Thursday, October 31, 2013

Bunheads



 
Bunheads
Sophie Flack @ 2011
Poppy – October 2012
300 hal
(Books & Beyond – Cibubur Junction)

Banyak yang tanya, apakah novel ini sama dengan serial tv Bunheads yang tayang di Star World? Jawabannya, adalah gak. Sama-sama bercerita tentang dunia balet, tapi film tersebut bukan berdasarkan novel ini.

Ini bercerita tentang Hannah Ward, seorang ballerina di Manhattan Ballet Company. Adalah impian masa kecilnya untuk menjadi ballerina. Sejak kecil ia sudah ikut kursus balet di Boston, sebelum akhirnya di usia 14 tahun ia pindah ke New York dan masuk ke Manhattan Ballet Company. Bayangkan di usianya yang begitu belia, Hannah sudah harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Tapi, ketika itu, hal tersebut tak jadi masalah. Bagi Hannah, ia sudah selangkah lebih maju dalam mewujudkan impiannya.

Tiada hari diisi tanpa latihan keras, belum lagi olahraga tambahan demi menjaga berat badan agar tetap ideal untuk ukuran ballerina. Meskipun berteman dekat, di antara para ballerina ada persaingan yang ketat.

Ketika mimpi masa kecil terwujud, tapi ternyata penuh pengorbanan yang nyaris gak sepadan, haruskah kita tetap bertahan atau malah kembali ke realita yang lebih normal? Mimpi Hannah memang menjadi seorang ballerina, tapi itu harus dibayarnya dengan kehilangan kehidupan dalam pergaulan, ia nyaris gak punya teman selain teman-temannya di Manhattan Ballet Company. Ketika teman-teman seusianya sibuk bergaul sana-sini, sekolah, Hannah harus bekerja keras, agar bisa ‘terlihat’ oleh para pelatih dan mendapatkan promosi sebagai soloist.

Dunia yang Hannah kenal hanyalah ‘ballet’ dan untuk itu ia harus menjaga dirinya sendiri agar tetap disiplin. Namun, ketika berkenalan dengan Jacob dan menjalin hubungan yang lebih dekat, Jacob membuka mata Hannah akan adanya sebuah dunia lain di luar ballet. Dan, membuat Hannah bertanya-tanya, apa yang selama ini ia lakukan hingga ia malah terkadang seolah menyiksa dirinya sendiri. Hannah merasa ini saatnya ia membuat sebuah pilihan – bertahan di Manhattan Ballet Company, atau keluar dan melakukan hal-hal lain yang baru dan lebih membuatnya tenang?
 
via Pinterest

Gue ‘lega’, karena novel ini tidak berpusat pada kehidupan percintaan Hannah dan Jacob, tapi lebih ke kehidupan Hannah sebagai ballerina. Jacob memang gak terlalu banyak tampil di dalam buku ini, tapi peranannya cukup besar dalam membawa perubahan dalam kehidupan Hannah.

 Penampilan para ballerina yang lemah lembut dan gemulai, ternyata ketika layar sudah diturunkan begitu keras. Persaingan yang ketat di antara para teman sesama ballerina, menjaga tubuh agar tetap ‘rata’ dan kurus, latihan keras sampai berdarah-darah. Dengan pola makan yang nyaris ‘gak normal – makannya hanya snack bar, sayur-sayuran, minum diet coke, nyari gak menyentuh karbohidrat - metabolisme para ballerina rada terhambat. Hannah sendiri baru mendapatkan menstruasi pertamanya di usia 18 tahun, dan begitu payudaranya mulai muncul seiring dengan masa pubertas, salah seorang pelatih malah memperingati Hannah untuk memesan ‘undergarment’, agar tidak menggangu bentuk tubuh secara keseluruhan yang nantinya akan mempengaruhi gerak.

Dan buat gue, gambaran tentang apa yang ada di balik layar seorang ballerina tampak begitu ‘nyata’. Istilah-istilah gerakan ballet yang gak gue mengerti, kegiatan di ruang latihan, penata rias dan busana – gue membayangkan seorang ballerina yang bertubuh kurus – nyaris seperti papan, kehebohan di belakang panggung menjelang latihan, harap-harap cemas melihat papan pengumuman – apakah namanya akan mendapatkan peran penting.

Ini adalah buku pertama Sophie Flack, yang dulunya juga seorang ballerina. Ia pernah belajar ballet di Boston Ballet School. Makanya, seluk-beluk dunia ballet bisa digambarkan denganbegitu baik.

6 comments:

Sandra Cattelya said...

Fotonya caem benerrrr x)
Suka background krayonnya, warnanya jg tajem.
Eh, sorry malah ngomentarin apaan. Hehhee.

astrid said...

selalu tertarik sama dunia ballerina, jadi inget film black swan juga yang ngegambarin kerasnya dunia itu... penasaran juga sama buku ini fer. antri di pinjeman yak hihi

ferina said...

@Sandra: hahaha.. salah fokus.. thank you anyway :)

@Astrid: eh, buku lain yang ada balet2nya apa ya? mari, silahkan kalo mau dipinjem.

Alvina Vanila said...

Hihi, kupikir sama kaya di TV. Suka covernya, mau baca juga ah

Martina Daruli said...

Aku punya buku ini juga! Dunia balet emang keras. Kalo pernah nonton Center Stage, di situ juga digambarin ada yang anorexic dan tokoh utamanya juga punya masalah overweight (sebenernya sih bukan overweight, tapi badannya terlalu curvy). Agak serem ya.

Ada novel tentang balet juga, tapi reviewnya ada yang suka ada yang gak. Judulnya Crash (https://www.goodreads.com/book/show/15757434-crash?ac=1) kali tertarik baca dan bikin reviewnya. ehehe.

ferina said...

@Vina: aku pikir tadinya juga begitu, tapi buku ini lebih 'keras' daripada yang di TV

@Nana: iya, bentuk badan ternyata juga pengaruh bgt, harus rada samping kiri-kanan, depan-belakang

cari ah, novelnya :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang