Friday, February 28, 2014

The Chocolate Thief



The Chocolate Thief

Veronica Sri Utami (Terj.)
Bentang – Cet. V, Januari 2014
414 hal.

Cokelat dan Paris … sebuah kombinasi klasik dan ‘sempurna’ untuk meramu sebuah kisah percintaan yang romantis.

Cade Corey, pewaris takhta perusaahan cokelat terbesar di Amerika – Corey Chocolate, berada di Paris dalam rangka ingin menjajaki kerja sama dengan salah satu pembuat cokelat terbaik dan terkenal di Perancis, Sylvain Marquis.

Corey Chocolate bangga dengan Corey Bars yang diproduksi secara massal dan dijual seharga 33 sen di supermarket di Amerika – yah.. 1 dollar deh kalo di airport. Mereka mengklaim membuat orang Amerika bahagia dengan cokelat mereka. Karena punya ‘pabrik’ cokelat sendiri, Cade kecil ‘dilarang’ makan cokelat selain Corey Chocolate – padahal pengen juga sih ngerasain cokelat Mars atau M&M.

Berbeda dengan Marquis Chocolate, yang dibuat dengan tangan Sylvain sendiri, dirancang dengan hati-hati dan eksklusif dan dijual dengan harga yang mahal, sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Marquis Chocolate, akan langsung meleleh, lumer di mulut, menimbulkan sensasi yang luar biasa. Secara tak langsung ditujukan untuk ‘menggoda’ wanita, sebagai ‘balasan’ Sylvain yang di masa remaja kurang beruntung dalam hubungannya dengan wanita.

Dan tentu saja…. Sylvain menolak tawaran kerja sama Cade. Gengsi lah, memasang nama ‘Marquis’ di cokelat batangan produksi Corey Chocolate yang pasaran itu. Bakal turun ‘pamor’ dan kesan eksklusif dari Marquis Chocolate.

via Pinterest

Tapi, dengan berbagai cara, Cade berusaha menerobos dapur Sylvain, untuk ‘mencuri’ rahasia Marquis Chocolate – yah, mulai dari menyamar jadi peserta workshop sampai mencuri kode rahasia ruang kerja Sylvain, dan dengan nekat masuk ke dalam dapur tersebut.

Sesungguhnya, di balik percik-percik perasaan yang mulai timbul di antara keduanya, Sylvain ingin menyadarkan Cade, bahwa tak selamanya segala sesuatu itu bisa dibeli dengan uang. Uang tak selalu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup.

Tokoh Cade – perempuan yang sebenarnya ‘rapuh’ tapi berusaha menahan diri untuk tidak terlihat lemah, pantang menyerah – meskipun usahanya malah membuat dirinya jadi tampak konyol.

Sementara itu, Sylvain – hmmm… I am trying to imagine the sexy guy…. Siapa ya? Kaya’ siapa Sylvain ini? Terkesan sombong, galak dan tertutup, tapi pada dasarnya ia adalah pribadi yang hangat. Gue suka ketika digambarkan suasana yang akrab dan hangat di dalam acara keluarga Marquis. Lalu, ketika Sylvain beli roti baguette, meskipun singkat, juga sedikit membuka pribadi Sylvain yang hangat itu.

via Urban Review

Secara keseluruhan sih, ceritanya gak terlalu istimewa, tapi gue suka penggambaran proses pembuatan cokelat yang dijelaskan oleh Sylvain … *drooling* . Lumayan detail, bikin langsung ngebayangin cokelat yang lumer di mulut ….

Belum lagi setting kota Paris… menara Eiffel di malam hari, kafe-kafe kecil yang gak terlalu ramai, tapi menunya yummy … perempuan Paris yang ‘survive’ dengan high-heels … Laura Florand, menurut gue sih, lumayan berhasil menggambarkan suasana kota Paris…

via Pinterest

Pemilihan nama tokoh juga sesuai menurut gue. Cade – nama yang terkesan ‘tomboy’, cocoklah dengan karakter yang rada gak hati-hati, sementara Sylvain Marquis – memberi kesan klasik dan aristokrat (apa sihhh?) Dalam dunia kuliner sendiri, ada istilah Chocolate Marquise yang definisinya kata Wikipedia a rich chocolate dessert made with dark chocolate, butter, sugar, cocoa powder, eggs and cream’ Entah lah, apakah nama Sylvain Marquis terinspirasi dari sini.

Beberapa istilah atau kalimat dalam bahasa Perancis yang digunakan Sylvain dan Cade ada terjemahannya di bagian footnote, jadi membantu  banget untuk menangkap isi cerita. Meskipun, kalau kalimat itu berulang, gak akan diterjemahin lagi di halaman berikut (jadi, rada bolak-balik deh)

O ya, gue sih gak tau ya kalau dalam edisi bahasa Inggrisnya seperti apa, tapi, kalau memang ada bagian-bagian yang disensor, gue bisa bilang kalau sensornya cukup rapi. Karena rasanya, dalam cerita seperti ini, gue yakin  banget ada bagian-bagian yang bikin 'deg-degan' :)


Submitted for:


-          Baca Bareng BBI bulan February 2014 – tema: Kuliner




Thursday, February 27, 2014

I’ve Got Your Number



I’ve Got Your Number

Sophie Kinsella
Black Swan @ 2012
459  hal.

Well, meskipun gue kecewa ketika terakhir kali gue baca bukunya Sophie Kinsella yang Wedding Night, gue masih punya ‘harapan’ untuk menyukai buku-bukunya Kinsella yang lain. Makanya, setelah berjarak agak lama, baru deh gue memutuskan untuk baca I’ve Got Your Number, takutnya, kalo kedeketan masih berasa aura ‘sebel’nya.

Kalau dari karakter, terkesan tipikal ya… Poppy Wyatt, perempuan yang gampang panik, sembrono dan rada-rada ‘seenaknya’. Poppy ini kehilangan cincin pertunangannya ketika lagi nge-teh bareng temen-temennya. Panik lagi dia, dengan segala cara minta supaya pihak hotel nge-blok tempat, biar dia leluasa nyari cincin itu. Plusss… dia kehilangan telepon genggamnya di saat yang bersamaan.

Dan begitu Poppy liat ada telepon genggam ‘tergeletak’ begitu aja di tempat sampah, tanpa pikir panjang ia mengambil telepon itu dan menggunakannya sebagai telepon pribadinya ‘sementara’. Telepon genggam itu milik Personal Assistant dari Sam Roxton. Awalnya sih, Poppy hanya mem-forward email-email tersebut ke Sam. Tapi lama-lama, dia ‘gatel’ juga dong, kepo gitu pengen tau, apa sih isi email-email itu. Dan ia melihat Sam sebagai orang yang gak peduli dengan rekan-rekan kantornya.

Sementara itu, Poppy juga disibukkan dengan urusan persiapan pernikahannya dengan Magnus Tavish – yang berasal dari keluarga yang ‘berpendidikan’. Semua anggota keluarga Tavish menulis buku, selalu berbicara dengan bahasa ‘tingkat tinggi’ yang bikin Poppy sempat minder.

Lama-lama nih, si Poppy ini malah lebih sibuk ngurusin urusan kerjaan Sam daripada urusan pernikahannya dengan Magnus. Dan akhirnya malah Poppy membantu Sam menyelesaikan krisis di kantor Sam.

Kalau ngeliat dari karakter Poppy, tentunya gak ada hal yang baru yang ditawarkan oleh Sophie Kinsella. Cuma gue ‘terkesan’ dengan ide ‘sabotase’ telepon yang dilakukan Poppy. Sms-sms Poppy dan Sam malah menjadi ‘greget’ di buku ini.  O ya, si Poppy ini penggemar Agatha Christie (ngngng.. ini sih yang gue tangkap di awal buku ini), malahan Poppy kehilangan cincin pertunangannya itu pas lagi ada acara nge-teh ala Miss Marple.

Sedangkan Magnum … hmm.. ini cowok rasanya pengen gue timpuk aja ya… Pengecut … hehehe.. dan gue merasa dia koq kaya’ jadi anak ‘mama’ gitu.

Nah, Sam Roxton – di awal menyebalkan tapi… justru sikap diamnya yang bikin dia jadi bikin penasaran. Perkembangan hubungannya dengan Poppy juga terbangun dengan perlahan. Dan hey… buku ini  nyaris ‘bersih’ dari adegan 17 tahun ke atas.

Gue suka dengan ending-nya, tapi… cerita menjelang bagian akhir itu yang bikin gue nyaris berteriak ‘Norakkkkk’. Emang ketebak sih, tapi… kenapa harus di saat yang kaya’ gitu sih?

Ya sudahlah, terima aja deh… toh, buku macam chicklit begini memang menjadi penyegar, bacaan ringan di kala santai. Dan buku ini, masih lebih baik daripada Wedding Night.

Submitted for:

-          2014TBR Pile Reading Challenge

Amba



Amba

Laksmi Pamuntjak

Gramedia – Cet. II, November 2012
494 hal.
(Obral Gramedia Plasa Semanggi 3A – Rp. 20,000 saja)

Jadi begini, buku ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Amba yang mencari keberadaan seorang pria bernama Bhisma – setelah berpuluh tahun lamanya. Semua dimulai di tahun 1965, ketika Republik Indonesia ini sedang dalam keadaan politik yang panas. Amba yang berada di Yogyakarta, sempat datang ke Kediri, untuk bekerja sebagai penerjemah catatan seorang dokter muda lulusan Universitas Karl Marx yang bernama Bhisma. Yah, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk jatuh cinta, padahal ketika itu, Amba juga sudah menjalin hubungan asmara dengan Salwa, pria baik hati dan sederhana.

Amba dan Bhisma bertemu kembali di Yogyakarta, di bulan Oktober 1965 – ketika keadaan sangat mencekam. Dan terjadi sebuah penyerbuan di Universitas Res Republica. Amba terpisah dari Bhisma, dan itulah kali terakhir Amba melihat Bhisma.

Dari awal bergulir kisah Amba yang berusaha mencari jejak Bhisma di Pulau Buru. Amba, perempuan dengan pembawaan yang mampu membuat semua orang yang bertemu dengannya menaruh hormat. Tak terkecuali Samuel, pria asal Pulau Buru yang membantu Amba.

Di dalam buku ini, tak hanya berkisah tentang latar konflik di tahun 1965, tapi juga tentang perang saudara di Ambon yang menggulirkan banyak kisah pilu di antara warga Ambon.

Amba, Bhisma dan Salwa, adalah nama yang diambil dari tokoh dalam kisah Mahabharata, dengan latar kisah yang sama. Cinta segitiga, di mana Bhisma tak bisa mendapatkan Amba, dan Salwa pun tak mau lagi menerima Amba yang sudah tak suci itu.

Sosok Bhisma memang misterius, dari awal dia lebih  banyak diam, membuat Amba kesal sekaligus penasaran. Apa yang terjadi pada dirinya setelah penangkapan itu, ditulis dalam surat-surat untuk Amba – surat-surat yang tak pernah sampai ke tangan Amba, yang ia sembunyikan di dalam bambu dan dikuburkan di bawah sebuah pohon rindang.

Dan buat gue, Amba yang selalu menjaga sikap ini malah jadi terkesan dingin. Ia menyimpan begitu banyak hal sendiri, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dibandingkan dengan kedua adiknya yang mementingkan penampilan, Amba malah ingin lebih maju, keluar dari desa dan mencari petualangan baru.

Sejujurnya, sulit buat gue untuk membuat review buku ini. Pertama, karena bahasa yang digunakan di dalam buku ini, bisa gue bilang ‘indah’, kedua, meskipun bahasanya bagus, indah, berbunga-bunga – gue malah jadi sedikit kesulitan ‘mencerna’nya. Bukan karena klasik, tapi ya itu… sedikit ‘bersayap’, ketiga: takut… hehehe… rasanya otak gue rada kurang ‘prima’ untuk mencerna begitu dalam isi buku ini. Dan mau gak mau, gue jadi membandingkan buku dengan latar belakang yang sama, yang sempat jadi kontroversi di Khatulistiwa Literary Awards yang lalu. Mungkin karena dari segi sudut pandang yang berbeda ya, gue merasa buku ini agak berat untuk gue.



Submitted for:




-          Baca Bareng BBI bulan February 2014 – tema: Historical Fiction Indonesia






Wednesday, February 26, 2014

Wishful Wednesday 58




Asyik.. hari ini ada Wishful Wednesday edisi giveaway ulang tahun yang ke 2. Wah.. selamat ulang tahun ya… semoga masih akan terus berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya.

Hmm.. buku apa ya yang masuk ke dalam WW gue kali ini?.. ok, setelah berpikir keras, pilihan minggu ini, kembali jatuh pada bukunya Jerry Spinelli. Yup, semenjak baca Milkweed dan Stargirl, gue ‘jatuh cinta’ dengan tulisan beliau yang sederhana. Kalau kemarin berhasil mendapatkan ‘Eggs’ dari Bzee (yang juga pernah masuk WW), kali ini untuk melengkapi koleksi Jerry Spinelli gue, gue pun memilih ‘Loser’.


Inilah sinopsisnya:

From renowned Newbery-winning author Jerry Spinelli comes an incredible story about how not fitting in might just lead to an incredible life.
Just like other kids, Zinkoff rides his bike, hopes for snow days, and wants to be like his dad when he grows up. But Zinkoff also raises his hand with all the wrong answers, trips over his own feet, and falls down with laughter over a word like "Jabip." Other kids have their own word to describe him, but Zinkoff is too busy to hear it. He doesn't know he's not like everyone else. And one winter night, Zinkoff's differences show that any name can someday become "hero."
With some of his finest writing to date and great wit and humor, Jerry Spinelli creates a story about a boy's individuality surpassing the need to fit in and the genuine importance of failure. As readers follow Zinkoff from first through sixth grade--making this a perfect classroom read--and watch his character develop, it becomes impossible not to identify with and root for him through failures and triumphs.

O ya.. buku ini bisa diperoleh di opentrolly.co.id (thank you, Astrid)

*Doakan semoga kali ini gue beruntung di WW-nya Astrid*

Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

The False Prince



The False Prince (Pangeran Palsu)

Cindy Kristanto (Terj.)
Gramedia – Oktober 2013
392 hal.

Ada 4 orang anak yatim piatu, semuanya laki-laki dengan ciri-ciri fisik yang nyaris sama. Mereka diambil oleh salah seorang regen dari kerajaan Carthya bernama Conner. Kerajaah Carthya terletak di antara 3 kerajaan lain – Gelyn, Avenia dan Mendewal. Tujuan Conner ‘menculik’ keempat anak laki-laki tersebut adalah untuk dilatih menjadi seorang pangeran – di mana saat itu, kerajaan Carthya sedang dalam kekosongan pemimpin. Beredar isu bahwa Raja Eckbert, Ratu Erin dan Pangeran Darius sudah tewas, diracun oleh orang yang ingin merebut tampuk kepimpinan kerajaan Carthya. Di dalam pemerintahan Carthya, ada dewan yang disebut regen – yang merupakan penasihat raja, di antara mereka ada yang bernafsu untuk berkuasa menjadi Raja.

Maka, demi mencegah perang saudara, Conner mempunyai misi rahasia. Diketahui, bahwa Raja Eckbert dan Ratu Erin mempunyai satu orang putra lagi, bernama Pangeran Jaron. Pangeran Jaron ini dikenal sebagai anak yang rada-rada susah diatur, dan ia diketahui hilang dalam perjalanannya di laut, diserang oleh bajak laut Avenia. Mayatnya sendiri tidak pernah ditemukan.

Nah, ke-empat anak ini akan dididik dan ‘disulap’ menjadi Pangeran Jaron hanya dalam waktu dua minggu. Tentu saja, hanya satu anak yang akan dipilih, dan entah nasib apa yang akan menimpa ketiga anak yang tidak dipilih. Yang pasti untuk itu mereka harus bertahan … atau mereka akan kehilangan nyawa mereka.

Keempat anak itu adalah:

Latamer, dia anak yang paling lemah di antara yang lain, sakit-sakitan dan rasanya yang paling tidak mungkin terpilih, karena seorang pangeran harus kuat kan?

Tobias, yang paling cerdas dan ambisius. Ia yakin, dengan kepintarannya , ia akan terpilih menjadi pangeran.

Roden, yang bertubuh paling kuat – dalam hal bertarung dengan pedang, ia yang paling unggul. Pangeran Jaron dikenal sebagai pemain pedang yang andal, di usia 10 tahun, ia sudah menantang seorang petinggi kerajaan untuk berduel.

Yang terakhir adalah Sage. Di antara mereka, Sage ini yang paling cuek, gak peduli dengan segala urusan per’pangeran’an itu. Paling menyebalkan Conner dan juga teman-teman barunya. Tapi, ia yang paling tangguh dan paling banyak akal. Hati-hati dengan lidahnya yang tajam. Dan dalam hal sifat, sesungguhnya Sage yang paling mirip dengan Pangeran Jaron.

Di rumah Conner, mereka belajar sejarah Carthya, berkuda, bertarung dengan pedang, tata krama di meja makan bahkan berdansa.

Buku ini ‘menipu’ dari awal. Tokoh Sage tampak yang paling dominan di antara tokoh lainnya – mau gak mau, meskipun menyebalkan, Sage mampu membuat gue terkesan dengan segala trik, dan tipu dayanya. Dan tokoh Conner juga sangat mencurigakan dari awal – apa benar ia segitu ‘cinta’nya terhadap Carthya sampai-sampai niat banget mencari pangeran palsu?

Kejutan disiapkan penulis menjelang Conner memilih siapa anak laki-laki yang akan menjadi Pangeran Palsu.

Meskipun di akhir agak terlalu ‘mulus’ menurut gue, tapi tentu saja cerita tidak selesai sampai di buku ini. Masih ada dua buku selanjutnya, karena ada pihak-pihak yang pastinya gak puas dengan kemunculan Pangeran Jaron yang tiba-tiba ini.

Selayaknya cerita tentang kerajaan, ada tokoh putri yang sejak belum lahir pun sudah dijodohkan dengan Pangeran Darius – yang karena pangeran Darius sudah meninggal, maka Pangeran Jaron lah yang akan jadi pendampingnya kelak. Juga ada Imogen, pelayan perempuan yang sejak awal menarik perhatian Sage.

Gak seperti kebanyakan buku bertema kerajaan yang rumit dengan segala sejarah dan nama tokoh yang rumit, The False Prince ini menurut gue cukup simple. Latar belakang Carthya dijelaskan dengan singkat dan padat oleh Conner, yang membantu pembaca mengenal Carthya.


Submitted for:




Wednesday, February 19, 2014

Wishful Wednesday 57






Sejak membaca Will Grayson, Will Grayson, gue pun tertarik untuk membaca buku-buku dari dua penulis tersebut – John Green dan David Levithan. Untuk John Green sendiri, gue udah baca The Fault in Our Stars dan udah punya beberapa bukunya yang lain. Nah, gue belum pernah nih baca bukunya David Levithan, makanya di Wishful Wednesday kali ini, gue pengen masukin salah satu bukunya ke dalam wishlist gue, yaitu Every Day – bintang di goodreads untuk buku ini cukup menjanjikan, demikian juga dari beberapa review yang gue baca.

Sebelum baca bukunya, simak sinopsisnya dulu deh:


Every day a different body. Every day a different life. Every day in love with the same girl.

There’s never any warning about where it will be or who it will be. A has made peace with that, even established guidelines by which to live: Never get too attached. Avoid being noticed. Do not interfere.

It’s all fine until the morning that A wakes up in the body of Justin and meets Justin’s girlfriend, Rhiannon. From that moment, the rules by which A has been living no longer apply. Because finally A has found someone he wants to be with—day in, day out, day after day.

Silahkan lihat rules di bawah ini untuk ikutan Wishful Wednesday ya:
  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Monday, February 17, 2014

The Time Keeper



 

The Time Keeper

Mitch Albom @ 2012
Hyperion
222 hal.



“With endless time, nothing is special.
With no loss or sacrifice, we can’t appreciate what we have”

Dalam buku ini, ada dua orang dengan keinginan yang berbeda.

Sarah Lemon, seorang gadis, pintar tapi bertubuh kurang proporsional. Menjadikan dia bahan ejekan di sekolah. Ketika ada seorang cowok yang mendekati dia, Sarah pikir, cowok itu, Ethan, benar-benar menyukai dia. Tapi, Sarah ‘hancur’ ketika ia melihat salah satu status Ethan di Facebook yang intinya mengejek Sarah. Dan, ketika itulah Sarah ingin semuanya segera berakhir.

Sementari itu, Victor Delamonte, seorang pengusaha, salah satu orang terkaya di dunia, didiagnosis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi. Victor menolak ‘menyerah’ pada kematian dan segera mencari berita tentang ‘pengawetan’ manusia. Pada dasarnya, ia tidak ingin mati, ia hanya ingin diawetkan dan pada saatnya nanti ia ingin ‘bangun’ kembali di masa yang baru.

Maka, Sang Penjaga Wakut bernama Dor, ‘diutus’ ke dunia, untuk menyadarkan kedua umat manusia ini bahwa waktu adalah sesuatu yang tidak bisa mereka buat main-main.


 “It is never too late or too soon. It is when it is supposed to be.”



Manusia itu emang selalu gak ada puasnya, dikasih waktu panjang , malah minta cepet-cepet selesai. Dikasih waktu singkat, minta perpanjangan waktu lagi. Yah, gue sendiri juga gitu, kalo ada kerjaan, terkadang mikir ‘Nanti deh… deadline-nya masih lama.’ Giliran deadline udah tinggal sehari, baru kelabakan dan minta perpanjangan waktu.

Kalo lagi  nunggu, lagi bosen… berasa waktu lambatttt banget. Apalagi kalo pas ngantri, kaya’nya emosi ngeliat petugas yang koq kaya’nya lamban banget.

Gue juga sering merasa waktu itu berlalu begitu cepat. Gak terasa Mika udah 6 tahun, udah masuk SD, tapi gue merasa belum menjadi seorang ibu yang ‘sempurna’. Mika bukan lagi bayi kecil yang bisa gue gendong sebelah tangan. Kalo lagi mellow, kadang gue pengen Mika tetap ada seperti saat ini, gak gede-gede… Tapi.. hehe… gak boleh gitu kan ya? Ketika gue lagi kesel sama Mika, dan Mika bilang ‘Mama gak sayang sama Mika, Mama marah-marah terus.’ Aduhhhh.. itu rasanya dunia ‘hancur’…. Gue lagi-lagi berjanji, untuk gak akan marah-marah lagi ke Mika, gue janji akan menikmati waktu gue sama Mika, karena gue yakin ada saatnya Mika berada dalam ‘dunianya sendiri’, di mana gue akan ada di luar lingkaran itu dan menjadi ‘pengawas’. Huhuhu… curhat deh jadinya.

Dan, dari buku ini, semoga gue jadi semakin lebih menghargai waktu – setiap detiknya, biar gue gak menyesal dan gak merasa terlambat. Gak ada yang namanya kecepetan atau terlalu lambat – karena memang semua udah sesuai pada waktu dan tempatnya.

2014.02.15


Submitted for:


Books in English Reading Challenge 2014





Huhuhu… untuk yang tahun 2013 kemarin gue gak sempet bikin recap-nya. Yah biasa lah, kesibukan kantor di awal tahun ribet banget. Tapi, gue tetap semangat untuk ikutan lagi Books in English Reading Challenge 2014. Masih dengan host yang sama, Teh Peni
Ada 3 ‘kelas’ yang bisa diambil:
#1 Elementary Class : Membaca dan mereview 6-12 buku dalam bahasa Inggris

#2 Intermediate Class : Membaca dan mereview 13-24 buku dalam bahasa Inggris

#3 Advance Class : Membaca dan mereview > 24 buku dalam bahasa Inggris.
Rules lebih jelas bisa dibaca di blog-nya Teh Peni.
Untuk sementara, gue daftar di Elementary Class aja dulu deh – semoga bisa naik kelas nanti. Dan ini daftar sementaranya:

1.       Pandemonium (Lauren Oliver) - review di sini
2.       The Time Keeper (Mitch Albom)
3.       Looking for Alaska (John Green)
4.       Eggs (Jerry Spinelli)
5.       The Christmas Train (David Baldacci)
6.       An Abundance of Katherines (John Green)
7.       The Umbrella Man and Other Stories (Roald Dahl)
8.       The Handamaid’s Tale (Margaret Atwood)

Semoga yang ada di daftar ini bisa dibaca semua :)

Friday, February 07, 2014

Pandemonium



 

Pandemonium

Harper Collins USA - 2012
455 Hal

Ada dua bagian di dalam buku sequel Delirium ini – Now dan Then.

Di bagian ‘Then’, bercerita tentang Lena yang berhasil diselamatkan oleh kaum Invalid atau Simpatasian, kisah Lena yang hidup di Alam Liar. Bersama-sama dengan Raven, Tack dan teman-teman barunya di Alam Liar, Lena mencari tempat aman untuk persembunyian mereka. Di sini, Lena belajar bagaimana caranya bertahan hidup dengan peralatan yang seadanya.

Kehidupan di Alam Liar terkesan primitif – mereka harus berburu untuk mendapatkan makanan dan berpindah-pindah sesuai musim. Kehidupan kaum Simpatisan begitu keras, tapi mereka tetap bertahan dan tidak akan berpindah melintasi daerah perbatasan demi mendapatkan sebuah kenyamanan.

Sementara di bagian ‘Now’ – adalah kisah di mana Lena, Raven dan Tack menyamar sebagai warga negara yang sudah ‘disembuhkan’. Mereke menyusup di antara warga kota New York dengan identitas baru. Lena ditugaskan untuk mengawasi Julian Fineman, anak dari pimpinan DFA (Deliria Free America) –Thomas Fineman. Julian ini bisa dianggap sebagai ikon anak muda yang sangat mendukung DFA. Meskipun ia sakit keras dan dianggap tidak  memenuhi syarat, tapi Julian tetap ngotot ini menjalani proses penyembuhan.

Seharusnya…. Julian dan Lena ada di pihak yang berlawanan… tapi ternyata.. ketika mereka berdua diculik, situasi berubah.

Di bagian ‘Then’, alur bergerak rada lambat dan sedikit membosankan di awal. Tapi, karena berganti-ganti dengan bagian ‘Now’ maka cerita jadi semakin seru dan bikin penasaran. Memang sih, sempat bingung dengan perpindahan cerita dengan waktu yang berbeda. Tapi, makin lama, akan ketemu ‘titik tengah’nya. Meskipun, masih ada pertanyaan, gimana caranya Lena, Raven dan Tack bisa akhirnya sampai di New York, gak ada cerita tentang persiapan mereka untuk menjalankan misi mereka itu.

Lena yang dulu di Delirium ‘hancur lebur’ karena harus berpisah dengan Alex, di Pandemonium, berhasil menata perasaan kehilangannya dan menjadi perempuan yang lebih kuat dan tangguh, bahkan ada bagian di mana Lena jadi nekat.

Yang pasti, ‘perang’ antara DFA dan The Wilds semakin terbuka. Apalagi, endingnya, lumayan bikin ‘terkejut’ – tapi juga bikin kesal…. Soalnya, di akhir cerita, gue bertanya-tanya “Jadi…. Gini aja nih….? Terus, jadinya gimana dong?” Dan mari tunggu kelanjutannya di Requim (udah ada sale-nya belum ya? :D)


Submitted for:


Tuesday, February 04, 2014

Catatan Musim



 

Catatan Musim

Tyas Effendi
Gagas Media, 2012
270 hal.

Awal cerita begitu menjanjikan – hujan, suasana yang teduh, bikin romantis gimana gitu. Tya dan Gema, kerap bertemu karena sering berteduh di tempat yang sama karena hujan yang senantiasa mengguyur kota Bogor. Bagi Tya, sosok Gema yang selalu buru-buru pulang ketika lonceng gereja berdentang enam kali begitu misterius. Selalu membawa kanvas.

Ketika mereka mulai pelan-pelan menjalin komunikasi, Gema malah ‘menyingkir’ dari kehidupan Tya. Kaki Gema harus diamputasi karena kanker yang menjalar kakinya. Gema pergi ke Perancis dan belajar seni di sana. Dan Tya, bertekad untuk mengejar Gema, maka ia pun mendaftarkan diri untuk bea siswa ke Perancis dan beruntunglah ia diterima.

Sesungguhnya karakter Gema cukup menarik dan menjanjikan. Gema yang awalnya putus asa karena kondisinya, malah jadi sosok yang mandiri dan mencoba bangkit dengan kesendiriannya di Perancis sana.

Tapi ya, apa yang ada di buku ini ‘serba nanggung’. Pertama: Gema dan Tya, dari awal gue gak merasa ada sebuah ‘chemistry’ yang kuat di antara mereka, yang bikin pertemanan mereka jadi lebih spesial, percakapan mereka juga biasa-biasa aja, gak ada yang mengarah kepada sebuah sesuatu yang bikin ‘termehek-mehek’ atau sesuatu yang mendalam. Mungkin ‘kespesialan’nya terletak di lukisan sosok Tya yang dibuat Gema – tapi, tetap aja gak ‘nendang’ buat gue.

Kedua: hubungan Tya dan Agam – sosok dari masa kecil yang bersahabat hingga dewasa. Selain tuker-tukeran cangkir, juga gak ada sesuatu yang mendalam. Bahkan, gue tiba-tiba merasa aneh melihat Agam – yang menurut gue digambarkan sebagai pemuda santun – tahu-tahu jadi beringas dan tanpa ba-bi-bu langsung menghajar Gema yang jelas-jelas dalam kondisi yang gak seimbang #teamGema.

Lalu, ada lagi sosok kakak Gema, Kak Gadis – segitu traumanya dengan lukisan, sampai-sampai semua lukisan dibakar. Yah, gue mungkin gak tau kalo kondisi orang trauma sampai segitunya ya. Tapi menurut gue, rada berlebihan aja. Karena penyebab trauma itu bukan karena lukisan. Terus juga, gak ada tuh sekilas info kenapa Kak Gadis ini duduk di kursi roda. Gue pikir karena sebuah lukisan yang bikin dia duduk di kursi roda. Belum lagi karakter Kak Gadis ini yang judes dan kaya’ gak punya perasaan.

Lagi nih… karakter Tya yang juga gak jelas – waktu masih di Bogor kesannya dia begitu peka sama Gem, tapi begitu udah ketemu di Perancis, koq malah dia jadi rada-rada labil dan gak jelas. Katanya gue, tapi malah ngeladenin tantangan teman se-apartemennya,  yang pengen ngebuktiin kalau Tya bukan perempuan penyuka sesama jenis.

Haduh.. padahal ya, setting kota hujan, plus kota Lille di Perancis bisa jadi salah satu pendukung kisah cinta yang romantis, tapi kenapa banyak hal yang gak masuk akal.

Ma’af deh, cuma dua cangkir teh aja dari gue.

Submitted for:





 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang