Showing posts with label metropop. Show all posts
Showing posts with label metropop. Show all posts

Monday, March 03, 2014

Dirty Little Secret



Dirty Little Secret

aliaZalea
GPU - 2014
336 hal.

aliaZalea boleh dibilang salah satu penulis Metropop yang karyanya gue nyaris semua gue baca (yang belum kaya’nya cuma Miss Pesimis). Bahkan gue masih ‘terkenang’ sosok si drummer keren – Jo, di Devil in Black Jeans. Soalnya, cowok-cowok di dalam buku-bukunya selalu digambarkan sebagai cowok yang cool, keren dan.. ehm.. sexy, maybe? Hehehe..

Jana bertemu Ben ketika mereka sama-sama kuliah di Amerika. Sejak pertama bertemu, Ben udah bikin Jana panas-dingin. Mereka pun akhirnya pacaran, terus… ya kebablasan gitu deh… sampai akhirnya Jana hamil. Tapi, ketika itu Ben belum siap untuk jadi seorang ayah, dan meminta Jana untuk menggugurkan kandungannya. Sikap dan kata-kata Ben membuat Jana berbalik membenci Ben dan langsung menghilang. Informasi terakhir yang Jana berikan ke Ben, adalah bahwa ia sudah menggugurkan kandungannya.

Jana pulang ke Indonesia dan berperan sebagai orang tua tunggal bagi sepasang anak kembar – Erga dan Raka. Sementara Ben, bekerja di Amerika. Dan ketika Ben cuti ke Indonesia, bertemulah mereka kembali.

Ben pun berusaha mendekati Jana kembali dan Jana mati-matian menghindari dari Ben. Yang Ben inginkan adalah berkumpul kembali dengan Jana, membentuk sebuah keluarga kecil dan mengganti panggilan ‘Om Ben’ menjadi ‘Ayah’.

Hmmm… beberapa adegan kecil dan mengharukan ada di buku ini. Kebersamaan Ben dengan Erga dan Raka, pertemuan pertama mereka, Ben yang kaget ngeliat sosok Erga dan Raka yang seperti photocopy dirinya dalam bentuk kecil.

Kalau Jana rada tertutup dan pemalu, Ben ini lebih tipe cowok yang ramah-tamah. Gue juga suka sama si kembar Erga dan Raka – Erga dengan karakter yang lebih kalem dan sensitive. Sedangkan Raka, lebih ekspresif. Meskipun keduanya suka rebutan, tapi mereka juga saling melindungi.

Keluarga Ben juga lebih terbuka dibandingkan dengan keluarga Jana. Meskipun keduanya sama-sama berasal dari keluarga yang terpandang, tapi sikap orang tua mereka dalam menghadapi berita besar berbeda. Ayah Ben adalah seorang pengacara kondang, yang langsung mencari berbagai aspek dari segi hukum mengenai status Ben sebagai seorang ayah. Sedangkan ayah Jana yang seorang pengusaha, cenderung lebih kaku dan diktator. Di dalam keluarga Jana, seorang perempuan harus nurut sama laki-laki.

Kenapa gue malah terkesan Jana ini gak punya temen ya? Kalau Ben, masih ada Eva, kakaknya tempat dia curhat. Bagian Ben curhat sama Eva juga menjadi bagian yang menarik dalam buku ini.  Sedangkan Jana, rasanya sendiri aja. Mungkin karena statusnya sebagai orang tua tunggal, membuat dia lebih memilih menyimpan rahasia atau permasalahannya rapat-rapat. Terus, satu yang bikin gue kurang ‘sreg’ adalah ketika Jana dan Ben ‘make out’ di tempat umum. Astaga… Jana kan punya posisi yang tinggi di kantor itu, at least she can control herself kalau di tempat umum begitu.

Gue suka cover-nya yang gak banyak pernak-pernik. Gambar koper dengan latar biru, plus sepasang kaos kaki yang menyembul keluar. Dan, gue suka surat di akhir cerita yang dikirim Jana untuk Ben.



Submitted for:

Wednesday, March 20, 2013

The Devil in Black Jeans




The Devil in Black Jeans
aliaZalea
GPU – Februari 2013
352 Hal.
(Pinjem sama @pipitkuprit)

Kepulangannya ke Indonesia, tujuan awalnya hanyalah untuk menghadiri pemakaman dan pembacaan surat wasiat ayahnya. Tapi, tak pernah disangka-sangka oleh Johan Brawijaya, bahwa ayahnya ‘mewariskan’ Blu, adik angkatnya, untuk di’urus’ oleh dirinya selama ibu Blu menyelesaikan pendidikannya di Le Cordon Bleu. Selama ini, sebagai drummer yang ‘katanya’ paling ganteng se-Indonesia, kehidupan Jo ya, bebas-bebas aja. Tapi, kini ia harus bertanggun jawab atas diri remaja berusia 15 tahun itu.

Blu, adalah penyanyi opera Indonesia. Yah, mirip-mirip Connie Talbot gitu kali suaranya ya? Semakin Blu dikenal banyak orang, kesibukan Blu juga semakin bertambah. Belum lagi, Blu juga tidak boleh ketinggalan pelajaran di sekolah, latihan yang intens menjelang pentas, fitting kostum, dan juga urusan sehari-hari. Jo termasuk kakak yang overprotective. Ia mengatur jadwal Blu dengan ketat. Ia juga mengawasi pergaulan Blu dengan teman-temannya.

Tapi, lama-lama, seiring dengan kesibukannya sendiri sebagai drummer-nya Revel (baca: Celebrity Wedding), Jo juga kewalahan mengurus Blu. Maka pihak manajemen memutuskan sudah waktunya Blu memiliki Personal Assistant.

Waktu interview, Jo sudah pasang muka ‘jutek’ dan sikap yang sangat ngeselin. Tapi, sebagai mantan PA dari penyanyi kawakan, Dara tidak gentar. Meskipun kesal dengan sikap Jo yang maunya ngajak perang aja.

Dan benar saja, terkadang apa yang dilakukan Dara sering kali tidak sesuai dengan pandangan Jo. Padahal Blu sendiri menyukai Dara.

Ehem.. tapi ya, pastinya gak perlu dikasih tau apakah ini spoiler apa gak, pembaca juga ngerti arah dari hubungan ‘marah-marah’ ini ke mana. Jo, yang terbiasa dengan perempuan yang mengejar-ngejar dirinya justru berusaha menolak perasaannya sendiri yang penasaran dengan sikap Dara yang justru berani menentangnya. Sementara Dara, juga sama, ia berusaha meyakinkan dirinya kalau ia mencintai tunangannya, Panji dan mengingkari kalau ia pelan-pelan juga suka sama Jo.

Ada fase sama-sama menerima, tapi ada juga fase yang bikin si tokoh langsung down dan memilih untuk menyepi, atau kalo gue bilang fase ‘penolakan’, fase yang bikin susah diri sendiri dengan cara yang gak jelas. Ya, soalnya, udah tau sama-sama suka, tapi pake nyari kejelekan dari diri lawan atau malah diri sendiri. Yang bikin kedua tokoh sama-sama berurai air mata dan well… aliaZalea juga berhasil membuat gue gemes. Ehem.. gemes sama Jo (langsung mikir seperti siapakah sosok Jo ini di dunia nyata?), gemes sama drama-drama antara Jo dan Dara.

Kadang-kadang ya, udah tau sih cerita yang begini bakal ke mana arahanya, tapi memang pinter-pinternya si penulis untuk bikin sesuatu yang baru dari cerita yang temanya udah umum begini.

Tuesday, March 19, 2013

Blind Date




Blind Date
aliaZalea
GPU – Cet. III, September 2012
272 Hal.
(Pinjem sama @pipitkuprit)

Saat memutuskan putus dengan Brandon, Titania berniat untuk membuktikan kalau dia bisa menemukan cowok lain sebagai pengganti Brandon. Hal ini dipicu oleh kata-kata Brandon yang bilang kalau dia adalah satu-satunya laki-laki yang menginginkan Titania. Ihh.. Brandon ini ya, tipe laki-laki yang minta ‘ditendang’, sok pe-de, sok paling oke, padahal, dia yang udah jelas-jelas selingkuh tapi masih juga merasa gak bersalah.

Gara-gara ini, Titania nekat membayar dua ribu dolar Amerika untuk memperoleh jasa blind date professional. www.MyBlindDate menjanjikan akan menemukan pasangan untuk Titania dalam waktu 6 bulan. Jasa blind date satu ini bahkan direkomendasikan oleh Oprah Winfrey di dalam salah satu episode yang menayangkan tentang blind date. Kerahasiaan data terjamin dan konsumen tinggal menyebutkan persyaratan yang mereka inginkan, agen MBD juga akan memberi saran-saran.

Akhirnya, Titania menjalani serangkaian kencan buta dengan beberapa pasangan sesuai dengan karakter yang sudah ia tetapkan. Yah namanya kencan buta, seberapa pun miripnya cowok itu dengan syarat yang diinginkan, tetap saja ada yang kurang. Titania merasa cocok dengan beberapa orang, tapi, ia tahu, dengan mereka rasanya lebih cocok untuk  berteman. Untungnya, gak ada tuh yang namanya ketemu dengan pasangan kencan yang ‘aneh’ atau konyol. Titania sempat putus asa dan takut perkataan Brandon itu memang benar.

Seiring dengan berjalannya waktu, secara kebetulan Titania bertemu dengan Reilley di beberap kesempatan. Semua secara tidak sengaja. Sosok Reilley justru lebih membuat Titania deg-degan dibandingkan dengan beberapa pria yang ditemui saat kencan buta. Bahkan Reilley ‘menyelamatkan’ Titania saat Brandon menguntitnya di sebuah pesta. Meskipun Titania merasa Reilley is the one, tapi tetap saja, Titania belum yakin.

Cerita ini ber-setting di Amerika. Dan satu nih yang positif dari buku ini, meskipun sudah hidup di negara asing, tapi tetap Titania berpegang teguh pada budaya timur – yaitu tetap menjaga keperawanannya sampai menikah.

Reilley bagaikan pahlawan yang ‘jatuh dari langit’, selalu muncul di saat yang tak terduga, bahkan seperti ‘mengikuti’ Titania. Tapi, kalo gue sih… bukan tokoh yang justru bikin gue klepek-klepek… terlalu baik dan ‘lurus’…. Hihihi… still love the bad boy character :D

Thursday, November 01, 2012

My Partner



 
My Partner
Retni SB
Gramedia – Pebruari 2012
288 hal.
(pinjam sama @pipitkuprit)


Tita harus menangung beban sendiri setelah Mahkamah Agung memutuskan papa Tita bersalah atas kasus korupsi di perusahaan tempat papanya bekerja. Tita yang beliau tidak bersalah, beliau hanya tumbal. Tapi apa mau dikata, MA menolak Peninjauan Kembali kasus itu. Dan itu berarti, Tita harus kehilangan rumah dan harta benda karena disita pengadilan dan Tita harus bertahan sendiri. Papa di penjara, mama yang tak kuat akhirnya depresi dan harus direhabilitasi, adiknya, Nena memilih menjauh ke rumah nenek mereka, pacarnya kabur, dan teman-teman mulai menjauh.

Keuangan mulai menipis, biaya operasional sehari-hari tetap harus berjalan. Tita membuang gengsinya dan bekerja pada Jodik, arsitek yang merancang taman rumah mereka, yang dulu karyanya pernah dicela Tita. Tapi, sifat cuek dan nyaris juteknya Jodik membuat Tita gak kuat dan memilih bekerja pada Dodi, anak boss papa-nya Tita. Karena bayaran yang lebih menggiurkan dan karena memang sudah berteman sejak lama, Tita menepis siapa sebenarnya Dodi, anak dari orang yang ikut menjerumuskan papa Tita ke penjara.

Hmmm.. apa yang mau gue tulis setelah  baca buku ini… Buat gue kurang ‘beremosi’, meskipun penderitaan tokoh utama cukup mengharu-biru, dengan segala perjuangan dan kesabaran. Tapi malah bikin jadi statis. Yang namanya orang lagi tertimpa musibah yang berat seperti itu, rasanya ada saatnya emosi bisa meledak. Udah gitu, gak ada tokoh antagonisnya, selain Dido yang muncul sekilas (ini pun kalo bisa dibilang antagonis). Kalo mau lebih dramatis, lebih asyik kalo temen-temen lama Tita yang menjauh setelah kasus papanya ini dimunculkan. Yah, kan pengen tau, apa sih yang ada di pikiran ‘teman’ yang menjauh itu.

Lalu, adik Tita, Nena yang ‘ngumpet’ di rumah neneknya. Coba lebih ditampilkan, biar gak seolah hanya Tita yang ‘menanggung’ beban segitu berat.

Mungkin klise ya cerita ini, sang tokoh utama yang sedang menderita, lalu datanglah sang knight in shining armorand they live happily ever after *sigh*. Tiba-tiba gue terpikir, andaikan keadaan dibuat berbeda. Seandainya digambarkan memang ayah Tita adalah koruptor, si penjahat, seperti apa cerita ini bergulir ya? Apa Tita akan setabah yang digambarkan dalam buku ini? Gimana sosok Tita menerima kenyataan seperti itu?

Aduh, ma’af ya, mbak Retni, kalo tiba-tiba jadi ‘ceriwis’ begini. Ide cerita udah oke koq.. bener.. deh, hanya sekali lagi, terlalu klise. FYI (yang gak penting), gue nyaris cerita ke nyokap tentang kasus di buku ini… eh, tiba-tiba baru inget kalo ini hanya fiksi. Abis nyaris tiap hari dengernya berita beginian melulu sih… hehehe…

Dan satu lagi nih, yang terjadi setelah baca buku ini, gue tiba-tiba kepikiran sama keluarga para koruptor di dunia nyata. Apa ya yang keluarga mereka rasakan? Yang pasti gue kasian sama anak-anak mereka.

Tuesday, February 21, 2012

Three Weddings and Jane Austen

Three Weddings and Jane Austen
Prima Santika
GPU – Januari 2012
464 hal.
(via bookoopedia.com)

Adalah Om Tan yang membuat gue memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini. Gara-gara posting-an covernya di twitter, lalu gue baca sinopsisnya dan ternyata.. mmm.. menarik…

Ibu Sri – ibu dari 3 orang anak perempuan – penggemar berat Jane Austen. Masa remajanya memang dihabiskan di Inggris sana, jadi gak heran jadi beliau familiar dengan Jane Austen. Bahkan nama-nama anak perempuannya diambil dari tokoh-tokoh di novel Jane Austen – Emma dari Emma Woodhouse di novel ‘Emma’, Meri dari Marianne Dashwood di novel ‘Sense and Sensibility’, dan yang terkecil, Lisa dari Elizabeht Bennet di novel ‘Pride and Prejudice’.

Ketiganya bisa dibilang dalam usia yang cukup matang untuk menikah. Tapi sayangnya, tampaknya urusan percintaan ini jadi masalah yang rumit untuk ketiga gadis itu. Ibu Sri sebenarnya cukup khawatir. Maklumlah, namanya juga ibu-ibu. Permasalahan yang dihadapi ketiga anak perempuannya berbeda satu sama lain, tapi Ibu Sri selalu punya jawaban yang masuk akal dan semua itu didapatnya dari novel-novel Jane Austen.

Emma, Meri dan Lisa, sebenarnya rada ‘anti’ dengan novel klasik. Karena bahasanya yang susah dan kadang tokoh-tokohnya menurut mereka terlalu ‘dangkal’. Tapi, Ibu Sri dengan sabar selalu menjelaskan dengan perlahan, hingga akhirnya mereka bisa menerima penjelasan Ibu Sri. Jadi, meskipun belum membaca buku-buku Jane Austen itu, mereka bertiga lumayan hafal dengan isi ceritanya.

Yang membuat novel ini unik, selain cover-nya itu, ya karena cara ‘pendekatannya’. Kalo masalah cinta sih, udah sering kan dibaca di mana-mana, tapi latar belakangnya yang bikin menarik. Kalo gue jadi anaknya bu Sri, pasti gue bilang, “Please deh, Ma.. no more Jane Austen, deh… “ Hehehe… tapi, anak-anak Ibu Sri ini emang baik-baik… semuanya sama sabarnya dengan Ibunya.

Di buku ini, gak ada tokoh antagonis. Ini buku yang sangat ‘sopan’. Bahkan para cowok-cowoknya juga baik-baik. Ibu Sri dan anak-anaknya bergantian bercerita. Hingga kita tahu, apa permasalahan mereka masing-masing. Tapi nih… Mas Prima ini beberapa kali ketuker antara Mas Dian dan Mas Deni :D

Dulu gue sering banget beli novel ‘metropop’, sekarang udah jarang, kecuali dari beberapa penulis. Karena jujur, gue sering merasa rada ‘terganggu’ dengan terlalu banyaknya kalimat berbahasa Inggris yang bersliweran. Meskipun lebay nih, gue sering berpikir, “Gue baca novel Indonesia atau Inggris sih?” Nah, membaca novel ini, bagi gue terasa lebih ‘membumi’. Mungkin karena latar belakang keluarga Jawa yang ‘kental’, para tokohnya juga sopan-sopan, masih memegang teguh adat ketimuran. Meskipun ada kalimat-kalimat berbahasa Inggris, tapi sebagian besar itu dari kutipan-kutipan buku Jane Austen. Kalo pun mereka berdialog dengan bahasa Inggris, itu tak terlalu banyak dan gak berlebihan.

Dan selesai membaca buku ini, yang ada di pikiran gue, “Segera cari novel-novel Jane Austen.”

Twivortiare


Twivortiare
Ika Natassa @ 2011
Self published via nulisbuku.com
288 hal.
(via nulisbuku.com)

Penasaran dengan ending Divortiare? Sebaiknya buruan baca buku ini. Gimana sih ‘nasib’ Beno dan Alexandra selanjutnya.

Lewat tweet-nya, Alexandra Rhea menceritakan kehidupan setelah menikah kembali dengan Beno. Mulai dari mesra-mesranya mereka berdua kembali, cerita-cerita saat mereka masih pacaran, terus kenapa sampai akhirnya mereka bisa memutuskan untuk menikah kembali, plus pertengakaran mereka yang juga bolak-balik terjadi. Gak ketinggalan gossip-gosip barena Wina, sahabatnya Alexandra.

Awalnya, gue asyik-asyik aja baca buku ini. Karena ya alas an di atas, pengen tau aja gimana Beno dan Alexandra selanjutnya. Tapi, rada ke belakang, gue jadi agak-agak ‘terganggu’, atau bosan kali ya, baca tweet-nya Alexandra yang manis-manis sama Beno, mesra berdua di Amrik sana… eh, tiba-tiba ada tweet yang rada ‘kasar’ atau ‘memaki-maki’ Beno. Yah… mulai berantem lagi, mulai ribut lagi. Alex ngambek dan ‘kabur’ ke rumah mereka di Kebagusan… Beno nyusul.. baikan lagi…. Gak lama.. berantem lagi… Aduh… cape’ deh bacanya…

Yang menarik adalah bagian di mana mereka berdua saling menguatkan saat Alexandra belum juga hamil. Gak ada yang saling menyalahkan, tapi saling memberi semangat, meskipun dua-duanya sama-sama down.

Tapi… bagian akhirlah yang berhasil ‘menyentuh’ gue. Tweet tentang surat dari Beno bikin gue terharu.. hu..hu.. hu… Biar deh, si Alex harus tau tuh, jangan marah-marah terus, jangan asal nuduh terus… biar dia sadar, how much Beno loves her… :D

Banyak yang jatuh cinta sama Beno.. si dokter yang cool tapi protektif banget sama Alex. Cemburu berat kalo Alex dideketin sama cowok lain, tapi tetap lempeng saat Alex marah-marah karena Beno diem aja dipegang-pegang sama dokter cantik kolegaknya di rumah sakit.

Tapi, Beno tetap cinta sama Alex, meskipun hanya bisa masak scramble egg tiap pagi plus nasi goreng nugget. Atau Alex yang bisa ketawa dan senyam-senyum dengan ke-geek-annya Beno.

Terus gue mikir nih… koq lama-lama seperti ‘too much information’. Twitter emang bisa dibilang sarana curhat, update status… tapi kalo baca timeline-nya Alexandra – menurut gue – terlalu ‘pribadi’ untuk diumbar ke publik. Emang sih, dipasang ‘gembok’, jadi gak semua orang bisa liat timeline-nya, kalo gak diapprove sama beliau ini. Sampai-sampai gue berpikir, apa iya dalam kehidupan ‘nyata’, ada orang yang bercerita segitu pribadi-nya di twitter. Hehehe.. gue terlalu ‘berkaca’ sama diri gue sendiri, yang membatasi apa yang gue bagi di ruang publik. Yang gue follow dan follower gue pun bisa dibilang yang punya minat sama dengan gue. Sementara keluarga hanya kakak dan adik gue, temen-temen kantor gak ada yang gue follow (gak ada yang tau juga sih gue punya account twitter :D)

Tapi, sarana twitter untuk menghasilkan sebuah karya boleh diacungi jempol. Udah ada beberapa buku yang gue baca yang asal atau idenya dari twitter, seperti Kicau Kacau-nya Indra Herlambang atau Tweets for Life – Desi Anwar.

Seperti biasa, Ika Natassa tampil dengan gayanya yang ceplas-ceplos. Dan, iya.. akhirnya gue follow tuh account @alexandrarheaw dan semakin gue baca timeline-nya, gue jadi merasa Alexandra… Beno.. even si mbok itu nyata.. hahahaha.. (tapi koq.. di list following justru gak ada tuh account Wina – sahabatnya sendiri?)

O ya.. sedikit ‘kritik’, di buku ini lumayan banyak bertebaran ‘typo’. Udah gitu, ada tweet yang sama yang beberapa kali diulang. Entah karena kelupaan, atau emang di-tweet beberapa kali. Soalnya hanya beda satu halaman. (gue lupa halaman berapa… catetan ketinggalan di rumah)

Friday, February 17, 2012

Divortiare


Divortiare
Ika Natassa @ 2008
GPU – Cet. II, September 2008
288 hal.
(Gramedia PIM)

Sebenernya gue udah pernah baca buku ini. Tapi, berhubung mau baca sambungannya, Twivortiare, dan gue rada-rada lupa ceritanya, maka gue pun meluangkan waktu untuk membaca lagi Divortiare. Biar lebih inget awal mulanya gimana.

Alexandra dan Beno, adalah pasangan mantan suami-istri. Mereka berdua adalah pasangan yang super sibuk. Alexandra bekerja di bank sebagai credit analyst, sementara Beno adalah dokter bedah jantung. Jam kerja yang tak tentu, terutama Beno, yang kerap mendapat panggilan mendadak dari rumah sakit. Alexandra juga sibuk banget, sering pergi-pergi ke luar kota juga. Tapi namanya sebagai istri, Alexandra juga menuntut perhatian dari suami. Bukan hanya bertemu saat sarapan atau tengah malam saat udah ngantuk-ngantuk dan gak sempet untuk berbincang-bincang lagi.

Puncaknya, komunikasi yang tak lancar, ego keduanya yang tinggi, akhirnya Alexandra memutuskan untuk berpisah dengan Beno. Daripada terus menerus bertengkar, akhirnya, itulah keputusan pahit yang akhirnya mereka ambil… berpisah.

Setelah berpisah pun, hubungan mereka bisa disebut love-hate relationship. Kalau sakit, Alexandra masih tetap meminta Beno untuk memeriksanya. Sama-sama cemburu saat melihat mantan berdekatan dengan orang lain.

Gue inget, hal pertama yang membuat gue membeli buku ini, karena gue suka dengan cara dengan buku pertama Ika Natassa – A Very Yuppy Wedding, ceplas-ceplos, meskipun kadang gue merasa ‘terganggu’ dengan begitu banyaknya kalimat bahasa Inggris yang bertebaran. Lalu, cover-nya yang simple. Kotak ‘His’ yang rapi, dan kotak ‘Her’ yang berantakan. Begitu membaca buku ini, gue ‘mengerti’, kotak itu seolah mewakili karakter di buku ini. Beno yang cool – cenderung lempeng dan kaku. Sementara, Alexandra yang to the point, terkadang gampang ‘panas’, tapi juga tegas.

Banyak yang pastinya jatuh cinta sama tokoh Beno. Kaya’nya sebagai tokoh yang ‘tertindas’ hahaha.. .sabar menghadapi Lexy, tapi kalo udah marah, kaya’nya bikin kita gak bisa berkata apa-apa. Dengan hubungan yang digambarkan seperti itu, harusnya sih ‘Divortiare’ itu gak perlu terjadi, asal mereka mau berusaha untuk bertahan sedikit lagi (duh.. sok tau banget sih gue ini). Sementara Denny… aduh, bosen ah. Tokoh yang sok-sok romantis, sok perhatian.. biasa aja jadinya… (menurut gue lagi lhoooo…) - tapi hmm.. seandainya gue masih single, ada yang begitu ke gue sih.. gue suka-suka aja.. hehehe.. (gak konsisten..)

Oh ya, ending menurut gue juga asyik. Kalo gue jadi bertanya-tanya, kira-kira Beno sama Alexandra jadi gimana nih? Akan tetap sebagai ‘teman’, atau tetap ber-love-hate relationship, atau mau ada kesempatan kedua ?

Oke lah.. sekian aja untuk Divortiare ini, nantikan ya tayangnya Twivortiare… soon…

Monday, September 26, 2011

Celebrity Wedding

Celebrity Wedding
aliaZalea @2011
GPU - September 2011
328 hal.

Sebagai Junior Partner di salah satu kantor akuntan publik, waktu Inara nyaris tersita seluruhnya untuk pekerjaan. Bisa dibilang hampir tak ada waktu untuk bersosialisai (yeah.. I know… been there before, meskipun hanya magang dua bulan… hehehe…) Di suatu Jum’at sore, Inara sedang merapikan pekerjaan-pekerjaannya, bersiap untuk mengahadapi weekend yang tenang. Ia sudah janji untuk datang ke acara pesta ulang tahun keponakannya. Tapi… mendadak, Inara dipanggil ke sebuah meeting, bertemu dengan klien penting, yang tidak saja merubah semua rencananya di weekend ini – tapi andai Inara tahu – juga akan merubah masa depannya.

Revelino Darby, si klien penting itu. Secara khusus, atas rekomendasi yang sangat memuaskan, meminta Inara untuk memeriksa kondisi keuangan pribadi Revel dan perusahaan rekaman miliknya. Siapa tak kenal Revel? Ia adalah penyanyi papan atas Indonesia, digilai perempuan karena suaranya yang enak serta didukung oleh wajah dan fisik yang menunjang. Inara nyaris saja menolak proyek satu ini, karena banyaknya klien yang harus ia tangani. Tapi, ia pasrah karena senior partner di KAP itu menyetujui bahwa Inara lah yang akan menangani Revel.

Dan, hari-hari Inara berikutnya pun, selain berkutat dengan klien lain, juga dihabiskan di kediaman Revel yang merangkap studio rekaman. Yah, harus diakui oleh Inara, kalau Revel memang memiliki pesona yang ‘melumpuhkan’ kaum hawa.

Hari-hari yang tenang, tiba-tiba berubah dengan adanya gossip tak sedap. Luna, yang diketahui publik sebagai kekasih Revel, hamil. Tapi, Luna tak bersedia mengungkapkan jati diri ayah dari calon bayi itu. Tentu saja, tuduhan mengarah ke Revel. Dan Revel memilih bungkam, tidak memberi tanggapan apa pun tentang gossip itu. Tapi, ada harga yang harus dibayar Revel. Launching single terbarunya ditunda, tour ke beberapa kota di Indonesia terancam batal karena adanya penolakan dari pemda setempat. Revel harus mencari cara untuk mengembalikan image positif di mata masyarakat.

Dan satu-satunya cara itu adalah menikah…. Calon istri yang sempurna ‘saat itu’ adalah … Inara! Tanpa proses yang berbelit-belit, Inara menyetujui usul Revel. Inara yang selama ini terlalu banyak diatur oleh mama dan kakak-kakak perempuannya, merasa inilah waktu yang tepat untuk menunjukkan kalau ia juga punya sikap, dan ia yakin di mata mamanya, Revel adalah calon menantu yang sempurna.

Sandiwara dimainkan, kontrak ‘pernikahan’ selama setahun pun dibuat. Pelan-pelan Inara tampil mendampingi Revel di berbagai acara.

Nikah kontrak itu pun berjalan dengan mulus. Sesekali mereka bertengkar karena merasa privasinya terganggu. Terutama Inara, yang bersikap se-profesional mungkin, meski sesekali ia tak bisa membohongi perasaannya.

Harusnya yang mereka jalani adalah sebuah drama, pura-pura… tapi kenapa makin lama makin nyata…. Dan harusnya gak melibatkan perasaan… tapi, nyatanya, Revel pun setengah mati menahan diri setiap berhadapan dengan Inara – perempuan yang jauh berbeda dengan mantan-mantan pacarnya.

Tokoh-tokoh dalam buku ini gak banyak, jadi gak ribet. Fokus utama memang di Revel dan Inara. Bahkan, si Luna, yang berpotensi jadi tokoh antagonis, hanya ‘melintas’, dan gak terlalu ‘mengganggu’.

Kalau bicara ending… well, ketebak lah seperti apa. Dan bukan pertama kali gue membaca cerita tentang pernikahan pura-pura dengan ending yang sama. Tapi, buku ini malah membuat gue pengen membaca karya aliaZalea yang lain.

Friday, September 16, 2011

Antologi Rasa

Antologi Rasa
Ika Natassa
GPU - Agustus 2011
344 hal.

Novel ini bercerita tentang kisah cinta yang mmm… apa ya, semu? (aih bahasa gue). Tentang orang-orang yang punya perasaan, tapi gak berani mengungkapkannya.

Keara, Haris dan Rully, bekerja di sebuah bank. Mereka dipertemukan ketika sama-sama bertugas ke daerah. Tapi, sifat ketiganya berbeda.

Keara, seorang gadis yang easy-going, suka clubbing, shopping dan fotografi. Jatuh cinta sama Rully, tapi karena dia tau, Rully suka dengan gadis lain, maka ia hanya berani berharap sekali saja pria itu memperhatikannya. Rully berbeda dari laki-laki yang selama ini kerap menjalin hubungan dengan dia.

Haris, seorang ‘womanizer’. Rayuan dan gombalannya hampir selalu berhasil membuat perempuan bertekuk lutut. Kecuali, Keara. Hanya Keara yang mampu membuat Haris merasa jatuh cinta, karena hanya Keara yang melihat Haris sebagai seorang sahabat.

Sementara Rully, yang paling ‘alim’ di antara mereka. Paling normal, jauh dari kehidupan malam. Tapi, sayang, cintanya justru hanya untuk seorang perempuan yang sudah berkeluarga.

Bolak-balik Keara berusaha menghapus bayangan Rully dan mencoba berhubungan dengan pria lain, tapi tetap saja, baginya itu hanya membohongi perasaannya. Sementara saat Haris berusaha jujur, justru ia kehilangan sahabat sekaligus perempuan yang ia cintai.

Keara itu tipe gadis yang ceria, tapi ketika bicara soal Rully, dia jadi berbeda. Di dalam kisah cinta segitiga (atau bahkan segiempat) ini, semua yang keliatan bahagia, ternyata gak begitu adanya. Keara itu tipe gadis yang ceria, tapi ketika bicara soal Rully, dia jadi berbeda. Atau Harris yang gampangnya gonta-ganti cewek, tapi di hadapan Keara justru kata-kata gombalnya selalu ‘mental lagi. Rully – si pria baik-baik ini – hanya berani berharap Denise akan meninggalkan suaminya.

Gue cuma mau jadi orang yang take care sama loe dan menemani loe di saat sulit ini
Antalogi Rasa page 269


Meski bertema cinta, tapi waktu membaca buku ini, rasanya campur aduk. Karena ditulis tidak hanya dari sudut pandang satu tokoh, jadi bisa ikut ‘ngerasain’ apa yang dialami setiap tokoh. Meskipun porsi untuk Rully gak sebanyak Keara dan Harris. Tokoh favorit gue, ternyata bukan Rully, tapi justru Harris. Si bad boy ini ternyata mau ‘bertobat’ demi seorang Keara.

Cara penulisan yang santai, bertaburan kalimat berbahasa Inggris, seolah bisa ‘menggambarkan’ sosok Ika Natassa – tokoh yang sama-sama banker, nge-fans John Meyer, suka fotografi.

Buat yang mau ber-menye-menye *colek Om Tan*, hayuuu.. dibaca buku ini… gak hanya akan jatuh cinta sama Keara, tapi juga tokoh-tokoh yang lain, plus.. siap-siap penasaran apakah Keara akan terus memburu Rully? Atau bersiap-siap menerima Harris?

Demi mendapat jawabannya, gue rela begadang untuk nyelesain buku ini.

Monday, December 27, 2010

The Wedding Games

The Wedding Games
Fanny Hartanti @ 2010
GPU - Desember 2010
240 Hal.

Harusnya nih, Dion Dirgantara bangga memiliki istri seperti Dania Kartanegara. Cantik, mandiri dan cerdas. Dania adalah seorang presenter acara masak-memasak (bayangkan aja Farah Quin) dan juga pemilik sebuah wedding organizer yang terkenal. Dari seorang yang tidak percaya diri dan sempat sedih luar biasa karena tidak bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri, Dania menjelma jadi sosok selebritis yang jadi incaran para wartawan infotainment, jadi perempuan yang super sibuk. Malah mulai dijuluki ‘Martha Stewart-nya Indonesia’.

Dion sendiri bukannya tidak punya posisi penting. Berkantor di sebuah bank, Dion adalah seorang manajer berpenghasilan puluhan juta. Bukan Dion tidak mendukung karir Dania. Justru Dion yang awalnya meminta Dania untuk mencari kesibukan. Tapi, ketika karir Dania meroket, kesibukan Dania membuat Dion sering dinomorduakan. Dania jarang meminta pendapatnya, dan akhirnya Dion malah sering merasa lebih sebagai Mr. Kartanegara, bukan lagi Dion Dirgantara. Sebagai laki-laki, ia mulai merasa ‘dikalahkan’ oleh perempuan, oleh istrinya sendiri.

Perselisihan kecil mulai sering terjadi, bahkan akhirnya berujung pada ‘pisah ranjang’. Masing-masing jadi egois, saling menyalahkan dan menuntut pasangan masing-masing untuk lebih mengerti. Apa yang terjadi di antara mereka, membuat sikap mereka juga berubah. Dania yang biasanya ramah terhadap karyawannya berubah menjadi judes, sampai-sampai karyawannya mulai bergunjing yang tidak-tidak. Dion, bertemu dengan cinta pertamanya, dan tanpa disadari, Dion pelan-pelan mulai mencari sosok perempuan lain selain Dania.

Meskipun si laki-laki menjunjung tinggi persamaan derajat, hak dan kedudukan antara perempuan dan laki-laki, tapi tetap aja, ego laki-laki tuh ingin selalu jadi yang nomer satu, jadi yang terdepan dan jadi pemimpin. Sama seperti Dion, ketika ia merasa jadi nomer dua, cintanya sama Dania seolah perlahan lenyap, digantikan oleh kemarahan dan pikiran-pikiran negative. Satu lagi yang penting, komunikasi. Percuma teriak-teriak dalam hati, marah-marah, tapi toh, kalo pasangannya gak tau, yang percuma aja kali. Mereka gak akan ngerti juga apa yang lagi kita rasain. *curhat.com*… hehehe..

Anyway, gue lagi tiba-tiba ngeh, kenapa ya judul Metropop mayoritas pake bahasa Inggris? Seperti yang satu ini, atau The Bridesmaid’s Story, atau Dimi is Married (ini sih yang gue ambil dari yang akhir-akhir ini gue baca)

Monday, December 06, 2010

The Bridesmaid's Story

The Bridesmaid's Story
Irena Tjiunata @ 2010
GPU - Nopember 2010
296 Hal.

Another metropop hasil berburu weekend ini. Cerita tentang kehebohan seorang bridesmaid menghadapi calon pengantin yang dikenal sebagai drama queen.

Di tengah kesibukannya sebagai perancang perhiasam, Kesya tetap dengan senang hati menjadi pendamping perempuan untuk sahabatnya, Cecil. Mereka sudah bersahabat sejak TK, dan sudah saling mengenal luar-dalam satu sama lain. Kesya tahu betapa hebohnya hubungan Cecil dan Alo yang sering putus-nyambung.

Mulailah kesibukan mempersiapkan pesta pernikahan. Cecil adalah orang yang ‘ramai’, sementara Alo cenderung lebih tenang. Memilih gaun pengantin, tidak cukup hanya satu-dua-tiga kali mencoba, tapi sampai 27 kali! Tapi Kesya tetap sabar menemani Cecil. Ditambah lagi kehadiran sepupu Cecil yang ‘ajaib’ dan sok asyik, dan pengen banget berperan dalam pesta pernikahan Cecil ini.

Kesya sendir belum punya pasangan yang ‘berarti’. Ada seorang fotografer gugup bernama Jansen yang naksir banget sama Kesya, dan Kesya sendiri ‘aneh’nya juga suka sama Jansen dan menanti kapan Jansen akan menyatakan cinta. Tapi itu dulu… sebelum sang bestman atau pendamping pengantin prianya datang. Ketika Marco muncul, meskipun menyebalkan dan sok tau, mau tidak mau, Kesya dag-dig-dug setiap ada Marco di sampingnya. Marco yang keren meskipun gemar merokok. Cecil dan Alo juga terang-terangan menjodohkan mereka.

Setelah kehebohan yang berurai air mata, pesta pernikahan berjalan lancar. Semua sesuai dengan keinginan kedua mempelai. Akhir cerita yang berbahagia untuk semua tokoh dalam cerita ini. Ya.. gue ceritain aja deh, kalo emang akhirnya Marco dan Kesya jadian. Tapi, tadinya gue pikir, meskipun Kesya jelas tertarik sama Marco, tapi, justru Jansen yang berhasil mendapatkan cinta seorang Kesya. Dalam ‘tebak-tebakan’ gue selama baca buku ini, kirain Marco ini cuma ‘iseng’ sama Kesya dan akhirnya Jansen yang jadi ‘penyelamat’ untuk Kesya. Ehhh.. taunya nggak ya.. hehehe…

Dimi is Married

Dimi is Married
Retni SB @ 2010
GPU - Oktober 2010
384 Hal.

Garda – seorang pemuda dengan ‘package’ yang sangat menarik. Tampan, rapi, dan punya kedudukan yang penting di perusahaan milik ayahnya. Tapi, dengan segala kelebihannya itu, tentu saja, sosok Garda tidak pernah sepi dari perempuan-perempuan cantik. Sekali putus dari perempuan satu, Garda dengan mudah menggaet perempuan lain – yang tipenya nyaris selalu sama – cantik bak model atau peragawati. Seringnya Garda gonta-ganti pacar, membuat resah ayahnya. Maklum, Garda adalah salah satu dari pewaris perusahaan kertas milik ayahnya.

Untuk itu, ayah Garda memutuskan untuk menjodohkan Garda dengan putri sahabat baiknya. Usulan ini, tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Garda. Menurutnya, mana ada lagi perjodohan di jaman modern?! Dan, Garda yakin banget kalo sosok anak perempuan sahabat ayahnya itu adalah sosok perempuan ‘jadul’.

Tapi, tiba-tiba Garda menyadari suatu hal – sebuah ambisi, yang jika ia tidak memenuhi keinginan ayahnya, bukan tidak mungkin ambisi itu akan gagal. Akhirnya, Garda pasrah dipertemukan dengan Dimi – nama gadis itu. Dimi memang bukan sosok yang ada dalam bayangan Garda, tapi Dimi juga bukan tipe perempuan yang selama ini mengelilingi Garda. Dimi cenderung tomboy, mandiri dan cuek. Tapi, seorang Dimi pun tidak bisa menolak magnet dari seorang Garda. Demi baktinya pada orang tua, Dimi akhirnya mau menikah dengan Garda.

Di awal pernikahan mereka, Dimi pelan-pelan bisa menyayangi Garda. Tapi, tidak dengan Garda. Sebuah sandiwara masih diperankannya dengan baik. Meski kadang jauh di lubuk hatinya, Garda merasa bersalah, tetap saja Garda melanjutkan permainannya.

Ketika seorang Donna – mantan pacar Garda - tiba-tiba mengusik kehidupan mereka yang nyaris tenang. Dimi pun menyadari ada sesuatu yang salah dalam kehidupan pernikahan mereka.

Tanpa gue sadari, ada beberapa buku Retni SB di lemari buku gue, dan rata-rata bukunya lumayan menarik, meskipun, tentu saja temanya tetap tentang cinta. Makin ke belakang, menurut gue sih makin menarik. Ceritanya makin ‘complicated’ atau lebih bervariasi. Yang gue suka dari Dimi di sini, adalah karena dia sosok yang sederhana, tapi gak kuper. Buku yang ringan buat santai-santai pas weekend…

Monday, October 04, 2010

Janda-Janda Kosmopolitan

Janda-Janda Kosmopolitan
Andrei Aksana
GPU – Januari 2010
464 hal.

Jadi janda bukan hal yang mudah. Banyak yang masih memandang negative terhadap status itu. Yang perempuan akan berbisik-bisik agar hati-hati nanti suaminya, pacarnya digoda janda. Yang laki-laki akan tersenyum nakal, ada juga yang memandang rendah, hanya mau pada gadis, tapi tidak dengan janda. Ah… susah jadi perempuan…

Rossa, perempuan pengusaha butik. Punya anak satu. Terpaksa menikah karena terlanjur hamil. Suaminya bilang, Rossa adalah penyebab hilangnya kebebasan dia. Akhirnya, pernikahan hanya seumur jagung. Di kehidupan yang sekarang, Rossa sudah mapan. Berteman dengan sesama janda. Sampai akhirnya punya pembantu bernama Nunung yang janda juga.

Drama kehidupan Nunung lain lagi. Ia menikah karena cinta. Terpaksa jadi TKW demi memperoleh kehidupan yang lebih baik. Setiap bulan uang gaji ia kirim ke kampung, ehhh… suaminya malah nikah lagi.

Sakit dan tak percaya pada laki-laki, tapi toh tidak malah membuat mereka jadi tidak butuh lagi-lagi. Menjalin hubungan baru memang tidak mudah. Ketika dekat dengan seorang pengusaha bernama Marco, Rossa tak berani menungkapkan jati dirinya yang sebenarnya, apalagi berkata kalau ia sudah memiliki anak. Marco pergi, datang Virlo, pemuda yang gemar clubbing. Bahkan anak SMA pun tertarik pada Rossa, dan tahu kalau Rossa kesepian.

Sementara Nunung, pembantu yang sangat modern dan berpikiran maju. Di sekolah anak Rossa, ia berhasil menebar pengaruh yang cukup besar sampai-sampai para nyonya protes dan minta Rossa memecat Nunung.

Nunung juga kembali gagal, karena calon suaminya ternyata sudah beristri. Meskipun istri pertamanya rela dimadu, Nunung tidak mau menyakiti sesama perempuan.

Duh, duh, duh.. drama ini penuh air mata, tapi juga penuh canda. Hidup mewah a la Rossa dan teman-temannya berdampingan dengan kesederhanaan dan keluguan Nunung. Clubbing vs joged dangdutannya Nunung. Menyindir sikap nyonya rumah yang takut kalah 'pamor' sama pembantu. Gak rela ngeliat pembantu yang tiba-tiba jadi lebih apik, lebih canggih dan lebih pintar.

Ending cerita dibuat menggantung dengan kemunculan tokoh yang sejak awal dianggap ‘hilang’. Membuat penasaran, karena tiba-tiba Rossa berada di persimpangan.

Tuesday, January 12, 2010

Jampi-Jampi Varaiya

Jampi-Jampi Varaiya
Clara Ng @ 2009
GPU, Cet. I - Desember 2009
320 Hal.

3 orang gadis dari keluarga penyihir – yang lebih dikenal dengan Keluarga Karbohidrat dari nama-namanya. Ada Zea, Solanum dan Oryza. Penyihir di tengah-tengah manusia, yang biasa mereka sebut dengan ‘masyarakat jelata’. Mereka berinteraksi, bekerja sama dengan manusia. Seperti Oryza, yang jadi staf human resources, punya sahabat manusia. Tapi, bukan itu yang diceritakan di sini.

Masalah bermula dari pencurian rempah-rempah Varaiya dari rumah yang merangkap sebagai resto nasi tim bebek milik Nenek Gray, nenek-nya Strawberi. Strawberi ini naksir berat sama Xander. Tapi, Xander sudah dijodohkan sama si tomboy, Oryza. Oryza ditaksir sama Pax – yang juga merangkap jadi kucing jadi-jadian bernama Dakocan.

Salah satu kegunaan rempah-rempah itu adalah untuk membuat masakan jadi lebih lezat. Oryza, penyihir level delapan. Kemampuan sihirnya tidak diikuti dengan kemampuan memasak. Makanya, dia ingin menunjukkan pada semua orang, kalau dia bisa masak. Tapi, siapa sangka, karena terlalu banyak bumbu yang dipakai, malah membuat rendang kreasinya jadi ‘hidup’.

Dan tanpa disengaja, Zea dan Solanum meminum teh Varaiya yang khasiatnya membuat orang jadi punya tenaga ekstra, gak ada cape’nya dan malah jadi hiperaktif. Tapi, kalau terlalu banyak, efeknya adalah kematian bagi orang itu. Ada sih penawar racunnya, tapi obat itu hanya ada di Pulau Varaiya, pulau terpencil yang penuh pengaruh sihir, yang tidak ada di peta Indonesia.

Maka, dimulailah petualang mencari Temarin, obat penawar racun dari rempah Varaiya. Oryza, Samudra (ayah Oryza), Xander dan Pax, ditambah Nuna, anak perempuan kapten kapal yang mereka sewa, mengarungi lautan menuju Pulau Varaiya.

Tapi, ada dua perempuan lain, yang gak rela kalo perjalanan itu berhasil. Mereka ingin salah satu penyihir pria itu ada di tangan mereka. Strawberi dan Aqua, sama-sama naksir Xander. Tapi, Xander tetap cool dan setia sama Oryza.

Gue termasuk penikmat setia karya-karya Clara Ng. Rasa-rasanya, hampir semua buku Clara Ng gue punya, termasuk buku anak-anaknya. Dan, rasa-rasanya juga, baru kali ini Clara Ng nulis buku yang (maunya) kocak – setelah Indiana Chronicles. Tapi, sejujurnya, gue lebih suka baca buku Clara Ng yang rada serius, kaya’ Dim Sum Terakhir atau Uttuki. Di sini banyak lelucon atau joke yang jadi garing, kaya’nya panggilan untuk Strawberi yang selalu disalah-salahi jadi ‘Nangka’, atau ‘Cempedak’ atau apalah – yang berlaku juga untuk Strawberi pas manggil Aqua, jadi ‘Milo’ atau ‘Pocari’. Karena berulang-ulang dan keseringan malah jadi ‘basi’.

Terus, petualang di Pulau Varaiya malah porsinya gak terlalu banyak. Hmmm.. mungkin karena yang difokuskan bukan di pulaunya, tapi di ‘jampi-jampi’-nya ya.

Tapi, cerita belum selesai sampai di sini. Masih ada lanjutan kisah tentang penyihir yang kocak-kocak ini di buku selanjutnya.

Wednesday, September 09, 2009

Pink Project

Pink Project
Retni SB @ 2009
GPU – Juli 2009
264 Hal.

Pertama kali, coba-coba menulis komentar tentang sebuah lukisan di koran, Puti Ranin langsung mendapat balasan pedas dari seorang kritikus lukisan lain. Sangga Lazuardy, menyebut Puti sebagai katak dalam tempurung, tapi sok tahu. Karuan Puti langsung berang. Puti tau, dia bukanlah seorang seniman yang mampu menilai karya lukisan dengan canggih. Dia hanya penggemar lukisan, dan ketika satu lukisan mampu membuatnya ‘terpana’, Puti tak tahan untuk tidak mengirimkan tulisannya ke surat kabar. Puti langsung emosi berat. Bukan hanya karena Sangga ‘menghina’ dirinya, tapi juga menghina Pring, pelukis pujaannya itu.

Pada satu kesempatan, Puti akhirnya bertemu dengan Sangga. Sikap Sangga yang sok cool dan seolah mengaggap Puti gak ada, makin membuat Puti berang. Padahal, entah kenapa, semakin Puti menghindar, semakin sering mereka berdua bertemu.

Ternyata, Sangga punya tujuan tersembunyi di balik sikapnya yang acuh tak acuh itu. Sangga punya niat menjodohkan Puti dengan Pring. Si pelukis ini memang misterius. Dia tidak pernah muncul di setiap pameran lukisannya. Sangga ternyata adalah sahabat Pring.

Gue sih berharap menemukan ‘keindahan’ di dalam buku ini. Dari cover-nya udah cantik. Gue cape’ banget baca marah-marahnya Puti ke Sangga yang kadang berlebihan banget. Bagian Puti marah-marah, selalu gue lewatin dengan cepet-cepet. Hehehe.. daripada gue ikutan stress…

Friday, July 17, 2009

His Wedding Organizer

His Wedding Organizer
Retni SB @ 2008
GPU – Cet. II, September 2008
272 Hal.

Harsya, salah satu ‘pemegang saham’ di sebuah wedding organizer yang lumayan ngetop di kota Semarang. Meskipun gak jauh-jauh dari urusan pernikahan, ternyata Harsya sendiri belum berpikir ke arah sana. Bukan gak punya pacar, tapi, sang kekasih ini masih disembunyikan alias belum go public. Satu-satunya teman dekat cowok yang sering terlihat bersama Harsya, adalah Adra, teman dari kecil, mantan tetangga, fotografer dan juga salah satu penanam modal di Puspa Tiara.

One day, datang order besar yang kaya’nya bakal jadi mission impossible. Karin, teman SMA Harsya, yang dulu tak ada tanda-tanda bakal menikah duluan karena pemalu, menghubungi Harsya dan meng-hire-nya sebagai WO untuk pernikahannya. Temanya adalah “Little Mermaid”. Karin pengen ‘membawa’ alam bawah laut ke dalam pesta pernikahannya, harus dengan air sungguhan bukan sekedar background! Belum lagi pusing memikirkan gimana konsepnya nanti, ternyata Harsya harus menerima satu kenyataan pahit. Calon suami Karin tak lain adalah pacar Harsya sendiri, Figo… pengusaha muda yang sukses di kota Semarang.

Mission impossible jadi ada dua – mempersiapkan pernikahan yang extraordinary plus menghadapi sang calon pengantin yang (mantan) pacar sendiri. Untung ada Adra, yang selalu siap jadi ‘tong sampah’ setiap Harsya lagi ada masalah. Meskipun begitu, untuk kali ini, Harsya gak siap untuk cerita apa yang sebenarnya terjadi pada Adra.

Ketika masih sama-sama di sekolah, Harsya and the gank sempat ngerjain Karin dan bikin Karin malu. Nah, untuk ‘menebus’ dosa mereka, Karin minta mereka berjanji kalau di antara mereka, ternyata yang menikah adalah Karin duluan, Harsya and the gank harus pake kostum bikini dengan sayap peri di punggung mereka. Harsya sempat panik, karena ternyata memang Karin duluan yang married, tapi, dengan Karin sedikit berbaik hati untuk menghapus ‘hukuman’ itu, tapi menggantinya dengan ‘hukuman’ lain, yaitu, harus membawa calon suami ke pesta pernikahan Karin nanti.

Di sini masalah yang lebih rumit pun dimulai. Harsya meminta Adra berpura-pura jadi pacarnya, tapi Adra gak tau kalo di balik itu ada permainan lain. Orang-orang Puspa Tiara langsung terkejut melihat kemesraan Harsya dan Adra, kabar ini pun langsung sampai ke telinga orang tua mereka yang juga berteman dekat.

Demi menjaga perasaan orang tua mereka, Harsya dan Adra sepakat melanjutkan ‘kerja sama’ mereka, sampai gak sadar, kalau mereka sebenarnya juga sudah saling jatuh cinta. Tapii… masalah muncul lagi. Figo kembali masuk ke dalam kehidupan Harsya, dengan alasan pernikahannya tidak bahagia, Harsya kembali terjebak dalam rayuan Figo. Adra marah dan menghilang. Harsya jadi kelimpungan…

Setelah gue baca, ceritanya gak jauh beda sama ‘Perempuan Lain’-nya Kristy Nelwan yang beberapa waktu lalu gue baca. Tentang cewek yang susah banget ‘jatuh cinta’, tapi ternyata sekalinya ketemu, malah harus jadi ‘selingkuhan’, dan deket sama temen cowok dari kecil sampe gak sadar kalo sebenernya he is the one-nya si cewek.

Monday, June 29, 2009

Perempuan Lain

Perempuan Lain
Kristy Nelwan @ 2007
Grasindo – Cet. II, Maret 2009
362 Hal.

Maya marah berat ketika Fauzan, tunangan sahabatnya, Hesti, ketauan berselingkuh dengan perempuan yang ya… ma’af-ma’af, rada kecentilan dan gak sebanding banget dengan Hesti. Maya nekad melabrak Cindy, si WIL itu, ketika dengan santainya dia datang menggantikan Fauzan yang gak bisa dateng ke ulang tahunnya Cindy.

Masalah ‘perempuan lain’ bukan hanya dialami Cindy, tapi juga Tiara, kakak Maya sendiri. Parahnya, Tiara-lah yang jadi perempuan lain dalam pernikahan orang lain. Bahkan dia hamil, tapi, karena tak mau karirnya terancam, Tiara nekat melakukan aborsi.

Tapi, siapa sangka, Maya sendiri akhirnya terjebak menjadi si ‘perempuan lain’ itu. Tak ada niat atau bahkan kepikiran sama sekali dalam benak Maya untuk mendapatkan predikat pengganggu kekasih orang. Ketika, Maya ketemu Sandi di restoran makanan Menado, Maya hanya iseng memperhatikan sosok ganteng itu. Mana dia tahu kalo Sandi itu GM sebuah produk ponsel ternama yang meng-hire kantor Maya sebagai EO untuk launching produk terbaru mereka. Dan kebetulan Maya adalah PO dari project baru itu.

Maya yang sudah lama gak jatuh cinta, gak bisa melupakan begitu saja sosok Sandi. Sandi yang perhatian, yang hangat dan yang kocak, mampu ‘melumerkan’ hati Maya. Tapi, ternyata, gak disangka-sangka, ternyata Sandi sudah punya tunangan.

Maya hancur. Ia jadi kerja gila-gilaan, makan gak teratur, apalagi tidur. Sampai-sampai, bossnya, mengirim dia berlibur ke Lombok, tempat Maya akhirnya bertemu dengan kekasih masa lalunya dan bisa kembali tersenyum

Ketika Maya mencoba bangkit, Sandi malah gak mau melepaskannya. Maya pun menjalani hubungan ini dengan diam-diam, menyembunyikan ini dari sahabat-sahabatnya sendiri. Meskipun Maya sudah mencoba untuk menjalin hubungan dengan pria lain, Sandi tetap tak tergantikan.

Tapi, ketika Sandi datang lagi kepadanya, dan Maya justru gak mampu untuk menerimanya. Kenapa?? Karena ternyata… sosok dalam mimpi Maya selama ini bukanlah Sandi (upppss… apakah ini spoiler?)

Dibanding novel ‘L’, gue lebih suka yang ini. Emang sih, tokoh perempuannya, sama-sama galak (apakah ini menggambarkan sosok Kristy Nelwan?), terus, sama-sama perokok berat, galak, susah ‘mencari cinta’, dan sama-sama pekerja keras. Tapi, buat gue, tema-nya lebih ‘membumi’, dibanding tema nyari cowok berdasarkan abjad. Sifat idealis seseorang yang harus diuji ketika dia sendiri melanggar apa yang dia ‘haramkan’. Dan, kadang, kita juga gak sadar, sosok yang selama ini kita cari, ada pada seseorang yang selalu hadir di depan mata kita.

Meskipun ini, banyak ‘keseleo’nya nih, banyak salah tulis… Adiel Peterband beberapa kali keseleo jadi Ariel Peterpan, yang memang tampaknya berasal dari nama itu.

Thursday, March 19, 2009

Cinta Andromeda

Cinta Andromeda
Tria Barmawi @ 2007
GPU – Januari 2007
336 Hal.

Indonesia tahun 2070? Wow… seperti apa ya? Yang ada dibayangan gue adalah kota Jakarta – tentunya – yang sibuk banget, kendaraan yang bersliweran, gak hanya di darat dalam hal ini mobil biasa, tapi juga mobil yang bisa terbang. Monorail, terus, apalagi ya… gue jadi inget film-nya Will Smith yang I Robot.

Jadi, dalam ‘rekaan’ Tria Barmawi, Indonesia di tahun 2070, penuh dengan berbagai kecanggihan, seperti smartphone, mobil yang bisa dioperasikan secara manual ataupun dengan mesin, dan yang paling keren adalah para robot yang semakin lama semakin mirip dengan manusia. Robot gak hanya untuk membantu pekerjaan rumah tangga, tapi juga sedang diusahakan menciptakan robot yang punya ‘perasaan’, bahkan bisa bereproduksi - yang dalam bahasa kerennya disebut Humanoid.

Vinidici sebuah perusahaan teknologi tengah mengembangkan Nunoid Project – sebuah proyek untuk menciptakan robot yang semakin menyerupai manusia dari segi fisik bahkan emosional. Terciptalah humanoid dengan nama Andromeda. Berjenis kelamin laki-laki, berwajah ganteng dan memiliki ‘sifat’ yang nyaris jadi dambaan setiap perempuan. Andromeda diprogram untuk bisa jatuh cinta, tapi program itu haruslah sealamiah mungkin. Vinidici berambisi menciptakan robot yang tercanggih yang pernah ada di abad itu.

Untuk mewujudkan ambisi itu, maka ditentukanlah target – seorang perempuan yang memiliki kriteria cowok impian yang mendekati sosok Andromeda. Pilihan itu jatuh kepada Salsabilla atau yang biasa dipanggil Salsa. Salsa, seorang konsultan keuangan, memimpikan seorang laki-laki yang gentle, dan bisa mengerti perasaan perempuan. Ketika Andromeda muncul dalam kehidupannya, semua jadi terasa sempurna. Keanehan Andromeda saat mereka bersama-sama jadi tertutup karena Salsa yang sedang jatuh cinta berat sama Andromeda.

Hanya Wina, sahabat Salsa, yang membaca keanehan Andromeda. Andro, yang tahu segalanya, data-data orang yang baru sekali ia lihat, bisa berbagai macam bahasa, kecanggihan dalam berhitung dan lain-lain, tak luput dari pengamatan Wina yang wartawan majalah mode itu. Instingnya sebagai wartawan berkata ada sesuatu yang ‘salah’ dalam diri Andromeda.

Tapi, hal itu ditampik Kika, sahabat Salsa dan Wina, yang bekerja sebagai programmer computer. Malahan Salsa berkata Wina cemburu karena Andromeda tak sedikit pun tertarik pada Wina yang biasanya selalu jadi pusat perhatian laki-laki.

Sifat ingin tahu Wina malah membuatnya celaka, sementara Vinidici malah semakin ambisi untuk membuat terobosan baru dalam diri Andromeda – yang artinya juga semakin membiarkan Salsa terjebak dalam situasi yang diciptakan orang lain untuk dirinya.

Tinggallah Kika, yang akhirnya harus memilih antara sahabatnya dan ambisinya dalam pekerjaannya.

Ide cerita yang menarik. Salsa kaya’nya emang target yang pas. Dia hidup tidak dalam keadaan yang serba canggih karena kondisi keuangan yang gak memungkinkan, berbeda dengan dua sahabatnya. Maka itu, Salsa jadi gak ngeh kalo ada yang aneh dengan Andromeda. Gue baru ngerti benang merahnya ketika di tengah-tengah ada ‘kejutan’ kecil. Tapi, yang rada gak asyik, adalah orang seambisius Harison - otak di balik Nunoid Project ini - gampang banget dibujuk sama tunangannya, padahal dia lagi di tengah-tengah 'perburuan' orang-orang yang menentangnya. Masa' sih segitu mudahnya?? Harusnya, dia lebih bisa 'bertahan' dong dengan segala rencana jahatnya di depan orang-orang yang ketakutan itu. (ups... otak 'psikopat' lagi kumat.) Terus, bagian Wina ngomel-ngomel di kantor orang gara-gara ada android seksi yang jadi resepsionis... agak berlebihan kaya'nya.

Gila ya, ambisi manusia emang gak ada abisnya. Udah tercapai target yang satu, malah mau bikin target baru… gak peduli harus gimana.

Monday, February 23, 2009

Tea for Two

Tea for Two
Clara Ng @2009
GPU – Pebruari 2009
312 Hal.

Tea for Two, bukan nama sebuah tempat minum-minum teh. Itu adalah perusahaan ‘perjodohan’ milik Sassy – alias sebuah usaha ‘percomblangan’. Sassy sendiri adalah seorang lajang yang sedang menanti-nantikan datangnya jodoh bagi dirinya sendiri. Tea for Two yang tadinya hanya berupa sarana pencarian jodoh, berkembang menjadi usaha wedding organizer – yang kebanyakan kliennya adalah peserta Tea for Two.

Perkenalannya dengan Alan juga karena kebetulan Sassy membantu mengurus pernikahan tante Alan. Awalnya, Sassy tidak berharap banyak dari perkenalannya itu. Tapi, siapa yang gak luluh dengan sikap Alan yang super duper romantis. Yang selalu menghujani Sassy dengan hadiah, bunga, kata-kata romantis. Meskipun, demi Alan, kadang Sassy harus mengorbankan pekerjaannya. Tapi, Sassy yang sedang jatuh cinta berat, buta dengan segala keganjilan dalam diri Alan. Bagi Sassy, sedikit berkorban demi Alan, toh, tidak akan apa-apa.

Puncaknya, adalah ketika Alan melamar Sassy, yang tentu saja diterima Sassy dengan rasa haru dan hati yang penuh cinta (aihhhh… lebaiiiii…). Bagi Sassy, kehidupan yang sempurna terbentang lebar di depan mata. Calon suami yang tampan, baik hati, romantis. Bulan madu super romantis juga sudah dirancang dengan sempurna.

Tapi, ternyata, semua yang indah itu hanya ada di kulit luarnya saja. Di hari kedua… bayangkan.. di hari kedua bulan madu mereka berdua, Sassy terkejut dengan sosok lain di balik Alan yang romantis itu. Di bulan madunya, Sassy mendapatkan ‘hadiah’ tamparan manis di pipinya, hanya karena Alan cemburu buta dan gak mau mendengarkan penjelasan Sassy.

Dan, tamparan pertama itu bukanlah jadi yang terakhir. Masih banyak kekerasan lain yang dialami Sassy, baik secara fisik maupun batin. Kehamilan Sassy pun tidak merubah perangai buruk Alan. Teman-teman Sassy juga dianggap sebagai teman yang baik oleh Alan. Singkat kata, Alan mau semua yang dia inginkan dipatuhi Sassy… kalau gak… hmmm… siap-siap menerima tanda biru di pipi.

Kenapa Sassy masih bertahan sedemikian lama? Karena, Alan bisa berubah jadi makhluk manis yang penuh penyesalan dan membuat Sassy kembali luluh. Bahkan, ketika Alan ketauan berselingkuh pun, Sassy masih mau mema’afkannya.

Ironis banget… Sassy yang setiap harinya ‘merancang’ kebahagiaan yang sempurna untuk para klien-nya, justru mendapati hidupnya bukanlah berakhir seperti dongeng-dongeng.

Dari sekian banyak novel Clara Ng (yang gue baca), rasanya ini yang paling serius. Tema KDRT, tapi untungnya dikemas dengan cukup bagus, sehingga gak menjadikan novel ini berurai air mata karena menuturkan penderitaan Sassy.

Selain ‘Malaikat Jatuh’ yang ogah gue baca karena temanya yang gak nyaman buat gue, sedikit banyak, novel ini cukup meninggalkan bekas. Tapi… apa iya, kekerasan malah bikin perempuan ‘addicted’ sampai dia gak sadar kalo dirinya udah dimanfaatkan? Apa iya, alasan perempuan pasrah ketika suaminya melakukan KDRT, justru karena hal itu seolah memacu ‘adrenalin’nya?

Tuesday, January 27, 2009

L

L
Kristy Nelwan @ 2008
Grasindo – Agustus 2008
394 Hal.

‘L’… judul yang simple banget tapi, cenderung mengundang ‘pertanyaan’. Apakah ‘L’ itu? Atau malah ‘siapa’?, terus, ‘kenapa L? koq gak F, atau X atau Q? Oke… oke… mari kita telusuri, ada apa dengan ‘L’ ini…

Jadi, tersebutlah cewek duapuluh tahunan bernama Ava Torino. Cewek yang kalo dibaca deskripsinya termasuk cewek tomboy, cuek banget, easy going, perokok berat, bekerja di sebuah stasiun televisi. Mungkin gayanya ini yang bikin banyak cowok tertarik sama Ava.

Tapi, Ava bukanlah orang yang betah dengan satu cowok aja. Entah apa yang membuatnya memilih ‘bertualang’ dari satu cowok ke cowok lain demi mengumpulkan nama cowok sesuai abjad. Dari A sampai Z. Luar biasakan.. bahkan untuk huruf X dan Q pun, Ava berhasil mendapatkannya. Dan, ia juga dengan mudah mendepak cowok-cowok itu dalam waktu singkat kalau sudah saatnya berganti abjad.

Ava sudah berhasil mengumpulkan 25 abjad. Satu yang tertinggal, yaitu huruf ‘L’. Bagi Ava, ini adalah pertanda. ‘L’ untuk Love, ‘L’ untuk ‘the Last’ dan artinya ‘L’ adalah ‘the Last Love’ – waktunya bagi Ava untuk menghentikan petualangan cintanya. Saatnya Ava percaya pada yang namanya cinta sejati.

Memang akhirnya, Ava menemukan si L ini – yang bernama asli Ludi. Mereka pun akhirnya berpacaran dan siap melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius alias pernikahan. Ludi adalah seorang auditor, yang di mata Ava adalah sosok pria yang baik dan pengertian. Bagi Ava – atau setidaknya harapan Ava – Ludi benar-benar akan menjadi the ‘L’ one.

Dalam perjalanan menuju hari H yang panjang, ternyata Ava menemukan sebuah sosok lain yang tanpa disadarinya membuatnya mengakui akan namanya cinta. Rei namanya. Perkenalan singkat di Yogyakarta yang aneh, lalu pertemuan tanpa sengaja di Bali yang memberikan kejutan-kejutan kecil yang mungkin gak berarti tadinya, tapi ternyata malah memberikan sebuah kenangan manis yang gak pernah ditemukan Ava sebelumnya.

Sampai akhirnya, mereka satu kantor, pertengkaran-pertengkaran kecil, kelakuan dua orang yang sama-sama gila, membuat teman-teman mereka melihat apa yang gak mau diakui oleh mereka berdua. Ava yang cuek, Rei yang gila, tapi mereka sama-sama gak mau ngaku atau sedikit berkilah untuk gak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Demi menjaga kesetiaanya sama Ludi, Ava harus berusaha keras meredam perasaan yang tiba-tiba saja ia sadari, tapi, ketika ia sadar dan siap untuk mengatakan yang sebenarnya, Ava justru harus rela kehilangan.

Tadinya, gue sempet males banget untuk melanjutkan novel ini. Abis, gak jelas banget sih, apa coba maksudnya si Ava ngumpulin cowok berdasarkan abjad. Dia nolak dibilang ‘player’, tapi dendam masa lalu juga gak jelas banget. Terus, kenapa Ludi harus gak setia?

Tapi, momen atau bagian yang gue suka adalah waktu mereka ngumpulin kalimat-kalimat yang menurut mereka berarti dari buku ‘Tuesday with Morrie’. Gue sempet agak ‘mendua’ waktu menebak ending ceritanya ini, hmmm… meskipun sebenernya, ninggalin surat rasanya suatu yang biasa untuk orang yang akan pergi jauh, tapi, still… it was touchy…
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang