Showing posts with label Books in English. Show all posts
Showing posts with label Books in English. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

A Time to Kill



A Time to Kill

John Grisham @ 1989
Arrow - 1992
515 hal.

Mungkin ini adalah buku John Grisham yang paling ‘menyayat hati’ yang pernah gue baca. Buku ini dibuka dengan adegan pemerkosaan terhadap seorang anak kecil berusia 10 tahun. Tonya Hailey, seorang gadis kecil berkulit hitam, diperkosa oleh dua orang pria berkulit putih bernama Billy Ray Cobb dan Peter Willard. Tak hanya itu, Tonya juga disiksa. Memang Tonya selamat, tapi ia tak akan bisa memiliki anak. Dan yang semakin membuat geram, Billy Ray dan Peter seolah tak merasa bersalah melakukan hal itu – karena yang jadi korban adalah anak kecil berkulit hitam, mereka malah berkoar-koar dan membuat lelucon atau perbuatan mereka itu.

Meskipun akhirnya Billy Ray dan Peter ditangkap, tapi hal itu tidak membuat keluarga Hailey lega. Sejak peristiwa itu, semua jadi suram. Tonya kerap ketakutan dan tidak bisa tidur nyenyak. Sebagai seorang ayah, Carl Lee Hailey merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus menghukum mereka berdua dengan cara yang setimpal – maka ia pun menembak Billy Ray dan Peter Willard ketika mereka digiring keluar dari pengadilan.

Clanton County pun menjadi heboh dan menarik perhatian. Orang-orang kulit hitam tentu mendukung Carl Lee Hailey. Sedangkan orang-orang kulit putih menuntut agar Carl Lee dihukum mati.

Carl Lee minta bantuan pengacara Jack Brigance untuk membebaskan dirinya dari hukuman kamar gas. Jack Brigance sendiri berusaha memahami alasan Carl Lee melakukan tindakan itu dari sisi seorang ayah. Tapi tentu saja, tak seharusnya Carl Lee main hakim sendiri.

Menjadi pengacara Carl Lee membuat hidup Jack tidak tenang. Tak hanya Jack dan keluarganya yang mendapat terror, tapi juga sekretaris dan orang-orang yang dekat dengannya. Demikian juga dengan para juri. Pelakunya adalah anggota Ku Klux Klan, yang tak rela orang-orang hitam mendapatkan keadilan dan kebebasan.  Ku Klux Klan ini adalah sebuah organisasi rahasia yang menolak persamaan hak antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam. Mereka ini identik dengan kostum mereka yaitu jubah putih dengan topeng putih. Salah satu aksi mereka adalah dengan membakar salib – dalam buku ini, mereka membakar salib di halaman rumah Jack dan para juri yang terlibat.

via whatculture.com

Isu rasis di dalam buku ini sangatlah kental. Yang gue ingat, bagi orang kulit putih memperkosa orang hitam itu seperti ‘olahraga’. Tapi, ketika hal itu terjadi sebaliknya, maka orang hitam haruslah dihukum seberat-beratnya.

Ending dari novel ini juga membuat gue terharu, ketika para juri sedang berkumpul, berusaha membuat keputusan apakah Carl Lee Hailey bersalah atau tidak. Bertanya pada diri sendiri, apakah tindakan Hailey benar atau salah.

Novel ini adalah novel perdana John Grisham, yang diilhami oleh pengalaman pribadinya ketika menghadiri  sebuah sidang korban pemerkosaan seorang anak berusia 12 tahun. Dari seorang pengacara, John Grisham pun banting stir jadi penulis.

Dalam versi filmnya, Matthew McConaughey berperan sebagai Jack Brigance – yang melambungkan namanya menjadi salah satu aktor yang diperhitungkan, sedangkan Samuel L. Jackson berperan sebagai Carl Lee Hailey.  

Lewat buku ini (dan juga digambarkan dengan baik di dalam filmnya), sedikit banyak gue jadi tau gimana sistem pengadilan di Amerika Serikat. Para pengacara ‘haus’ dengan publisitas, jika menang dalam kasus yang menyedot perhatian publik, nama mereka tentu semakin terkenal dan akan dicari banyak orang. Di dalam buku ini, Jack Brigance, sebagai ‘street lawyer’, yang meski mencari uang, tapi tetap mengedepankan kepentingan client-nya. Bahkan ia hanya dibayar 900 dollar aja, untuk kasus besar seperti ini. Sebuah nilai yang kecil dibandingkan dengan kerugian materi yang ia dapatkan.

Drama pengadilan akan menjadi hal yang menarik di dalam novel-novel John Grisham selanjutnya. Sebagai mantan pengacara, dirinya piawai mengolah dunia hukum di Amerika menjadi sebuah bacaan yang menarik. Karena John Grisham juga menampilkan ‘sisi buruk’ dari proses hukum di Amerika – seperti suap-menyuap para juri, saksi ahli yang terkadang tidak kompeten tapi diambil demi kepentingan klien.


Submitted for:




-          JohnGrisham Read-along

Thursday, February 27, 2014

I’ve Got Your Number



I’ve Got Your Number

Sophie Kinsella
Black Swan @ 2012
459  hal.

Well, meskipun gue kecewa ketika terakhir kali gue baca bukunya Sophie Kinsella yang Wedding Night, gue masih punya ‘harapan’ untuk menyukai buku-bukunya Kinsella yang lain. Makanya, setelah berjarak agak lama, baru deh gue memutuskan untuk baca I’ve Got Your Number, takutnya, kalo kedeketan masih berasa aura ‘sebel’nya.

Kalau dari karakter, terkesan tipikal ya… Poppy Wyatt, perempuan yang gampang panik, sembrono dan rada-rada ‘seenaknya’. Poppy ini kehilangan cincin pertunangannya ketika lagi nge-teh bareng temen-temennya. Panik lagi dia, dengan segala cara minta supaya pihak hotel nge-blok tempat, biar dia leluasa nyari cincin itu. Plusss… dia kehilangan telepon genggamnya di saat yang bersamaan.

Dan begitu Poppy liat ada telepon genggam ‘tergeletak’ begitu aja di tempat sampah, tanpa pikir panjang ia mengambil telepon itu dan menggunakannya sebagai telepon pribadinya ‘sementara’. Telepon genggam itu milik Personal Assistant dari Sam Roxton. Awalnya sih, Poppy hanya mem-forward email-email tersebut ke Sam. Tapi lama-lama, dia ‘gatel’ juga dong, kepo gitu pengen tau, apa sih isi email-email itu. Dan ia melihat Sam sebagai orang yang gak peduli dengan rekan-rekan kantornya.

Sementara itu, Poppy juga disibukkan dengan urusan persiapan pernikahannya dengan Magnus Tavish – yang berasal dari keluarga yang ‘berpendidikan’. Semua anggota keluarga Tavish menulis buku, selalu berbicara dengan bahasa ‘tingkat tinggi’ yang bikin Poppy sempat minder.

Lama-lama nih, si Poppy ini malah lebih sibuk ngurusin urusan kerjaan Sam daripada urusan pernikahannya dengan Magnus. Dan akhirnya malah Poppy membantu Sam menyelesaikan krisis di kantor Sam.

Kalau ngeliat dari karakter Poppy, tentunya gak ada hal yang baru yang ditawarkan oleh Sophie Kinsella. Cuma gue ‘terkesan’ dengan ide ‘sabotase’ telepon yang dilakukan Poppy. Sms-sms Poppy dan Sam malah menjadi ‘greget’ di buku ini.  O ya, si Poppy ini penggemar Agatha Christie (ngngng.. ini sih yang gue tangkap di awal buku ini), malahan Poppy kehilangan cincin pertunangannya itu pas lagi ada acara nge-teh ala Miss Marple.

Sedangkan Magnum … hmm.. ini cowok rasanya pengen gue timpuk aja ya… Pengecut … hehehe.. dan gue merasa dia koq kaya’ jadi anak ‘mama’ gitu.

Nah, Sam Roxton – di awal menyebalkan tapi… justru sikap diamnya yang bikin dia jadi bikin penasaran. Perkembangan hubungannya dengan Poppy juga terbangun dengan perlahan. Dan hey… buku ini  nyaris ‘bersih’ dari adegan 17 tahun ke atas.

Gue suka dengan ending-nya, tapi… cerita menjelang bagian akhir itu yang bikin gue nyaris berteriak ‘Norakkkkk’. Emang ketebak sih, tapi… kenapa harus di saat yang kaya’ gitu sih?

Ya sudahlah, terima aja deh… toh, buku macam chicklit begini memang menjadi penyegar, bacaan ringan di kala santai. Dan buku ini, masih lebih baik daripada Wedding Night.

Submitted for:

-          2014TBR Pile Reading Challenge

Monday, February 17, 2014

The Time Keeper



 

The Time Keeper

Mitch Albom @ 2012
Hyperion
222 hal.



“With endless time, nothing is special.
With no loss or sacrifice, we can’t appreciate what we have”

Dalam buku ini, ada dua orang dengan keinginan yang berbeda.

Sarah Lemon, seorang gadis, pintar tapi bertubuh kurang proporsional. Menjadikan dia bahan ejekan di sekolah. Ketika ada seorang cowok yang mendekati dia, Sarah pikir, cowok itu, Ethan, benar-benar menyukai dia. Tapi, Sarah ‘hancur’ ketika ia melihat salah satu status Ethan di Facebook yang intinya mengejek Sarah. Dan, ketika itulah Sarah ingin semuanya segera berakhir.

Sementari itu, Victor Delamonte, seorang pengusaha, salah satu orang terkaya di dunia, didiagnosis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Victor menolak ‘menyerah’ pada kematian dan segera mencari berita tentang ‘pengawetan’ manusia. Pada dasarnya, ia tidak ingin mati, ia hanya ingin diawetkan dan pada saatnya nanti ia ingin ‘bangun’ kembali di masa yang baru.

Maka, Sang Penjaga Wakut bernama Dor, ‘diutus’ ke dunia, untuk menyadarkan kedua umat manusia ini bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa mereka buat main-main.


 “It is never too late or too soon. It is when it is supposed to be.”



Manusia itu emang selalu gak ada puasnya, dikasih waktu panjang , malah minta cepet-cepet selesai. Dikasih waktu singkat, minta perpanjangan waktu lagi. Yah, gue sendiri juga gitu, kalo ada kerjaan, terkadang mikir ‘Nanti deh… deadline-nya masih lama.’ Giliran deadline udah tinggal sehari, baru kelabakan dan minta perpanjangan waktu.

Kalo lagi  nunggu, lagi bosen… berasa waktu lambatttt banget. Apalagi kalo pas ngantri, kaya’nya emosi ngeliat petugas yang koq kaya’nya lamban banget.

Gue juga sering merasa waktu itu berlalu begitu cepat. Gak terasa Mika udah 6 tahun, udah masuk SD, tapi gue merasa belum menjadi seorang ibu yang ‘sempurna’. Mika bukan lagi bayi kecil yang bisa gue gendong sebelah tangan. Kalo lagi mellow, kadang gue pengen Mika tetap ada seperti saat ini, gak gede-gede… Tapi.. hehe… gak boleh gitu kan ya? Ketika gue lagi kesel sama Mika, dan Mika bilang ‘Mama gak sayang sama Mika, Mama marah-marah terus.’ Aduhhhh.. itu rasanya dunia ‘hancur’…. Gue lagi-lagi berjanji, untuk gak akan marah-marah lagi ke Mika, gue janji akan menikmati waktu gue sama Mika, karena gue yakin ada saatnya Mika berada dalam ‘dunianya sendiri’, di mana gue akan ada di luar lingkaran itu dan menjadi ‘pengawas’. Huhuhu… curhat deh jadinya.

Dan, dari buku ini, semoga gue jadi semakin lebih menghargai waktu – setiap detiknya, biar gue gak menyesal dan gak merasa terlambat. Gak ada yang namanya kecepetan atau terlalu lambat – karena memang semua udah sesuai pada waktu dan tempatnya.

2014.02.15


Submitted for:


Books in English Reading Challenge 2014





Huhuhu… untuk yang tahun 2013 kemarin gue gak sempet bikin recap-nya. Yah biasa lah, kesibukan kantor di awal tahun ribet banget. Tapi, gue tetap semangat untuk ikutan lagi Books in English Reading Challenge 2014. Masih dengan host yang sama, Teh Peni
Ada 3 ‘kelas’ yang bisa diambil:
#1 Elementary Class : Membaca dan mereview 6-12 buku dalam bahasa Inggris

#2 Intermediate Class : Membaca dan mereview 13-24 buku dalam bahasa Inggris

#3 Advance Class : Membaca dan mereview > 24 buku dalam bahasa Inggris.
Rules lebih jelas bisa dibaca di blog-nya Teh Peni.
Untuk sementara, gue daftar di Elementary Class aja dulu deh – semoga bisa naik kelas nanti. Dan ini daftar sementaranya:

1.       Pandemonium (Lauren Oliver) - review di sini
2.       The Time Keeper (Mitch Albom)
3.       Looking for Alaska (John Green)
4.       Eggs (Jerry Spinelli)
5.       The Christmas Train (David Baldacci)
6.       An Abundance of Katherines (John Green)
7.       The Umbrella Man and Other Stories (Roald Dahl)
8.       The Handamaid’s Tale (Margaret Atwood)

Semoga yang ada di daftar ini bisa dibaca semua :)

Tuesday, April 02, 2013

Someone Like You





Someone Like You
Sarah Dessen @ 1998
Speak, 1998
281 hal.
(Rental @ReadingWalk)

Saat Scarlett pertama kali muncul di depan rumahnya, Halley langsung memberanikan diri untuk mendekati gadis itu. Hari itu adalah hari Scarlett menjadi tetangga Halley. Halley termasuk anak yang pemalu, kurang ‘berani’ dalam bergaul. Tapi, sejak ada Scarleet, Halley jadi lebih percaya diri. Scarlett selalu ada untuk membela dia jika ada anak lain yang mengganggunya.

Hubungan Halley dengan ibunya juga bisa dibilang cukup harmonis. Mereka tidak pernah mengalami yang namanya perbedaan pendapat yang berujung pada pertengkarang. Ibu Halley selalu membanggakan hubungan yang akrab bagai sahabat ini jika ada temannya yang mengeluh anak remaja putrinya cenderung membangkang.

Tapi… itu dulu…. Ada saat-saat di mana seorang anak remaja seperti Halley justru tidak ingin terlalu banyak diatur oleh ibunya. Ia ingin mencari dunianya sendiri yang bagi dia lebih ‘menantang’. Apa yang dilarang oleh ibunya, akan membuat Halley semakin memberontak.

Mungkin semua sudah dimulai jauh sebelum ini. Tapi, saat Scarlett menelpon Halley yang sedang mengikuti summer camp. Scarlett memberi kabar bahwa Michael, kekasihnya, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan motor. Saat itu, Halley tahu, bahwa kali ini ia yang harus ada untuk Scarlett. Ia harus mendampingi Scarlett yang tengah berduka.

Hal ini juga yang membawa Halley berkenalan dengan sosok Macon. Macon yang cuek, rada-rada bad boy berhasil memikat Halley. Tapi, bersama Macon, Halley berubah jadi sosok yang memberontak, jadi suka berbohong pada orang tuanya, menyelinap pergi malam-malam atau membolos. Tentu saja, orang tua Halley, terutama ibunya, melarang Halley untuk melanjutkan hubungannya dengan Macon.

Permasalahan yang dihadapi Scarlett juga tak kalah berat. Ternyata, Scarlett hamil. Dan bagi remaja berusia 16 tahun, ini adalah hal yang berat. Hamil di luar nikah, plus ayah si calon bayi ini sudah meninggal. Tapi dengan berani dan penuh tanggung jawab, Scarlett memilih untuk mempertahankan bayinya. Di tengah cibiran dan gosip di sekolah, Scarlett tetap cuek dengan perutnya yang semakin membesar.

Buat gue, gue akan lebih suka buku ini kalo lebih menyorot tentang Scarlett yang hamil di luar nikah dibandingkan dengan Halley yang ribet ‘kucing-kucingan’ buat pergi sama Macon. Kalo dibilang ini tentang Scarlett yang katanya membutuhkan Halley, rasanya gak juga. Scarlett tetap gadis yang lebih berani dibandingkan Halley yang justru masih sering terombang-ambing antara prinsip dan pacarnya.

Mungkin sih, rada membosankan ya. Tapi, permasalahan yang ada di buku ini dekat dengan dunia ‘nyata’. Tentan Scarlett yang hamil di luar nikah, Halley yang pengen mempertahankan ‘virginity’nya tapi, nyari rela melakukan apa pun dengan Macon.

Remaja perlu baca buku ini, biar lebih hati-hati dalam pergaulan, atau berkaca pada sosok Scarlett yang berani bertanggung jawab meskipun sendirian di usia yang masih sangat muda. Berani mengorbankan masa remajanya dengan kehadiran seorang bayi. Orang tua juga rasanya boleh nih baca buku ini, biar gak asal ngelarang anaknya untuk bergaul, untuk gak asal bilang ‘gak boleh’. Terkadang larangan dari orang tua, malah bikin anak jadi lebih ‘berani’ dan lebih pemberontak *sodorin kaca*.

Wednesday, March 27, 2013

After Dark




After Dark
Jay Rubin (Terj.)
Vintage Books
244 Hal.
(Books & Beyond – Plaza Semanggi)

Tengah malam… harusnya sih, rata-rata ini waktunya orang sudah ada di rumah, tidur, beristirahat. Itu normalnya. Tapi, ternyata.. mungkin ada sebagian orang justru harus bekerja saat itu – misalnya perawat yang kebagian jaga malam, satpam atau petugas di toko-toko yang buka 24 jam. Itu lagi-lagi mungkin kondisi yang normal. Nah, ada yang tergolong ‘tak normal’, yaitu orang-orang yang gak betah ada di rumah, orang yang gak bisa tidur , orang-orang yang lebih senang kerja di malam hari karena katanya lebih tenang. Inilah sedikit gambaran para tokoh yang ada di buku After Dark – Haruki Murakami.

Bercerita tentang 7 jam – mulai tengah malam sampai menjelang fajar. Jam-jam yang spooky dan sepi… tapi nyatanya masih banyak orang yang ‘berkeliaran’ di tengah malam itu.

Mari Asai, duduk sendiri di tengah malam, di sebuah restoran. Membaca buku. Pertama yang terlintas adalah ‘ngapain juga ya?’ Secara kebetulan, datang seorang pria bernama Takahashi, yang ‘kebetulan’ kenal dengan kakak Mari, bernama Eri. Mari yang pembawaannya agak dingin, terpaksa menerima Takahashi yang duduk di mejanya. Takahashi adalah seorang pemain trombone yang hendak berlatih bersama band-nya. Berbicaralah Takahashi tentang Eri yang sangat berbeda dengan Mari.

Setelah Takahashi pergi, datanglah seorang perempuan bernama Kaoru. Ia bekerja di sebuah ‘love hotel’ bernama Alphaville. Kaoru meminta bantuan Mari karena Mari bisa berbahasa Cina. Di Alphaville, seorang pelacur – pendatang gelap dari Cina – dipukul oleh pelanggannya.

Setelah itu, Mari Asai dan Takahashi bertemu kembali dan berbicara banyak. Terutama tentang Eri Asai.

Dan, rasanya tak mungkin kalau di dalam buku Haruki Murakami gak ada hal yang ‘absurd’ atau aneh… cerita orang-orang yang bertemu di tengah malam itu ‘biasa’ aja kan… dan.. okeh.. inilah yang aneh, Eri Asai tertidur selama 2 bulan… bukan dalam keadaan koma, bukan sakit atau depresi… hanya tidur… Eri Asai, gadis cantik, snow white di dalam keluarga Asai. Menurut gue, dia gadis yang rapuh. Dibandingkan dengan Mari, yang tampak lebih tough. Meskipun hanya sedikit-sedikit, bagian Eri Asai adalah bagian yang bisa bikin orang yang baca merasa depresi. Entah kenapa gue koq merasa begitu? Mungkin karena di bagian itu, semua begitu sepi dan aneh. Gak jelas apa maknanya

Buat gue, buku ini bercerita tentang kesepian. Misalnya Mari dan Eri, kakak-beradik yang berbeda, yang juga perlakuannya di rumah sering dibedakan oleh orang tuanya, tapi toh, ternyata diam-diam menyimpan rasa ingin saling curhat, ingin lebih dekat sebagai saudara kandung. Atau, Takahashi, memiliki ayah yang pernah mendekam di penjara saat ia masih kecil, sementara ibunya meninggal karena kanker. Bahkan para pekerja di Alphaville, memilih ‘menyembunyikan’ diri mereka dengan bekerja di hotel yang tidak membuat mereka harus menyapa para tamu, melarikan diri dari kehidupan yang terang-benderang dan hiruk-pikuk kesibukan di kota.

Pada awal gue mengenal karya Haruki Murakami lewat Kafka on Shore, gue bisa menikmati tulisannya, meskipun pakai acara berpikir dan gak ngerti. Tulisannya memang ‘aneh’, membingungkan, tapi tokoh-tokohnya unik menurut gue.  Seperti di dalam cerita ini, Takahashi yang jadi tempat curhat Eri dan Mari Asai, padahal keduanya belum mengenal Takahashi terlalu dekat, Eri Asai yang namanya berulang kali jadi topik pembicaraaan, tapi dia hanya tampil sebagai tokoh yang pasif, Mari, gadis 19 tahun, yang juga ingin dianggap ‘berarti’ tanpa harus dibandingkan dengan kakaknya, lalu ada Kaoru, perempuan yang ‘gagah’.

Judul buku ini diambil dari judul sebuah lagu - Five Spots After Dark



Haruki Murakami, penulis Jepang yang karya-karyanya dideskripsikan sebagai tulisan yang ‘mudah dimengerti, tapi kompleks’. Dua bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Norwegian Wood, Kafka on Shore dan Dengarlah Nyanyian Angin (Hear the Wing Sing)
 
#Posting bareng Maret_BBI kategori: Sastra Asia

Friday, January 11, 2013

Reading Challenge - Books in English 2013




Menyenangkan rasanya ikutan berbagai macam Reading Challenge. Lumayan buat ngabisin timbunan (atau malah nyari buku baru ya… hihihi). Reading Challenge selanjutnya adalah Book in English, tahun ini di-host sama mbak Peni. Rules-nya bisa langsung diliat di blog Ketimbun Buku.

List sementara adalah:

  1. Treasure Island (Robert Louis Stevenson)
  2. In the Company of  Cheerful Ladies (Alexander McCall Smith)
  3. State of Fear (Michael Chrichton)
  4. Cell (Stephen King)
  5. Before I Fall (Lauren Oliver)
  6. Before I Die (Jenny Downham)
  7. Dance Dance Dance (Haruki Murakami)
  8. Harvesting the Heart (Jodi Picoult)
  9. One of Our Thursdays is Missing­ ­­(Jasper Fforde)
  10. Marry Poppins Opens the Door (P.L. Travers)
  11. Player One (Douglas   Coupland)
  12. Shades of Grey (Jasper Fforde)
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang