Saturday, December 31, 2011

Catatan Akhir Tahun 2011


Hari terakhir di tahun 2011, sudah waktunya kembali mendata buku-buku apa aja yang berhasil gue baca di tahun 2011. Total ada 87 buku – yay, gue berhasil memenuhi target di reading challenge-nya Goodreads. Yang masih ‘jalan di tempat’ ada 6 buku! Ooopss…

Tahun ini bisa dibilang gue termasuk jarang beli buku. Beberapa buku adalah hasil ‘buntelan’, hasil menang kuis, hasil pinjam-meminjam, hasil swap, ada juga baca via e-book. O ya, ada juga buku-buku yang udah bertahun-tahun ada di lemari buku gue, tapi akhirnya berhasil dibaca di tahun ini.

Di 2011 ini gue ‘tercebur’ di dalam sebuah ‘perkumpulan’. Namanya BBI alias Blogger Buku Indonesia. Dan, wah… gue sangat beruntung diajak ikutan, gue menemukan teman-teman baru (yang ups… hanya satu yang udah pernah ketemu), seru-seruan ngobrolin buku, bahkan cela-celaan. Setiap bulan, gue usahain untuk selalu bisa ikutan ‘posting bareng’. Satu proyek yang paling seru, adalah proyek tuker-tukeran buku di akhir tahun, yang akhirnya punya kode tak resmi bernama #ProjectSanta atau #SecretStanta. Selain seru ngintip wishlist-nya anak-anak BBI, seru juga nungguin siapa yang jadi Santa gue… penasaran bakalan dapet buku apa.

Buat 2012, selain target utama, nyelesain buku-buku pinjeman, kedua, kembali membongkar lemari buku, nyari buku lama yang belum sempat terbaca, bikin daftar for sale or swap yang baru, dan pengen baca semua buku dari beberapa penulis.

Dan, dari 87 buku, inilah yang jadi favorit gue:
1. Angel’s Cake - Gaile Parkin
2. Room - Emma Donoghue
3. Suite Française - Irène Némirovsky
4. Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau - Indra Herlambang
5. Ape House – Sara Gruen
6. Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng - Pralampita Lembahmata
7. Untuk Indonesia yang Kuat – Ligwina Hananto
8. The Guernsey Literary & Potato Peel Pie Society – Mary Ann Shaffer
9. Ranah 3 Warna – A. Fuadi
10. Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga) – Yoshichi Shimada
11. One Amazing Thing – Chitra Banerjee Divakaruni
12. Kuantar ke Gerbang – Ramadhan K.H.
13. Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan – Tasaro GK
14. Kedai 1001 Mimpi – Valiant Budi
15. Senyum - Raina Telgemeier
16. Queen of Dreams (Ratu Mimpi) – Chirtra Banerjee Divakaruni
17. When God was a Rabbit – Sarah Winman
18. Sarah’s Key – Tatiana de Rosnay
19. Life Traveler – Windy Ariestanty

Selamat Tahun Baru 2012!!!

Sampul Buku Favorit 2011

Terinspirasi sama posting-di blog-nya @myfloya , gue pun pengen share sampul buku yang jadi favorit gue di tahun 2011. Ini berdasarkan buku-buku yang gue baca di tahun ini.

Inilah yang jadi favorit itu:







Thursday, December 29, 2011

Life Traveler


Life Traveler: Suatu Ketika di Sebuah Perjalanan
Windy Ariestanty @ 2011
Gagas Media – Cet. I, 2011
382 hal.
(via Gramedia Pondok Indah Mall)


"Home is a place where you can find your love, young girl"
(hal. 350)

Semoga gak berlebihan kalo gue bilang, gue menemukan buku yang bagus untuk menutup tahun 2011. Membaca buku ini, gue seolah menemukan sesuatu untuk me-recharge otak gue, energi gue dan berpikir lebih positif menuju tahun 2012.

Banyak hal menarik yang gue temukan sejak gue membuka lembar pertama buku ini. Pertama, daftar isi yang seolah ditulis dengan tulisan tangan, ilustrasi yang cantik, pembatas buku yang seperti potongan boarding pass, plus foto-foto yang keren. Ditambah lagi berbagai tips seputar traveling dan tempat-tempat yang wajib dikunjungi di negara-negara yang ada di buku ini.

Buku ini bukan sekedar buku ‘traveling’ yang hanya memuat info tempat-tempat wisata (ini sih yang terbersit di benak gue pada mulanya, apalah bedanya buku ini dengan buku traveling lain?). Tapi, salah satu cerita di dalam buku ini pernah dimuat di majalah Cleo, dan ini yang mengubah pikiran gue tentang buku ini.

Sepertinya, seorang Windy tidak hanya melakukan perjalanan untuk sekedar bersenang-senang, liburan, tapi juga mencari sesuatu yang untuk mengisi batin (aduh.. bahasa gue…). Baginya, berkenalan dengan orang asing – terutama penduduk setempat – akan memberi nilai lebih dalam sebuah perjalanan. Gue ‘menangkap’ persahabatan yang hangat, ketulusan dan kebahagiaan. Mencoba mencari makna apa artinya ‘pulang’, apa artinya ‘cinta’.

Banyak quote yang bagus, rasanya pengen gue share di sini semua… tapi, kalo ditulis semua… gak seru lagi dong…

Gue mau membuat satu pengakuan…. “bukan buku romance menye-menye yang membuat gue menangis, tapi… buku ini… berhasil membuat gue menitikkan air mata.” Beneran…. Membaca salah satu cerita, tentang bagaimana orang yang sebelumnya ‘asing’, ternyata mampu menawarkan sebuah kehangatan yang tulus.

Dua tulisan terakhir, tak kalah menarik. Windy mengajak dua sahabatnya, Dominique dan Yunika untuk ikut berbagi.


"Tapi saya tidak merasa sendirian. Tidak kesepian. Dan tidak pula merasa terasing
Saya ada bersama mereka. Ya, mereka. Orang-orang yang saya temui di perjalanan

And… I call them: family."

(hal: 158 – 159)

Tuesday, December 27, 2011

The Emerald Atlas - Books of Beginning


The Emerald Atlas (Books of Beginning)
Atlas Emerald (Buku 1: Buku-buku Permulaan)
John Stephens @ 2011
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juli 2011
480 hal.
(swap sama @ndarow)

Malam itu, tiba-tiba saja kebahagiaan Natal menguap. Di usianya yang baru 4 tahun, sebagai anak tertua, Kate harus bertanggung jawab atas dua orang adiknya, Michael dan Emma. Mereka harus berpisah dengan orang tuanya dengan alasan yang tidak jelas. Yang pasti, ketiga anak ini harus disembunyikan di sebuah tempat, entah bersembunyi dari apa atau siapa.

Mereka dibawa oleh seorang laki-laki ke sebuah panti asuhan. Di sana mereka dirawat oleh seorang perempuan tua yang baik hati, yang sayangnya, suka merokok, hingga akhirnya membuat panti itu terbakar. Dan selama 10 tahun, Kate, Michael dan Emma harus berpindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain. Bisa dibilang mereka anak-anak yang ‘sulit’ diadopsi. Sebagai anak tertua dan ia memiliki ingatan samar akan kenangan bersama orang tuanya, yang pasti ia selalu ingat akan pesan terakhir ibunya untuk menjaga kedua adiknya. Sementara Michael, anak yang cenderung berkhayal, punya kegemaran memotret dan tergila-gila akan dunia kurcaci. Emma, meskipun paling kecil, tapi paling galak dan temperamental. Sering terlibat perkelahian dengan penghuni panti lain.

Suatu hari, setelah sekali lagi gagal diadopsi, pengurus panti kewalahan, dan ‘menyerahkan’ mereka ke panti asuhan lain, bernama Cambridge Falls – sebuah tempat yang misterius, dingin dan kelam. Ternyata, penghuni panti itu hanya mereka bertiga, plus dua orang pengurus dan satu pria misterius pemilik panti itu. Namanya anak-anak, meskipun sudah dilarang untuk berkeliaran di tempat itu, tetap saja mereka penasaran. Hingga akhirnya mereka masuk ke ruang kerja Mr. Prym. Mereka menemukan sebuah buku yang tanpa disadari membawa mereka jauh ke masa lalu.

Mulailah petualangan mereka, yang sekaligus mulai menjawab pelan-pelan mengapa mereka harus berpisah dengan orang tua mereka.

Sejak awal membaca buku ini, tokoh-tokohnya mengingatkan gue sama cerita di Lemony Snicket. Anak-anak yatim piatu yang ‘terlunta-lunta’ dari satu panti asuhan ke yang lainnya, sampai akhirnya ‘terjebak’ di tangan orang yang salah. Mereka adalah anak-anak terpilih, terjebak di dalam dunia lain yang tak mereka mengerti, dan ternyata punya tugas untuk menyelamatkan dunia.

Dan dalam keadaan terdesak, terkadang justru mengeluarkan sifat-sifat lain yang positif, mereka bertiga jadi anak yang lebih berani dan tangguh.

Buku ini bisa gue nikmati dari awal, meskipun kadang pusing dengan perpindahan waktu dan tempat, plus kejadian yang banyak itu. Menunggu sekuel buku ini, meskipun liat di website-nya masih ‘coming soon’. Uhh.. gak ada bocoran sama sekali.

Sunday, December 25, 2011

Holiday on Ice


Holiday on Ice
David Sedaris @ 1997
A Back Bay Book - 1998
134 hal
(swap sama @ndarow)

Gue gak merayakan Natal, tapi beberapa kali gue membaca buku atau cerpen atau nonton film yang berlatar belakang Natal. Dan yang sering kali gue temui dalam cerita-cerita itu, nyaris semua cerita Natal itu indah, penuh tawa dan kebahagiaan. Tapi, yang kali ini gue dapat di tulisan-tulisan pendek David Sedaris adalah cerita Natal yang – menurut gue – diawali dengan kesinisan. Ada humornya, tapi ada juga ‘sindiran’nya. Ini pertama kali gue membaca buku David Sedaris, dan, yah, bisa dibilang gak semuanya gue ngerti. Maklum deh, kadang-kadang kalo orang bule menyampaikan humor suka gak nyambung di otak Indonesia gue. Hehehe…

Ada 6 tulisan. Yang gue share di sini, hanya beberapa aja.

Yang pertama: SantaLand Diaries – berkisah tentang seorang pemuda yang bekerja sebagai Elf di sebuah mal. Biasakan kalo menjelang Natal begini, nyaris di setiap pusat perbelanjaan ada yang namanya ‘Meet & Greet with Santa Clause’. Nah, si cowok ini menjadi Elf yang bertugas mengatur para pengunjung untuk bisa akhirnya sampai ke Santa. Tugas Elf ini ada banyak, ada yang mengatur barisan, ada yang jadi fotografer, sebagai kasir atau ada yang bertugas di pintu keluar.

Si cowok ini rada-rada ‘tengil’ dan iseng, atau ‘nyeleneh’. Dalam keadaan bosan, dia bisa tiba-tiba bilang, “Eh, ada Phil Collins… ada Mike Tyson.” Kontan perhatian orang bubar, orang jadi lebih milih minta tanda tangan Phil Collins daripada baris untuk ketemu Santa.

Tipe pengunjung juga macem-macem. Ada yang plin-plan mau pake kartu kredit atau cash. Ada yang suka nyela-nyela si Elf, ada yang satu keluarga pas udah di depan Santa, si anak rewel dan merengek, sementara si orang tua sibuk ngatur gaya anaknya.

Kisah kedua: Season’s Greetings to Our Friends and Family – kisah tentang keluarga Dunbar, yang menjelang Natal tiba-tiba ‘kedatangan’ anggota baru dan berakhir dengan cukup tragis menurut gue. Jadi anggota baru ini adalah seorang gadis yang datang dari Vietnam dan mengaku sebagai anak dari Clifford Dunbar, yang bernama Khe Sahn. Ternyata di Vietnam, Clifford bukan hanya menjalankan tugas negara, tapi juga menjalin hubungan dengan seorang perempuan Vietnam.

Yang jadi kendala utama, adalah bahasa. Dengan bahasa Inggris yang minim, susah untuk berkomunikasi dengan Khe Sahn. Ditambah lagi, cara berbusana Khe Sahn yang ternyata gak kalah minim dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Sebagai seorang istri, Jocelyn cukup sabar menghadapi Khe Sahn, ia berbaik hati menjahitkan pakaian yang layak, yang sayangnya hanya jadi penghuni lemari Khe Sahn.

Kesibukan ngurusin Khe Sahn, bikin Jocelyn jadi gak sempet belanja hadiah Natal untuk keluarganya. Dan kebahagiaan Natal keluarga Dubar di tahun itu berakhir dengan tragis.

Yang ketiga, yang terakhir yang gue share di sini – juga menjadi penutup di buku ini: Christmas Means Giving, tentang sebuah keluarga yang hidupnya bisa dibilang mewah. Semua sih tampak oke-oke aja, sampai suatu hari, keluarga ini mendapatkan tetangga baru, Mr and Mrs. Cottingham. Dan ternyata tetangganya ini gak mau kalah pamor. Apa yang dimiliki tetangga mereka, pasangan Cottingham ini akan berusaha meniru andaikata mereka gak bisa melebihinya. Sampai-sampai semua yang dilakukan jadi rada gak make sense. Tradisi Natal jadi ajang pamer hadiah, pamer ucapan terima kasih. Si keluarga A bikin kartu ucapan yang ekslusif yang emang udah jadi tradisi mereka, ehhh.. si pasangan Cottingham ikut-ikutan… tapi sayangnya, belum ‘mampu’ untuk dicetak, jadinya hanya pake mesin photocopy. Ini juga sebuah kisah yang berakhir menyedihkan.

Well… mungkin dalam setiap hari raya, maknanya sama. Kesederhaaan dan saling berbagi. Gak harus mewah, tapi ada rasa lega di dalam hati. Bener gak sih…

Selamat Natal buat yang merayakan…
Wish all the best and have a wonderful Christmas

Thursday, December 22, 2011

Mooshka: A Quilt Story


Mooshka: A Quilt Story
Julie Paschkis
Peachtree Publishers
Publication date: March 01, 2012
18 pages
(via NetGalley.com)

Berkisah tentang Karla, si pemilik selimut warna-warni ini. Apa sih istimewanya selimut ini? Sama kali ya, hal yang dengan anak kecil yang gak bisa tidur kalo gak pake guling yang udah butek warnanya, atau boneka yang makin kumel makin gak bisa pengen lepas.

Ternyata, selimut perca ini bukanlah selimut biasa. Selimut ini dibuat oleh nenek Karla dengan memakai potongan-potongan kain warna-warni dengan berbagai motif yang penuh cerita. Setiap potongan memiliki kenangan tersendiri.

Dan, bagi Karla, selimut ini adalah penghangat tidur, pelindung saat ia merasa takut dan … bisa ‘bicara’. O ya… selimut ini punya nama: Mooshka. Ketauan banget deh cerita ini berasal dari mana.

Thanks to review-nya di , yang membuat gue pengen baca buku ini dan yang pasti ‘memperkenalkan’ gue sama NetGalley.com

Pertama kali melihat buku ini, wow, warna-warni yang cerah benar-benar menggoda. Gue langsung berharap, “Seandainya punya buku ‘benerannya’, bukan hanya baca via e-book.”

Wednesday, December 21, 2011

Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura

Tiga Manula Jalan-jalan ke Singapura
Benny Rachmadi @ 2011
Kepustakaan Populer Gramedia - Desember 2011
90 Hal.
(via FB Tiga Manula)


Tersebutlah 3 orang manula, tinggal berdekatan alias tetanggaan. Berasal dari 3 suku yang berbeda, tapi mereka bersahabat. Mereka adalah: Mbah Waluyo – berasal dari Jawa, Engkong Sanip – asal Betawi dan Om Liem – keturunan Cina. Mereka bertiga ini kalo ngomong suka asal, ceplas ceplos, iseng dan kocak.

Satu hari, si Om Liem yang pengusaha itu, lagi sukses berat, gara-gara usaha jualan tablet-nya, pengen berbagi rejeki sama dua sahabatnya itu. Maka, diajaklah Engkong Sanip dan Mbah Waluyo jalan-jalan ke Singapura.

Berbeda dengan Om Liem yang udah ‘go international’, Engkong Sanip dan Mbah Waluyo belum pernah naik pesawat, apalagi keluar negeri. Kehebohan dan kekocakan dimulai sejak packing. Si Engkong Sanip pengen bawa ayam peliharaannya, terus Mbah Waluyo yang rada kleyengan di pesawat tiba-tiba ngeluarin minyak angin cap PPO yang sukses bikin seisi pesawat pusing plus bikin Om Liem dan Engkong Sanip pura-pura gak kenal sama si Embah.

Apa yang disajikan tentang Singapura dalam komik ini sih mungkin bukan hal yang baru. Seperti shopping di Orchard, wisata kuliner, larangan untuk makan permen karet atau merokok, jalan-jalan ke China Town dan Little India, dan gak ketinggalan Universal Studio. Tapi, tingkah laku 3 manula ini berhasil membuat gue terkikik dan ketawa sendiri. Misalnya, Mbah Waluyo yang udah pengen banget ngerokok, serasa ketemu oase di tengah padang pasir begitu ngeliat tempat yang diperbolehkan merokok, malah asbaknya pengen dibawa ke hotel aja. Dan, aroma rokok Mbah Waluyo yang ajaib malah bikin orang di sekitarnya kabur.

Komik ini menghibur sekaligus menyindir tingkah laku orang Indonesia kalo lagi di Singapura, yang kerjanya shopping padahal di Indonesia sih juga ada barang yang sama. Terus gimana kita bisa tertib kalo lagi di luar negeri, tapi gak bisa berlaku sama kalo di negara sendiri.

Ya sudahlah, silahkan baca sendiri aja deh. Kalo diceritain semua di sini, abis deh isi bukunya. Pokoknya ditunggu cerita jalan-jalannya 3 Manula ini ke tempat-tempat lainnya. Dan, silahkan nikmati bonus poster plus 16 halaman berwarna yang bikin ngiler di dalam buku ini.

Tuesday, December 13, 2011

Nineteen Minutes

Nineteen Minutes
Jodie Picoult @2007
Hodder - 2007
568 Hal.
(Periplus Plaza Senayan – 2008)

Pagi itu semua berjalan seperti biasa, Alex Cormier bersiap-siap untuk bekerja. Ia adalah seorang hakim. Anak perempuannya, Josie Cormier, juga sedang sarapan, siap-siap dijemput kekasihnya, Matt, dan berangkat ke sekolah. Semua orang menjalani rutinitasnya sehari-hari.

Sterling High, tempat Josie sekolah, saat istirahat, sebagian besar berkumpul di kantin. Bercanda, cela-celaan, ada yang sambil belajar. Kelompok anak-anak popular – kelompok Josie dan Matt – mulai mengganggu anak-anak lain, sebut saja, anak-anak yang kerap disebut ‘nerd’.

In nineteen minutes, you can mow the front lawn, color your hair, watch a third of a kockey game. In nineteen minutes, you can bake scones or get a tooth filled by a dentist, you can fold laundry for a family of five.

In nineteen minutes, you can order a pizza and get it delivered. You can read a story to a child or have your oil changed. You can walk a mile. You can sew a hem.
In nineteen minutes, you can stop the world, or you can just jump off it.

In nineteen minutes, you can get revenge


(page 5)

Tiba-tiba, semua jadi berubah kacau. Sebuah penembakan terjadi di sekolah itu. ‘Hanya’ dalam waktu 19 menit. Korban berjatuhan. 10 orang tewas – 9 murid dan 1 guru, lainnya luka-luka. Pelakunya adalah Peter Houghton, pelajar di Sterling High sendiri.

Kota Sterling adalah sebuah kota kecil di negara bagian New Hampshire, di mana semua penduduk mengenal satu sama lain dan kondisi kota itu bisa dibilang aman dan tenang. Kejadian ini mengusik hati semua orang, Para orang tua korban marah. Seluruh kota berduka.

Semua orang terkejut, terutama orang tua Peter. Di mata orang tuanya, Peter adalah anak baik-baik. Memang cenderung pendiam dan penyendiri, kesukaannya terhadap computer membuatnya lebih suka mengurung diri di kamar. Sebagai ibu, Lacy berusaha tidak mengganggu privacy anaknya. Peter juga bukan anak yang sering berperilaku agresif, bukan seorang psikopat.

Tapi sejak kecil, sejak hari pertama ia masuk taman kanak-kanak, Peter sudah menjadi korban bully. Meskipun ia punya kakak yang lebih popular, tapi justru tidak membantu. Bahkan Joey ikut-ikutan mengolok-olok Peter. Hal ini terus berlanjut sampai Peter duduk di sekolah menengah. Dan parahnya, setiap ibu Peter melaporkan kejadian ini ke sekolah, pihak sekolah seolah lepas tangan, dan mengharapkan Peter yang justru harus berubah. Perlakuan yang diterima di sekolah, tak ada dukungan dari orang tua, ternyata memupuk dendam di hati Peter.

Something still exists as long as there's someone around to remember it
(page 485)

Sabarlah dalam membaca buku ini, alur ceritanya maju-mundur. Selain kita ikut dalam keseharian setelah peristiwa itu terjadi – termasuk proses pengadilan, kita juga diajak untuk kembali ke ‘masa lalu’. Menyelami karakter-karakter di buku ini dan menemukan kejutan-kejutan kecil. Bagaimana dulu sebenarnya Josie dan Peter berteman, peristiwa yang menyebabkan mereka menjauh, dan hingga akhirnya Josie masuk dalam lingkungan anak-anak popular, sementara Peter ya tetap sebagai Peter yang kerap dipemalukan.

Miris membaca berbagai perlakukan yang diterima Peter, mulai dari kotak makanannya yang selalu dilempar – padahal ibunya setiap hari selalu menyiapkan makanan yang akhirnya mubazir, kacamata yang dipecahkan, celana yang ‘dipelorotin’ di tengah kantin, disebut ‘homo’ dan lain-lain.

Urusan bullying ini rasanya sedang ‘marak’. Beberapa waktu yang lalu, sebuah SMU terkenal di Jakarta, ramai diberitakan karena banyak orang tua murid yang mengeluarkan anak mereka dari sekolah tersebut karena anak mereka di-bully. Menurut adek gue yang alumni SMU itu, praktek bully sih udah ada dari jaman dulu – atau dulu lebih dikenal dengan istilah ‘gencet’. Dan justru, bukan anak-anak yang ‘nerd’ yang kena, tapi anak-anak baru yang lebih cantik, keren yang jadi sasaran kakak-kakak kelasnya. Hehehe.. takut tersaingi, apalagi kalo anak baru itu diincer sama cowok yang juga jadi inceran para senior.

Di radio Female juga pernah dibahas tentang perilaku bullying. Apa sih yang sebenernya membuat seorang anak suka mem-bully? Dan kenapa si anak yang di-bully gak berani atau gak bisa melawan? Salah siapa – sekolah kah yang gak bisa melindungi murid-muridnya? Atau orang tua – entah orang tua si pelaku atau korban? Seperti di buku ini, Lacy dan Lewis, sebagai orang tua Peter, sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidik Peter, menjadi orang tua yang bijak. Sementara saat Peter ditanya, “kenapa?” Justru ia menjawab, “Mereka yang memulai.”

Tentang bukunya sendiri… ah, lagi-lagi buku lama. 3 tahun tak tersentuh. ‘Hubungan’ gue dengan Jodie Picoult rada naik-turun. Hehehe… pertama baca Plain Truth, terus suka. Langsung lah berburu buku Jodie Picoult yang lain. Eh… ternyata pas baca lagi, gak semua ‘berkesan’ dan gue pun sempat bosen sama yang namanya cerita drama. Sampai saat ini yang berkesan hanya Plain Truth, My Sister Keeper dan Nineteen Minutes. Ciri khas Jodie Picoult, meramu masalah hukum dengan psikologis, yang bisa bikin orang gak bisa men-judge tokoh yang keliatannya salah. O ya, satu aja sih yang ‘ganggu’ buat gue, kenapa sih, Alex dan Patrick harus terlibat hubungan asmara?

Dan setelah Nineteen Minutes ini, pengen baca bukunya yang lain. Mari dimasukkan saja ke dalam ‘Proyek 2012’.

Wednesday, November 30, 2011

Sarah’s Key

Sarah’s Key
Tatiana de Rosnay @2006
Lily Endang Joeliani (Terj.)
Elex Media Komputindo - 2011
339 Hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

Berlatar belakang sebuah sejarah. Tanggal 16 Juli 1942, penangkapan besar-besaran warga keturunan Yahudi oleh tentara Perancis. Sejumlah 1.129 lelaki, 2.916 perempuan, dan 4.115 anak-anak akhirnya berhasil tertangakap. Mereka dibawa kesebuah tempat bernama Velodroma d’Hiver. Di sana, mereka diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi. Tak ada makanan, minuman dan sarana sanitasi yang memadai. Tak dipedulikan juga orang yang sakit, perempuan hamil atau orang tua. Banyak akhirnya yang meninggal di sana. Tempat itu adalah tempat penampungan sementara sebelum mereka dibawa ke Auschwitz. Kenapa jumlah laki-laki lebih sedikit dibanding perempuan dan anak-anak? Karena selama ini yang ‘diangkut’ hanya laki-laki, sementara perempuan dan anak-anak bisa dibilang aman. Makanya, banyak kaum laki-laki yang bersembunyi di tempat persembunyian di bawah tanah

Sebelum terjadinya penangkapan itu, orang-orang Yahudi diharuskan memakai tanda bintang kuning di baju mereka. Sekejap hidup mereka berubah. Berbagai larangan dikenakan untuk mereka. Orang dewasa bungkam, dan anak-anak tak mengerti dengan perubahan ini. Tiba-tiba saja semua orang memandang mereka dengan tatapan menghina, tiba-tiba mereka kehilangan teman-teman dan dijauhi.


Kisah di dalam buku ini di mulai pada malam naas itu. Tanggal 16 Juli 1942, menjadi awal saat-saat terburuk dalam hidup seorang gadis bernama Sarah. Keluarga Starzi

Keluarga Starzynski dijemput oleh tentara Perancis dan kemudian dibawa ke Velodroma d’Hiver. Mengira akan segera kembali, Sarah meminta adiknya Michel untuk bersembunyi di dalam lemari, tempat bermain rahasia mereka. Sarah berjanji akan segera menjemput Michel. Sarah menyimpan kunci lemari itu dengan sangat hati-hati.

Keadaan semakin buruk, karena para lelaki dipisahkan dari istri dan anak mereka. Bahkan akhirnya, para ibu juga harus dipisahkan dengan anak-anak mereka. Sarah tak mau pasrah saja berada dalam kamp yang mengerikan itu. Ia cemas akan keadaan adiknya. Ada salah satu anak di dalam kamp itu yang berniat untuk melarikan diri dan meskipun sulit, akhirnya mereka berdua berhasil lolos. Beruntung masih ada orang-orang Perancis yang berbaik hati mau membantu mereka. Dan dengan segala resiko mau menampung dan membantu Sarah untuk kembali ke rumahnya.

Enam puluh tahun kemudian, seorang wartawati asal Amerika bernama Julia ditugaskan untuk membuat liputan tentang peristiwa penangkapan besar-besaran itu – yang kini dikenal dengan nama Vel d’Hiv. Tak mudah mencari informasi tentang hal itu, karena memang hal itu secara tidak langsung tidak diakui oleh warga Perancis. Banyak yang melupakan peristiwa itu, meskipun pada akhirnya Presiden Jacques Chirac pada tahun 1995 mengakui keterlibatan tentara Perancis dalam penangkapan tersebut.


Saat pencarian data, secara kebetulan Julia menemukan bahwa keluarga Tézac – keluarga suaminya – terhubung dengan Sarah. Julia pun semakin giat mencari data-data dan mulai melibatkan emosi dan perasaannya. Tak peduli bahwa suaminya, Bertrand Tézac tidak setuju dengan rencana itu.

Tindakan Julia menimbulkan pro dan kontra di dalam keluarga Tézac. Julia sendiri selama ini memang tidak terlalu dekat dengan keluarga Tézac. Beruntung ayah mertuanya mau mendukungnya dan membantu Julia menelusuri jejak masa lalu Sarah.

Konflik lain dalam buku ini, adalah tentang kemelut rumah tangga Julia dan Bertrand. Bertrand yang tidak setia, ditambah krisis paruh baya yang membuat Bertrand meminta Julia menggugurkan kandungannya.

Membaca novel ini, ada rasa ngilu dan sedih banget. Gue rela begadang demi nyelesain novel ini, bab-babnya yang pendek, lalu berpindah-pindah antara tahun 1942 dan 2002 membuat jadi speed membaca juga jadi meningkat. Sambil baca di sebelah Mika tidur, yahhh.. gue pun jadi mellow… Bolak-balik gue liat Mika, terus gue pegang tangannya, ciumin pipinya. Sambil ‘mewek-mewek’ dikit.. Hihihi… Isi cerita novel ini sanggup menguras air mata. Membayangkan betapa sedihnya berpisah dengan orang-orang yang dicintai.

Gue sih lebih tertarik baca bagian Sarah, dibanding Julia. Julia menurut gue agak egois, meskipun endingnya dia bikin ayah mertuanya lega. Gue lebih mengerti sikap Sarah yang menjadi lebih keras karakternya. Peristiwa pahit yang dialami mengubah seorang gadis cilik yang ceria menjadi gadis yang tampak lebih dewasa daripada umurnya.

Karakter Julia, seorang yang punya keinginan keras. Saat ia tahu ada hubungan antara apartemen yang akan segera ditinggalinya dengan berita yang akan ditulis, ia menggali lebih jauh. Meskipun resikonya berhadapan dengan keluarga besar sang suami. Ditambah lagi, dalam keadaan hamil muda, emosi Julia sebagai seorang ibu membuatnya merasa harus mencari lebih jauh tentang Sarah.

Ending cerita memang agak klise, tapi gak mengurangi keindahan novel ini. Hmmm coba Julia meng-interview tentara-tentara Perancis yang mungkin masih hidup… pengen tau apa sih yang mereka pikirin waktu ngeliat anak-anak kecil itu.

Buku yang berlatar tragedi Holocaust atau masa-masa pendudukan Nazi sendiri, udah beberapa yang gue baca seperti The Boy in the Striped Pyjamas, Suite Française, The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society, Five Quarters of the Orange, dan Hana’s Suitcase. Dan selalu bikin hati jadi gak enak dan bikin sesak. Membayangkan orang-orang yang masuk ke kamar gas itu… *sigh* Gue jadi merinding…

Rasanya ini review terpanjang gue. Entah mungkin karena banyak emosi yang ikut saat gue membaca buku ini, jadinya pengen semua di'curhatin' di sini. Dan ngeliat covernya, gue membayangkan itu adalah Michel yang 'menjemput' Sarah, terus mereka kembali seperti dulu, ke masa kecil yang bahagia. Saat mereka taunya cuma main, gak tau yang namanya perang itu apa, gak tau apa bedanya jadi orang Yahudi sama orang-orang lainnya.

Novel Sarah’s Key juga udah difilmkan


4,5/5 bintang untuk Sarah.

Thursday, November 24, 2011

Birthday Stories

Birthday Stories
Selected and Introduced by Haruki Murakami @ 2002
Vintage Books -2006
207 Hal.
(hasil dari bookmooch - 2007)

Ulang tahun, masih gak sih jadi hari yang special untuk yang udah berumur ‘banyak’? Masih gak sih berharap dapet surprise, kado, tiup lilin dan stuff like we used to get when we were a child? Kalo sekarang, setelah gede begini, gue pribadi paling-paling hanya ‘merayakan’ ulang tahun bareng keluarga gue, plus beberapa teman-teman dekat gue. Rame-ramenya paling hanya bawa makanan kecil ke kantor.

Dan, tiap tahun, maunya nih, setiap ulang tahun, waktunya introspeksi… waktunya merenung, seperti kaya’ malem tahun baru. Tapi, yang ada satu hari itu terlewat seperti hari-hari lainnya. Seperti biasa aja.

Saat Haruki Murakami membaca cerita tentang hari ulang tahun, ia berpikir, “Ah, pasti banyak yang menulis cerita-cerita seperti ini.” Dan ia pun mempunyai ide untuk membuat kumpulan cerita tentang Hari Ulang Tahun. Ternyata… jarang ada penulis yang menulis tentang hal ini.

13 cerita pendek dalam buku ini akhirnya berhasil dikumpulkan. Hanya satu memang yang ditulis oleh Haruk Murakami sendiri. Hmmm.. gak semuanya mudah untuk dicerna, tapi ada beberapa yang menarik dan unik. Jangan bayangkan cerita yang berhubungan dengan hari ulang tahun selalu berwarna, ceria dan riang gembira. Justru, tapi ada yang bernuansa gelap dan ada rasa kecewa.

Misalnya, Timothy’s Birthday – cerita tentang orang tua yang sudah mempersiapkan makan besar untuk merayakan ulang tahun anak mereka, tapi justru si anak sendiri menolak untuk datang ke rumah orang tuanya. Atau, Angel of Mercy, Angel of Wrath – cerita tentang perempuan tua yang ulang tahunnya dilupakan oleh anaknya sendiri karena kesibukannya sebagai seorang dokter.

Atau, mau yang ‘tragis’, The Bath – kegembiraan menjelang perayaan ulang tahun, justru harus berakhir di rumah sakit, karena anak yang berulang tahun mengalami kecelekaan dan koma. The Birthday Cake – mengisahkan tentang ‘keegoisan’ seorang perempuan tua yang menolak memberi kue kepada seorang perempuan yang anaknya berulang tahun, hanya karena sudah menjadi ‘kebiasaannya’ membeli kue itu setiap hari.

Cerita lainnya yang menarik, selain tentunya Birthday Girl tulisan Murakami sendiri, adalah The Birthday Present – hadiah ‘ajaib’ seorang istri di hari ulang tahun suaminya. Dan, Forever Overhead – ini nih, membuat gue serasa ‘membeku’, diam di tempat. Cerita ini, tentang pesta ulang tahun anak laki-laki, dan yang diceritain dalam cerpen ini adalah sepanjang ‘perjalanannya’ menuju mmm… mungkin semacam papan seluncur yang tinggi banget seperti yang suka ada di amusement park atau water park. Tentang suasana party-nya, tentang orang-orang di sekitarnya. Gue membayangkan, dalam gerakan yang lambat, seorang anak laki-laki berjalan di tengah keriuhan pesta kolam, tapi gak ada suara apa-apa, selain suara si narasi cerita ini. Kehebohan hanya tampak dalam gambar, dan… endingnya… byurrrr….

Favorit gue adalah Birthday Girl dan The Birthday Cake. Yang lainnya… kalo gak gue sebutin di sini – hehehe.. berarti gue gak ‘nyambung’ dengan ceritanya.

Pesimis waktu membuka halaman pertama, apalagi, biasanya gue paling males baca buku yang udah terlalu lama ‘mengendon’ di lemari buku gue, makin ke belakang, saat gue menemukan cerita yang menarik, gue makin penasaran dengan cerpen-cerpen selanjutnya.

Monday, November 21, 2011

The Translator

The Translator (Sang Penerjemah)
Leila Aboulela @ 1999
Rahmani Astuti (Terj.)
GPU – Oktober 2011
227 Hal.
(Trimedia – Mal Ambasador - 2011)

Sammar, perempuan berkebangsaan Sudan yang mencari nafkah di Skotlandia, tepatnya di kota Aberdeen. Kesepian, sendiri di kota yang dingin dan muram ini. Suami Sammar, Tarig, meninggal dalam sebuah kecelakaan dan Amir, anak Sammar satu-satunya, tinggal dengan keluarga Tarig di Khartoum.

Sammar bekerja di sebuah universitas sebagai penerjemah dokumen-dokumen berbahasa Arab. Seorang professor bernama Rae, seorang peniliti Islam, kerap meminta bantuan Sammar.

Hubungan professional ini lama-lama berubah menjadi hubungan persahabatan. Sammar merasa nyaman berbicara dengan Rae, yang juga seorang duda dengan satu anak perempuan.

Dan, makin lama, hubungan ini menimbulkan perasaan lain yang lebih dari sahabat. Tapi, sayang, perbedaan keyakinan menjadi penghalang hubungan ini. Sammar mencoba mengajak Rae untuk memeluk agama Islam, tapi tampaknya Rae belum yakin untuk melangkah ke arah yang lebih jauh. Sammar sebagai seorang Muslim, merasa lebih baik ia menjauhkan diri dari Rae, daripada ‘terjerumus’ ke dalam sebuah perbuatan dosa.

Sammar kembali ke Khourtoum. Kembali menemui Amir dan tinggal bersama keluarga mendiang suaminya. Ia mencoba melupakan Rae dan mimpi-mimpinya. Bahkan ia melepaskan pekerjaannya di Aberdeen, sebuah tindakan yang dianggap bodoh oleh adik Sammar. Tampaknya, kehidupan di luar negeri dianggap sebuah hal yang mewah, sebagai sebuah suatu keberhasilan.

Bahasa dalam novel ini, begitu tenang dan menghanyutkan. Tapi buat gue ini jadi ‘jebakan batman’, saking terhanyutnya, ada kalanya gue jadi ‘ngantuk’. Makanya, rada lama gue menyelesaikan novel yang gak terlalu tebal ini. Temponya lambat. Sesuai karakter-karakter dalam buku ini yang tenang. Gak ada pembicaraan yang meledak-ledak.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, saat Sammar di Aberdeen, kala musim dingin. Suasana begitu muram, semuram hati Sammar. Tapi, bagian kedua, waktu Sammar udah di Khartoum, suasana jadi lebih terasa hangat. Adanya tokoh-tokoh lain, meskipun bukan tokoh utama, seperti Amir, keponakan Sammar, adik ipar Sammar, menambah ‘kehangatan’ di dalam cerita. Seolah ada variasi lain dalam hidup Sammar sendiri. Gue pun jadi lebih semangat waktu sampai di bagian kedua ini.

Tampaknya, meskipun gak terlalu ‘puas’ dengan buku Leila Aboulela pertama yang gue baca ini, gue masih pengen membaca buku-bukunya yang lain. Satu lagi, gue suka sama cover edisi Indonesia ini, warna birunya sesuai sama isi ceritanya :)

Tuesday, November 15, 2011

9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns
(Dari Kota Apel ke The Big Apple)
Iwan Setyawan @ 2011
GPU – Cet. IV, Mei 2011
221 Hal.
(Swap with @myfloya)

Iwan Setyawan, seorang anak dari sebuah desa yang terletak di Batu, Malang, tepatnya di kaki Gunung Panderman. Ia adalah anak seorang supir angkot. Iwan punya dua kakak perempuan dan dua adik perempuan. Kehidupan mereka sangatlah sederhana, kalau gak mau dibilang susah ya. Menjadi anak laki-laki satu-satunya, membuat ia harus mengalah, tak pernah punya kamar tidur sendiri, karena kamar tidur yang ada diperuntukan untuk orang tua dan saudara-saudara perempuannya.

Mereka tak pernah merasakan yang namanya bermain boneka, main sepeda. Kemewahan mereka mungkin hanyalah sebuah televisi yang kerap ‘mengundang’ tetangga mereka untuk menumpang nonton di rumah mereka.

Namun demikian, keluarga sederhana ini adalah keluarga ‘pejuang’. Dengan berbagai daya upaya, orang tua mereka berhasil menyambung hidup dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Dan Iwan bersaudara pun, tak segan-segan untuk mencari kerja kecil-kecilan demi membantu orang tua mereka. Kesederhanaan yang mengajarkan mereka untuk bekerja keras.

Iwan pun berhasil diterima di IPB jurusan Statisik. Dari sinilah, awal mula kesuksesan seorang Iwan Setyawan. Lulus dari IPB, ia bekerja di AC Nielsen, perusahaan yang memberinya kesempatan untuk bekerja di luar negeri, tepatnya di New York City.

Bertahan selama 10 tahun, tapi, kerinduan akan kampung halamannya, terutama kehangatan berada di antara keluarga tercinta, membuat Iwan memilih berhenti dan pulang kembali ke Batu.

Novel ini disajikan dengan bahasa yang puitis dan indah. Iwan seolah bercerita kepada sosok bocah kecil berbaju putih-merah yang misterius. Penggemar Dostoevsky, yang kutipannya menghias beberapa halaman di buku ini.

"... I told my self, I will not let this happen again. I want to make her a happy mother, a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much."
-- hal. 210

Tampaknya bukan sebuah tema yang baru mengangkat kehidupan nyata menjadi sebuah novel. Sebut saja Laskar Pelangi (meskipun ini belum baca sih) atau Negeri 5 Menara. Seorang anak ‘kampung’ yang bersusah payah dari kecil, akhirnya mendulang sukses kala dewasa hingga keluar negeri.

Tapi, tetap saja, buku-buku seperti ini masih menarik untuk dibaca karena bentuk penyampaian yang jauh dari kesan membosankan, berlebihan atau sekedar ingin pamer ‘kesuksesan’.

Yang juga menarik perhatian, adalah cover-nya yang bersih dan simple. Berlatar warna putih, dengan dua buah apel merah yang bersanding.

Thursday, November 10, 2011

Serasa di Surga...


Mungkin sebagian besar akan berkata surga buku adalah tempat yang nyaman, tenang. Tempat kita berada di antara buku-buku kesayangan kita. Tempat di mana kita bisa ‘melebur’ dalam buku yang kita baca. Atau, bisa juga ‘keadaan’, bukan hanya tempat. Tapi saat di mana (di mana saja, dan kapan saja), kita merasa ‘terlempar’ dari dunia nyata, masuk ke dalam sebuah dunia imajinasi yang sangat luas dan punya berbagai macam cerita yang mungkin tidak pernah kita bayangkan ada dalam dunia nyata.

Kalau aku boleh menggambarkan surga bukuku itu seperti apa, ini dia dongengku tentang surga buku.

Tempat itu adalah tempat tersembunyi. Hanya orang-orang yang mencintai buku dan mengerti arti imajinasi yang tahu di mana tempat itu. Tepatnya, di atas sebuah pohon, berbentuk rumah kayu (ya… ya… ini salah satu keinginan masa kecil yang gak tercapai… pengen punya rumah kayu di atas pohon).

Mari kita lihat di dalamnya ada apa… Meskipun rumah kayu, tapi jangan takut akan runtuh. Karena rumah ini mampu menampung beban seberat apa pun. Jadi jangan heran, kalau di dalamnya, ada banyak begitu banyak buku di dalam rak-rak yang tersedia. Semua buku favoritku, ada di sini. Atau, teman-teman cari buku favorit kalian sendiri? Coba cari di pelosok-pelosok rumah ini, pasti ada. Karena di sini, segala macam jenis buku ada (hmmm termasuk buku-buku aneh seperti di Bagian Terlarang Perpustakaan Hogwarts). Luasnya sebesar apa? Seluas-luasnya… namanya juga di surga, gak ada batasan dalam sebuah ukuran.

Lalu, ada sebuah sudut yang nyaman, beralas karpet lembut. Ada bantal-bantal empuk untuk yang pengen baca sambil bersila di lantai. Ada sofa yang tak kalah empuknya juga. Mau duduk di kursi goyang? Ada juga… Ada meja kecil berisi kue-kue dan minuman ringan, untuk sekedar menemani biar gak kelaperan kalo lagi baca. Kan lagi berkhayal, jadi kadang lupa waktu… tau-tau… perut keroncongan deh…

Pernah dengar lagu di film kartun Cinderella?

“in my own little corner
in my own little chair
I can be whatever
I want to be….”

Nah, saat mulai membaca… bersiaplah terjun bebas dalam tokoh-tokoh yang ada. Gak suka sama tokohnya… silahkan ngomel-ngomel… atau mungkin si tokoh ganteng… ow… silahkan termehek-mehek dan jatuh cinta dengan dia.

Atau…. Mau curhat? Curhat sama siapa? Ya, sama salah satu tokoh yang kamu baca… Hmmm.. misalnya, pengen curhat sama Papa Smurf? Boleh… atau mau nangis karena kangen sama Harry Potter, Hermione atau Ron? Atau bahkan kangen sama Bartimeus, si Jin tengil itu? Gak masalah…

Atau ikut bersusah payah sama Aragorn dan si ganteng Legolas nyari Frodo?

Atau… merinding dan ikut tegang bersama Katnis di Hunger Games? Atau malah pengen jadi Katnis, yang di tengah-tengah Hunger Games malah bingung mikirin lebih ok Peeta atau Gale ya?

Atau bahkan pengen jadi Bella Swan? Hehehe.. biar bisa bikin ending cerita sendiri… Kali-kali dalam khayalan kamu, Bella Swan malah pengen jadi werewolf perempuan, bukannya vampire perempuan.

Atau, pengen ikutan jalan-jalan sama Agustinus Wibowo ke pelosok-pelosok yang sama sekali berbeda dengan buku traveling lainnya? Atau berenang sama ikan hiu bareng Trinity?

Silahkan… bebas… sebebas-bebasnya…

Gak boleh ada yang sirik, gak boleh ada yang nyela. Kalo nyela… kamu akan terlempar dari surga buku *HA..HA..HA… ketawa ala jin*

===

Udah ah, mengkhayalnya… tapi gitu deh, tempat yang aku bayangkan saat aku berpikir tentang surga buku.

Lelah berkutat dengan dunia nyata, tenggelam dalam buku-bukuku membuat aku sejenak melupakan semua keresahan, me-recharge energi dan pikiran yang terkuras. Melemaskan semua ketegangan.

Novel romantis membuat aku rindu dengan kisah cinta yang dramatis
Novel fantasi suka bikin aku pengen ada di dunia mereka.
Novel horor, thriller terkadang membuat jantung ikut berdetak lebih kencang
Novel klasik, kadang.. mmmm... *ma'af* bikin aku ngantuk...

Aku gak menyesal dengan buku yang aku pilih… meskipun itu buku yang ternyata gak sesuai dengan ekspektasiku…

Tapi yang pasti.. membaca membuat aku merasa di surga…

*tulisan ini dibuat sebagai hadiah ulang tahun untuk Surgabuku*
*happy birthday, surgabuku… semoga selalu menjadi surga untuk para pencinta buku*
*pssttt… paket B boleh juga tuh, me
l… *

When God was a Rabbit

When God was a Rabbit
Sarah Winman @ 2011
Rini Nurul Badariah (Terj.)
Penerbit Bentang – Cet. I, Agustus 2011
398 Hal.
(Trimedia – Mal Ambasador)

Judulnya ‘nakal’ dan menarik perhatian. Tapi jangan berpikir ini bakal mengarah ke sebuah novel spiritual atau yang berbau-bau religi. Judul ini dan beberapa hasil review membuat gue pun tertarik untuk membaca When God was a Rabbit ini.

Dan jangan salah lagi berpikir kalau ini sebuah novel bergenre romance. Cover-nya memang manis. Berwarna kuning, ditambah dengan siluet seorang perempuan dan laki-laki, ada payung dan sepeda. Cukup romantis kan?

When God was a Rabbit bisa dibilang mengisahkan perjalanan hidup seorang gadis bernama Elly. Bersetting di London. Terbagi dalam dua bagian – bagian pertama ketika Elly masih seorang gadis kecil menjelang remaja berusia belasan tahun dan bagian kedua, ketika Elly berusia 27 tahun.

Ia hidup dalam keluarga yang unik. Ayahnya, seorang pengacara yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Ia punya kakak laki-laki yang selalu melindunginya bernama Joe. Joe lah yang menyimpan rahasia Elly selama bertahun-tahun.

Elly bisa dibilang tak punya teman dekat. Hingga pada suatu hari datanglah seorang gadis bernama Jenny Penny. Jenny Penny pun menjadi sahabat Elly. Ia yang membela saat Elly dibilang ‘sesat’ karena memberi nama ‘God’ untuk seekor kelinci.

Tokoh-tokoh lain yang gak kalah unik adalah Arthur, seorang laki-laki tua yang awalnya tinggal sementara di Bed & Breakfast milik orang tua Elly, tapi akhirnya malah jadi seperti keluarga yang menetap permanen bersama keluarga Elly, lalu ada Ginger – perempuan nyentrik lainnya, tak ketinggalan Nancy, adik ayah Elly yang seorang artis. Lalu, Charlie, teman dekat Joe.

Mungkin awalnya memang agak ‘ribet’ baca buku ini. Mencari polanya, mencoba memahami apa yang ingin disampaikan penulis. Banyak banget permasalahan di dalam buku ini, mulai dari kakak laki-laki yang seorang gay, tante yang lesbian, ibu yang kena kanker, pelecehan seksual, pembunuhan, penculikan sampai peristiwa 11 September. Tak hanya Elly dan Joe yang menyimpan rasa duka, tapi juga ayah Elly, yang menyimpan rasa bersalah dalam hati selam bertahun-tahun.

Campur aduk… sedih, gembira, tawa, pahit, manis… membacanya ada rasa ‘getir’. Gimana sih, rasanya… mau coba tersenyum, tapi ada terselip rasa sakit. Ada saat gembira ketika sahabat lama datang kembali, dan ketika harus kehilangan karena orang terdekat yang lainnya malah pergi.

Buku ini bercerita tentang hubungan antara adik perempuan dan kakak laki-laki. Tentang persahabatan yang sempat terputus.

Tuesday, November 08, 2011

Thing Your Mother Never Told You

Thing Your Mother Never Told You
Olivia Lichtenstein @2009
Orion Books – 2009
312 hal.
(pinjam dari mia)

Ketika seseorang sudah tiada, ada saja hal-hal yang baru diketahui kemudian. Begitulah yang dialami Ros. Ia menemukan banyak rahasia yang tak sempat disampaikan ibunya, Lilian ketika ia masih hidup.

Buku ini bercerita tentang Ros, yang sedang mengalami gonjang-ganjing dalam pernikahannya. Pernikahan yang sudah berjalan selama 20 tahun diambang perceraian, karena Ros tidak tahan dengan suaminya yang punya masalah dengan pengendalian emosi.

Suatu hari, ia menemukan sebuah selebaran yang berisi iklan seorang cenayang. Keinginan untuk ‘bertemu’ dengan Lilian, membuat Ros menelpon Clare Voyante – yang ternyata sudah tahu kalau Ros akan menghubunginya.

Lilian dibesarkan di Afrika Selatan. Ia tidak setuju dengan adanya perbedaan perlakuan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Semasa kuliah dan setelah lulus, Lilian terlibat dalam suatu organisasi yang membela hak-hak orang kulit hitam. Bahkan Lilian sempat terlibat hubungan asmara dengan Sipho, salah satu aktivis yang berkulit hitam. Mereka menjalani hubungan ini secara sembunyi-sembunyi.

Selama ini Ros hanya mengetahui sedikit tentang kehidupan masa lalu Lilian. Tapi, suatu hari ia menerima kiriman paket berisi tulisan Lilian yang akan dibukukan. Dari sinilah, Ros banyak mendapat kejutan.

Sementara itu, kehidupan sehari-hari Ros dipenuhi dengan hal-hal baru berkaitan dengan ‘status’ yang yang sebentar lagi akan berubah. Ros nekat men-tato kakinya, sampai-sampai ia diprotes karena memberi contoh yang kurang baik bagi anak didiknya. Lalu, memberanikan diri untuk mendaftar kencan online.

Gue sih lebih tertarik baca tentang kehidupan Lilian di Afrika Selatan, kaya’nya lebih banyak misteri dan dramanya. Karakter Lilian, ibu yang kaya’nya normal, tapi punya kebiasaan-kebiasaan unik. Yang lucunya, kalo tiba-tiba dia seolah ‘bicara’ sama Ros dari alam lain. Sementara tentang Ros rasanya udah sering gue baca di buku-buku lain, jadi gak terlalu 'mencuri perhatian'.

Thursday, November 03, 2011

Rumah Tangga yang Bahagia

Rumah Tangga yang Bahagia
Leo Tolstoy
Dodong Djiwapradja (Terj.)
Pustaka Jaya, Cet. II – Desember 2008
168 Hal.
(for #savepustakajaya)

Cintaku cinta untuk seumur hidup, karena itu janganlah mengambil sesuatu yang kupandang berharga dalam hidup ini (-- hal. 106)

Masha, Katya dan Sonya, hidup dalam rasa duka setelah ibu mereka meninggal. Kesepian dan kesunyian, itulah yang mereka rasakan. Musim dingin jadi terasa semakin beku dengan kesedihan mereka. Kerabat yang datang mengunjungi mereka, bukannya memberi penghiburan tapi malah semakin membuat suasana jadi muram. Tokoh utama dalam novel ini adalah Masha. Gadis berusia 17 tahun.

Satu-satunya orang yang ditunggu dan bisa membuat suasana lebih ceria adalah Sergei Mikhailich. Ia adalah sahabat ayah mereka, teman terdekat bagi Masha, Katya dan Sonya. Sergei-lah yang mengurus harta benda peninggalan orang tua mereka. Kedekatan ini membuat Masha mempunyai perasaan lain. Tidak hanya sayang seperti layaknya seorang adik pada kakak, tapi timbul rasa cinta yang lebih mendalam. Tapi, usia mereka terpaut cukup jauh. Hingga rasanya tak mungkin bagi Masha untuk mewujudkan angan-angannya. Dan ternyata, Sergei juga merasakan hal yang sama. Ia pun jatuh cinta pada Masha. Kendala usia membuat Sergei juga tak berani mengungkapkan perasaannya pada Masha.

Masha jadi kesal, ‘gregetan’, karena sikap Sergei yang terkadang penuh perhatian, tapi kadang menjauh. Sampai akhirnya justru Masha yang memberanikan diri membuka perasaannya. Tapi, bagi Sergei takut. Menurutnya, di usia remaja itu, Masha harusnya bersenang-senang, masih maunya ‘bermain-main’.

Memang sih, akhirnya mereka menikah (spoiler bukan ya?) Pasangan pengantin baru itu tinggal bersama ibu Sergei yang orangnya ‘apik’ banget. Semua serba teratur dan rapi. Lama-lama, Masha jenuh. Rumah tangganya mulai terasa hambar. Maka untuk membuat Masha senang, Sergei mengajak Masha berlibur ke St. Petersburg.

Di St. Peterburg inilah Masha kenal dengan ‘dunia lain’. Selama ini ia tinggal di desa, sekarang bertemu dengan orang-orang kota yang kaya, diundang ke pesta sana-sini dan mendapatkan banyak pujian karena kecantikannya, Masha ‘terbuai’, sementara Sergei malah memilih menarik diri dari pergaulan itu.

Nah, di sinilah mulai kelihatan perbedaan mereka karena usia yang terpau sangat jauh itu. Masha merasa Sergei menjauh dan berubah. Sementara Sergei sendiri terkesan cuek. Saat Masha merasa telah berkorban, Sergei malah bertanya tentang apa maksud pengorbanan itu.

Jadi, berhasilkan mereka mewujudkan rumah tangga bahagia yang mereka impikan? Berhasilkah mereka menjembatani perbedaan di antara mereka? Sebenarnya ,apa sih arti berkorban itu ya? Kalau salah satu sebenernya gak rela, apa gak malah jadinya bikin sebel dan tersiksa?

Kisah cinta memang selalu jadi ide yang menarik untuk bikin cerita. Tapi, membuat sesuatu yang berbeda biar ‘keliatan’ itu susah. Di sinilah uniknya cerita ini. Kisah cinta antara dua pasangan yang usianya jauh berbeda.

Buku klasik memang bukan ‘makanan’ gue. Terjemahannya sedikit membuat gue pusing dengan bahasa yang sangat baku (dan ada kata-kata yang baru pertama kali gue baca), tapi, ternyata, kalimat-kalimatnya mampu membuat gue bertahan membaca buku ini hingga tuntas. Puitis dan indah.

Hari itu berakhirlah petualangan cintaku dengan suamiku, cintaku yang lama tetap merupakan kenang-kenangan yang indah dan tak ‘kan kembali ….

… dan kehidupan ini tak pernah berakhir sampai hari ini.

-- hal. 166

Tuesday, November 01, 2011

Queen of Dreams

Queen of Dreams (Ratu Mimpi)
Chitra Banerjee Divakaruni @ 2004
Gita Yuliani (Terj.)
GPU – Agustus 2011
400 hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Penafsir mimpi… itulah ‘profesi’ ibu Rakhi. Profesi yang penuh rahasia. Ia bukan seorang peramal, tapi ia bisa merasakan apa yang dibawa oleh bunga tidur. Rakhi tak pernah mengerti kenapa ibunya tidur terpisah dari ayahnya. Kenapa ibunya tidur di lantai, bukan di tempat tidur seperti dirinya? Rakhi kecil juga ingin bisa menafsirkan mimpi seperti ibunya, tapi, tidak sembarang keturunan bisa mendapatkan ‘anugerah’ itu.

Rakhi, seorang seniman dan orang tua tunggal. Sebagai keturunan India yang bermukin di California, ia berjuang menata kehidupannya setelah perceraiannya dengan Sonny. Ia mengelola Chai House – sebuah café – bersama temannya, Bella. Tapi, persaingan dengan franchise café lain, membuat Chai House nyaris gulung tikar. Pelanggan Chai House ternyata lebih memilih Java Café yang lebih ‘megah’ dibanding kesederhanaan dan keakraban yang ditawarkan Chai House.

Di malam pameran perdana Rakhi di sebuah galeri, justru ia menerima berita duka. Ibunya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, meninggalkan rahasia. Setelah ibu Rakhi meninggal, pelan-pelan, Rakhi berusaha mengurai rahasia itu.

Hubungan Rakhi dan ayahnya memang tidak bisa dibilang harmonis. Ayah Rakhi gemar mabuk-mabukkan. Ibu Rakhi-lah yang selalu berusahan jadi penyeimbang di antara mereka. Tapi, dalam hati, Rakhi kerap menyalahkan ayahnya atas semua kondisi ini.

Sebuah surat-surat berbahasa Bengali peninggalan ibu Rakhi menjadi sebuah sarana untuk mengenal siapa ibu Rakhi sebenarnya. Ayah Rakhi membantu menerjemahkan surat-surat itu.

Sementara itu, Chai House berganti nama dan ‘format’, menjadi Kurma House, yang menyajikan camilan khas India yang ternyata menarik perhatian banyak orang. Ayah Rakhi lah yang menjadi chef di Kurma House.

Lambat laun, bukan hanya rahasia tentang ibu Rakhi yang terungkap, tapi Rakhi pun semakin mengenal ayahnya. Ia tahu bagiamana orang tuanya bertemu, dari mana ayah Rakhi mendapatkan keahlian memasak. Bukan hanya itu, kegemaran ayah Rakhi yang suka menyanyi lagu-lagu India-lah yang juga menarik minat orang mengunjungi Kurma House.

Tapi, saat peristiwa 11 September, semua orang jadi saling mencurigai. Rakhi dan sesama keturunan India lainnya, tak luput dari ancaman orang-orang Amerika yang mendadak jadi patriotik. Rakhi bertanya-tanya, ia yang selama ini merasa sebagai orang Amerika, tapi di saat itu tak seorang pun yang percaya akan ‘ke-amerika-annya’.

Pertama: gue suka sebel sama Rakhi. Keras kepala, maunya didengerin, maunya bener. Apalagi kalo udah ketemu sama Sonny – mantan suaminya itu. Padahal apa yang dibilang Sonny ada benernya, tapi gara-gara gengsi dan egois, Rakhi lebih memilih berbantahan dan bertengkar.

Kedua: tokoh ayah Rakhi yang dibalik kebiasaan buruknya itu, ternyata juga tertekan. Tapi, tetap mencintai istrinya. Saat gue baca bagian Kurma House yang mulai ramai itu, kaya’nya gue bisa membayangkan sibuknya Kurma House, penuh dengan pemusik-pemusik tradisional yang mampir. Suka cita, kemeriahan Kurma House ikut terasa. Belum lagi, camilan khas India yang masih panas mengepul. Hmmm…

Ketiga: buku ini mengingatkan gue sama Mistress of Spices – eksotis dan misterius. Sama-sama tentang sebuah ‘profesi’ yang misterius. Sama-sama menempuh pendidikan di sebuah tempat tersembunyi, punya tetua dan pantangan. Kalau melanggar, artinya harus keluar dan kehilangan ‘keahliannya’ pelan-pelan.

Tapi, tetap… gue selalu terhanyut sama tulisan Chitra Banerjee Divakaruni. Selalu ada yang ‘misterius’ di balik cerita-ceritanya.

Monday, October 31, 2011

Sweet Misfortune

Sweet Misfortune: Cinta dalam Kue Ke(tidak)beruntungan
Kevin Alan Milne @ 2010
Harisa Permatasari (Terj.)
Penerbit Qanita - Cet. I, Juli 2011
456 hal.
(dari kuis #akudan mizan – via @penerbitmizan)

Some people are lucky in love
You aren’t one of them

Itulah salah satu kalimat yang tertera di secarik kertas yang ada di dalam kue. Lazimnya sih, kalimat ini ada dalam kue keberuntungan yang biasanya ada di restoran Cina. Tapi, Sophie Jones malah menulis kalimat-kalimat pahit di dalam kue bikinannya – mengambil ide dari kue keberuntungan, tapi bukan rasa manis yang didapat, justru akan meninggalkan rasa pahit – sepahit bait-bait kalimat yang ada di dalam kue itu.

Sophie tidak percaya dengan yang namanya kebahagiaan sejati. Di saat ulang tahunnya yang kesembilan, ia harus kehilangan ayah dan ibunya dalam sebuah kecelakaan. Sophie terus menyalahkan dirinya, beranggapan karena dirinyalah kecelakaan itu terjadi. Selama dua puluh tahun, Sophie terus memendam rasa bersalah itu.

Jangan terhanyut oleh seorang yang romantis setengah mati. Romansanya akan berakhir dan yang tertinggal hanyalah setengah mati (hal. 131)


Ia berharap menemukan kebahagiaan itu dalam pernikahannya. Tapi, ternyata, tanpa penjelasan apa –apa tunangannya, Garrett Black, meninggalkannya begitu saja. Sophie terlanjur sakit hati. Peristiwa inilah yang memberi ide bagi Sophie untuk membuat kue ke(tidak)beruntungan. Tak disangka-sangka kue menarik para pelanggan di Chocolat’ de Soph – toko cokelat milik Sophie.

Setahun kemudian, Garrett ingin kembali pada Sophie. Tapi, Sophie yang terlajur pesimis, tidak mau menerima Garrett begitu saja. Sophie menantang Garrett untuk membuat iklan di koran yang isinya mencari kebahagiaan sejati – kebahagiaan yang bersifat jangka panjang. Jika ada 100 orang yang memenuhi criteria yang diminta Sophie, maka Sophie bersedia meluangkan waktu untuk berkencan dengan Garret.

Jika ditawari sebuah mimpi yang bertahan seumur hidup, KATAKAN TIDAK! Ingat, itu hanya sebuah mimpi (hal. 149)


Awalnya iklan itu tidak mendapat banyak tanggapan, tapi, tiba-tiba ada yang memberi informasi pada stasiun televisi setempat, hingga akhirnya respons yang diterima nyaris tidak mampu ditampung oleh Sophie. Selama proses membaca surat-surat itu, banyak hal-hal darimasa lalu yang terungkap.

Asyik juga kalimat sinis’ yang dibuat Sophie. Malah lucu, jadi lebih ‘realistis’ Inti novel ini adalah tentang memaafkan diri sendiri dan juga berbesar hati menerima pengakuan orang lain. Salah satu tokoh malah mengajarkan arti berbesar hati dengan segala kekurangannya dan mencoba untuk selalu bahagia.

Friday, October 28, 2011

Maya & Filippo Play Chef at Sea

Maya & Filippo Play Chef at Sea
Alinka Rutkowska
Konrad Checinski (Illustrator)
27 pages
(via Member Giveaway – Library Things.com)


Dapet buku ini dari hasil berburu ‘Member Giveway’ di Library Things. Sebenernya udah banyak banget dari Library Things, tapi karena bentuknya e-book, jadi rada males bacanya. Tapi karena ini buku anak-anak dan hanya 27 halaman (udah termasuk cover dan lain-lain), jadi iseng-iseng aja gue baca.

Ilustrasinya sederhana aja, tapi gak berwarna. Dan ternyata, memang ini edisi Color it Yourself. Jadi, kalo emang anak-anak gak terlalu tertarik dengan ilustrasinya, mereka bisa bikin buku ini jadi lebih menarik dengan warna pilihan mereka sendiri.

Tentang Maya dan Filippo yang lagi berlibur pake kapal pesiar. Di kapal ini, mereka ikutan kegiatan masak-memasak bareng anak-anak lain. Ternyata setelah gue baca, ‘terselip’ pelajaran yang digambarkan dengan cara simple tapi ‘mengena’. Tentang arti berbagi dan berani mencoba. Lalu, juga tentang belajar mengambil keputusan. Misalnya, Maya yang pengen bikin cheese cake, atau salah satu anak laki-laki pengen bikin kue cokelat. Saat mereka gagal, mereka jadi tahu di mana kekurangan atau kesalahan mereka.

Tweets for Life

Tweets for Life: 200 Wisdoms for a Happy, Healthy, and Balanced Life
Desi Anwar @ 2011
GPU - 2011
428 Hal
(dari kuis #tweetsforlife – via @Gramedia)

Hmmm… untuk menulis ‘review’ buku ini, gue berpikir keras. Buku yang susah buat gue untuk di-review. Ya sudah… cerita dulu aja deh. Buku ini, gue dapet dari hasil menang kuis #tweetsforlife di twitter-nya Gramedia Pustaka Utama. Dapetnya pas di hari terakhir, malah, gue gak ngeh kalo gue menang. Sebenernya, gue juga punya kesempatan untuk dateng ke acara lauching buku ini di Kinokuniya Plaza Senayan, tapi sayang, pas hari itu, Mika sakit, jadi terpaksa gue pulang cepet. Padahal, berharap bisa sekalian minta tanda tangan di buku ini.


Always make time to read a good books.
It adds depth to our thinking and feed our our imagination
(Sediakan selalu waktu untuk membaca buku yang bermutu, karena dapat memperkaya pemikiran and daya khayal kita)

Hal. 50

Fisik bukunya kecil, covernya berwarna kuning, gambar bunga (salah satu hasil jepretan Desi Anwar saat beliau jalan-jalan ke luar negeri – lupa ini diambil di mana). Setiap halaman, ada satu kalimat tweet-nya, plus foto-foto yang cantik.

Buku ini adalah kumpulan-kumpulan tweet-nya Desi Anwar. Awalnya, beliau hanya nge-tweet hal-hal yang remeh-temen, kaya’ hari ini makan apa, tweet pas lagi macet di jalan. Tapi, lama-lama, semakin banyak follower, mau gak mau beliau merasa ‘bertanggung jawab’ untuk men-tweet hal-hal yang lebih bermakna. Makanya lahirlah #tweetsforlife ini.

Always have a book handy.
A good books is a good friend
(Bawalah selalu buku ke mana pun kita pergi, karena buku dapat menjadi teman setia)

Hal. 76


Ditulis dalam dua bahasa – bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Terdiri dari tiga bagian: (1) Taking Care of Your Body (Memelihara Tubuh), (2) My Self and Others (Saya dan Orang Lain) dan (3) Peace Within (Kedamaian di Hati)

Nah, saat nulis ini nih, gue membayangkan momen yang ‘pas’ untuk baca buku ini. Lagi hujan-hujan – jangan lebat sih hujannya, ada angin sepoi-sepoi, duduk deh di teras (kalo ada pake kursi goyang lebih pas), jangan lupa sediain teh atau kopi. Terus, baca deh buku ini… pelan-pelan aja… Setiap kalimat harus dicerna pelan-pelan, diresapi biar bisa nangkep maknanya. Jangan lupa, nikmati juga berbagai foto yang melengkapi tweet itu (atau tweet yang melengkapi foto itu… terserah aja sih, kata Desi Anwar, mana yang enak menurut pembaca). Buku ini pas untuk koleksi atau kado.

Thursday, October 27, 2011

The Mysterious Benedict Society and the Perilous Journey

The Mysterious Benedict Society and the Perilous Journey
(Persekutuan Misterius Benedict dan Perjalanan Maut)
Trenton Lee Stewart
Maria M. Lubis (Terj.)
Penerbit Matahati – Januari 2010
546 Hal
(dari kuis Babutis – via Penerbit Matahati)

Untuk memperingati satu tahun berdirinya Persekutuan Misterius Benedict, Mr. Benedict mengundang teman-teman lamanya untuk berkumpul di rumah Mr. Benedict. Banyak yang berubah sejak setahun yang lalu - Reynie Muldoon – yang paling bijaksana, sekarang sudah resmi diadopsi oleh Miss Perumal, Kate yang gesit, tetap dengan ember merahnya, sudah bertemu ayahnya, Milligan dan tinggal di peternakan, Sticky Washington – yang paling pintar, dulu ‘sengaja’ ikut kuis sebagai mata pencaharian dan Constance Contraire – si paling kecil, paling judes dan paling menggemaskan yang sekarang tinggal bersama Mr. Benedict.

Reynie dan Sticky sepakat untuk bertemu di peternakan Kate sebelum bersama-sama menuju kediaman Mr. Benedict. Mereka semua sudah tidak sabar untuk berkumpul kembali. Apalagi Mr. Benedict sudah menyiapkan kejutan yang pasti seru.

Memang ada kejutan yang menanti mereka, tapi bukan sesuatu yang menyenangkan. Mr. Benedict dan Nomor Dua hilang… diculik. Tentu saja oleh saudara kembar Mr. Benedict dan juga musuhnya, Mr. Curtain. Tujuan Mr. Curtain menculik Mr. Benedict adalah untuk mendapatkan duskwood, jenis tanaman yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit ‘tidur’ atau narcolepsy yang diderita Mr. Benedict. Tapi, pastinya, Mr. Curtain menginginkan tanaman itu bukan untuk tujuan yang baik.

Dengan tujuan untuk menyelamatkan Mr. Benedict dan Nomor Dua, Reynie, Kate, Sticky dan Constance pergi dari rumah dengan diam-diam. Mereka berusaha memecahkan teka-teki atau petunjuk yang ditinggalkan oleh Mr. Benedict.

Dalam perjalanannya, mereka berempat menemui banyak halangan yang berasal dari orang-orang suruhan Mr. Curtain. Kalo dulu orang-orang ini bernama Sang Pembisik, kali ini mereka disebut Manusia Sepuluh.

Perjalanan penuh rahasia dan berbahaya ini membawa mereka ke menyeberangi lautan menuju Portugal, ke Belanda sampai akhirnya sampai di sebuah pulau.

Wah, asyik lho baca petunjuk-petunjuknya Mr. Benedict. Dan ternyata menuju ke tempat-tempat yang asyik dan tak terduga. Untuk anak-anak sekecil mereka (apalagi Constance), perjalanan ini panjang, melelahkan dan juga menguras emosi. Apalagi, Constance – karena ia tinggal bersama Mr. Benedict - ia jadi lebih terpukul dengan menghilangnya Mr. Benedict. Tapi, bener deh, pengen rasanya towel-towel pipinya Constance.. ngeselin tapi menggemaskan.

Di Balik Lemari Buku…


Buku… satu hal yang masih terus melekat dari gue kecil sampai sekarang. Gue juga bingung kenapa di dalam keluarga gue, di antara kakak dan adik-adik gue, hanya gue yang kadar hobi bacanya lebih. Samar-samar, gue masih inget bacaan gue waktu kecil – mulai dari Bobo yang ditunggu-tunggu setiap hari Kamis pulang sekolah, seri Lima Sekawan (yang sekarang nyesel udah gue kasih ke orang…), komik Smurf dan Asteris (sampai sekarang, gue masih suka berharap mereka betulan ada…). Pas udah gede begini, gue bacaan gue mulai bervariasi – perkenalan gue yang pertama dengan novel tebel adalah baca bukunya Danielle Steel yang judulnya The Wings (kalo gak salah) dan gue sempat jadi kolektor buku-buku Danielle Steele.

Berkenalan dengan milis pasarbuku, membaca cerita orang-orang di milis itu, bacaan gue jadi semakin beragam – mulai dari novel Pramoedya Ananta Toer, kenalan sama genre fantasi, historical-fiction dan lain-lain. Wawasan gue jadi tambah luas. Bacaan gue gak hanya berkisar dari satu penulis tertentu.

Tentang akhirnya gue ‘tercebur’ dalam dunia nge-blog, awalnya, gak berniat bikin blog buku sendiri. Nge-blog sendiri bermula sekitar tahun 2003, waktu itu hanya pengen nulis aja – ikut-kutan orang gitu. Pengen tau blog itu kaya’ apa, buat apa. Sempet mikir, siapa ya yang mau baca blog gue? Maklum, sifat introvert dalam diri gue, bikin gue gak percaya diri.

Lalu, mulailah cerita ngalor-ngidul, gak penting, tentang cerita sehari-hari di blog lama gue. Ada tentang jalan-jalan, tentang film… tapi lama-lama, kenapa banyakan posting tentang buku?

Maka diputuskan untuk memisahkan antara blog tentang curhat sehari-hari dengan blog buku. (bahkan gue sempet bikin blog khusus untuk ‘review’ film lho… )

Akhirnya, tahun 2007, resmilah gue punya blog buku. . Ya, tujuannya sih cuma pengen nulis aja apa yang udah gue baca. Terinspirasi juga dengan hasil blog walking ke para blogger buku, yang ternyata keren-keren

Dengan adanya blog buku ini, gue mendapat tambahan banyak temen baru yang punya kesukaan sama dengan gue. Yang gak peduli apa komentar orang ketika baca buku romance – yang katanya isinya hanya mimpi. Bertemu teman-teman baru ini banyak menularkan tipe buku yang suka mereka baca ke gue. Bikin ‘mupeng’ dengan buku-buku mereka yang keren-keren atau buku-buku yang sama sekali tadinya gak terpikir untuk gue baca.

Salah seorang teman yang ‘setia’ dari awal menyemangati gue adalah Om Tan. Perkenalan sejak di milis pasarbuku, membahas buku ‘In the Name of the Rose’. Hehehe.. canggih kan bahasannya?

Gue sendiri masih suka malu kalo bilang isi blog ini adalah ‘resensi’ atau ‘review’ buku. Kenapa? Soalnya, gue jarang meng-kritik isi buku itu. Kalo pun ada, biasanya gak mendalam seperti yang suka gue baca di blog temen-temen yang lain. Paling gue sekadar sharing, apa yang gue rasain waktu baca buku itu, tokoh mana yang gue suka, mana yang nyebelin. (lagi-lagi), gue gak pede meng-kritik. Hehehe.. gue terlalu mikirin orang lain kali ya, jadi setiap gue mau nulis yang rada ‘jelek-jelek’, gue suka mikir, “Duh, siapa gue sih, berani-beraninya nulis yang jelek-jelek.”

Soal lay-out blog ini, entah sudah berapa kali ‘ganti baju’. Dan yang terakhir yang sekarang lagi di pake, yang gue rasa paling pas – simple dan bersih. Tapi masih bisa ditambah aksesoris yang lain.

Sekarang, gue jadi makin semangat untuk nulis di blog buku gue ini. Program ‘Baca Bareng’ sama temen-temen di Blogger Buku Indonesia bikin ‘ketagihan’. Minat yang sama membuat ada semangat baru dalam membaca dan membuat 'review'. Becandaan, kegalauan, kecentilan dan si Bebi yang sok imut membuat gue jadi sering tertawa-tawa, senyum-senyum sendiri di depan monitor komputer ini.

Bonus tambahan - gara-gara perkenalan gue dengan teman-teman BBI, gue sering kebagian ‘buntelan’ – tiba-tiba sering ketiban rejeki hasil menang kuis hehehe.. atau, ikut ketagihan ber-swap ria. O iya... pinjem-pinjeman buku juga...

Terima kasih ya, buat teman-teman yang udah mencemplungkan gue ke dalam BBI. Nice to ‘meet’ you all… *hugs*

*ma’af tulisannya berantakan begini… gak fokus gara-gara boss bolak-balik ke meja :D*

posting ini dibuat dalam rangka memperingati hari blogger nasional 2011, sekaligus sebagai postingan bersama BBI.

Tuesday, October 18, 2011

Therese Raquin

Therese Raquin
Émile Zola @ 1867
Juanda Tantani (Terj.)
GPU – Agustus 2011
336 Hal
(Gramedia PIM)

Di sebuah jalan suram di daerah Passage du Pont-Neuf, Paris, ada sebuah toko perlengkapan jahit-menjahit yang dimiliki oleh keluarga Raquin. Toko itu juga merangkap tempat tinggal mereka. Di lantai atas, Mme Raquin tinggal bersama anaknya, Camille dan menantunya, Therese. Rumah itu terasa suram, dingin dan sunyi.

Keluarga kecil ini datang dari kota Vernon. Mme Raquin sangat protektif pada anak laki-laki semata wayangnya itu, dikarenakan sedari kecil Camille selalu sakit-sakitan. Hidupnya nyaris dihabiskan di tempat tidur, minum berbagai macam obat-obatan. Sementara, Therese, sebenarnya masih sepupu Camille. Ia diserahkan oleh seorang laki-laki kepada Mme Raquin ketika masih kecil. Sejak tiba di sana, Therese selalu tidur di ranjang yang sama dengan Camille dan terpaksa ikut minum berbagai macam obat yang diberikan kepada Camille.

Therese sebenarnya menginginkan sebuah kebebasan, berlarian di udara terbuka. Tapi, terbiasa pasif, membuat Therese juga terbiasa diam, menuruti semua kemauan Mme Raquin, bahkan ketika diminta untuk menikah dengan Camille.

Sikap protektif ini pula yang membawa keluarga kecil ini ke daerah suram di Passage du Pont-Neuf. Keceriaan yang berusaha diciptakan oleh Mme Raquin tidak berhasil menular ke menantunya. Bahkan, Therese semakin lama semakin muak dengan kehidupannya. Ia jijik dengan suaminya sendiri.

Suatu hari, saat Camille datang bersama teman lamanya, Laurent, tiba-tiba ada gairah baru dalam diri Therese. Dan ternyata, Laurent pun ‘mengambil’ kesempatan itu. Saat Camille pergi bekerja, pasangan ini bertemu diam-diam di dalam kamar tidur Therese. Karena mereka menganggap Camille adalah halangan, maka mereka berdua berencana untuk melenyapak Camille.

Namun, saat rencana mereka berhasil, justru Camille tetap jadi halangan. Camille seolah menghantui mereka sampai mereka berdua lupa apa tujuan mereka pada awalnya. Akhirnya mereka jadi bak kucing dan anjing yang selalu bertengkar dan saling menyalahkan.

Jangan terjebak dengan cover yang cantik ini. Ini bukan novel romance yang penuh kata-kata cinta. Isinya justru penuh dengan kelicikan dan nafsu. Laurent bukanlah pria tampan yang tatapannya sanggup membuat perempuan meleleh, Therese juga bukan gadis cantik yang bikin pria jadi kalang kabut. Mereka bertemu dan berhubungan karena saling memanfaatkan kesempatan, untuk mendapatkan keuntungan pribadi, bukan karena cinta. Laurent mendapatkan tiga keuntungan, perhatian seorang ibu dari Mme Raquin, mendapat teman bicara bersama Camille dan pemuas nafsu yang diberikan Therese. Sementara Therese mendapatkan kebebasan yang selama ini ia impikan ketika bersama Laurent. Dan buat gue, Laurent adalah cowok yang menyebalkan, selalu berusaha mengambil keuntungan dan licik.

Buku ini pernah menuai protes, karena dianggap terlalu ‘vulgar’. Makanya di edisi kedua, penulis merasa perlu memberikan pendahuluan (1868). Ternyata, kata Émile Zola, jangan diliat dari segi vulgarnya, tapi liat dari sisi ilmiah dan psikologisnya. Setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda, Therese bersifat Koleris – yang sebenarnya adalah orang yang kuat dan optimis, tapi gak punya banyak teman. Kalau di sini, Therese gak punya teman dan gak terbiasa mengutarakan keinginannya karena selalu ‘diatur’ oleh Mme Raquin. Dan ketika bersama Laurent, dia bebas mengutarakan apa yang ada di pikirannya., Laurent si Sanguine – yang senang sama kepopuleran, ekstrovert dan selain ingin bersenang-senang dan Camille yang Plegmatis – menyukai ketenangan, pesimis dan biasanya bersifat sebagai pengamat.. Pada akhirnya saat mereka bertemu, menciptakan sebuah konflik yang memunculkan sifat kebinatangan (dalam hal ini Laurent dan Therese).

Wuihh.. kenapa tiba-tiba gue jadi sok ber-psikolog begini? Hehehe.. ini gue dapat dari berbagai sumber hasil bertanya sama Uncle Goole :)

Kembali ke bukunya, seperti yang sudah ‘tertanam’ di otak gue, buku yang minim percakapan akan jadi buku yang membosankan. Tak terkecuali buku satu ini. Tadinya, mau buat baca bareng BBI bulan Oktober ini… eh.. ternyata gak se'romantis' yang gue harapkan...
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang