Monday, June 29, 2009

Perempuan Lain

Perempuan Lain
Kristy Nelwan @ 2007
Grasindo – Cet. II, Maret 2009
362 Hal.

Maya marah berat ketika Fauzan, tunangan sahabatnya, Hesti, ketauan berselingkuh dengan perempuan yang ya… ma’af-ma’af, rada kecentilan dan gak sebanding banget dengan Hesti. Maya nekad melabrak Cindy, si WIL itu, ketika dengan santainya dia datang menggantikan Fauzan yang gak bisa dateng ke ulang tahunnya Cindy.

Masalah ‘perempuan lain’ bukan hanya dialami Cindy, tapi juga Tiara, kakak Maya sendiri. Parahnya, Tiara-lah yang jadi perempuan lain dalam pernikahan orang lain. Bahkan dia hamil, tapi, karena tak mau karirnya terancam, Tiara nekat melakukan aborsi.

Tapi, siapa sangka, Maya sendiri akhirnya terjebak menjadi si ‘perempuan lain’ itu. Tak ada niat atau bahkan kepikiran sama sekali dalam benak Maya untuk mendapatkan predikat pengganggu kekasih orang. Ketika, Maya ketemu Sandi di restoran makanan Menado, Maya hanya iseng memperhatikan sosok ganteng itu. Mana dia tahu kalo Sandi itu GM sebuah produk ponsel ternama yang meng-hire kantor Maya sebagai EO untuk launching produk terbaru mereka. Dan kebetulan Maya adalah PO dari project baru itu.

Maya yang sudah lama gak jatuh cinta, gak bisa melupakan begitu saja sosok Sandi. Sandi yang perhatian, yang hangat dan yang kocak, mampu ‘melumerkan’ hati Maya. Tapi, ternyata, gak disangka-sangka, ternyata Sandi sudah punya tunangan.

Maya hancur. Ia jadi kerja gila-gilaan, makan gak teratur, apalagi tidur. Sampai-sampai, bossnya, mengirim dia berlibur ke Lombok, tempat Maya akhirnya bertemu dengan kekasih masa lalunya dan bisa kembali tersenyum

Ketika Maya mencoba bangkit, Sandi malah gak mau melepaskannya. Maya pun menjalani hubungan ini dengan diam-diam, menyembunyikan ini dari sahabat-sahabatnya sendiri. Meskipun Maya sudah mencoba untuk menjalin hubungan dengan pria lain, Sandi tetap tak tergantikan.

Tapi, ketika Sandi datang lagi kepadanya, dan Maya justru gak mampu untuk menerimanya. Kenapa?? Karena ternyata… sosok dalam mimpi Maya selama ini bukanlah Sandi (upppss… apakah ini spoiler?)

Dibanding novel ‘L’, gue lebih suka yang ini. Emang sih, tokoh perempuannya, sama-sama galak (apakah ini menggambarkan sosok Kristy Nelwan?), terus, sama-sama perokok berat, galak, susah ‘mencari cinta’, dan sama-sama pekerja keras. Tapi, buat gue, tema-nya lebih ‘membumi’, dibanding tema nyari cowok berdasarkan abjad. Sifat idealis seseorang yang harus diuji ketika dia sendiri melanggar apa yang dia ‘haramkan’. Dan, kadang, kita juga gak sadar, sosok yang selama ini kita cari, ada pada seseorang yang selalu hadir di depan mata kita.

Meskipun ini, banyak ‘keseleo’nya nih, banyak salah tulis… Adiel Peterband beberapa kali keseleo jadi Ariel Peterpan, yang memang tampaknya berasal dari nama itu.

Friday, June 26, 2009

Ingo

Ingo
Helen Dunmore @ 2005
Rosemary Kesauli (Terj.)
GPU – Juni 2009
312 Hal.

Buku ini berkisah tentang legenda Putri Duyung. Kalo dalam dongeng-dongeng anak-anak a la Walt Disney, Putri Duyung (dan juga makhluk-makhluk bawah air lainnya), selalu digambarkan sebagai makhluk yang ramah, cantik dan baik. Tapi, coba liat atau baca Harry Potter. Putri Duyung di dalam cerita itu, digambarin berwajah menyeramkan (meskipun awalnya sempet ‘cantik’), terus, penggoda.

Di buku ini juga gitu. Legenda Putri Duyung yang jatuh cinta dengan manusia darat. Laut tempat si putri duyung tinggal terus memanggil-manggil pemuda yang bernama Matthew Trewhella. Karena selama mereka masih tinggal di dua dunia yang berbeda, mereka tidak akan pernah bisa bersatu. Matthew pun memilih ‘pindah’ ke tempat pujaan hatinya dan meninggalkan dunia yang selama ini ia kenal. Jika sudah masuk ke dalam dunia bawah laut, akan laut akan terus menarik dan memisahkan manusia dari tempat tinggalnya sebelumnya.

Legenda itu sering didengar Sapphire. Ayahnya yang ‘kebetulan’ bernama Matthew Trewhella sering menceritakan kisah itu kepadanya. Sapphire, ayahnya, ibunya dan kakaknya, Connor, tinggal di pesisir pantai yang dingin (bahkan saat musim panas pun, gue mendapatkan kesan yang tetap dingin). Lautnya begitu misterius, sampai-sampai ibu Sapphire membencinya. Tapi, Sapphire, seperti ayahnya mencintai laut.

Suatu malam, ayah Sapphire pergi dan tak pernah kembali lagi. Semua orang menganggap ia sudah mati tenggelam. Tapi, Sapphire dan Connor tak percaya. Mereka yakin, entah bagaimana dan di mana, ayah mereka masih hidup.

Sepeninggal Matthew, ibu mereka, Jannie, terpaksa bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran yang letaknya cukup jauh dari rumah, sehingga mereka kerap ditinggal sendiri di rumah. Suatu hari di musim panas, Connor pergi, tanpa pamit. Sehingga Sapphire panik. Sapphire mencarinya ke pantai, dan menemukan Connor sedang berbicara dengan seorang gadis yang berpakaian mirip penyelam. Tapi, Connor tidak mau mengakui siapa yang ia temui.

Sapphire yang penasaran mencoba mengikuti Connor, dia malah bertemu dengan Faro, laki-laki ‘setengah’ anjiing laut. Sapphire pun diajak ke dunia bawah laut yang menakjubkan, yang disebut Ingo, tempat yang membuatnya ingin kembali lagi karena daya tariknya yang begitu kuat.

Misteri Ingo seolah mengikuti misteri hilangnya ayah Sapphire. Sebagai anak paling kecil dan yang paling dekat dengan ayahnya, Sapphire tidak rela ketika posisi ayahnya nyaris tergantikan oleh pria lain. Ia merasa diabaikan, ia merasa bukan di ‘Udara’ – begitu kaum Mer menyebut dunia darat – tempatnya seharusnya berada. Sapphire ingin kembali dan kembali lagi ke Ingo. Meskipun Connor terus mencegahnya untuk memikirkan Ingo.

Biasanya gue gak terlalu suka misteri kaya’ begini, tapi koq gue jadi ikutan ‘terpesona’ dengan Ingo. Gue ikutan penasaran, apa sebenarnya yang ada di Ingo, terus, apa memang ayah Sapphire masih hidup? Kalau memang masih hidup, ke mana dong Matthew pergi dan berada sekarang? Dan hal ini, benar-benar jadi misteri sampai akhir cerita.

Helen Dunmore gak membiarkan pembacanya mengambil kesimpulan sendiri. Pembacanya diajak ‘berfantasi’ dengan dunia Ingo dan mencari jawaban sendiri. Dan, ternyata, Ingo ini ada sequelnya. Semoga aja segera terbit juga terjemahannya.

Tuesday, June 23, 2009

The Bed and Breakfast Star

The Bed and Breakfast Star (Bintang Kelarga)
Jacqueline Wilson @ 1994
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Juni 2009
216 Hal.

Elsa, gadis kecil berusia 10 tahun, berambut ‘jigrak’ seperti surai singa. Namanya sendiri diambil dari seekor singa yang terkenal. Sejak lahir, Elsa memiliki rambut yang lebat dan sengaja disisir oleh ibunya ke atas. Elsa, suka sekali membuat lelucon, ia bercita-cita jadi komedian terkenal. Tapi, sayang, tak semua orang mengerti dan tertawa dengan lelucon Elsa.

Kisah Elsa berawal dari tempat tidur. Ia menghitung dan membandingkan setiap tempat tidur yang pernah ia miliki. Elsa tinggal bersama ibunya, ayah tirinya- Mack dan dua adik tirinya. Mack adalah laki-laki yang pemarah. Biar begitu, ia tetap menyayangi adik tirinya.

Keluarga Elsa terpaksa pindah dari rumah mereka karena rumah mereka disita oleh para penagih hutang. Mack tidak punya pekerjaan. Mereka pun terpaksa tinggal di sebuah ‘hotel’ kecil yang sangat buruk pelayanannya, sebuah hotel ‘bed and breakfast’, di mana mereka harus tinggal berhimpit-himpitan.

Elsa berkenalan dengan teman-teman baru, ada yang baik seperti Naomi, atau gerombolan anak laki-laki nakal yang suka menuliskan kata-kata jorok.

Karena sifatnya polosnya juga, Elsa sering jadi sasaran kemarahan Mack. Ibunya sendiri kadang pasrah aja, karena sudah terlalu sedih dan ‘hopeless’ dengan keadaan mereka. Meskipun menurut gue, mereka cukup ‘beruntung’ karena gak jadi ‘gelandangan’.

Meski kadang sedih dipadang sebelah mata sebagai anak dari ‘bed and breakfast’. Elsa tetap ceria. Ia selalu melontarkan lelucon-lelucon konyolnya, berharap orang lain juga mengerti kelucuannya. Tapi, dasar orang dewasa, kadang terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri, hingga lupa caranya tertawa.

Siapa sangka, lewat 'auman'-nya, Elsa jadi pahlawan dan kebanggaan Mack si Skot.

Gue suka sama cover buku-bukunya Jacqueline Wilson, meskipun ini baru buku keduanya yang gue baca setelah Lola Rose. Dari dua tokoh yang gue baca, gue melihat karakter seorang anak kecil yang meskipun susah, tapi tetap bisa gembira dan tersenyum. Sampai akhirnya, ia malah jadi kesayangan banyak orang.

Monday, June 15, 2009

Burning Sea

Burning Sea: Bara Cinta di Tengah Deru Perang
(Beside a Burning Sea)
John Shors @ 2008
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita – Cet. I, Mei 2009
692 Hal.

Benevolence – kapal rumah sakit milik Amerika Serikat, sedang berlayar dengan tenang di perairan di sekitar Kepulauan Solomon. Sesuai dengan fungsinya, kapal itu membawa para korban Perang Dunia II - tidak hanya korban dari pihak Amerika, tapi juga dari pihak Jepang. Kapal itu dinakhodai oleh Joshua. Sementara Joshua sedang memeriksa segala tetek-bengek untuk kapal, istrinya, Isabelle sedang bekerja merawat pasien bersama adiknya, Annie.

Tak ada yang menduga bahwa kapal dengan lambing palang merah besar itu akan terkena hantaman torpedo. Tapi itulah yang terjadi. Seorang pengkhianat memberi tahu pihak musuh bahwa kapal itu milik Amerika. Hantaman torpedo itu berasal dari pesawat pengebom Jepang.

Hanya 9 orang yang selamat, terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Kesembilan orang itu adalah Joshua, Isabelle, Annie, Scarlett – seorang pesawat, awak kapal: Jake, Nathan dan Roger, seorang bocah asal Fiji yang menjadi penyelundup di kapal itu bernama Ratu, dan seorang pasien berkebangsaan Jepang bernama Akira.

Belum habis rasa shock mereka akibat kecelakaan yang mereka alami, mereka harus mencari cara untuk bertahan di pulau itu. Beruntung ada Joshua yang memimpin mereka, sehingga mereka bisa saling menguatkan satu sama lain. Meskipun sempat ada perdebatan apa yang akan mereka lakukan terhadap Akira. Tapi, karena Akira menderita luka di kaki yang cukup parah, pelan-pelan kekhawatiran mereka sirna.

Tapi, salah satu di antara mereka adalah si pengkhianat, yang dengan persiapan cermat terus-menerus menghubungi pihak musuh.

Di sela-sela kehidupan baru mereka, ada rasa saling tertarik antara Akira dan Annie. Akira, di ‘kehidupan’ sebelumnya adalah seorang guru bahasa. Ia pintar membuat haiku, sajak dalam bahasa Jepang. Meskipun Akira dan Annie dalam perang berada di pihak yang berlawanan, sifat Akira yang lembut dan Annie yang penuh perhatian mampu meredam berbagai perbedaan.

Hari-hari para penumpang Benevolence yang selamat dilewati dengan berjalan-jalan di pulau yang indah itu – Ratu dan Jake bagian menangkap ikan untuk persediaan makanan mereka, Scarlett mengawasi keadaan dari atas bukit, Isabelle dan Joshua mencoba menata kehidupan pernikahan mereka kembali, Roger sibuk dengan misi tersembunyinya, Annie dan Akira yang saling jatuh cinta. Sedangkan Nathan, gak terlalu banyak perannya.

Serasa kehidupan damai banget, padahal ada musuh yang mengintai, dan mereka harus siap setiap saat apa bila ada kapal musuh yang datang. Akira sebagai satu-satunya Jepang di antara mereka, juga selalu siap siaga menghadapi Roger yang senantiasa mengincarnya, yang selalu berharap agar bisa 'mematikannya'.

Karakter Roger emang bikin geram. Kata-katanya kasar, sikapnya yang licik, kejam dan penuh kebencian dibentuk oleh masa kecilnya. Sementara Joshua, dipenuhi rasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan penumpang kapal Benevolence. Annie, berusaha setia pada tunangannya, Ted, tapi tak bisa dipungkiri kalau ia jatuh cinta pada Akira. Lalu, ada Ratu yang mencari ayahnya, rela nyaris digigit ikan hiu, demi mendapatkan taring hiu untuk keberuntungan. Ia bersahabat dengan Jake, yang menyembunyikannya selama ia berada di kapal.

Semua punya latar belakang masing-masing, tapi yang pasti, tujuan dan harapan mereka (nyaris)sama - keluar dari pulau itu dengan selamat, dan kembali ke keluarga mereka masing-masing.

Untuk cerita dengan latar belakang peperangan, novel ini mungkin terhitung datar. Karena fokusnya tentu saja di masalah percintaan. Ketegangan hanya muncul sekilas-sekilas, misalnya ketika terjadi pertentangan antara si pengkhianat dan orang-orang yang lain. Mereka jadi lebih mirip sekelompok orang-orang yang lagi ‘liburan’, tapi dengan tingkat stres yang tinggi. Hehehe… Di setiap awal bab, ada baris-baris haiku seperti yang diciptakan oleh Akira.

Wednesday, June 10, 2009

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)

Marriage Most Scandalous (Terjerat Cinta Pura-Pura)
Johanna Lindsey @ 2005
Isma Badrawati (Terj.)
Gagas Media – Cet. I, 2009
452 Hal.

‘Batu Duel’ – tempat para lelaki mempertahankan harga dirinya, tempat mereka bertarung agar mereka yakin mereka lelaki sejati. Tempat itu mempertaruhkan banyak hal – harta, kehormatan dan juga persahabatan.

Sebastian dan Giles sering melewati tempat itu sepanjang umur mereka. Tak ada yang menyangka persahabatan mereka harus berakhir di tempat itu. Sebagai pemuda tampan, kaya raya, dan seorang bangsawan, Sebastian tentu saja digilai banyak wanita. Demikian juga dengan Giles. Tapi, ketika Sebastian tergoda – atau lebih tepatnya digoda – oleh wanita yang ternyata adalah istri Giles, Giles marah dan akhirnya menantang Sebastian di Batu Duel.

Tadinya – meskipun sama-sama marah – tak ada yang menginginkan duel yang sebenarnya terjadi. Mereka sama-sama tak ingin kehilangan persahabatan mereka. Tapi, gengsi dan harga diri mengharuskan Sebastian memenuhi tantangan itu. Mereka sudah sama-sama mengatur strategi secara diam-diam agar tidak saling melukai. Namun… kenyataan berkata lain. Secara tidak sengaja, Sebastian yang kaget malah menembak Giles. Buntutnya, keluarga Giles dan keluarga Sebastian terluka. Sebastian diusir oleh ayahnya, tidak diakui lagi sebagai anak dan dilarang menginjakkan kaki lagi di Inggris.

Sebastian yang juga sakit hati dan sedih bersumpah tidak akan pernah datang lagi ke Inggris. Bersama pelayan setianya, ia mengembara berkeliling Eropa. Ia kemudian dikenal sebagai The Raven, lelaki bengis dan keras yang bersedia melakukan pekerjaan apa pun. Ia dikenal bisa menemukan orang-orang yang hilang, sebagai penyelidik yang dibayar mahal dan nyaris tidak pernah gagal.

Suatu hari datanglah seorang wanita bernama Margaret yang ingin minta bantuannya untuk menyelidiki penyebab kecelakaan yang dialami ayah angkatnya. Tak disangka-sangka, Margaret bukan orang asing bagi Sebastian. Sebelum kejadian itu, Margaret kecil diam-diam menyukai Sebastian, dan ayah angkatnya tak lain adalah ayah Sebastian sendiri.

Awalnya, Margaret pesimis Sebastian mau kembali ke Inggris. Tapi, dengan persyaratan yang sebenarnya Margaret sendiri tak yakin bisa memenuhinya, Sebastian menerima ‘pekerjaan’ dari Margaret. Syarat itu, selain bayaran amat sangat tinggi, Margaret bilang mereka harus berpura-pura menikah, supaya orang-orang di sana mau menerima Sebastian kembali.

Di Inggris, Sebastian memulai penyelidikannya. Sementara Margaret harus ‘berperang’ melawan perasaannya sendiri. Pastinya akhirnya mereka jatuh cinta beneran.

Buat gue, buku yang lumayan tebal ini, memberi kejutan yang ‘nanggung’, yang kaya’nya justru lebih seru dan ‘normal’ kalau itu gak ada. Alasan-alasan di balik duel Sebastian dan Giles juga kaya’nya kurang ‘kuat’.

Dengan setting Inggris di abad mungkin hmmm… 17? Or 18? – yang terbayang di benak gue, hanyalah wanita dengan baju-baju gaun berbawahan lebar dan bagian atas yang menyesakkan karena pake korset, lalu pria dengan setelah jas ber-rimple, lalu pesta dansa, makan malam resmi yang penuh basa-basi. Ditambah lagi, tentu saja gak ketinggalan ‘bagian percintaan’ antara Margaret – Sebastian yang gak perlu tebak-tebakan untuk mengetahui apakah bakalan terjadi beneran atau gak.

Tuesday, June 02, 2009

Botchan

Botchan
Natsume Soseki @ 1906
Intan Santi Pratidina (Terj.)
GPU – April 2009
224 Hal.

Cover-nya yang cerah dan unik menjadi salah satu daya tarik kenapa gue memasukkan buku ini ke kantong belanja gue. Alasan lain adalah karena gue mencoba mencari ‘pesona’ yang sama ketika gue membaca buku Toto-chan bertahun-tahun yang lalu. Buku ini ditulis udah lama banget oleh Natsume Soseki, dan ternyata masih tetap enak untuk dibaca ceritanya.

Cerita tentang seorang pemuda yang kerap dipanggil Botchan oleh pengurus rumah tangga keluarganya, seorang perempuan tua bernama Kiyo. Botchan sendiri bisa diartikan sebagai ‘tuan muda’ dan memang, dari awal sampai akhir, kita tidak diberi tahu siapa nama Botchan sesungguhnya.

Dari kecil, Botchan sudah mulai menampakkan ciri-ciri sebagai anak pemberontak, nakal dan iseng. Orang tuanya bahkan tidak pernah memujinya, justru kakak Botchan yang selalu jadi tumpuan harapan mereka. Hanya Kiyo yang tetap memujinya, selalu memberinya hadiah dan tidak pernah mengatakan kalau Botchan itu salah. Apa pun yang dilakukan Botchan, Kiyo selalu melihat sisi positifnya.

Ibu Botchan meninggal dunia ketika Botchan masih kecil. Beberapa tahun kemudian, ayah Botchan pun menyusul. Semua diatur oleh kakak Botchan, sehingga ketika rumah mereka dijual, Botchan diberi bagian untuk memulai hidup baru dan berpisah dengan kakaknya. Botchan sempat bingung, karena tidak mungkin ia tinggal di rumah sewaan bersama Kiyo. Untung Kiyo masih memiliki keponakan yang siap menampungnya. Kiyo masih tetap berharap suatu hari nanti Botchan akan datang menjemputnya dan mengajaknya tinggal bersama.

Selanjutnya, kehidupan Botchan pun berubah. Ia mencoba sekolah di sekolah kejuruan ilmu pasti. Dan ketika ada lowongan menjadi guru di sebuah desa, ia pun menerima. Sebuah kebetulan dan pertanda yang katanya kemudian hari akan jadi sebuah hal yang buruk.

Di sekolah di desa kecil itu, Botchan mengajar matematika. Sebagai guru baru, ia harus memperkenalkan diri kepada setiap guru lama. Sebuah kebiasaan yang menurut Botchan sia-sia. Segera saja Botchan memberi julukan kepada orang-orang baru yang ia temui, ada si Kemeja Merah yang menurutnya bermuka dua, Yoshikawa yang kemayu, Hotta, guru matematika lain dan Koga si Labu.

Namanya guru baru juga tak luput dari keisengan para murid. Ketika Botchan mendapat giliran jaga malam, murid-murid yang tinggal di asrama, memasukkan kecoak di alas tidur Botchan. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah itu.

Botchan menganggap guru-guru di sana terlalu lembek dalam menghadapi anak-anak, sehingga mereka berani bersikap kurang aja.

Sikap Botchan yang cenderung menentang apa yang sudah lama berlaku sempat menimbulkan masalah. Apalagi ada guru-guru seperti si Kemeja Merah yang pintar bersilat lidah dan bermuka dua, sehingga kalau kita tidak hati-hati, kita tidak tahu apakah maksud dia sebenarnya.

Botchan – gambaran pemuda yang idealis, tapi juga kadang terlalu cepat emosi. Ia berani mengambil keputusan atas apa yang ia yakini benar.

Thursday, May 28, 2009

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)

Diary of a Wimpy Kid (Diary si Bocah Tengil)
Jeff Kinney @ 2007
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – 2009
216 Hal.

Cover yang merah ceria, membuat gue tertarik waktu buku ini masih dalam edisi aslinya. Mau beli… uhhh… mahalll.. hehehe… untunglah, sekarang ada terjemahannya… untung juga, cover-nya gak diganti… pengen tau, seperti apa sih isi buku yang katanya dikategorikan sebagai novel-kartun…

Namanya juga diary, jadi isinya adalah peristiwa sehari-hari. Tapi, kata Greg Heffley – si empunya diary ini – jangan harap ada tulisan ‘Dear Diary, hari ini aku…”. Makanya, Greg wanti-wanti pada ibunya agar jangan membelikan buku yang di sampulnya ada tulisan ‘Diary’.

Maklum, sebagai anak cowok (lagi puber), malu dong kalo ketauan bawa-bawa buku yang centil. Dan, tujuan Greg bikin diary, supaya suatu saat dia nanti jadi ngetop, kalau ada pertanyaan tentang siapa dirinya, riwayat hidupnya, si penanya bisa langsung baca diarynya tanpa Greg perlu repot-repot menjawabnya.

Greg punya teman yang dipilih karena paling ‘culun’ bernama Rowley Jefferson. Sebagai anak yang baru gede, Greg pengen cari kegiatan yang tidak terlalu terkesan kekanak-kanakan. Rowley kadang menurut Greg gak ‘nyambung’, tapi, hanya dengan Rowley, Greg jadi merasa lebih ‘hebat’.

Greg selalu berusaha jadi anak yang ‘cool’ dengan melakukan berbagai aktivitas, atau mencari perhatian orang. Tapi, sayangnya, kadang, dia malah jadi ‘sial’.Misalnya, ketika ada lowongan untuk mengisi kolom komik di sekolahnya, Greg yang pinter gambar, mencoba ‘peruntungannya’. Bersama Rowley, Greg mencoba merancang sebuah komik kocak. Biar kesannya Rowley juga punya peranan, Greg membiarkan Rowley untuk berkreasi. Tapi, dasar Greg suka sok tahu, diam-diam dia malah menganggap kreasi Rowley terlalu norak. Sampai akhirnya Greg membuat komik sendiri tanpa sepengetahuan Rowley dan berhasil dimuat satu kali di kolom komik di koran sekolah mereka. Bukannya ngetop, malah Greg jadi ‘musuh’ bersama para murid. Dan tebak… siapa yang malah jadi bintang?? Rowley yang jadi bintang baru dengan komik ciptaannya yang sempat dipandan sebelah mata oleh Greg.

Satu lagi yang kocak, adalah masalah ‘Sentuhan Keju’, yang bisa bikin seseorang jadi dihindari sama satu sekolah. Apa sih ‘Sentuhan Keju’ itu? Yang pasti… menjijikan sekali…

Buku ini lumayan menghibur, kekocakan Greg yang sok tau, sifat polos Rowley tapi diam-diam mencuri perhatian. Belum lagi keluarga Greg yang juga gak kalah ngaconya.

Greg sebenernya anak yang kreatif, punya keinginan untuk jadi pusat perhatian, tapi, sayangnya, keinginannya gak selalu tercapai.

Monday, May 25, 2009

Opera Orang Kaya

Opera Orang Kaya
Ita Sembiring
GagasMedia – 2009
262 Hal.

Pertama kali ‘kenal’ Ita Sembiring, lewat bukunya Jerit: Suatu ketika di Lho'seumawe, dan gue suka dengan cerita di buku itu, meskipun isinya serius banget dan tragis. Terus, gue baca buku lainnya, ‘Negeri Bayangan: Terorist Free’.. gue gak terlalu suka, karena aneh. Gue baca lagi cerita ‘When a Man Lost a Woman).. ini lumayan. Dan… gue pun tertarik untuk baca Opera Orang Kaya. Kenapa gue tertarik? Karena tema ceritanya yang lebih nge-pop dibanding yang lain, terus, settingnya di luar Indonesia.

Tapi, gue rada kecewa… karena gak seperti yang gue bayangin. Di synopsis, bikin penasaran (ya, iyalah… kalo gak, gak bakal ada yang beli deh… hehehe..). Kenapa begitu? Ceritanya di awal menjanjikan… tapi, semakin ke belakang, koq jadi semakin gak jelas… ngalor-ngidul aja… bingung mana yang katanya mau ‘diselesaikan’?

Jadi ini adalah kisah ketika seorang Gre Kinayan menjadi tour leader untuk sekelompok anak-anak yang sedang ikutan program belajar bahasa Inggris langsung di tempat asalnya, alias di London, Inggris. Ketika itu musim panas, Gre – bersama Christopher Park, si bule yang jadi kecengan ke 26 peserta.

Seru-seruan bareng berkisar anak-anak orang kaya itu yang kadang gak mau cape’, yang males kalo ke museum, lebih suka shopping daripada kembali ke tujuan semula mereka ada di tempat itu.

11 tahun kemudian, mereka sudah ‘tercerai-berai’. Gre tinggal di Belanda, sendirian, belum menikah. Tiba-tiba, muncullah sebuah email dari salah satu peserta yang ‘dianggap’ paling seru, bernama Aninda Lana. Si Aninda ini sekarang tinggal di Belanda juga, menikah sama bule Belanda.

Lalu, terbukalah semua cerita tentang gimana para eks-peserta summer course itu. Ada yang sudah menikah dan punya anak, ada yang sudah bercerai, ada yang masih menjalani ‘hidup bersama’.

Semua itu muncul dalam bentuk email-emailan, chatting dan percakapan via telepon atau langsung antara Aninda dan Gre.

Cerita-cerita di musim panas itu muncul lagi, yang dapat porsi paling banyak adalah cerita tentang peserta yang naksir-naksiran dengan si Christopher Park.

Gre sendiri sih, diam-diam juga naksir si Chris, tapi jaim karena posisinya sebagai tour leader.

Tapi, lama-lama gue baca, gue pusing sendiri, terlalu banyak percakapan becanda yang jadi garing, lalu, terlalu banyak tokoh tapi, gak ada yang ‘dalam’ untuk dikenal. Bahkan Gre pun jadi ‘buram’, gak jelas apa maunya. Agak cape’ juga ngikutin si Aninda yang sok seru itu.

Kaya’nya untuk seorang Ita Sembiring, koq buku ini jadi terkesan biasa banget.

Gurun Bercerita Cinta

Gurun Bercerita Cinta
Diyah Ratna @ 2009
GagasMedia – 2009
328 Hal.

Hmmm… apakah another ‘Ayat-Ayat Cinta’? Untunglah ternyata tidak. Kalo iya, gue tentunya gak akan mau beli. Kenapa gue beli? Karena setting-nya yang gak biasa. Biasanya, setting cerita (yang gue baca), rata-rata berkisar di benua Eropa, tapi ini, ceritanya sebagian besar bertempat di Kuwait.

Di negara yang terik itu, Alena Soediro ‘seharus’nya jadi kembang di tengah-tengah para pekerja yang mayoritas laki-laki. Ababil Airways, sebuah perusahaan pesawat non-komersial, Alena ditempatkan sebagai Marketing Strategic Consultant, menyusul keberhasilannya dalam sebuah program pemasaran di sebuah perusahaan penerbangan lainnya.

Tapi, ternyata keberadaan Alena ditentang oleh beberapa pekerja – terutama pekerja lokal – yang tidak terbiasa bekerja di bawah pimpinan seorang perempuan. Bagi para lelaki Timur Tengah, seorang laki-lakilah yang harus jadi pemimpin.

Apalagi, dalam proyek terbaru mereka, yaitu Nimbus Project, Alena diberi tugas sebagai Project Leader. Karuan, Abdullah, salah satu pegawai menolak keras. Karena selama ini, mereka biasanya selalu dipimpin oleh Mario, orang Indonesia juga yang berada di divisi Engineering.

Sebenarnya, Mario tidak ada masalah dengan Alena. Tapi, mungkin karena egonya sebagai laki-laki yang menyebabkan ia bersikap dingin pada Alena. Setiap rapat Nimbus Project, Mario dan Alena selalu berbeda pendapat. Mario selalu ‘ngajak berantem’, sementara Alena bingung dengan sikap Mario.

Dalam sebuah tugas lain, mereka harus pergi bersama ke Al-Damman, ke ‘istana’ seorang Sheikh. Tugas ini kembali diawali dengan pertengkaran. Bener-bener, gak jelas deh, sikap si Mario. Tapi, kerana suatu hal, mereka ‘ditakdirkan’ untuk pergi berdua.

Sialnya, mobil rover yang dikendarai Mario ternyata tidak diperiksa dengan benar oleh petugas yang bertanggung jawab atas mobil tersebut. Mereka pun terjebak dalam badai pasir. Alena bingung. Mario sebagai laki-laki, mulai menunjukkan sikap melindungi. Sesaat, sifat lain, sisi lain Mario yang lebih lembut muncul dan membuat Alena ‘melunak’.

Tapi, sikap itu hanya tampak ketika badai itu. Saat mereka tiba di kediaman Sheikh, sikap Mario kembali dingin dan menyisakan tanda tanya besar dalam benak Alena. Begitu pun ketika kembali ke kantor. Sikap Mario semakin aneh. Hal ini juga menjadi pertanyaan di antara teman-teman mereka, apa yang sebenarnya terjadi ketika mereka terjebak dalam badai pasir itu.

Cinta yang dipendam membuat Alena kecewa dan sakit, hingga ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan menerima pekerjaan di tempat lain. Alena pergi, Mario jadi makin kacau.

Hah... makanya kalo cinta jangan dipendam, jangan gengsi deh… hihihi…

Tapi, ada yang kurang sreg nih setelah gue baca, hmmm… di situ diceritain kalo Alena mengalami kecelakaan pesawat, tapi… gimana akhirnya Alena bisa selamat agak kurang jelas deh. Tau-tau, Alena muncul aja dengan identitas barunya.

Friday, May 15, 2009

Goloso Geloso

Goloso Geloso
Tanti Susilawati @ 2009
GagasMedia – 2009
316 Hal.

Larasati, seorang gadis dari Indonesia, mendapatkan beasiswa pendidikan musik di Italia. Italia – kota mode, kota yang romantis, juga tempatnya para penggila bola. Beruntung Larasati juga adalah seorang penggila bola, terutama klub Inter Milan.

Sebelum ke Milan, Larasati tinggal di Perugia bersama keluarga Italia yang juga punya anak gadis bernama Renata. Tapi, jangan harap bisa bicara tentang sepak bola dekat Renata, kalau tidak mau mendengar teriakannya yang membahana dan langsung diikuti dengan kemarahan yang hebat. Kenapa? Sesuatu membuat Renata trauma dengan hal-hal yang berbau sepak bola.

Di Milan, Larasati berkenalan dengan sepupu Renata, bernama Chico. Ia ditugaskan Renata untuk menjemput Larasati di bandara. Ternyata, mereka sama-sama tertarik satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.

Tapi, ada ‘ganjalan’ di antara mereka. Keluarga besar Chico adalah fans berat klub bola AC Milan. Mereka menganggap Inter Milan sebagai musuh besar mereka. Larasati akhirnya harus berpura-pura kalau ia juga penggemar fanatik AC Milan.

Masalah lain muncul ketika Larasati semakin sibuk dengan orkestranya. Ia mendapat kesempatan untuk membuat album solo sebagai pemain biola. Kesibukan membuat mereka jarang bertemu. Apalagi secara tidak sengaja, salah satu pentolan klub Inter Milan ternyata ‘tertarik’ pada Larasati. Fransesco Paganini (hmmm.. semoga gak salah nulis), mengajak Larasati untuk bergabung dalam sebuah yayasan yang ia bentuk. Chico cemburu berat.

Masing-masing mementingkan egonya sendiri dan tidak ada yang mau mengalah, dan akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah.

Hmmm.. mampukah romantisme Italia menyatukan mereka kembali? Yang pasti di buku ini, kita bisa membayangkan indahnya kota Milan, karena ada foto-fotonya, meskipun hitam putih tapi mencuri perhatian. Ditambah lagi, berbagai menu Italiano bertebaran di buku ini (bukan resepnya sih – tapi, silahkan bayangkan betapa yummy-nya masakan-masakan itu).

Tema cerita mungkin gak terlalu istimewa, tapi pilihan lokasi dan pernak-perniknya yang bikin jadi menarik.

Thursday, May 14, 2009

9 Matahari

9 Matahari
Adenita @ 2008
Grasindo – 2008
359 Hal.

Sederetan nama-nama terkenal dan ‘penting’ mewarnai bagian endorsement buku ini. Menjanjikan bahwa buku ini adalah buku yang layak dibaca. Tapi, bukan karena itu (saja) yang bikin gue tertarik untuk membacanya, tapi lebih karena judulnya. Gue merasa dari judulnya koq sepertinya mengandung sesuatu yang ‘magis’, yang memberi semangat. Gimana gak… matahari-nya ada 9 gitu, lho…

9 Matahari bercerita tentang perjuangan seorang gadis bernama Matari Anas. Ia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, kalau gak boleh dibilang kekurangan. Ayahnya tak punya pekerjaan jelas, karena krisis moneter membuatnya tak lagi semangat untuk mencari pekerjaan. Ibunya seorang ibu rumah tangga. Kakaknya, Hera, meskipun lulus dengan predikat cum laude, tapi pasrah ketika tak ada perusahaan yang merespons lamaran pekerjaannya.

Tapi, Tari punya semangat lain. Meskipun tertunda hampir 3 tahun, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak pupus. Meskipun ia tahu keluarganya tidak mampu untuk membiayainya, tapi ia tetap tak patah arang. Ia terus membujuk kakaknya dan berusaha mencari pinjaman untuk menutupi biaya kuliahnya.

Perjuangan Tari betul-betul panjang, sulit dan penuh hambatan. Kuliah di Bandung, jauh dari orang tua. Ia betul-betul harus berjuang sendiri menghadapi hari-hari penuh tekanan, terutama dalam soal keuangan. Perhitungan yang cermat dilakukan demi menghemat biaya hidup. Mencari pekerjaan sampingan juga dilakukan untuk mencicil hutang. Tak sediki teman yang mau membantunya, tapi tetap saja, namanya juga hutang, pasti akan ditagih terus.

Belum lagi ternyata, bapaknya yang sudah keburu pesimis, malah nyaris menjatuhkan semangat Tari. Tekanan demi tekanan, ternyata berpengaruh juga pada kondisi kejiwaan Tari. Sampai akhirnya, Tari terpaksa cuti kuliah.

Beruntung masih banyak orang-orang yang peduli pada Tari, karena tahu Tari punya semangat dan cita-cita. Beruntung juga, Tari punya kemampuan lain yang membuka banyak kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Mmmm… novel ini sebenarnya adalah novel yang memberikan ‘pencerahan’. Kaya’nya nih… ini pengalaman hidupnya Adenita sendiri. Karena semuanya begitu detail dan teratur. Mulai dari awal kuliah sampai akhirnya lulus kuliah. Kalau ngeliat riwayat hidup Adenita di halaman belakang buku ini, mudah bagi kita untuk menghubungkan semua tempat-tempat yang tersamar dalam buku ini dengan apa yang Adenita sendiri alami.

Mungkin karena ‘percakapan’ yang minim, lalu alur yang lambat dan seolah tanpa kejutan, kita emang betul-betul seperti baca memoar seseorang. Ada kalanya jadi bosan, karena terlalu berpanjang-panjang penjelasannya. Tapi, buat gue, siapa pun tokohnya, entah nyata atau nggak, gue salut dengan perjuangannya yang ‘berdarah-darah’. Gue dapet sesuatu dari buku ini…

Tuesday, May 12, 2009

Negeri van Oranje

Negeri van Oranje
Wahyungirat, Adept Widiarsa, Nina Riyadi & Rizki Pandu Permana @ 2008
Bentang – Cet. I, April 2008
478 Hal.

Satu lagi buku yang bikin gue iri, bikin gue menyesal terlalu banyak ‘bermain-main’ pas kuliah. Bikin gue kembali bermimpi untuk bisa menjejakkan kaki di luar sana – di tempat lain. Hehehe.. mimpi boleh kan… biar makin semangat (atau makin asyik bermimpi).

Buku yang ditulis ‘keroyokan’ ini bercerita tentang 5 anak Indonesia yang ‘terdampar’ di Belanda demi mengejar gelar master. Mereka berkenalan di Amersfort, di stasiun kereta api yang jadwal keberangkatannya tertunda gara-gara badai – lebih khususnya lagi gara-gara rokok. Biasa deh, di tempat dingin, apalagi yang dibutuhkan seorang cowok untuk mendapatkan kehangatan. Di tengah-tengah sekelompok orang berambut pirang – terselip 5 orang berambut gelap yang saling bertegur sapa, saling menawarkan rokok kretek dan korek api – o ya, lebih tepatnya 4 orang cowok yang saling ber’transaksi’ rokok dan satu perempuan yang ikut bergabung mencari teman setanah air.

Dari sana lahirnya nama Aagaban – yang terdiri dari Lintang – kuliah di Leiden, Daus – si anak Betawi Asli, PNS dari Departemen Agama yang dapet beasiswa untuk kuliah di Utrecht, ada Wicak – pekerja di sebuah LSM yang sekarang kuliah di Wageningen, lalu, Banjar – si manager marketing perusahaan rokok terkemuka di Indonesia, sekarang berjuang di Rotterdam, dan terakhir, cowok yang paling ganteng (di antara mereka), Geri, anak orang kaya yang udah lama bermukim di Belanda, dan kuliah di Den Haag.

Kebersamaan mereka menghadirkan berbagai petualangan – bukan hanya menjelajah kota-kota di Belanda, tapi juga petualangan batin yang membuat mereka terus mempertanyakan idealisme mereka, apa tujuan mereka setelah mereka lulus – apa mereka akan pulang ke Indonesia, tapi gak berkembang, atau terus berkarya demi bangsa tapi dari kejauhan.

Di sela-sela tugas mereka, pontang-panting menyelesaikan thesis, terselip ‘kisah perjuangan’ merebut hati Lintang, satu-satunya ‘kembang’, kisah yang sempat membuat mereka terlibat perang dingin. Keuangan yang pas-pasan membuat mereka juga harus mengatur strategi agar uang beasiswa mereka cukup untuk hidup mereka. Demi mendapatkan tambahan, mereka harus rela mengorbankan waktu mereka untuk kerja paruh waktu. Seperti Banjar kerja di sebuah restoran Indonesia atau Lintang yang nyambi jadi guru tari.

Gak setiap hari mereka ketemu, tapi yang pasti hari-hari mereka nyaris selalu diisi dengan chatting via YM atau kirim-kiriman email garing di milis Aagaban. Dan mumpung di negeri orang, kadang-kadang mereka juga punya ‘obsesi’ untuk melakukan sesuatu yang belum tentu bisa mereka lakukan di Indonesia, misalnya nih, minum bir, nyoba ‘cimeng’ – atau kaya’ Lintang, pacaran sama orang bule. Tapi, sialnya (atau untungnya) Daus, berkat doa, aji-ajian sapu jagat sang Engkong, dia selalu terhindar dari perbuatan maksiat. Hahaha…

Kurang tidur, ke kampus naik sepeda, menunggu kiriman rokok kretek plus jalan-jalan yang menyenangkan, adalah ritual yang mereka jalani selama di Belanda. Meskipun banyak teman lain, tapi tetap mereka selalu mencari anak-anak Aagaban kalau lagi ada masalah. Tapi, nih… ketika salah seorang dari mereka punya rahasia besar, bisa gak ya mereka menerima hal itu?

Bagusnya buku ini juga dilengkapi sama berbagai tips seputar kehidupan di Belanda (tentunya tips yang membuat pundi-pundi uang gak jebol), misalnya tips seputar sarana transportasi, lalu nyari tempat tinggal yang hemat, ada juga daftar hari-hari perayaan di Belanda yang menarik, terus, tips backpacking dan lain-lain.

Thursday, May 07, 2009

Orange

Orange
Windry Ramadhina @ 2008
GagasMedia – 2008
296 Hal.

Faye Muid, gadis tomboy, seorang fotografer. Bercita-cita bikin pameran foto sendiri. Foto-foto Faye unik (katanya), punya sentuhan pribadi.

Diyan Adnan, pengusaha muda, pemilik sejumlah mall. Konon, dia beli mall sambil makan siang, atau lagi main golf.

Secara ‘kebetulan’, kedua orang tua mereka berteman baik. Orang tua Faye pemilik beberapa franchise ternama, sedangkan orang tua Adnan memiliki sejumlah pertokoan dan bisnis besar lainnya. Atas nama bisnis, para orang tua sepakat untuk menjodohkan Faye dan Diyan.

Semua segera diatur, kencan pertama, konferensi pers yang berisi sejumlah pertanyaan dan jawaban yang harus mereka berdua berikan. Faye dan Diyan tentu kaget, tapi mereka menerima perjodohan ini tanpa banyak perlawanan.

Faye berusaha keras menyukai Diyan. Sementara Diyan masih berkutat dengan masa lalunya. Ia pernah sakit hati karena ditinggal kekasinya, Rera, yang mengejar impian untuk jadi model terkenal. Meskipun, Rera ada di Paris, tapi, Diyan belum bisa melupakannya. Ia (dan juga Rera), ternyata masih berharap masih ada secuil kesempatan untuk mereka berdua.
Rera kembali ke Jakarta dalam rangka promosi produk kosmetik yang memakainya sebagai model iklan. Pada saat yang sama, Diyan dan Faye bertunangan. Meskipun berita pertunangan mereka berdua sudah sampai ke teling Rera, tapi, Rera tetap nekat menghubungi Diyan.

Selama Rera di Jakarta, Diyan diam-diam menemuinya. Faye sesungguhnya kecewa. Tapi, ia tidak bisa berharap banyak karena ia tahu Diyan tidak mencintainya.

Lalu, ada Zaki, yang ternyata adik Diyan. Tapi, Zaki ini tipe pemberontak, yang gak mau ngikutin jejak orang tuanya sebagai pengusaha. Dia memilih jalur bisnisnya sendiri. Zaki punya biro iklan bersama teman-temannya. Dan, kebetulan ia memakai jasa Faye sebagai fotografer. Zaki sama sekali gak menyangka kalau Faye akan bertunangan dengan kakaknya, karena dia tahu, Faye bukanlah tipe cewek idaman Diyan. Diam-diam, Zaki juga menaruh hati pada Faye.

Bertunangan dengan pengusaha terkenal, membuat hubungan mereka sarat dengan gosip. Faye harus belajar diam ketika ia dikejar-kejar wartawan. Dan harus belajar juga menerima tunangannya yang masih menyimpan hati pada mantan kekasihnya.

Tapi, lagi-lagi ini adalah tentang sebuah pilihan. Karena cinta toh gak bisa dipaksain, apalagi atas nama bisnis. Ternyata membuat pilihan itu, meskipun awalnya ada rasa terpaksa, tetap sulit - tetap sulit melepaskan apa yang udah ada dalam genggaman kita (wise mode: on)

Buku ini bikin gue ‘termehek-mehek’. Hahahaha… mungkin karena gue lagi PMS, makanya sifat melow dan cengeng gue jadi keluar (tapi… tenang… gak ada yang namanya banjir air mata). Gue suka sama cara mbak Windry menulis. Sebagai pembaca, gue ngerasa ‘dituntun’ pelan-pelan, setiap gue penasaran, pelan-pelan ketemu jawabannya. Berbeda genre sama novel keduanya yang sarat ketegangan dan butuh konsentrasi tinggi, buku ‘Orange’ ini bikin segar. Dan, seperti biasa ditulis dengan 'persiapan' yang lengkap - liat aja di blog-nya.

O ya, tadinya gue pikir, Rei - sepupunya Diyan yang juga asistennya - bakal jatuh cinta sama Diyan dan bikin Faye jadi mundur (hehehe, mungkin adegan ini hanya ada dalam sinetron) - eh.. tapi gak mungkin juga kan... mereka kan sepupuan... atau... Rei jadi jutek karena Faye bikin Diyan 'mangkir' dari meeting-meeting penting (lagi-lagi sinetron mode: on)

Tuesday, May 05, 2009

After the Honeymoon

After the Honeymoon
Ollie @ 2008
GagasMedia – Cet. I, 2008
242 Hal.

Jadi pengantin baru, gak berarti semuanya jadi indah. Bayangan tentang masa-masa indah sebagai pengantin baru setelah bulan madu – rumah sendiri, sarapan berdua, berangkat kerja berdua. Tapi… ternyata, tinggal berdua juga membuka pandangan baru tentang pasangan kita. Kalau yang tadinya keliatannya rajin, ternyata males bangun pagi. Yang katanya suka kopi, begitu dibikinin kopi – bahkan yang instant – tetap aja ada yang salah.

Ata dan Barra berusaha mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tapi, ternyata semuanya berbeda dengan yang mereka bayangkan. Setiap hari, Ata yang jadi supir karena Barra trauma dan tidak pernah mau mengendarai mobil lagi. Barra ternyata juga termasuk orang yang santai, gemar handphone model terbaru. Tapi, dengan niat menjadi istri yang baik dan pengertian, Ata mencoba mengerti kegemaran dan segala kekurangan Barra.

Dibanding Barra, dalam hal pekerjaan Ata lebih baik. Baru pulang dari bulan madu, Ata sudah ditawari posisi baru yang menuntut dirinya untuk bekerja lembur. Sementara Barra dengan terpaksa menerima ajakan temannya untuk dugem, sekedar menunjukkan kalau dirinya tidak berubah meskipun sudah menikah.

Masalah mulai semakin runyam ketika Ata hamil dan memutuskan pindah ke rumah orang tuanya. Tinggal di rumah mertua membuatnya tidak nyaman. Apalagi memang, sebelum menikah, baik Ata maupun Barra, bukanlah menantu idaman.

Puncaknya, ketika Barra diam-diam mengambil tabungan milik mereka berdua. Sementara Ata berniat menyimpan tabungan itu untuk keperluan persalinan. Hubungan mereka memanas. Barra pun pergi meninggalkan Ata.

Campur tangan kedua orang tua juga terkadang bikin runyam. Anak-anak mereka pengen berbaikan, tapi orang tua malah bkin makin panas. Godaan adanya perempuan lain (atau mungkin laki-laki lain) juga mampu menggoyahkan iman di saat hubungan antar suami-istri sedang berada di ujung tanduk.

Lagi-lagi pengertian dan mampu meredam ego masing-masing, juga komunikasi, selalu jadi kunci dalam menyelesaikan masalah. Harus selalu ingat, apa sih tujuan kita ketika kita memutuskan untuk menikah. (hehehe.. curcol…)

Buku ini mungkin bisa jadi buku ‘panduan’ bagi pengantin baru. Buku panduan yang ringan dan gak penuh teori-teori. Yahhh.. meskipun tentunya kenyataan kadang gak seindah dan semudah gambaran di buku ini. Mungkin di luar sana, banyak pasangan muda yang kasusnya mirip dengan Ata dan Barra, atau mungkin mirip dengan Widi dan Jeff. Meskipun kasus Widi dan Jeff beda sama Ata dan Barra, tapi tetap aja, kuncinya sama.

Tapi… ada satu yang gak pas nih… katanya, Barra takut nyetir mobil, tapi koq, di Solo dia berani aja tuh nyetir mobil? Apa dia takut nyetir di Jakarta aja ya?

Like this book, like the cover…

Metropolis

Metropolis
Windry Ramadhina @ 2009
Grasindo – 2009
331 Hal.

Kepolisian disibukkan dengan pembunuhan berantai pimpinan kelompok pengedar narkotika. Adalah Augusta Bram, polisi dari bagian narkotika yang sudah menangani kasus ini. Awalnya, perkiraan terjadinya pembunuhan ini ‘hanya’ karena persaingan antar gank memperebutkan daerah kekuasaan mereka. Para kelompok ini dikenal dengan nama Sindikat 12.

Kalau sudah tahu siapa para pemimpin dan siapa saja anggotanya, kenapa gak ditangkap aja? Hmm.. ternyata gak semudah itu. Para pengedar ‘bermain’ dengan sangat hati-hati dan bersih. Mereka pintar mengatur semua transaksi dan keuangan mereka, agar polisi tidak bisa melacak bisnis kotor mereka. Terkadang polisi juga harus tarik ulur, saling bertukar informasi dan bukti, demi mendapat keping-keping informasi lainnya.

Augusta Bram mulai mencari pola dari pembunuhan berantai itu. Apa motif dari si pembunuh sebenarnya? Dibantu Erik, asistennya, mulailah ia merunut dari awal, siapa di antara Sindikat 12 yang pemimpinnya dibunuh paling awal. Pola yang begitu rumit dan tidak berbentuk.

Keanehan lain timbul, ketika di setiap tempat kejadian perkara, ada seorang perempuan yang hadir. Perempuan yang sama yang ada ketika pemakaman Leo Saada – ada juga di tempat Markus ditemukan tewas, bahkan ada di tempat Soko Galih terjun bebas dari rukonya.

Ternyata perempuan itu bernama Miaa, mantan polisi juga. Ia punya misi tersendiri untuk ada di setiap tempat kejadian.

Bram harus mau kembali bekerja sama dengan Ferry Saada agar bisa menangkap pembunuh ayah Ferry. Dari penyelidikan yang panjang, terungkaplah kejadian tragis di tahun 1991. Motif balas dendam menjadi latar belakang dari pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kerja keras Bram nyaris terhenti karena atasannya, Burhan, yang ingin mengalihkan kasus ini ke bagian lain. Tapi, Bram tidak mau berhenti begitu saja, ketika titik terang sudah mulai terlihat.

Nama-nama baru muncul seiring berkembangnya kasus ini. Seperti jaring laba-laba, semuanya ternyata berhubungan satu sama lain dan punya kepentingan masing-masing. Tapi, yang rada gak jelas… kaya’nya tokoh Aretha? Kenapa dia begitu baik sama keluarga Al? Apa hubungannya ya?

Gue suka novel ini. Cara penulisannya rapi banget. Semuanya teratur dan detail. Mulai dari awal, ketika pemakaman Leo Saada, gue bisa ngebayangin gimana prosesinya. Gue jadi membayangkan film-film mafia, dengan mobil limousine hitam, para pelayat dengan baju hitam-hitamnya, yang perempuan lengkap dengan kacamata hitam, yang pria tetap cool. Lalu, masuk ketika tokoh-tokoh mulai muncul, gue ngebayangin sosok Ferry Saada bertampang seperti mafia-mafia Cina (tokoh langsung berubah dari wajah Latino ke wajah-wajah seperti Andy Lau – hehehe.. gue gak terlalu hafal nama-nama pemain film Cina, hanya sebatas Andy Lau). Lalu, tokoh Johan yang tampak rapuh, tapi berhati dingin. Tapi, entah kenapa, gue agak kesulitan membayangkan tokoh Bram – rasanya, semua yang gue inget, rada kurang macho untuk menggambarkan sosok Bram.

Perpindahan setiap bagian cerita juga rapi banget. Meskipun tempat dan tokohnya berbeda, tapi tetap berhubungan dengan bagian sebelumnya. Selain itu, Mbak Windry juga bikin blog khusus untuk novel ini. Di sana bisa diliat foto-foto ‘setengah wajah’ dari tokoh-tokoh di sini. Kaya’nya riset buat buku ini juga lumayan dalem. Istilah-istilah narkotika, kepolisian cukup detail. Gue menikmati banget baca buku ini. Gue ikutan tegang dan penasaran (beneran lho… Bukan karena gue dapet buku ini gratis, makanya gue suka…)

Monday, May 04, 2009

Breaking Dawn (Awal yang Baru)

Breaking Dawn (Awal yang Baru)
Stephanie Meyer @ 2008
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU – Cet. I, Januari 2009
864 Hal.

Huaaaaa… akhirnya… akhirnya… selesai juga baca Breaking Dawn ini. Setelah separo baca bahasa Inggris, terus, gak sabaran… beli yang bahasa Indonesia. Tapi, ternyata, juga tidak mempercepat selesainya. Buku yang super tebal ini ternyata menghabiskan waktu berbulan-bulan. Soalnya bacanya diselingi sama baca buku-buku yang lain.

Akhirnya… Bella dan Edward menikah. Meskipun banyak pro dan kontra (terutama dari para werewolf… lebih tepatnya lagi dari Jacob), toh Bella tetap pada pendiriannya dan pada pilihannya. Prosesi pernikahan dilakukan di rumah kediaman keluarga Cullen. Dengan dekorasi rancangan Alice, pesta itu menjadi pesta itu menjadi indah dan romantis. Para tamu terdiri dari golongan manusia dan para vampire. Satu-satunya tamu yang paling diharapkan Bella tidak hadir untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Tapi, Edward membuat kejutan untuk Bella, meskipun nyaris terjadi kekacauan.

Seperti layaknya pengantin baru, Bella dan Edward pun pergi berbulan madu. Tentu saja, tempat bulan madunya juga pasti luar biasa – gak mungkin kan, Edward kasih kejutan yang biasa-biasa aja untuk Bella. Tapi, tetap saja, mereka tidak bisa menikmati bulan madu itu. Karena, Edward yang takut. Benar saja, selama bulan madu, tubuh Bella penuh dengan lebam.

Bulan madu itu juga berakhir dengan tidak enak, karena Bella ternyata langsung hamil! Kehamilan itu tidak wajar. Bukan hanya karena periode kehamilan yang tidak seperti manusia biasa, yaitu 9 bulan. Tapi, juga karena asupan gizi yang dibutuhkan Bella bukanlah susu kehamilan, melainkan darah segar!. Sementara itu, bayi di kandungan Bella juga membuat Bella kesakitan dan berkembang dengan cepat.

Charlie yang sejak hari pernikahan Bella belum melihat Bella lagi, diberitahukan bahwa Bella sakit karena virus yang menyebar di tempat bulan madu mereka, sehingga tidak mungkin ditengok. Lalu, di kawanan werewolf, terjadi perpecahan – antara Jacob yang ingin Bella tetap menjadi ‘Bella’ dan Sam – yang ingin segera ‘bertempur’ dengan kaum vampire untuk mencegah lahirnya bayi immortal dari rahim Bella.

Jacob memilih memisahkan diri dari kawanannya. Seth – yang bersahabat dengan vampire mengikuti Edward. Dan karena ingin menjaga keselamatan Seth, akhirnya dengan terpaksa, Lea juga ikut dengan Jacob. Mereka bertiga bergiliran berpatroli di sekitar kawasan tempat tinggal keluarga Cullen.

Persalinan Bella tidak berjalan dengan lancar. Bella mempertaruhkan nyawanya, meskipun itu artinya semakin dekat dengan apa yang sudah dipilihnya. Edward pun tidak punya pilihan lain, selain ‘menyelamatkan’ nyawa Bella dengan caranya sendiri. Jacob harus kembali kecewa.

Tapi, hehehe… ternyata Jacob meng-imprint Renesmee – itu nama anak Bella dan Edward. Bella sempat berang. Sebagai vampire baru (upss… spoiler), perilaku Bella terus diawasi, karena ada kecenderungan ia mengincar para manusia. Bahkan, Bella harus diawasi ketika berdekatan dengan anaknya yang ‘blasteran’ manusia – vampire. Perkembangan Renesmee juga berbeda dari bayi pada umumnya. Dalam hitungan hari, Renesmee sudah seperti anak dua tahun dan pinter banget.

Kalau Edward punya kemampuan membaca pikiran, Bella – selain kuat – punya kemampuan ‘melindungi’ dirinya agar vampire lain tidak mudah membaca pikirannya.

Kehadiran Renesmee membuat heboh dunia ‘pervampiran’. Kelompok Volturi yang sangat ditakuti akan datang untuk mencegah kehadiran bayi immortal. Mereka menganggap keluarga Cullen sudah melanggar aturan. Ketegangan melanda kaum vampire, tampaknya pertumpahan ‘darah’ tidak dapat dielakkan. Carlisle, Alice dan Jasper pergi untuk mencari teman-teman vampire yang bisa mendukung mereka. Rumah keluarga Cullen kedatangan vampire dari berbagai penjuru dunia.

Buku ini tebeeelllll banget… agak cape’ juga bacanya. Buku ini terdiri dari 3 bagian. Bagian pertama, itu Bella saat masih jadi manusia, masa-masa honeymoon-nya. Bagian kedua itu bagiannya Jacob. Dasar bahasa cowok, kadang sembarangan… hehehe.. bukan gak sopan, tapi cuek banget. Nah, bagian ketiga dan bagian yang panjang, bagian ketika Bella sudah berubah wujud – gimana Bella belajar bertarung dalam waktu singkat, terharunya jadi ibu dan akhirnya bisa merasakan ‘true love’-nya yang bener-bener sama Edward.

Well… cerita berakhir bahagia. Tapi, mungkin asyik juga diceritain gimana kehidupan Renesmee yang ‘blasteran’ itu, sementara orang tuanya sendiri udah jadi vampire.

The Spook’s Apprentice

The Spook’s Apprentice
Joseph Delaney @ 2004
Hardi Liman Saputra (Terj.)
Penerbit Matahati – Cet. I, Maret 2009
326 Hal.

Menjadi anak ketujuh tampaknya tidak menjadikan Thomas J Ward punya banyak pilihan akan jadi apa dirinya kelak ketika dewasa. Tanah pertanian milik ayahnya sudah pasti diwariskan untuk kakak tertuanya, Jack. Sedangkan anak-anak yang lain ditawarkan untuk pekerja di penambangan. Hingga giliran Tom tiba, sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dicarikan ayahnya untuk Tom. Akhirnya, pilihan terakhir jatuh kepada menjadi murid seorang Spook. Menjadi Spook bukanlah pekerjaan favorit, justru menjadi Spook membuat seseorang akan dijauhi oleh masyarakat desa.

Salah satu syarat untuk menjadi Spook adalah anak laki-laki ketujuh dari anak laki-laki ketujuh. Ayah Tom juga anak ketujuh, dan bukan sebuah kebetulan hal ini terjadi pada Tom. Ternyata, ibu Tom yang misterius sudah merencanakan ini sejak ia berniat menikah dengan ayah Tom. Spook sendiri tugasnya adalah membasmi segala hal yang jahat yang selalu mengganggu masyarakat desa County. Hal jahat itu bukan hanya perampok, pencuri, tapi lebih kepada ‘kekuatan’ jahat itu sendiri, seperti misalnya ‘membasmi’ para penyihir. Karena itulah, mereka kerap dijauhi dan disegani, karena pekerjaan mereka yang berbau-bau mistis.

Tom harus meninggalkan rumah mereka, mengikuti Sang Spook, Gregory, untuk tinggal di rumahnya. Perjalanan jauh ditempuh dengan berjalan kaki, hanya dengan membawa bekal sepotong keju. Di perjalanan, memasuki daerah hutan yang kelam, Tom beberapa kali merasakan adanya hawa-hawa aneh yang melingkupi mereka. Sembari berjalan, Gregory terus menjelaskan berbagai hal yang nantinya harus dihadapi oleh Tom.

Pelajaran-pelajaran yang bersifat teori menanti Tom. Meskipun teori, tapi menyisakan banyak misteri, yang kadang enggan dijawab oleh Sang Spook.

Suatu hari, Tom mendapati ‘pelajaran praktek’ secara kebetulan. Ia diminta Gregory untuk pergi ke desa, mengambil beberapa bahan untuk keperluan pokok mereka. Dalam perjalanan pulang, Tom diganggu oleh beberapa anak yang ingin mengambil belanjaan Tom. Ia ditolong oleh seorang gadis bersepatu runcing – seseorang yang harusnya ia hindari, tapi ia malah membuat janji.

Inilah awal bencana, awal semua kesulitan yang harus dihadapi oleh Tom. Apalagi Alice – si gadis bersepatu runcing itu, meminta Tom untuk membantunya membebaskan Mother Malkin – penyihir tua yang sangat jahat, yang kejahatannya bisa dibayangkan seburuk yang bisa kita pikirkan. Teror pun dimulai – beberapa anak kecil hilang. Darah anak-anak konon dikabarkan bisa membangkitkan kekuatanan Mother Malkin.

Tom harus bertanggung jawab atas ‘kekacauan’ yang ia buat. Ya.. sebagai anak ‘magang’, belum tahu ‘medan’ yang sebenarnya. Tom jadi kurang berhati-hati dan cenderung kurang berpikir panjang. Mampu apa gak dia jadi the Next Spook?

Buku ini benar-benar gelap. Sesekali bikin merinding. Abis settingnya di hutan, sebagian besar di waktu malam… Hiii… Kaya’ film apa ya? Sleepy Hollow?

Friday, May 01, 2009

The Tales of Beedle the Bard

The Tales of Beedle the Bard (Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita)
J.K. Rowling @ 2007/2008
Nina Andiana & Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Maret 2009
144 Hal.

The Tales of Beedle the Bard adalah buku yang salah satu ceritanya adalah tentang Kisah Tiga Bersaudara, sebuah kisah yang diwariskan Dumbledore kepada Hermione Granger. Buku yang berisi dongeng-dongeng pengantar tidur yang ditulis para penyihir – layaknya para muggle yang punya kisah Cinderella, Putri Tidur, Putri Salju dan lain-lain yang pada umumnya berakhir dengan bahagia.

Nah, dalam buku ini, kisah-kisah yang disajikan cenderung berakhir ‘tragis’ atau tidak seindah dongeng-dongeng muggle – meskipun ada segi positif yang bisa diambil. Dari lima kisah yang ada, kalau dilihat dari judul-judulnya, emang lucu-lucu sih. Tapi. Ternyata, kalau dibaca lebih lanjut… wah, bisa-bisa gak cocok buat anak-anak, karena terlalu ‘mengerikan’. Professor Dumbledore sendiri ‘membuat’ beberapa catatan di tiap akhir cerita –komentar atau pendapatnya tentang kisah-kisah tersebut, beserta pro-kontranya di kalangan penyihir sendiri. Hehehe… jadi serius nih, buku ini. Mari kita liat satu-satu ceritanya.

Yang pertama adalah kisah Sang Penyihir dan Kuali Melompat. Cerita tentang anak seorang penyihir yang sifatnya bertolak belakang dengan ayahnya. Jika ayahnya mau menolong para muggle, maka anaknya akan membiarkan saja muggle-muggle yang membutuhkan pertolongannya. Hingga suatu hari ia sangat terganggu dengan keributan yang disebabkan oleh kuali peninggalan ayahnya. Hmmm… kebencian terhadap kaum muggle pun jadi inspirasi untuk sebuah dongeng.

Sementara kisah kedua Air Mancur Mujur Melimpah. Kisah tentang legenda sebuah air mancur yang bisa setiap harinya akan mengambil satu orang yang beruntung untuk mendapatkan berkah. Ini mungkin bisa disamakan dengan legenda-legenda sumur wasiat (hahaha… ngarang banget sih, gue…). Justru di kisah ini diajarkan bahwa kita harusnya bisa percaya pada kemampuan diri kita sendiri, jangan mengandalkan kekuatan sesuatu benda atau mitos-mitos yang beredar.

Kisah ketiga - Penyihir Berhati Berbulu – adalah kisah yang paling mengerikan menurut gue. Berdarah-darah dan yang paling ‘hitam’. Cerita tentang seorang penyihir yang hatinya itu begitu dinging, buta sampai-sampai ia tidak pernah merasakan yang namanya cinta. Justru ia meremehkan orang-orang yang mabuk kepayang. Tapi, ketika cinta itu datang, justru hati itulah yang membunuhnya. Hiii.. serem dan tragis banget. Kisah cinta sehidup semati yang berakhir tidak seindah kisah Romeo dan Juliet.

Kisah keempat - Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak – yang paling gue suka dari namanya. Abis lucu aja namanya. Ceritanya ada raja yang pengen banget diakui kalau dia itu penyhir yang paling handal, padahal dia sama sekali gak bisa menyihir. Maka itu, dia minta semua penyihir diberantas, diburu. Tapi, ternyata ada satu orang yang licik, yang pura-pura jadi guru si raja. Babbity Rabbity yang nantinya akan jadi pahlawan yang bisa menyadarkan si raja kalau sikapnya itu salah. Katanya sih, Babbity Rabbity ini merupakan salah satu ‘pengakuan’ adanya penyihir yang bisa bertransfigurasi.

Kisah kelima Kisah Tiga Bersaudara – kisah yang menurut gue paling bagus, dan paling bijaksana. Sebenernya sih standard aja, tentang tiga bersaudara, yang harus membuat prioritas mana yang paling dia inginkan ketika mereka boleh meminta satu permintaan. Seperti biasa, tentu saja si saudara paling kecil yang paling bijaksana, sehingga ia bisa membuat satu permintaan yang paling baik.

Cerita-ceritanya simple aja kan? Tapi, disajikan dari sudut ‘penyihir’ yang bahkan ketika dibacain untuk anak-anak penyihir bisa berefek muntah-muntah, pusing-pusing, kalau si anak gak suka. Makanya, kisah ini sering dimodifikasi jadi versi yang bersahabat untuk para penyihir.

Tapi, kaya’nya lebih panjang penjelasannya Dumbledore dibanding dongeng-dongengnya sendiri.

Tuesday, April 21, 2009

Honeymoon with My Brother

Honeymoon with My Brother
Bertualang Keliling Dunia Gara-gara Putus Cinta
Franz Wisner @ 2005
Berliani M. Nugrahani (Terj.)
Penerbit Serambi – Cet. II, Desember 2008
485 Hal.

Diputusin pacar kaya’nya udah gak enak banget. Kaya’nya semangat untuk hidup dan beraktivitas lain udah gak ada. Apalagi yang namanya ditinggalin pasangan, calon pendamping, hanya seminggu sebelum hari pernikahan. Kebayang gak, gedung udah ok, catering, dekorasi, undangan udah tersebar dan tinggal menunggu sodara-sodara jauh pada dateng… tau-tau… jeng… jenggggg… si CMP or CMW bilang, “Ma’af, aku gak bisa meneruskan ini semua.” Hah… alesannya? Cuma gak bisa… gak ada penjelasan lain.

Franz Wisner, mengalami hal ini. Harusnya Sea Ranch, sebuah daerah di Pesisir California, jadi saksi ketika mereka mengucapkan sumpah yang sakral itu. Harusnya, kue buatan LaRue, nenek tiri Franz, jadi kue pengantin yang paling indah. Bulan madu ke Kosta Rica juga hanya tinggal kenangan. Annie, ‘mencampakkan’ Franz dengan alasan yang tidak jelas itu.

Beruntung Franz memiliki keluarga, teman-teman yang memberi dukungan. Pesta tetap ada, hanya saja tidak ada mempelai wanitanya. Di Sea Ranch juga, teman-teman Franz menghiburnya. Franz yang tentu saja terpukul, tidak langsung jadi terpuruk dan berlarut-larut dalam kesedihan. Malah ia mengajak adiknya, Kurt, untuk tetap melaksanakan perjalanannya ke Kosta Rika.

Ternyata perjalanan itu memberikan inspirasi positif bagi Franz dan Kurt. Franz yang selama ini tidak terlalu dekat dengan Kurt, merasa inilah saat melakukan sesuatu yang berbeda. Tak hanya kehilangan kekasih, tapi di tempatnya bekerja pun, Franz ‘dicampakkan’ oleh atasannya. Gara-gara ini, rencana ‘gila’ pun disusun. Bersama Kurt, yang juga mengalami masalah rumah tangga, Franz merencakan sebuah ‘bulan madu’ bersama adiknya. Padahal, dia sendiri tidak tahu, bagaimana ia harus menghadapai Kurt yang selama ini tidak terlalu dikenalnya.

Rencana perjalanan segera disusun. Budget segera dihitung – ada dari bonus, ada dari hasil penjualan rumah. Didukung oleh LaRue, mereka pun pergi. Perjalanan mereka pertama menuju ke Eropa Timur. Perjalanan yang tidak selalu mulus, karena di awal saja, mereka sudah harus kehilangan paspor, padahal visa-visa untuk masuk ke negara-negara yang susah sudah diurus dan sudah ok. Kurt, yang lebih santai, selalu punya banyak akal. ‘Kesialan’ kecil di awal tidak menyurutkan langkah mereka.

Di Eropa Timur, mereka berkeliling dengan mobil baru Kurt menuju Rusia, Swedia, Rumania. Di Praha, Franz terlibat hubungan singkat dengan seorang perempuan.

Dari benua Eropa, Franz dan Kurt menuju Asia Tenggara – menuju Indonesia, Thailand, Kamboja, Vietnam. Indonesia… tentu saja mampir ke Bali, tapi, ternyata, buat mereka Bali terlalu ramai – meskipun mereka kagum dengan adu ayam-nya, sampai akhirnya mereka mempersingkat kunjungannya ke Bali dan menyepi ke Lombok dan bertemu sesama backpackers yang ternyata punya ‘dewa’, terus, ke Pulau Komodo demi ngeliat Komodo.

Setelah dari Asia Tenggara, mereka menuju Amerika Utara dan Selatan – Brazil membuat Franz jatuh cinta dan membuatnya ingin berkunjung ke sana sekali lagi.

Perjalanan berakhir di Benua Afrika, yang katanya mereka, merupakan ujian terberat selama perjalanan mereka yang menempuh waktu dua tahun itu. Di sana, semua pelajaran lengkap bisa didapat – tertawa ketika anak-anak kelaparan memeluk kaki mereka, ceria ketika hanya bermain di halaman karena gak ada tv, bahagia bahkan ketika lapar.

Di sela-sela ‘perpindahan’ antar benua, mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Amerika, melihat anjing-anjing Kurt, menengok LaRue yang selalu mereka kirimi kartu pos di setiap persinggahan mereka – LaRue yang menempelkan paku-paku di peta, menandai jejak-jejak Franz dan Kurt.

Perjalanan panjang ini membuat Franz semakin bersyukur dengan apa yang dia miliki, dan belajar merelakan apa yang sudah lepas dari dirinya – terutama yang menyangkut soal Annie. Bergaul dengan penduduk setempat dan bernegosiasi sendiri dengan petugas travel, hotel, mereka pun jadi gak percaya dengan yang namanya Lonely Planet. Foto Franz dengan George W. Bush jadi jimat mereka untuk lolos dari dari polisi yang reseh. Banyak hal yang serius, tapi juga kocak. Misalnya saat Franz cerita tentang supir taksi yang paling menyebalkan. Perjalanan panjang mereka ini akhirnya menarik minat koran-koran di Amerika, sehingga Franz pun jad ‘wartawan travel’ dadakan.

Buku-buku traveling begini selalu membuat gue iri, selalu membuat gue bertanya-tanya, kapan gue bisa jalan-jalan, gak usah keliling dunia, tapi keliling Indonesia dulu aja deh… Karena ini cerita perjalanan a la backpacker, tempat-tempat yang didatangi mereka jadinya unik-unik, bukan apa yang ada di brosur biro travel, tapi justru dari rekomendasi teman-teman atau malah penduduk setempat.

Gue ikut ‘terpukau’ dengan perjalanan mereka. Bahkan ikutan ngerasa capek ketika mendekati akhir perjalanan. Serasa pengen cepet-cepet sampai rumah, tapi masih belum mau liburan berakhir. Jarang-jarang, gue bisa suka sama buku non-fiksi seperti ini. Kemasan cerita jalan-jalan bikin menarik. ‘Pelajaran’ didapat dengan cara-cara yang gak terlalu serius, tapi tetap ‘dalam’.

Monday, April 20, 2009

Glam Girls series: Reputation

Glam Girls series: Reputation
Tessa Intanya
GagasMedia – Cet. I, 2009
346 Hal.

Di buku kedua seri Glam Girls ini, yang jadi tokoh ‘pencerita’ adalah Rashida Agashi Pradokso alias Rashi. Rashi yang jutek abis, yang bossy, yang paling bitchy di antara Adrianna dan Maybella.

Rashi adalah anak ketujuh dari seorang pengusaha terkenal dan seorang seniwati yang juga terkenal. Ibu Rashi, yang namanya Ibu Ayu – orang Bali, adalah istri keempat dari bapak Pradokso. Rashi, bisa dibilang anak kesayangan Pak Pradokso, his lucky #7.

Di novel ini, pembaca jadi bisa lebih mengenal sosok Rashi di balik sikapnya yang judes itu. Diliat dari judulnya, Reputation, tentu saja menyangkut sepak terjang Rashi di dunia pergaulan yang glamour.

Di buku pertama, tentunya udah tau kalau Rashi mendepak Marion karena menganggap Marion, si bule blasteran Peranci itu, adalah pengkhianat, sampai akhirnya, Rashi ‘merekrut’ anggota baru yang dianggap geek, yaitu Adrianna.

Ternyata, memang banyak yang pada dasarnya berniat mencari-cari kejelekan Rashi (meskipun ia emang dikenal ngeselin, demi menjatuhkan reputasi Rashi. Sebuah blog misterius muncul, yang isinya mengupas kenakalan, kejahatan Rashi satu per satu. Rashi tentu saja marah besar, meskipun ia tetap bersikap tenang dan menunjukkan kalau dia gak peduli dengan omongan ‘sampah’ kaya’ begitu.

Awalnya, berita di blog itu hanya seputar kegiatan-kegiatan clubbing, shopping dan hal yang remeh-temeh, seperti Rashi yang kedapatan jalan berdua cowok lain yang bukan pacarnya. Tapi, lama-lama, koq, mulai menyinggung keluarga Rashi. Blog itu mulai menjelekkan orang tua Rashi – ayahnya yang sakit-sakitan, ibunya yang lagi gila popularitas. Buntutnya juga menjelekkan, Arian, seorang cowok anak baru di VIS, yang juga anak dari pegawai administrasi di VIS. Arian, yang mungkin selama ini gak masuk kategori cowok yang bakal dideketin Rashi. Rashi mulai gerah, ia mulai mengatur strategi untuk melancarkan serangan balas dendam bagi si pembuat blog yang sudah ia ketahui identitasnya.

Di buku ini juga dibahas tentang hubungan Rashi dan Lukas, cowoknya, yang ternyata hanya untuk having fun-nya Rashi.

Ternyata, kalau setelah membaca tentang Rashi, emang dia itu bossy banget. Gampang banget marah-marah dan gak suka ditentang. Suka meremehkan orang… tapi, ternyata, Rashi juga punya keahlian seperti fotografi. Dia juga sayang banget sama ayahnya. Anggota klub renang – bukan cheerleader. Dan lebih punya sikap dan pendirian yang lumayan kuat.

Mungkin karena ditulis sama penulis yang beda, karakter Adrianna jadi keliatan beda dari di buku pertama, kalo May sih, masih tetap dengan sikap centilnya. Gue jadi lebih suka sama si Rashi, daripada Ad yang dulu sebel-sebel gak jelas sama Rashi and the gank. Emang sih, Rashi terkadang mampu bikin orang susah… tapi, hmmm.. emang jangan main-main sama Rashi… hehehe…

Kalimat-kalimat berbahasa Inggris dan gaul masih bertebaran di buku ini, dan tentu saja merk-merk terkenal. Gak terlalu istimewa juga sih dibanding buku pertama.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang