Showing posts with label thriller. Show all posts
Showing posts with label thriller. Show all posts

Wednesday, September 13, 2017

Yawning is Delicious


Yawning is Delicious
Kang Ji Yong
Putu Primana Adnyana (Terj.)
Penerbit Haru – Juni 2017
336 Hal.

Salahkan Goblin dan Oppa Gong Yoo, sampai akhirnya gue beli buku ini. Masih baper, gue pun nyari-nyari buku berbau Korea di Gramedia.Karena gue kurang suka romance Korea dalam bentuk buku, gue nyari yang rada-rada misteri, ketemulah buku ini.

Melihat judulnya, buat lucu menurut gue. Tapi, gak dengan ceritanya. Rada-rada ‘creepy’ malah. Buku ini bercerita tentang ‘pertukaran tubuh’.

Lee Kyeong, seorang remaja, bertubuh gemuk dan pendek. Kehidupan sehari-hari kondisinya kurang bagus. Terlilit hutang karena ulah ayahnya, sementara sang ayah sendiri ada di sanatorium. Ia bekerja sebagai tenaga magang di perusahaan kebersihan khusus. Perusahaan ini bergerak di bidang jasa yang membersihkan tempat-tempat perkara pembunuhan.

Da Woon, seorang gadis canti dan kaya raya. Tapi hidupnya juga tidak bahagia, ia diatur oleh ibunya yang ambisius. Masa lalunya juga tak ‘secantik’ dan seindah kehidupannya saat ini.

Ketika mereka tertidur, satu sama lain ‘terperangkap’ dan bertukar dalam mimpi. Anehnya, apa yang dilihat Lee Kyeong adalah kejadian di masa lampau dan apa yang dilihat Da Woon adalah kejadian di masa depan.

Lee Kyeong menyadari hal ini ketika ia sedang membersihkan apartemen yang ia sadari pernah ia lihat di dalam mimpi.

Awalnya, Lee Kyeong merasa ia harus menyelamatkan Da Woon. Tapi ketika cerita berjalan, banyak hal yang mengejutkan. Yang ada malah mereka berusaha saling menguasai. Ending-nya sendiri cukup mengejutkan.

Okelah, sinopsis cerita sudah menarik perhatian gue, ending-nya juga oke, tapi lama-lama gue suka kehilangan arah, alurnya agak membingungkan, dan makin akhir, koq malah makin banyak tokoh jahat dan sadis. Gue malah jadi pusing sendiri dan ikutan ngantuk. Sepanjang cerita maunya dibuat terus tegang, tapi yang ada malah bingung. Mungkin aku pusing, membayangkan tokohnya  kali-kali ada yang seganteng Grim Reaper …




Submitted for: Asian Literature

Monday, January 30, 2017

Holy Mother


Holy Mother
Akiyoshi Rikako
Andry Setiawan (Terj.)
Penerbit Haru – Oktober 2016
284 Hal.

Di kota Aiidee, Jepang, ditemukan mayat seorang anak laki-laki dengan kondisi  yang mengerikan. Tapi tidak temukan tanda-tanda yang mengarah pada pelakunya. Tak ada jejak, semua sangat rapi. Bahkan, kalo menurut detektif yang menyelidiki kasus ini, mayat tersebut diperlakukan dengan penuh ‘cinta’.

Kota Aiidee adalah kota yang tingkat kriminalnya sangat minim. Ketika kasus ini terjadi, karuan membuat orang tua jadi parno. Sebut saja Honami, yang bertekad melindungi putri satu-satunya dan akan melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan putrinya.

Namun, saat kepolisian belum berhasil menemukan titik terang, jatuh korban kedua. Dengan kondisi yang sama. Tapi … sang pelaku justru merasa ada yang salah … ada bekas-bekas kejahatan lain, sesuatu yang tidak ia lakukan. Berarti ada orang lain yang mengetahui perbuatannya tersebut.

Pelaku mengincar anak laki-laki kecil, yang punya kecenderungan bersikap kasar terhadap teman perempuannya. Dengan membunuh anak laki-laki itu, ia yakin sudah ‘mengurangi’ laki-laki yang berpotensi jahat ketika beranjak dewasa.

Berbeda dengan novel-novel misteri yang sering gue baca – dalam novel misteri Jepang, pembaca seperti diajak menelusuri jejak masa lalu pelaku, bermain dengan emosi dan psikologi pelaku pembunuhan tersebut. Sekilas gak akan beda dengan orang-orang ‘biasa’ – contoh di novel ‘OUT’ atau dalam ‘Kesetiaan Mr. X’, pelakunya adalah ibu rumah tangga – yang di luar apa yang mereka lakukan, memiliki kehidupan yang biasa-biasa aja.

Ending dari novel ini benar-benar gak terduga, sempat membuat gue bingung dan menyesatkan … tapi ini yang lagi-lagi membuat gue ‘cinta’ sama novel-novel Jepang, di mana gue menemukan sesuatu yang ‘aneh’, yang tak terduga dan gak bisa, tapi tetap bisa gue terima.

Satu yang gak suka dari novel ini, adalah cover-nya yang ‘spooky’ banget. Sama dengan dua buku lainnya, yang juga gak kalah ‘spooky’ tapi setelah baca ini, malah ‘memanggil-manggil’ untuk gue baca. 

Hehehe.. review singkat aja, karena kalo panjang-panjang takut spoiler.


Submitted for:


Kategori: Thriller and Crime Fiction

Tuesday, June 07, 2016

Second Life


Second Life
S. J. Watson @ 2015
Harper
402 hal.

Don’t play with fire, if you don’t want to get burned!!!

Itu kira-kira pesan moral dari novel ini.

Bermula dari keinginan menyelidiki kematian Kate, adiknya, Julia nekat membuat profile untuk kencan online. Berdasarkan informasi dari sahabatnya, Kate kerap berkencan secara online, bahkan sesekali bertemu dengan salah satu dari mereka. Julia yakin, salah satu teman kencan Kate itu adalah pelaku pembunuhan Kate.

Dengan melihat profile Kate, Julia akhirnya menemukan salah satu di antara teman kencan Kate itu yang kira-kira ‘berpontensi’ untuk dicurigai. Itulah awalnya Julia pun membuat profile palsu untuk situs tersebut. Tapi, lama-lama dengan segala kata-kata manis dan berbunga-bunga dari Lukas, Julia pun sedikit ‘tergoda’. Memakai alasan untuk mengungkap misteri tersebut, Julia bersedia bertemu dengan Lukas, bahkan melanjutkan ke hubungan yang lebih intim.

Keluarga jadi taruhan. Bahkan Julia pernah berbohong kepada suaminya, untuk menunda acara makan siang di hari ulang tahun Julia, karena di hari yang sama, Julia sudah ada janji untuk bertemu Lukas.

Tapi, lama-lama, Lukas semakin aneh – mulai tiba-tiba muncul ketika Julia sedang di bioskop bersama anaknya ,Connor. Lalu ketika Julia memutuskan untuk menghentikan semua ini, Lukas tiba-tiba menghilang, dan lalu tiba-tiba muncul lagi sebagai dengan identitas lain dan bertunangan dengan teman baik Kate.

Namun, Julia tidak bisa begitu saja membongkar rahasia Lukas, karena Lukas mengancam untuk menyebarluaskan foto dan video ketika Lukas dan Julia sedang berdua.

Lalu siapa sebenarnya pembunuh Kate? Apa motifnya?

Agak sulit buat gue menyukai tokoh Julia. Sosok ibu rumah tangga, selalu berusaha menjadi istri yang baik, dan ibu yang perhatian terhadap anaknya. Fakta bahwa Connor adalah anak Kate, terkadang mempersulit komunikasi di antara mereka. Julia adalah mantan pencadu alkohol, makanya Hugh, sang suami sangat berhati-hati terhadap hal itu. Julia juga terkadang ‘terbayang-bayang’ dengan kehidupan masa lalunya, ketika ia menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Markus di Berlin. Julia berprofesi sebagai fotografer lepas. Sampai di sini, di mata gue, Julia masih sosok istri dan ibu yang normal.

Tapi, begitu kenal Lukas, Julia jadi sosok yang ‘menyebalkan’ buat gue. Seperti mencoba ‘dimaklumi’ bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk memecahkan misteri, tapi koq lama-lama menjadi salah satu obsesi tersendiri bagi Julia.


Sosok Lukas berhasil membuat gue ‘merinding’. Dengan tingkah yang tiba-tiba manis, lalu jadi psycho. Kemunculan kembali di rumah Julia, jadi salah satu bagian yang membuat gue penasaran untuk segera mengetahui ending novel ini.

Wednesday, February 24, 2016

The Walled City


The Walled City (Kota di Balik Tembok)
Harisa Permata Sari (Terj.)
GPU – November 2015
488 hal.

Ada buku-buku yang ketika loe mulai baca, sejak lembar pertama sudah bernuansa suram, gelap, dan mencekam. Buat gue, The Walled City adalah salah satunya. Sejak halaman pertama, gue sudah ‘dihadapkan’ pada sebuah keadaan, tempat yang kumuh, becek, bau, kotor dan jorok, ditambah lagi narasi yang menggambarkan kerasnya hidup di jalanan. Anak jalanan, gangster, narkotika dan pelacur – kombinasi yang semakin menguatkan gambaran betapa gelapnya buku ini.

Walled City, sebuah tempat yang dulunya adalah sebuah benteng – menjadi tempat untuk setiap transaksi gelap. Apartemen yang disusun bertumpuk-tumpuk, labirin jalanan, bisa membuat siapa pun yang tak paham, tersesat dalam liku-liku jalan. Tak ada yang aman di sini. Rasanya, begitu masuk ke tempat ini, akan langsung ‘tersedot’ oleh kegelapan, suasana yang muram dan suram. Tempat di mana, gak ada kehangatan, senyum atau tawa.

Jin Ling, terpaksa menyamar jadi laki-laki, agar ia bisa dengan leluasa bergerak. Ia juga harus gesit dan terus bersembunyi dari geng jalanan yang kerap mengejarnya. Bahaya mengintai, lengah sedikit, nyawa jadi taruhannya. Jin Lin pergi dari kampong halamannya, mencari saudarinya yang hilang.

Dai Shing, terpaksa masuk ke Hak Nam, meninggalkan kehidupannya yang nyaman. Terlibat dalam perdagangan narkotika, berusaha masuk ke dalam Brotherhood, kelompok yang paling berbahaya, demi mendapatkan bukti yang bisa memberinya kebebasan.

Mei Yee, terperangkap di dalam rumah bordil, dijual oleh ayahnya demi mendapatkan uang untuk membeli minuman keras. Ia menjadi pelacur ekslusif untuk seorang Duta Besar. Meskipun sesekali  berkhayal bisa bebas, tapi impian itu terus hancur, setiap melihat gadis-gadis lain yang gagal dan dipaksa untuk kecanduan narkotika. Hingga akhirnya harapan itu datang lagi …

Di satu malam, Dai menemukan Jin Ling. Bagi Dai, Jin adalah sosok yang selama ini dia cari untuk membantunya. Tugas untuk Jin adalah menjadi kurir, mengantar paket rahasia untuk Longwai, pemilik rumah bordil di Hak Nam yang paling berbahaya. Meski awalnya ragu, tapi akhirnya Jin menerima. Karena rumah bordil milik Longwai, adalah satu-satunya rumah bordil yang belum bisa ia tembus… siapa tahu… kakak perempuannya ada di sana.

Banyak rahasia tersimpan, Jin bertanya-tanya siapakah Dai, sosok yang berbeda dari anak jalanan lainnya, dilihat dari penampilannya yang lebih bersih. Begitu pula, Dai, yang yakin ada sesuatu yang disimpan oleh Jin.

Sementara Mei Yee, menanti dengan harap-harap cemas, apakah pemuda-jendela akan datang lagi? Ataukah ia harus memberikan jawaban ‘ya’ atas tawaran Duta Besar Osamu?

Mereka semua dikejar oleh waktu, jika sampai batas waktunya tiba, maka kebebasan hanya kembali jadi mimpi.


Hak Nam Walled City diceritakan berdasarkan kota Kowloon Walled City, kota yang dulunya benteng, dan ditutup untuk dijadikan taman kota. Sebelum ditutup, Kowloon Walled City ini, persis seperti yang digambarkan oleh Ryan Graudin… kumuh, saking tingginya bangunan yang mengelilinginya, cahaya matahari sulit masuk. Hidup berdempetan dengan tetangga, tak ada privacy. Tidak ada jaminan keamanan, karena di sana kekerasan berkuasa.


Membaca buku ini, layaknya nonton film yang penuh gangster, meskipun minim adegan tembak-tembakan, tapi ketegangan sangat terasa dari awal hingga akhir cerita.  

Thursday, February 04, 2016

The Girl on The Train


The Girl on The Train
Inggrid Nimpoeno (Terj.)
Noura Books – Cet. I Agustus 2015
430 hal.

Sebelumnya, mohon ma’af, kalau review ini terkesan terburu-buru dan seadanya, dan mohon maaf juga untuk Santa-ku yang pastinya udah nunggu-nunggu dari kemarin-kemarin.


Setiap hari, Rachel menggunakan kereta api untuk membawanya beraktivitas. Dalam perjalanan, ia akan menikmati pemandangan dari balik jendela. Ia bahkan sering berkhayal tentang kehidupan orang-orang yang ia lihat dari balik jendela itu. Ia akan menciptakan kehidupan sendiri, dengan tokoh-tokoh yang ia beri nama. Tampak normal saja bukan?

Tapi, jika dibaca lebih lanjut, ada yang salah dengan Rache. Setiap hari ia akan seolah-olah pergi ke kantor, tapi sesungguhnya ia pergi tanpa tujuan. Paling-paling tujuan akhirnya adalah ke sebuah bar, atau ke mini market membeli minuman keras. Ia akan luntang-lantung seharian, lalu kembali ke rumah saat jam pulang kerja. Semua ini dilakukan agar temannya seapartemennya tidak tahu kalau ia sudah dipecat dari kantornya.

Kehidupan pribadi Rachel memang kacau balau, pernikahannya gagal, tak punya pekerjaan dan kerjanya setiap hari hanya mabuk.

Ada satu rumah yang ia perhatikan secara khusus – rumah pasangan suami istri yang ia beri nama Jess dan Jason. Dan suatu hari, ada berita bahwa seorang perempuan bernama Megan menghilang dari rumah. Rachel merasa hilangnya Megan ini ada hubungan dengan menghilangnya juga Jess dari pengamatan ia setiap hari. Dengan maksud ingin membantu Scoot a.ka Jason yang suami Megan ini, maka Rachel pun datang ke polisi.

Tapi, siapa yang percaya dengan Rachel. Ia sendiri dilaporkan membuat onar di rumah mantan suaminya yang berjarak tak jauh dari kediaman Scott dan Megan. Rachel sendiri juga tak sepenuhnya ingat apa yang dia alami di malam menghilangnya Megan. Yang ia tahu, ia terbangun di kamar apartemennya dengan kepala terluka dan darah di tangannya.

Jika pernah membaca Gone Girl atau Before I Go to Sleep, maka buku ini juga akan membuat kita emosi – entah bersimpati atau bahkan kesal dengan tokoh utamanya. Gue dibuat bolak-balik penasaran, tapi cenderung kesal dengan tokoh Rachel. Pemabuk, gak jelas kehidupannya kaya’ gimana, tapi end up-nya juga justru jatuh kasihan.

Tokoh-tokohnya juga cenderung bermuram durja semuanya. Novel ini diceritakan bergantian antara 3 tokoh perempuan di dalam buku ini, Rachel, Megan dan juga Anna – istri baru dari mantan suami Rachel.

Dari awal, pembaca seolah digiring untuk percaya apakah benar Rachel terlibat dalam menghilangnya Megan. Mengingat obsesinya atas pasangan suami istri itu.

Kalau mau dibandingin sama Gone Girl dan Before I Go to Sleep, Gone Girl tetap juaranya. Gak ada yang lebih sakit jiwa dibandingkan tokoh di dalam Gone Girl.


Dan sekarang waktunya menebak sang Santa. Who is my Santa anyway ? Jujur baru kali ini aku ikutan Secret Santa dan dapet riddle yang luar biasa bikin pusing …. Aku sampe beli buku Edgar Allan Poe, demi memecahkan riddle dari Secret Santa-ku. Tapi … mohon ma’af beribu-ribu ma’af …. Sampai detik ini, aku masih gak bisa menebak siapa dia ….



Tapi, terima kasih untuk buku yang bagus ini … review Project Rosie coming soon ya …


Terima kasih juga untuk Divisi Event … sekali lagi mohon ma’af atas keterlambatannya.

Friday, November 06, 2015

Dark Places


Dark Places (Tempat Gelap)
Dharmawati (Terj.)
GPU 2015
472 hal.

25 tahun yang lalu, sebuah pembunuhan keji terjadi di Kinnakee, Kansas. Korbannya adalah seorang ibu dan dua perempuan. Mereka tewas dengan cara yang sangat keji dan sadis. Korban yang selamat, Libby Day, yang ketika itu berusia 7 tahun, bersaksi bahwa Ben Day, kakak laki-lakinya yang sudah membunuh ibu dan dua saudara perempuannya. Banyak yang menduga, mereka dijadikan korban untuk pemujaan setan.

Libby Day jadi terkenal, banyak orang yang bersimpati. Mereka memberikan bantuan secara moril dan materil. Beranjak dewasa, Libby menjadi pribadi yang cenderung malas, tertutup dan masa bodoh. Ia bergantung pada uang hasil bantuan orang-orang, Ketika uang itu mulai menipis, mau tak mau, ia harus mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Tapi, karena mala situ, ia tak tertarik pada pekerjaan apa pun atau bahkan untuk mencari pekerjaan.

Secara kebetulan, datang tawaran dari sebuah perkumpulan rahasia bernama Klub Bunuh. Kasus ini menarik bagi sekelompok orang-orang, yang sebagian besar percaya bahwan Ben tak bersalah. Mereka juga bersedia membayar mahal untuk benda-benda yang berasal dari keluarga Day.

Meskipun awal pertemuan tidak berjalan dengan lancar, tapi justru membawa Libby kepada suatu hal yang baru. Ia malah berusaha mencari jawaban dari apa yang sudah terjadi di malam itu. Penyelidikan itumembawa Libby ke berbagai pelosok, mencari jejak dan membuat Libby memberanikan diri untuk membuka kembali kenangan masa lalunya.

Awal cerita rada lamban, berselang-seling antara Libby di masa sekarang, dan penuturan Ben dan Patty – ibu Libby, pada tanggal 2 Januari 1985, hari di mana terjadi kejadian tragi situ. Ben dan Patty ‘menggambarkan’ keadaan di rumah mereka, sejak pagi hingga tengah malam.

Jujur aja, sejak awal ketika bagaimana korban digambarkan, gue udah harap-harap cemas, setiap membaca bagian Ben dan Patty, karena setiap judul bab ditulis dalam hitungan jam, gue pun jadi deg-degan ketika waktu semakin menunjukkan tengah malam, menjelang detik-detik kejadian. Dan gue ‘jijay’ banget sama Diondra, pacarnya Ben,  yang super jorok.

Suasana di dalam buku ini suraaammmm banget. Keluarga yang berantakan, ibu yang bingung, anak yang gak keurus, (mantan) suami yang pemabuk, teman-teman yang tukang teler.

Meskipun gak ‘sesarap’ Gone Girl, tapi buku ini yang tetap bikin penasaran. Ada satu bagian yang gue merasa, koq biasa aja, ketika Libby berhadapan dengan sang pembunuh. Gue merasa, sering banget sering ngeliat ini di film atau baca di buku-buku lainnya.


Yang pasti, setelah dua kali baca buku Gillian Flynn, pastikan ‘jantung’ sehat, emosi kuat dan jangan bad mood, karena buku-bukunya beliau ini cenderung membuat pembaca emosi jiwa dan ikutan sinting.

Monday, March 02, 2015

Gone Girl


Gone Girl

Crown – 2012
560 pages

Di hari ulang tahun pernikahan yang kelima, Amy Elliot Dunne menghilang. Seorang tetangga member tahu Nick Dunne, ada yang aneh dengan kondisi rumah mereka pagi itu. Kucing kesayangan Amy ada di luar, pintu terbuka, setrika belum dimatikan. Nick pun langsung melapor ke polisi. Sebuah keadaan yang tak biasa dan aneh.

Seperti ulang tahun perkawinan yang di tahun-tahun sebelumnya, Amy selalu meninggalkan petunjuk, mengajak Nick bermain ‘treasure hunt’ dengan clue yang mengarah ke ‘seberapa jauh Nick mengenal Amy’. Tapi clue kali ini, menurut Nick tak sesulit tahun-tahun sebelumnya, justru lebih ke tempat-tempat yang akrab dengan Nick.

Hari demi hari berlalu, tanpa petunjuk yang berarti tentang di mana keberadaan Amy. Polisi, media dan juga masyarakat mulai menghakimi Nick dan menuduh Nick membunuh Amy.

Tapi, melalui petunjuk treasure hunt yang ditinggalkan Amy, Nick mulai menemukan berbagai keanehan yang membuat Nick bertanya-tanya apakah selama ini ia memang mengenal Amy secara utuh? Dan dari petunjuk itu malah semakin jelas bahwa Amy dibunuh oleh suaminya sendiri – gak perlu deh nulis apa aja itu di sini, ntar jadi spoiler.. Tanpa bukti-bukti lain yang bisa membebaskan Nick dari tuduhan itu, bisa jadi Nick akan dijatuhi hukuman mati. *seketika terbayang Ben Affleck – puk puk, Nick …*

Pernikahan mereka memang sedang dalam masalah, hari-hari terasa hambar dan monoton. Amy – dikenal sebagai Amazing Amy, buku karangan orang tuanya dengan Amy  sebagai inspirasi. Amy pun ‘dituntut’ untuk jadi sempuran seperti Amazing Amy. Sedangkan Nick, sosok laki-laki yang nyaris gak pernah tanya, apa sih maunya Amy, semua serba ok dan ia yakin Amy bahagia.

Di buku ini, Amy dan Nick bergantian menjadi narrator, Amy lewat buku hariannya dan Nick ketika menjalani hari-hari dalam proses pencarian Amy. Tokoh-tokoh di buku ini benar-benar ‘membolak-balikkan’ perasaan gue. Dari bersimpati dengan salah satu tokoh, tiba-tiba bisa berbalik jadi benci dan kesal. Di awal gue yakin, Nick gak bersalah, tapi tiba-tiba dengan segala kebohongan Nick, gue tiba-tiba ikut bertanya-tanya ‘eh, apa bener Amy dibunuh sama Nick?’ Dan tiba-tiba, gue ‘dikagetkan ‘dengan petunjuk baru yang membuat gue terperangah, bengong dan mikir ‘Gila … bener-bener sakit jiwa.’ Ada rasa ngeri, ngilu dan lagi-lagi bilang ‘Astagaa….’

Meskipun ada bagian-bagian yang nyaris membuat gue bosan, tapi ‘terhapuskan’ dengan segala ‘kegilaan’ yang muncul. Nah.. entah berapa kali gue nulis kata ‘gila’ di sini … karena gue nyaris ikutan ‘gila’ bareng penulis, nyaris frustasi juga kaya’ Nick atau ikutan sinting baca diary-nya Amy …


Submitted for:

New Author Reading Challenge 2015
Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Freebies Time

Project Baca Buku Cetak 2015

Tuesday, September 09, 2014

Before I Go to Sleep





Before I Go to Sleep
S.J.Watson @ 2011
Harper  - 2013

363 hal.


Setiap pagi, ketika terbangun dari tidur, Christine Lucas tidak bisa mengingat siapa dirinya. Ia akan terkejut  melihat ruangan tempat ia terbangun, melihat sosok lelaki di sampingnya, bahkan melihat raut wajahnya sendiri di cermin. Christine tidak punya bayangan sama sekali apa yang sudah terjadi dengan dirinya.

Ben Lucas, suami Christine, dengan sabar, menjelaskan apa yang sudah terjadi terhadap diri Christine, setiap hari, berulang kali. Menurut Ben, Christine kehilangan ingatan karena kecelakaan mobil. Setiap hari pula, muncul berbagai pertanyaan, yang jawaban itu akan langsung terlupakan bila Christine terbangun dari tidurnya.

Tanpa sepengetahuan Ben, Christine menjalani terapi dengan seorang dokter bernama Dr. Nash. Setiap hari, Dr. Nash akan menelepon Christine, mengingatkan Christine untuk membaca buku harian yang ia simpan di dalam lemari. Dari buku harian itu, Christine mempelajari kehidupan yang ia lewati, dan setiap hari pula, ia harus mencatat apa yang sudah ia lalui di hari itu.

Lewat buku harian dan terapi yang ia jalani, perlahan Christine mulai mendapat sebuah bayangan akan kehidupannya di masa lalu. Ada sebuah rahasia yang ia sendiri tidak tau bagaimana cara mengungkapkannya, tapi ia yakin itu salah.

Ia mencoba percaya pada Ben, meskipun ia tahu ada sesuatu yang salah. Mengapa ia tidak bisa mengingat hari pernikahannya dengan Ben, kenapa Ben tidak mau jujur tentang anak mereka, profesi Christine sebelum kejadian itu dan kehidupan yang lainnya? Kenapa Ben menjauhkan Christine dari sahabatnya? Tapi, mau gak mau, Christine bergantung pada Ben, karena ia hanya seorang diri dan hanya Ben yang ia miliki.

Bayangkan jadi Ben, hidup dengan seorang perempuan selama puluhan tahun, tapi perempuan itu selalu lupa akan kehidupan mereka bersama. Seorang Ben yang sabar merawat Christine, melewati masa-masa sulit yang entah kapan akan berakhir.

Sementara bagi Christine, pastinya bikin frustasi ketika setiap hari loe harus bangun dengan pikiran kosong…. Lupa segala hal dan selalu mulai dari nol lagi setiap harinya.

Gue suka buku ini sejak awal gue membaca lembaran pertama. Gue yakin ada yang salah, tapi gak tau apa dan siapa. Meskipun ending-nya rada drama, tapi sepanjang buku ini sukses bikin gue ikut deg-degan baca buku hariannya Christine. Gak tau gitu apa yang bakal muncul selanjutnya.


Submitted for:
- Books in English Reading Challenge 2014
- New Author Reading Challenge 2014

Friday, November 29, 2013

Carrie






Stephen King @ 1974
Gita Yuliani K. (Terj.)
GPU – Oktober 2013
256 Hal.
(via @HobbyBuku)

In Every Neighborhood
There is one family
With a secret
No one talks about

Carrie, gadis berusia 16 tahun yang selalu jadi bahan olok-olokan di sekolah. Semua orang memperlakukan Carrie dengan sangat kejam, lewat perbuatan atau kata-kata. Di usia 16 tahun, ia mendapatkan haid yang pertama, Carrie kaget. Ibunya sama sekali tidak pernah mempersiapkan Carrie untuk masalah yang satu ini.

Perlakukan ibu Carrie di rumah juga tidak membantu sama sekali. Margaret White, adalah seorang penganut Kristen yang fanatik. Baginya kelahiran Carrie adalah sebuah dosa besar, dan jika Carrie mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah duniawi, Margaret langsung memintanya berdoa, mengaku dosa dengan kata-kata yang ekstrim. Padahal, terkadang Carrie ingin menjadi gadis normal, seperti teman-temannya yang lain,  bergaul dengan wajar tanpa jadi bahan ejekan dan dicap gadis aneh.

Salah satu kemampuan Carrie, adalah kemampuan telekinetis, yaitu kemampuan memindahkan benda-benda hanya dengan pikirannya. Yang pada akhirnya menciptakan sebuah malapetaka di kota kecil tempat ia tinggal, Chamberlein.

Di malam prom yang harusnya jadi kenangan indah untuk Carrie dan juga teman-temannya, berubah menjadi malam yang akan memberikan mimpi buruk bagi warga kota yang masih hidup.

Kalo ngeliat buku-buku Stephen King, yang terbayang pasti kisah-kisah horor berhantu, padahal ya, ternyata gak juga koq. Tepatnya adalah sebuah ‘teror’, atau beliau berhasil menciptakan sebuah suasana, keadaan di mana kita – atau paling gak gue sebagai pembaca merasa ‘tertekan’, merasakan situasi yang menegangkan dan bikin terasa gak nyaman.

Untuk Carrie sendiri, ‘teror’ yang dibuat oleh Carrie diceritakan secara perlahan-lahan, sehingga dari awal sudah ada gambaran akan sebuah keadaan yang mencekam. Lewat tulisan-tulisan yang menceritakan perilaku gadis bernama Carrie, lalu dari buku yang ditulis oleh Susan Snell, salah satu teman satu sekolah Carrie dan juga saksi hidup dari kejadian yang mencekam itu. Dan, ketika akhirnya tiba di bagian yang menggambarkan kejadian yang sebenarnya, gue merasa ada di tengah-tengah chaos, membayangkan murid-murid yang lagi happy di pesta prom, tiba-tiba berlarian dalam keadaan panik, kota yang tenang tiba-tiba tinggal puing-puing, berantakan dan sepi.

Perlakuan ibunya dan teman-temannya membentuk sebuah perasaan tertekan, yang ketika akhirnya gak bisa tertampung lagi, membuat Carrie meledak, yang ia pikirkan hanyalah membalas semua perlakukan teman-temannya. Bagi dia, adalah sebuah kesalahan datang ke prom night itu dan pada akhirnya membuat teman-teman dan nyaris seluruh penduduk Chamberlein membayar atas olok-olok yang ia terima.

Tapi, lewat tulisan-tulisan itu pula, gue mencoba memahami situasi yang dialami Carrie, menjadi anak dari ibu yang tertutup dan aneh, dilihat sebagai anak yang aneh, tidak populer. Mengalami bullying sejak kecil, dihina, diejek dan dipermalukan. Seperti buku 19 Minutes-nya Jodi Picoult, tentang anak yang juga mengalami bullying di sekolah, pada akhirnya mengambil tindakan yang ekstrim untuk mengakhiri segala perilaku gak adil itu. Bedanya, kalau 19 Minutes dikemas dalam cerita drama sehari-hari, Carrie dikemas dalam tema yang lebih mencekam, lebih menyoroti sosok Carrie dengan kemampuannya yang menciptakan tragedi itu.

Monday, September 23, 2013

Mystery of Yellow Room




Mystery of Yellow Room (Le Mystére de la Chambre Jaune)
Gaston Leroux
Zulfa Simatur (Terj.)
Visi Media – Cet. I, Juli 2013
320 hal.
(Gramedia Plasa Semanggi)


Cover berwarna kuning cerah, langsung menggoda untuk segera dimasukkan ke dalam tas belanja. Ditambah lagi, rasanya akhir-akhirnya ini buku pilihan gue rada-rada bergeser ke thriller, atau yang sedikit berbau-bau misteri.

Ini sebuah kisah thriller klasik yang ditulis oleh Gaston Leroux, yang dikenal sebagai penulis The Phantom of the Opera. Konon buku The Mystery in the Yellow Room ini menjadi salah satu inspirasi Agatha Christie untuk menulis buku-buku bertema serupa.

‘Pahlawan’ dalam kisah ini bernama Joseph Rouletabille, seorang wartawan muda berusia 18 tahun. Nama aslinya adalah Joseph Josephine. Tapi, karena bentuk kepalanya yang unik, maka ia mendapat julukan ‘Rouletabille’.

Di sebuah chateau, seorang ilmuwan bernama Monsieur Stangerson, ditemani oleh anaknya, Mademoiselle Stangerson sedang melakukan penelitian. Dan di malam naas itu, puterinya pamit duluan untuk tidur, sementar Monsieur Stangerson tetap melanjutkan penelitian ditemani oleh pembantunya, Daddy Jaques. Tak lama, terdengar jeritan dari dalam kamar Mademoiselle Stangerson.

Setelah dengan susah payah, akhirnya Monsieur Stangerson dan Daddy Jaques berhasil mendobrak pintu kamar putrinya, dan menemukan putrinya tergeletak dengan luka yang sangat parah.

Dan misteri pun dimulai. Ada kejanggalan di dalam kasus ini, polisi kesulitan menemukan petunjuk tentang pelakunya. Karena, diketahui pintu kamar terkunci dari dalam, begitu pula dengan jendela. Tak ada celah bagi si pelaku kejahatan ini untuk bersembunyi.

Kasus ini menarik perhatian masyarakat Perancis. Tak terkecuali Joseph Rouletabille. Dengan pendekatan yang akan dianggap aneh oleh orang-orang, Joseph berhasil masuk ke dalam TKP dan mendekati orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dengan caranya sendiri, Joseph berusaha mencari petunjuk bagaimana si pelaku bisa keluar dari kamar kuning itu, apa motifnya dan siapa pelaku itu sebenarnya? Karena kasus ini terjadi di kamar tertutup, maka publik pun jadi ramai membicarakannya.

Joseph Rouletabille membeberkan fakta-fakta baru. Yang membuat analisis seorang detektif handal bernama Frederic Larsan terpatahkan. Dengan gaya yang khas, ia melakukan penyelidikan. Kadang terkesan kekanakan, tapi ternyata malah membuka pandangan baru. Tersangka dibebaskan, dan  muncul praduga pada orang lain yang terkait. Apakah ini ada hubungan dengan percobaan yang dilakukan Monsieur Stangerson? Atau malah lebih ke masalah hubungan asmara Mademoiselle Stangerson?

Melihat gaya Joseph Rouletabille, gue mau gak mau teringat dengan Sherlock Holmes. Sama seperti Sherlock Holmes, Joseph Rouletabille juga suka bikin orang kesel dengan tingkah lakunya yang aneh. Sikapnya yang tenang, tapi tiba-tiba suka menimbulkan kehebohan dengan kesimpulan yang ditemukannya.

Dan satu lagi, seperti juga Sherlock Holmes atau Hercule Poirot, ada satu ‘pendamping’ setia yang mencatat sepak terjang detetif utama. Di novel ini, seorang pengacara muda bernama Jean Sainclair yang menjadi narator.

Buku kedua Joseph Rouletabille berkisah tentang The Perfume of the Lady in Black, yang semoga saja juga segera diterjemahkan sama Visi Media.

Wednesday, September 18, 2013

The Postcard Killers



The Postcard Killers
James Patterson & Liza Marklund @ 2010
Grand Central Publishing - 2011
385 page
(MPH @ Raffles City Singapore)

Detektif Jacob Kanon terbang dari Amerika ke Benua Eropa. Bukan untuk berlibur tentunya, tapi memburu pembunuh para pasangan muda yang sedang berlibur ke beberapa negara di Eropa. Detektif Kanon sendiri punya motif pribadi, karena salah satu dari para korban adalah anak perempuannya sendiri, bernama Kimmy Kanon. Kimmy ditemukan tewas bersama tunangannya di salah satu hotel di Florence, Roma. Korban lain ditemukan di Paris, Kopenhagen, Frankfurt dan Stockholm. Para korban dijerat dengan daya pikat sang pelaku. Korban yang ingin berlibur dan menemukan teman baru, tentu saja tidak bisa menolak persahabatan yang ditawarkan, yang pada akhirnya menjebak mereka.  Dari setiap foto para korban, ditemukan sebuah pola. Di mana posisi para korban mirip dengan karya-karya seni terkemuka di kota tempat mereka ditemukan. Selain itu, harta benda para korban juga lenyap.

Seorang reporter muda bernama Dessie Larsson mendapatkan sebuah kartu pos, yang berisi sebuah pesan singkat dari orang yang diduga melakukan pembunuhan. Maka, Detektif Kanon pun mendekati Dessie, untuk diajak bekerja sama dan menawarkan diri untuk membantu kepolisian Swedia. Dessie pun mengirimkan surat balasan terbuka untuk memancing pelaku kejahatan itu.

Taktik ini membuahkah hasil, meskipun akhirnya kembali menemukan jalan buntu. Pasangan Sylvia dan Malcom Rudolph lepas dari tuduhan sebagai pelaku pembunuhan karena mereka punya alibi yang kuat. Tapi, Detektif Kanon dan Dessie tetap yakin bahwa merekalah pelaku yang sebenarnya.

Sesungguhnya, ide cerita yang ditawarkan menarik, tapi sayang, kenapa terasa kurang ‘nendang’. Kurang terasa ketegangannya. Masih ada yang terasa ‘menggantung’ atau nanggung. Entah, mungkin gue terlewat kali ya. Ya jujur aja, gue masih rada kurang jelas sama motif dari pelaku. Apa hanya untuk ‘mengapresiasikan’ dari seni yang mereka kagumi tapi dengan cara yang ‘ekstrim’, atau karena adanya trauma di masa lalu?  Dan apa yang membuat seorang Dessie Larsson terpilih untuk mendapatkan kartu pos itu? Rasanya menyebalkan ketika selesai membaca satu buku, tapi harus ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan. Kali akan lebih keren, kalo ada sebuah bab, yang isinya flashback, yang kira-kira menggambarkan latar belakang karakter si pembunuh itu terbentuk.

Gue sempat semangat ketika dengan keberhasilan Dessie dalam menemukan sebuah petunjuk. Yah, abaikan saja cerita selingan sebagai bumbu pelengkap di dalam buku ini, meskipun rada membuat gue sebal.

Gue pernah membaca beberapa karya James Patterson yang lain, dan buku-buku itu sanggup membuat gue deg-degan dan ikut terpacu dengan ketegangan yang ada. Satu hal yang membuat gue bisa menyelesaikan buku ini dengan lumayan cepat, adalah karena bab-bab cerita yang pendek, yang mau tidak mau membuat alur cerita juga cepat. Yah, buku ini oke lah untuk menemani waktu libur. Mau sedikit tegang, tapi pengen mencari cerita yang cepat selesai.

Thursday, October 11, 2012

Safe House




Safe House
Meg Cabot (writing as Jenny Carroll)
Simon Pulse - 2004
262 hal.
(Rental di ReadingWalk)

Salah satu anggota cheerleaders di sekolah Jessica Mastriani ditemukan tewas – dan tiba-tiba saja Jess merasa seolah semua orang di sekolah menyalahkan dirinya karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Amber. Peristiwa itu terjadi kala Jess sedang berlibur bersama temannya, Ruth. Dan saat Heather, seorang anggota cheerleader juga, menghilang, Jess lagi-lagi diharapkan bisa menemukan gadis itu sebelum terlambat.

Selama ini Jess dikenal mempunyai kemampuan menemukan orang hilang. Kasih saja salah satu barang milik si orang hilang itu, dan saat tidur Jess akan bermimpi tentang keberadaan orang tersebut. Dan, saat ini Jess mengaku kalau kemampuan itu sudah hilang. Tapi, tak ada yang mempercayai perkataan Jess dan mau tak mau Jess menuruti permintaan temannya untuk mencari Heather.

Misteri selanjutnya adalah siapa pembunuh Amber? Apa motifnya dan apakah orang ini juga yang menculik Heather?

Jess adalah gadis biasa-biasa saja di sekolah, bukan termasuk kelompok yang popular. Tapi, Jess lumayan sering dipanggil ke kantor kepala sekolah karena ia ternyata sering berkelahi. Well, kalau pun Jess itu populer, bukan karena dia termasuk gank yang cantik atau pintar, tapi karena sering dapet hukuman. Emosinya gampang meledak. Suka dengan cowok tipe-tipe bad boy. Jess juga anak yang tomboy. Kalau sebelumnya dia ke sekolah pake jeans, t-shirt dan sneakers, di term kali ini, Jess pengen jadi anak yang lebih 'manis'. Makanya dia ganti penampilan jadi lebih 'girly'.

Buku ini adalah buku ketiga dari seri 1-800-WHERE-R-YOU. Mungkin karena belum pernah baca buku sebelumnya, ada beberapa hal yang bikin jadi gak nyambung. Seperti, awal mula Jess punya kemampuan yang istimewa itu – katanya sih gara-gara kesamber petir. Terus, ada apa dengan kakaknya, Douglas yang katanya mengidap schizophrenia. Dan kenapa Jess begitu mudah meledak emosinya.

Buat gue buku ini gak terlalu istimewa. Datar aja gitu. Gak ada emosi, atau yang bikin penasaran banget. Mungkin karena ini untuk pembaca remaja, buku thriller-nya jadi gak rumit. Kalo untuk pembaca yang lebih dewasa dan pengen baca thriller a la Meg Cabot, silahkan baca seri Size 12 is not Fat. Kurang lebih setipe, lah.

Friday, September 28, 2012

The Tokyo Zodiac Murders


The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)
Soji Shimada @ 1987
Barokah Ruziati (Terj.)
GPU – Cet. 2, Agustus 2012
360  hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Pembunuhan berantai terjadi di Tokyo pada tahun 1936. Diawali dengan kematian seorang seniman bernama Heikichi Umezawa, yang ditemukan tewas di studionya sendiri. Lalu, diikuti dengan kematian anak-anak dan keponakan Umezawa – yang semuanya perempuan. Lebih sadisnya lagi, tubuh mereka termutilasi.

Di dalam studio Umezawa ditemukan sebuah catatan yang merinci sebuah pembuatan patung yang jika diteliti berdasarkan potongan-potongan tubuh dari para perempuan yang tewas.

Berbagai spekulasi dan teori bermunculan. Ditambah lagi bahwa dalam catatan-catatan itu juga merinci dari segi astrologi para korban, unsur-unsur kimia berdasarkan astrologi, di mana mereka harus dikuburkan dan di mana patung yang disebut Azoth itu harus diletakkan. Dari setiap korban, si pembunuh mengambil potongan tubuh yang paling sempurna.

Singkat kata, segala teori itu akan membuat sebuah karya yang mengerikan. Mungkin orang akan mengatakan ini sebuah karya yang gila, karya orang yang kerasukan setan dan dipengaruhi hal-hal gaib.

Dan selama 40 tahun, misteri pembunuhan yang mengguncangkan ini tak bisa dipecahkan. Sampai seorang perempuan bernama Mrs. Iida datang kepada Kiyoshi Mitarai dan membawa sebuah catatan penting dari seorang perwira polisi, yang tak lain adalah ayah Mrs. Iida.

Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib sekaligus detektif yang ‘nyeleneh’. Gayanya cuek. Punya teori dan pengamatan sendiri. Sebal kalau dibandingkan dengan Sherlock Holmes oleh sahabatnya, Kazumi Ishioka. Ishioak ini tergila-gila sama cerita misteri, bahkan dia yang dengan semangat bercerita sama Mitarai tentang Pembunuhan Zodiak Tokyo, sementara Mitarai ogah-ogahan mendengarkannya.  Sikapnya yang aneh ini kadang membuat sahabatnya ini geleng-geleng kepala. Dengan gayanya yang spontan dan terkadang mirip orang gila ini, Mitarai berhasil melihat detail-detail yang luput dari pengamatan polisi selama 40 tahun.

Kali kedua gue membaca kisah pembunuhan yang ditulis oleh penulis Jepang dan dua-duanya sadisssss…. Yang pertama adalah Out – di mana daging korban diiris tipis-tipis seperti sashimi (untuk gak bikin jadi il-fil makan sashimi) dan kali ini korban dimutilasi. Harus gue akui, bahwa si pembunuh ini cerdas. Gimana gak, dengan hati-hati ia mengikuti isi surat yang ditinggalkan Umezawa dan gak ada yang tahu siapa pelakunya selama 40 tahun.

Kalau aja kita mau mengikuti pola pikir a la detektif, semua fakta sudah dijelaskan dengan rinci oleh penulis. Bahkan, di tengah-tengah cerita, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama menebak siapa pembunuhnya.

Yah, sempat sih agak bingung dengan segala penjelasan tentang astrologi itu. Karena penasaran, gue sempat mencoba mengamati pola-pola yang muncul, berdasarkan ilustrasi dari Ishioka, tapi lama-lama gue nyerah… mending baca aja dengan sabar.. hehehe… 

O ya.. gue suka covernya... Putih bersih, dengan tulisan dan gambar merah. Gak penuh detail-detail, simple tapi benar-benar pas sama ceritanya.

Kiyoshi Mitarai – resmi menjadi salah satu detektif favorit gue. Semoga aja cerita Detektif Mitarai yang lain juga diterjemahkan sama Gramedia.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang