Tuesday, January 27, 2009

L

L
Kristy Nelwan @ 2008
Grasindo – Agustus 2008
394 Hal.

‘L’… judul yang simple banget tapi, cenderung mengundang ‘pertanyaan’. Apakah ‘L’ itu? Atau malah ‘siapa’?, terus, ‘kenapa L? koq gak F, atau X atau Q? Oke… oke… mari kita telusuri, ada apa dengan ‘L’ ini…

Jadi, tersebutlah cewek duapuluh tahunan bernama Ava Torino. Cewek yang kalo dibaca deskripsinya termasuk cewek tomboy, cuek banget, easy going, perokok berat, bekerja di sebuah stasiun televisi. Mungkin gayanya ini yang bikin banyak cowok tertarik sama Ava.

Tapi, Ava bukanlah orang yang betah dengan satu cowok aja. Entah apa yang membuatnya memilih ‘bertualang’ dari satu cowok ke cowok lain demi mengumpulkan nama cowok sesuai abjad. Dari A sampai Z. Luar biasakan.. bahkan untuk huruf X dan Q pun, Ava berhasil mendapatkannya. Dan, ia juga dengan mudah mendepak cowok-cowok itu dalam waktu singkat kalau sudah saatnya berganti abjad.

Ava sudah berhasil mengumpulkan 25 abjad. Satu yang tertinggal, yaitu huruf ‘L’. Bagi Ava, ini adalah pertanda. ‘L’ untuk Love, ‘L’ untuk ‘the Last’ dan artinya ‘L’ adalah ‘the Last Love’ – waktunya bagi Ava untuk menghentikan petualangan cintanya. Saatnya Ava percaya pada yang namanya cinta sejati.

Memang akhirnya, Ava menemukan si L ini – yang bernama asli Ludi. Mereka pun akhirnya berpacaran dan siap melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius alias pernikahan. Ludi adalah seorang auditor, yang di mata Ava adalah sosok pria yang baik dan pengertian. Bagi Ava – atau setidaknya harapan Ava – Ludi benar-benar akan menjadi the ‘L’ one.

Dalam perjalanan menuju hari H yang panjang, ternyata Ava menemukan sebuah sosok lain yang tanpa disadarinya membuatnya mengakui akan namanya cinta. Rei namanya. Perkenalan singkat di Yogyakarta yang aneh, lalu pertemuan tanpa sengaja di Bali yang memberikan kejutan-kejutan kecil yang mungkin gak berarti tadinya, tapi ternyata malah memberikan sebuah kenangan manis yang gak pernah ditemukan Ava sebelumnya.

Sampai akhirnya, mereka satu kantor, pertengkaran-pertengkaran kecil, kelakuan dua orang yang sama-sama gila, membuat teman-teman mereka melihat apa yang gak mau diakui oleh mereka berdua. Ava yang cuek, Rei yang gila, tapi mereka sama-sama gak mau ngaku atau sedikit berkilah untuk gak menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Demi menjaga kesetiaanya sama Ludi, Ava harus berusaha keras meredam perasaan yang tiba-tiba saja ia sadari, tapi, ketika ia sadar dan siap untuk mengatakan yang sebenarnya, Ava justru harus rela kehilangan.

Tadinya, gue sempet males banget untuk melanjutkan novel ini. Abis, gak jelas banget sih, apa coba maksudnya si Ava ngumpulin cowok berdasarkan abjad. Dia nolak dibilang ‘player’, tapi dendam masa lalu juga gak jelas banget. Terus, kenapa Ludi harus gak setia?

Tapi, momen atau bagian yang gue suka adalah waktu mereka ngumpulin kalimat-kalimat yang menurut mereka berarti dari buku ‘Tuesday with Morrie’. Gue sempet agak ‘mendua’ waktu menebak ending ceritanya ini, hmmm… meskipun sebenernya, ninggalin surat rasanya suatu yang biasa untuk orang yang akan pergi jauh, tapi, still… it was touchy…

Friday, January 16, 2009

Mirror, Mirror on the Wall

Mirror, Mirror on the Wall
Poppy Damayanti Chusfani @ 2008
GPU – September 2008
176 Hal.

Menjadi anak yang biasa-biasa aja, gak populer dan cenderung culun emang gak mudah. Karin, kerap jadi bulan-bulanan gank anak-anak populer di sekolahnya. Karin memang anak yang kurang percaya diri, dia lebih suka menyendiri, menjadikannya seolah sosok yang tidak kelihatan. Pasrah meskipun ia harus diejek oleh Lisa and the gank.

Di rumah, Karin tinggal dengan ayahnya dan kakaknya, Lis, plus pembantu mereka. Ibu Karin sudah meninggal, dan Lis adalah manusia super sempurna yang berusaha menjadi pengganti ibu mereka dengan mengatur semua urusan rumah tangga. Satu-satunya teman Karin adalah Shawn, cowok belasteran Belanda yang sudah jadi temannya sejak mereka berdua masih ‘ngompol’.

Suatu hari, ketika mereka sedang membereskan gudang di rumah mereka (tentu saja atas perintah Lis), Karin menemukan sebuah cermin antik yang tersembunyi di sebuah sudut gudang dengan permukaan menghadap ke belakang. Cermin itu langsung menarik perhatian Karin yang memang kebetulan tidak punya cermin di kamarnya.

Keanehan pun mulai muncul. Di malam pertama cermin itu ada di kamar Karin, Karin seolah melihat ada pendar cahaya yang datang dari dalam cermin itu, tapi toh, tidak ia hiraukan. Karin pikir ia hanya mimpi. Tapi, di malam kedua, cermin itu berpendar lagi, dan Karin merasa ada sebuah suara yang memanggilnya yang datang dari arah cermin itu.

Itulah pertama kali Karin berkenalan dengan Nyi Rajadharma, Nyi Rajasturi dan Nyi Rajasita. Cermin itu dulunya adalah milik Nini (Nenek) Karin. Ketiga perempuan itu masih buyut-buyut Karin. Karin juga punya pelindung dua ekor macan ‘konyol’ bernama Cagra dan Wulung. Di antara ketiga perempuan itu, Nyi Rajadharma-lah yang paling ambisius.

Dengan adanya ‘teman-teman’ barunya, Karin jadi berbeda. Tanpa disadarinya, ia mulai terpengaruh dengan maksud-maksud tersembunyi dari perempuan-perempuan itu. Perlahan-lahan, Karin berubah. Bukan lagi Karin yang pemalu, penakut, tapi jadi Karin yang super pemalas bahkan ‘penggoda’. Dengan bantuan, Nyi Rajadharma, Karin berhasil melakukan aksi balas dendam terhadap Lisa, juga berhasil mengambil hati cowok impiannya selama ini. Karin juga bukan lagi manusia yang tak kasat mata, tapi jadi pusat perhatian.

Peringatan Cagra dan Wulung untuk tidak bergantung pada cermin tidak dihiraukannya. Malah ia mulai menganggap kalau orang-orang yang selama ini disayanginya tidak ada yang memperhatikannya, berbeda dengan teman-teman barunya yang benar-benar memperhatikan dan mau membantunya apa pun itu caranya.

Energi Karin mulai terserap, Karin mulai lemah. Cepat atau lambat, Karin akan mati dan membiarkan kekuatan jahat menguasainya. Harus ada yang menyelamatkannya kalau gak mau Karin terjebak di dunia lain.

Seru juga buku ini, meskipun sempat mengingatkan gue sama Coraline. Ya, gak aneh sih, karena mbak Poppy adalah penggemar buku-bukunya Neil Gaiman. Tapi, sekali lagi, baca teen-lit a la mbak Poppy memberi ‘penyegaran’ di antara teen-lit yang lain.

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports

Maximum Ride#3: Saving the World and Other Extreme Sports (Menyelamatkan Dunia dan Olahraga Ekstrem Lainnya)
James Patterson @ 2007
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – Desember 2008
504 Hal.

Melarikan diri lagi dari Sekolah. Di akhir buku kedua, Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, serta Total, sempat terperangkap di dalam Sekolah lagi. Tapi, berkat kerjasama dan saling mendukung yang kuat, mereka kembali berhasil meloloskan diri.

Pihak Sekolah tidak tinggal diam. Menurut mereka, sudah waktunya memusnahkan para makhluk gagal itu – setidaknya gagal menurut versi mereka. Semuanya, tidak terkecuali. Bahkan para Pemusnah pun akan turut dihancurkan.

Sementara itu, dalam pelariannya, para kawanan memutuskan bahwa mereka harus kembali menemukan tempat untuk menetap. Sebagai pemimpin, Max merasa wajib melindungi mereka. Akhirnya, Max dan Fang terbang berkeliling mencari tempat yang cocok untuk mereka.

Ketika Max dan Fang pergi, anggota kawanan yang lain diserang oleh Pemusnah jenis baru, yang dinamakan Flyboy. Ternyata, Flyboy bukanlah makhluk hidup, tapi lebih tepat disebut robot. Tubuh mereka terbuat dari besi dan mereka deprogram untuk menghancurkan para kawanan. Nudge dan kawanan yang lain tidak bisa menandingi Flyboy yang terlalu banyak jumlahnya. Mereka akhirnya tertangkap lagi dan menyadari ada pengkhianat di antara mereka.

Max dan Fang yang yang sedang berkeliling tidak menyadari apa yang terjadi dengan teman-teman mereka. Mereka malah sibuk bertengkar, sempat mampir ke rumah dr. Martinez yang kemudian berhasil mengeluarkan microchip dari lengan Max.

Ketika mereka menyadari bahwa teman-teman mereka tertangkap, Max dan Fang tahu harus menuju ke mana, ke tempat di mana mereka pun sudah ditunggu.

Akal dan siasat Max lagi-lagi berhasil meloloskan mereka dari Sekolah. Tapi, kawanan harus terpecah dua, karena Max dan Fang bersikeras pada pendirian mereka masing-masing. Sebuah kejutan membuat perpecahan itu terjadi.

Kawanan itu berpisah, melanjutkan misi menyelamatkan dunia dan menyebarkan kebusukan Itex dengan cara yang berbeda. Max memilih menyeberangi lautan menuju daratan Eropa, langsung ke titik sasaran yaitu markas besar Itex yang berada di Jerman. Sementara, Fang bersama Gasman dan Iggy, memilih berjuang lewat blog Fang yang semakin terkenal dan semakin banyak diakses oleh para pembacanya. Dukungan melalui blog pun mengalir deras, protes-protes dan demonstrasi berlangsung di berbagai cabang Itex.

Max yang berada di Jerman, harus menghadapi banyak kejutan yang mengaduk-aduk emosinya. Tapi, untung aja, Max pintar, jadi gak mudah terpengaruh dengan segala hal itu. Max juga harus menghadapi makhluk ciptaan Itex yang lebih ajaib lagi.

Banyak hal yang mengharukan muncul dalam buku ketiga ini. Siapa orang tua Max pun terungkap, tapi, tetap, perjuangan Max dan teman-temannya belum selesai. Di akhir cerita, mereka kembali terbang untuk menyelamatkan dunia.

Apakah ini akan jadi buku terakhir dari seri Maximum Ride? Tampaknya gak tuh… masih ada lanjutannya di ‘The Final Warning’… Uhhh.. tak sabar menanti. Apakah masih akan seseru seri-seri sebelumnya?

Thursday, January 15, 2009

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)

The Wedding Officer (Pejabat Pernikahan)
Anthony Capella
Gita Yuliani K. (Terj.)
GP, Oktober 2008
568 Hal.

Desa Fiscino, sebuah desa di lereng Gunung Vesuvio, Italia, sedang dalam keadaan penuh kegembiraan. Ada Festival Buah Aprikot, pemilihan buah apricot terbaik. Gak hanya itu, para kembang desa, juga memperebutkan gelar gadis tercantik di desanya.

Mungkin hanya Livia Pertini yang tidak tertarik dengan gelar gadis tercantik itu. Baginya, sebagai anak pemilik osteria yang terkenal lezat itu, yang penting adalah menyajikan masakan yang lezat. Konsentrasi penuh agar bisa menghasilkan masakan yang membuat orang berdecak dan kekenyangan.

Di hari itu juga, Livia jatuh cinta pada seorang perwira muda bernama Enzo. Usaha Enzo mendekati Livia yang galak tidak sia-sia, mereka pun menikah. Karena, di jaman itu, jangan coba-coba mendekati seorang gadis kalau si pemuda tidak berniat menikahinya.

Tapi, Perang Dunia memporak-porandakan kehidupan yang tenang dan bahagia. Italia pun hancur lebur, luluh lantak gara-gara perang. Datangnya tentara sekutu juga tidak banyak membantu. Malah timbul peraturan-peraturan aneh – tidak boleh menimbun bahan makanan, yang artinya banyak osteria gulung tikar atau sepi.

Para laki-laki dikirim ke medan perang – yang tinggal hanya anak-anak dan manula. Para perempuan memilih jadi pelacur, dengan harapan akan jadi pengantin perang tentang Inggris.

Gara-gara alasan itu pula, ada sebuah jabatan yang mengatur agar perempuan-perempuan Italia itu tidak bisa dengan sembarangan menikah dengan tentara-tentara sekutu. Adalah James Gould, perwira asal Inggris yang bertugas untuk memastikan hal itu .

Ditempatkan di Neapolitan, tanpa orang yang dia kenal, disajikan masakan dari ransum yang makin hari makin kacau, James mulai ‘pasrah’. Sampai Livia pun datang ke kediaman James.

Pertemuan pertama mereka lumayan kocak. Dan gara-gara perbuatan Livia yang dianggap melanggar segala aturan, Livia pun harus ikut ke Neapolitan, meninggalkan ayah dan adiknya. Tadinya, Livia terkatung-katung di awal kedatangannya di Neapolitan. Livia tidak mau ikut-ikutan jadi pelacur, sementara lowongan pekerjaan dipenuhi orang-orang lain. Akhirnya, Livia tiba di sebuah bar yang ditutup oleh James. Konspirasi antara pemilik bar dan orang-orang lain yang tidak puas dengan James, ‘menyelundupkan’ Livia untuk jadi juru masak di kediaman James.

Tentu saja, Livia pun memukau James dan yang lainnya dengan masakannya yang lezat itu. Livia bertemu lagi dengan James. Sempat terjadi kesalahpahaman sebelum akhirnya… ya.. tentu saja mereka jatuh cinta.

Tapi, gak mudah untuk mereka bersatu – karena perang membuat mereka harus berpisah sementara.

Dibanding ‘The Food of Love’, meskipun tentu saja masih soal cinta, buku ini ‘rada berat’, lebih tebal dan serius. Masakan lezat masih bertaburan. Tapi, banyak banget bagian yang menurut gue terlalu berpanjang-panjang dan sempat bikin cerita jadi gak asyik… yaitu, bagian perang di tengah-tengah cerita. Terus, gak asik waktu Livia jadi ‘serius’ pas dia gabung sama kelompok pemberontak.

Bagian yang gue suka adalah di awal cerita, gimana menyenangkannya Festival Buah Aprikot, kaya’nya hari itu indah banget. Ada bagian-bagian lucu juga, waktu pertama James ketemu Livia, plus, waktu Livia mikir James itu cowok yang ‘beda’.

Wednesday, January 07, 2009

To Tokyo to Love

To Tokyo to Love
Mariskova
GPU, Desember 2008
296 Hal.

Cita-cita Nina sebenarnya simple aja, hanya pengen jadi istri yang baik dan punya anak. Jadi ibu rumah tangga aja. Pekerjaan… biarlah urusan suami. Nina pun sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Ian. Yang ada di gambaran Nina, adalah sebuah kehidupan pernikahan, sebuah keluarga yang sempurna. Ian, adalah senior Nina di kampus. ‘Cowok idola’ yang mulanya hanya bisa dipandang Nina dari jauh. Nina yang penyendiri dan tomboy sering mendengar gosip para cewek-cewek membicarakan Ian. Suatu kejadian, malah mendekatkan diri Ian dan Nina. Gak ada yang menyangka kalau Ian bisa jatuh cinta pada cewek berpenampilan biasa-biasa aja seperti Nina.

Nina yang tomboy, pelan-pelan berubah jadi feminin, atas ‘permintaan’ Ian. Nina yang cuek, jadi ‘kebanjiran’ hadiah-hadiah dan kejutan romantis. Berbeda dengan Nina yang dulu.

Tapi, ternyata, cita-cita Nina gak semudah itu untuk terwujud. Pernikahan yang tinggal beberapa bulan lagi batal. Ian berselingkuh dengan Karina, mantan pacarnya, dan harus bertanggung jawab karena Karina hamil.

Nina down, nyaris patah semangat. Untung di kantor Nina, seorang boss dari Jepang, Mr. Fujita, menawarkan beasiswa ke Jepang. Kesempatan itu mendapat dukungan penuh dari keluarga Nina yang ingin menjauhkan Nina dari Ian. Ian, yang meskipun sudah menikah dengan Karina, tetap ingin mendekati Nina lagi.

Jepang yang kaku, yang teratur, membuat Nina kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Perjalanan ke kampus dengan kereta, memberi warna tersendiri bagi Nina. Di dalam kereta, Nina kerap memperhatikan seorang pria dengan pakaian hitam-hitamnya. Bagi Nina, si man-in-black itu seperti menyimpan sesuatu dalam benaknya, begitu rapuh, membuat Nina ingin mendekatinya. Nina pun diam-diam jatuh cinta pada pria berstelan hitam itu.

One day, Nina yang jarang bergaul itu mendapat email dari seorang pria bernama Takung. Kegiatan chatting, yang berlanjut ke acara telepon-teleponan, menjadi kegiatan yang ditunggu-tunggu setiap malamnya oleh Nina. Takung menjadi tempat Nina untuk bercerita tentang man-in-black pujaannya, dan Nina juga menjadi tempat curhat Takung tentang gadis penyendiri di kampusnya. Dan, sempat membuat Nina sedikit cemburu. (Hmmm… agak mirip ‘You’ve Got Mail’).

Tapi, kehidupan Nina yang tenang kembali terganggu oleh datangnya Ian ke Jepang. Ian yang anak orang kaya, tentu saja tidak punya kesulitan untuk pergi ke mana pun yang ia mau. Dan Ian, nyaris membuat Nina bimbang, antara mema’afkannya atau melupakannya. Karena ternyata, bukan hanya Ian yang mengejar Nina, tapi juga Karina. Karina jadi rada ‘psikopat’, karena dia pikir, Nina bakalan mau balik lagi sama Ian. Nina nyaris celaka, kalo aja si man-in-black gak datang menolongnya.

Jadi siapa sih si man-in-black itu? Ketemu gak si Nina sama Takung? Ketebaklah kalo baca ceritanya. Dan, hehehe.. rada kecewa dengan gambaran si man-in-black. Kebayangnya sih, cowok dengan rambut melambai tertiup angin, kaya’ Takuya Kimura gitu deh… tapi, di sini, rada terlalu macho (menurut gue lhooooo….)

Yang rada kocak dan bikin gemes adalah waktu Takung cerita tentang cewek misterius idamannya itu dan membuat Nina keliling taman di kampus biar dia bisa liat seperti apa idola Takung.

O ya, yang satu lagi rada ‘berlebihan’, adalah waktu Ian lagi pdkt sama Nina… Booooo…. Mobil jeep Nina and abangnya, bertaburan bunga mawar dan ada poster bertuliskan ‘I Love You’, dan itu terjadi di kampus mereka. Entah emang berlebihan, atau, pas lagi baca, gue yang gak in the mood of romantic??

Gambaran kota Jepang yang kaku jadi ‘lumer’ gara-gara cantiknya bunga sakura yang lagi berguguran… Cerita ringan di awal tahun 2009…

Tuesday, December 30, 2008

Book of the Year 2008

Tampaknya udah waktunya memilah buku-buku yang jadi favorit di tahun 2008. Semenjak ada Mika, sepertinya waktu gue untuk baca agak berkurang (tapi.. hehehe.. tetap tidak diikuti dengan berkurangnya frekwensi membeli buku). Waktu baca biasanya kalo lagi di mobil atau kalau Mika tidur. Udah gitu, gue juga jadi rada males untuk nulis tentang buku yang gue baca di blog. Makanya, blog buku gue di tahun 2008 agak sepi.

Nah, buku-buku yang jadi favorit gue rata-rata adalah buku yang punya 'arti' tertentu buat gue, yang terjemahannya enak dibaca, atau kalo pun bahasa inggris, yang gak terlalu memusingkan. Di antaranya:

1. Chocolat
2. The Penderwicks
3. Maximum Ride (1 & 2)
4. The Alchemyst
5. The Book of Lost Things
6. Ways to Live Forever
7. The Space between Us
8. My Sister Keeper
9. I was a Rat
10. The Food of Love

Ini 'terpilih' di antara buku-buku yang sedikit itu... malah jadi bingung.. :) Target tahun depan... mmm... seperti biasa, membaca buku-buku yang udah lama dibeli, yang selama ini hanya jadi penghias lemari buku... tapi... mmm, kalo ada buku baru, pasti tergoda juga... :)

Wednesday, December 24, 2008

Vanishing Act (Hati yang Hilang)

Vanishing Act (Hati yang Hilang)
Jodie Picoult
Gita Yuliani (Terj.)
GPU, November 2008
528 Hal.

Delia Hopkins, seorang polisi bagian Search and Rescue, yang tugasnya mencari dan mengembalikan orang-orang hilang kepada keluarga mereka. Tinggal di New Hampshire, bersama ayahnya, Andrew Hopkins, yang mengelola sentra manula dan dikenal sebagai warga kota yang baik. Delia mempunya satu orang putri, bernama Sophie, hasil dari hubungannya dengan Eric, tunangannya yang sudah menjadi temannya sejak kecil.

Satu hari, ketika polisi datang mencari – dan bahkan menangkap ayahnya – Delia mendapati dirinya bernasib sama dengan orang-orang yang ditolongnya selama ini. Ternyata, ia adalah korban ‘penculikan’ yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Selama 28 tahun, Delia ‘menerima’ bahwa dirinya bukanlah dirinya yang sebenarnya. Nama aslinya adalah Bethany Matthews. Ketika berusia 4 tahun, ia pergi bersama ayahnya yang sudah bercerai dengan ibunya, dan tidak pernah ‘dikembalikan’ lagi ke rumah ibunya. Andrew – yang bernama asli Charles – mengganti identitas mereka berdua dan pergi ke sebuah kota di mana tidak ada satu pun yang mengenal mereka.

Andrew pun ditangkap. Delia minta Eric, yang seorang pengacara, untuk membela ayahnya.

Drama mulai bergulir. Demi kepentingan persidangan, Delia pun pindah ke Arizona, tempat ayahnya akan diadili, tempat di mana penculikan itu dulu terjadi. Delia bertemu dengan ibunya, Elise.

Delia bergulat mencari identitas masa lalunya, sementara ia juga harus berdebat dengan dirinya sendiri, apakah harus mema’afkan ayahnya yang sudah menculiknya – apa pun itu alasannya, atau, harus mema’afkan ibunya yang karena salahnya ia ‘diculik’ oleh ayahnya.

Berbagai fakta yang dianggap akan meringankan Andrew dicari oleh Eric. Yang terkadang justru mengundang pertanyaan yang jawabannya sangat bias.

Kaya’nya khas Jodie Picoult untuk mengemas novelnya dengan menceritakan isinya dari sudut pandang setiap tokoh yang terlibat. Jadi, gak hanya tentang kebimbangan Delia, tapi juga gimana Andrew harus bertahan di penjara yang ‘ganas’. Atau, cerita tentang Elise yang menurut aku ‘eksotis’. Lalu, Eric, yang mantan pecandu alkohol.

Gue jadi sempat bertanya-tanya, sejauh mana ya, kita bisa membenarkan sesuatu ketika kita melakukan sebuah kesalahan dengan alasan untuk ‘kebaikan’?

Monday, November 24, 2008

Selebriti

Selebriti
Alberthiene Endah @ 2008
GPU – Juli 2008
488 Hal.

Dunia selebriti kadang bagai dunia mimpi bagi para penikmat acara gosip atau kerennya infotainment. Gimana rasanya diburu-buru wartawan? Gimana rasanya dieluk-elukkan sama fans? Atau gimana rasanya dihujat? Acara infotaiment yang bertubi-tubi – nyaris setiap jam, dari pagi sampai sore (atau ada yang malam?) di hampir semua stasiun televisi, serasa membuat kita ‘kenal’ dengan si seleb.

Tak kecuali, Icha, gadis dusun yang gak pernah ketinggalan satu pun acara gosip. Silahkan tanya gosip teranyar, pasti dia akan menjawab dengan lancar dan lengkap. Kegilaannya nonton acara gosip membawanya pada sebuah mimpi untuk jadi manajer artis. Tapi, mana mungkin sih? Mimpi itu terlalu indah untuk seorang gadis desa seperti Icha. Bagi Emak dan ketiga adiknya, kehidupan di desa yang sederhana udah cukup buat mereka. Tapi, Icha beda… dia punya mimpi, punya cita-cita.

Kesempatan itu datang dari Deden – mantan pacar Icha yang sudah berganti ‘haluan’ jadi penyuka sesama jenis. Di Jakarta, Deden bekerja sebagai penata rambut artis-artis top. Deden yang sekarang berpenampilan sangat ajaib bagi ukuran orang di kampung. Deden, yang kini jadi sahabat Icha, tahu betul akan impian Icha. Kebetulan, salah satu penyanyi dangdut yang ngetop dengan hits-nya, ‘Keringat Cinta’ (???!!!!), mencari asisten pribadi. Deden langsung memilih Icha untuk ‘menempati’ posisi itu.

Dengan restu yang setengah hati dari sang Emak, Icha pun berangkat ke Jakarta dengan berjuta bayangan yang sangat indah. Tentu saja… Icha bakalan ketemu banyak artis yang selama ini hanya ada di poster yang memenuhi dinding kamarnya.

Tapi… ternyata oh ternyata, semuanya gak semudah itu. Poppy Luisa, si penyanyi dangdut adalah ‘titisan’ drama queen, mak lampir, nenek sihir… apalah sebutkan berjuta-juta julukan yang ajaib. Poppy bisa berubah mood dalam sekejap, kata-kata kasar kerap keluar dari bibirnya. Dan, Poppy bukanlah menjadikan Icha ‘asisten pribadi yang profesional’, tapi malah mirip ‘pembantu pribadi’ yang kerjanya ngurusin hal-hal sepele, seperti ngelap keringetnya Poppy, bawain tissue – Icha cenderung seperti ‘babysitter’ dengan seragam yang dibagikan Poppy.

Lepas dari Poppy yang pulang kampung dan ‘lupa’ untuk membayarnya, Icha ‘terjebak’ dalam hubungan professional plus pribadi dengan seorang rapper yang gayanya cuek banget, Boyke Brik. Boyke Brik gak kalah ajaib dengan Poppy. Sikap yang semaunya, gak peduli jadwal yang ketat, membuat Icha sering jadi sasaran kemarahan dari para panita acara yang mengundang Boyke. Icha lagi-lagi berusaha jadi pahlawan ketika Boyke kedapatan mengkonsumsi shabu-shabu.

Tapi, Icha harus kecewa lagi lantara cowok yang dicintainya itu membohonginya. Keinginan pulang kampung makin kuat. Tapi, Deden masih terus memberi semangat pada Icha.

Dan, akhirnya Icha pun jadi manajer artis Donna Valencia, penyanyi muda berbakat, calon diva yang kehidupannya nyaris tanpa cela. Gak ada gosip miring tentang Donna. Kesehariannya tampak sempurna dengan ‘sepasukan’ asisten yang disiplin dan teratur. Tapi… tetap saja semua itu hanya topeng. Donna juga punya kekurangan dan masalah yang gak kalah ajaib.

Nah… masihkah Icha ‘mengagungkan’ kehidupan artis – setelah ia harus jatuh bangun, merendahkan martabatnya?

Buku yang tebel banget ini mungkin cukup mewakilkan kehidupan belakang panggung yang ajaib. Ya… mungkin gak semua artis kaya’ gini kali ya? Gak tau deh… Bahasa Alberthiene Endah yang lincah membuat gak bosen dibaca, meskipun kadang suka rada ‘hiperbola’.

Tapi… hmmm… apakah Icha selama di Jakarta gak sempet tele-tele sama Emak-nya di kampung? Apa emang gak perlu disinggung ya? Cukup dengan keluh kesah Icha sendiri dalam hati. Dan, untuk ukuran yang amat sangat amatiran, Icha lumayan gampang untuk masuk ke ‘grabak-grubuk’nya dunia ‘manajer artis’ dan koq… si artis sendiri mudah banget percaya sama Icha

Friday, September 19, 2008

Topsy-Turvy Lady

Topsy-Turvy Lady
Tria Barnawi @ 2008
GPU – Agustus 2008
224 Hal.

Sebagai anak orang kaya, bagi Gladys, uang bukanlah masalah. Kartu kredit dengan limit yang ‘wow’ tersedia di dompet, uang di tabungan selalu penuh dan selalu siap diisi oleh ayahnya. Belanja-belanji sudah kaya’ kebutuhan pokok buat Gladys. Setiap bulan, bisa dipastikan ada satu tas bermerk yang masuk dalam koleksinya, liburan… hmmm…. paling apes ke Bali! Kuliah di di fakultas ilmu komputer di salah satu universitas swasta bergengsi. Jangan bayangkan mahasiswi yang kuliah di fasilkom sebagai mahasiswi yang ‘nerd’. Gladys bahkan bisa dibilang sebagai ‘Paris Hilton’s copy cat’.

Tapi, gara-gara cinta buta, Gladys harus belajar yang namanya ‘downsizing’. Diawali dengan perkenalan di sebuah café dengan cowok bernama Sandi. Sandi yang usianya terpaut sepuluh tahun di atas Gladys, mampu membuat Gladys berpikir ‘sedikit’ lebih dewasa, bahkan bisa membuat Gladys berpikir untuk menikah muda. Bagi Gladys, Sandi adalah tipe cowok dewasa yang ngemong dan sangat perhatian. Suatu hal yang sangat didambakan oleh Gladys yang anak paling kecil. Sandi yang sederhana – tapi Gladys yakin banget, orang tua Sandi itu kaya.

Demi Sandi, Gladys rela gak beli tas – bukan karena berhemat – untuk ‘mendanai’ Sandi beli laptop baru. Kata Sandi, dana untuk beli laptop-nya terpakai untuk membantu temannya. Gladys menelan mentah-mentah alasan itu.

Puncaknya, Gladys nekat keluar dari rumahnya, dari semua kenyamanan dan fasilitas kelas satu yang selama ini dia nikmati. Orang tua dan kakak-kakak Gladys gak setuju dengan hubungan itu. Karena sebenarnya, Gladys sendiri gak tau latar belakang Sandi. Tapi, udah cinta… semua jadi sah-sah aja. Meskipun, namanya harus dicoret dari daftar warisan.

Gladys harus nge-kos, di sebuah kamar yang mungkin besarnya hanya sepertiga kamarnya, dengan fasilitas yang seadanya. Toh, awalnya, dia masih menikmati, karena ada Sandi yang memberinya semangat. Semua masih terasa indah.

Tapi, tiba-tiba aja, di suatu pagi, Gladys didatangi debt collector yang mencari Sandi. Katanya, Sandi punya hutang sampai berpuluh-puluh juta dan mencantumkan nama Gladys sebagai penjaminnya. Belum lagi ternyata, Sandi juga menggunakan kartu kredit Gladys untuk menarik tunai dalam jumlah yang tidak sedikit. Sandi raib bagai ditelan bumi, meninggalkan hutang yang sangat besar.

Ketika teman lain menjauhinya, Wina-lah yang masih setia memberi dukungan pada Gladys. Teman satu kampusnya itu yang membuka mata Gladys bahwa ia harus bekerja. Akhirnya, sebelum mengikuti pendidikan sebagai babysitter, Gladys sempat terpaksa menjadi pelayan di sebuah restoran yang menuntut kesabaran tingkat tinggi.

Menjadi babysitter ternyata juga gak mudah. Majikannya yang cuek, tapi sok tau dan gak mau kalah, anak-anak balita yang bagai monster cilik, membuat Gladys harus tahan-tahan ati. Buntutnya Gladys malah dituduh mau merusak rumah tangga majikannya.

Beralih lagi sebagai pengasuh anak seorang duda bernama Yuan. Anaknya manis, ibu Sepuh baik… dan… ayah yang ganteng…. Gladys pun berubah… menjadi sangat penyayang pada anak-anak. Ia rela melahap buku-buku tentang parenting yang tebal-tebal untuk mendekatkan diri pada anak asuhnya.

Ketika sinya-sinyal ‘cinta’ mulai berkedap-kedip, Gladys sempat kecewa, karena si duda keren ini lebih memilih perempuan lain yang tak lain adalah orang terdekatnya.

Tapi, di balik itu semua, sifat Gladys yang dulu sangat konsumtif pelan-pelan berubah. Ia lebih memperhatikan orang-orang yang selama ini membantunya di rumah dan jadi lebih empati.

Di antara buku-buku Tria Barnawi yang pernah gue baca, buku ini yang paling gue suka. Mungkin di awal, bakal terpikir, “Pasti ntar jadian deh sama si Du-Ren.” Tapi, ternyata salah tuh… dan ini yang membuat gue jadi menganggap buku ini gak biasa. Buku ini gak ‘menjiplak’ cerita The Nanny atau Nanny’s Diary.

O ya… kalo ada ibu-ibu AIMI atau dari milis asiforbaby yang baca ini, pasti akan seneng banget, karena buku ini bisa dibilang mendukung ‘ASI Eksklusif’. Di salah satu bagian, diceritain kalo kakak Gladys yang namanya Isabel punya baby umur 6 bulan dan dia masih tetap sebagai wanita karir, tapi dia tetap bersikeras untuk kasih ASI ke Keenan, anaknya (Hal. 220 – 221).

Tuesday, September 16, 2008

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever

Maximum Ride#2: School’s Out – Forever (Sekolah Selesai – Selamanya)
James Patterson @ 2006
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – September 2008
512 Hal.

Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan Angel, masih terus terbang, melarikan diri dari para Pemusnah dan melanjutkan misi pencarian orang tua mereka. Sepotong informasi yang didapat ketika menyelamatkan Angel jadi sebuah kunci penting dalam misi itu.

Max dan teman-temannya sempat yakin bahwa mereka telah bebas dari Ari, pemimpin para Pemusnah, karena Max tahu ia sudah membunuhnya. Tapi, mereka salah. Justru, Ari dan para Pemusnah, kembali mengejar mereka – bukan di darat saja – tapi juga di angkasa. Yap… ternyata, Pemusnah sudah ada ‘keluaran’ versi terbarunya yang memakai sayap. Tentu saja, tampak aneh bagi sosok manusia mirip serigala yang berbadan besar, tiba-tiba harus memakai sayap. Hal ini membuat mereka jadi bulan-bulanan ketika harus bertarung di angkasa melawan para mutan burung itu. Tapi, Ari masih sangat dendam. Ia senantiasa mematai-matai semua kegiatan Max dan kawanannya – yang kini ditambah Total, seekor mutan anjing.

Karena terluka parah akibat pertarungannya dengan Ari, Fang terpaksa dibawa ke rumah sakit. Max dan temannya pun harus diiterogasi oleh FBI. Tapi, terlatih untuk melindungi identitas mereka, membuat mereka lancar ‘mengarang bebas’. Mereka dibawa ke rumah Anne, salah satu anggota FBI yang baik hati pada mereka.

Tapi, Max merasa keadaan yang terlalu nyaman adalah sebuah tanda bahaya. Kenyamanan dan sedikit rasa aman, tidak melupakan niat mereka untuk mencari orang tua mereka. Namun, lagi-lagi mereka harus kecewa saat orang yang mulai mereka percaya dan mereka harapkan ternyata lagi-lagi tak lain adalah bagian dari Jas Putih.

Selain itu, sadar kalau mereka mungkin tak bisa bertarung di udara, Ari merancang strategi lain untuk menghancurkan para mutan burung itu. Dan, hanya Ari yang boleh membunuh Max. Ternyata, Ari menyimpan dendam dan sempat mempunyai ‘rasa’ lain terhadap Max! Rasa benci, cinta, cemburu dan iri karena Jeb, ayahnya, lebih memperhatikan dirinya.

Buku kedua ini, Max dan kawanannya, tampak lebih santai, tapi tetap siaga satu. Max semakin kuat, tapi para Pemusnah juga makin canggih. Ari dan para Pemusnah sempat dibuat frustasi ketika tahu Max dan kawanannya sedang bersenang-senang di Disney World! Mereka juga sempat bersekolah, bahkan Max sempat kencan dengan salah satu cowok di sekolah. Ada sedikit cemburu-cemburu antara Max dan Fang.

Misteri tentang orang tua mereka masih ‘menggantung’ sampai akhir cerita. Bahkan, misteri bahwa Ari adalah adik Max juga belum terjawab.

Wednesday, September 10, 2008

The Book of Lost Things

The Book of Lost Things (Kitab Tentang yang Telah Hilang)
John Connoly @ 2006
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU, Agustus 2008
472 Hal.

Tadinya, David hanyalah anak kecil biasa. Punya Ibu yang sering mendongengkan cerita-cerita fantasi dan Ayah yang gemar mengajaknya memancing. Tapi, semua mulai berubah ketika Ibunya sakit. Semakin lama, semakin lesu dan akhirnya meninggal. Usaha David untuk membuat Ibunya bertahan tidak berhasil, membuat rasa kehilangannya semakin besar. Tinggallah David dan Ayahnya. Lalu, masuklah seorang perempuan dalam kehidupan mereka - kehidupan ayahnya tepatnya. Perempuan bernama Rose yang akhirnya menjadi istri baru ayahnya. David merasa ayahnya sudah melupakan Ibunya. Ditambah lagi kehadiran bayi Georgie yang meramaikan keluarga itu. David merasa tersisih. Hubungannya dengan Rose tidak pernah akur. David tidak pernah menerima Rose sebagai pengganti ibunya.

Peperangan membuat David dan ayahnya harus pindah ke rumah Rose yang relatif lebih aman. David mendapatkan sebuah kamar sendiri yang penuh dengan buku-buku. David sempat merasa tidak nyaman di kamar itu, karena ia seolah mendengar buku-buku itu berbisik. Tapi, lama-kelamaan ia pun mulai terbiasa dengan ‘percakapan’ buku-buku itu. Dulunya kamar itu adalah kamar Jonathan Turley, paman Rose – yang lenyap secara misterius.

Suatu hari ketika sedang membaca di taman, David tidak sengaja mendongak ke arah jendela kamarnya, dan melihat ada sosok orang di dalamnya. Karuan David panik dan bergegas mencari ayahnya. Tapi, meskipun tidak ditemukan tanda-tanda ada orang yang pernah masuk ke kamarnya, David merasa bahwa memang ada sosok lelaki bungkuk yang masuk.

Di halaman rumah David, ada taman cekung yang bisa dengan mudah dimasukin oleh anak kecil. David sering mendengar suara Ibunya yang seolah memanggilnya meminta bantuan. Ketika itu David sedang marah, setelah bertengkar dengan Rose dan ayahnya, ia pun berlari memasuki taman itu. Dan, sampailah ia ke sebuah hutan yang misterius dan menakutkan. Tidak ada seorang pun di sana. Ia menemukan berbagai kengerian yang menyebabkannya ingin segera pulang.Tapi, ia putus asa, karena pohon tempatnya masuk tidak bisa dibedakan lagi. David menggali dengan membabi buta. Sampai akhirnya, datanglah seorang Tukang Kayu.

Kepadanya, David bercerita dari mana asalnya dan apa yang membawanya sampai ke tempat itu. Tukang Kayu itu pun berkata, mungkin David harus bertanya pada Raja yang sudah sangat tua yang memiliki sebuah Kitab Tentang Yang Telah Hilang. Mungkin Raja punya jawaban atas apa yang harus dilakukan David.

Perjalanan David menuju kastil Raja tidaklah mudah. Ancaman utama datang dari Loup, serigala yang nyaris berwujud manusia. Mereka jalan dengan dua kaki, memakai baju tapi tetap licik dan menakutkan seperti serigala. Pemimpin kaum Loup bernama Leroi – yang ingin merebut takhta Raja. Mereka segera tahu, bahwa David adalah ancaman.

Dibantu Tukang Kayu, David berhasil lolos. Tapi, semua itu tidak berakhir. David menemukan banyak bahaya dan tantangan yang lebih mengerikan lagi. Kaum Loup yang terus mengejar David, bertarung dengan Binatang buas yang sangat mengerikan dan haus darah, bertemu penyihir yang mencari pemuda yang mau menciumnya agar ia terbangun dari tidurnya, sampai akhirnya ia harus berurusan dengan Lelaki Bungkuk yang selalu menawarkan kesepakatan.

David bagai ‘berjalan’ dalam sebuah buku fantasi yang selalu dibacanya. Hanya saja kisahnya tidak seperti yang selama ini ia kenal. Ia mendengar Kisah si Tudung Merah yang ternyata menjadi awal lahirnya Loup; Putri Salju yang ternyata pemalas dan pemarah; konspirasi pembunuhan terhadap Putri Salju yang ternyata didalangi oleh para tujuh kurcaci, sampai Putri Tidur yang ternyata penyihir yang menunggu pemuda tampan untuk disedot jiwanya.

Gue sempat bertanya-tanya, apa sih maunya si Lelaki Bungkuk ini… Dari awal cerita, ia seolah menjadi ‘bayangan’ saja dalam perjalanan David. Selalu mengendap-endap, membunuh semua musuh David demi kepentingannya sendiri.

Gue pikir, tadinya buku ini adalah buku fantasi untuk semua umur, fantasi yang menyenangkan a la Harry Potter, tapi ternyata… hadduuhhh… isi buku ini lumayan mengerikan. Penuh dengan darah yang berceceran, pembunuhan sadis dan mengerikan. Sosok si Lelaki Bungkuk yang dalam bayangan gue mirip si Smegaol di Lord of The Rings. Licik, sok baik dan ingin mengambil keuntungan sendiri. Meskipun tokoh utamanya anak kecil, tapi, buku ini sama sekali bukan diperuntukkan untuk anak-anak. Selain banyak penggambaran adegan sadis, juga banyak hal-hal lain untuk orang dewasa.

Identitas Rahasia Devon Delaney

Identitas Rahasia Devon Delaney (The Secret Identity of Devon Delaney)
Laura Barnholdt
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria, Cet. I – Juni 2008
278 Hal.

Devon Delaney bukanlah siswi populer di sekolahnya. Ia hanya anak perempuan biasa yang bersama sahabatnya Mel, hanya bisa memandang dari jauh para siswa-siswi top di sekolah mereka, termasuk Jared, cowok idola Devon.

Tapi, liburan musim panas di rumah neneknya berbuntut masalah besar. Ketika itu, Devon berkenalan dengan seorang gadis bernama Lexi. Kepada Lexi, Devon mengaku bernama Devi, punya pacar nama Jared, termasuk kalangan siswi top. Pokoknya gambaran yang sangat berbeda dari keadaan diri Devon sebenarnya.

Tentu saja, ketika itu Devon beranggapan dirinya tidak akan pernah bertemu dengan Lexi lagi. Maka itu, ketika tiba-tiba saja Lexi muncul di kelasnya sebagai murid baru, Devon langsung bingung. Kebohongan demi kebohongan muncul untuk menutupi hal yang sebenarnya.

Lexi yang baru beberapa hari muncul di sekolah langsung masuk ke jajaran gank The A-List alias siswa-siswi top. Tentu saja, Lexi beranggapan Devon juga ada di kelompok yang sama. Karuan Lexi bingung melihat Jared yang sering bersikap tak acuh pada Devon, atau Kim, salah satu cewek di A-List yang juga sering tidak peduli pada Devon.

Kacaunya lagi, ternyata Jared menyukai Lexi. Devon langsung menyusun skenario lain jangan sampai Lexi tahu akan hal ini. Buntutnya, karena Devon lebih sering berkumpul dengan teman-teman barunya, persahabatannya dengan Mel jadi berantakan. Mel merasa disisihkan.

Masalah lain datang. Salah satu teman Jared, Luke, ternyata menyukai Devon. Devon makin bingung. Membuat ia harus berpikir keras bagaimana cara menuntaskan semuanya.

Kaya’nya sih cerita ini biasa aja. Untungnya si tokoh – Devon – bukan cewek yang biasa digambarkan sebagai ‘itik buruk rupa’ yang tiba-tiba menjelma jadi putri cantik Jelita. Devon hanya cewek biasa dengan tampang yang lumayan deh, hanya saja ia gak bisa jadi seseorang yang ‘menonjol’.

Kalo mau dibilang lucu… gak juga sih. Gue malah ribet ngebaca Devon yang selalu kalang-kabut nutupin kekonyolannya sendiri.

Friday, August 15, 2008

New Moon (Dua Cinta)

New Moon (Dua Cinta)
Stephenie Meyer@2006
Monica Dwi Chrenayani (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
600 Hal.


Setelah Bella hampir saja jadi mangsa vampire, keluarga Cullen, terutama tentunya Edward, makin protektif terhadap Bella. Tapi, ketika mereka harus berhadapan dengan Bella yang sedang terluka, mereka pun harus berusaha keras untuk menahan diri mereka ketika mereka melihat 'darah' di depan mereka.

Secara gak sengaja, waktu Bella sedang merayakan ulang tahunnya yang ke 18 di rumah keluarga Cullen, jari Bella tergores kertas dan terluka. Langsung semua vampire itu tertegun dan menatap Bella dengan 'lapar'. Hanya Carlisle yang dokter, yang tetap brsikap tenang. Pesta pun jadi kacau dan berantakan.

Puncaknya, Edward memutuskan untuk meninggalkan Bella, dengan alasan, karena keluarga Cullen tidak bisa lagi lebih lama tinggal di Forks karena mereka akan terlihat tidak semakin tua dan mereka akan pindah ke LA.

Sejak Edward pergi, hidup Bella jadi seperti robot, statis, 'hidup segan, mati tak mau'. Sampai-sampai, ayahnya, Charlie pun gerah melihatnya. Teman-teman sekolah Bella juga menjauhinya karena sikapnya yang aneh.

Akhirnya, Bella memutuskan untuk berubah. Ia menemui Jacob Black, teman lama yang pernah ia temui di La Push. Tapi, ternyata, Jacob menyimpan rahasia yang gak kalah misterius.

Gara-gara jati diri Jacob yang baru, Bella harus memilih apakah tetap berteman dengan para vampire atau berteman dengan Jacob. Karena berteman dengan keduanya, mungkin malah menimbulkan masalah baru yang bakal membuat mereka saling bertentangan.

Masalah lainnya, adalah Victoria, teman James - vampire yang hampir saja membunuh Bella, ternyata masih berkeliaran untuk balas dendam atas kematian James. Belum lagi, Bella yang kembali harus berhadapan dengan keluarga vampire lain yang gak nyaris gak bisa menahan diri untuk tidak menghisap darah Bella.

Sebenernya, rada cape' juga baca buku ini. Untungnya, di buku kedua ini, masalah gak hanya berputar-putar sama Bella dan Edward. Justru, Edward muncul hanya di awal dan menjelang akhir buku. Kaya'nya si Jacob lebih cool and macho deh, daripada Edward yang katanya berwajah 'beautiful' itu.

Twilight

Twilight
Stephenie Meyer@2005
Lily Devita Sari (Terj.)
GPU, Cet. II – Juli 2008
520 Hal.

Isabella Swan harus pindah ke kota kecil bernama Forks untuk tinggal bersama ayahnya, Charlie Swan, karena ibunya Renee memutuskan untuk mengikuti Phil kekasih barunya dalam meniti karir di dunia persepakbolaan. Bella harus kembali ke kota tempat ibunya dulu meninggalkan ayahnya. Suasana Forks yang muram, jarang bermandikan cahaya matahari, seolah mendukung sikap Bella yang sebenarnya tidak antusian untuk kembali ke kota kelahirannya.

Di kota kecil ini, semua seolah sudah saling mengenal. Anak-anak saling berteman, orang tua saling berteman, bahkan mungkin kakek-nenek-buyut mereka juga saling mengenal. Bella sempat merasa kesepian.

Sebagai pendatang baru, segera saja Bella jadi pusat perhatian. Karena, jarang ada anak baru di tempat mereka, dan begitu anak baru datang, segera jadi bahan pembicaraan. Pribadi Bella cenderung tertutup, tapi ia gak menolak diajak berteman dan mudah bergaul tapi tetap saja ada bagian-bagian dari diri Bella yang menjaga jarak. Bahkan ketika Mike Newton, salah seorang temannya mengajak ke acara pesta dansa, Bella menolak dengan alasan ada acara lain yang mengharuskannya pergi keluar kota.

Di Forks High School, ada sekelompok remaja yang berpenampilan aneh dan selalu menyendiri bersama kelompok mereka, yaitu anak-anak keluarga Cullen – Emmet, Rosalie, Edward, Alice dan Jasper. Mereka sangat aneh, wajah mereka selalu tampak dingin, mata mereka diselimuti bayangan gelap, gerakan mereka tampak anggun dan luwes, wajah mereka berwajah tampan dan cantik. Sebuah keindahan yang klasik. Di kantin, meskipun makanan terhidang di depan mereka, tapi, tampaknya mereka tidak pernah menyentuh makanan itu. Mobil yang mereka pakai ke sekolah juga mobil yang tergolong mewah, berbeda dengan anak-anak Forks lainnya. Menurut cerita yang didengar Bella dari teman-temannya, mereka semua adalah anak-anak angkat Dr. Carlisle dan Esme Cullen.

Di dalam pelajaran biologi, kebetulan Bella duduk bersebelahan dengan Edward Cullen. Perkenalan pertama tidak meninggalkan kesan yang baik di mata Bella. Malah Bella mengira ada sesuatu yang salah dengan bau badannya sampai-sampai Edward duduk sejauh mungkin dari Bella. Meskipun geram, tapi Bella penasaran dengan keberadaan Edward Cullen. Bahkan menantikan kedatangannya ketika Edward tidak ada.

Tapi, suatu hari, Edward menyelamatkan Bella dari sebuah kecelakaan. Bella sempat bertanya-tanya pada dirinya sendiri, karena ada sesuatu yang janggal ketika kecelakaan itu terjadi. Mulailah Bella mencari tahu tentang diri Edward Cullen. Kedekatan mulai terjalin di antara mereka, meskipun Edward tetap menutup diri dari pertanyaan-pertanyaan Bella yang penuh rasa curiga dan rasa ingin tahu.

Sampai akhirnya, ketika Bella sedang berjalan-jalan ke La Push, sebuah kawasan reservasi suku Indian, ia berkenala dengan Jacob, anak Billy - teman ayah Bella. Dari Jacob-lah, Bella mendengar sebuah legenda tentang kelompok pemburu yang haus darah. Mereka adalah pemburu dengan kata lain adalah sekelompok vampire. Beruntung mereka tidak memburu manusia, tapi mencari darah segar hewan.

Buntutnya, Edward dan Bella semakin dekat. Pelan-pelan, Bella mulai mengenal seluruh anggota keluarga Cullen dan latar belakang sampai akhirnya mereka menjadi vampire. Demi menghindari kecurigaan orang-orang di sekitar karena mereka tidak pernah bertambah tua, keluarga Cullen kerap berpindah tempat, mencari pemukiman yang minim matahari.

Pergaulannya dengan keluarga vampire pun membuat Bella berada dalam bahaya. Karena, keberadaan Bella di sekitar keluarga Cullen tercium oleh kelompok vampire lain yang lebih berbahaya daripada keluarga Cullen.

Sampai kapan Edward bakal bertahan untuk menjaga Bella dari vampire lain, maupun dari dirinya sendiri? Bisa dibaca dibuku-buku selanjutnya, yaitu New Moon dan Eclipse.

Sebenernya, mungkin ini adalah cerita romance biasa, tapi yang bikin gue tertarik, adalah tokohnya yang manusia biasa plus para vampire. Yang bikin seru ada di bagian-bagian akhir, yaitu bagian ‘perburuan’ James, si vampire jahat yang mengincar Bella. Sempat membuat gue berpikir, “Ngerepotin banget sih, si Bella!”

Harus sabar-sabar membaca bagian ‘telenovela’-nya Bella dan Edward (hehehe.. namanya juga novel romance…). Pasangan yang unik karena Bella adalah cewek yang punya ‘masalah’ dengan koordinasi antara kaki, tangan – dan otak. Hal yang menjadikan Edward amat sangat protektif terhadap Bella. Tapi…hmmm.. rasa-rasanya, koq gampang banget ya, Edward ‘mengakui’ siapa diri dia sebenarnya. Padahal identitas, jati diri adalah hal amat sangat dijaga kerahasiaannya oleh keluarga Cullen selama beratus-ratus tahun lamanya. Hanya karena seorang ‘Bella’, Edward yang sedingin es itu pun langsung ‘meleleh’. Tapi yang luar biasa adalah gimana seorang vampire – meskipun dia ‘vegetarian’ - berusaha mati-matian menjaga seorang manusia untuk tetap jadi manusia.

Monday, June 30, 2008

Nur Jahan: The Queen of Mughal

Nur Jahan: The Queen of Mughal (The Feast of Roses)
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Mei 2008
684 Hal.

Setelah 17 tahun, mimpinya jadi kenyataan, Mehrunnisa menjadi istri Sultan Jahangir ke dua puluh dan yang terakhir. Pernikahan ini benar-benar berdasarkan cinta, tidak dicampuri oleh urusan politik. Karena tidak ada darah ningrat dalam diri Mehrunnisa yang akan membawa keuntungan bagi Kesultanan Mughal.

Tapi, ternyata hal ini tidaklah cukup bagi Mehrunnisa, yang kemudian diberi gelar Nur Jahan – Cahaya Dunia – oleh Sultan Jahangir. Ambisi masa kecilnya untuk menjadi seorang ratu, berkembang menjadi ambisi untuk menguasai kedudukan yang lebih tinggi sejauh yang diperkenankan sang Sultan. Nur Jahan ingin menjadi wanita nomer satu di dalam zenana, yang berarti menggeser kedudukan Ratu Jagat Gosini sebagai Padshah Begam.

Nur Jahan juga ingin mempunyai peranan dalam urusan pemerintahan. Ia ingin menguasai Sultan Jahangir. Dan, Sultan Jahangir pun menjadi seolah ‘boneka’ yang memainkan peran atas keinginan Nur Jahan. Demi mempertahankan kedudukannya, Nur Jahan merangkul Ghias Beg, ayahnya, lalu Abul, kakak laki-lakinya dan Pangeran Khurram yang bertunangan dengan Arjumand, keponakan Nur Jahan. Nur Jahan ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang kedatangan Inggris dan Portugis di India.

Banyak pihak-pihak yang tidak rela Sultan mereka ‘diperintah’ oleh sang Ratu. Kala itu, amatlah tabu seorang perempuan berperan secara langsung dalam pemerintahan. Tapi, seolah buta dan tuli, Sultan Jahangir tak peduli dengan protes dan meluluskan semua permintaan Nur Jahan demi rasa cintanya.

Ketamakan Nur Jahan malah menghasilkan kekacauan yang akhirnya malah membuatnya jatuh. Tak puas sudah berhasil menikahkan Pangeran Khuram dengan Arjumand, Nur Jahan malah meminta Pangeran Khuram untuk menikah lagi dengan putri semata wayangnya, Ladli. Permintaan itu ditolak Pangeran Khurma. Nur Jahan berang, dan meminta kepada Sultan Jahangir untuk mencoret nama Pangeran Khuram sebagai penerus takhta berikutnya.

Di antara empat putra Sultan Jahangir, hanyalah Pangeran Khuram yang memiliki potensi sebagai Sultan berikutnya. Pangeran Khusrau, setelah pemberontakan merebut mahkota dari ayahnya sendiri, telah dibutakan oleh Sultan Jahangir, dan dikabarkan menjadi setengah gila. Lalu Pangeran Parviz, kerjanya hanya mabuk-mabukan dan sama sekali tidak bisa diandalkan. Terakhir, ada Pangeran Shahryar yang tidak peduli terhadap pemerintahan, selama ia bisa puas bermain-main dengan para dayang-dayangnya.

Pemberontakan demi pemberontakan datang mengancam Kesultanan Mughal. Kesehatan Sultan Jahangir mulai menurun akibat asma yang dideritanya. JuntaI yang dibentuk Nur Jahan pun pecah. Pangeran Khuram memilih untuk memberontak, menghalalkan segala cara, termasuk membunuh saudaranya sendiri, demi mengamankan posisinya sebagai pewaris mahkota berikutnya.

Andai saja, Nur Jahan sedikit lebih sabar, ‘kudeta’ tak disengaja tidak akan terjadi. Tapi, akhirnya, Nur Jahan hidup dalam pengasingan. Namanya pelan-pelan memudar. Dibanding keponakannya, Arjumand yang hanya berperan sebagai ratu selama empat tahun, nama Nur Jahan seolah lewat saja dalam sejarah India. Tapi, tidak ada, ratu yang memiliki koin yang tercetak atas namanya selain Nur Jahan. Paling tidak, Nur Jahan sudah berhasil menancapkan kukunya dalam pemerintahan selama 17 tahun sebagai Ratu Mughal.

Buku kedua ini, sekuel dari Mehrunnisa: The Twentieth Wife, lebih banyak bercerita tentang sepak terjang Mehrunnisa dalam kancah politik. Meskipun dimodifikasi sana-sini, cerita dalam buku ini menggambarkan sejarah India yang ternyata ‘penuh darah’. Bener-bener menunjukkan kalau Mehrunnisa adalah perempuan yang ambisius, keras, terkadang licik.

Tuesday, June 10, 2008

Apartemen Yacoubian: Kecamuk Cinta di Bumi Seribu Menara

Apartemen Yacoubian: Kecamuk Cinta di Bumi Seribu Menara
(‘Imarat Ya’qubyan)

Alaa Al Aswany @ 2002
Anis Masduki (Terj.)
Serambi – April 2008
358 Hal.

Pada tahun 1934, seorang hartawan asal Armenia bernama Hagop Yacoubian, mendirikan sebuah apartemen yang berlokasi di Jalan Sulaiman Pasha, Mesir. Apartemen ini kemudian diberi nama yang sama dengan nama pemiliknya. Apartemen Yacoubian mempunyai arsitektur bergaya Eropa klasik. Pada awalnya, penghuni apartemen ini adalah orang-orang penting, berasal dari kalangan bangsawan, pejabat pemerintahan dan para pengusaha asing. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kejadian – revolusi di Mesir, meninggalnya si pemilik – turut merubah ‘penghuni’ dari apartemen itu.

Di masa sekarang, penghuni apartemen itu berasal dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang yang unik. Ada yang kaya, ada yang miskin, ada pemuda jujur, bahkan orang-orang yang licik. Bagian-bagian apartemen itu pun ada yang dialihfungsikan. Misalnya, di bagian atap bangunan itu ada kamar-kamar besi yang awalnya adalah ruang penyimpanan barang-barang dari penghuni apartemen itu. Namun, kepimilikan yang terus berganti, membuat fungsi kamar besi pun berubah menjadi ‘rumah tinggal’ bagi masyarakat kelas bawah.

Novel ini pun berkisah tentang liku-liku kehidupan para penghuni apartemen yang sebagian besar ‘bernuansa’ suram. Sebut saja, Zaki Bey. Ia bukan penghuni tetap apartemen ini, tapi, ia mempunyai kantor di gedung ini yang merupakan warisan ayahnya. Zaki Bey, seorang laki-laki tua yang masih melajang tapi gemar main perempuan. Setiap orang yang kenal dengannya, sering minta pendapat Zaki Bey untuk menaklukan perempuan.

Lain lagi, dengan Haji Muhammad Azzam, yang mempunyai kios toko pakaian di apartemen ini, menggunakan salah satu kamar untuk ‘menyembunyikan’ istri simpanannya, Suad, perempuan Mesir asal Aleksandria yang menikahinya karena alasan uang. Diceritakan juga bagaimana sepak terjang Haji Azzam untuk masuk ke dunia politik dengan cara yang licik.

Itu belum seberapa dengan Hatim, redaktur koran yang menjadikan kamar apartemennya untuk melakukan sebuah hubungan terlarang dengan tentara miskin bernama Abduh. Meski Abduh sudah punya istri dan anak, tapi toh tidak menghalangi mereka terus menjalani hubungan sesama jenis.

Sementara itu, kisah di bagian atap bangunan ini juga tak kalah rumit. Adalah Thaha, seorang pemuda yang idealis. Ia kerap dijadikan bahan olok-olok anak-anak di gedung itu hanya karena ia adalah anak seorang bawwah – seorang pembantu. Ia berusaha membangkitkan rasa percaya dirinya dengan bercita-cita menjadi seorang polisi, agar orang-orang tidak lagi memandangnya sebelah mata. Tapi, justru cita-cita itulah, yang membuatnya kecewa dan berganti haluan. Ketika ia melanjutkan kuliahnya, Thaha bergabung dengan sebuah kelompok Muslim yang radikal. Tapi, malang, hal ini malah membuatnya mengalami sebuah trauma yang membuat harga dirinya jatuh.

Sementara itu, kekasih Thaha, Busainah, pun mulia berubah sejak ayahnya meninggal. Ia diharapkan menjadi tulang punggung keluarganya. Kecantikannya membuat ia mudah memperoleh pekerjaan, tapi tertanya itu pun harus dibayar dengan mengorbankan harga dirinya.

Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama adalah pengenalan tokoh-tokoh. Masa lalu mereka dan bagaimana mereka sampai di titik kehidupan saat ini. Hampir tidak ada percakapan dalam bagian pertama ini. Nyaris membuat gue berhenti membaca buku ini. Ya… tau deh.. gue paling males baca buku yang minim percakapan… Tapi, pelan-pelan diikuti, ternyata buku ini mengasyikan juga. Konflik setiap tokoh bikin buku ini jadi menarik.

Lalu, masuk ke bagian kedua, mulailah tampak bagaimana beberapa tokoh akhirnya berhubungan, atau malah ‘lepas’ sama sekali dari lingkungan Apartemen Yacoubian.

Setiap tokoh diberi porsi yang pas untuk mulai dan mengakhiri kisah mereka. Ada yang tragis banget… ada yang romantis…

Wednesday, May 21, 2008

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi

Ways to Live Forever (Setelah Aku Pergi)
Sally Nicholls @ 2008
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Maret 2008
216 Hal.

Buku ini nyaris membuat gue menangis… abis gue jadi sedih setelah bacanya. Tapi, tetap, aja, air mata belum berhasil ‘menjebol’ pertahanan gue yang ‘membatu’ ini. Hehehe.

Jadi, ini cerita tentang Sam, anak umur 11 or 12 tahun yang kena penyaki leukemia akut. Karena udah parah banget, orang tua Sam mengeluarkan Sam dari sekolah dan memilih untuk memanggil guru ke rumah. Sam belajar di rumah sama temannya yang juga punya penyakit parah, namanya Felix.

Pelajarannya di rumah, bukanlah sesuatu yang serius. Mrs. Willis, guru mereka, cenderung membiarkan mereka memilih apa yang mereka sukai untuk mereka pelajari atau lakukan. Mereka berdua bisa aja main perang-perangan atau membuat karangan.

Nah, dari proyek menulis inilah, Sam mempunyai ide untuk membuat buku. Maka, Sam membuat berbagai daftar tentang apa yang dia inginkan, apa yang ia lakukan dan juga daftar-daftar pertanyaan yang tak terjawab yang mungkin jarang banget terlintas di dalam pikiran kita sebagai orang yang ‘sehat’. Tapi, beda sama Sam yang sedang menunggu ‘hari-hari akhir’nya. Pertanyaan seperti: “Kenapa orang harus mati?”, “Bagaimana kita harus mati?”, “Ke mana orang pergi setelah mati?” terlontar dengan polos dari pikiran-pikiran Sam. Sam jadi tampak dewasa sekali.

Buku ini jadi bagaikan buku harian Sam. Mimpi Sam naik balon Zeppelin, berbagai daftar yang ‘kocak’, misalnya apa yang harus dilakukan kalo orang meninggal, kiat-kiat hidup abadi – emang sih, bikin sedih tapi, kok ya, jadi lucu karena Sam yang polos banget. Terus, gimana Sam harus menghadapi kenyataan kalo segala macem cara pengobatan itu udah gak ada gunanya lagi dan hidupnya hanya tinggal 2 bulan lagi!

Sam memang terkadang bilang kalau ini semua gak adil, tapi toh, Sam berhasil bersikap tegar dan gak ‘terpuruk’ menyesali nasib. Sam masih bisa menikmati hidupnya yang gak lama lagi itu. Sam mengajarkan kita untuk tetap semangat. Jangan selalu ‘berkeluh kesah’ padahal mungkin, hidup kita masih lebih baik dibanding Sam.

Tulisan tangan dan corat-coret Sam juga menghiasi buku ini, bikin buku ini jadi gak membosankan.

Kaya’nya buku ini gak hanya untuk orang dewasa deh, meskipun emang, rada berat juga kalo masuk kategori remaja. Tapi… bener.. buku ini bagus banget menurutku. Cerita tentang ‘kematian’ mungkin mirip sama buku-bukunya Mitch Albom, tapi, karena ini diliat dari sudut pandang anak-anak, bikin jadi lain aja.

Love this book… *semoga gak lupa memasukkan ke dalam buku favorit 2008*

Tuesday, May 13, 2008

Maximum Ride#1: Angel Experiment

Maximum Ride#1: Angel Experiment (Maximum Ride#1: Eksperimen Malaikat)
James Patterson @ 2005
Poppy Damayanti Chusfani (Terj.)
GPU – April 2008
536 Hal.

Suatu hari, di pagi yang cerah, suasana di sebuah rumah dimulai dengan ceria. 6 orang anak tertawa dan saling melakukan keisengan membuat semuanya terlihat normal. Tidak ada yang aneh pada diri Max, Fang, Nudge, Gasman, Iggy dan si kecil, Angel. Mereka tampak seperti anak-anak pada umumnya. Tapi… ketika pagi itu dirusak oleh makhluk yang sangat mengerikan, semua jadi tidak normal lagi.

Ke-enam anak itu adalah makhluk rekayasa dari sebuah Sekolah yang misterius. Mereka adalah anak-anak yang sejak bayi sudah dijadikan bahan percobaan dengan menyuntikkan gen burung ke dalam tubuh mereka. Orang tua mereka juga misterius, ada yang sudah meninggal, ada yang tidak tahu kalau anak mereka masih hidup, ada yang menyerahkannya dengan sukarela Intinya, mereka tidak ada yang mengetahui siapa orang tua mereka dan apa alasannya mereka berenam harus ada di Sekolah yang mengerikan itu.

Sekelompok Pemusnah – anak-anak rekayasa seperti mereka, namun berwujud mengerikan seperti serigala – mengejar mereka berenam dan menjadikan hidup mereka tidak lagi nyaman dan tenang.

Pagi itu jadi rusak, Angel diculik. Max, sebagai anak yang paling tua, merasa bertanggung jawab dan bertekad menyelamatkan Angel dari tangan para Pemusnah.

Kembali ke Sekolah bagaikan mimpi buruk. Mereka harus kembali ke tempat yang pernah sangat menyiksa mereka. Buruknya lagi, mereka harus sakit hati ketika orang yang sangat mereka percaya ternyata tetaplah bagian dari Jas Putih.

Ketika berada dalam penyekapan, ternyata Angel mendengar potongan-potongan informasi tentang keberadaan orang tua mereka. Dari sinilah, Max dan teman-teman bertekad mencari orang tua mereka.

Mereka ‘terbang’ sampai ke New York. Tapi, tetap saja, para Pemusnah mengincar mereka. Bukan sekali mereka nyaris kehilangan nyawa mereka.

Ending buku ini masih ‘misterius’, karena memang akan ada sekuelnya. Ceritanya memang menegangkan tapi, ketenangan Max pembuat gue ikutan tenang, gak dag-dig-dug, meskipun ending setiap bab bikin penasaran dan selalu penuh kejutan. Ciri khas James Patterson yang selalu menggiring pembaca untuk ikutan sport jantung dengan bab-bab yang pendek. Gue juga jadi ‘menunggu-nunggu’ akankah ada kisah romantis antara Max dan Fang?

Buku yang asyik banget… One of my favorites…

Baca buku ini, gue langsung inget sama ‘When the Wind Blows’ dan ‘The Lake House’, yang sama-sama punya tokoh bernama Max, sama-sama berasal dari Sekolah dan mempunyai gen burung dalam tubuhnya. Tapi kata Pak James nih, buku ini serupa tapi tak sama. Gue jadi pengen baca lagi dua buku itu, soalnya udah lupa sih, gimana ceritanya.

Wednesday, May 07, 2008

Mehrunnisa: The Twentieth Wife

Mehrunnisa: The Twentieth Wife
Indu Sundaresan @ 2002
Hikmah, Cet, I - Maret 2008
551 Hal.

Ternyata dalam hal urusan cerita cinta, India gak hanya punya cerita tentang ‘Taj Mahal’. Di buku ini, adalah kisah cinta orang tua pasangan Mumtaz Mahal dan Shah Jahan.

Mehrunnisa hampir saja kehilangan orang tua kandungnya yang merasa tak sanggup merawatnya karena kemiskinan yang mereka derita. Ghias Beg adalah bangsawan asal Persia yang melarikan diri karena terlilit hutang di negaranya sendiri. Bersama anak-anaknya dan istri yang sedang hamil tua, ia berniat mencari kehidupan baru di India. Untung saja, ia bertemu dengan orang yang baik yang berniat menjadi orang tua angkat Mehrunissa.

Keluarga Ghias Beg pun akhirnya tiba di India dan keberuntungan segera berpihak pada Ghias Beg yang mendapat kepercayaan dari Sultan Akbar yang bijak. Sejak kecil, Mehrunnisa sudah ‘terobsesi’ untuk menjadi seorang putri. Ia ingin menjadi permaisuri bagi Pangeran Salim, sang Putra Mahkota.

Tapi, tentu saja, meskipun mereka cukup dekat dengan keluarga raja, tidak semudah itu berjodoh dengan anggota keluarga kerajaan. Karena biasanya pernikahan di keluarga kerajaan bernuansa politik. Sebuah peristiwa di hari pernikahan Pangeran Salim yang pertama membuat Mehrunnisa dekat dengan Ruqayya, permaisuri Sultan Akbar.

Mehrunnisa menjadi pendatang tetap di zenana. Tapi, karena perempuan tidak boleh menampakkan diri begitu saja di depan laki-laki, Mehrunnisa harus mencuri-curi kesempatan untuk melihat Pangeran Salim.

Beberapa pertemuan tak disengaja antara Pangeran Salim dan Mehrunnisa ternyata meninggalkan kesan yang mendalam di hati Pangeran Salim. Tapi, tentu saja, meskipun mereka saling jatuh cinta, pernikahan bukanlah hal yang bisa ditentukan sendiri, tapi, Sultan-lah yang membuat keputusan. Mehrunnisa dinikahkan dengan seorang prajurit bernama Ali Quli.

Tahun-tahun berlalu, pemberontakan dan pengkhianatan sekitar perebutan takhta sultan berulang kali terjadi. Baik yang dilakukan Pangeran Salim terhadap Sultan Akbar, atau yang dilakukan Pangeran Khusrau terhadap Pangeran Salim, ayahnya.

Pertemuan antara Mehrunnisa dan Pangeran Salim, yang sudah jadi Sultan Jahangir, terjadi di sebuah pesta pertunangan. Hati mereka berdua kembali bergolak. Sultan Jahangir berharap ia bisa memilih sendiri permaisuri yang ia inginkan tanpa harus berbau-bau politik. Tapi, Jagat Gosini, permaisuri yang sah, tentu saja tidak akan tinggal diam ketika ada perempuan lain yang mengancam kedudukannya.

Indu Sundaresan melakukan banyak riset untuk mewujudkan cerita ini. Mehrunnisa memang benar ada dalam sejarah India, meskipun tidak terlalu menonjol. Tapi, kalo membaca penuturan Indu Sundaresan, Mehrunnisa yang asli adalah ‘perempuan keras’, setelah ia menjadi permaisuri, banyak perubahan yang dilakukannya semasa pemerintahan Sultan Jahangir. Sementara Mehrunnisa yang di buku ini terkesan ‘bandel’, cerdas, tapi tetap tak berdaya ketika ia berada dalam lembaga pernikahan yang mewajibkannya tunduk pada suami.

Masih ada juga cerita tentang kekerasan dalam rumah tangga *gerammmm*…

Mungkin agak berlebihan ya.. anak umur hmmmm… 8 tahun kalo gak salah, tapi udah terobsesi jadi permaisuri. Kesannya ambisius banget. Dan.. ckckckck…, anak sama bapak – Pangeran Khusrau sama Pangeran Salim, sama-sama berontak… kena karma tuh Pangeran Salim…

Gue sih, cukup menikmati baca buku ini. Meskipun sempat gak tahan, begitu udah bagian cinta-cintaan menjelang bagian akhir. Lanjutan kisah cinta yang eksotis ini yang judulnya ‘The Feast of Roses’, konon bakal diterbitkan juga oleh Penerbit Hikmah, yang mengisahkan kehidupan Mehrunnisa setelah menjadi permaisuri.

Tapi, semoga aja gak mengecewakan. Karena kalo udah sekuel gitu, suka dipaksain, dan malah jadi ngebosenin. Dan, gara-gara baca buku ini, gue jadi pengen baca novel tentang ‘Taj Mahal’ (ada dua judul tuh…) Hahaha… malah menambah ‘daftar dosa’ baru…

Monday, April 21, 2008

Catatan Hati Seorang Istri

Catatan Hati Seorang Istri
Asma Nadia @ 2007
Lingkar Pena, Cet, I - Mei 2007
224 Hal.

Jika kau kira
dengan sebelah sayap
aku akan terkoyak
maka camkanlah
dengan sebelah saya itu
akan kujelajah samudera
dan gemintang di angkasa

(Hal. 45)

Wah, menulis komentar tentang buku ini, rasanya susah banget. Ya.. emang sih, gue gak terlalu bisa menceritakan kembali buku non-fiksi. Apalagi buku ini isinya tentang pengalaman pribadi Penulis atau pun para nara sumber. Jadi, sepertinya, yang bakal gue tulis di bawah ini adalah komentar pribadi untuk buku yang lumayan memberi inspirasi dan nyaris membuat gue menitikkan air mata. (hmmmm… ternyata hati gue masih rada ‘batu’, makanya belum bisa nangis….)

Di buku ini, Asma Nadia menguraikan berbagai bentuk penderitaan perempuan. Bisa dilihat dari puisi di atas. Bukan saja dari segi fisik tapi dari segi perasaan, batinnya… Menggambarkan kuatnya, sabarnya dan tabahnya perempuan biar udah digempur segala macam bentuk cobaan dari yang ringan sampe yang bisa bikin seseorang yang mungkin gak kuat, bakal kehilangan arah dalam hidup.

Gue terus terang, takjub (tapi juga kadang gemas dan sempat berpikir negatif), ketika ada perempuan yang tetap membanggakan suaminya, meskipun suaminya itu ternyata tidaklah sesempurna yang ia impikan. Alasannya, karena si laki-laki adalah hal terbaik yang pernah datang dalam hidupnya (hal. 29). Atau, gimana seorang perempuan masih bisa senyum ketika tahu suaminya ‘bermain ke tempat terlarang’ atau menikah lagi.

Gue pun berpikir, bisakah gue sesabar itu dan bisakah gue tersenyum andaikan gue tau, suami gue berbuat yang tidak baik? Gue rasa nggak… Gue pasti bakal nangis dan meratapi nasib gue… Hehehe.. sekarang aja, dicuekin suami gue sedikit, gue udah sebal banget sama suami gue dan kadang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati suami gue…

Sempat terpikir oleh gue, apakah si perempuan itu memang begitu tough… tipiskan bedanya dengan gambaran perempuan ‘bodoh’. Pastinya, kalo lagi gosip-gosip nih, dengan cerita, ada perempuan yang diem aja disakitin suami atau di-duain, atau apa pun lah yang menyebabkan dia menderita, rasanya komentar yang lebih sering gue denger (atau bahkan lebih sering gue ucapkan), adalah, “Bodoh banget sih tuh cewek…!” Padahal, perempuan itu mungkin perempuan yang akan dimuliakan di mata Allah…

Cerita di buku ini yang paling berkesan buat gue adalah yang judulnya, “Jika Saya dan Suami Bercerai?” (Hal 34). Membuat gue sadar betapa tipisnya antara cinta dan benci… Gimana pasangan yang awalnya saling puji, saling cinta dan sayang, tiba-tiba berbalik jadi saling menyerang dan mengumbar kejelekan masing-masing. Dengan cerita ini, gue bilang sama suami gue, harus bisa saling menjaga hati, emosi dan kata-kata. Satu kalimat yang gue suka adalah: “,,, tidak ada seorang pun yang berhak merusak kenangan indah yang dimiliki anak-anak tentang ayah dan bunda mereka.” (Hal. 38).

Semua perempuan berhak untuk bahagia, meskipun ada luka di hati mereka… (Aiihh…)… So, keep fighting, never give up… Mudah-mudahan, gue bisa jadi perempuan yang lebih sabar dan ikhlas… (inilah intinya… Ikhlas….)
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang