Tuesday, June 02, 2009

Botchan

Botchan
Natsume Soseki @ 1906
Intan Santi Pratidina (Terj.)
GPU – April 2009
224 Hal.

Cover-nya yang cerah dan unik menjadi salah satu daya tarik kenapa gue memasukkan buku ini ke kantong belanja gue. Alasan lain adalah karena gue mencoba mencari ‘pesona’ yang sama ketika gue membaca buku Toto-chan bertahun-tahun yang lalu. Buku ini ditulis udah lama banget oleh Natsume Soseki, dan ternyata masih tetap enak untuk dibaca ceritanya.

Cerita tentang seorang pemuda yang kerap dipanggil Botchan oleh pengurus rumah tangga keluarganya, seorang perempuan tua bernama Kiyo. Botchan sendiri bisa diartikan sebagai ‘tuan muda’ dan memang, dari awal sampai akhir, kita tidak diberi tahu siapa nama Botchan sesungguhnya.

Dari kecil, Botchan sudah mulai menampakkan ciri-ciri sebagai anak pemberontak, nakal dan iseng. Orang tuanya bahkan tidak pernah memujinya, justru kakak Botchan yang selalu jadi tumpuan harapan mereka. Hanya Kiyo yang tetap memujinya, selalu memberinya hadiah dan tidak pernah mengatakan kalau Botchan itu salah. Apa pun yang dilakukan Botchan, Kiyo selalu melihat sisi positifnya.

Ibu Botchan meninggal dunia ketika Botchan masih kecil. Beberapa tahun kemudian, ayah Botchan pun menyusul. Semua diatur oleh kakak Botchan, sehingga ketika rumah mereka dijual, Botchan diberi bagian untuk memulai hidup baru dan berpisah dengan kakaknya. Botchan sempat bingung, karena tidak mungkin ia tinggal di rumah sewaan bersama Kiyo. Untung Kiyo masih memiliki keponakan yang siap menampungnya. Kiyo masih tetap berharap suatu hari nanti Botchan akan datang menjemputnya dan mengajaknya tinggal bersama.

Selanjutnya, kehidupan Botchan pun berubah. Ia mencoba sekolah di sekolah kejuruan ilmu pasti. Dan ketika ada lowongan menjadi guru di sebuah desa, ia pun menerima. Sebuah kebetulan dan pertanda yang katanya kemudian hari akan jadi sebuah hal yang buruk.

Di sekolah di desa kecil itu, Botchan mengajar matematika. Sebagai guru baru, ia harus memperkenalkan diri kepada setiap guru lama. Sebuah kebiasaan yang menurut Botchan sia-sia. Segera saja Botchan memberi julukan kepada orang-orang baru yang ia temui, ada si Kemeja Merah yang menurutnya bermuka dua, Yoshikawa yang kemayu, Hotta, guru matematika lain dan Koga si Labu.

Namanya guru baru juga tak luput dari keisengan para murid. Ketika Botchan mendapat giliran jaga malam, murid-murid yang tinggal di asrama, memasukkan kecoak di alas tidur Botchan. Tentu saja Botchan marah besar dan menimbulkan keributan di sekolah itu.

Botchan menganggap guru-guru di sana terlalu lembek dalam menghadapi anak-anak, sehingga mereka berani bersikap kurang aja.

Sikap Botchan yang cenderung menentang apa yang sudah lama berlaku sempat menimbulkan masalah. Apalagi ada guru-guru seperti si Kemeja Merah yang pintar bersilat lidah dan bermuka dua, sehingga kalau kita tidak hati-hati, kita tidak tahu apakah maksud dia sebenarnya.

Botchan – gambaran pemuda yang idealis, tapi juga kadang terlalu cepat emosi. Ia berani mengambil keputusan atas apa yang ia yakini benar.

3 comments:

Penikmat Buku said...

aku udah beli, tapi lagi-lagi blum baca :(

ferina said...

baca deh.. ada seriusnya, ada kocaknya..

cinta said...

dari awal halaman aku udah tertarik dan langsung mengerti karakter Botchan yang sesungguhnya.

Karakter Bocthan dan karakter tokoh2 lainnya ada di kehidupan kita sehari-hari, tapi jangan sampai yah kita jd si kemeja merah dan si penjilatnya itu atau kepala sekolahnya, iih jijay.

btw aku baru ngeh loh klo dari awal hingga akhir tidak disebutkan nama aslinya Botchan.

-----------------------------------

mampir yah -> P E R T A M I N A

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang