Wednesday, June 01, 2011

Pesan dari Sambu

Pesan dari Sambu
Tasmi P.S. @ 2009
Hikmah – Cet. I, Maret 2010
349 hal

Pulau Sambu? Ada yang pernah denger nama pulau ini? Jujur, gue baru kali ini tau di Indonesia, atau tepatnya di Kepulauan Riau, ada yang namanya Pulau Sambu. Ups.. ma’afkan minimnya pengetahuan geografi gue ini.

Di pulau inilah, Mimi tinggal, bersama orang tua dan adik-adiknya yang tiap 2 tahun sekali selalu bertambah. Mimi sebenarnya ada ketiga, tapi kedua kakaknya sekolah di pulau Jawa, jadilah ia mendapat tugas untuk jadi ‘kakak tertua’, mengasuh adik-adiknya. Mimi berparas cukup cantik, banyak teman-teman sekolahnya yang naksir dengan Mimi, bahkan guru-guru laki-laki juga.

Ayah Mimi bekerja sebagai kepala bengkel di PT Shell. Tinggal di pulau kecil, tidak berarti kehidupan mereka terbelakang. Justru semua di sana serba mudah. Ayah Mimi digaji pakai dollar Singapura. Mau ikan, tinggal mancing, minyak dan air habis, tinggal lapor. Main-main bisa di laut. Mau jalan-jalan, tinggal nyeberang pakai ferry ke Singapura. Asyik kan? Potong rambut aja di Singapura. Keamanan terjamin. Teman juga banyak. Uang di pulau ini justru gak laku, makanya Mak-nya Mimi lebih senang menyimpan emas.

Tapi, justru mereka kehilangan akar budaya mereka. Seperti Mimi, sebenarnya ia keturunan Jawa. Tapi, ketika diajak ‘perlop’ ke Jawa, justru ia dan adik-adiknya dianggap aneh. Orang Jawa tapi gak bisa bahasa Jawa. Malah lebih jago bahasa Melayu, lebih kenal tari Serampang Dua Belas, dibanding tari Serimpi.

Meskipun sayang dengan adik-adiknya, Mimi kerap lelah karena harus selalu mengurus dan bertanggung jawab atas adik-adiknya itu. Mau pergi belajar nari, adik-adiknya merengek ingin ikut, mau nonton ‘wayang gambar’ dengan teman-temannya, meskipun sudah pakai berbagai macam jurus, tetap saja adik-adiknya berhasil menemukan keberadaan Mimi. Awalnya Mimi berpikir, mungkin dengan menikah, ia akan terbebas dari tanggung jawab ini.

Di usia yang sangat muda, Mimi pun akhirnya menikah dengan seorang prajurit dengan usia yang beda 6 tahun. Tapi, Mimi tak boleh sekolah lagi, harus menyesuaikan diri dengan predikat baru sebagai istri prajurit dan ikut ke mana suami pergi.

Menarik? Buat gue, awalnya memang menarik. Banyak kata-kata campur aduk, antara bahasa melayu, bahasa Inggris. Untung catatan kakinya cukup jelas, jadi kita gak perlu menebak-nebak apa arti kata tersebut.

Tapi memang gue suka berharap terlalu banyak di awal. Buku ini jadi rada nanggung buat gue. Tadinya gue pikir, bakalan ada cerita dengan porsi yang lebih banyak tentang gimana Mimi harus beradaptasi dengan saudara-saudaranya di Jawa, atau tentang kehidupan Mimi setelah menikah.

Monday, May 30, 2011

Ranah 3 Warna

Ranah 3 Warna
A. Fuadi
GPU – Cetakan I, Januari 2011
474 hal

Pendidikan di Pondok Madani telah selesai. Alif kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Cita-citanya kali ini adalah lulus UMPTN. Tapi sayang, banyak suara-suara sumbang yang membuat berkecil hati. Lulusan madrasah, mana bisa tembus UMPTN. Belum tentu juga lulus ujian persamaan SMA. Tapi Alif, semakin dikecilkan, semakin ia bertekad untuk membuktikan bahwa perkataan orang-orang itu salah. Terutama lagi, ia ingin membuktikan kepada Randai, bahwa ia juga bisa masuk ke perguruan tinggi dan bahkan mungkin ke Amerika… seperti cita-citanya selama ini.

Memang bukan ITB yang selama ini ia inginkan, tapi tetap Alif akhirnya membuktikan, bahwa anak pesantren juga bisa masuk perguruan tinggi negeri.

Perjuangan ternyata tidak hanya sampai di situ. Di Bandung, jauh dari orang tua, kondisi keuangan pas-pasan, membuat Alif harus memutar otak bagaimana bisa bertahan hidup. Ia mencoba bekerja sembari kuliah. Membuang rasa malu, ia jadi pedagang keliling, menjadi guru privat sampai akhirnya jatuh sakit.

Beruntung ada kesempatan lain, yang membuat Alif bangkit. Meskipun sempat membuat persahabatannya dengan Randai sedikit rusak, Alif pelan-pelan jadi mandiri dan semakin bertekad untuk menggapai cita-citanya.

Usaha Alif yang kocak, sok tau dan maju terus pantang mundur, berbuah manis. Ups… kecuali untuk urusan cinta… hehehe…

Meskipun, ada yang bilang ending-nya begitu mudah ditebak, ceritanya klise, tapi buat gue ini masih jadi salah satu favorit gue. Semua ditulis begitu detail dan rapi. Penuh dengan usaha yang jatuh bangun, beberapa juga ada yang membuat gue terharu. Iri juga karena Alif akhirnya bisa sampai ke Amerika. (hiks… gue jadi menyesal waktu kuliah gak pernah usaha lebih keras… ups.. cur-col). Tapi, gpp… buku ini bisa jadi pemompa semangat baru… biar gak gampang putus asa, biar gak gampang nyerah… biar terus usaha untuk cari jalan keluar biarpun rasanya semua pintu itu tertutup…

Prophecy of The Sisters

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Belum cukup duka yang disebabkan oleh ayahnya yang meninggal dengan cara yang misterius, Lia Milthrope harus menghadapi serangkaian kejadian aneh lainnya. Dimulai dengan munculnya tanda aneh di pergelangan tangan, lalu sikap saudari kembarnya, Alice, yang juga aneh, lalu ditemukannya sebuah buku misterius yang hanya berisi satu halaman saja dan letaknya tersembunyi.

Tapi dari buku itu, Lia mengetahui sebuah rahasia. Rahasia ini sudah ada semenjak jaman ibu, nenek, nenek buyut – intinya, inilah takdir yang diturunkan kepada setiap anak kembar perempuan, yang artinya harus ia dan Alice terima. Bahwa kematian ibu dan ayahnya yang misterius juga termasuk dalam rangkaian takdir itu. Bahwa Lia dan Alice harus berada di sisi yang berseberangan dan tak bisa menjadi kawan dalam hal ini. – sebagai seorang Garda dan Gerbang. Lia sempat emosi berat… karena kenapa dia baru tahu tentang rahasia ini, kenapa seolah Alice lebih siap dan selangkah lebih maju… untuk gadis berusia 16 tahun, tentunya ini bukan beban yang enteng…

Ternyata, bukan hanya Lia yang penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam Alice juga mencari tahu tentang takdir yang harus mereka berdua jalani. Meskipun apa yang Lia dan Alice inginkan bertolak belakang dengan yang seharusnya mereka jalani.

Lia berkenalan dengan Sonia, seorang cenayang dan Luisa, teman satu sekolahnya. Mereka berdua memiliki tanda yang mirip dengan yang Lia miliki. Dengan bimbingan Sonia, Lia mengembara ke Dunia Lain, untuk bertemu dengan arwah ayah dan ibunya, mencari kunci-kunci yang disebutkan di dalam buku rahasia itu.

Tujuannya adalah satu, jangan sampai iblis masuk ke dunia dan menguasai dunia, dan jangan sampai Alice yang lebih dulu mendapatkan kunci itu Karena Lia-lah yang nantinya akan menentukan, apakah Gerbang itu akan dibuka atau akan tetap tertutup.

Awalnya, banyak yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa ibu mereka mengurung diri di dalam Kamar Gelap? Apa penyebab misterius kematian ayah mereka? Apa hubungan Sonia dan Luisa dalam masalah ini?

Di awal, beberapa ‘kenyataan’ rada menjebak. Seolah kita udah bisa tahu pasti posisi Lia dan Alice. Siapa yang jadi Garda, siapa yang jadi Gerbang… tapi ternyata.. masih ada rahasia lagi yang memutarbalikkan kenyataan yang ada. Tenang… jawaban pelan-pelan akan ditemukan… seiring dengan cerita. Baca buku ini, tegang campur penasaran.

Dan… arggghhhh…. bersambung ternyata…. Yah… dari awal sih gue udah curiga ini bakalan bersambung. Artinya gue harus bersabar sampai sambungannya terbit.

Wednesday, May 25, 2011

'Bersih-bersih' Lagi... :)

Hi..hi.. mau 'bersih-bersih' lemari buku lagi. Kalau ada yang berminat, silahkan email ke ferina.permatasari@hbtlaw.com. Mau barter, juga boleh koq :).
Ma kasih....

1. Sihir Cinta – Miranda (Rp. 20,000)
2. Moonlight Waltz – Fenny Wong (Rp. 20,000)
3. Beauty Case – Icha Rahmanti (Rp. 25,000)
4. Prety Prita – Andrei Aksana (Rp. 25,000)
5. The Ghost Writer (Penulis Hantu) – John Harwood (Rp. 25,000)
6. Merpati di Trafalgar Square – Weka Gunawan (Rp. 15,000)
7. Bright Angle Time – Martha McPhee (Rp. 25,000)
8. The Men’s Guide to the Women’s Bathroom – Jo Barrett (Rp. 30,000)
9. Tarothalia – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
10. My Life as a Fake – Peter Carey (Rp. 25,000)
11. True History of the Kelly Gang – Peter Carey (Rp. 30,000)
12. Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek - Djenar Maesa Ayu (Rp. 20,000)
13. Maya – Jostein Gaarder (Rp. 30,000)
14. The Lovely Bones (Tulang-tulang yang Cantik) – Alice Sebold (Rp. 25,000)
15. Marriage Most Scandalous – Johanna Lindsey (Rp. 30,000)
16. Summer in Seoul – Ilana Tan (Rp. 15,000)
17. One for my Baby – Tony Parsons (Rp. 30,000)
18. Jodoh Monica – Albertheine Endah (Rp. 25,000)
19. Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
20. My Salwa My Palestine – Ibrahim Fawal (Rp. 30,000)
21. Novel Tanpa Nama - Duong Thu (Rp. 25,000)
22. The Heart is a Lonely Hunter – Carson McCullers (Rp. 25,000)
23. Cinta Andromeda – Tria Barmawi (Rp. 20,000)
24. The Missing Rose – Serdar Ozkan (Rp. 25,000)
25. Vienna Blood – Frank Tallis (Rp. 25,000)
26. A Death in Vienna – Frank Tallis (Rp. 25,000)
27. Heartblock – Okke ‘sepatumerah’ (Rp. 20,000)
28. Mendamba – Aditia Yudis (Rp. 20,000)
29. Koq Putusin Gue? – Ninit Yunita (Rp. 20,000)
30. When a Man Lost a Woman – Ita Sembiring (Rp. 20,000)
31. Night over Water – Ken Follett (Rp. 25,000)
32. Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 15,000)
33. Lucia, Lucia – Adriana Trigiani (Rp.25,000)
34. Forgiven – Morra Quarto (Rp. 20,000)
35. Rindu – Sefryana Khairil (Rp. 20,000)
36. Coming Home – Sefyrana Khairil (Rp. 20,000)
37. Goloso Geloso – Tanti Susilawati (Rp. 20,000)
38. Ciao Italia! – Gama Harjono (Rp. 20,000) – non fiksi
39. Girl with the Pearl Earings (Gadis dengan Anting-Anting Mutiara) – Tracy Chevalier (Rp. 25,000)
40. How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
41. The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
42. When the wind blows (Ketika Angin Bertiup) – James Patterson (Rp. 25,000)
43. Perfume: The Story of a Murderer – Patrick Suskind (Rp. 25,000)
44. Sphre (Bola Asing) – Michael Crichton (Rp. 25,000)
45. The Remains of the Day (Puing-Puing Kehidupan) – Kazuo Ishiguro (Rp. 25,000)
46. Annie’s Baby – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
47. Go Ask Alice – Anonim (Rp. 25,000) – non fiksi
48. Di Bawah Bayang-Bayang Perang – Naguib Mahfoudz (Rp. 20,000)
49. Sarabande – Bre Redana (Rp. 20,000)
50. Seribu Burung Bangau – Yasunari Kawabata (Rp. 20,000)
51. Tiada Tempat di Surga Untuknya – Nawal el Saadawi (Rp. 20,000)
52. Surau Tercinta – Sutirman Eka Ardhana (Rp. 20,000)

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer & Annie Barrows @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

Awal gue membaca judulnya, gue rada ‘alergi’ karena ada kata-kata ‘Literary’-nya. Takutnya, bahasa terlalu ‘tinggi’ sampe gue gak ngerti isi ceritany. Tapi, dari hasil jalan-jalan ke beberapa blog, koq tampaknya menariknya? Beruntung ada yang mau barter dengan buku gue, jadi gue bisa membaca buku ini.

Alkisah, Juliet Ashton, seorang penulis yang terkenal dengan kolomnya ‘Izzy’. Dia ini lagi cari ide untuk buku terbarunya. Ketika itu masa-masa setelah perang dunia kedua. Apartemen Juliet sendiri hancur karena serangan bom.

Secara kebetulan, Juliet menerima surat dari Dawsey Adams, seorang pria yang tinggal di Guernsey Island. Pak Dawsey ini cerita kalau dia kebetulan membaca bukunya dulunya punya Juliet. Di buku itu ada alamat Juliet. Jadilah bersurat-suratan, cerita tentang buku-buku, sharing tentang kehidupan di Guernsey selama diduduki tentara Jerman pas Perang Dunia itu.

Dan akhirnya, gak hanya Dawsey yang surat-suratan sama Juliet. Tapi juga ada Eben, yang suka Shakespeare, Isola – yang suka bikin ‘ramuan’ sendiri, ada Amelia – yang paling tua di antara mereka. Semua jadi cerita ke Juliet. Dan dari sinilah, Juliet tau gimana kelompok baca ini bisa terbentuk dan apa hubungannya sama si Pie Kentang yang ikutan dimasukin jadi nama kelompok itu.

Lama-lama, Juliet jadi penasaran dengan Guernsey dan para sahabat barunya itu. Ide untuk buku barunya muncul dan Juliet pun akhirnya berkunjung ke Guernsey. Akhirnya, malah Juliet betah di Guernsey. Dia menemukan sahabat baru yang menyenangkan. Ada satu tokoh yang selalu disebut-sebut oleh teman-temannya di Guernsey, yang sayangnya, bernasib tragis di tangan tentara Jerman. Elizabeth McKenna - namanya, selalu jadi sahabat semua orang.

Buku ini ditulis dalam bentuk surat-menyurat antara Juliet, teman-teman di Guernsey, dengan editor-nya dan dengan sahabat Juliet di London. Mungkin di awal agak sedikit membingungkan, karena begitu banyak tokoh yang ‘bersliweran’ di surat-surat Juliet. Tapi, makin lama, gue jadi merasa ikut ‘bersahabat’ dengan mereka.

Thursday, May 19, 2011

Gelang Giok Naga

Gelang Giok Naga
Leny Helena
Qanita, Cet. 1 – November 2006
316 Hal.

A Sui dan A Lin, awalnya mereka sama sekali tidak kenal satu sama lain. Meskipun sama-sama berasal dari Cina, lalu hijrah ke Indonesia di jaman Belanda, nasib mereka berbeda. A Sui, meninggalkan Cina untuk menyusul suaminya yang mencoba peruntungan di Indonesia. Kala itu banyak orang Cina yang merantau dan membuka usaha di Indonesia (masih dengan nama Batavia). Awal kehidupan A Sui dan suaminya di Indonesia begitu makmur.

Berbeda dengan A Sui, datang ke Indonesia, A Lin dipekerjakan untuk mengurus ternak babi, bahkan ia harus tinggal satu kandang dengan hewan-hewan itu dan diperlakukan kurang baik. Sampai akhirnya, ia dijadikan nyai bagi seorang tuan Belanda. Tapi, setelah memilik anak, sang Tuan Belanda itu kembali ke negerinya sendiri, sambil membwa anak kembar mereka. Tinggalah A Lin sendiri. Ia pun menikah lagi dengan sesama orang Cina.

Nasib ternyata berubah, usaha suami A Sui bangkrut dan mereka hidup dalam kemiskinan. Sementara A Lin semakin kaya dengan ‘profesi’nya sebagai rentenir. A Lin jadi Nyonya Besar yang dihormati dan ditakuti. Kemiskinanlah yang mempertemukan mereka pada awalnya. Ketika A Sui terpaksa menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya. A Lin akhirnya menyimpan gelang itu karena A Sui tak sanggup untuk menebusnya. Sampai akhirnya, gelang giok naga itu kembali kepada pemilik yang sebenarnya.

Gelang giok naga itu sendiri sudah dimiliki ibu A Sui, warisan turun temurun yang hanya diberikan kepada anak perempuan. Pemilik awal gelang giok naga ini adalah seorang selir bernama Yang Kuei Fei, yang melarikan diri dari istana setelah sang Kaisar terbunuh. Takut dituduh melakukan pembunuhan, ia pun lari bersama seorang Kasim istana.

Lagi gue membaca cerita ‘turun-temurun’ sebuah keluarga keturunan Cina di Indonesia. Masih ‘bersinggungan’ dengan sejarah, terutama ketika terjadinya peristiwa di tahun 1998. Swanlin berulang kali harus menerima perkataan yang menyakitkan sebagai akibat ia seorang Cina.

Sayang, ada halaman yang hilang – dari halaman 273 – 288 – hiks…

Wednesday, May 18, 2011

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin)
Ligwina Hananto @ 2010
Literati – Cet. III, Maret 2011
240 Hal

Apakah anda termasuk orang yang punya gaji tapi selalu habis gak tau ke mana? Mampu beli buku, makan di resto, weekend ke mall, nonton di 21, berlibur – tapi gak punya tabungan? Selamat… berarti anda termasuk yang ‘wajib baca buku ini’. Golongan seperti ini – termasuk gue – yang disebut mbak Ligwina dengan Golongan Menengah.

Nah, di buku ini, beliau mengajak kita untuk ‘berpikir’, berhitung dan lebih aktif dalam mengatur keuangan pribadi kita. Mencoba untuk menjadikan Golongan Menengah jadi ‘barisan’ yang kuat. Karena Golongan Menengah inilah yang nantinya akan membentuk Indonesia di masa depan.

Mungkin bakalan ‘stress’ dan pusing melihat angka-angka yang dipaparkan di sini. Bisa membuat kita ternganga, dan langsung berhitung, berapa banyak yang harus kita tabung dengan kata lain juga, berapa banyak kita harus ‘mengorbankan’ gaya hidup kita sekarang – tapi hasilnya nanti adalah untuk membuat hidup kita di masa depan lebih baik. Misalnya dengan memikirkan yang namanya dana pendidikan anak, dana pensiun. Hitungan dan ilustrasinya sederhana, jauh dari teori-teori ekonomi yang njelimet. Membuat kita yang tadinya pusing jadi lebih tenang.

Nah, salah satu bagian dari buku ini bertema ‘Menabung Saja Tidak Cukup’. Di sini dijelaskan berbagai bentuk investasi, seperti property, reksadana, logam mulia. O ya… satu lagi yang gue dapet, jangan ‘terjebak’ dengan asuransi. Gue ketawa pas baca tentang ‘Sendal Jepit Pendidikan’.

Di bagian akhir (dan ada kartunya juga), ada sebuah list yang berisi ‘100 Langkah Untuk Tidak Miskin’. Awalnya sederhana, misalnya ‘Punya penghasilan’, ‘pergi ke ATM 1 kali seminggu’, ‘mengerti cara memakai kartu kredit’, sampai yang bikin gue merasa ‘woooow.. masih jauh banget.’, misalnya ‘Punya dana darurat’ ‘sekian’ kali penghasilan’, ‘punya property pertama’, punya bisnis pertama.’ Hadoooohhh.. . makin ke belakang, lhooo.. check list-nya makin panjang dan kalo diliat sekarang, rasanya gak mungkinnnnn…!!!

Tapi, beneran deh, setelah membaca buku ini, gue langsung berpikir, ambil kertas, alat tulis, dan mulai mengurai pengeluaran gue sebulan…. Berhitung… berhitung… dan… pusinggg… astaga… harus segera dimulai kalau gue gak mau kalang kabut di hari tua gue.

Gue sih berharap semoga buku ini gak hanya jadi pajangan di lemari buku gue. Gue akan seneng buku ini lecek, yang artinya gue bakal terus membolak-balik buku ini biar gue makin pinter.

In A Strange Room: Perjalanan Tiga Benua

In A Strange Room: Perjalanan Tiga Benua
Damon Galgut @ 2010
Yuliany C & Shandy T (Terj.)
Elexmedia Komputindo – 2010
265 Hal.

Buku ini sangat muram. Kesan itu yang gue tangkap sejak halaman pertama. Buku yang sempat membuat gue penasaran setengah mati karena membaca di blog ini. Untungnya mbak Riana berbaik hati meminjamkan buku ini ke gue.

Terdiri dari tiga bagian, di mana si tokoh utama, bernama Damon, asal Afrika Selatan, berkelana keliling dunia. Di bagian pertama, ia bertemu dengan seorang pemuda asal Jerman, bagian kedua, bertemu dengan sekelompok backpacker dan yang ketiga, ia harus menjaga seorang sahabat wanitanya ke India.

Dari ketiga perjalanan itu, tak satu pun yang menggambarkan perjalanan yang menyenangkan, malah gue menangkap, si Damon ini orang yang pemurung, penyendiri. Ini juga tertangkap dari penuturannya tentang ‘rumah’. Ia pulang ke Afrika Selatan, tapi tak merasakan bahwa inilah kampung halamannya, rumahnya.

Berada di sekitar teman perjalanannya pun, tak membuat ia merasa nyaman. Ia selalu merasa ada di luar kelompok itu. Tapi, setiap diajak ikut serta, Damon nyaris selalu ‘hayo’ aja. Meskipun awalnya, ragu-ragu, menolak, end up-nya, ia akan kembali berada dalam kelompok itu.

Bagian yang memberi ‘sedikit’ kesan buat gue, mungkin bagian ketiga. Mungkin di sini, gue mulai lebih sabar membacanya. Ya, jujur sih, dengan karakter orang yang ‘depresi’, membuat gue jadi gak sabar. Di bagian ketiga, ia harus bertahan sebagai pelindung teman wanitanya yang punya kecenderungan ingin bunuh diri. Bersusah payah ia mencari berbagai cara, agar Anna, teman wanitanya itu, tetap berpikir positif, dan makin susah karena Anna tidak mau diajak kompromi atau bekerja sama.

Buku ini mengingatkan gue sama The Alchemist – Paulo Coelho. Mencoba mencari filosofi di dalam berbagai kejadian yang ada. Mungkin sih, kalo gue mau lebih mendalami buku ini, bakal banyak pengalaman hidup yang bisa gue dapet – yang katanya merubah hidup si penulis. Tapi.. ya, bener kata mbak Riana, ini bukan buku ‘gue’ banget. Gelap, penuh tekanan, bikin ikutan jadi depresi…

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng
Pralampita Lembahmata
GPU – Maret 2011
520 hal.

Sebuah pohon kate alias bonsai menjadi saksi bisu perjalanan sebuah keluarga. Berawal dari sebuah kunjungan ke rumah seorang teman, Boenarman, warga Indonesia keturunan Tionghoa, tertarik dengan sebuah pohon yang dibuat jadi kecil, tapi ternyata memiliki sebuah pemahaman, filosofi yang sangat dalam. Dari situlah, ia bercita-cita, memiliki satu bonsai yang akan menjadi sebuah prasasti, pusaka, warisan bagi keluarganya kelak.

Boenarman yang menjadi pengusaha ternak babi merawat bonsai itu dengan penuh perhatian. Dibesarkan di jaman serba susah oleh ibunya, Boenarman tumbuh jadi orang yang sukses, sederhana dan bijak. Di kala itu, tahun 1900an, penggemar bonsai masih langka. Orang yang tak paham dengan apa yang jadi tujuan Boenarman, mungkin akan melihat ia berlebihan. Boenarman memperlakukan bonsai bagai ‘anggota keluarga’. Manakala hatinya galau, ia duduk di depan bonsai, merenung, seolah bercakap-cakap dengan bonsai dan hatinya pun jadi lebih tentram.

Ketika tentara Jepang datang ke Indonesia dan merampas semua harta benda rakyat, bonsai ini disimpan di antara pohon-pohon lain sehingga tidak seperti tanaman yang berharga. Pengentahuan tentang bonsai pula yang jadi penyelamat nyawa Boenadi, anaknya.

Bonsai ini tetap hidup, melintas berbagai jaman, menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah – tak hanya sejarah keluarga itu sendiri, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Tak hanya saat-saat bahagia, tapi juga ketika satu keluarga ini dirundung masalah, bonsai ini tampak menjadi penenang dan pelindung bagi keluarga besar Boenarman. Seperti yang diharapkan oleh Boenarman, bonsai ini dimiliki secara turun-temurun di dalam keluarganya. Mencari penerus untuk memelihara bonsai ini, juga bukan perkara mudah. Harus ada kemauan dan minat yang tumbuh secara alamiah, tak boleh ada rasa terpaksa dalam diri sipewaris.

Cara bertutur para tokoh juga bergulir seiring dengan jaman yang berubah. Misalnya cara bicara Boenarman dengan sahabat-sahabatnya lebih ‘berbunga-bunga’ atau lebih banyak kata-kata yang halus dibanding ketika Boenadi bertutur, berubah lagi ketika Meily, anak Boenadi berbicara. Gak berasa kalau ternyata jamannya udah berubah. Surat-suratan Boenarman juga ditulis dengan bahasa Indonesia berejaan lama.

Cerita bonsai berlatar belakang keluarga keturunan Tionghoa, yang sudah turun-temurun ada di Indonsia,
sehingga sudah berbaur dengan bangsa pribumi. Pembaca diajak menelusuri sejarah Indonesia, sejak masih ada yang namanya Festival Perahu Naga di Tangerang, hingga kerusuhan Mei 1998. Dari jaman ketika para warga keturunan dan pribumi bersatu, hidup damai tanpa ada prasangka dan curiga, hingga akhirnya warga keturunan Cina dicaci-maki, difitnah, dan akhirnya terjadi berbagai peristiwa yang berujung pada perbedaan yang semakin meruncing.

Monday, May 09, 2011

Ape House

Ape House
Sara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages

Di saat orang sedang santai di rumah, menikmati tahun baru bersama keluarga, Isabelle Duncan nyaris tewas karena ledakan bom di laboratorium tempatnya bekerja. Sebuah organisasi pencinta binatang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Isabel adalah seorang ilmuwan yang mengabdikan dirinya di dalam dunia ‘bonobo’ atau ‘ape’ – jenis kera yang mungkin lebih mirip simpanse atau orang utan (please, correct me if I’m wrong… ). Isabel belajar bagaimana bonobo berinteraksi, berkomunikasi, sampai akhirnya ia mengerti ‘bahasa’ mereka. Isabel juga mengatur menu diet mereka dan mengajarkan berbahasa yang baik.

Ada orang-orang yang mengaku pencinta binatang yang salah mengartikan semua penelitian yang dilakukan Isabel dan teman-temannya. Mereka berpikiran apa yang dilakukan Isabel adalah sebuah bentuk eksploitasi terhadap hewan.

Mengalami luka parah, hingga harus dioperasi plastik dan harus dirawat lama di rumah sakit, Isabel terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keenam bonobo asuhannya. Mereka dibawa ke sebuah rumah, dikumpulkan di dalam satu ruangan yang dipasang kamera di berbagai sudut – dan semua kegiatan mereka disiarkan secara live. Ken Faulks, salah satu pemilik berbagai acara reality show, berharap acara ini akan menarik banyak pemirsa, meskipun dengan cara yang ditentang banyak orang.

John Thigpen, berusaha menyelamatkan karirnya di dunia jurnalistik. Meskipun ia terpaksa mengambil tawaran bekerja di sebuah tabloid, ia bertekad untuk membongkar kebusukan di balik reality show ‘Ape House’ itu.

Sekali lagi, Sara Gruen mengambil tema tentang hewan, khususya tentang eksploitasi hewan. Yang suka sama Water for Elephants, gak akan menyesal untuk baca buku ini. Reality show itu gak ‘se-real’ yang ditonton di tv, too much dramas, too much conflicts.

Gue jadi inget jaman dulu pernah nonton di tv (masih ada tvri aja), film tentang simpanse yang pinter main band, didandanin dengan pakaian layaknya manusia, dan gue seneng banget dulu nonton ini. Dan gue juga jadi inget dengan pertunjukan topeng monyet. Kalo dulu, si topeng monyet ini ‘beneran’ untuk menghibur, tapi sekarang malah dipakai untuk mengemis.

Tuesday, May 03, 2011

Scones and Sensibility

Scones and Sensibility
Lindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.

Polly Madassa, baru berusia 12 tahun, tapi ia merasa paling ‘ahli’ dalam urusan percintaan bahkan perjodohan. Kegemarannya membaca buku-buku klasik, dan hal ini begitu ‘merasuk’ ke jiwanya, sampai-sampai ia terhanyut dan terbawa dalam kehidupan nyata. Polly selalu berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables, Pride and Prejudice. Polly dengan baju berenda-renda dan topinya, menulis dengan pena khusus kaligrafi, punya jam saku dan kalau bicara begitu berbunga-bunga, layaknya dalam novel-novel itu.

Begitu menjiwai isi cerita klasik yang ia baca, Polly merasa bahwa orang-orang di sekitarnya memerlukan ‘sebuah rajutan cinta yang baru’. Polly bertekad memutuskan hubungan Clementine, kakaknya, dengan Clint, karena Polly melihat Clint sangat menyebalkan dan tidak cocok untuk kakaknya. Mulailah proyek ‘Cinta Dirajut’ pertama, mencari ‘peminang’ yang tepat untuk kakaknya.

Proyek kedua, adalah mencarikan istri untuk Mr. Fisk, yang tak lain adalah ayah sahabatnya Fran. Proyek ketiga, menjodohkan Miss Wiskerton dengan Mr. Nightquist, si pemilik toko layang-layang.

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari mengirim roti ke Miss Wiskerton yang mengatasnamakan Mr. Nightquist, mencari pasangan di tempat-tempat yang ia datangi (kebetulan di liburan musim panas kali ini, Polly mendapat tugas mengantar roti – maklum anak pemilik toko roti), memberi bunga pada wanita tak dikenal di coffee shop karena ia rasa cocok dengan Mr. Fisk, dan memaksa Edward alias Eddie untuk menjadi ‘knight in shining armor’ untuk menyelamatkan Clementine.

Tapi, tak semua berjalan mulus. Malah kekacauan demi kekacauan terjadi. Banyak kesalahpahaman, sampai-sampai, Polly tak melihat sosok ‘peminang sejati’ untuk dirinya sendiri.

Membaca ini, gue jadi melihat sosok Anne Shirley dalam versi yang lebih modern dan lebih konyol, lebih lebay. Tapi, salut buat Polly yang gemar baca buku klasik dan sampai berulang-ulang. Gue aja baru berhasil baca Jane Eyre tahun lalu, dan gak berniat untuk mengulangnya. Mungkin gue kurang menjiwai ceritanya seperti Polly.

Gue jadi ngebayangin asyiknya lokasi tempat Polly tinggal. Setiap pagi nyium aroma roti yang baru matang (hmmm.. minus acara gosong-gosongannya Clementine), jalan-jalan di tepi pantai sambil naik sepeda… hehehe.. gue jadi ikutan berkhayal kaya’ Polly, deh…

Monday, May 02, 2011

Coming Home

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?

Wednesday, April 27, 2011

The Virgin Blue

The Virgin Blue (Biru Sang Perawan)
Tracy Chevalier
Lanny Murtiharjana (Terj.)
GPU – Juli 2006
360 Hal.

Perancis tahun 1500an, penuh dengan intrik-intrik yang berhubungan dengan agama. Seorang gadis bernama Isabelle du Moulin, tadinya hanya gadis biasa, anak seorang bidan. Saat rambutnya berubah menjadi merah, ia dipanggil La Rousse. Tadinya itu hanyalah panggilan biasa, tapi ketika seorang pendeta baru datang dan menyebarkan ajaran baru, Isabelle jadi dikucilkan, dianggap punya ‘hubungan batin’ dengan Sang Perawan. Ia harus menutup rapat-rapat rambutnya, agar tak sehelai pun rambut merahnya terlihat.

Karena hamil di luar nikah, Isabelle terpaksa menikah dengan Etienne Tournier. Keluarga Tournier adalah keluarga yang terpandang. Ayah Isabelle membenci mereka. Tinggal di rumah keluarga Tournier, tidak membuat Isabelle merasa tidak nyaman. Hampir semua bersikap memusuhinya, terutama ibu mertuanya, Hannah. Isabelle mempunyai 3 orang anak dari hasil pernikahannya dengan Etienne. Salah satunya perempuan, yang ia beri nama Marie – nama yang menjadi kontroversi pada masa itu.

Saat terjadi pembantaian besar-besaran, keluarga Tournier meninggalkan rumah dan lading pertanian mereka dan pindah ke desa lain.

Dan, selang 4 abad kemudian, Ella Turner pindah ke Perancis mengikuti suaminya yang ditugaskan di sana. Di Perancis, ia kerap merasa terasing. Karena di kota kecil itu, semua orang maunya berbahasa Perancis, dan meskipun berusaha berkomunikasi dengan bahasa Perancis yang masih belepotan, masih saja tidak ditanggapi dan malah dipandang sinis. Para penduduk kerap bergunjing dan mau tahu semua urusan orang lain. Ella menjadi merasa tidak nyaman.

Dari hasil korespondensi dengan kerabatnya, ia pun akhirnya mencari informasi tentang silsilah keluarganya, di mana ternyata nama Turner berasal dari nama Tournier. Dan, mulailah pencarian sejarah yang membawanya pada banyak perubahan. Dalam prosesnya, Ella berkenalan dengan seorang pustakawan, Jean-Paul.

Ella kerap mendapat mimpi-mimpi berwarna biru, biru yang sama seperti yang pernah dilihat Isabelle. Warna biru yang membawa malapetaka dan akhir yang tragis dari hidup anak perempuannya, Marie.

Biasanya gue tertarik membaca fiksi yang ada sejarah-sejarahnya sedikit. Tapi, entah kenapa, membaca buku yang gak terlalu tebal ini rada membuat gue bosan. Mungkin karena gue gak mencernanya dengan ‘sepenuh hati’, makanya gue juga agak gak menangkap inti cerita ini. Selain, bahwa banyak hal tabu di masa itu, bahwa orang lebih percaya takhayul ketimbang ajaran agama.

Thursday, April 21, 2011

Sisters Red

Sisters Red (Dua Saudari Bertudung Merah)
Jackson Pearce @ 2010
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – Cet 1, Februari 2011
432 Hal.

Kehidupan Scarlett dan Rosie March tiba-tiba berantakan ketika seorang pria misterius datang ke rumah mereka di suatu siang. Pria misterius itu tidak hanya merengut nyawa Oma March, hingga menyebabkan mereka harus bertahan hidup berdua, tapi juga mengakibatkan Scarlett kehilangan mata kanannya dan mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya.

Pria yang menawarkan jeruk itu bukanlah manusia sesungguhnya, ia adalah seorang (atau seekor?) Fenris, atau serigala jadi-jadian, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan werewolves. Tapi, ow, jangan bayangkan werewolves ini seperti Jacob di Twilight Saga, di sini Fenris itu sangat mengerikan. Awalnya, mereka menyamar sebagai pria ganteng, rapi dan berlaku baik-baik, tapi begitu mereka berubah, sangat mengerikan dan menjijikan. Korban mereka adalah gadis-gadis muda yang gampang tergoda oleh rayuan pria. Mereka biasanya ada di tempat ramai tapi cenderung terpisah, mereka akan menggiring korban ke tempat yang gelap dan sepi dengan segala bujuk rayu, baru kemudian mereka perlahan-lahan berubah menjadi Fenris.

Kejadian mengerikan itu, membuat Scarlett bertekad untuk memburu para Fenris sampai habis. Ia menjadi sangat protektif terhadap Rosie. Meskipun ia menganggap Rosie sebagai rekannya dalam berburu, tapi sangat berat bagi Scarlett membiarkan Rosie berburu sendiri. Rosie yang cantik adalah umpan yang tepat untuk Fenris. Dengan kostum jubah merah lengkap dengan tudungnya, Scarlett dan Rosie memancing para Fenris untuk mendekat. Di balik jubah merah, tersembunyi senjata yang mematikan.

Semakin lama, berburu Fenris menjadi semacam obsesi bagi Scarlett. Baginya jika ia bersantai dan lengah sedikit, berarti akan ada gadis lain yang menjadi korban. Ia merasa tugasnyalah untuk menyelamatkan dunia ini dari Fenris. Tapi tidak bagi Rosie, yang diam-diam jatuh cinta pada sahabat mereka sejak kecil, Silas. Silas tak lain, adalah partner mereka juga dalam berburu. Dan Scarlett kerap marah setiap perhatian mereka berdua teralihkan dari berburu. Sementara Rosie merasa ia harus setia pada Scarlett yang sudah berkorban begitu besar untuk menyelamatkan nyawanya.

Masalahnya sekarang ini, adalah pergerakan Fenris yang semakin cepat, karena mereka sedang berburu Calon Fenris baru – seorang putra ketujuh dari putra ketujuh, tepat sebelum datangnya bulan purnama. Scarlett semakin tegang, sementara Rosie dan Silas – meskipun dengan rasa bersalah – menginginkan kehidupan lain di luar berburu. Mereka berburu hingga ke Atlanta, untuk mencegah jangan sampai Fenris menemukan sang Calon.

Yang pertama menarik perhatian gue, tentu saja covernya. Setelah sekian lama tertunda, akhir gue berhasil mendapatkan novel ini lewat barter dengan My Milky Way. Gue suka dengan ketiga tokoh utama dalam novel ini. Scarlett, yang sangat protektif, sampai-sampai dia lupa ada dunia lain yang begitu luas. Terkadang ia minder dengan luka-lukanya. Si Cantik Rosie, yang rapuh, tapi pintar dalam hal melempar pisau. Ia masih kerap gugup ketika menghadapi Fenris, tapi jadi berani saat orang-orang yang dia sayangi dalam bahaya. Sementara Silas, seolah menjadi sahabat, pelindung, penyeimbang bagi mereka berdua. Memang agak mengerikan ya, ngebayangin dua perempuan, remaja, bertarung melawan serigala jadi-jadian. Kena cakar, udah biasa… nyium bau yang *hueeekkk*, juga biasa… Lempar kapak, ok… lempar pisau… ok juga… Dan yang pasti, jangan sampai Fenris itu lolos, karena mereka akan jadi lebih lapar, dan mencari mangsa lebih banyak.

Monday, April 18, 2011

Éclair

Éclair
Prisca Primasari
Gagas Media - 2011
236 hlm

Mereka berlima bersahabat. Sergei, Kay, Lhiver, Stephanych dan Katya – perempuan satu-satunya. Mereka memilik keistimewaan masing-masing. Kay yang jago fotografi, Lhiver yang suka sastra, Stephanych si jago masak – Éclair kreasinya digambarkan sangattt enak. Sementara Sergei yang pintar main piano, lebih memilih mengurus bisnis keluarga. Sementara si cantik, Katya, yang akan segera menjadi nyonya Sergei, dikarunia intuisi layaknya seorang detektif. Maklum, Katya memang anak seorang detektif yang meninggal karena dibunuh oleh kelompok Rasputin – Rusia.

Tapi, sayangnya, sebuah tragedi memisahkan mereka. Masing-masing menyimpan rasa bersalah dalam diri mereka. Lhiver membenci mereka semua karena alasan itu. Stephanych, adik Sergei, akhirnya jatuh sakit. Semua berhenti makan éclair sejak kejadian itu. Kay pun pindah ke New York, Lhiver pindah ke Surabaya. Mereka berhenti berkomunikasi secara langsung. Hanya lewat surat yang terbalas, mereka saling tahu berita masing-masing, meskipun enggan memberi kabar balik.

Menjelang pernikahan Sergei dan Katya, penyakit Stephanych semakin memburuk. Tekad Katya ingin membuat mereka berlima berkumpul kembali di saat-saat terakhir Stephanych. Katya pun terbang ke New York – di sini, insting detektifnya berkerja untuk menyelamatkan Kay dari tuduhan pembunuhan. Setelah itu, Katya pun terbang ke Surabaya, mencari Lhiver yang bekerja sebagai dosen.

Para tokoh di dalam buku ini cenderung murung. Tapi, gue terkesan dengan setting ceritanya yang unik. Di antara buku-buku yang gue baca, rasanya jarang yang mengambil setting di Rusia. Paling sering, Paris. Ditambah lagi, tokoh-tokohnya bukan orang Indonesia. ‘Aksesoris’ lain dalam buku ini, nama-nama penulis terkenal asal Rusia – beberapa puisi sering dibaca Lhiver dan Stephanych, alunan musik klasik dengan composer asal Rusia yang dimainkan oleh Sergei, cuaca yang tampaknya dingin banget, dan jangan lupa, éclair buatan Stephanyc yang gak seperti éclair isi vanilla yang sering gue makan. Yang pasti, kalo papa tau cerita buku ini bersetting di Rusia, beliau pasti akan cerita panjang lebar tentang pengalaman beliau sekolah di Rusia dulu.

Satu yang belum kesampaian, dari dulu gue pengen banget punya matrioska… tapi belum kesampaian… belum ketemu (dan belum ada yang ngasih.. hehehehe)

Thursday, April 14, 2011

The Pilot's Wife

The Pilot's Wife
Anita Shreve @ 1998
Abacus 2003
293 pages

Sebagai seorang istri pilot, Kathryn tahu bahaya dan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada suaminya, Jack Lyons. Tapi, ketika tengah malam datang seorang utusan dari perusahaan tempat Jack bekerja dan membawa kabar buruk itu, Kathryn tetap saja tidak siap. Bagi Kathryn, di hari terakhir ia bertemu dengan Jack, semua tampak biasa, tidak ada firasat apa pun, tidak ada yang aneh dari Jack.

Pesawat yang dikemudikan oleh Jack meledak dan jatuh di perairan Irlandia. Dari rekaman suara terakhir yang terdengar dari ‘kotak hitam’, tampak ada beberapa nada kaget dan mengarah pada Jack. Timbul dugaan bahwa Jack melakukan upaya bunuh diri, Jack terlibat dalam sebuah konspirasi.

Kathryn tak sedikit pun percaya akan dugaan itu, ditambah lagi ia harus melindungi Mattie, anak semata wayang mereka dari isapan jempol yang akan membuat kondisi psikologisnya semakin turun. Utusan dari perusahaan penerbang, Robert, setia menemani Kathryn, menghadapi berbagai pertanyaan dari pihak penyelidik.

Meskipun sedih, Kathryn mulai memilah-milah barang-barang milik Jack. Tanpa sengaja, Kathryn menemukan catatan-catatan kecil berisi inisial-inisial yang menimbulkan banyak pertanyaan. Kathryn mulai mengingat-ingat kembali hari-hari terakhir Jack ada di rumah, sikap aneh yang dulu terlewat. Lambat laun, Kathryn mulai mempertanyakan siapa suaminya yang sebenarnya, apa rahasia yang disembunyikan oleh Jack.

Lagi-lagi ini buku lama yang gue punya, yang dulu gue cuekin. Baca beberapa lembar, terus males. Emang harus nunggu ‘kehabisan’ buku dulu, baru ngelirik buku-buku lama. Overall, ceritanya menarik. Gue punya saudara pilot, selama baca buku ini, gue jadi bertanya-tanya, apa yang dipikirkan istrinya kalau suaminya lagi tugas. Deg-degan, was-was atau apa…

Gue bertahan sampai akhir cerita, karena rasa ingin tahu tentang rahasia Jack (kenapa mirip sama Looking for Ward yang baru aja gue baca juga ya? - apa semua rahasia pria itu sama?). Tapi novel ini lebih kompleks. Kathryn termasuk istri yang tenang, bisa menjaga emosi biar pun lagi hancur lebur.

Wednesday, April 13, 2011

Looking for Ward

Looking for Ward
Laurel Osterkamp
80 pages

31 hari menjelang hari pernikahannya, Chloe mendapat email dari Ward, tunangannya. Isinya bukan tentang rayuan atau kata-kata manis menjelang pernikahan, tapi justru tentang Ward yang memberi tahu Chloe bahwa ia akan pergi sementara waktu dan Ward meminta Chloe untuk tidak mencarinya. Singkat dan padat, tapi gak jelas apa alasannya.

Jelas Chloe kalang-kabut. Semua nyaris sudah siap, catering, gereja, bunga, baju pengantin, undangan sudah disebar. Tapi, Chloe sama sekali tidak punya bayangan apa yang terjadi dengan Ward. Padahal di hari terakhir mereka bertemu, semua masih baik-baik saja.

Ia harus menyembunyikan berita ini dari orang tuanya dan berpura-pura semua baik-baik saja. Tapi, rasa khawatir tidak bisa membuatnya untuk tidak bercerita dengan sahabatnya, Bethany. Bahkan ia mengontak Owen, sahabat Ward, yang selama ini hubungan Chloe dan Owen tidak terlalu baik.

Semakin lama, semakin banyak yang ternyata tidak Chloe ketahui tentang diri Ward. Ada banyak rahasia yang disembunyikan Ward selama bertahun-tahun. Dan, akhirnya Chloe pun harus mengambil keputusan apakah akan tetap melanjutkan pernikahannya dengan Ward atau tidak?

E-novella, begitu sebutan untuk novel ini. Percakapan sebagian besar dilakukan dalam bentuk e-mail. Ya, kesan gue sih sebenernya biasa aja. Terkesan ‘cuma’ email-emailan biasa antar teman. Yang bikin gregetan, memang mungkin pengen tau, kenapa sih tiba-tiba si Ward menghilang, apa alasannya, dan apakah di akhir cerita Ward akan muncul lagi kasih berbagai penjelasan, dan apakah Chloe bakal meneriman gitu aja kalau pun Ward muncul. Inilah e-book pertama yang berhasil gue tuntaskan,

Monday, April 11, 2011

Kaitlyn

Kaitlyn
Kevin Lewis @ 2006
Penguin – 2006
499 pages

Kekacauan dalam hidup Kaitlyn dimulai di malam adiknya, Christopher, nyari meninggal akibat kekerasan yang dilakukan ayah tirinya. Ayah tirinya, Steve, yang pemabuk tak tahan mendengar suara tangis Chrissy. Usia Chrissy baru 18 bulan. Akibat peristiwa itu, Chrissy diambil alih oleh Negara, dibawa ke tempat perlindungan anak dan kemudian diadopsi oleh keluarga Tobin. Sementara itu, Kaitlyn terus menyalahkan dirinya, yang tidak sempat menyelamatkan adiknya, hingga akhirnya ia terpaksa berpisah dengan adik yang sangat ia sayangi.

Ibunya, Angela, tak sanggup menahan kesedihan, akhirnya terjerumus dalam ketergantungan obat-obat terlarang. Di lingkungan tempat tinggal mereka, Roxford yang termasuk daerah ‘hitam’, obat-obatan, kejahatan bukanlah hal yang aneh. Barang-barang seperti itu mudah didapat. Awalnya, Angela mendapatkan barang itu secara gratis, tapi makin lama, dengan ketergantungan yang makin tinggi, Angela akhirnya menjadi pelajur demi mendapat uang dan membeli narkoba.

Kaityln juga tidak bersih sepenuhnya. Bersama teman-temannya, ia kerap merokok, minum, tapi ia selalu menjagai dirinya tetap ‘waras’ dan berpikir jernih. Karena ibunya tak mampu membayar barang kepada pengedar, Kaitlyn yang harus membayarnnya. Ia terpaksa bekerja sebagai ‘kurir’ pengantar obat-obatan kepada pelanggan. Tapi, di satu titik, Kaitlyn akhirnya bertekad membuat ibunya bersih. Tapi, tragedi lagi-lagi menghampiri Kaitlyn. Di usia yang sangat muda, ia harus kehilangan ibunya dan masuk penjara

Pada akhirnya, Kaityln tidak pernah bisa keluar dari bisnis ini. Tapi satu yang tak berubah, ia masih tetap mencari adiknya. Christopher tumbuh jadi anak yang cerdas, meskipun sempat bersikap terlalu agresif.

Menurut gue, Kaitlyn adalah gadis yang cerdas. Ia pintar mengatur rencana untuk bisnisnya sampai mengeruk keuntungan besar. Polisi juga nyaris tidak bisa menelusuri jejak-jejak Kaitylyn. Tapi, masa lalu dan kehidupan yang keras juga menjadikannya gadis yang dingin, nyaris tanpa emosi, kecuali yang berhubungan dengan ibu dan adiknya. Novel ini cukup menyentuh, berpontensi ‘menguras air mata’. Tapi ada beberapa yang ‘dipaksain’ (menurut gue lhoooo), misalnya tentang pertemuan Kaitlyn dengan Ibu Baptisnya di penjara. Terus, gue piker tadinya Steve, bapak tirinya, bakal muncul lagi dan ganggu hidup Kaitlyn lagi. Tapi, tanpa si Steve muncul lagi, cerita ini udah ribet banget.

Monday, April 04, 2011

Mini Shopaholic

Mini Shopaholic
Sophie Kinsella @2010
Siska Yuanita (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2011
568 Hal.

Punya anak ternyata gak membuat Rebbeca Brandon (dahulu Bloomwood) jadi berubah lebih bijak dalam urusan shoping-shoping. Becky tetap ‘gemetar’ setiap melihat discount, baginya itu sebuah investasi, meskipun barang dibelinya bukan dalam ukuran untuk dirinya sendiri.

Minnie, si kecil berusia 2 tahun adalah anak yang ‘liar’ dan punya kemauan keras. Meskipun kewalahan mengantur Minnie, Becky tetap tidak terima kalau ada yang bilang anaknya manja. Becky kerap membelikan Minnie baju-baju keluaran desainer ternama, boneka-boneka terbaik. Bahkan Becky sudah ‘berinvestasi’ untuk hadiah ulang tahun Minnie ke 21 kelak. Dan Becky tentu saja sangat bangga, karena baju itu dibeli dengan discount yang besar. Minnie cenderung berbuat ‘kekacauan’ karena sifatnya yang keras itu. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

London dilanda krisis moneter yang membuat orang harus mengencangkan ikat pinggang. Bisnis Luke juga agak kacau. Dan Becky butuh dana yang sangat besar untuk mewujudkan pesta ulang tahun kejutan untuk Luke. Tanpa kecuali, Becky juga ‘dituntut’ untuk berhemat. Tapi, hemat a la Becky, tentunya beda dengan hemat a la Luke.

Dan, bukan Becky kalau tidak terjerat masalah. Dan bukan Becky juga kalau dia gak bisa mendapatkan bantuan.

Entah kenapa, makin lama gue berasa Becky makin ‘lebay’, masa’ dia nyaris gak berubah dan gak dewasa. Jadi rada ngebosenin juga sih bacanya. Emang lucu, tapi koq gak ada sesuatu yang baru. Mungkin bakal ada sequel yang bercerita hebohnya Becky belanja bareng Minnie remaja, atau Becky di Hollywood, atau Becky menyambut cucu pertama. Tapi apa iya akan seheboh cerita-cerita sebelumnya? Gue jadi lebih suka membaca tulisan Sophie Kinsella di luar Shopaholic series ini.

Friday, April 01, 2011

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau

Kicau Kacau: Curahan Hati Penulis Galau
Indra Herlambang @2011
GPU – Cet. III, Maret 2011
344 Hal.

Indra Herlambang, nama yang selama ini rasanya lebih gue ‘kenal’ sebagai presenter acara infotainment atau MC, dengan gayanya yang jail dan lucu. Tapi, ternyata, bakatnya tak sekedar cuap-cuap, ia ternyata bisa juga menulis dari yang ringan sampai yang berat , seperti skenario yang memberinya penghargaan piala Citra.

Cover buku yang kuning cerah, seperti ‘memanggil’ untuk dibaca, buku ini ternyata memang menarik. Sekumpulan tulisan Indra di berbagai media cetak, berbagai tema, berbagai ide dan latar belakang. Ada aja yang bisa dijadikan tulisan menarik, misalnya obrolan dengan supir taksi – Indra malah membuat beberapa kategori supir taksi, atau pengalaman ketika mewawancara Miyabi di Jepang, meliput kedatangan Obama yang malah membuatnya masuk angin.

Indra termasuk kategori ‘family man’. Berulang kali terungkap di dalam tulisannya, betapa ia sangat menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Akrab dengan kakak, adik dan juga para keponakannnya.

Sebuah buku yang menurut gue penuh ‘sentuhan pribadi’, seperti mendengar teman bercerita atau seorang sahabat yang lagi curhat.

Banyak hal sederhana justru jadi sangat menarik melalui tulisan Indra Herlambang. Mengajak kita untuk lebih melihat sekitar kita, mencari hal sederhana untuk bisa dijadikan cerita-cerita unik dan menarik.

Tuesday, March 29, 2011

Five Quarters of the Orange

Five Quarters of the Orange
Joanne Harris @ 2001
Perenial - 2002
304 pages

Satu lagi buku dengan latar belakang pendudukan Jerman di Perancis. Kali ini gue ‘berjalan’ ke sebuah kota kecil di daerah Loire. Bercerita tentang sebuah keluarga, yang terpaksa kehilangan kepala keluarga nya karena tewas di medan perang. Sang anak, Framboise Dartingen – atau kini dikenal dengan Framboise Simon, bertutur tentang tragedi yang menyebabkan keluarga mereka dibenci dan terasing.

Framboise, adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Cassis, kakak laki-lakinya dan Reine-Claude, kakak perempuannya. Mereka tinggal di sebuah pondok bersama ibu mereka yang ‘aneh’. Selalu penuh rahasia dan sangat membenci buah jeruk. Setiap kali mereka membawa jeruk pulang, mereka akan selalu dipaksa untuk menyikat tangan mereka sampai bersih, sampai bau jeruk itu hilang.

Cerita berawal dari sebuah scrapbook yang diwariskan Mirabelle kepada Framboise. Di dalam scrapbook itu berisi tulisan-tulisan rahasia ibu mereka bersama dengan resep-resep keluarga. Framboise memberanikan diri kembali ke kampung halamannya, membuka sebuah restoran kecil yang menyajikan resep-resep peninggalan ibunya.

Framboise pun mengisahkan dari masa kecilnya bersama kakak-kakaknya, bermain di danau, sampai akhirnya berteman dengan tentara Jerman yang menyebabkan mereka menjadi sangat dibenci. Sementara itu, ibu mereka selalu bersikap aneh dan selalu menutup diri. Hubungan Framboise dengan tentara Jerman bernama Tomas diawali oleh Cassis dan Reine-Claude yang ternyata sudah sering memberikan informasi kepada tentara Jerman lain, informasi itu ditukar dengan barang-barang yang mereka inginkan seperti majalah, cokelat, rokok atau lipstik. Tapi, Framboise tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, ia lebih tertarik pada Tomas itu sendiri. Jiwa petualang dan pemberontak dalam diri Framboise membuatnya berbeda dari kedua saudaranya. Karena Framboise masih dianggap terlalu kecil untuk bergaul, maka ia merancang sebuah ‘jebakan’ untuk ibunya, agar ia bisa menyelinap pergi bersama Cassis dan Reine-Claude.

Di masa tuanya, Framboise masih sering merasa ketakutan kalau-kalau ada penduduk kota itu yang masih mengenalinya sebagai anak dari Mirabelle Dartingen. Meskipun restoran kecilnya banyak pengunjung, tapi hanya satu orang yang berhasil mengenali dirinya. Sahabat masa kecilnya sendiri, Paul.

Gangguan justru datang dari keluarganya sendiri, anak Cassis yang bernama Yanick beserta Laure, istri Yannick. Mereka meminta Framboise untuk memberikan resep rahasia milik nenek mereka, agar bisa mereka sajikan sendiri di resto milik mereka. Bahkan mereka mengancam akan membeberkan rahasia Framboise kepada publik jika mereka tidak mendapatkan resep itu.

Cara bertutur Joanne Harris yang perlahan, membuat kita terus menanti apa rahasia keluarga itu. Dari awal, cara berceritanya penuh rahasia. Dibuka sedikit-sedikit, sampai akhirnya kita mengerti dan tahu rahasia keluarga itu. Gue jadi tertarik pengen bikin scrapbook… tapi hahaha.. seperti biasa, baru sekedar tertarik, belum tau deh, kapan mau ngerjainnya…

Novel ini, adalah salah satu bagian dari ‘food trilogy’, selain Chocolat dan Blackberry Wine (yang mudah-mudahan bisa segera gue baca)

For Sale: Chicklit ... Chicklit... Chicklit...


Kali ini giliran chicklit yang mau gue jual. Butuh waktu juga sih, sampai akhirnya gue 'rela' melepas chicklit gue. Ada masanya ketika gue 'keranjingan' sama yang namanya chicklit, sampai akhirnya gue bosan sendiri. Dan setiap pengen menjual chichlit ini, kalo gue ngeliat covernya yang cerah, warna-warni dan lucu, juga ceritanya yang kalo sepintas diliat, koq bagus, ya... gue pun sempat bertahan untuk membiarkan chicklit ini di lemari buku gue. Tapi, sekarang, hehehe.. 'selera' gue rada berubah, jadi gue bisa merelakan chicklit gue jadi milik orang lain.

Seperti biasa, kalo berminat, silahkan tinggalkan pesan di blog ini atau langsung email gue di ferina.permatasari@hbtlaw.com

Ini daftarnya (baru sebagian sih yang bisa gue list... nanti lagi menyusul):

Chicklit Terjemahan – All Rp. 25,000

1. Sammy’s Hill (Dunia Sammy) – Kristin Gore
2. Does my Bum Look Big in this? (Besar itu Indah) – Arebella Weir
3. For Better For Worse (Dalam Suka dan Duka) – Carole Matthews
4. Straight Talking (Apa Adanya Saja) – Jane Green
5. Mr. Maybe – Jane Green
6. Jemima J – Jane Green
7. Stupid Cupid (Salah Sasaran) – Arebella Weir
8. Reality TV Bites (Reality Show Gila) – Share Bolks
9. Spellbound (Tersihir) – Jane Green
10. Last Chance Saloon (Kesempatan Terakhir) – Marian Keyes
11. Dress Rehearsal (Ramalan Kue Pengantin) – Jennifer O’Connell
12. Asking for Trouble (Cari Gara-gara) – Elizabeth Young
13. Bad Heir Day (Aku dan si Penyair Palsu) – Wendy Holden
14. Perfect Stranger (Tak Kenal Maka Tak Sayang) – Robyn Sisman
15. Playing James (Pura-pura Jadi Detektif) – Sarah Mason
16. Wonderlust (Doyan Jalan) – Chris Dyer
17. Speechless (Buket Pengantin Ketiga Belas) – Yvonne Collins & Cardy Rideout
18. Calling Romeo (Mencari Romeo) – Alexandra Potter
19. Exes Anonymous (Klub Patah Hati) – Lauren Henderson
20. Cause Celeb (Relawan Elite) – Helen Fielding
21. Fashionista – Lynn Messina
22. Faking It (Jangan Pura-pura) – Jennifer Cruise
23. Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan) – Nell Dixon
24. Accidentally Engaged (Ditodong Tunangan) – Mary Carter
25. High Society – Sarah Mason
26. Lucy Talk (Ocehan Lucy) – Fiona Walker
27. Don’t Try This at Home (Jangan Coba-coba) – Katie Pearson


Chicklit Bahasa Inggris - All Rp. 35,000

1. Pastures Nouveaux – Wendy Holden
2. Eat, Drink and Be Married – Eve Makis
3. Bridget Jones’ Diary: The Edge of the Reason – Helen Fielding
4. Ready or Not – Chris Manby
5. American Girls about Town – Adriana Trigiani, Jennifer Weiner, Lauren Weisberger, etc.
6. Irish Girls About Town – Maeve Binchy, Marian Keyes, Sarah Webb, etc
7. Pure Fiction – Julie Highmore
8. He’s Got to Go – Sheila O’Flanagan
9. Pretty Boy – Lauren Henderson
10. Talking to Adison – Jenny Colgan
11. Maddy Goes to Hollywood – Maureen Martella
12. Watermelon – Marian Keyes
13. Rachel’s Holiday – Marian Keyes
14. Special Relationship – Robyn Sisman
15. Angels – Marian Keyes
16. Shopaholic & Baby – Sophie Kinsella
17. Angels – Marian Keyes
18. Trading up – Candace Bushnell
19. Girl Friday – Jane Green
20. Life Swap – Jane Green


Monday, March 21, 2011

Suite Française

Suite Française
Irène Némirovsky @ 1942
Translated by Sandra Smith
Vintage International Edition - 2007
431 pages

Novel ini mengambil setting sekitar tahun 1940an. Terdiri atas dua bagian, di mana bagian pertama, Storm in June, berkisah tentang awal-awal Perang Dunia II, saat Jerman mulai datang ke Perancis, memborbardir Perancis dengan bom lewat serangan udara.

Para warga mulai sibuk mengungsi ke daerah yang belum diduduki oleh tentara Jerman. Kota Paris penuh dengan pengungsi yang luntang-lantung. Ada pasangan penulis, Gabriel Cortez, yang dalam keadaan seperti ini masih egois, masih terus berusaha mencari tempat nyaman dan nomer satu, lalu pasangan suami istri Michaud, yang masih khawatir kehilangan pekerjaan kalau mereka tidak mengikuti perintah atasan mereka, ada lagi keluarga besar Péricand yang heboh waktu ‘ketinggalan’ bapak mertuanya.

Bagian kedua, Dolce, berkisah tentang masa-masa pendudukan Jerman. Hampir di setiap rumah, menampung satu tentara Jerman. Perasaan mereka terhadap para tentara Jerman sendiri berbeda satu sama lain. Banyak orang-orang tua, terutama wanita, sangat membenci tentara Jerman, karena sudah ‘merampas’ suami dan anak laki-laki mereka sehingga mereka harus hidup sendiri, tapi para kaum muda, terutama perempuan dan anak-anak, pelan-pelan mulai menerima tentara Jerman sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari, karena yang mereka lihat adalah tentara Jerman yang baik hati, sopan dan ramah. Para perempuan terkadang mencari kesempatan untuk ‘flirting’ dengan tentara Jerman.

Bahkan ketika akhirnya tentara Jerman pergi, ada sedikit rasa kehilangan. Mereka bingung, antara harus sedih karena kehilangan teman atau harus bahagia karena akhirnya bebas.

Mungkin novel ini gak akan terlalu berkesan buat gue seandainya gue gak tau sedikit latar belakang tentang penulisnya. Irène Némirovsky, seorang penulis yang cukup terkenal di masanya dengan salah satu novelnya yang juga jadi best seller. Tapi karena ia keturunan Yahudi, maka ia menjadi ‘sasaran empuk’ untuk ditangkap, kemudian akhirnya meninggal di Auschwitz pada tahun 1942.

Novel ini sendiri tampaknya seharusnya masih ada lanjutannya. Tapi tidak sempat terselesaikan. Ini bisa dilihat dari appendix yang salah satunya adalah tentang proses penulisan novel ini. Appendix lain berisi korespondensi penulis dengan agen penerbit, dan korespondensi suami penulis dengan pihak-pihak lain ketika mencari keberadaan penulis setelah ditangkap. Beruntung naskah ini berhasil ‘diselundupkan’ oleh salah satu anak mereka, hingga akhirnya bisa diterbitkan dalam bentuk buku.

Biasanya gue termasuk orang yang ‘malas’ membaca appendix. Buat gue yang penting kan isi novelnya sendiri, tapi buku ini ternyata meninggalkan ‘kesan’ yang lebih jauh setelah gue membaca appendix-nya.

Monday, March 14, 2011

Of Bees and Mist

Of Bees and Mist
Erick Setiawan @ 2009
Fransiska M. (Terj.)
Gagas Media – 2011
572 Hal.

Dibesarkan dalam keluarga yang aneh, membuat Meridia tumbuh menjadi gadis yang sedikit canggung dan ‘kuper’. Sejak ia lahir, keanehan sudah menyertai dirinya. Ayahnya adalah seorang professor yang sangat membencinya. Tak pernah sedikit pun, Gabriel menunjukkan tanda-tanda bahwa ia menyayangi putrinya. Sementara ibunya, Ravenna, tenggelam dalam dunianya sendiri, terkadang lupa bahwa ia memiliki seorang putrid. Meridia diasuh oleh seorang pengasuh yang over protective. Kemana pun Meridia pergi, ia harus memakai baju yang berlapis-lapis tebalnya, dan ia tidak boleh keluar rumah rumah terlalu lama karena khawatir akan virus-virus yang beterbangan. Rumah Meridia selalu dingin dan berkabut. Orang tuanya tidak pernah bertegur sapa. Dan banyak keanehan lain lagi yang ada dalam rumahnya.

Di usia remaja, Meridia berkenalan dengan Daniel, anak seorang pemilik toko emas. Dan keduanya pun saling jatuh cinta. Meskipun di awal, Gabriel menentang pernikahan ini, tapi Ravenna berhasil membuat mereka berdua akhirnya menikah.

Pernikahan ini memang membuat Meridia bahagia, tapi campur tangan ibu mertuanya, Eva, yang berlebihan lama-lama membuatnya gerah. Keluarga suaminya ternyata tidak kalah ajaib dengan keluarganya sendiri. Ayah mertuanya, Elias, yang selalu pasrah, Sementara, Daniel, selalu bersikap sebagai anak yang baik dan patuh kepada ibunya.

Semakin lama, Eva semakin menekan mereka dengan permintaan yang makin aneh. Permusuhan antara Eva dan Meridia juga semakin meruncing. Dan, makin lama, meksipun awalnya Daniel berpihak pada Meridia, tapi hasutan Eva juga semakin kuat, membuat Meridia yang justru berbuat tak masuk akal dengan memusuhi ibu mertuanya.

Setting cerita mungkin sekitar tahun 1800an atau 1900an. Ini sih kesimpulan gue aja, berdasarkan kejadian-kejadian setiap persalinan, belum ada teknologi USG, dokter masih dijemput, terus baju-baju yang kaya’nya masih penuh dengan rimple.

Dari awal buku ini, akan banyak pertanyaan yang muncul, tentang berbagai keanehan kedua keluarga. Gabungan antara drama yang rumit, cerita mistis dan fantasi. Kalo gue jadi Meridia, gue juga pasti bakal meledak marah-marah karena diganggu terus, Awalnya memang rada gak jelas kenapa Eva begitu memusuhi Meridia. Cerita mengalir perlahan, seperti mengisahkan perjalanan hidup seorang Meridia. Mungkin membosankan awalnya, tapi gak sabar juga pengen tau apa sih yang mau diceritain di sini sebenernya.

Tuesday, March 08, 2011

1 Perempuan 14 Laki-Laki

1 Perempuan 14 Laki-Laki
Djenar Maesa Ayu @ 2010
GPU – Cet. 2, Pebruari 2011
140 Hal.

Kumpulan cerpen satu ini bisa dibilang unik – dan hasilnya adalah sebuah kolaborasi yang menarik. Djenar Maesa Ayu menulis 14 cerpen bersama dengan 14 sahabatnya, yang semuanya laki-laki. Proses penulisannya sendiri juga berbeda. Dalam setiap cerpen, secara bergantian Djenar menulis kalimat per kalimat. Agak ribet ya. Kalo kalimatnya gak nyambung gimana? Apa proses pindah-pindah itu selalu berjalan lancar? Menurut Djenar, gak jarang, mereka hanya bengong di depan notebook, mencari kalimat yang tepat untuk disambung dengan kalimat sebelumnya.

Ini bukan buku Djenar pertama yang gue baca. Tapi, rasanya, sampai sekarang gue belum mendapatkan ‘chemistry’ yang pas setiap baca buku beliau. Gak nyambung aja. Mungkin kalimatnya yang terlalu ‘sastra’ atau terlalu ‘canggih’ sampai gue kesulitan untuk mencernanya.

Dari 14 cerita itu, yang gue tangkap, semuanya bercerita tentang hubungan percintaan ‘gelap’, tentang perselingkuhan, seks, kasih tak sampai. Isinya sangat ‘dewasa’. Dan, nyaris semua gak bisa gue ‘cerna’ dengan baik. Hehehehe.. otak gue aja kali yang gak nyampe ya? Jangan salahkan penulis :)

Cerpen yang cukup mengena di gue, ada cerita: ‘Rembulan Ungu Kura Setra’ (ditulis bareng Sujiwo Tejo), ‘RA Kuadrat’ (ditulis bareng Lukman Sardi) dan ‘Balsem Lavender’ (ditulis bareng Butet Kartarejasa). Favorit gue sih yang terakhir, lucu khas Butet Kertarejasa.

FOR SALE... :)

Gue berniat menjual sebagian buku-buku gue. Pertama, karena lemari buku gue udah penuh banget (kalo kosong kan bisa ditaro buku baru lagi.. hehehe), kedua, gue berniat hanya menyimpan buku-buku yang memang gue suka, dan ketiga, gue berniat menyimpan buku-buku yang nantinya bisa gue wariskan ke Mika. Jadi, seperti model-model chicklit, metropop dan yang berbau-bau drama, sebagian besar bakal gue jual.

Kalau ada yang berminat, silahkan tinggalin email di comment posting ini atau email langsung ke gue di ferina.permatasari@hbtlaw.com

Trimssss... :)

Ini daftar buku-bukunya (berikut harga tentunya):

Buku bahasa Indonesia (asli atau terjemahan):
1.Grotesque (Gaib) - Natsuo Kirino (Rp. 50,000)
2.Jane Eyre - Charlotte Brontë (Rp.50,000)
3.The Rossetti Letter - Christi Phillips (Rp. 50,000)
4.The House of the Spirit - Isabel Allende (Rp. 50,000)
5.The Girl who Played with Fire – Stieg Larsson (Rp. 50,000)
6.The Middlesex – (Rp. 45,000)
7.The Host – Stephanie Meyer (Rp. 50,000)
8.Twilight – Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
9.New Moon - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
10.Eclipse - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
11.Breaking Dawn - Stephanie Meyer (Rp. 40,000)
12.Selebriti – Albertheine Endah (Rp. 40,000)
13.Bad Man (Orang-orang Jahat) – John Connolly (Rp. 35,000)
14.Forgiven – Morra Quarto (Rp. 20,000)
15.Petals from the Sky - Mingmei Yip (Rp. 25,000)
16.The Last Shogun: Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu – Ryotaro Shiba (Rp. 30,000)
17.M2L (Men 2 Love) – Andrei Aksana Rp. 25,000)
18.Jodoh Monica – Albertheine Endah (Rp. 25,000)
19.Cinta Andromeda – Tria Barmawi (Rp. 25,000)
20.Pink Project – Retni SB (Rp. 25,000)
21.Melati di Trafalgar Square – Weka Gunawan (Rp. 15,000)
22.Tentang Dia – Moammar Emka (Rp. 10,000)
23.Novel Tanpa Nama – Duong Thu Huong (Rp. 25,000)
24.Sex and the Cookies – Inggrid Widjanarko (Rp. 15,000)
25.Sang Guru Piano – Elfriede Jelinek (Rp. 25,000)
26.How to be Good (Suami Sempurna) – Nick Hornby (Rp. 25,000)
27.Kisah Klan Otori: Across Nightingale Floor – Lian Hearn (Rp. 30,000)
28.Kisah Klan Otori: Brilliance of the Moon – Lian Hearn (Rp. 30,000)
29.The Highest Tide (Pasang Laut) – Jim Lynch (Rp. 25,000)
30.Ocean Sea – Alessandro Baricco (Rp. 20,000)
31.Married with a Vampire – Joko D. Mukti (Rp. 20,000)
32.An Affair to Forget – Armaya Junior (Rp. 20,000)
33.Summer in Seoul – Ilana Tan (Rp. 20,000)
34.Kamar Cewek – Ninit Yunita & Okke ‘sepatumerah’ (Rp. 20,000)
35.Mata Giok – Diane Wei Ling (Rp. 20,000)

Bahasa Inggris:
1.Trading up – Candace Bushnell (Rp. 40,000)
2.Watermelon – Marian Keyes (Rp. 40,000)
3.Rachels Holiday – Marian Keyes (Rp. 40,000)
4.Cell – Stephen King (Rp. 40,000)
5.Special Relationship – Robyn Sisman (Rp. 35,000)
6.Shopaholic & Baby – Sophie Kinsella (Rp. 50,000)  baru, masih dibungkus plastik
7.Angels – Marian Keyes (Rp. 40,000)
8.The Lost Symbol – Dan Brown (Rp. 60,000)  hard cover
9.Eat, Drink and be Married – Eve Makis (Rp. 30,000)
10.Man and Boy – Tony Parsons (Rp. 35,000)
11.Bridget Jones: The Edge of Reason – Helen Fielding (Rp. 35,000)
12.Ready or Not – Chris Manby (Rp. 30,000)
13.American Girls about Town – Adriana Trigiani, Jennifer Weiner, Lauren Weisberger, etc. (Rp. 40,000)
14.Irish Girls about Town – Maeve Binchy, Marian Keyes, Sarah Webb, etc. (Rp. 40,000)
15.Pure Fiction – Julie Highmore (Rp. 35,000)
16.He’s Got to Go – Sheila O’Flanagan (Rp. 40,000)
17.Pretty Boy – Lauren Henderson (Rp. 30,000)
18.Lucky Girls – Nell Freudenberger (Rp. 30,000)
19.With or Without You – Carole Mathews (Rp. 30,000)
20.Bad Dirt – Annie Proulx (Rp. 30,000)
21.The Tender Years – Jeannette Oke (Rp. 30,000)
22.The Cat who Went up the Creek – Lilian Jackson Braun (Rp. 30,000)
23.My Legendary Girlfriend – Mike Gayle (Rp. 30,000)
24.The Answer is Yes – Sara Lewis (Rp. 30,000)
25.The Last Templar – Raymond Khoury (Rp. 40,000)
26. Cat’s Eye – Margaret Atwood (Rp. 40,000)
27.The Bonesetter’s Daughter – Amy Tan (Rp. 40,000)
28.Middlemarch – George Eliot (Rp. 40,000)
29.Possession – A.S Byatt (Rp. 40,000)
30.The Dogs of Babel – Carolyn Parkhurts (Rp. 40,000)
31.Monday’s Child – Louise Bagshawe (Rp. 50,000)
32.Tuesday’s Child – Louise Bagshawe (Rp. 50,000)

Monday, February 28, 2011

Habibie & Ainun

Habibie & Ainun
Bacharuddin Jusuf Habibie @ 2010
THC Mandiri – 2010
323 Hal.

48 tahun 10 hari, waktu yang sangat panjang dalam sebuah pernikahan. Hal yang sangat sulit, ketika harus kehilangan pasangan yang mendampingi kita dalam kurun waktu yang sangat lama. Bukan gue sok tau, ya, tapi, putus sama pacar aja, kadang butuh waktu lama untuk recovery perasaan.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup pasangan BJ Habibie dan Ibu Ainun Habibie. Tapi, jangan bayangkan ini sebuah kisah cinta yang romantis. BJ Habibie yang baru pulang dari Jerman, ‘terpesona’ dengan Ibu Ainun, yang padahal dulunya seperti gula jawa (alias item kali ya…), tapi sudah ‘menjelma’ menjadi gadis yang cantik dan anggun.

Percintaan mereka berlangsung kilat. Dalam liburan Pak Habibie yang singkat, mereka bertunangan dan menikah. Untuk selanjutnya, Ibu Ainun diboyong ke Jerman. Di Jerman sendiri, kehidupan mereka belum stabil, kondisi perekenomian mereka masih sangat sederhana. Meskipun pelan-pelan akhirnya mulai meningkat.

Sebagai putra bangsa yang sangat berbakti, atas permintaan Presiden Soeharto, Pak Habibie dan keluarga kembali ke Indonesia. Mencoba merintis cita-cita untuk mempersembahkan hadiah ulang tahun ke 50 untuk Indonesia yaitu sebuah pesawat terbang pertama hasil karya putra-putri Indonesia.

Selama Habibie bertugas, Ibu Ainun selalu setia mendampingi. Dengan senyum dan matanya yang meneduhkan, senantiasa membuat Pak Habibie semangat dalam bertugas.

Mungkin gak banyak yang diceritakan di sini, bagaimana pasang-surut dalam kehidupan rumah tangga mereka. Memang sih, di awal diceritain gimana waktu mereka baru menikah, tapi setelah itu, selebihnya lebih banyak bercerita tentang kiprah BJ Habibie hingga akhirnya beliau menjadi Menristek, kemudian Wapres sampai akhirnya jadi Presiden. Terasa begitu ‘pribadi’ karena Pak Habibie juga bercerita apa yang beliau rasakan. Bahkan ketegasan beliau ketika berhadapan dengan Presiden Soeharto sekali pun.

Di beberapa bab terakhir, baru kembali diceritakan bagaimana ketika Ibu Ainun mulai sakit dan harus dirawat di Jerman karena kondisi cuaca khatulistiwa tidak cocok untuk kesehatan beliau. Dan, BJ Habibie terus mendampingi ibu Ainun hingga tempat peristirahatan terakhir - sebagaiman ibu Ainun mendampingi BJ Habibie dalam tugasnya.

Bagian-bagian akhir memang bagian yang paling menyentuh, di mana justru rasa cinta di antara mereka lebih terlihat dan begitu mendalam. Alur penuturan yang lamban (dan mungkin kalo dipikir-pikir, gak ada hubungannya sama ‘kisah cinta’ mereka berdua), tapi toh, tetap saja, buku ini memberi inspirasi.

Membaca buku ini, rasanya gak ada tuh yang namanya ‘gonjang-ganjing’ dalam pernikahan. Yang ada justru sebuah rumah tangga yang seimbang, saling menghormati dan sama-sama menikmati peran mereka masing-masing dalam rumah tangga. Betapa Pak Habibie yang dalam kesibukannya selalu diingatkan oleh istrinya, dan betapa Pak Habibie begitu menghargai dan mencintai Ibu Ainun.

Ahhh.. such a beautiful love story…

Thursday, February 24, 2011

The Memory Keeper's Daughter

The Memory Keeper's Daughter
Kim Edwards @ 2005
Penguin Books
513 pages

Di malam yang bersalju, ketika orang lain sedang menghangatkan diri di rumah, David Henry harus membawa istrinya ke rumah sakit karena waktu persalinan datang lebih cepat. Dokter yang membantu persalinan terjebak badai salju, sehingga David, yang seorang dokter bedah tulang, yang akhirnya menangani persalinan Norah.

Di awal persalinan berjalan dengan lancar, lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Paul. Tapi, selang beberapa detik, Norah mengalami kontraksi lagi. Dalam keadaan yang sudah lemah, akhirnya Norah dibius, setelah melahirkan bayi perempuan. Ternyata, Norah selama ini mengandung anak kembar. Maklum, masih tahun 1960an, jadi mungkin belum ada tuh teknologi USG. Berbeda dengan saudara kembarnya, Paul, bayi perempuan yang diberi nama Phoebe ini langsung terlihat ‘berbeda’. Phoebe ternyata memiliki Down Syndrome. Seketika itu juga, David langsung memutuskan untuk memberikan Phoebe ke Caroline Gill, perawat yang membantu persalinan Norah, dan meminta Caroline untuk membawa Phoebe ke sebuah tempat perawatan. Sementara, kemudian, David memberi tahu Norah, bahwa ia melahirkan bayi kembar, tapi sayangnya, bayi itu meninggal ketika dilahirkan.

Yang tidak diketahui David sesudahnya, adalah Caroline memutuskan untuk merawat dan membesarkan Phoebe, segera setelah ia melihat betapa tidak layaknya tempat perawatan itu. Caroline pindah ke kota lain, menjalani hidup bersama Phoebe. Berjuang agar Phoebe diberi kesempatan layaknya anak-anak normal lainnya.

Sementara itu, kehidupan keluarga David Henry sendiri berubah. Masing-masing anggota keluarga seolah hidup dalam dunia lain. David tenggelam dalam rasa bersalahnya, dan Norah hidup dalam kesedihan atas kematian anak perempuannya. Dan Paul akhirnya mendapati ibunya berselingkuh dan ayahnya semakin menjauh dari diri mereka, terkadang sedikit memaksakan masa depan Paul. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia.

Keputusan David untuk menjauhkan Phoebe didasari atas pengalaman pribadinya, saat ia memiliki seorang kakak yang memiliki kelainan jantung dan akhirnya meninggal dalam usia muda. Ibunya tidak pernah lepas dari masa berkabung yang berkepanjangan.

Buku ini gue beli tahun 2007 (!) dan baru akhirnya tuntas gue baca sekarang. Ada bagusnya juga jarang beli buku, ‘memaksa’ gue untuk membongkar lemari buku dan mencari buku yang belum gue baca.

Ok, kembali ke bukunya sendiri. Membaca buku ini, serasa menonton sebuah film drama keluarga. Cerita yang terpapar secara kontinyu, sejak Paul dan Phoebe masih bayi sampai akhirnya mereka dewasa dan tentang kegelisahan yang berbeda yang dirasakan David, Norah dan Caroline melihat anak-anak mereka tumbuh dewasa. Belum lagi tentang pergulatan batin mereka melawan rasa bersalah dalam diri mereka sendiri. Banyak rahasia yang disimpan, yang ingin diungkapkan, tapi takut bakal menyakiti yang lain. Harus sedikit bersabar membaca buku ini kalau memang gak terlalu suka yang berbau-bau drama.
Ow, ternyata buku ini udah ada film-nya juga.

Friday, February 11, 2011

Room

Room
Emma Donoghue @ 2010
Back Bay Books, 2011
321 pages

Jack, anak laki-laki yang baru saja berulang tahun yang ke lima. Layaknya anak-anak, imajinasi dan kreativitasnya sangat tinggi. Tapi sayang, ruang untuknya bereksplorasi sangat terbatas. Dunianya hanya sebatas sebuah kamar kecil, tempat ia tinggal bersama Ma – ibunya. Ia tidak pernah keluar dari Kamar itu. Semua aktivitas dilakukannya di dalam Kamar itu bersama Ma. Di malam hari ia harus tidur di dalam lemari, Ma tidak ingin ‘Old Nick’ melihat Jack. Di dalam Kamar itu, Jack bermain sepanjang hari, menonton tv, makan, membaca. Meskipun dikurung dalam Kamar, Jack termasuk anak yang cerdas. Bagi Jack, dunianya hanyalah Kamar itu. Apa yang ada di televisi dan di luar Kamar tidaklah nyata.

Tapi, Ma sering tidak mampu lagi menjawab banyak pertanyaan Jack. Menurut Ma, sudah waktunya mereka keluar dari dunia mereka yang sempit itu. Ma sendiri sudah 7 tahun terkurung di dalam Kamar. Dan dengan ‘kebaikan’ Old Nick, mereka bisa memperoleh berbagai kebutuhan untuk hidup sehari-hari. Hampir setiap malam Old Nick datang, dan setiap minggu, Old Nick akan menerima daftar kebutuhan mereka yang harus mereka pilih dengan cermat.

Ketika Ma dan Jack berhasil keluar dari Kamar, Jack pun terkaget-kaget dengan dunia luarnya yang baru. Selama ini ia nyaman dan selalu merasa aman (kecuali saat ada Old Nick) bersama Ma. Tapi ketika di luar, ada begitu banyak hal baru yang ia temui. Begitu banyak yang haru ia ingat dan aturan yang berbeda dengan yang selama ini ia ketahui dari Ma. Dunia luar memang menakjubkan tapi terkadang Jack merindukan kehangatan selama ia hanya berdua dengan Ma.

Jarang-jarang gue ‘berhasil’ membaca buku yang masuk nomisasi A Man Booker Prize. Tapi buku ini menarik banget. Kamar sempit, tokoh yang hanya dua orang di awal-awal tetap membuat buku ini menarik. Kepolosan Jack dan Ma yang wise, percakapan mereka berdua, aktivitas yang menyenangkan meskipun sangat terbatas. Ma termasuk orang yang rapuh, bisa dilihat dari seringnya ia mengkonsumsi obat penenang, sampai nyari OD. Tapi demi Jack, ia harus kuat. Meskipun kadang-kadang ia juga gak kuat. Itulah saat-saat yang sering Jack bilang ‘The day Ma is Gone’. Sementara Jack, anak kecil yang punya rasa ingin tahu yang besar, tapi bisa dewasa dan berani.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang