Showing posts with label chicklit. Show all posts
Showing posts with label chicklit. Show all posts

Wednesday, September 21, 2016

Crazy Rich Asians


Crazy Rich Asians (Kaya Tujuh Turunan)
Kevin Kwan @ 2013
Cindy Kristanto (Terj.)
GPU - 2016
480 Hal.

Ketika pertama liat cover edisi bahasa Inggris, gue sama sekali gak tertarik, meskipun dengan gemerlap di cover. Bahkan gue kirain ini buku non-fiksi. Buku ini bisa membuat loe ‘sinting’ ngebayangin betapa gampangnya para tokoh dalam buku ini ngabisin uang, atau ternyata harta, kekayaan tetap jadi faktor penting dalam pergaulan dan perjodohan.

Tapi jujur aja, membaca buku ini,  bagaikan nonton opera sabun atau sinetron dalam versi ringkas. Selesai dalam satu buku, lengkap dengan segala intrik-intrik tokoh yang sirik, iri, seorang ibu yang menggunakan berbagai cara biar anaknya berpaling dari kekasihnya, menggunakan uang agar tetap terlihat paling ‘gemerlap’, bahkan salah satu yang ajaib, adalah ketika salah satu tokoh menikah, dia bukannya deg2an, tapi malah sibuk memerhatikan tamu yang datang, menebak-nebak rancangan siapa busana yang mereka pakai.

Mungkin di awal akan pusing ketika kita langsung disajikan pohon keluarga dari tiga marga yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini. Tapi ini akan sangat membantu di awal-awal, karena banyaknya tokoh yang bertebaran. Bukan hanya tokoh utama, tapi teman-teman dari si tokoh, turut ‘meramaikan’ buku ini. Dan membuat buku ini jadi seru!!

Berpusat pada pasangan Nicholas Young dan Rachel Chu. Nicholas Young adalah salah satu pemuda tampan, super kaya, tapi juga pintar. Mereka berdua berprofesi sebagai dosen di New York. Rachel gak tau dengan latar belakang Nick yang sebenarnya.

Masalah dimulai ketika Nick mengajak Rachel pulang ke Singapura, di mana Nick diminta sahabatnya untuk jadi pengiring pengantin pria. Berita kepulangan Nick dan pacarnya malah sudah tersebar sebelum pasangan ini naik pesawat. Ibu Nick mulai kasak-kusuk mencari tahu siapa Rachel sebenarnya. Anak  siapakah dia, keturunan klan siapakah dia …

Selain Nick dan Rachel, tokoh utama dalam buku ini adalah Astrid Leong. Seorang sosialita, yang beli baju udah kaya’ beli gorengan … tapi ternyata harta memang gak selalu menjamin kebahagiaan, buktinya rumah tangga Astrid sedang dalam bahaya, ketika suaminya merasa tidak nyaman dengan segala hal-hal tersebut.


Banyak yang nyebelin, tapi juga lucu. Misalnya Eddie yang pengen banget keluarganya tampil sempurna, atau jet pribadi, kapal pesiar pribadi yang bertebaran dalam buku ini. Oya, selain itu, tiba-tiba para perempuan single, mantan-mantan pacar Nick, sibuk mencari cara untuk merebut perhatian Nick kembali, emak-emak nyinyir yang bergosip plus saling kompor. Pokoknya sepanjang buku ini, pembaca akan disuguhi dengan segala kemewahan yang super luar biasa, yang kadang malah bikin Nick dan Rachel jadi gak menarik. I love Astrid more, dengan kesederhanaan yang ‘berkelas’, tanpa berusaha keras untuk ‘unjuk diri’, orang tahu siapa dirinya.

Thursday, September 17, 2015

Cupcakes at Carrington’s


Cupcakes at Carrington’s
Nurkinanti Larakusuma (Terj.)
GPU 2015
368 hal

Georgie Hart bekerja di bagian penjualan tas mewah di Carrington, sebuah department store di kota tepi pantai. Terkadang, saat ia ingin santai, ia mampir ke café milik temannya yang terletak di department store yang sama. Di sana, ia berpuas-puas diri untuk mengudap cupcakes yang super enak.

Karena resesi ekonomi, maka Carrington pun terkena dampaknya. Diputuskan untuk melakukan peremajaan. Pimpinan Carrington mendatangkan seorang wanita bertangan besi, bernama Maxine. Ia dipercaya untuk melakukan perombakan demi menyelamatkan Carrington.

Semua pegawai, tak terkecuali Georgie, dituntut untuk menunjukkan performance terbaik mereka agar bisa mempertahankan pekerjaan mereka.

Georgie harus bersaing dengan rekan kerjanya, James plus Tom, pegawai baru yang ganteng dan bikin Georgie deg-degan. Jadinya, selain galau karena kerjaan, Georgie juga galau, pilih James apa Tom … soalnya dua-duanya ganteng sih ….

Tapi, Georgie merasa ada yang gak beres dengan Maxine. Maka ia pun bertekad mencari latar belakang Maxine dan berusaha membongkar kebusukan dan permainan kotor Maxine, meskipun pekerjaannya jadi taruhan.

Sebenernya sih, tipikal cewek dalam buku – Georgie Hart, gak jauh bedalah sama rata-rata buku chicklit lainnya. Kehidupan percintaan yang gak terlalu oke, terbelit hutang di bank, doyan ngemil tapi gak mau gemuk, dan kadang-kadang bersikap konyol. Tapi, masa lalu Georgie yang rada suram membuat gue jadi simpati sama Georgie. Ibunya meninggal, sementara ayahnya di penjara, hingga Georgie harus tinggal bersama orang tua asuh. Ia tidak mendapatkan perawatan yang layak, dan ketika ia dewasa ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi orang yang lebih baik.

Buat gue, buku ini pas banget dibaca setelah baca Everything I Never Told You yang muram itu. Buku ini juga pas dibaca sambil santai-santai, ngupi-ngupi cantik sambil ngemil cupcakes. Pas kan sama judul bukunya … cover cantiknya juga ‘menggugah’ selera, hingga akhirnya gue memutuskan membaca buku ini. Buku yang menghibur.


Submitted for:

Lucky No. 15 Reading Challenge – kategori: Cover Lust
New Author Reading Challenge 2015
Project Baca Buku Cetak 2015


Thursday, February 27, 2014

I’ve Got Your Number



I’ve Got Your Number

Sophie Kinsella
Black Swan @ 2012
459  hal.

Well, meskipun gue kecewa ketika terakhir kali gue baca bukunya Sophie Kinsella yang Wedding Night, gue masih punya ‘harapan’ untuk menyukai buku-bukunya Kinsella yang lain. Makanya, setelah berjarak agak lama, baru deh gue memutuskan untuk baca I’ve Got Your Number, takutnya, kalo kedeketan masih berasa aura ‘sebel’nya.

Kalau dari karakter, terkesan tipikal ya… Poppy Wyatt, perempuan yang gampang panik, sembrono dan rada-rada ‘seenaknya’. Poppy ini kehilangan cincin pertunangannya ketika lagi nge-teh bareng temen-temennya. Panik lagi dia, dengan segala cara minta supaya pihak hotel nge-blok tempat, biar dia leluasa nyari cincin itu. Plusss… dia kehilangan telepon genggamnya di saat yang bersamaan.

Dan begitu Poppy liat ada telepon genggam ‘tergeletak’ begitu aja di tempat sampah, tanpa pikir panjang ia mengambil telepon itu dan menggunakannya sebagai telepon pribadinya ‘sementara’. Telepon genggam itu milik Personal Assistant dari Sam Roxton. Awalnya sih, Poppy hanya mem-forward email-email tersebut ke Sam. Tapi lama-lama, dia ‘gatel’ juga dong, kepo gitu pengen tau, apa sih isi email-email itu. Dan ia melihat Sam sebagai orang yang gak peduli dengan rekan-rekan kantornya.

Sementara itu, Poppy juga disibukkan dengan urusan persiapan pernikahannya dengan Magnus Tavish – yang berasal dari keluarga yang ‘berpendidikan’. Semua anggota keluarga Tavish menulis buku, selalu berbicara dengan bahasa ‘tingkat tinggi’ yang bikin Poppy sempat minder.

Lama-lama nih, si Poppy ini malah lebih sibuk ngurusin urusan kerjaan Sam daripada urusan pernikahannya dengan Magnus. Dan akhirnya malah Poppy membantu Sam menyelesaikan krisis di kantor Sam.

Kalau ngeliat dari karakter Poppy, tentunya gak ada hal yang baru yang ditawarkan oleh Sophie Kinsella. Cuma gue ‘terkesan’ dengan ide ‘sabotase’ telepon yang dilakukan Poppy. Sms-sms Poppy dan Sam malah menjadi ‘greget’ di buku ini.  O ya, si Poppy ini penggemar Agatha Christie (ngngng.. ini sih yang gue tangkap di awal buku ini), malahan Poppy kehilangan cincin pertunangannya itu pas lagi ada acara nge-teh ala Miss Marple.

Sedangkan Magnum … hmm.. ini cowok rasanya pengen gue timpuk aja ya… Pengecut … hehehe.. dan gue merasa dia koq kaya’ jadi anak ‘mama’ gitu.

Nah, Sam Roxton – di awal menyebalkan tapi… justru sikap diamnya yang bikin dia jadi bikin penasaran. Perkembangan hubungannya dengan Poppy juga terbangun dengan perlahan. Dan hey… buku ini  nyaris ‘bersih’ dari adegan 17 tahun ke atas.

Gue suka dengan ending-nya, tapi… cerita menjelang bagian akhir itu yang bikin gue nyaris berteriak ‘Norakkkkk’. Emang ketebak sih, tapi… kenapa harus di saat yang kaya’ gitu sih?

Ya sudahlah, terima aja deh… toh, buku macam chicklit begini memang menjadi penyegar, bacaan ringan di kala santai. Dan buku ini, masih lebih baik daripada Wedding Night.

Submitted for:

-          2014TBR Pile Reading Challenge

Monday, July 15, 2013

Wedding Night






Wedding Night
Sophie Kinsella @ 2013
Bantam Press
394 hal

Setelah sekian lama menjalin hubungan dengan Richard, Lottie pun bertanya-tanya kapan Richard akan melamarnya. Tapi, pada satu titik, ia merasa, Richard perlu sedikit ‘pancingan’ untuk mengajukan lamaran yang romantis, maka Lottie pun berinisiatif untuk ‘melamar’ Richard. Di sebuah acara makan siang, Lottie pun merasakan tanda-tanda itu. Tapi, apa daya, ternyata, Lottie harus kecewa. Acara makan siang yang romantis itu bukan ditujukan Richard untuk melamar Lottie, tapi untuk menyampaikan maksud yang lain. Lottie kecewa dan malah memutuskan untuk meninggalkan Richard.

Di tengah-tengah kegalauan, datanglah sosok dari masa lalu Lottie, Ben Parr – kekasih masa remaja Lottie. Ben menawarkan romantisme yang dibayangkan Lottie. Ben mengajak Lottie menikah, padahal mereka tak pernah bertemu selama belasan tahun! Tapi, tampaknya Lottie tak peduli. Ia mulai merasa yakin bahwa Ben adalah  belahan jiwanya. Dan Lottie pun menerima lamaran Ben. Meskipun Lottie gak tahu seperti apa Ben sekarang, apa pekerjaannya, latar belakangnya dan lain-lain. Persiapan pernikahan dilakukan dengan terburu-buru dan setelah itu mereka langsung terbang ke Yunani, berbulan madu ke tempat pertama kali mereka bertemu.

Sementara Fliss, kakak Lottie, kalang kabut dengan rencana mendadak adiknya tersebut. Fliss dan Lorcan, teman Ben, berusaha menggagalkan rencana pernikahan itu. Tapi terlambat. Maka dengan segala upaya, Fliss mencari cara untuk menggagalkan malam pertama yang sudah direncanakan begitu romantis oleh Lottie dan Ben.

Kalau boleh jujur…, gue rada kecewa dengan buku Sophie Kinsella kali ini. Tokoh Lottie menurut gue terlalu ‘konyol’. Memang kata Fliss, saat lagi patah hati, Lottie sering mengambil tindakan yang aneh, spontan dan drastis. Tapi, dari awal – ketika ia mulai menyiapkan cincin, terus berkhayal terlalu jauh – gue jadi rada kurang ‘simpatik’ dengan Lottie. Belum lagi, semua kegiatan yang sangat pribadi juga diceritain ke Fliss. Lottie jadi gak ubahnya Becky Bloomwood, lucu di awal, tapi lama-lama jadi ‘gak asik lagi.

Lalu, tokoh Fliss – yang dalam kondisi pemulihan setelah pasca perceraian – menurut gue terlalu berlebihan mencampuri urusan pribadi adiknya. Meskipun dengan tujuan melindungi Lottie, tapi kalau sampai harus ‘menggagalkan’ malam pertama kaya’nya udah di luar batas kali ya.

Dan… pernah gak sih, ketika baca sebuah buku, di tengah-tengah ngerasa pengen ‘ngebanting’ buku itu? Nah, itulah yang gue rasakan ketika membaca buku ini. Saat-saat di mana Lottie dan Ben were about to do ‘that’… muncullah berbagai gangguan hasil rekayasa Fliss… dan ini gak hanya sekali adegan begini muncul. Yang membuat gue bertanya-tanya, ‘sampai kapan nih adegan ini diulang terus?’

Sementara Ben, menjadi lelaki yang paling ngeselin sepanjang buku ini. Menurut gue, dia egois dan makin ke belakang, keliatan makin gak peduli sama Lottie. Seolah yang ada di otaknya hanyalah the big ‘S’.

Padahal, prolog dari seorang pria bernama Arthur cukup menjanjikan, lho… tapi sayang ‘dirusak’ oleh adegan yang berulang-ulang itu.

Ma’af ya, tante Sophie, cukup dua bintang aja kali ini.

Wednesday, January 30, 2013

Where We Belong



Where We Belong
(e-book)


Sinopsis  via goodreads

The author of five blockbuster novels, Emily Giffin, delivers an unforgettable story of two women, the families that make them who they are, and the longing, loyalty and love that binds them together.

Marian Caldwell is a thirty-six year old television producer, living her dream in New York City. With a fulfilling career and satisfying relationship, she has convinced everyone, including herself, that her life is just as she wants it to be. But one night, Marian answers a knock on the door . . . only to find Kirby Rose, an eighteen-year-old girl with a key to a past that Marian thought she had sealed off forever. From the moment Kirby appears on her doorstep, Marian’s perfectly constructed world—and her very identity—will be shaken to its core, resurrecting ghosts and memories of a passionate young love affair that threaten everything that has come to define her.

For the precocious and determined Kirby, the encounter will spur a process of discovery that ushers her across the threshold of adulthood, forcing her to re-evaluate her family and future in a wise and bittersweet light. As the two women embark on a journey to find the one thing missing in their lives, each will come to recognize that where we belong is often where we least expect to find ourselves—a place that we may have willed ourselves to forget, but that the heart remembers forever.

----

There's a place that I know
It's not pretty there and few have ever gone
If I show it to you now
Will it make you run away

Or will you stay
Even if it hurts
Even if I try to push you out
Will you return?
And remind me who I really am
Please remind me who I really am

Everybody's got a dark side
Do you love me?
Can you love mine?
Nobody's a picture perfect
But we're worth it
You know that we're worth it
Will you love me?
Even with my dark side?

Membaca 3 bab awal di buku ini, langsung terngiang lagu Kelly Clarkson yang berjudul ‘Dark Side’. Setiap orang punya rahasia masing-masing, ada yang sanggup untuk dibagi dengan orang-orang terdekat, ada yang memilih menyimpan rapat-rapat. Marian Caldwell, memilih yang kedua. Selama 18 tahun, ia berhasil menyembunyikan ‘aib’ itu.

Bisa dimengerti, betapa berat di saat usia 18 tahun, ternyata ia tahu dirinya hamil. Well… berani berbuat harus berani menanggung resiko kan? Sebuah pilihan yang berani ketika Marian memutuskan untuk mempertahankan kandungannya, tapi, sayangnya, sebuah ketakutan lain malah membuat Marian lebih memilih untuk berbohong pada Conrad. Dan juga… akhirnya berbohong pada ayahnya, keluarga, kerabat, teman-teman, dan Peter, kekasih Marian. Kenapa? Pastinya ‘dunia’ akan langsung menghujat saat seorang gadis hamil di luar nikah, belum lagi kedudukan ayahnya sebagai seorang pengacara yang cukup terkenal di kota tempat mereka tinggal. Kehidupan sosial mereka pasti akan ikut terkena dampaknya. Beruntung, Marian memiliki ibu yang berbesar hati, tak menimpakan kesalahan pada anaknya, karena ia tahu, tanpa perlu ada kemarahan, Marian juga sudah menyesal dan cukup menderita. Dengan munculnya Kirby, berarti sudah waktunya Marian untuk berani membuka rahasia masa lalunya. Yang meskipun berat, bisa diterima dengan baik oleh Peter.

Dari sisi Kirby, beruntung dia memiliki orang tua angkat yang baik. Kedua pasangan ini memang menantikan anak, dan memutuskan untuk mengadopsi Kirby. Pasangan Rose tak pernah  menyembunyikan kenyataan bahwa Kirby bukan anak kandung mereka. Dan Kirby pun, meski sedikit cuek, tapi Kirby tetap menghormati dan menyayangi mereka sebagai orang tua yang sudah membesarkannya. 

Bagian yang paling bikin ‘mules’ dalam buku ini adalah detik-detik ketika Marian harus berpisah dengan Kirby, untuk kemudian diserahkan ke keluarga Rose. 

Semua tokoh dalam cerita ini, memiliki hati yang besar dan ikhlas. Coba lihat, keluarga Rose, ketika Kirby memutuskan untuk menemukan keluarga biologisnya. Meski ada rasa sedih dan takut ditinggalkan, keluarga Rose memberikan kebebasan pada Kirby. Lalu, keluarga Caldwell, yang bisa menerima Kirby dengan tangan terbuka (meskipun ada kekakuan di pihak Ibu Marian). Condrad, meskipun sinis terhadap Marian, tapi langsung bisa menerima Kirby. Yah, pasti kaget lah ya… 18 tahun gak dikasih tau kalo sebenernya dia punya anak.

Kurangnya buku ini, rasanya kurang konflik yang lebih ‘mengaduk-aduk’ emosi. Tak ada penolakan dari pihak mana pun, membuat cerita ini jadi lancar dan mengalir dengan tenang.

Moral of the story dari buku ini adalah belajar berbesar hati seperti para tokoh dalam buku ini, belajar untuk menerima kenyataan dan berani bercerita, sharing dengan orang-orang terdekat. Saat kita gak bisa menyelesaikan masalah kita sendiri, akan ada orang lain yang senantiasa membantu kita, at least untuk mendengarkan. 

At the end of the story… I feel… I wish there were more about Conrad... hehehe...

Tuesday, December 11, 2012

Truly, Madly




Truly, Madly
Heather Webber @ 2010
Utti Setiawati (Terj.)
Penerbit Ufuk, Cet. I – April 2012
462 hal.
(Pinjam sama Pipit)

Lucy Valentine, terpaksa menggantikan ayahnya menjalankan usaha biro jodoh milik keluarga, Valentine Inc. Biro jodoh ini bukan perusahaan sembarangan karena Valentina Inc. termasuk perusahaan terkemuka. Ayahnya yang terkena serangan jantung saat sedang berada di pantai bersama selingkuhannya, membuat berita yang cukup menggemparkan di kota tempat mereka tinggal.

Keluarga Valentine dianugerahi kemampuan melihat aura/warna cinta sehingga mereka bisa menjodohkan setiap klien mereka berdasarkan aura tersebut. Sebenarnya Lucy juga sempat memiliki kemampuan itu, sampai suatu hari ia tersambar petir dan kemampuan itu hilang, digantikan dengan kemampuan lain, yaitu bisa menemukan benda-benda yang hilang lewat tangan orang yang disentuhnya.

Suatu hari, Valentine Inc. kedatangan seorang client bernama Michale Lafferty. Saat Lucy menjabat tangan pria itu, ia melihat gambaran cincin tunangan Michael yang sudah lama hilang. Tapi… cincin itu ada pada tengkorang  yang terkubur di sebuah taman dekat rumah Michael.

Naluri Lucy berkata ada yang tidak beres. Tapi, bagaimana ia bisa melakukan penyelidikan, sementara ia tidak mau ada orang lain yang tahu dengan kemampuannya itu. Akhirnya, Lucy meminta  bantuan investigator pribadi yang berkantor di gedung yang sama dengan Valentine Inc, bernama Sean Donahue.

Di saat yang sama, seorang bocah laki-laki  bernama Max hilang di hutan. Lucy ingin sekali membantu menemukan anak laki-laki itu, tapi, sayangnya, Lucy hanya bisa menemukan benda mati, bukan makhluk hidup.

Penyelidikan cincin misterius, pencarian Max, membawa Lucy pada peristiwa-peristiwa yang tak terduga. Tak hanya berusaha meyakinkan kliennya tak bersalah, tapi juga Lucy harus bersembunyi dari wartawan amatir yang ingin memuat gosip seputar keluarganya. Belum lagi usaha Nenek Dovie yang coba-coba jadi mak comblang.

Buat gue, asyik mengikuti aksi Lucy. Cerita misteri gak melulu harus menegangkan, tapi bisa juga dibuat dengan gaya yang santai. Mau romance-nya juga ada, tapi gak berlebihan. Di seri pertama ini, sih, gaya percintaan Lucy masih pdkt, malu-malu tapi mau.. Hehehe.. Yang unik nih, keluarga Valentine berusaha mencarikan cinta sejati untuk orang lain, tapi justru mereka sendiri terkena yang namanya ‘Kutukan Cupid’, alias percintaan mereka sendiri akan berantakan.

Menantikan kelanjutan kisah Lucy Valentine yang lain untuk diterjemahkan sama Ufuk. Terjemahannya cukup oke, koq.

Kadang ya, ada buku-buku yang awalnya gue pandang sebelah mata, atau males-malesan di awal, tapi begitu diterusin ternyata koq malah jadi seru dan suka. Salah satunya ya, buku ini. Sempat terpikir, kalo ini seperti sejenis chicklit dengan tokoh perempuan yang konyol atau cenderung ‘bodoh’…   yah Lucy sih emang sedikit kocak, tapi dengan kemampuan menemukan barang hilang itu, jadi memberi nilai tambah untuk tokoh Lucy, plus novel ini gak memaksakan untuk memasukkan kisah cinta-cintaan yang berlebihan.

Friday, November 16, 2012

Sleeping Arrangements




Sleeping Arrangements (Berbagi Ranjang)
Sophie Kinsella (writing as Madeleine Wickham)
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – 2011
408 hal.
(Rental dari @ReadingWalk)

Ini adalah cerita tentang dua keluarga yang lagi jenuh. Chloe , si peracang gaun pengantin, yang harus menghadapi pelanggan yang banyak maunya. Sementara itu, Philip, pasangan hidup Chloe, sedang harap-harap cemas menanti kabar kelanjutan dari pengambilalihan bank tempatnya bekerja.

Lalu, Hugh, pria pekerja keras, yang lebih dekat dengan pekerjaan kantor daripada anak-anaknya. Sementara, Amanda, istrinya, sibuk ngurusin warna cat untuk rumah baru mereka.

Dan dua keluarga stress ini butuh liburan, keluar dari rutinitas dan meninggalkan sejenak urusan sehari-hari mereka.

Beruntung kedua keluarga ini kenal dengan Gerard, teman mereka yang kaya raya, yang berbaik hati meminjamkan villanya di Spanyol. Semua (tampak) semangat menyambut liburan ke Spanyol. Tapi… lho.. kenapa semuanya tiba di vila itu dalam waktu yang bersamaan? Tampaknya, Gerard salah mengatur tanggal mereka tiba di sana.

Hmmm.. tapi, entah apa yang sebenarnya direncanakan oleh Gerard… yang pasti ternyata, sebenarnya ada hubungan antara keluarga Hugh dan keluarga Chloe.

Yah, dua kali gue baca buku Madeleine Wickham ini, gue rada-rada kecewa ya. Gue terbiasa dengan gaya Sophie Kinsella yang ceria dan lucu. Gaya Madeleine Wickham lebih dewasa, tapi koq isinya kaya’ nyari-nyari masalah :D

Misalnya nih tokoh si Hugh, ya okelah dia gak bahagia katanya sama kehidupan pernikahannya, istrinya yang terlalu sibuk dengan urusan renovasi rumah. Tapi terus agak keterlaluan rasanya si Hugh ini malah merayu Chloe ketika istrinya hanya ada di kamar sebelah. Gue yang tadinya simpati sama Chloe, jadi sedikit sebal, gara-gara dia tergoda sama Hugh.

Kasian pasangan-pasangan mereka. Amanda misalnya, ia tetap ibu yang baik, yang mendampingi anak-anaknya ketika sakit.

Tokoh yang bikin segar cerita ini adalah keempat anak-anak dari pasangan plus (meskipun mereka gak muncul terlalu banyak sih) plus pengasuhnya yang bernama Jenna.  Itu pun lama-lama jadi 'cape' dengan celetuka 'Guyon'-nya si Jenna yang kebanyakan.

Yah, dua kasur aja deh gue kasih buat tempat tidur mereka. .. hanya ‘it was ok, but I don’t really like it’

Monday, November 05, 2012

The Book of Tomorrow




Harper Collins – 2009
320 hal.
(Sewa di @ReadingWalk)
Resensi buku ini dibuat dalam rangka ikut berpartisipasi dalam Lomba Resensi Buku ReadingWalk.com

Tamara Goodwin, terbiasa hidup dalam kemewahan. Ayah yang seorang pengusaha sukses, rumah lengkap dengan segala fasilitas. Tapi, kematian ayahnya merengut semua kebahagiaan versi Tamara saat itu. Ayahnya meninggal, bunuh diri, meninggalkan sejumlah hutang kepada bank. Untuk membayar hutang-hutang tersebut, rumah dan segala isinya disita. Tamara dan ibunya pun harus meninggalkan rumah itu dan pindah ke rumah pamannya di daerah pedesaan.

Ibunya masih dalam masa ‘berkabung’, tak bicara sedikit pun dan tampak seperti menderita gangguan jiwa. Tamara yang baru berusia 16 tahun itu pun berontak. Ia harus tinggal dengan Rosaleen, bibinya dan Arthur, pamannya yang pendiam.

Tamara selalu berusaha melawan Rosaleen. Ditambah lagi, banyak keanehan yang ia temui pada bibinya ini. Kenapa Rosaleen selalu melarang Tamara untuk menjenguk ibunya di kamar, kenapa Rosaleen selalu bersikeras mengerjakan segala sesuatu sendiri dan selalu tampak tegang. Sementara Arthur, tidak banyak bicara dan cenderung menurut pada istrinya itu.

Tamara mencari kesibukan dengan berjalan-jalan ke sebuah reruntuhan kastil. Konon kastil itu terbakar dan ada korban jiwa. Tamara juga berkenalan dengan seorang biarawati bernama Suster Ignatius.

Yang membuat hari-hari Tamara menjadi lebih menarik adalah saat itu berkenalan dengan Marcus, yang membawa bis – bukan sembarang bis, tapi ‘Perpustakaan Bis’ – yah, perpustakaan keliling gitu deh. Dan, Tamara menemukan sebuah buku misterius. Awalnya, Tamara tak bisa membuka buku itu, karena terkunci. Tapi, Suster Ignatius berhasil membantunya. Ternyata, buku itu adalah sebuah buku harian yang halamannya masih kosong.

Dan saat Tamara hendak menulis di buku harian itu, terjadi sesuatu yang aneh. Buku ini tiba-tiba saja sudah tertulis, tapi anehnya, tanggal yang tertera adalah tanggal di hari berikutnya. Tamara pelan-pelan mulai ‘mengetes’ buku itu. Awalnya ia berusaha mengikuti apa yang sudah tertulis, tapi lama-lama, ia mencari tau apa yang akan terjadi jika ia melakukan hal yang berlawanan.Tapi.. yang tetap jadi pertanyaan... siapa yang menulis buku harian itu? Karena koq tulisannya mirip dengan tulisan Tamara sendiri.

Banyak hal misterius di dalam buku ini, misalnya misteri Rosaleen yang tiap hari selalu bolak-balik ke sebuah rumah dengan alasan mengurus ibunya, lalu sebuah album foto yang lenyap keesokan harinya setelah Tamara sempat melihat sekilas.

Dalam bayangan gue, Tamara ini anak yang pemberani dan kuat. Kuat bukan secara fisik, tapi kuat dalam menanggung cobaan di dalam keluarganya. Ayah meninggal, Ibu depresi dan tinggal di pedesaan tempat ia nyaris tak mengenal siapa pun.

Awalnya, jujur saya gak mempunyai ‘ekspetasi’ yang tinggi dari buku ini. Tapi, wah, surprise, ternyata saat berakhirnya buku ini, saya suka. Mungkin karena ada misteri keluarga di sini, ada sebuah rahasia tentang buku harian (jadi inget buku hariannya Tom Riddle di Harry Potter) dan sempat membuat saya mengira ada sedikit ‘fantasi’ gara-gara melibatkan buku harian yang misterius.

Dan saya pun menutup buku ini dengan rasa puas…

Thursday, November 01, 2012

Something Blue





Something Blue
St. Martin’s Paperback – May 2011
374 hal.
(Rental dari @ReadingWalk)

*Spoiler Allert*

Eh.. gak tau juga sih ini spoiler atau bukan ya? Ma’af deh, kalo ternyata ini jadi malah ngasih tau ending dari Something Borrowed. Yup… Something Blue ada sekuel dari Something Borrowed. Kalo di buku pertama, adalah Rachel yang bercerita, di Something Blue, Darcy yang menjadi pelaku utama.

Buku ini bercerita tentang kehidupan Darcy pasca batalnya pernikahannya dengan Dexter.  Darcy mencoba ‘menimpakan’ semua kesalahan pada Rachel yang ‘mencuri’ tunangannya. Padahal, Dex gak sepenuhnya salah. Ternyata, Darcy juga selingkuh dengan Marcus yang tak lain adalah teman Dex dan pernah dijodohkan dengan Rachel. Bahkan parahnya, Darcy hamil. Darcy mencoba membangun hubungan baru dengan Marcus. Tapi, sayangnya, Marcus hanya menanggap Darcy hanya sebagai ‘selingan’.

Kehidupan Darcy jadi kacau. Claire, yang katanya jadi ‘sahabat’ baru pengganti Rachel, saat mengetahui Darcy hamil, mundur perlahan-lahan dan menjauhi Darcy. Bahkan hubungan keluarganya pun memburuk.

Darcy memilih ‘menyepi’ ke London, tempat Ethan, teman sekolahnya dulu. Ethan juga dekat dengan Rachel, dan dengan berada bersama Ethan, Darcy merasa menang karena seolah merebut sesuatu dari Rachel.

Tapi, yah namanya Darcy, awal ia ada di London, ia tetap dengan kehidupannya seperti dulu. Shopping setiap hari, tabungan menipis tapi ia lupa memeriksakan kandungannya ke dokter. Malahan sempat berangan-angan bertemu pria Inggris yang gentleman, kaya dan akan memberikan kehidupan yang baru untuk dirinya dan bayinya kelak.

Mencoba menghapus kenangan lama itu gak mudah. Seperti Darcy yang kadang masih pengen tau aja apa yang terjadi sama Rachel dan Dex. Tapi, meskipun masih ada rasa marah, Darcy juga merindukan persahabatannya dengan Rachel. Karena, Rachel yang tau bagaimana menenangkan Darcy yang lagi emosi, Rachel yang di banyak peristiwa penting dalam hidup Darcy.

Menjalani masa kehamilan jauh dari orang-orang yang ia sayangi, membuat Darcy sedikit banyak jadi berubah – lebih bijaksana dan hati-hati. Yang pasti, belajar mema’afkan.

Well… sesuatu yang bias diambil dari buku ini adalah belajar mema’afkan. Klise ya, tapi, itu sih yang kadang susah. Apalagi kalo udah pake ‘dendam’. Sayang rasanya kalo sebuah persahabatan harus berakhir. *uhuk…*



Something Borrowed dan Something Blue sudah diterjemahkan oleh Penerbit Esensi. Dan, kalo ngeliat cover Something Blue, hmmm... rada ketebak juga sih ending dari buku ini.

Tuesday, October 23, 2012

Something Borrowed




Something Borrowed
St. Martin’s Paperback - 2011
403 hal.
(Rental dari @ReadingWalk)

Memasuki usia 30 tahun adalah saat-saat yang ‘kritis’, terutama bagi perempuan – yang masih single. Udah jadi ‘pedoman umum’ bahwa menikah sebaiknya di bawah 30 tahun, di atas itu… mmm… bakalan jadi omongan orang, jadi ‘target’ pertanyaan ‘basi’ di setiap acara keluarga.

Itu juga yang dihadapi Rachel White, seorang konsultan hukum, pekerja keras – dan single. Saat masih anak-anak, bersama sahabatnya, Darcy Rhone, mereka berdua selalu menghitung di hari apa mereka berdua akan berulang tahun ke 30 dan membayangkan seperti apa mereka saat itu. Menikah, punya anak, suami yang hangat – pokoknya gambaran keluarga ideal. Tapi ternyata, untuk Rachel, semua itu belum terwujud. Jangankan anak, potential husband aja belum ada. Berbeda dengan Darcy yang sedang memasuki masa-masa heboh menjelang pernikahan.

Meskipun memilik teman akrab lain, bagi Rachel, Darcy adalah teman terdekatnya, sahabatnya sejak kecil. Begitu pun sebaliknya. Rachel adalah sosok yang lebih dewasa dibandingkan dengan Darcy, sosok yang pengalah. Berbeda dengan Darcy yang ingin selalu ‘menang’ dan lebih ‘agresif’ dibanding Rachel. Di antara dua sahabat ini, terkadang ada ‘persaingan terselubung’. Tapi tetap saja, mereka adalah yang terbaik satu sama lain. Bahkan Rachel-lah yang memperkenalkan sosok Dexter pada Darcy,. Rachel yang akan menjadi maid of honor di pernikahan Dexter dan Darcy. Dex dan Rachel dulunya kuliah bareng.

Tapi, dalam satu malam, hubungan persahabatan itu terancam bubar. Di malam perayaan ulang tahun Rachel, entah karena mabuk atau tidak, Rachel dan Dex ‘memulai’ hubungan diam-diam mereka. Awalnya, mereka berdua sepakat ini akan berakhir, tapi… ternyata mereka berdua sama-sama gak mau semuanya selesai begitu saja.

Ya akhirnya, mereka sering bertemu berdua secara sembunyi-sembunyi. Rachel berusaha menekan rasa bersalahnya terhadap Darcy dan juga rasa cemburu saat melihat Dex dan Darcy saling bersikap mesra.

Pada akhirnya, harus ada yang memilih – mau terus atau berhenti. Pastinya ada pihak-pihak yang sakit.

Meskipun sedikit menyebalkan, pada awalnya gue bersimpatis ama Darcy. Dari awal hubungan Dex dan Rachel, gue mengutuk-ngutuk si Dex yang gak ada angin, gak ada apa-apa, tau-tau falling in love aja gitu sama Rachel.


via IMDb
Kalau Dex, tipe-tipe cowok yang hmmm… eksekutif muda gitu deh. Keren, cakep, rapi, plus.. tajir.. Tipe-nya Darcy yang gak suka sama cowok-cowok biasa aja.

Dan kalau Rachel, tipe serius, baik dalam pekerjaan maupun dalam menjalin hubungan. Sayangnya, ia gak seberuntung Darcy.

Tapi, pada akhirnya, gue berpikir, tetap aja Dex sama Rachel yang ‘salah’. Meskipun… *eh… gak jadi diterusin deh, ntar spoiler* hehehe…

Well, abis ini, segera cari film-nya dan segera baca sekuelnya, Something Blue. Pengen ngeliat seganteng apa si Dex ini… Ada yang udah nonton kah? Bagusan buku atau film-nya?

Saturday, July 30, 2011

Cocktail for Three

Cocktail for Three (Klub Koktail)
Sophie Kinsella as Madeleine Wickham
Nurkinanti Laraskusuma (Terj.)
GPU – Juni 2011
440 hal.

Roxanne, Maggie dan Candice, 3 sahabat yang bekerja di sebuah media di London. Tanggal 1 setiap bulannya mereka bertemu di sebuah bar, bernama Manhattan Bar. Yah, untuk sekedar refreshing. Meskipun bekerja di kantor yang sama, tidak berarti tiap hari mereka bertemu.

Roxanne, adalah penulis lepas. Gadis yang penuh percaya diri dan memiliki menjalin hubungan dengan pria yang sudah berkeluarga. Tapi, tak satu pun dari sahabatnya itu tahu siapa pria itu. Ia hanya sesekali datang ke kantor. Tugasnya jalan-jalan ke luar negeri, meliput tempat-tempat penginapan baru. Maggie, si pemimpin redaksi, satu-satunya yang sudah menikah, ambisius dan sedang stress menghadapi peran baru sebagai ibu. Candice, penulis, yang sangat lugu, baik hati dan jujur. Mudah dimanfaatkan orang karena kebaikan hatinya.

Semua berjalan dengan lancer, dan.. asyik-asyik aja gitu. Tapi, ketika di satu pertemuan rutin mereka, pertemuan terakhir sebelum Maggie cuti melahirkan, ada salah satu pramusaji yang membuat Candice tertarik, yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu, namanya Heather.

Pertemuan itu membuka luka lama Candice, rasa bersalah terhadap keluarga Heather. Maka, si peri baik hati ini berniat untuk membalas apa yang sudah terjadi, mencoba menghapus kesalahan masa lalu yang disebabkan ayah Candice. Ia membantu Heather mendapatkan pekerjaan di Londoner dan mengajaknya tinggal bersama. Baik Roxanne dan Maggie menyayangkan sikap Candice yang terlau baik.

Lain lagi Roxanne, ia masih harus berurusan dengan pacar gelapnya yang tiba-tiba saja berubah. Lalu Maggie yang sempat mengalami baby blues.

Meskipun sama-sama berkisah tentang perempuan-perempuan di London, usia 30 tahunan ke atas, tapi karakternya beda dengan novel yang memakai nama Sophie Kinsella. Seperti Becky Bloomwood, Tokoh-tokohnya terkesan ‘konyol’. Ceritanya juga lebih ceria.

Kalo di buku ini, tokohnya lebih dewasa, permasalahan juga lebih serius. Yahhh.. ending-nya sih ketebak. Tapi, gak mengurangi rasa tertarik gue sama buku ini.

Mungkin karena gue ‘kecewa’ dengan seri terakhir Shopaholic, gue jadi lebih suka buku ini dan rasa-rasanya jadi pengen baca buku Sophie Kinsella as Madeleine Wickham yang lain. Kadang, abis baca yang ‘berat’, enak juga baca buku-buku kaya’ begini.

Wednesday, April 13, 2011

Looking for Ward

Looking for Ward
Laurel Osterkamp
80 pages

31 hari menjelang hari pernikahannya, Chloe mendapat email dari Ward, tunangannya. Isinya bukan tentang rayuan atau kata-kata manis menjelang pernikahan, tapi justru tentang Ward yang memberi tahu Chloe bahwa ia akan pergi sementara waktu dan Ward meminta Chloe untuk tidak mencarinya. Singkat dan padat, tapi gak jelas apa alasannya.

Jelas Chloe kalang-kabut. Semua nyaris sudah siap, catering, gereja, bunga, baju pengantin, undangan sudah disebar. Tapi, Chloe sama sekali tidak punya bayangan apa yang terjadi dengan Ward. Padahal di hari terakhir mereka bertemu, semua masih baik-baik saja.

Ia harus menyembunyikan berita ini dari orang tuanya dan berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi, rasa khawatir tidak bisa membuatnya untuk tidak bercerita dengan sahabatnya, Bethany. Bahkan ia mengontak Owen, sahabat Ward, yang selama ini hubungan Chloe dan Owen tidak terlalu baik.

Semakin lama, semakin banyak yang ternyata tidak Chloe ketahui tentang diri Ward. Ada banyak rahasia yang disembunyikan Ward selama bertahun-tahun. Dan, akhirnya Chloe pun harus mengambil keputusan apakah akan tetap melanjutkan pernikahannya dengan Ward atau tidak?

E-novella, begitu sebutan untuk novel ini. Percakapan sebagian besar dilakukan dalam bentuk e-mail. Ya, kesan gue sih sebenernya biasa aja. Terkesan ‘cuma’ email-emailan biasa antar teman. Yang bikin gregetan, memang mungkin pengen tau, kenapa sih tiba-tiba si Ward menghilang, apa alasannya, dan apakah di akhir cerita Ward akan muncul lagi kasih berbagai penjelasan, dan apakah Chloe bakal meneriman gitu aja kalau pun Ward muncul. Inilah e-book pertama yang berhasil gue tuntaskan,

Monday, April 04, 2011

Mini Shopaholic

Mini Shopaholic
Sophie Kinsella @2010
Siska Yuanita (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2011
568 Hal.

Punya anak ternyata gak membuat Rebbeca Brandon (dahulu Bloomwood) jadi berubah lebih bijak dalam urusan shoping-shoping. Becky tetap ‘gemetar’ setiap melihat discount, baginya itu sebuah investasi, meskipun barang dibelinya bukan dalam ukuran untuk dirinya sendiri.

Minnie, si kecil berusia 2 tahun adalah anak yang ‘liar’ dan punya kemauan keras. Meskipun kewalahan mengantur Minnie, Becky tetap tidak terima kalau ada yang bilang anaknya manja. Becky kerap membelikan Minnie baju-baju keluaran desainer ternama, boneka-boneka terbaik. Bahkan Becky sudah ‘berinvestasi’ untuk hadiah ulang tahun Minnie ke 21 kelak. Dan Becky tentu saja sangat bangga, karena baju itu dibeli dengan discount yang besar. Minnie cenderung berbuat ‘kekacauan’ karena sifatnya yang keras itu. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

London dilanda krisis moneter yang membuat orang harus mengencangkan ikat pinggang. Bisnis Luke juga agak kacau. Dan Becky butuh dana yang sangat besar untuk mewujudkan pesta ulang tahun kejutan untuk Luke. Tanpa kecuali, Becky juga ‘dituntut’ untuk berhemat. Tapi, hemat a la Becky, tentunya beda dengan hemat a la Luke.

Dan, bukan Becky kalau tidak terjerat masalah. Dan bukan Becky juga kalau dia gak bisa mendapatkan bantuan.

Entah kenapa, makin lama gue berasa Becky makin ‘lebay’, masa’ dia nyaris gak berubah dan gak dewasa. Jadi rada ngebosenin juga sih bacanya. Emang lucu, tapi koq gak ada sesuatu yang baru. Mungkin bakal ada sequel yang bercerita hebohnya Becky belanja bareng Minnie remaja, atau Becky di Hollywood, atau Becky menyambut cucu pertama. Tapi apa iya akan seheboh cerita-cerita sebelumnya? Gue jadi lebih suka membaca tulisan Sophie Kinsella di luar Shopaholic series ini.

Friday, January 21, 2011

Forget About It (Pura-Pura Lupa)

Forget About It (Pura-Pura Lupa)
Caprice Crane
Jimmy Simanungkalit (Terj.)
Gagas Media – 2010
514 hal.

Hidup Jordan Landau benar-benar membosankan dan tidak menarik. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang sering kali memanfaatkan dirinya dan tidak peduli dengan keberadaannya. Sebut saja, ibu kandung Jordan yang tampaknya lebih mencintai adik tirinya, Samantha, daripada Jordan yang memang dari fisik sama sekali tidak mirip dengan ibu kandungnya. Samantha, yang manja. Lalu atasannya, Lydia, yang sering mencuri ide-ide kreatinya, ditambah lagi, Dirk, pacarnya, yang tukang selingkuh, tidak perhatian tapi sok asyik jadi orang. Belum lagi tunggakan sewa apartemen dan kartu kredit semakin menambah keruwetan hidupnya.

Shock karena idenya di-sabotase oleh Lydia, Jordan bersepeda dengan kencang. Tak memperhatikan ada pintu mobil yang terbuka dan ia pun menabraknya. Di rumah sakit, tiba-tiba saja terbersit ide untuk ‘pura-pura amnesia’. Ia mencoba menjadi ‘Jordan Baru’, ya sedikit banyak untuk membalas perbuatan-perbuatan orang-orang yang selama ini mengabaikannya. Hanya satu orang yang tahu permainan Jordan, yaitu sahabatnya, Todd.

Menjadi ‘Jordan Baru’, ia mempunyai kesempatan untuk mencampakkan Dirk, membalas perbuatan Lydia. Bahkan bertemu dengan seorang pria yang baik hati, yang tak lain adalah pria yang tak sengaja membuat Jordan menabrak pintuk mobilnya. Meskipun ada sedikit rasa bersalah karena sudah membohongi Travis, Jordan mencoba menjalani hubungan yang menyenangkan bersama Travis.

Tapi, ternyata… Travis sakit hati karena Jordan mencoba menuntutnya karena kecelakaan itu. Bukan Jordan sih, tapi ini perbuatan ibunya yang berkomplot dengan Dirk. Dan, ternyata, ada rahasia kecil Travis yang membuat Jordan kecewa, sampai akhirnya… Jordan malah amnesia beneran!

Amnesia beneran ini membuat Jordan benar-benar berubah. Dan dengan mudah, ia kembali ‘dimanfaatkan’ oleh Dirk dan ibunya. Jordan malah tidak percaya dengan sahabatnya yang justru ingin membantunya.

Awal cerita ini cenderung membosankan. Seolah gak jelas arah ceritanya mau ke mana. Gue malah jadi menunggu-nunggu kapan si Jordan hilang ingatannya. Mirip-mirip ‘Remember Me?’-nya Sophie Kinsella. Entah kenapa, tokoh ibu dalam chicklit selalu aja ‘nyentrik’, aneh dan sama sekali gak keibuan. Tapi sampa akhir cerita, gue gak mendapat kejutan, atau hal-hal kecil yang membuat gue jadi semakin tertarik membaca cerita ini.

Tuesday, January 18, 2011

He Loves Me Not... He Loves Me

He Loves Me Not... He Loves Me (Dia Benci... Atau Cinta?)
Claudia Carroll @ 2004
Nur Anggraini (Terj.)
GPU - November 2010
448 Hal.

Memiliki gelar bangsawan dan tinggal di sebuah kastil – well… dulunya memang kastil yang megah… - tidak berarti menjadi seorang yang kaya raya. Paling tidak itulah gambaran keluarga Davenport yang tinggal di Davenport Hall. Sebagai keturunan bangsawan Irlandia, nama mereka memang sedikit dikenal, tapi sayangnya bukan untuk hal yang terlalu baik. Portia, sebagai anak tertua, harus selalu berusaha menjaga kewarasannya di tengah-tengah keluarganya yang nyaris hancur. Ayahnya, Lord Jack Davenport, atau lebih dikenal dengan sebuah Blackjack, meninggalkan keluarga mereka untuk berjudi di Las Vegas, dan kabur membawa sisa-sisa uang cash terakhir yang mereka miliki. Ibunya, sang Lady, Lucasta, juga gak kalah nyentrik. Berpenambilan lebih mirip gelandangan daripada bangsawan, memilki ketergantungan dengan gin dan tonik, ditambah lagi kegemarannya akan hal-hal mistis semakin menambah keanehan Lucasta. Sementara itu adiknya, Daisy, meskipun lebih normal tapi tetap saja labil karena patah hati dan kecewa ditinggal oleh ayahnya.

Sebuah ide ditawarkan oleh pengacara keluarga dan sahabat mereka, Steve. Ide untuk menjadikan Davenport Hall sebagai lokasi syuting film. Uang yang mereka terima bisa untuk memperbaiki kondisi rumah mereka yang nyaris hancur.

Namun, di antara orang-orang baik hati yang masih ingin menyelamatkan Davenport Hall, yang sedikit banyak dianggap asset bersejarah, ada juga orang-orang yang ingin mencari muka dan mengambil keuntungan pribadi dari kondisi ini. Mereka adalah anggota Dewan yang ingin mencari muka dan mendapatkan kursi di Parlemen. Pasangan suami-istri Nolan ini ingin menunjukkan bahwa Davenport Hall adalah tempat yang berbahaya, wajib dimusnahkan. Bahkan mereka berniat ingin menghancurkan Davenport Hall dan menjadikannya sebagai kawasan pemukiman murah.

Keluarga Davenport tak berdaya. Karena mereka tidak memiliki uang yang bisa digunakan untuk mempertahankan Davenport Hall.

Di tengah-tengah kekacauan, ada sedikit rona bahagia dalam hidup Portia. Yaitu ketika berjumpa dengan Andrew, tetangga baru mereka. Meskipun berjumpa di dalam kondisi yang memalukan, Andrew melihat bahwa Portia adalah gadis yang istimewa. Portia yang nyaris tidak pernah berkencan karena terlalu sibuk mengurusi keluarganya, sempat tak percaya, bahwa Andrew memilih dirinya. Tapi, ada saja kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka tak berlangsung mulus.

Adek gue bilang buku ini rada membosankan. Tapi buat gue, buku ini lumayan juga. Kejutan-kejutan kecil di setiap bab, gosip-gosip seputar para aktris dan aktor yang sedang syuting atau kenyentrikan Lucasta, memberi warna yang menyegarkan dalam buku ini.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang