Tuesday, October 23, 2012

Something Borrowed




Something Borrowed
St. Martin’s Paperback - 2011
403 hal.
(Rental dari @ReadingWalk)

Memasuki usia 30 tahun adalah saat-saat yang ‘kritis’, terutama bagi perempuan – yang masih single. Udah jadi ‘pedoman umum’ bahwa menikah sebaiknya di bawah 30 tahun, di atas itu… mmm… bakalan jadi omongan orang, jadi ‘target’ pertanyaan ‘basi’ di setiap acara keluarga.

Itu juga yang dihadapi Rachel White, seorang konsultan hukum, pekerja keras – dan single. Saat masih anak-anak, bersama sahabatnya, Darcy Rhone, mereka berdua selalu menghitung di hari apa mereka berdua akan berulang tahun ke 30 dan membayangkan seperti apa mereka saat itu. Menikah, punya anak, suami yang hangat – pokoknya gambaran keluarga ideal. Tapi ternyata, untuk Rachel, semua itu belum terwujud. Jangankan anak, potential husband aja belum ada. Berbeda dengan Darcy yang sedang memasuki masa-masa heboh menjelang pernikahan.

Meskipun memilik teman akrab lain, bagi Rachel, Darcy adalah teman terdekatnya, sahabatnya sejak kecil. Begitu pun sebaliknya. Rachel adalah sosok yang lebih dewasa dibandingkan dengan Darcy, sosok yang pengalah. Berbeda dengan Darcy yang ingin selalu ‘menang’ dan lebih ‘agresif’ dibanding Rachel. Di antara dua sahabat ini, terkadang ada ‘persaingan terselubung’. Tapi tetap saja, mereka adalah yang terbaik satu sama lain. Bahkan Rachel-lah yang memperkenalkan sosok Dexter pada Darcy,. Rachel yang akan menjadi maid of honor di pernikahan Dexter dan Darcy. Dex dan Rachel dulunya kuliah bareng.

Tapi, dalam satu malam, hubungan persahabatan itu terancam bubar. Di malam perayaan ulang tahun Rachel, entah karena mabuk atau tidak, Rachel dan Dex ‘memulai’ hubungan diam-diam mereka. Awalnya, mereka berdua sepakat ini akan berakhir, tapi… ternyata mereka berdua sama-sama gak mau semuanya selesai begitu saja.

Ya akhirnya, mereka sering bertemu berdua secara sembunyi-sembunyi. Rachel berusaha menekan rasa bersalahnya terhadap Darcy dan juga rasa cemburu saat melihat Dex dan Darcy saling bersikap mesra.

Pada akhirnya, harus ada yang memilih – mau terus atau berhenti. Pastinya ada pihak-pihak yang sakit.

Meskipun sedikit menyebalkan, pada awalnya gue bersimpatis ama Darcy. Dari awal hubungan Dex dan Rachel, gue mengutuk-ngutuk si Dex yang gak ada angin, gak ada apa-apa, tau-tau falling in love aja gitu sama Rachel.


via IMDb
Kalau Dex, tipe-tipe cowok yang hmmm… eksekutif muda gitu deh. Keren, cakep, rapi, plus.. tajir.. Tipe-nya Darcy yang gak suka sama cowok-cowok biasa aja.

Dan kalau Rachel, tipe serius, baik dalam pekerjaan maupun dalam menjalin hubungan. Sayangnya, ia gak seberuntung Darcy.

Tapi, pada akhirnya, gue berpikir, tetap aja Dex sama Rachel yang ‘salah’. Meskipun… *eh… gak jadi diterusin deh, ntar spoiler* hehehe…

Well, abis ini, segera cari film-nya dan segera baca sekuelnya, Something Blue. Pengen ngeliat seganteng apa si Dex ini… Ada yang udah nonton kah? Bagusan buku atau film-nya?

2 comments:

M said...

gw udah nonton film-nya. salah satu rom-com favorit gw! cast-nya cakep-cakep pula.. hahaha.

karena nonton Something Borrowed akhirnya terdorong untuk baca Something Blue. Eeerr.. gw sih kurang suka sama sama tulisannya Giffin. dan ga suka endingnya juga.. hehehe.

tapi tetep aja, pengen nonton kalo Something Blue sampe dibikin film :D

ferina said...

@Marcelle: hehehe.. kenapa dengan endingnya? Baru mulai baca Something Blue, Darcy semakin annoying menurut gue :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang