Showing posts with label Sefryana Khairil. Show all posts
Showing posts with label Sefryana Khairil. Show all posts

Monday, January 06, 2014

Tokyo: Falling



 

Tokyo: Falling

Sefyrana Khairil
Gagas Media – 2013
338 hal.

Tokoh:

- Tora dan Thalia, keduanya berprofesi sebagai wartawan.
- Sama-sama ditugaskan sama kantor mereka untuk meliput tempat-tempat keren di Tokyo
- Sama-sama ingin bertemu mantan kekasih masing-masing demi mendapat sebuah kepastian

Tora gak sengaja menabrak Thalia, hingga lensa kamera Thalia jatuh dan retak. Karena itu limited edition, rada susah mencari penggantinya. Tora pun mengusul agar mereka bergantian memakai lensa milik Tora. Dan mereka pun bersama-sama keliling Tokyo untuk mengejar spot-spot menarik untuk artikel mereka.

Yah.. gitu deh.. sepuluh hari jalan bareng, mulai keliatan ada yang saling tertarik, meskipun diam-diam. Tapi, sama-sama masih terombang-ambing, belum bisa move on dari yang lama, belum bisa membuka diri untuk yang baru.

Karakter Tora cuek, biar berantakan, tapi wangi. Perhatian sama hal-hal kecil – contohnya sama Thalia yang gak suka sayur, dan tipe pelindung.

Sementara Thalia, rada-rada manja menurut gue sih, sadar fashion – terlihat dari barang-barang bermerk yang dia pakai, kadang rada gak mau susah, tapi untungnya bukan tipe-tipe cewek manja tapi ngeselin.

Satu yang bikin gue rada-rada ‘gemes’ adalah adegan mengelap bibir pas Tora mulutnya belepotan abis makan es krim atau waktu Tora minjemin jaketnya ke Thalia. For me… sorry, those are so last year… kaya’nya rada basi gitu membangun moment romantis dengan cara yang begitu. Sering banget kan menemukan adegan-adegan sejenis di buku atau pun film. Hehehe.. *protes aja*.

Dalam bayangan gue, momen romantis itu bisa diganti, misalnya: waktu Tora gak berhasil membersihkan mulutnya, Thalia pinjemin cermin ke Tora, sambil ngelap mulut, Tora bisa curi-curi pandang ke Thalia yang ada di depannya. Hihihi.. gak romantis ya? Ya sudahlah..

Relationship is like sailing a boat. To make the boat sail, it needs two persons to ride it. Two persons to paddle. If you’re the only one paddling, you’ll get tired eventually
(hal. 180)

Gue juga rada ‘terganggu’ dengan tokoh Dean. Ini cowok yang kaya’nya super duper sangat sibuk. Gue sebenernya rada heran sama Thalia yang masih berharap untuk balikan lagi sama Dean, padahal udah dicuekin abis begitu. Apa karena perhatian lewat barang-barang bermerk yang sering dikirim sama Dean? Gue rasa Thalia bisa koq beli sendiri barang-barang bermerk itu. Gue gak ngeliat ada yang positif sama Dean, dia juga gak menjanjikan apa-apa ke Thalia, jadi gue gak ngerti aja sama sikap Thalia. *koq jadi emosi?*

Gue akan lebih puas seandainya konflik itu muncul karena hubungan Tora dan Hana (mantannya Tora), bukan karena Dean. Karena buat gue, sosok Hana yang gak menonjol ini justru bikin penasaran.

Tapi secara keseluruhan, ceritanya manis koq, romantis tapi gak berlebihan. Chemistry antara Tora dan Thalia terbangun pelan-pelan. Gak ada kata-kata yang terlalu mendayu-dayu. Ending-nya memang rada ngeselin, meskipun maksudnya jelas sih, tapi ini salah satu faktor yang membuat gue menyukai novel Tokyo. Sebuah ending gak harus berakhir dengan ‘berpelukan’ kan?  hehehe… Tokyo gak hanya digambarkan melalui tempat-tempat wisata yang terkenal, tapi juga lewat sedikit legenda yang disampaikan Tora ke Thalia, juga lewat makanan di pinggir jalan – seperti Taiyaki. Duh.. gue jadi pengen ngerasi ramen dengan kuah yang masih beruap-uap. Tapi kurang acara nonton sumo nih… :D

Soal cover.. untuk kali ini gue cukup puas dengan cover seri STPC. Warnanya pink kalem, tapi jadi cerah karena tulisan Tokyo berwarna biru.


Tokyo.. salah satu destinasi impian gue… Sering baca buku-buku yang berbau Jepang, membuat gue pengen berkunjung ke sana… pengen liat cherry blossom sih yang pasti, pengen ngeliat yang katanya Modern Tokyo dan Old Tokyo. Tokyo yang modern, tapi juga masih mempertahankan sisi budaya yang kental.


Submitted for:







Tuesday, December 11, 2012

Beautiful Mistakes





Beautiful Mistakes
Sefryana Khairil & Prisca Primasari
Gagas Media
512 hal
(Pinjam sama Pipit)

Cerita pertama – Dreamland (Sefryana Khairil)

Nadine sakit hati karena kekasihnya membatalkan rencana pernikahan mereka. Ia pun memilih menenangkan diri di Bali, bersama kedua sahabatnya. Di sebuah café, ia melihat seorang bartender sedang menunjukkan kebolehannya meracik minuman. Rasa tertarik membuatnya ingin mengenal lebih jauh pria bernama Fajar itu.

Sementara Fajar, juga menyembunyikan sebuah luka, yang membuatnya takut menjalin hubungan baru. Ia belum bisa melupkan kenangan akan almarhumah istrinya.


Cerita kedua – Chokoreto (Prisca Primasari)

Akai Fukuke terpaksa menyimpan mimpinya untuk jadi pianis demi merawat ayahnya dan membantu di toko minuman cokelat milik keluarganya. Akai ini ‘clumsy’ banget, sering mecahin gelas-gelas yang di toko itu.

Yuki Akihara, tetangga Akai, yang sering mampir ke Chokoreto. Diam-diam sih, keduanya suka saling memerhatikan. Yuki ini juga belajar piano, alunan suara piano ketika Yuki latihan, membuat Akai semakin tertarik.

Yuki ingin jadi penulis, tapi ia takut untuk tampil di muka umum, karena trauma yang disebabkan saat ia sekolah.

Tapi, Yuki dan Akai, saling memberi semangat satu sama lain. Berjuang bersama untuk meraih mimpi-mimpi mereka dan mengalahkan rasa takut dan kekhawatiran lain.

-----

Hmmm…hmmm…. Mungkin nih karena abis baca ‘Sweet Nothings’, gue jadi masih terbayang karakter Saskia dan Harsa saat gue membaca Dreamland. Soalnya gue merasa ada kemiripan karakter dengan Nadine dan Fajar . Kalo di Sweet Nothing, Saskia yang kehilangan pasangannya, di sini Fajar yang istirnya meninggal. Lalu, antara Harsa dan Nadine sama-sama ditinggalkan kekasihnya yang memilih menikah dengan orang lain.

Saskia dan Fajar sama-sama menutup diri untuk menjalin hubungan baru, sedangkan Harsa dan Nadine keukeuh kalau mereka bisa membuat Saskia atau bahagia dengan hubungan yang baru.

Lalu, Harsa dan Fajar juga digambarkan memilih (akan) pergi ke luar negeri, demi melupakan Saskia/Nadine.

Yah… lagi-lagi, gue merasa ‘biasa’ aja. Setting di Bali, gak membantu cerita ini untuk  jadi ‘lebih’ berkesan buat gue.

Dan, untuk cerita kedua, lagi-lagi Prisca Primasari memilih setting di luar negeri dengan tokoh yang asing. Kali ini, ia memilih tokoh dari Jepang. Di setiap cerita Prisca Primasari, pasti terselip musik klasik dan tokoh dari Rusia.

Buat gue, cerita ini simple… tokohnya juga gak macem-macem. Semua mengalir aja dan tenang. Aduh, lagi-lagi, gue membayangkan secangkir cokelat hangat, pasti sedap banget diminum pas lagi hujan… Hmmm…

Tapi, kenapa Prisca selalu memilih luar negeri ya? But still, I love Prisca’s story better than the first one.

Kesamaan dari dua cerita ini, adalah semua tokoh punya masa lalu yang sedikit banyak membuat rasa takut untuk bikin langkah selanjutnya, mereka semua punya mimpi, karakternya yang satu ceria, yang satu tertutup – dua karakter ini ada pada dua tokoh utama di masing-masing cerita. O ya, dua cerita ini sama-sama punya minuman yang jadi andalan: Dreamland dan Stravinsky Berrychoco.


Note to myself:
Jangan baca buku jenis seperti ini secara berurutan, kalo gak pas sama selera, bawaannya malah jadi kesel, gak puas dan pengen kasih kritik aja.

Tuesday, December 04, 2012

Sweet Nothings




Sweet Nothings
Sefryana Khairil
Gagas Media – Cet. I, 2012
316 hal
(Pinjam sama Pipit)

Saskia, pemilik toko kue Sweet Sugar, seorang orang tua tunggal. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Setelah suaminya meninggal, Saskia menutup diri dan menolak untuk menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Pernikahannya tidak bahagia dan Saskia takut akan merasakan sakit hati lagi karena percaya dengan laki-laki.

Harsa, seorang chef terkenal, bekerja di Sweet Sugar, setelah ia melepas pekerjaannya di bakery sebuah hotel terkenal. Harsa juga punya masa lalu yang pahit dalam menjalin hubungan percintaan. Kekasihnya lebih memilih untuk menikah dengan pria lain, ketimbang menunggunya.

Dan di Sweet Sugar mereka bertemu. Harsa sejak awal menunjukkan rasa tertarik terhadap Saskia, tapi Saskia membangun tembok pertahanan yang tinggi. Ia tidak mau membiarkan dirinya terhanyut dengan perasaannya sendiri, meskipun diam-diam, tanpa bisa ditolak, dirinya tertarik pada Harsa.

Membaca buku ini, gue sempat rada kesal dengan tokoh Saskia – terlalu kaku, meskipun gue coba ngerti apa alasannya. Tapi, tetap aja… terlalu keras kepala menurut gue. Dan, hmm.. tokoh Harsa, bisa jadi sanggup bikin perempuan ‘meleleh’. Ganteng, baik hati dan jago masak lagi.

Biasanya nih, gue cukup ‘kena’ dengan buku-bukunya Sefryana Khairil. Tapi, koq yang satu ini berasa ‘lewat’ gitu aja. Untuk buku-buku seperti ini, gak perlu susah-susah mikir ending-nya seperti apa. Yang suka drama sih, pasti oke-oke aja.. Tapi, tampaknya, kali ini jiwa gue lagi gak ‘romantis’. Hehehe…

Sejujurnya, gue mau kasih 2 bintang aja… tapi karena yah.. gue (selalu) suka dengan ide novel yang ada makanannya, ditambah membayangkan suasana Sweet Sugar yang tampak klasik dan ‘wangi’ kue yang menebar, gue tambah satu lagi deh… gue kasih 3 potong cheese cake strawberry…

Monday, May 02, 2011

Coming Home

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang