Monday, August 06, 2007

Century

Century
Sarah Singleton
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – 2007
248 Hal.

Mercy dan adiknya, Charity, tinggal di sebuah rumah bernama Century dalam musim dingin panjang yang sepertinya tidak akan pernah berakhir. Mereka tinggal bersama ayah mereka, Trajan Verga, dan dua orang pelayan – Aurelia dan Galatea yang masih terhitung kerabat mereka. Sedangkan ibu mereka, Thecla, sudah meninggal. Di sekitar rumah mereka, tidak ada rumah-rumah lain. Mereka benar-benar hidup sendiri.

Keluarga Verga menjalani ritme kehidupan yang aneh. Mereka menjalani hari-hari yang ‘terbalik’. Mereka bangun ketika matahari terbenam dan tidur menjelang fajar. Seperti layaknya anak-anak normal, Mercy dan Charity juga belajar di bawah pengawasan Galatea. Sementara Aurelia lebih banyak mengurus dapur. Mercy dan Charity juga berjalan-jalan di luar rumah, hanya saja semua itu dilakukan di malam hari.

Mercy memiliki kelebihan, yaitu bisa melihat hantu. Tapi, tidak satu pun hantu itu bisa membuatnya takut. Sampai di satu malam, Mercy berjalan-jalan ke kolam di dekat rumahnya. Di kolam yang membeku itu, ia melihat hantu wanita yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Berbeda dengan biasanya, kali ini Mercy merasa ketakutan.

Sejak saat itu, di kepala Mercy timbul berbagai pertanyaan. Selain masalah hantu wanita di kolam es itu, Mercy menemukan sekuntum bunga snowdrop di bantalnya, bunga tanda musim semi tiba, sebuah musim yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Ditambah lagi dengan kemunculan laki-laki misterius bernama Claudius, yang mengatakan bahwa Mercy bisa bebas dan bisa melihat ibunya lagi. Mulailah Mercy bertanya-tanya kepada Trajan dan juga Galatea tentang ibunya. Karena ia merasa, ia tidak ingat kapan ibunya meninggal, bahkan kenangan tentang ibunya pun sudah memudar dari ingatannya. Tapi, Trajan dan Galatea bersikap tertutup, menghindar dari pertanyaan-pertanyaan Mercy.

Mercy semakin merasa banyak kejanggalan dalam rumah mereka. Sampai akhirnya, berkat ‘tuntunan’ hantu gadis kecil yang sering dilihatnya, Mercy menemukan sebuah pintu yang akan menuju kepada sebuah jawaban misteri rumah mereka. Ternyata ada labirin-labirin yang menyelubungi rumah mereka, dan Mercy harus mematahkan sebuah mantra untuk bisa membebaskan mereka semua. Mercy harus menulis ulang kisah hidup mereka, seperti yang sudah dilakukan Trajan.

Ada alasan kenapa Trajan menulis sebuah kisah yang membuat mereka ‘tersembunyi’ dari dunia luar. Keluarga Verga ini bisa dibilang kaya’ Highlander, mereka bisa hidup ‘abadi’, kecuali karena terbunuh. Atau.. bisa juga kaya’ vampire, minus darah, karena mereka hidup di malam hari. Karena alasan ‘berbeda’ dengan orang biasa-lah, Keluarga Verga pindah dari Italia – yang mereka sebut negara lama - ke Inggris. Dengan harapan tidak ada yang memperhatikan perbedaan mereka. Masalah sebenarnya berawal ketika Claudius jatuh cinta pada Marietta yang ‘orang biasa’.

Kalau dipikir-pikir, Claudius dan Trajan seperti seorang ‘psikopat’ yang gak mau kehilangan apa yang mereka miliki… terutama karena cinta sih… misalnya Claudius yang ingin mengambil ‘roh’ Marietta agar Marietta bisa hidup abadi, juga Trajan yang langsung ‘down’ karena kematian Thecla. Kesannya egois banget.

Waktu ngeliat cover-nya, gue jadi inget cerita ‘The Ghost Writer’. Agak membingungkan di awal, soalnya, kita gak tahu asal mula kenapa keluarga Verga selalu hidup di malam hari. Dan… seperti biasa… selalu gak comfort kalo baca cerita yang ada hantu-hantu melayang-layang… ehh.. pake ditambah hantu di dalam kolam itu. Hehehe… tapi.. tetap aja, pengen baca. Sempet pengen berhenti di tengah jalan.. tapi, penasaran juga sih…

Thursday, August 02, 2007

Glonggong

Glonggong
Junaedi Setiyono
Penerbit Serambi – Cet. 1, Juli 2007
293 Hal.

Glonggong, adalah sebuah permainan daerah, permainan perang-perangan dengan menggunakan pedang glonggong – pedang dari tangkai daun pepaya - sebagai senjata.

Buku ini mengisahkan tentang perjalanan hidup seorang anak keturunan priyayi di Jawa yang kemudian lebih dikenal dengan nama ‘Glonggong’. Glonggong tidak mengenal siapa ayah kandungnya, ia hanya tahu sosok ibunya yang lebih sering mengurung diri di kamar. Ayah tirinya pun lebih banyak berada di luar rumah dan jarang pulang.

Meskipun anak seorang Raden, Glonggong lebih banyak bermain dengan anak-anak kampung untuk bermain glonggong. Awalnya ia hanya duduk memperhatikan anak-anak lain bermain, tapi, semakin ia besar, ia mulai diperbolehkan ikut bermain glonggong. Makin lama, Glonggong dikenal sebagai ‘petarung’ yang tangkas, tidak ada lagi yang memanggil nama aslinya, kecuali dua orang pembantu di rumahnya. Ia semakin dikenal dengan nama ‘Glonggong’, nama yang akan menentukan jalan hidupnya di kemudian hari.

Dari permainan glonggong itu, ia menemukan kawan dan juga lawan. Tidak hanya dari kalangan pribumi, tapi juga dua orang anak Belanda yang kemudian memberikannya sebuah glonggong istimewa dan buku ‘Gulliver’s Travel’.

Di usia 17 tahun, Glonggong harus kehilangan ibunya. Rumahnya terbakar. Glonggong hidup sebatang kara. Ia diajak bekerja sebagai ‘centeng’ di rumah seorang bangsawan Jawa. Ketika itu, masa perang Pangeran Dipanegara. Banyak bangsawan Jawa yang lebih memilih untuk tunduk kepada pemerintah Belanda dibanding memberontak. Glonggong merasa beruntung bisa bekerja pada seseorang yang ternyata berpihak pada Pangeran Dipanegara.

Sambil bekerja, Glonggong terus mencari tahu keberadaan ayahnya dan juga keluarganya yang lain. Tapi, ternyata, Glonggong sering dikhianati oleh orang yang ia percaya. Berkali-kali Glonggong harus berhadapan dengan lawan yang selama ini ia tahu adalah temannya.

Ada kebanggaan tersediri ketika akhirnya Glonggong mendapat kesempatan untuk ikut membantu membawa barang berharga milik Pangeran Dipanegara. Di tengah jalan, ada komplotan perampok yang mencegatnya, dan mencuri barang berharga itu. Meskipun sudah melawan, tapi tetap Glonggong harus mengalami luka parah.

Glonggong termasuk orang yang pantang menyerah. Demi tugasnya, ia bertekad mencari tahu di mana barang berharga itu ada dan mengembalikan pada pemilik sahnya.

Dalam perjalanannya, glonggong-lah yang selalu setia menemani Glonggong. Ia tidak mau membawa senjata tajam, pistol atau apa pun selain glonggong.

Cerita di buku ini berlatar belakang Perang Pangeran Dipanegara (Diponegoro). Gue jadi inget film ‘November 1828’. Biarpun pusat ceritanya hanya pada satu orang, tapi, gak bikin buku ini jadi membosankan... malah, ternyata.. asyik banget… biasanya, gue termasuk yang lama kalo baca buku ‘serius’ begini, tapi… hmmm… lumayan.. gak sampe satu minggu udah selesai.

Setiap pergantian bab, ditulis dalam bahasa Jawa. Sempet bikin kening berkerut juga karena gak ngerti apa artinya, bolak-balik ke halaman paling belakang, ternyata ada Glosari-nya.

Tuesday, July 31, 2007

The Floods: Playschool (Keluarga Flood: Sekolah Sihir)

The Floods: Playschool (Keluarga Flood: Sekolah Sihir)
Colin Thompson
Shinta Harini (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. 1 – Juli 2007
226 Hal.

Seperti yang sudah diceritakan di buku pertama, anak-anak Keluarga Flood bersekolah di sekolah sihir yang letaknya nun jauh di sana, melewati samudera, pegunungan dan terjangan badai dengan kendaraan naga sangat cepat, jadi meskipun ada toilet di dalamnya, berpikirlah dua kali sebelum menggunakannya. Sekolah sihir itu bernama Quicklime College, letaknya di Pegunungan Patagonia

Quicklime College didirikan oleh kakek buyut Nerlin Flood, yang letaknya gak akan bisa ditemukan di peta mana pun. Di tempat itulah, pertama kalinya, Merlin Floos Kelimat Belas datang bumi, untuk menciptakan beberapa legenda bagi manusia. Ketika pertama kali melihat tempat itu, yang ada di pikiran Merlin Flood saat itu, salah satunya adalah “ Lembah ini cantik juga.” (Hal. 9).

Maka dibangunlah Quicklime College yang memakan waktu sangat lama, karena Merlin Flood sempat membantu Raja Arthur dalam berbagai petualangan. Quicklime College resmi berdiri 750 tahun yang lalu.

Untuk memperingati hari jadi ke 750 tahun itu, maka Hari Olahraga tahun ini menjadi begitu istimewa. Acara tahunan yang penuh dengan olahraga aneh bin ajaib yang tidak akan bisa ditemui di mana pun kecuali di dunia sihir a la Quicklime College.

Acara itu disambut dengan meriah oleh semua murid, tidak terkecuali anak-anak Keluarga Flood. Di Quicklime College, anak-anak keluarga Flood termasuk anak yang berprestasi dan popular. Hampir di setiap mata pelajaran, mereka mendapat nilai tinggi dan bintang emas.

Tapi, ternyata, ada satu orang murid yang gak menyukai anak-anak keluarga Flood, namannya Orkward Warlock. Ia membenci semua orang, sama seperti semua orang juga gak menyukai dirinya. Bahkan keluarganya sendiri pun enggan mengakui Orkward sebagai anak. Gak ada yang mau berteman dengannya, kecuali si Katak – yang dulunya anak laki-laki bernama Charles.

Dengan bantuan si Katak, Orkward merancang strategi untuk menghancurkan keluarga Flood sekaligus, di hari yang sangat penting yaitu, Hari Olahraga.

Satu lagi yang jadi misteri, adalah keberadaan Narled, ‘seseorang’ atau makhluk yang bentuknya mirip koper. Si Narled ini gemar ‘membersihkan’ barang-barang yang berceceran. Konon kabarnya, Narled mempunyai gua tempat menyimpan harta karunnya. Dan, ternyata Orkward yang tamak ini juga mengincar harta karun Narled.

Seperti buku pertama, buku ini juga dihiasi berbagai gambar tokoh-tokoh yang aneh bin ajaib. Juga diceritain berbagai mata pelajaran yang aneh dan kadang terkesan sadis. Sama seperti buku sebelumnya juga, ending si tokoh antagonis harus berakhir dengan tragis dan sadis juga. Hiii… tapi, tetap aja, kocak dan lucu.

Browsing websitenya Colin Thompson, ternyata dia juga bikin picture book Keluarga Flood. Wah… pastinya makin banyak, gambar otak, darah, dan berbagai isi perut, plus gambar lain yang aneh-aneh…

Monday, July 30, 2007

Different Ugliness, Different Madness

Different Ugliness, Different Madness (Balada Seorang Penyiar)
Marc Males
Rosi L. Simamora (Terj.)
GPU – Juli 2007
126 Hal.

Llyod Goodman, adalah seorang penyiar terkenal di tahun 30an. Tapi, dia tidak pernah mau menunjukkan ‘muka’nya di hadapan publik, malah ia lebih memilih menyewa orang untuk tampil sebagai dirinya. Lebih aneh lagi, di tengah masa jayanya, Lloyd tiba-tiba menghilang, meninggalkan para penggemar setianya.

Tidak ada yang tahu, bahwa produser radio CBN melakukan kebohongan dengan menampilkan sosok palsu dari Lloyd Goodman.

Di tempat lain, seorang wanita ‘berkelana’ dari satu kota ke kota lain dengan hanya membawa sebuah koper. Helen, nama wanita itu, seolah pergi tanpa tujuan. Helen punya satu keanehan, yaitu ia suka berbicara pada bayangannya sendiri di cermin, yang disebutnya sebagai Mary. Seolah-olah Helen memiliki kepribadian ganda.

Helen menumpang mobil-mobil untuk sampai ke tujuan berikut, atau dengan kereta api. Menginap di penginapan murah. Sampai satu hari, ia sampai di sebuah rumah yang seolah tanpa penghuni.

Ketika ia sedang asyik melihat mobil tua di rumah itu, tiba-tiba seorang laki-laki berwajah buruk rupa muncul. Tapi, entah kenapa, Helen tidak takut dengan laki-laki itu. Bahkan ia menerima tawaran laki-laki itu untuk bermalam.

Di rumah laki-laki itu, herannya tidak ada cermin. Padahal, Helen sangat membutuhkan cermin. Untuk itu, ia menyediakan cermin bagi Helen. Dan, secara tidak sengaja, ia melihat Helen sedang ‘berbicara’ sendiri dengan bayangannya di cermin.

Untuk membalas budi baik laki-laki itu, Helen memasak, mencuci pakaian dan berbenah. Baik Helen maupun laki-laki itu sama tertutupnya. Mereka punya rahasia masing-masing.

Tak disangka-sangka ternyata, perkenalan beberapa hari itu membuat si laki-laki yang ternyata Llyod Goodman itu jatuh cinta pada Helen. Ia mengutarakannya di stasiun saat Helen sedang menunggu kereta menuju tempat selanjutnya.

Akhirnya, rahasia diri masing-masing terkuak. Masing-masing bercerita tentang apa yang membuat mereka sama-sama ingin menyendiri.

Novel grafis ini gak terlalu tebal. Helen tua bercerita di sebuah stasiun kenangannya kepada Linda, anaknya. Di saat yang sama, sebuah stasiun televise mengangkat kisah tentang Lloyd Goodman, penyiar legendaris yang menghilang di saat ia sedang di puncak.

Yang sedikit mengganggu, adalah gambaran sosok Helen. Harusnya ia terlihat cantik, tapi di sini, justru seperti cewek macho, berbadan besar dan potongan muka yang juga besar… kesannya gagah banget, malah kadang terkesan serem (kadang cocok sih, dengan sosok Helen yang misterius itu)

Harry Potter & the Deathly Hallows

Harry Potter & the Deathly Hallows
J.K. Rowling
Bloomsbury, 2007
607 Hal.

Jauh sebelum buku terakhir dari Harry Potter ini dirilis, kehebohan udah lebih dulu dimulai, terutama tentang tebak-tebakan siapa yang bakalan mati: Harry Potter atau Voldemort?

Karena kematian Dumbledore, Harry merasa sudah jadi tugasnya untuk ‘menumpas’ Voldemort dan Death Eaters. Harry memutuskan untuk gak kembali lagi ke Hogwarts, meskipun itu adalah tahun terakhirnya. Ron dan Hermoine juga memutuskan untuk meninggalkan Hogwarts dan membantu Harry dalam menemukan Horcrux yang bisa menghancurkan Voldemort.

Sebelum memulai perjalanannya, Harry harus segera dipindahkan dari Privet Drive, kediaman keluarga Dudley. Untuk itu, demi keamanan, keluarga Dudley juga segera diungsikan ke tempat lain. Dan ‘pasukan’ dari Order of Phoenix menjemput Harry dengan penyamaran yang hebat. Tapi, sayang, meskipun selamat, formasi mereka sempat kacau balau karena ada yang membocorkan rencana ‘pemindahan’ Harry tersebut. Satu orang harus mengorbankan nyawanya.

Harry, Ron dan Hermoine seolah hidup dalam ‘pelarian’. Kementrian Sihir sudah jatuh ke tangan Voldemort, Death Eaters ada di mana-mana. Harry jadi the Most Wanted Person. Dumbledore ternyata meninggalkan surat wasiat yang isinya barang-barang yang akan diberikan pada Harry, Ron dan Hermione. Harry mendapatkan bola Snitch pertama yang berhasil ditangkapnya dalam pertandingan Quidditch, Ron dapat Deluminator, alat mirip korek api dan Hermione dapat buku kuno yang ternyata berisi dongeng-dongeng kuno. Awalnya mereka sama sekali gak tau, apa maksud Dumbledore memberikan benda-benda itu pada mereka.

Beberapa kali mereka harus menyamar dengan bantuan ramuan Polyjuice. Bersembunyi di hutan, di rumah Bill dan Fleur, menyusup ke Bank Gringotts, bahkan menyusup ke Kemeterian Sihir.

Berulang kali mereka harus berhadapan dengan Death Eaters, bahkan mereka tertangkap Goblin yang membawa mereka ke kediaman keluarga Malfoy. Ternyata di sana sudah ada Luna Lovegood dan Mr. Olivander, pembuat tongkat sihir, yang lebih dulu tertangkap.

Berkali-kali Harry ‘masuk’ ke dalam pikiran Voldemort. Ia mengetahui bahwa Voldemort mengincar sesuatu yang sangat berharga yang mungkin digunakan untuk membunuh Harry. Karena itulah Mr. Olivander tertangkap.

Di buku yang diberikan Dumbledore, Hermoine menemukan sebuah symbol yang menurut legenda berhubungan dengan kisah Tiga Bersaudara yang mencoba menipu Kematian.

Pertarungan puncak terjadi ketika suatu malam, Harry nekat menyusup kembali ke Hogwarts, padahal Hogwarts adalah tempat yang sangat berbahaya bagi Harry. Tapi, karena Harry merasa Voldemort sudah semakin dekat, maka keputusan harus segera diambil.

Yang paling seru memang waktu pertempuran terjadi di Hogwarts saat tengah malam. Ketika semua guru-guru yang masih mendukung Dumbledore dan Harry Potter, juga murid-murid yang sudah cukup mahir bertempur melawan Death Eaters. Ada banyak yang mati… hiks…

Banyak yang berharap (paling gak itu yang gue denger dari temen-temen gue), kalo Dumbledore hidup lagi kaya’ Penyihir Putih di Lord of the Rings… tapi ternyata…

Harry, Ron dan Hermione udah pinter mengucapkan ‘mantra-mantra’… tapi, koq.. duel antara Harry Potter dan Voldemort ‘cuma’ gitu aja ya… simple dan singkat banget…

Endingnya mmm… mungkin terlalu klise… demi memuaskan banyak orang (kali ya)… ya, gitu deh jadinya… Tapi, banyak rahasia-rahasia yang terungkap yang bikin cerita juga jadi lebih seru.

Kaya’nya, jadi pengen baca dari Harry Potter 1 lagi…

Monday, July 23, 2007

The Boy in the Striped Pyjamas

The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis)
John Boyne
Rosemary Kesauli (Terj.)
GPU, Juli 2007
240 Hal.

Bruno, langsung memutuskan untuk tidak menyukai tempat tinggalnya yang baru. Berbeda dengan rumah lamanya di Berlin, yang bertingkat 5, keadaan sekeliling yang ramai dan juga dengan tiga orang sahabatnya. Di rumah barunya ini, tidak ada tetanga di kiri-kanannya, bahkan seolah tanpa penghuni, satu-satunya rumah yang terlihat adalah rumah di seberang yang sepi dan tandus. Hampir tidak ada orang di sekitarnya. Benar-benar membosankan, karena tidak ada teman yang bisa diajaknya bermain.

Ibu Bruno tidak mau berkata apa-apa soal kepindahan mereka. Yang pasti, kata Ibu Bruno, mereka harus ikut ke tempat tugas ayah Bruno yang baru.

Bruno adalah anak yang senang menjelajah, bahkan ia punya cita-cita jadi penjelajah, ia menemukan sebuah jendela di mana dari sana ia bisa melihat keadaan di rumah satunya. Ia melihat ada begitu banyak orang yang berada di balik pagar. Hanya ada laki-laki dan anak-anak. Ke mana para perempuan? Dan mereka mengenakan baju yang sama yaitu piama bergaris-garis. Menurut Bruno, tentu menyenangkan bisa memakai piama seharian.

Bruno semakin tidak menyukai rumah barunya. Bruno tidak punya teman. Bruno malas mengajak Greta, kakaknya yang Benar-Benar Payah itu bermain. Belum lagi, ia tidak pergi ke sekolah. Orang tuanya malah memanggil guru untuk belajar di rumah.

Bruno memutuskan untuk melakukan penjelahan ke sekeliling rumahnya. Ia pun menyusuri pagar. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah titik yang akhirnya menjadi seorang anak laki-laki yang sedang merenung di balik pagar.

Mereka pun berkenalan. Anak laki-laki itu bernama Shmuel, yang ternyata berulang tahun di hari yang sama dengan Bruno. Tentu saja Bruno senang mendapatkan teman yang sebaya dengannya.

Tapi, berbeda dengan Bruno, Shmuel selalu tampak sedih, kurus dan murung. Mereka berdua berusaha memahami dunia mereka masing-masing. Bruno ingin sekali mengundang teman barunya itu ke rumah, atau bahkan Bruno ingin mengunjungi teman barunya itu di balik pagar. Bruno menganggap Shmuel lebih beruntung karena di balik pagar ada banyak anak laki-laki yang bisa jadi teman bermain, sementara dirinya sendiri hanya bersama kakak perempuannya yang Benar-Benar Payah.

Buku ini sebenarnya bikin sedih banget. Menggambarkan suasana di Kamp Auschwitz atau yang disebut Bruno, Out-With. Gimana kejamnya The Fury dan para tentaranya. Tapi, semakin menyedihkan karena digambarkan dari pandangan polos dua orang anak yang gak tau apa-apa. Yang ada pikiran mereka hanyalah mencari pertemanan dan persahabatan.

Wednesday, July 18, 2007

Tarothalia

Tarothalia
Tria Barnawi
GPU, Juni 2007
256 Hal.

IP pas-pasan, itu pun hasil kuliah di jurusan yang tidak disukai, 3 pekerjaan tidak ada yang bertahan, berakhir dengan ‘dipaksa mengundurkan diri’ alias dipecat, dan akhirnya bolak-balik cari lowongan pekerjaan di Koran. Itulah kehidupan seorang Thalia Jehan. Sebagai anak tengah dari tiga bersaudara, Thalia sering mengalami yang namanya sindrom anak tengah. Kakaknya, Delia, sukses di karir, anak paling penurut di keluarga, sebentar lagi bakal menikah dengan seorang dokter kandungan. Sedangkan adiknya, Kalya Jehan adalah seorang fotomodel dan bintang sinetron. Sementara Thalia… seorang pengangguran… Selain itu, Thalia orang yang temperamental.

Thalia pun akhirnya minta bantuan sahabatnya, Bella, untuk mencarikan pekerjaan. Bella yang punya banyak ide menemukan untuk memanfaatkan kelebihan Thalia. Iya, Thalia punya indera keenam, semasa kecil, Thalia sering terlihat ‘bermain-main’ dengan sosok yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Maka, atas ‘paksaan’ dari Bella, dibentuklah Tarothalia Consulting, di mana Thalia menjadi satu-satunya konsultan ‘spiritual’ dan Bella sebagai manajernya.

Klien pertama adalah atasan Bella sendiri yaitu Ibu Alin. Ternyata, meskipun sempat marah atas saran Thalia, Ibu Alin puas dengan service Thalia dan ia pun memanggil Thalia untuk konsultasi selanjutnya.

Dan tak disangka-sangka, bisnis Thalia ini berkembang pesat. Apalagi ketika salah satu kliennya adalah selebritis kondang yang sedang naik daun bernama Rayni. Kebetulan Rayni ini adalah sepupu seorang pria yang bikin Thalia panas-dingin bernama Cassio.

Rayni seolah jadi trendsetter, apa pun yang dimulai Rayni bakal diikuti oleh artis lain yang gak mau kalah. Bener aja, begitu tau Ray punya penasihat, artis lain juga berebut minta waktu untuk konsultasi dengan Thalia.

Buntutnya, Thalia pun lelah. Ia kehilangan kendali dan kesabaran atas dirinya sendiri. Ditambah lagi, ia selalu merasa ada yang gak beres setiap kali Bella dan Cassio bertemu. Kenapa Bella tampak cemburu setiap kali Thalia menyebut nama Cassio?

Thalia memutuskan untuk berhenti. Tapi, masalah gak berhenti sampai di situ aja. Persahabatannya dengan Bella diuji.

Mmmm… Tria Barnawi mungkin salah satu penulis ‘metropop’ yang gue suka. Soalnya, background ceritanya (yaaaa… meskipun gak jauh-jauh dari cinta), selalu unik. Misalnya, kisah cinta abad 22, atau robot jatuh cinta… dan kali ini memanfaatkan masalah ‘ramal-meramal’. Tapi, coba kalo sisi ‘Tarot’ di buku ini lebih di-expose… lebih seru kali ya. Soalnya, si Thalia ini justru sama sekali gak ahli baca Tarot.

Middlesex

Middlesex: Pencarian Jati Diri Seorang Manusia Berkelamin Ganda
Jeffrey Eugenides
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Serambi – Cet. II – Juli 2007
810 Hal.

"Aku terlahir dua kali: pertama, sebagai seorang bayi perempuan, pada hari tanpa kabut di Detroit, Januari 1960; lalu sekali lagi, sebagai remaja laki-laki, di sebuah ruang gawat darurat di dekat Petoskey, Michigan, pada Agustus 1974." (hal. 15)

Kalimat pembuka di buku ini memang jadi 'pancingan' untuk pembaca buat terus membaca buku ini. Karena bener-bener bikin penasaran dan memancing rasa tertarik untuk menelusuri buku dengan ketebalan lumayan ini.

Calliope Stephanides, menjalani kehidupannya selama 14 tahun sebagai seorang perempuan. Ia tidka menyadari ada keanehan dalam dirinya, sampai ketika ia beranjak dewasa, ia menyadari dirinya berbeda dengan teman-teman perempuan lainnya. Di usia dua belas tahun, ia belum mendapatkan menstruasi, berdada rata dan bertubuh lebih kurus dan jangkung. Di atas bibirnya, mulai ditumbuhi rambut tipis. Dan, ia lebih cenderung menyukai teman perempuan dibanding laki-laki. Keluarganya, terutama ibunya, Tessie Stephanides, juga mulai khawatir mengapa Calliope belum juga datang bulan.

Suatu hari, ia mengalami sebuah kecelakaan, dan dokter yang memeriksa menemukan adanya sebuah keanehan. Calliope pun dibawa ke dokter lain di New York untuk pemeriksaan lebih lanjut. Terungkaplah sebuah fakta bahwa Calliope adalah seorang Hermaphrodite alias berkelamin ganda. Saran Dr. Luce agar Calliope melakukan operasi ternyata ditolak.

Mulailah babak baru dalam kehidupan Calliope sebagai Cal Stephanides.

Buku ini lebih mirip sebuah memoar, sebuah kisah kehidupan seorang Cal Stephanides. Cal menuturkan sejarah keluarganya, awal mula terjainya kelainan genetis yang memungkinkan terjadinya sosok seorang Cal Stephanides.

Sejarah dimulai di sebuah wilayah di Yunani. Desdemona Stephanides tinggal bersama adiknya, Lefty Stephanides. Desdemona benar-benar mengabdikan hidupnya untuk merawat adiknya, sesuai janjinya pada ibunya. Bahkan berulang kali Desdemona mencarikan jodoh untuk adiknya, tapi Lefty ternyata tidak tertarik pada mereka.

Ternyata, tinggal hanya berdua, tidur bersebelahan, menimbulkan keanehan pada diri mereka. Rasa sayang, rasa tertarik bukan lagi semata karena mereka saudara kandung, tapi lebih dari itu. Rasa sayang yang timbul lebih arah rasa terhadap seorang wanita dan laki-laki.

Menjelang pelarian mereka dari Yunani ke Amerika akibat penyerbuan Turki, Lefty melamar Desdemona. Desdemona merima lamaran adiknya. Di kapal yang membawa mereka ke Amerika, Desdemona dan Lefty memainkan scenario sebagai pasangan yang baru saling mengenal dan jatuh cinta dalam di dalam pelayaran itu. Mereka pun menikah di kapal itu.

Di Amerika, mereka tinggal di rumah sepupu mereka, Sourmelina. Tidak ada yang tahu bahwa mereka adalah kakak beradik, kecuali Sourmelina.

Ketika hamil, Desdemona sempat diliputi kekhawatiran akan melahirkan anak-anak yang tidak normal. Tapi, ternyata hal itu tidak terbukti. Milton dan Zoe lahir dengan sehat dan normal. Tapi, kekhawatiran itu timbul lagi, ketika Milton tertarik ada Tessie, anak Sourmelina. Meskipun, Desdemona sudah menjodohkan Tessie dengan Mike, seorang calon pastur, Milton dan Tessie pun akhirnya menikah. Mike pun akhirnya menikah dengan Zoe.

Dari Milton dan Tessie, lahirnya Calliope Stephanides. Menurut ramalan sendok Desdemona, jenis kelamin si jabang bayi adalah laki-laki. Tapi Milton dan Tessie tidak mau percaya begitu saja, karena mereka berdua mendambakan anak perempuan setelah anak laki-laki pertama mereka, Chapter Eleven. Tapi, oleh Dr. Phil, dokter yang menangani persalinan, ditegaskan bahwa bayi itu berjenis kelamin perempuan. Berakhirlah masa kejayaan ramalan sendok Desdemona.

Calliope pun menjalani kehidupan sebagai seorang perempuan. Keanehan di awal masa remaja dianggap sebagai tanda bahwa pertumbuhan Calliope lebih lambat dari teman-temannya.

Dalam novel yang dibagi dalam empat bagian besar ini, Eugenides menjadikan Cal sebagai penutur. Bagian yang unik adalah waktu Cal cerita tentang ‘antrian’ di alam ‘sana’ sebelum akhirnya pemenangnya adalah Chapter Eleven. Bukan hanya itu, Eugenides juga dengan teliti dan sabar menguraikan sejarah selama rentang waktu 50 tahun. Benar-benar sebuah cerita yang menguraikan perjalanan keluarga selama 3 generasi.

Fiuhhhh… akhirnya… akhirnya… selesai juga baca novel besar nan tebal ini… benar-benar melelahkan… tapi, kadang bosan… kadang penasaran… tapi… legaaaaa….

Tuesday, July 10, 2007

Clair-de-Lune

Clair-de-Lune
Cassandra Golds
Vina Damayanti (Terj.)
GPU – Juli 2007
232 Hal.

La Luna, adalah seorang penari balet yang meninggal dengan tragis di panggung. Ia meninggalkan seorang anak yang kelak akan mengikuti jejaknya sebagai penari balet. Clair-de-Lune nama anak itu. Ibu La Luna, Madam Nuit, merawat Clair-de-Lune dalam kesederhanaan karena mereka begitu miskin dan hidup dari dana yang diperoleh dari Perusahaan Tari. Sebagai anak dan cucu seorang penari balet, Clair-de-Lune berhak untuk ikut dalam pelajaran tari di Perusahaan Tari itu.

Clair-de-Lune adalah calon penari yang berbakat. Tapi, sayang, ia tidak dapat bicara sejak ia masih bayi. Bersama neneknya, ia tinggal di sebuah puncak menara yang sempit, aneh dan tua. Karena ia tidak pernah berbicara, Clair-de-Lune dicap sombong oleh temant-teman sesame penari balet. Clair-de-Lune hidup dalam kesendirian.

Suatu hari, seusai latihan menari balet, seekor tikus menghampirinya. Herannya, tikus itu bisa mendengar tangisan dan isakan lirih Clair-de-Lune, tikus itu bisa mengerti dirinya. Tikus itu bernama Bonaventure, seekor tikus penari yang mempunyai obsesi memiliki sekolah tari balet khusus tikus. Di dalam lubang tikusnya, ada studio mini tempat ia berlatih balet, lengkap dengan cermin dan barre.

Sejak itu, Clair-de-Lune dan Bonaventure menjadi sepasang sahabat. Bonaventure mengajak Clair-de-Lune ke sebuah biara tersembunyi yang terletak di salah satu bagian tempat tinggal Clair-de-Lune. Ia diajak menemui seorang pastur, Bruder Inchmahome. Di sana, Clair-de-Lune belajar bicara dan mendengar. Setiap hari, Clair-de-Lune diminta untuk mengemukakan alasan kenapa ia tidak bisa bicara.

Clair-de-Lune pelan-pelan mulai mencoba membuka dirinya. Ia mencoba tersenyum pada orang-orang yang dikenalnya. Ia mencoba menyuarakan isi hatinya kepada Bruder Inchmahome.

Sementara itu, Monsieur Dupoint sedang merencanakan pertunjukan peringatan seratus tahun Perusahaan Tari. Ia berencana mementaskan sebuah tarian istimewa, yaitu tarian terakhir La Luna, dan hanya satu orang yang pantas untuk jadi penarinya, yaitu Clair-de-Lune. Maka, Clair-de-Lune mulai berlatih meskipun dalam hatinya ia menolak karena sedih.

Dan, nun jauh di lubang tikus yang mungil, Bonaventure juga sedang sibuk dengan sekolah tarinya dan sedang sibuk menyusun naskah untuk pementasan tari pertamanya. Dan, Bonaventure tidak sadar akan bahaya yang sedang mengancam dirinya.

Ternyata, Nenek Clair-de-Lune, Madam Nuit ternyata menyimpan rahasia di balik kematian La Luna. Rahasia yang membuat Madam Nuit terlalu melindungi Clair-de-Lune.

Membaca buku ini, gue jadi inget buku Kisah Desperaux, tentang tikus yang pengen jadi ‘knight in shinning armor’. Sedangkan di buku ini, kisah Bonaventure yang punya cita-cita mendirikan sekolah tari para tikus. Paling nggak membuat tikus jadi tokoh yang menggemaskan dan gak menjijikan. Coba ada ilustrasinya, pasti lebih keren lagi. Soalnya, gue ngebayangin, gimana imutnya studio tari punya Bonaventure.

Wednesday, July 04, 2007

Keluarga Flood: Tetangga Menyebalkan

Keluarga Flood: Tetangga Menyebalkan (The Floods)
Collin Thompson
Shinta Harini (Terj.)
Little Serambi – Cet. 1, Juni 2007
183 Hal.

Jika dilihat paling tidak dari jarak 100 meter, Keluarga Flood adalah keluarga yang (tampak) normal, sama seperti keluarga lainnya. Tapi…. Jika dilihat lebih dekat – kurang dari 100 meter, barulah kita akan tahu bahwa mereka sangat berbeda.

Maklum saja, Keluarga Flood adalah keluarga penyihir. Anggota keluarga mereka bisa dibilang aneh-aneh. Keluarga itu terdiri, seorang ayah yang bernama Nerlin. Nerlin ini sebenarnya cicit dari penyihir Merlin yang terkenal itu. Seharusnya, dia juga bisa dinamakan Merlin, tapi, karena pas prosesi pelantikan sebagai penyihir, pendetanya lagi terserang flu, terplesetlah jadi Nerlin. Sedangkan istrinya bernama Mordonna yang bisa membuat orang jatuh cinta hanya dengan memandang matanya. Di balik sosoknya yang menyeramkan, Mordonna tetap saja seorang ibu dan istri yang penuh perhatian pada keluarganya.

Anak-anak mereka tentu saja gak kalah ajaib dan ‘mengerikan’. Yang tertua adalah Valla, satu-satunya anak keluarga Flood yang sudah bekerja sebagai manajer bank darah. Kesukaannya tentu saja yang berbau darah dan tidak menyukai yang tidak ada hubungannya dengan darah. Anak kedua, Satanella. Kita mungkin akan mengira ia adalah seekor anjing. Dulunya ia adalah seorang anak perempuan, tapi karena satu insiden yang melibatkan udang dan tongkat sihir, wujudnya berubah. Yang ketiga, Merlinmarry, sosok berbulu, tidak ada yang tahu apakah ia perempuan atau laki-laki, bahkan Merlinmarry sendiri juga tidak tahu. Kelebihannya, tubuh berbulu Merlinarry dialiri supply listrik yang besar – lagi-lagi karena dalam proses ‘penyihiran’ ada kilat menyambar. Lalu, ada Winchflat yang jenius, si pencipta alat-alat dalam keluarga ini. Lalu, si kembar Morbid dan Silent yang bagai cermin, mereka bisa bicara melalui telepati. Yang terkecil adalah Betty. Dilihat dari sosoknya, Betty terlihat sangat normal. Waktu ‘merencanakan’ kehadiran Betty, Mordonna ingin seorang anak perempuan cantik yang bisa menemaninya merajut, berkebun atau melukis. Betty memang jadi anak yang cantik berambut pirang. Tapi, tetap saja, Betty anak penyihir yang punya kemampuan berbeda dari anak normal lainnya.

Anak-anak Keluarga Flood bersekolah di sekolah penyihir yang untuk menuju ke sana mereka harus melewati pegunungan, badai salju dan samudra, tentu saja gak pakai bis sekolah biasa. Sedangkan Betty, sekolah di sekolah biasa bersama anak-anak normal lainnya.

Hidup keluarga Flood menurut mereka sudah cukup bahagia dan menyenangkan. Tapi… itu kalau tidak ada gangguan dari tetangga mereka yang super berisik, yaitu Keluarga Dent. Keluarga ini benar-benar kacau – ayah yang pemalas, pemabuk dan pengangguran. Pekerjaaannya adalah memastikan dirinya tidak punya pekerjaan. Lalu, ibunya, wanita gendut yang kecanduan nonton reality show di televisi yang membuat dirinya lebih baik dari orang-orang bodoh di reality show itu. Lalu, anak mereka, Tracylene, anak perempuan gendut yang selalu berdandan menor dan hobi gonta-ganti pacar dan Dickie, anak laki-laki yang gendut dan nakal. Dickie ini satu sekolah dengan Betty.

Kelakuan keluarga Dent ternyata sangat mengganggu Keluarga Flood. Di pagi hari, mulailah suara-suara berisik dari rumah sebelah, mulai dari suara televisi, suara teriakan-teriakan dan lain-lain. Suara-suara itu mengganggu ketenangan dan konsentrasi Keluarga Flood.

Maka itu, Keluarga Flood mulai mencari cara agar keluarga Dent tidak mengganggu kehidupan mereka lagi.

Bener kata Kobo, untuk membayangkan keluarga Flood, kita mungkin bisa mengingat sosok Addams Family. Tapi… waduh, ‘pembalasan’ keluarga Flood ‘mengerikan’ juga ya… sadis… tapi, ada unsur lucunya juga sih. Di lingkungan keluarga penyihir, tentu saja mereka adalah keluarga normal… tapi, coba kalau mereka ada di depan mata… pastinya, males banget berdekatan dengan mereka. Bisa-bisa, kalau lagi makan siang bareng, ada keong yang berloncatan dari roti tangkup mereka.

Wednesday, June 27, 2007

Perempuan Terluka

Perempuan Terluka (Typhoon)
Qaisra Shahraz
Atta Verin (Terj.)
Mizan – Cet. 1, Mei 2007
406 Hal.


“Seorang perempuan cantik berambut hitam panjang… Yang kutahu adalah aku harus menemuinya lagi dan memohon ampun padanya. Sudah dua puluh tahun aku tidak bertemu dengannya.”
(Perempuan Suci – hal. 340. Mizan, Cet. III – Februari 2007)

Kalimat ini diucapkan Baba Siraj Din, kakek Zarri Bano. Di buku pertama, Perempuan Suci, mungkin pembaca akan bertanya-tanya, apa maksud perkataan Baba Siraj Din. Karena tidak pernah diberi penjelasan lebih lanjut akan arti kalimat itu.

Inilah yang menjadi benang merah antara buku pertama dengan sekuelnya – Perempuan Terlukan. Buku ini bukan tentang kelanjutan kehidupan Zarri Bano, sang Perempuan Suci, tapi kisah lain yang terjadi jauh sebelum Zarri Bano menjadi Perempuan Suci. Kisah tentang sebuah peristiwa yang menyebabkan petaka dan kenangan buruk bagi penduduk desa Chiragpur.

Di suatu malam, seorang perempuan membuntuti suaminya yang mengendap-endap pergi keluar rumah. Betapa terkejutnya Gulshan, nama perempuan itu, ketika mendapati suaminya, Haroon, berada dalam pelukan perempuan lain. Perempuan itu bernama Naghmana, adalah pendatang dari kota yang baru beberapa hari menginjakkan kaki di Desa Chiragpur, bagaimana mungkin suaminya bisa dengan mudah terpikat oleh perempuan itu.

Gulshan pulang dengan hati luka dan bercerita pada ibunya, Hajar, apa yang baru saja ia lihat. Hajar tidak percaya dan berusaha membuktikan sendiri cerita anaknya. Hajar murka ketika mendapati kebenaran kata-kata anaknya.

Begitu Haroon pulang ke rumah, Hajar langsung memakinya dan bukan itu saja, ia juga memaki Naghmana sebagai ‘perempuan nakal perusak rumah tangga’. Hajar menuntut diadakannya sebuah kacheri – pengadilan terbuka untuk menghukum dua orang perusak kedamaian Desa Chiragpur itu.

Kabar burung segera merebak dalam waktu sehari saja. Seluruh penduduk desa, terutama perempuan, yang tidak tahu masalah sebenarnya, langsung menghakimi Naghmana dengan menjelekkan dirinya.

Kacheri pun diadakan, dipimpin oleh Baba Siraj Din selaku orang yang paling dihormati di desa itu. Tapi apa yang terjadi sungguh di luar dugaan. Naghmana yang tadinya dianggap sebagai perusak, justru pada akhirnya berbalik menjadi orang yang paling pantas dikasihani dan dikagumi karena kebesaran hatinya. Kacheri itu menghantui kehidupan orang-orang yang terlibat secara langsung atau pun tidak. Semua diliputi rasa bersalah, tidak terkecuali Baba Siraj Din – selaku pemimpun, Hajar – yang begitu membabi buta menuntut akan adanya kacheri, para tukang gosip – Naimat Bibi dan Kulsoom.

Selama dua puluh tahun rasa bersalah itu terus menghantui mereka.

Sampai akhirnya, ketika Baba Siraj Din sedang meregang nyawa, beliau minta agar Naghmana datang ke Desa Chiragpur. Ia ingin minta ma’af pada Naghmana sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Tapi, trauma begitu menghantui Naghmana, mampukah ia kembali ke Desa Chiragpur? Bertemu kembali dengan orang yang sudah menghancurkan hidupnya, bertemu kembali dengan Gulshan dan Haroon?

Sementara itu, dalam dua puluh tahun pula, kehidupan Chaudharani Kaniz berubah. Janda yang selalu bersikap dingin ini menyimpan rahasia besar yang juga menjadi bayang-bayang buruk dalam kehidupannya.

Buku ini berkisah tentang 3 perempuan yang terluka, yang tersakiti karena perbuatan orang lain. Agak lebih bertele-tele dan membosankan dibanding buku pertamanya. Mungkin karena gaya cerita flashback itu kali ya…

Friday, June 22, 2007

Peter dan Penangkap Bintang (Peter and the Starcatchers)

Peter dan Penangkap Bintang (Peter and the Starcatchers)
Dave Barry & Ridley Pearson
Maria Masniari Lubis (Terj.)
Qanita – Cet. 1, April 2007
492 Hal.

Dari dongeng Peter Pan karya J. M. Barrie, kita kenal sosok anak laki-laki yang akan selalu jadi anak-anak sepanjang hidupnya, anak laki-laki yang bisa terbang, tinggal di Never Land, dan punya musuh bernama Kapten Hook, seorang bajak laut yang di tangan kanannya terdapat kait yang sangat berbahaya.

Nah, di buku ini, nih, Dave Barry dan Ridley Pearson mencoba menceritakan awal mula kisah seorang Peter.

Peter adalah seorang anak yatim piatu. Bersama empat orang penghuni Panti Asuhan bagi Anak Laki Terlantar St. Norbert – James, Prentiss, Thomas dan Tubby Ted, di suatu pagi, Peter berangkat dengan kapal Never Land menuju Rundoon untuk dijadikan budak Raja Zarboff ke III. Peter selalu menganggap ingin jadi pemimpin, ia harus selalu menjadi anak paling tua di antara anak-anak yang di kenalnya.

Di kapal Never Land, Peter berkenalan dengan seorang anak perempuan bernama Molly Aster, yang secara tidak langsung menyelamatkan Peter dari bahaya ketika Peter hendak kabur dari Never Land. Peter sempat penasaran dengan sosok Molly yang di suatu malam dilihatnya sedang berbicara dengan seekor lumba-lumba. Bukan itu saja, Molly memiliki mata hijau yang bersinar dalam kegelapan.

Perjalanan di lautan berubah jadi sebuah pertempuran dengan bajak laut yang paling ditakuti, Black Stache. Ternyata di kapal Never Land tersimpan sebuah peti yang sangat berharga. Peti itu berisi batu bintang yang jika jatuh ke tangan yang salah akan berubah jadi sesuatu yang berbahaya. Berbagai keanehan terjadi jika seseorang menyentuh serbuk bintang itu, misalnya ketika Alf, salah satu awak kapal Never Land mengangkat peti itu, ia merasa mendengar bunyi lagu-lagu yang indah, dan ketika Peter menyentuhnya, Peter pun bisa terbang.

Molly ternyata adalah kaum Starcatchers yang berusaha menyelamatkan peti itu agar tidak jatuh ke tangan The Others atau Pihak Yang Lain yang akan menggunakan serbuk bintang itu untuk kepentingan mereka sendiri.

Terjadilah perebutan peti antara Slank – awak kapal Never Land yang juga mengetahui keajaiban batu bintang itu, lalu Black Stache – kapten kapal bajak laut Sea Devil dan Leonard Aster – ayah Molly yang sebenarnya bertugas untuk menjaga peti itu di kapal Wasp.

Awalna, Black Stache menduga peti itu ada di kapal Wasp. Maka Sea Devil pun memburu Wasp dengan strategi yang matang dan mengejutkan. Leonard Aster tahu ia harus melindungi peti itu, maka ia pun melarikan diri bersama peti yang seharusnya ringan, tapi koq berat banget.

Black Stache yang kecele, akhirnya sadar kalau peti itu gak ada di Wasp, maka ia pun memburu Never Land yang dengan mudah bisa ditaklukkan. Tapi, keajaiban terjadi ketika ia melihat seorang anak laki-laki terbang. Dan, detik itu juga Black Stache tau, kalau Peter bukan sekedar anak laki-laki, tapi ia akan menjadi musuh bebuyutannya.

Mereka semua terdampar di sebuah pulau yang dihuni oleh suku Mollusk. Perburuan peti batu bintang terus berlanjut. Bahaya bertambah karena suku Mollusk tidak suka dengan kehadiran orang asing. Peter dan teman-temannya hampir jadi santapan Tuan Grin, seekor buaya raksasa.

Kecerdikan Peter berkali-kali mampu menyelamatkan dirinya dan teman-temannya dari ancaman orang-orang yang ingin memiliki peti itu. Ditambah lagi Peter mendapatkan bantuan dari putri duyung – yang tadinya berasal dari ikan, tapi begitu berada di air laut yang terkena serbuk bintang, mereka pun berubah jadi putri duyung cantik yang salah satunya bikin Molly cemburu.

Menarik juga… seru membaca awal mula sebuah kisah yang udah kita kenal. O ya, di sini juga ada cerita dari mana asalnya Tinkerbell, peri pelindung Peter yang pencemburu. Tapi, koq… ilustrasi Tinkerbell-nya gak imut dan cantik ya… malah agak ‘mengerikan’ dan kesannya tomboy gitu…

Wednesday, June 13, 2007

Perempuan Suci

Perempuan Suci (The Holy Woman)
Qaisra Shahraz
Anton Kurnia & Atta Verin (Terj.)
Mizan, Cet. III – Februari 2007
517 Hal.

Zarri Bano, adalah seorang perempuan Pakistan yang cerdas, cantik dan mandiri. Anak seorang tuan tanah yang sangat dihormati di Desa Chiragpur. Di usianya ke 27, sudah waktunya ia menikah. Begitu banyak orang tua yang melamar Zarri Bano untuk anak laki-laki mereka, tapi belum ada satu pun yang bisa memikat hati Zarri Bano.


Sampai suatu hari, ketika sedang ada pesta rakyat di desanya, Zarri Bano secara tidak sengaja bertemu pandang dengan seorang pemuda, tamu dari Karachi, bernama Sikander. Sikander bukan pemuda sembarangan, ia adalah seorang pengusaha yang juga sama kayanya dengan Habib Khan, ayah Zarri Bano. Dalam Zarri Bano tahu ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun memandang seorang pria secara terang-terangan adalah hal yang tabu. Tapi, Zarri Bano yang sudah modern itu tidak peduli dan malah bersikap sedikit menantang pria itu.

Ternyata Sikander datang berkunjung ke rumah Zarri Bano dengan maksud hendak mengenal Zarri Bano lebih jauh. Sikander berniat untuk memperistri Zarri Bano. Seharusnya Habib Khan senang karena akhirnya Zarri Bano memutuskan untuk menikah setelah sekian banyak laki-laki yang ditolakanya. Tapi, rasa cemburu dan rasa memiliki yang berlebihan, Habib Khan malah menentang keputusan itu.

Pernikahan itu memang akhirnya tidak jadi kenyataan. Karena ketika Jafar, adik Zarri Bano, mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, otomatis sebagai anak perempuan tertua, seluruh warisan tanah dan yang lainnya akan jadi milik Zarri Bano. Maka sebuah keputusan diambil. Habib Din memutuskan Zarri Bano menjadi seorang Shahzadi Ibadat – seorang Perempuan Suci, di mana Zarri Bano tidak bisa menikah dan harus mengabdikan hidupnya untuk agamanya,

Di sinilah pergulatan batin Zarri Bano dimulai. Batinnya memberontak. Ia ingin hidup sebagai perempuan normal yang menikah dan memiliki sebuah keluarga. Zarri Bano adalah perempuan bebas yang di kalangan banyak orang bahkan dilihat hampir tidak pernah memakai tutup kepala dengan benar. Tapi, Zarri Bano tidak kuasa untuk melawan keinginan ayahnya semata karena rasa hormatnya.


Detik itu juga ia ‘mematikan’ Zarri Bano yang lama dan berusaha menjadi perempuan yang hampir tanpa perasaan. Ia berusaha melupakan rasa cintanya pada Sikander, apalagi ia harus menghadapi kenyataan Sikander akhirnya menikah dengan Ruby, adiknya.

Zarri Bano menjadi Perempuan Suci. Tubuhnya tertutup burqa. Biasanya burqa menutupi seluruh tubuh pemakainya dan hanya menyisakan celah di bagian mata. Tapi, menurut penulis, burga yang dipakai Zarri Bano masih menampakkan muka pemakainya, seperti jilbab yang sangat lebar.

Selain mengisahkan tentang Zarri Bano, ada kisah lain yaitu tentang permusuhan seorang Chaudharani – nyonya tanah – bernama Kaniz dengan Fatima, pelayan keluarga Zarri Bano. Dendam Chaudharni Kaniz terhadap Fatima dikarenakan ia merasa sebagai perempuan pilihan kedua suaminya, karena dulu suaminya sebenarnya melamar Fatima untuk jadi istrinya, tapi ditolak. Dendam itu berlanjut. Bahkan bagia karma, anak Kaniz, Khawar justru jatuh cinta pada Firdaus, anak Fatima.

Istilah Shahzadi Ibadat, sebenarnya hanyalah ciptaan Qaisra Shahraz untuk mempertegas ‘tugas’ Zarri Bano. Sebuah tradisi kuno di Pakistan, yang mengatasnamakan agama untuk melindungi harta warisan dan tanah agar tidak jatuh ke pihak calon suami anak perempuannya.

Dalam novel ini, paling tidak, digambarkan bahwa masih banyak praktek dalam kehidupan yang membuat perempuan tidak bisa menentukan kehidupannya sendiri. Bahwa laki-laki begitu dominan dalam segala hal, laki-laki dianggap sebagai imam yang tidak bisa ditentang keputusannya. Sebagai perempuan, baik itu sebagai anak atau istri, tidak pantas untuk menentang keputusan yang diambil ayah atau suami. Bisa dilihat dari bagaimana Zarri Bano yang selama ini berjiwa bebas dan mandiri akhirnya pasrah mengikuti keinginan ayahnya, atau, bagaimana Shahzada, ibu Zarri Bano, tidak kuasa memohon pada suaminya agar membatalkan keputusan itu. Bahkan Habib Khan mengancam akan menceraikan Shahzada jika ia melawan.

Perempuan Suci yang ditulis tahun 2001 adalah novel pertama Qaisra Shahraz dan meraih penghargaan Jubilee Award tahun 2002.

Gue suka waktu Zarri Bano lagi diskusi dengan teman-teman perempuan sesama Muslim. Ia memaparkan berbagai solusi yang praktis dan masuk akal ketika teman-temannya mengajukan pertanyaan yang sepertinya jadi beban buat mereka.

Gue gak nyangka akan begitu menikmat novel ini. Biasanya gue males banget baca novel dengan tulisan kecil-kecil. Gue tadinya pesimis bakal bisa menyelesaikan buku ini. Tapi, novel ini mampu ‘memikat’ gue sejak kalimat pertamanya.

Sejujurnya sih… tadinya yang mau gue beli adalah novel “Perempuan Terluka” karena… hmmm… di depannya ada stiker yang tertulis “gratis buku selama setahun dari mizan” hehehe… tapi, begitu dilihat ternyata ini sekuelnya Perempuan Suci dan pas gue baca sinopsisnya cukup membuat gue tertarik, jadilah, gue beli juga Perempuan Suci… dan ternyata emang oke…

Monday, June 11, 2007

Shopaholic & Baby

Shopaholic & Baby (Si Gila Belanja Punya Bayi)
Sophie Kinsella
GPU, Mei 2007
536 Hal.

Ok, deh… lumayan lama juga nih, nunggu kelanjutan Shopaholic Series setelah Shopaholic and Sister. Dari judulnya aja udah ketauan, kalo buku ini akan bercerita tentang kehebohan Becky Brandon (dulunya Bloomwood). Perlu gak sih kimono bayi merk Ralph Lauren? Kereta bayi untuk mendaki gunung? Kereta bayi untuk main ski? Bukan Becky namanya segalanya gak berbau desainer terkenal. Baju baby Dior… udah ada… boks bayi plus lemari yang ada sirkus mininya… juga udah ada. Yang paling heboh, adalah begitu tau ada dokter kandungan langganan selebritis, Becky langsung bilang sama Luke mau ganti dokter. Becky langsung mengkhayal temenan sama Kate Winslett atau Elle MacPherson, muncul di majalah yang akan menyebut, “Kate, dan sahabatnya, Becky…”.

Setelah mendapat persetujuan yang dipaksakan dari Luke, Becky segera mendaftar untuk jadi pasien Venetia Carter, si dokter langganan selebritis itu. Dan, bukan hal yang gampang untuk jadi pasien Venetia, karena jadwal yang penuh. Beruntung Becky bisa ‘nyelip’ di salah satu jadwal kosong Venetia.

Tapi, ternyata… Venetia bukan orang asing buat Luke. Venetia itu adalah pacar Luke waktu masih kuliah. Becky mulai ketar-ketir. Meskipun tetap keliatan sok cool di depan Venetia dan Luke. Tapi, koq, makin lama, sikap Venetia makin agresif. Becky mulai gak tenang… apalagi, Becky menemukan sms dari Venetia untuk Luke yang sayangnya gak dimengerti Becky karena ditulis dalam bahasa Latin.

Sikap Luke yang terkadang mencurigakan makin membuat Becky gak tenang. Becky mulai khawatir suaminya berselingkuh. Becky pun bertekad untuk menyelidiki Luke.

Sementara itu, bisnis Luke yang sedang booming teracam gonjang-ganjing dan isu yang gak mengenakan, yang bisa-bisa membuat Becky batal jadi triliuner. Padahal, mereka berdua sudah menjual apartemen mereka dan berencana membeli rumah mewah yang (harus) ada Kamar Sepatu.

Dalam keadaan hamil tua, Becky masih sempat memikirkan usaha untuk menyelamatkan department store tempatnya bekerja, The Look, yang sepi dan terancam ditutup. Untuk Becky kenal dengan seorang perancang, Danny, yang dulu pernah tinggal di satu apartemen dengan Becky.

Persoalan datang bertubi-tubi justru menjelang Becky melahirkan. Untuk Becky dikeliling para sahabat, keluarga dan suami yang sangat mencintainya. Sampai akhirnya Becky melahirkan seorang bayi mungil yang lucu.

Gaya buku ini masih sama seperti yang dulu-dulu. Becky masih ‘gila’ belanja dan seperti biasa sampai lupa mana yang jadi prioritas ketika berbelanja. Mau nyari perlengkapan ‘inti’ untuk bayinya, malah nyasar beli stetoskop! Saking banyak barang gak penting dan bermerk, Becky harus menyembunyikan catalog belanja di depan Jess, kakaknya, yang super hemat itu. Becky bahkan dianjurkan untuk membuat baju bayi dari rami yang tahan lama dan ramah lingkungan.


Tapi, biar kadang terkesan seperti cewek yang berpikiran cetek (Seperti kata Venetia Carter), Becky bisa bikin orang lain tertawa, karena ia bisa melihat sesuatu dari sisi yang lain (seperti kata Luke Brandon, sang suami)

Kadang membosankan juga sih bacanya, karena ketebak banget deh, ulah si Becky… tapi, terkadang jadi segar lagi. Mungkin enaknya jangan dibaca sekaligus, harus berhenti sedikit-sedikit biar gak bosen.

Lucia, Lucia

Lucia, Lucia
Adriana Trigiani
GPU, Mei 2007
408 Hal.

Lucia Sartori, adalah anak perempuan satu-satunya dari pasangan Antonio dan Maria Sartori. Mereka adalah pendatang dari Italia dan mencari penghidupan di Amerika. Ketika itu adalah masa-masa setelah berakhirnya Perang Dunia II. Keluarga Sartori memiliki toko kelontong bernama Groceria yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Italia di Amerika.

Lucia adalah gadis yang berbakat, khususnya di bidang jahit-menjahit. Keahliannya ini diperoleh dari sang nenek. Lucia pun bekerja di sebuah departemen store terkenal di Fifth Avenue.

Hampir saja Lucia menikah dengan kekasihnya, Dante, anak pemilik sebuah toko roti, sama-sama berasal dari Italia. Lucia mempunyai keinginan untuk tetap bekerja jika ia sudah menikah nanti. Baginya, menikah bukanlah halangan bagi karirnya. Tapi, ternyata keputusan ini ditentang oleh calon ibu mertuanya, Claudio. Pandangan Claudio masih sangat kolot, bahwa perempuan yang sudah menikah harus bekerja di rumah, mengurus rumah tangga dan suaminya. Tentu saja Lucia menentang pendapat itu dan mengejutkan semua pihak dengan membatalkan pertunangan mereka.

Tapi, Lucia tidak perlu berlama-lama patah hati. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang pemuda Amerika yang bergaya sangat dandy, tampan, kaya, pemikat wanita, bernama John Talbott. Lucia langsung jatuh cinta, apalagi John Talbott juga menunjukkan sikap yang sangat memuja Lucia.

Meskipun Antonio tampaknya kurang menyetujui hubungan ini, Lucia dan John pantang mundur dan akhirnya mereka pun bertunangan. Rencana pernikahan mulai disusun. Bayang-bayang menjadi istri seorang yang kaya seolah sudah di depan mata. Lucia yang sedang kasmaran menyerahkan semua uangnya untuk membantu pembangunan rumah mewah mereka.

Tapi, apa daya, ternyata John Talbot adalah seorang penipu. Ia meninggalkan Lucia di hari yang seharusnya jadi hari pernikahan mereka. John sudah membawa kabur uang Lucia, meskipun akhirnya ia berhasil ditangkap pihak polisi.

Di hari tuanya pun, Lucia, gadis yang dikenal sebagai gadis tercantik di Greenwich Village, tetap hidup melajang.

Mungkinkah kutukan yang diucapkan oleh bibi Lucia, Catherina, menjadi kenyataan?

Cover buku cantik… tapi, isinya biasa aja… gak terlalu istimewa. Cewek cantik… jatuh bangun dalam percintaan… tapi akhirnya bisa survive… So typical… kurang gregetnya. Mengingatkan gue pada sama novelnya Danielle Steel yang sempat gue koleksi di masa-masa awal gue baru keranjingan baca novel…

Saturday, June 02, 2007

Ramalan Kue Pengantin

Ramalan Kue Pengantin (Dress Rehearsal)
Jennifer O’Connell
Dewi Sunarni (Terj.)
GPU, Februari 2007
472 Hal.

Lauren’s Lucious Licks benar-benar membantu para calon pengantin dalam memilih kue pengantin mereka. Para calon pengantin itu bisa memilih kue yang sesuai dengan keinginan mereka plus dengan detail-detail unik dan aneh pilihan mereka. Lauren Gallagher, pemilik butik kue yang paling ngetop di Boston itu, siap membantu mewujudkan mimpi mereka.

Tapi, kehidupan percintaan Lauren sendiri tidaklah seindah khayalan para calon pengantin yang dihadapinya tiap hari. Justru sudah sangat lama Lauren tidak berkencan dan menjalin hubungan dengan laki-laki. Tepatnya, sejak Neil memutuskan untuk pindah ke Washington dan meninggalkan Lauren… hmmm… atau tepatnya, Lauren yang menolak untuk ikut pindah dengan Neil. Kejadian inilah yang menjadi salah satu titik tolak bagi Lauren untuk memulai hidup barunya.

Dan, lahirlah Lauren’s Lucious Licks dengan kue-kuenya yang cantik dan yummy itu. Bukan itu saja, konon, Lauren bisa meramal masa depan dari hubungan calon pengantin dari kue yang mereka pesan. Karena ramal-meramal inilah, Lauren jadi kalang-kabut ketika Paige, sahabatnya, dan Steve sempat tidak menemui kata sepakat ketika memilih kue pengantin. Lauren menganggap ini tanda-tanda bahwa hubungan Paige dan Steve tidak akan langggeng. Bersama Robin, ia merencanakan Operasi Menyelamatkan Paige. Mereka membuat rencana agar Paige berpisah dengan Steve.


Robin sendiri juga punya masalah yang gak kalah rumit. Semenjak ia bercerai dengan Mark, Robin jadi 'feminis'. Robin sering mengadakan seminar yang intinya ingin menunjukkan kalau perempuan juga bisa survive tanpa laki-laki. Robin cenderung sinis memandang sebuah hubungan percintaan. Maka itu, ia mendukung 'perpisahan' Paige dan Steve agar mereka bisa menghindar dari sebuah pernikahan yang hanya akan berakhir pada perceraian.

Masalah lain, adalah ketika Neil tiba-tiba datang ke butik kue Lauren bersama Julie, tunangannnya, dan memesan kue di butik Lauren. Lauren kembali dilanda kenangan akan masa lalunya bersama Neil dan tiba-tiba merasa menyesal karena tidak ikut pindah dengan Neil… apalagi ketika ia tahu, kue yang dipilih Julie dan Neil, adalah kue yang juga akan dipilih Lauren (kalau ia menikah nanti)… tandanya, Lauren dan Neil sebenarnya jodoh kan???

Parahnya lagi, Neil datang ketika Lauren hampir menaruh harapan untuk membuka hubungan baru dengan Charlie, pengacara salah seorang mantan pelanggannya.

Udah lama gak baca chicklit, ternyata buku ini asyik juga. Meskipun gak jauh-jauh dari soal jodoh, tapi, membayangkan kue-kue Lauren yang nyam-nyam itu, bikin membaca buku ini jadi gak biasa.

Friday, May 25, 2007

The Bartimaeus Trilogy # 1: The Amulet of Samarkand

The Bartimaeus Trilogy # 1: The Amulet of Samarkand (Amulet Samarkand)
Jonathan Stroud
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, Mei 2007
512 Hal.

Seorang anak yang berpotensi jadi penyihir, jika ia sudah cukup umur, maka keluarganya akan menyerahkan anak itu untuk diasuh oleh seorang penyihir senior atau yang akan disebut ‘Master’. Tapi, sejak anak itu diserahkan oleh keluarganya, maka hubungan dengan keluarga lamanya akan sama sekali terputus, bahkan ia harus melupakan nama lahirnya dan akan diberikan nama baru. Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik-konflik yang dapat melemahkan si penyihir yang mungkin akan dimanfaatkan oleh para musuhnya.

Di usia yang baru 6 tahun, Nathaniel harus berpisah dengan orang tuanya yang tidak peduli dan langsung pergi setelah mengantarkan Nathaniel. Nathaniel pun diasuh oleh seorang penyihir yang bekerja di pemerintahan sebagai menteri, bernama Mr. Underwood. Nathaniel yang membisu seribu bahasa dalam perjalanan ke rumah Mr. Underwood, tersentuh oleh perhatian Mrs. Underwood pada dirinya dan membuatnya sangat menyayangi Mrs. Underwood.

Pendidikan sebagai penyihir berlangsung secara bertahap. Tapi, Mr. Underwood selalu bersikap meremehkan Nathaniel dan tidak menyadari bakat terpendam Nathaniel. Sebagai anak-anak, terkadang Nathaniel bersikap tidak sabar dengan pelajaran yang berjalan lamban.

Suatu hari, ketika Nathaniel berusia 10 tahun, ketika ada sebuah acara di rumah Mr. Underwood, Nathaniel diajak untuk bergabung. Sebagai penyihir pemula, ia tidak seharusnya ikut campur atas apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Semua penyihir dalam ruangan itu hanya menganggap dirinya sebelah mata. Dalam keadaan terdesak, Nathaniel mengeluarkan kemampuan yang bisa dibilang cukup istimewa untuk seorang penyihir pemula. Namun, tentu saja kemampuannya belum sebanding dengan kemampuan yang dimiliki penyhiri senior, yang salah satunya bernama Simon Lovelace. Simon Lovelace mempermalukannya di depan umum, dan masternya, Mr. Underwood, tidak melakukan apa pun untuk membelanya.

Sejak saat itu, Nathaniel menaruh dendam pada Simon Lovelace dan berniat akan membalas perbuatannya. Diam-diam, Nathaniel mempelajari semua buku yang ada di perpustakaan Mr. Underwood. Hingga saat yang tepat tiba, Nathaniel pun memanggil jin yang sudah berusia lebih dari 5000 tahun, sebuah pemanggilan yang jauh melebihi kemampuan penyihir seusianya.

Jin itu bernama Bartimaeus, yang diberi tugas oleh Nathaniel untuk mencuri Amulet Samarkand dari tangan Simon Lovelace. Amulet Samarkand adalah sebuah bandul yang dapat menyerap semua kekuatan yang bisa menghindarkan si pemakainya dari berbagai bahaya dan serangan.

An amulet (from Latin amuletum; earliest extant use in Natural History [Pliny], meaning "an object that protects a person from trouble") or a talisman (from Arabic tilasm, ultimately from Greek telesma or from the Greek word "talein" which means "to initiate into the mysteries.") consists of any object intended to bring good luck and/or protection to its owner. Potential amulets include: gems or simple stones, statues, coins, drawings, pendants, rings, plants, animals, etc.; even words said in certain occasions—for example: vade retro satana—(Latin, "go back, Satan"), to repel evil or bad luck.

http://en.wikipedia.org/wiki/Amulet

Simon Lovelace sendiri mencuri Amulet Samarkand dari pemilik sebelumnya dengan tujuan untuk dipergunakannya dalam menggulingkan pemerintahan saat ini. Ia berambisi untuk menjadi Perdana Menteri dan sedang menyiapkan rencana besar untuk mewujudkan impiannya.

Tugas ini sangat berbahaya dan menyeret Nathaniel dan Bartimaeus ke dalam sebuah masalah yang besar. Meskipun pada awalnya tidak ada yang mencurigai bahwa Nathaniel-lah yang menjadi otak pencurian itu. Kecurigaan mengarah pada sebuah kelompok pemberontak yang disebut Resistance.

Bartimaeus harus menempuh perjalanan yang berbahaya untuk mengantarkan Amulet Samarkand kepada Nathaniel. Dan, ia pun sempat tertangkap dan bertemu dengan musuh-musuh lamanya.

Lain halnya dengan Nathaniel, perbuatan nekadnya ini membuatnya kehilangan masternya. Ia pun harus menghadapi berbagai ancaman yang bisa saja melenyapkan nyawanya.

Paling asyik adalah kalo baca ‘perjalanan’nya si Bartimaeus. Kaya’nya jin ini cerewet banget, kadang sombong, kadang gengsi, kadang sok pinter, suka ngelawan, tapi terpaksa nurut sama Nathaniel, kalo nggak dia bakalan terperangkap di dalam sebuah kotak di dasar sungai Thames.

Sementara itu, Nathaniel, jenis anak yang serius, kaya’nya hampir gak pernah dia ceria atau senyum. Jenis anak yang dikira biasa-biasa aja, tapi ternyata menyimpan potensi yang besar.

Friday, May 18, 2007

Tiga Sekawan Wright (The Wright 3)

Tiga Sekawan Wright (The Wright 3)
Blue Balliet
Brett Helquist (Ilustrasi)
Edrijani (Terj.)
Qanita, Cet. I – Maret 2007
356 Hal.

Sebuah rumah bersejarah terancam akan dihancurkan. Robie House nama rumah itu. Dibangun oleh Frank Llyod Wright. Dewan Kota berecana akan merubuhkan rumah itu, karena sudah tidak ada dana lagi untuk merawat, apalagi merenovasi rumah itu. Padahal Robie House merupakan sebuah karya seni yang hebat, yang menyimpan banyak simbol misterius.

Miss Hussey, guru Petra, Calder dan Tommy, adalah salah satu yang tidak mendukung perubuhan rumah itu. Ia mengorganisir sebuah demonstrasi yang pesertanya adalah murid-murid kelasnya untuk menunjukkan ketidaksetujuan mereka atas rencana itu.

Petra dan Calder, beserta Tommy Segovia – kawan lama Calder, berusaha menyelidiki misteri di balik Robie House. Tommy, yang sempat cemburu dengan kedekatan Calder dengan Petra, menemukan sebuah ikan batu giok ketika sedang menggali di halaman Robie House. Ikan batu giok itu diduga memiliki nilai tinggi yang jika dijual bisa membantu renovasi dan perawatan Robie House.

Tapi, rupanya ada yang tidak setuju dengan rencana mereka. Robie House yang dikabarkan kosong itu, ternyata sering terlihat ada orang yang mondar-mandir di dalamnya, dan mengintip dari balik jendela. Apakah rumah itu berhantu? Atau itu hanya perbuatan orang-orang yang ingin menghambat usaha mereka?

Yang pasti akibat terlibat dalam kasus ini, Tommy pun akhirnya mau menerima Petra sebagai temannya dan menamakan kelompok mereka sebagai The Wright 3 atau Tiga Sekawan Wright.

Satu yang menarik dari buku ini, adalah sebuah simbol yang digunakan Petra untuk menulis di dalam buku catatannya agar temuan mereka tidak bisa dimengerti orang lain. Simbol ini menggunakan deret Fibonacci yang memang ternyata membingungkan. Selain itu, Calder masih tetap setiap bermain-main dengan Pentomino-nya. Tiga Sekawan Wright sendiri punya kode rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka bertiga.

(Fiuhhhh… akhirnya selesai juga baca buku ini. Sempat membosankan… karena mungkin gue belum ‘akrab’ dengan tokoh-tokohnya. Atau emang ceritanya yang lambat ya?)

Thursday, May 17, 2007

The Magdalen

The Magdalen
Prisoner of God: Neraka di Rumah Tuhan
Marita Conlon-McKenna
Retno Wulandari (Terj.)
Dastan Books, Cet. I – Maret 2007
536 Hal.

1944, Perang Dunia II tengah berkecamuk. Warga Irlandia berharap, pemerintah mereka tidak memutuskan untuk bergabung dengan sekutu dalam perang itu. Dan doa mereka terkabul. Di sebuah daerah bernama Connamara, tepatnya di desa Carraig Beag, seorang gadis bernama Esther Doyle tengah berjuang membantu persalinan ibunya, melahirkan anak yang ketujuh. Perjuangan yang luar biasa bagi Majella di usianya yang sudah kepala empat. Bayi perempuan itu lahir dengan kondisi yang tidak sesehat kakak-kakaknya. Bayi itu dipanggil Nonnie.

Esther tumbuh jadi gadis yang cantik. Ia terpaksa berhenti dari sekolah karena ayahnya meminta ia membantu ibunya merawat Nonnie yang memang membutuhkan perhatian ekstra, dan juga membantu segala urusan rumah tangga lain sementara saudara-saudara laki-laki dan ayahnya pergi melaut mencari ikan.

Badai dalam keluarga Doyle datang ketika ayah mereka ditemukan meninggal setelah menghilang beberapa hari saat sedang melaut di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Tanggung jawab pun beralih ke kakak tertua, Gerard.

Di masa remajanya, seperti yang lainnya, Esther kerap datang ke acara pesta dansa yang diadakan di bar setempat. Di sebuah pesta dansa, Esther berkenalan dengan seorang pemuda pendatang yang bekerja di peternakan tetanggganya. Esther tidak bisa menolak pesona Conor dan ia pun menyerahkan dirinya pada pemuda itu.

Bencana datang lagi. Kali ini, Nonnie kecil mereka yang jadi korban. Majella menyalahkan Esther atas peristiwa ini karena menganggap Esther lalai menjaga Nonnie yang menjadi tanggung jawabnya. Belum habis rasa bersalah Esther akibat kejadian itu, ia mendapati dirinya hamil tapi harus menyimpannya sendiri karena Conor tidak mau bertanggung jawab.

Tapi, kehamilan itu tidak dapat disembunyikan terlalu lama. Akhirnya Majella pun mengetahuinya dan mengutuk puterinya karena sudah membawa aib bagi keluarga Doyle.

Tanpa punya pilihan lain, Esther terpaksa menyetujui usul bibinya untuk bersembunyi sementara di sebuah biara, yang disebut pusat rehabilitasi bagi para pendosa. Tempat itu dikenal dengan nama Magdalen Laundry. Nama tempat itu diambil dari nama Maria Magdalena.

Magdalen Laundry dikelola oleh beberapa biarawati. Tempat itu bagaikan penjara atau bahkan lebih buruk. Tidak ada yang namanya kasih sayang di tempat ini. Semua perempuan yang senasib dengan Esther diharuskan bekerja di binatu seharian, diberi makan seadanya, bahkan terkadang mereka harus mengais-ngais tong sampah untuk mencari makanan. Mereka bekerja tanpa diberi upah. Tidak ada tempat bagi mereka untuk melupakan dosa yang telah mereka perbuat. Sikap para biarawati sama sekali tidak bersahabat. Belum cukup dengan perlakuan buruk yang mereka terima, bayi-bayi ‘haram’ yang lahir dari rahim mereka ‘direnggut’ dari ibunya dan diserahkan ke panti asuhan untuk diadopsi.

Di tengah kerinduan pada keluarga yang sudah ‘membuang’nya dan dalam keadaan hamil, Esther berusaha menerima keadaannya yang baru dan menjadikan penghuni Magdalen Laundry sebagai keluarganya yang baru.

Kisah ini diangkat dari sebuah kejadian nyata. Di mana, sejak abad pertengahan abad ke-19 sampai tahun 1996, di Irlandia memang banyak terdapat pusat rehabilitasi untuk para perempuan yang terbuang dari keluarganya. Magdalen Laundry terakhir ditutup pada tanggal 25 September 1996.

Sunday, May 13, 2007

Lola Rose

Lola Rose
Jacqueline Wilson
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU, April 2007
304 Hal.

Karena tidak tahan dengan perlakuan Dad yang suka berkata kasar dan ringan tangan, Mum memutuskan untuk melarikan diri dari rumah. Dengan berbekal uang lotere yang baru saja dimenangkannya, Mum mengajak Jayni dan Kenny untuk pergi bersamanya. Mereka pergi menuju kota London dan menginap di sebuah hotel mewah. Tentu saja, mereka tidak khawatir, uang Mum kan banyak. Bukan hanya itu, agar tidak bisa dilacak oleh Dad, mereka berganti nama. Mum yang bernama Nikki menjadi Victoria Luck; Jayni jadi Lola Rose dan Kenny menjadi Kendall.

Tapi, makin lama, karena gaya hidup mereka yang mewah dan tidak terkontrol, uang lotere Mum dengan cepat berkurang. Jayni, meskipun masih kecil, sikapnya sangat dewasa. Ia memaksa Mum untuk segera keluar dan hotel itu dan mencari perumahan yang sederhana.

Setelah menemukan tempat tinggal baru, Mum mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di bar, Lola Rose dan Kendall masuk ke sekolah baru. Kehidupan baru mereka terkadang berjalan lancar, tapi kadang kacau-balau. Ditambah lagi sikap Mum yang terkadang terlalu cuek. Bahkan seolah Lola Rose-lah yang sebenarnya bertanggung jawab atas keluarga itu. Ia yang harus memperingatkan Mum untuk tidak lagi main mata dengan laki-laki lain, ia yang harus mengurus Kendall jika ia sedih.

Kehidupan mereka, selain masalah-masalah di atas, terbilang cukup baik. Mereka berhasil bersembunyi dari Dad. Tapi, ada masalah baru lagi. Bukan hanya karena Mum yang berhasil menggaet cowok baru yang masih sangat muda, tapi ternyata Mum menderita penyakit yang mengerikan. Mum harus masuk rumah sakit, sementara itu Lola Rose dan Kendall terpaksa tinggal di rumah berdua.

Suatu hari, karena tidak punya uang lagi, Lola Rose menghubungi Bibi Barbara, satu-satunya keluarga Mum yang ia kenal. Untung Bibi Barbara sangat baik, ia menjaga mereka Lola Rose dan Kendall sementara Mum di rumah sakit.

Tapi, sampai kapan mereka bisa bersembunyi dari Dad?

Gak nyangka novel anak-anak bisa sedemikan ‘dewasa’. Isi buku ini, bukan bercerita tentang anak yang selalu happy, tapi cerita gimana Lola Rose berjuang mengurus Mum dan Kendall yang kadang kacau. Apalagi waktu Lola Rose dipukul Dad… aduh… dia bisa nahan perasaan dan dewasa banget.

Satu lagi yang gue suka dari Lola Rose… anaknya kreatif. Asyik deh, ngebayangin kalo Lola Rose lagi bikin kolase di buku hariannya. Mungkin ‘hasil karya’ Lola Rose bisa dilihat ilustrasi setiap awal bab.

Thursday, May 10, 2007

OUT (Bebas)

OUT (Bebas)
Natsuo Kirino
Lulu Wijaya (Terj.)
GPU, April 2007
576 Hal.

Empat orang perempuan bekerja pada shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan. Mereka cukup dekat, meskipun tidak bisa dikatakan bersahabat. Mereka berempat biasa bekerja dalam satu baris atau satu kelompok dan saling mem-back up satu sama lain. Keempat wanita itu adalah Yayoi, Masako, Yoshie, dan Kuniko.

Mereka semua punya masalah tersendiri dengan rumah tangga mereka yang bisa dibilang tidak bahagia. Misalnya Masako, yang meskipun masih satu rumah dengan suami dan anaknya, tapi hampir tidak pernah ada komunikasi, lalu Yoshie, suaminya sudah meninggal dan ia harus mengurus ibu mertuanya yang sakit-sakitan. Yoshie biasa dipanggil ‘Kapten’ karena ia yang paling cekatan; Kuniko, wanita satu ini ingin selalu tampil ‘berkelas’ meskipun untuk itu ia harus mencari pinjaman ke rentenir agar bisa memenuhi semua kebutuhannya. Setiap bulan ia selalu bermasalah dengan cicilan bulanan dari pinjamannya itu.

Sedangkan Yayoi, ibu dua anak yang masih kecil-kecil, baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Kenji, akhir-akhir ini sering pulang dalam keadaan mabuk dan mulai menghabiskan uang untuk perempuan. Ketika Yayoi protes, Kenji malah memukulnya dan meninggalkan bekas biru di perutnya. Inilah asal mula semua permasalahan.

Karena sakit hati atas sikap suaminya, Yayoi – yang terlihat paling lemah di antara mereka berempat, melakukan tindakan mengerikan dengan membunuh suaminya. Bingung harus berbuat apa, Yayoi pun menelepon Masako agar mau membantunya.

Meskipun juga tidak harus berbuat apa dan atas dasar apa, Masako mau membantu Yayoi. Dan entah apa juga yang merasuki Masako sampai ia akhirnya mengambil tindakan yang sangat mengerikan untuk melenyapkan mayah Kenji. Masako meminta bantuan Yoshie yang dengan terpaksa menuruti permintaan Masako karena hutang budi. Dan Kuniko, pun tanpa sengaja terlibat aksi pemotongan mayat Kenji. Sementara Yayoi sendiri tidak terlibat dalam kejadian ini. Atas perintah Masako, Yayoi harus berperan sebagai istri yang khawatir karena suaminya tidak pulang ke rumah.

Masako, yang bertindak sebagai ‘pimpinan’ dalam hal ini, membagi-bagikan kantong berisi potongan tubuh Kenji pada Yoshie dan Kuniko untuk dibuang di tempat-tempat yang berbeda. Tapi, karena kesalahan satu orang saja yang tidak sabaran dan hanya memikirkan kepentingan sendiri, beberapa kantong berhasil ditemukan, dan polisi pun mulai melakukan penyelidikan.

Tidak ada yang menduga bahwa semua ini dilakukan oleh Yayoi dan teman-temannya – para ibu rumah tangga biasa. Malah, seorang tersangka berhasil ditemukan dan dijebloksan ke penjara. Satake, tersangka itu, harus kehilangan usaha yang bertahun-tahun ia bangun. Satake juga punya masa lalu yang gelap yang membuat ia menjadi tersangka paling kuat.

Rahasia mereka tidak selamanya bisa disembunyikan dengan baik. Di antara mereka lagi-lagi ada yang hanya memikirkan kepentingan sendiri yang malah menjebloksan mereka ke dalam masalah yang lebih besar. Ancaman mulai muncul dari orang-orang yang mengetahui rahasia mereka dan dari orang yang merasa dirugikan oleh mereka. Mereka merasa diawasi dan nyawa mereka pun terancam. Hidup mereka pun tidak aman dan nyaman lagi.

Natsuo Kirino berhasil membangun ketegangan dari awal cerita. Meninggalkan rasa penasaran untuk terus dan terus melanjutkan buku ini sampai selesai. Bagian-bagian yang mengerikan diceritakan dengan halus, tapi, bisa membuat bertanya-tanya, apa yang ada di benak Masako, Yoshie dan Kuniko kala melakukan hal itu. Kalau gue, bener-bener bisa ngerasain betapa dinginnya Masako.

Pembaca bukan hanya diajak untuk mengikuti jalannya sebuah pelacakan pelaku pembunuhan, tapi juga diajak untuk menyelami kehidupan masing-masing tokoh, dan apa yang mereka rasakan sampai semua ini terjadi.

Sempat ketar-ketir juga begitu tau ada ‘adegan’ potong-memotong mayat. Tapi, ternyata gak seburuk itu… I still love sushi… I still love steak… atau… gue udah ikutan Masako yang dingin itu??? Hehehe… Kalo dipikir-pikir, gak ada satupun dalam novel ini, yang tokohnya punya kehidupan yang bahagia. Iya sih… kalo bahagia, gak akan ada kejadian seperti itu. Tapi, semuanya benar-benar gelap. Mungkin kesamaan nasib yang akhirnya menyatukan mereka, meskipun gak kompak.

Terima kasih untuk para ‘kompor’ – Kobo dan Om Tan, karena ternyata… gue suka sama buku ini… (meskipun gak yakin bisa berani kalo nonton filmnya…)

Thursday, May 03, 2007

Nagabonar (Jadi) 2

Nagabonar (Jadi) 2
Akmal Nasery Basral
Akoer, Cet. 1 – April 2007
241 Hal.

Siapa yang tak kenal Jendral Nagabonar? Seorang mantan pencopet yang jadi pejuang di masa penjajah Belanda. Kini, beliau tidak lagi mencopet, Nagabonar sudah tua. Mak, Kirana – istrinya dan Bujang, sahabatnya, sudah meninggal. Tinggal Nagabonar sendiri mengurus perkebunan kelapa sawitnya. Anak satu-satunya, Bonaga, merantau – jadi pengusaha di Jakarta. Hebat kan? Mantan pencopet, jadi jendral, punya kebun kelapa sawit, bisa menyekolahkan Bonaga ke Inggris sampai akhirnya Bonaga jadi pengusaha sukses.

Alkisah, Nagabonar sedang berpamitan di kuburan Mak, Kirana dan Bujang. Bonaga akan segera menjemputnya untuk ikut ke Jakarta, meninjau proyek baru Bonaga. Kocak banget dialog di kuburan ini. Meskipun berat meninggal kuburan orang-orang yang ia sayangi, tapi, sesekali terselip kata-kata kocak… apalagi ketika Nagabonar meninggalkan pesan-pesan pada Bujang.

Di Jakarta, Nagabonar terkejut-kejut dengan segala kondisi yang berbeda dengan kampung halamannya. Belum lagi melihat rumah Bonaga yang mewah itu. Gaya Nagabonar yang cuek bisa mencairkan kekakuan di rumah itu.

Tapi, Nagabonar lebih terkejut lagi dengan rencana Bonaga. Sebuah investor dari Jepang berminat membangun resort yang kebetulan letaknya adalah di kebun kelapa sawit milik Nagabonar. Bukan itu saja, ada kemungkinan proyek itu akan menggusur kuburan Mak, Kirana dan Bujang. Tentu saja, Nagabonar marah besar dan langsung meninggalkan kantor Bonaga.

Seharian Nagabonar pergi keliling Jakarta tak tentu mau kemana dengan bajaj. Semua supir bajaj bingung dibuatnya. Sampai akhirnya, ada satu supir bajaj bernama Umar yang kebetulan tinggal di kampung di belakang rumah Bonaga. Itulah awal persahabatan Nagabonar dengan Umar yang kemudian dengan setia melayani keinginan Nagabonar untuk melihat patung-patung para pejuang kemerdekaan.

Selain masalah proyek ini, ada satu hal lagi yang menjadi pertanyaan Nagabonar, yaitu, kenapa Bonaga belum juga punya calon istri. Ada satu perempuan yang selalu dekat dengan Bonaga, namanya Monita. Tapi, entah kenapa, Bonaga masih malu-malu untuk menyatakan cintanya pada Monita. Sampai akhirnya, Nagabonar pun harus turung tangan. Ternyata, biar sudah melanglang jauh sampai ke Inggris, untuk urusan cinta, Bonaga masih maju-mundur. Wahhh.. Apa kata dunia?!”

Jika kita nonton filmnya, kita disuguhkan, “Ini lho… kehidupan Nagabonar dan Bonaga.” Kita jadi pihak ketiga yang menonton kehidupan mereka. Tapi, dalam novel ini, Nagabonar-lah yang bertutur. Nagabonar yang bercerita. Sehingga, kita lihat, ada adegan-adegan di film di mana Nagabonar tidak terlibat, tidak aka nada dalam buku ini. Sebaliknya, banyak adegan yang di film terlalu singkat, di dalam buku ini, akan diceritakan lebih mendalam, seperti ketika Nagabonar bercerita tentang kisah perjuangan kepadaTulus, anak Umar si tukang bajaj. Lewat novel ini, pembaca mungkin lebih bisa memahami perasaan Nagabonar, karena semua yang dia rasakan benar-benar ‘tercurah’ dalam novel ini.

Mungkin ini adalah novel yang diadaptasi dari scenario film terbaik yang pernah gue baca. Antara film dan novel saling melengkap, tidak tumpang tindih, atau hanya sekedar memindahkan layar bioskop dalam bentuk tulisan.




(covernya ada dua macam, yang gambarnya Deddy Mizwar, atau yang Tora Sudiro. Sebenernya gue punya yang covernya Tora Sudiro. Cuma udah browsing, ketemunya yang gambarnya Deddy Mizwar. Jadi itulah yang gue pajang di sini.)
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang