Thursday, May 19, 2011

Gelang Giok Naga

Gelang Giok Naga
Leny Helena
Qanita, Cet. 1 – November 2006
316 Hal.

A Sui dan A Lin, awalnya mereka sama sekali tidak kenal satu sama lain. Meskipun sama-sama berasal dari Cina, lalu hijrah ke Indonesia di jaman Belanda, nasib mereka berbeda. A Sui, meninggalkan Cina untuk menyusul suaminya yang mencoba peruntungan di Indonesia. Kala itu banyak orang Cina yang merantau dan membuka usaha di Indonesia (masih dengan nama Batavia). Awal kehidupan A Sui dan suaminya di Indonesia begitu makmur.

Berbeda dengan A Sui, datang ke Indonesia, A Lin dipekerjakan untuk mengurus ternak babi, bahkan ia harus tinggal satu kandang dengan hewan-hewan itu dan diperlakukan kurang baik. Sampai akhirnya, ia dijadikan nyai bagi seorang tuan Belanda. Tapi, setelah memilik anak, sang Tuan Belanda itu kembali ke negerinya sendiri, sambil membwa anak kembar mereka. Tinggalah A Lin sendiri. Ia pun menikah lagi dengan sesama orang Cina.

Nasib ternyata berubah, usaha suami A Sui bangkrut dan mereka hidup dalam kemiskinan. Sementara A Lin semakin kaya dengan ‘profesi’nya sebagai rentenir. A Lin jadi Nyonya Besar yang dihormati dan ditakuti. Kemiskinanlah yang mempertemukan mereka pada awalnya. Ketika A Sui terpaksa menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya. A Lin akhirnya menyimpan gelang itu karena A Sui tak sanggup untuk menebusnya. Sampai akhirnya, gelang giok naga itu kembali kepada pemilik yang sebenarnya.

Gelang giok naga itu sendiri sudah dimiliki ibu A Sui, warisan turun temurun yang hanya diberikan kepada anak perempuan. Pemilik awal gelang giok naga ini adalah seorang selir bernama Yang Kuei Fei, yang melarikan diri dari istana setelah sang Kaisar terbunuh. Takut dituduh melakukan pembunuhan, ia pun lari bersama seorang Kasim istana.

Lagi gue membaca cerita ‘turun-temurun’ sebuah keluarga keturunan Cina di Indonesia. Masih ‘bersinggungan’ dengan sejarah, terutama ketika terjadinya peristiwa di tahun 1998. Swanlin berulang kali harus menerima perkataan yang menyakitkan sebagai akibat ia seorang Cina.

Sayang, ada halaman yang hilang – dari halaman 273 – 288 – hiks…

7 comments:

Tjut Riana said...

wah...pas banget ya, abis baca "Bonsai" trus lanjut baca buku ini :))

Nophie said...

Novel ini salah satu timbunan novel yg menemaniku selama aku ngerjain skripsi..hihihi.. tp karena tekanan skripsinya lebih gede dan lebih memorable jadi aku lupa ini novel endingnya bgmn.. =.="

Astrid said...

ehh bagus ya fer kayaknya...btw itu halaman ilang karna apa ya? bisa minta tuker ngga?

ferina said...

@ mbak Riana: iya, mirip... sama-sama benda warisan - satu bonsai, satu gelang giok

@ nophie: baca lagi dong... :)

@ astrid: bagus, koq. ada halaman sebelumnya yang double. mau dituker, hehehe.. belinya udah dari tahun 2007, baru dibaca sekarang... bon-nya udah ilang :D

Duma Pohan said...

aku jg suka novel ini Fer, cuma sayangnya, terlalu singkat hihihi.

Waktu baca, aduh, aku kebayang kayaknya banyak yg bisa dikembangkan gitu, biar lebih seru :)

ferina said...

@kobo: betul..betul... kaya' waktu A Lin jadi Nyai, atau pas Swanlin udah married.. singkat2 banget...

Aleetha said...

Aku suka banget buku ini. Nggak nyesal belinya.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang