Tuesday, May 12, 2009

Negeri van Oranje

Negeri van Oranje
Wahyungirat, Adept Widiarsa, Nina Riyadi & Rizki Pandu Permana @ 2008
Bentang – Cet. I, April 2008
478 Hal.

Satu lagi buku yang bikin gue iri, bikin gue menyesal terlalu banyak ‘bermain-main’ pas kuliah. Bikin gue kembali bermimpi untuk bisa menjejakkan kaki di luar sana – di tempat lain. Hehehe.. mimpi boleh kan… biar makin semangat (atau makin asyik bermimpi).

Buku yang ditulis ‘keroyokan’ ini bercerita tentang 5 anak Indonesia yang ‘terdampar’ di Belanda demi mengejar gelar master. Mereka berkenalan di Amersfort, di stasiun kereta api yang jadwal keberangkatannya tertunda gara-gara badai – lebih khususnya lagi gara-gara rokok. Biasa deh, di tempat dingin, apalagi yang dibutuhkan seorang cowok untuk mendapatkan kehangatan. Di tengah-tengah sekelompok orang berambut pirang – terselip 5 orang berambut gelap yang saling bertegur sapa, saling menawarkan rokok kretek dan korek api – o ya, lebih tepatnya 4 orang cowok yang saling ber’transaksi’ rokok dan satu perempuan yang ikut bergabung mencari teman setanah air.

Dari sana lahirnya nama Aagaban – yang terdiri dari Lintang – kuliah di Leiden, Daus – si anak Betawi Asli, PNS dari Departemen Agama yang dapet beasiswa untuk kuliah di Utrecht, ada Wicak – pekerja di sebuah LSM yang sekarang kuliah di Wageningen, lalu, Banjar – si manager marketing perusahaan rokok terkemuka di Indonesia, sekarang berjuang di Rotterdam, dan terakhir, cowok yang paling ganteng (di antara mereka), Geri, anak orang kaya yang udah lama bermukim di Belanda, dan kuliah di Den Haag.

Kebersamaan mereka menghadirkan berbagai petualangan – bukan hanya menjelajah kota-kota di Belanda, tapi juga petualangan batin yang membuat mereka terus mempertanyakan idealisme mereka, apa tujuan mereka setelah mereka lulus – apa mereka akan pulang ke Indonesia, tapi gak berkembang, atau terus berkarya demi bangsa tapi dari kejauhan.

Di sela-sela tugas mereka, pontang-panting menyelesaikan thesis, terselip ‘kisah perjuangan’ merebut hati Lintang, satu-satunya ‘kembang’, kisah yang sempat membuat mereka terlibat perang dingin. Keuangan yang pas-pasan membuat mereka juga harus mengatur strategi agar uang beasiswa mereka cukup untuk hidup mereka. Demi mendapatkan tambahan, mereka harus rela mengorbankan waktu mereka untuk kerja paruh waktu. Seperti Banjar kerja di sebuah restoran Indonesia atau Lintang yang nyambi jadi guru tari.

Gak setiap hari mereka ketemu, tapi yang pasti hari-hari mereka nyaris selalu diisi dengan chatting via YM atau kirim-kiriman email garing di milis Aagaban. Dan mumpung di negeri orang, kadang-kadang mereka juga punya ‘obsesi’ untuk melakukan sesuatu yang belum tentu bisa mereka lakukan di Indonesia, misalnya nih, minum bir, nyoba ‘cimeng’ – atau kaya’ Lintang, pacaran sama orang bule. Tapi, sialnya (atau untungnya) Daus, berkat doa, aji-ajian sapu jagat sang Engkong, dia selalu terhindar dari perbuatan maksiat. Hahaha…

Kurang tidur, ke kampus naik sepeda, menunggu kiriman rokok kretek plus jalan-jalan yang menyenangkan, adalah ritual yang mereka jalani selama di Belanda. Meskipun banyak teman lain, tapi tetap mereka selalu mencari anak-anak Aagaban kalau lagi ada masalah. Tapi, nih… ketika salah seorang dari mereka punya rahasia besar, bisa gak ya mereka menerima hal itu?

Bagusnya buku ini juga dilengkapi sama berbagai tips seputar kehidupan di Belanda (tentunya tips yang membuat pundi-pundi uang gak jebol), misalnya tips seputar sarana transportasi, lalu nyari tempat tinggal yang hemat, ada juga daftar hari-hari perayaan di Belanda yang menarik, terus, tips backpacking dan lain-lain.

3 comments:

Azia Azmi Faonnia RZ said...

gue juga baru baca kmrn..
menurut gue, ceritanya seru..
informatif bagi yang mau kuliah di Belanda

wahyuningrat said...

thx for the great review ferina. love it. ayo tetap semangat kejar mimpimu...

Dody Arfiansyah said...

Bukunya sudah gak terbit ya?
Saya cari di beberapa toko buku di Jogja sudah gak ada stoknya.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang