes terhadap Ibunya?

Kondisi Lia yang sejak awal terkesan begitu terpuruk dan suram, bisa bikin jadi stress. Jadi, kalo lagi mood lagi gak bagus, lagi banyak pikiran.. disarankan jangan baca buku ini ya .. kadang Lia ini tergiur dengan makanan yang enak-enak – antara pikiran sama kenyataan bertolak belakang.

Anoreksia dan bulimia ini memang mengerikan – waktu gue abis posting foto cover Wintergirls di instagram, gak lama foto gue di-like yang ketika gue klik id-nya adalah salah satu pengidap bulimia/anoreksia. Di salah satu foto, dia juga menuliskan berapa kalori dari makanan dan minuman yang ia konsumsi – persis seperti Lia. Bahkan, dari buku Wintergirls ini, gue juga tau, ada semacam komunitas untuk orang-orang seperti Lia, yang saling mendukung ‘program pengurusan badan’ ini, merasa jijik terhadap diri mereka sendiri ketika berat badan mereka bertambah atau setelah mengkonsumsi makanan yang sedikit berlebih.

Aduh.. gue sangat bersyukur, gue masih ‘suka’ makan – gue pemakan segala yang enak-enak (ya iya lah…hehehe) dan amit-amit .. jangan sampai gue punya perasaan menyesal setelah makan.

Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: One Word Only!

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, March 10, 2015

The First Phone Call from Heaven


The First Phone Call from Heaven

Mitch Albom @ 2013

Harper - 2014

326 pages


Kota kecil bernama Coldwater itu mendadak menjadi ramai dibicarakan orang. Kota yang tadinya sepi dan tenang, tiba-tiba menjadi pusat perhatian, menjadi tempat tujuan wisata religius, mengundang kemacetan dan memberikan banyak keuntungan bagi pemilik bisnis di kota itu. Semua ini terjadi setelah seorang perempuan bernama Katherine yang mengaku mendapat telepone dari Diane, saudari perempuannya yang sudah meninggal. Tentu saja pengakuan yang ia buat di depan umum saat kebaktian itu mengundang perhatian dan pertanyaan banyak orang.

Kenapa Katherine yang ‘dipilih’? Kenapa bukan orang lain? Kenapa Coldwater? Fenomena ini membuat orang kemana-mana bawa telepone, berjaga-jaga, siapa tau kali ini giliran mereka. Gereja di Coldwater pun menjadi pusat perhatian. Ada yang percaya akan keajaiban itu, ada yang merasa ini hanya ‘hoax’.

Sebenarnya, bukan hanya Katherine yang mendapatkan ‘telepon dari surga’ ini – Jack Sellers, seorang polisi yang mendapat telepon dari Robbie, yang tewas ketika bertugas di Afganistan, lalu ada Tess, yang mendapat telepon dari ibunya, kemudian ada beberapa orang lagi – di mana mereka semua pada awalnya gak percaya akan hal ini. Tapi toh, akhirnya, setiap hari Jum’at mereka menantikan telepon itu.

Salah satu media mengirimkan reporter mereka untuk sebuah liputan eksklusif. Bahkan jenis telepon yang dimiliki Katherine itu jadi laris kembali di pasaran.

Seorang mantan tentara yang baru keluar dari penjara bernama Sully Harding, merasa ada sesuatu yang salah dengan hal ini. Ia sendiri baru saja kehilangan istrinya, Giselle, yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Dan anak mereka, Jules, setiap hari menantikan siapa tahu sang Ibu akan menelepon. Harapan seorang anak yang kangen sama ibunya. Sementara sebagai orang yang kurang percaya akan ‘surga’, Sully merasa hal ini sangat mengganggu kehidupan dirinya dan juga putranya. Seolah-olah member harapan palsu pada anak kecil, dan juga mungkin orang lain. Yakin ada yang gak beres, Sully pun melakukan penyelidikan.

Sementara keyakinan orang semakin terbelah – antara percaya atau gak – Katherine memutuskan untuk membuktikan bahwa dirinya tak berbohong di depan khalayak ramai.

Hmmm.. sejujurnya gue rada kecewa dengan buku Mitch Albom kali ini. Gak tau kenapa kurang ‘klik’ – gak seperti ketika gue pertama kali ‘jatuh cinta’ dengan Mitch Albom saat membaca Five People You Meet in Heaven, atau Tuesday with Morrie, For One More Day atau The Time Keeper.

Tapi tetap aja sih … ada koq sesuatu yang bisa ‘dipetik’ dari buku ini. Kembali ke keyakinan masing-masing – tentang akankah ada kehidupan setelah kematian, ke mana kita akan ‘pulang’ nanti? Apakah surga itu benar-benar ada? Dan, meskipun berat kehilangan orang-orang yang kita cintai, semua harus kembali berjalan meskipun gak sama … So .. sekali lagi .. banyak-banyak bersyukur … dan ikhlas …

Hmmm.. tapi nih, gak perlu nunggu ‘telepon dari surga’ dulu untuk bisa bicara dengan orang yang sudah meninggal. Banyak kan yang ‘mengklaim’ bisa memanggil ‘arwah’. Percaya atau gak … memang mungkin ada yang beneran, atau hanya ‘paranormal’ yang bisa-bisaan aja, dan bikin orang jadi percaya. Hihihi.. kalo dalam versi film horror, buku ini judulnya ‘Panggilan dari Kubur.’ … Nah gue jadi merinding sendiri kan….


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Favorite Color

Project Baca Buku Cetak 2015
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang