Showing posts with label Lucky No. 14 Reading Challenge. Show all posts
Showing posts with label Lucky No. 14 Reading Challenge. Show all posts

Friday, July 25, 2014

Before I Die



 

Before I Die

Jenny Downham @ 2007

Black Swan

346 hal.


Di usia yang baru 16 tahun, Tessa Scott harus berjuang melawan penyakit leukemia yang dideritanya. Berbagai pengobatan dilakukan, tapi tampaknya tak membuahkan hasil yang maksimal. Kondisi Tessa terus menurun.

Tessa pun membuat daftar hal-hal yang harus ia lakukan sebelum ia meninggal, dan hmm… cukup ‘mencengangkan’ sih untuk anak seusia 16 tahun (eh.. tapi gak tau ya, kalo di Inggris sana ini lumrah mungkin).. misalnya having sex, nyoba drugs, terus shoplifting dan masih banyak lagi … meskipun ada juga sih di daftar itu yang bikin terharu.

Nah, di sela-sela jadwal pengobatannya, bersama Zoey, sahabatnya, Tessa melakukan hal-hal tersebut. Terkadang, ketika akhirnya Tessa kelelahan, ia pun collapse, dan harus kembali masuk rumah sakit.

Di awal-awal, susah buat gue untuk simpati sama sosok Tessa. Dan ini bikin gue nyaris ‘menutup’ buku ini di tengah-tengah. Gue justru lebih simpati dengan ayah Tessa yang rela berkorban begitu banyak untuk menyembuhkan Tessa. Tapi, gue juga coba melihat, Tessa dari sisi yang lain, sisi yang egois, yang menuntut perhatian penuh dari Zoey, sementara bagi Zoey, dan juga ayahnya, meskipun Tessa sakit, ada baiknya ia kembali melihat ‘dunia luar’, dunia selain kamar tidurnya atau dunianya sebagai orang sakit. Tapi, pasti sulit banget ya, ketika loe tau, loe akan segera meninggal… satu-satunya yang diinginkan adalah melakukan banyak hal sebelum meninggal.

Adam, menjadi seseorang yang membuat hari-hari terakhir Tessa jadi lebih ‘hangat’. Selain perhatian dari keluarga, ia juga berhasil mencoret satu hal lagi dalam daftarnya – yaitu ‘cinta’.

Ending buku ini, kalo dibaca dengan pelan-pelan … bakalan bikin ‘mewek’ … huhuhu… sedih to the max, digambarkan dengan kalimat yang indah dan pelan-pelan. Aduh…. Ini yang bikin gue jadi merinding … Apalagi bagian-bagian ‘instruksi Tessa’ untuk keluarganya … Kalo baca bagian ini, gak keliatan lagi Tessa yang punya maunya sendiri, Tessa yang kekanakan… justru dia jadi lebih dewasa dibandingkan orang tuanya.

Moral dari cerita ini, hargailah hidupmu … ya, kita gak pernah tau apa yang akan terjadi dan kapan kita akan dipanggil Tuhan kan? Nikmati dan berbahagialah dengan orang-orang yang kita cintai *Mamah Ferina mode:on*

"Bye Tess. Haunt me if you like. I don't mind."


Submitted for:


- Baca Bareng BBI bulan Juli 2014 – tema: sick-lit


- 2014 TBRR Pile – Reading Challenge (additional challenge: Book Award Winner)
- Lucky No. 14 Reading Challenge – Category: It’s been There Forever
- Books in English Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014
- New Author Reading Challenge 2014

Thursday, July 24, 2014

The Future of Us



The Future of Us

Jay Asher & Carolyn Mackler

Razorbill - 2012

356 hal.

(Sale Periplus)


Tahun 1996, sepertinya baru mulai ‘heboh’ yang namanya internet, dan punya email account. Tak terkecuali Emma, yang baru aja dikasih komputer sama ayahnya. Sahabat Emma, Josh memberikan sebuah CD-Rom program American Online. Setelah membuat account atas namanya, tiba-tiba saja Emma langsung terhubung dengan situs Facebook – yang tahun 1996 belum ditemukan. Facebook sendiri baru ada kira-kira tahun 2003 atau 2004 kali ya …  Dan Emma dan Josh ‘melihat’ diri mereka 15 tahun kemudian, di mana kehidupan pernikahan Emma tampaknya kacau balau, sementara Josh hidup bahagia dengan salah satu teman sekolah mereka yang jadi cewek populer di sekolah.

Emma jadi ‘terobsesi’ untuk mengetahui kehidupan dia 15 tahun kemudian itu, sebentar-sebentar ngecek status di facebook, ia berusaha mencari tahu siapa suaminya di masa itu. Bahkan sampai ke perpustakaan untuk nyari nomor telepon si pria tersebut. Status tersebut terus berubah, suami Emma juga beberapa kali berganti, yah katakanlah sesuai dengan suasana hati Emma.

Josh juga jadi terobsesi dengan Sydney, dan mulai mendekati Sydney di sekolah. Tak hanya itu, mereka berdua juga mulai ‘kepo’ dengan kehidupan teman-teman dekat mereka yang lain.

Sebenarnya hubungan Emma dan Josh juga sedang sedikit kacau, persahabatan mereka rada terganggu karena Josh. Dengan adanya Facebook, mereka kembali dekat, dan Emma juga ‘terganggu’ dengan sikap Josh yang mendekati Sydney.

Hmm… cerita menarik sih .. fantasi? Gak juga … Science fiction? Gak juga (menurut gue lho)…. Keberadaan Facebook yang tiba-tiba muncul dan menghilang .. terus bikin penasaran hingga akhir cerita, kenapa itu situs  bisa ada di komputernya Emma … Gue jadi ngebayangin, a la film 13 Going on 30 … gue pikir, akan menceritakan kehidupan Josh dan Emma 15 tahun kemudian. Gue suka dengan penuturan yang berganti-ganti antara Emma dan Josh. Gue juga jadi ikutan ‘kepo’ sama status-status Emma selanjutnya.

Tapi, gue terkadang kesel juga sama Emma yang rada-rada labil itu, gara-gara obsesi barunya itu, ia juga jadi gampang marah. Gue juga rada kurang ‘klik’ dengan Josh dan juga gak terlalu ‘menangkap’ chemistry antara Emma dan Josh. Yang seru malah pasangan Kellan dan Tyson.

Hmmm.. baca buku ini, bisa bikin nostalgia, tahun 1995, belajar excel di kampus … tahun 2000an, bikin account di Friendster – dan seneng banget kalo dapet testimony yang seru dari temen-temen lama (sekarang gue lupa, apa account Friendster gue) … terus, nyoba-nyoba chatting di ICQ, YM dengan berbagai macam user name .. hihihi… buat gue yang jarang update status, Facebook lebih ke ‘penghubung’ gue dengan teman-teman lama, dan kalo gue liat-liat daftar temen gue sekarang, kadang gue pun lupa, gue temean sama dia di mana ya…. Hihihi, sekarang Facebook lebih banyak untuk minta ‘nyawa’ buat main Candy Crush :D ..


Submitted for:



- Baca Bareng BBI bulan Juli 2014 – tema: masalah remaja/keluarga
- Lucky No. 14 Reading Challenge – Category: Bargain All the Way
- Books in English Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014

Friday, July 18, 2014

Legend



 

Legend

MarieLu @ 2011

Lelita Primadani (Terj.)

Mizan – Cet. I, November 2012

382 hal.

(hadiah giveaway dari Oky)



Setiap hari berarti 24 jam yang baru. Setiap hari berarti segalanya kembali mungkin. Kau hidup pada saat ini, kau mengambil itu semua dalam satu hari, dalam satu waktu - Kau mencoba berjalan dalam cahaya 
-- hal. 382

Inilah Amerika Serikat tahun 2130, ketika negara ini terpecah menjadi dua kubu – Republik dan Koloni.  Keduanya berusaha saling menghancurkan. Saat ini, Republik yang berkuasa. MIliter berperan sangat kuat. Kesenjangan sosial begitu terasa, di tempat bagian orang-orang kaya, suasana terang-benderang, listrik lancar, sementara bagi kaum miskin, mereka harus bertahan dengan lilin, api unggun atau listrik yang byar-pet.

Sebuah peraturan yang ketat dibuat, yaitu bahwa anak-anak usia 10 tahun harus mengikuti suatu ujian dan harus mendapatkan standard nilai tinggi yang akan menentukan masa depan mereka dan menjamin kehidupan mereka selanjutnya. Jika anak-anak itu mendapatkan nilai rendah, maka mereka tidak lulus ujian dan dikirim ke suatu kamp atau pabrik.

Wabah penyakit mematikan menyerang rakyat Republik, di mana obat-obatan sangat mahal. Dan hanya golongan orang kaya yang mendapatkan vaksin, sementara orang-orang miskin yang terjangkit wabah itu akan dikarantina dan dibiarkan meninggal secara perlahan.

Nah, muncullah sosok ‘Robin Hood’ masa depan bernama Day – yang kemudian menjadi buronan paling dicari Pemerintah. Ia melakukan berbagai kejahatan – seperti membobol bank, menerobos rumah sakit untuk mencuri obat – yang terakhir ini ia lakukan demi menyembuhkan adiknya, Eden. Karena kelihaiannya, kegesitan dan keuletannya, ia tak pernah tertangkap oleh patroli, bahkan pihak pemerintah pun tak tahu seperti apa wujud Day sebenarnya, mereka gak punya rekam sidik jari Day. Setiap hari, wajahnya ditayangkan di JumboTron, tapi dengan wajah yang berbeda-beda. Hingga sampai satu malam, ketika ia menyelundup ke Institusi Kesehatan, ia nyaris tertangkap dan melarikan diri, di mana ia berjumpa dengan Kapten Metias, pimpinan patroli itu. Di malam itu pula, Kapten Metias terbunuh, sudah pasti Day jadi tertuduh utama. Dan June, adik Metias tidak tinggal diam. Sebagai murid yang berprestasi dengan hasil terbaik, June pun direkrut sebagai Agen untuk menangkap Day.

Yah … bertemulah mereka dan seperti yang sudah diketahui, mereka pun jatuh cinta. Tapi, tentu saja sulit, mengingat posisi masing-masing… apalagi yang June tahu, Day lah yang membunuh kakak tersayangnya itu.

Gue suka sama Day sejak awal … ya, tipe-tipe cowok misterius tapi baik hati sama keluarga. Ada orang-orang baik yang selalu jadi korban, dan Day adalah salah satunya. Ia berusaha bertahan hidup di dalam persembunyian, ia menolak bergabung dengan kelompok pemberontak dan lebih memilih jalannya sendiri. Ia sudah dianggap ‘tewas’, bahkan keluarganya sendiri juga gak tahu kalo dia masih hidup.

Sementara June, ia hanya seorang adik yang ingin mencari keadilan untuk kakaknya. Ia percaya bahwa Republik memberikan yang terbaik, dan terkejut saat mendapati fakta-fakta yang bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini.

Alur cerita ini berlangsung cepat dan menurut gue seru, karena ada adegan lari-lari, ada adegan eksekusi yang bikin tegang. Yang membuat gue ‘tersentuh’ adalah keakraban antara Metias dan June, tapi yang bikin mules adalah kesadisan dari pihak Pemerintah yang gampang banget main eksekusi. Kebayang dinginnya Thomas itu kaya’ kalo ngeliat tentara-tentara Jerman di film-film gitu … dingin tanpa ekspresi.

Nah, kalo Komandan Jameson, kaya’ gini nih justru bayangan gue … hehehe..

via IMDb


Tapi tau gak …. Entah kenapa ketika baca buku ini, tiba-tiba gue malah ngebayangin kalo si capres yang ‘satu’ itu beneran jadi presiden … Indonesia dikuasai sama militer, terus semua berubah jadi ‘mencekam’ dan jadi seperti kaya’ yang ada di cerita-cerita dystopia …. *amit-amit*.. abaikan deh... itu hanya khayalan yang gak bener ...

Dan, yang ganggu lagi adalah COVER-nyaaaa… kenapa lagi-lagi berwujud manusia, tapi gak pas gitu rasanya … cover aslinya padahal keren menurut gue … sedikit merusak imajinasi gue akan sosok Day … Day di cover ini rasanya terlalu gagah dan tangguh, gak keliatan sisi rapuhnya.


Submitted for:
- 2014 TBRR Pile – Reading Challenge
- Lucky No. 14 Reading Challenge – Freebies Time
- New Author Reading Challenge 2014
- Young Adult Reading Challenge 2014

Thursday, June 19, 2014

Vivien’s Heavenly Ice Cream Shop



 

Vivien’s Heavenly Ice Cream Shop

AbbyClements @ 2013

Queras

349 hal.


Imogen dan Anna McAvoy, adalah dua kakak beradik, yang bisa dibilang berbeda karakter. Anna, tipe gadis yang senang memasak, memilik kehidupan yang tenang dan punya perencanaan. Sedangkan, Imogen, tipe yang berjiwa bebas. Ia ‘mengembara’ ke Thailand, hari-harinya bagaikan sedang berlibur panjang – surfing, diving dan memotret kehidupan bawah laut (ahh… pengen ikutan nyemplung ke laut rasanya).

Imogen kembali pulang ke Brighton, Inggris, ketika nenek mereka, Vivien meninggal dunia dan mewariskan toko es krim kepada Imogen dan Anna. Toko es krim itu sudah berdiri sejak lama dan merupakan salah satu warisan yang berharga. Imogen dan Anna  bertekad mempertahankan toko es krim itu, sementara salah seorang kerabat mereka, ingin agar toko es krim itu menjadi tempat yang lebih modern.

Dengan pengetahuan yang minim, Imogen dan Anna membuat rencana agar warisan Vivien tidak hilang begitu saja. Tapi ada saja kendala yang membuat semua tak berjalan lancar – Imogen yang gagal membuat es krim atau cuaca yang tidak mendukung. Tapi mereka tidak patah semangat. Anna pergi ke Italia untuk belajar cara membuat es krim yang benar.

Hmmm… ceritanya manis sih… tapi… gak meninggalkan sebuah kesan yang istimewa. Ada konflik tapi koq rasanya cuma ‘sekelebat’, cuma percik-percik dikit, gak sampai ‘meledak’. Gak ada greget yang membuat gue lebih bersimpati dengan Anna dan Imogen. Kesannya jadi biasa aja, padahal banyak banget yang bisa disajikan dengan lebih ‘greget’. Gue ngerasa, setiap pindah bab, udah aja gitu, satu masalah selesai, terus cara mereka bicara juga berasa datar

Oke lah, ada kisah cinta yang tentu saja menjadi pelengkap di dalam buku ini, dua kakak beradik ini mengalami patah hati dan dua-duanya segera menemukan penggantinya. Dan gue berharap, Mateo gak hanya jadi tokoh ‘pelengkap’ yang kaya’ numpang lewat. Tapi untung sih, meskipun Anna juga suka sama Mateo, saat di Italia gak ada adegan percintaan yang dipaksakan muncul.

Sayang banget, padahal latar belakangnya udah menarik. Gue membayangkan rumah Vivien yang hangat, atau toko es krim yang kuno tapi bikin betah untuk duduk-duduk di sana. Apalagi letaknya di pinggir pantai . . . udah pas banget deh.

Jadinya, saat menutup buku ini, gue pengen – ke pantai dan makan es krim.


Submitted for:

- Books in English Reading Challenge 2014
- Lucky No. 14 - Reading Challenge (category: (Not So) Fresh from the Oven)
- New Author Reading Challenge 2014

Tuesday, May 20, 2014

Lockwood & Co. #1: The Screaming Staircase



Lockwood & Co. #1: The Screaming Staircase (Undakan Menjerit)

Jonathan Stroud @ 2013

Poppy D. Chusfani (Terj.)

GPU – Januari 2014

424 hal.


London dilanda wabah yang serius. Berhubungan dengan Masalah hantu, yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Para penduduk kota tidak berani keluar di waktu malam. Perlindungan diperketat. Mereka melengkapi diri mereka dengan lavendel, rumah mereka dipasang besi-besi agar para Pengunjung tidak berani mendekat. Para Pengunjung menebar ketakutan, bahkan bisa berakibat kematian. Maka berdirilah agensi pengusir Pengunjung itu. Yang terbesar adalah Fittes. Tapi ada juga agensi-agensi kecil seperti Lockwood & Co, dengan pemilik bernama Anthony Lockwood. Yang unik nih, para pengusir yang tergabung dalam agensi-agensi tersebut adalah anak-anak. Nah, karena itu, seharusnya ada penyelia – orang dewasa – yang mengawasi jalannya operasi agensi-agensi tersebut.

Lucy Carlyle, seorang anak perempuan yang memilik Bakat Daya Dengar. Ia bergabung di Lockwood & Co. setelah ditolak oleh agensi besar. Di tempat asalnya, Lucy pernah bergabung di sebuah agensi, dan menjadi salah satu agen yang diandalkan. Tapi, karena suatu insiden, ia pun memutuskan pindah ke London.

Anthony Lockwood, seorang remaja yang dengan masa lalu yang misterius, tapi memiliki karakter yang ceria dan memiliki akal serta perhitungan yang tak terduga. Selain itu ada juga George, pemuda gemuk, yang gampang ngambek dan marah, tapi untuk urusan riset, serahkan padanya.

Memang dalam mengatasi sebuah kasus, dibutuhkan riset yang mendalam – misalnya tentang latar belakang bangunan yang akan mereka datangi, tapi terkadang, Lockwood yang sering mengabaikan hal tersebut hingga dalam kasus terakhir, riset yang kurang, tindakan yang tanpa perhitungan membuat mereka harus membayar ganti rugi yang sangat besar.

Optimisme Lockwood terbukti dengan adanya tawaran untuk menemukan Sumber yang bisa mengusir dan membasmi Pengunjung di sebuah rumah paling berhantu. Tawaran itu datang dari klien kaya raya bernama Fairfax. Meskipun George dan Lucy sedikit ragu, tapi Lockwood dengan gagah berani menerima tawaran itu.

Secara keseluruhan, gue puasssss dengan buku ini. Jonathan Stroud mengobati kerinduan gue akan cerita fantasi yang penuh petualangan, tanpa adanya intrik-intrik cinta segitiga, serigala atau vampire.

Ada humor, misteri, horor dan petualangan yang menjanjikan. Tokoh-tokohnya juga menyenangkan dan mudah untuk disukai. Lockwood yang cuek tapi, sebagai pemimpin ia kerap ada dalam dunianya sendiri, George yang doyan makan tapi teliti dan Lucy, meski terkadang gegabah tapi ia adalah perempuan yang tangguh. Dan meskipun sering berbeda pendapat atau berantem, tapi ketika berada dalam satu tim, menyelesaikan sebuah kasus, mereka saling bahu-membahu. Suka dengan chemistry ketiga tokoh ini.

Untuk cover, menurut gue sih unik. Karena melambang lubang kunci sebuah pintu, yang jadi bagian penting dalam pekerjaan seorang agen. Lewat pintu, mereka masuk ke sebuah ruangan penuh misteri yang menakutkan, dan satu pintu tidak boleh terkunci, sebagai jalan keluar jika dalam bahaya. Tapi, gambar di dalamnya, gak sesuai banget sama isi cerita. Emang sih, berhasil membuat gue ‘merinding’ kalo ngeliat gambar itu lama-lama (lagian iseng banget sih dipandangin), gue udah membayangkan kalau gadis kecil itu adalah salah satu Pengunjung. Kesannya horor banget kan? Gue pun bersiap-siap kalau-kalau ada penampakan.

Membaca cerita ini, gue serasa mengunjungi London yang kelam dan penuh kabut. Semua orang butuh perlindungan dari para hantu, dan kerennya anak-anak memegang peranan penting. Satu perlengkapan agen yang gue suka adalah rappier – kesannya keren gitu ke mana-mana bawa pedang :D

Dan jangan khawatir kalau bingung dengan istilah-istilah aneh di dalam buku ini, karena di bagian akhir tersedia Glosarium yang membantu kita biar jadi lebih paham.

Gue gak sabar menantikan sekuel-nya ‘The Wishpering Skull’ – bahkan nih, gue berharap ada prekuelnya juga… pengen tahu asal-usul dan kisah si Anthony Lockwood. Sekali lagi, Jonathan Stroud berhasil membuat gue kangen dengan tokoh-tokohnya :) Pengen cepet-cepet 'ketemu' lagi di cerita selanjutnya.


Submitted for:

- Lucky No. 14 Reading Challenge – Category: Favorite Author
- Young Adult Reading Challenge 2014
- Children Literature Project

Tuesday, April 29, 2014

Arranged Marriage



 

Arranged Marriage (Perjodohan)

Chitra Banerjee Divakaruni @ 1995
Gita Yuliani (Terj.)
GPU - 2014
376 hal.

Mungkin udah berkali-kali ya, gue bilang di blog ini, kalo gue suka baca buku-buku dari penulis India – yah, salah satunya Chitra Banerjee Divakaruni ini. Tapi ya, pertama kali gue baca bukunya – The Mistress of Spices – gara-gara nama salah satu tokohnya itu sama dengan ‘gebetan’ gue jaman dulu. Hehehe… tapi, karena buku itu juga, gue jadi nge-fans sama buku-buku beliau yang lain. Buku Divakaruni – mengangkat tema perempuan, yang terjebak antara adat istiadat yang kuat dan dunia modern, emansipasi.

Salah satu buku Divakaruni favorit gue adalah The Palace of Illusions – sebuah versi lain dari kisah pewayangan.

Ok, tentang buku Arranged Marriage – mengupas masalah perjodohan yang masih jadi hal penting dalam kehidupan kaum perempuan di India (sok tau deh gue…). Jika sudah cukup umur, keluarga akan mengatur sebuah acara, di mana para kaum laki-laki akan menilai apakah perempuan ini layak untuk jadi istrinya –biasanya mak comblang nih yang bakal mempromosikan habis-habisan si perempuan dan laki-laki. Kalau dari buku ini, kesimpulan gue, ada sebagain perempuan yang menantikan saat-saat perjodohan, berkhayal seperti apa wujud asli dari laki-laki yang dikenal hanya via foto. Ada juga yang menginginkan kebebasan dalam memilih laki-laki yang ia sukai.

Acara perjodohan di India sendiri termasuk acara yang besar-besaran. Sebuah kesuksesan bagi keluarga pihak perempuan apabila mampu memberi mas kawin yang besar kepada keluarga calon besan. Berbeda dengan Indonesia di mana justru pihak laki-laki yang memberi mas kawin, di India, justru keluarga perempuan yang melakukan hal tersebut. Bisa jadi keluarga perempuan sampai harus berhutang demi mempersembahkan mas kawin yang besar, jangan sampai dipandang sebelah mata oleh keluarga laki-laki.

via Cultural India
Tentu saja, pernikahannya sendiri pastinya tak kalah heboh dengan acara lamarannya dong. Bayangin aja kali ya, film Bollywood dengan penari memakai baju warna-warni. Seperti yang diungkapkan oleh Agustinus Wibowo dalam Titik Nol: ArrangedMarriage

“Saya terkesima melihat kemegahan pernikahan itu Pengantin pria yang gagah dengan surban merah. Pengantin perempuan yang cantik dengan perhiasan emas dari ujung kepala sampai, sari warna merah yang anggun, dan tangan yang penuh coret-coretan henna. Belum lagi para tamu yang pakaiannya penuh warna-warni dahsyat – merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga, merah muda – perbendaharaan kata kita sampai tak cukup untuk menyebut semua warna yang ada”

Dan jika sudah menikah, otomatis si perempuan adalah milik keluarga laki-laki. Ia akan mengurus semua tetek-bengek dalam keluarga suami – mulai dari mengurus mertua, bahkan ipar-iparnya, masak, nyuci, mungkin juga ngipasin mertuanya yang kepanasan. Gue jadi rada kesel dan gemas ketika membaca cerita Pemeriksaan Ultasonografi – yang berkisah tentang 2 sahabat – satu di India, satu di Amerika. Mereka sama-sama hamil dan menantikan anak pertama. Runu, yang tinggal di India, ketakutan jika nanti ia melahirkan anak perempuan. Sebagai, istri dari suami dengan kasta tinggi di India, anak pertama ‘wajib’ laki-laki, kalau tidak, pilihannya adalah aborsi.

Menjadi milik suami, berarti harus menerima perlakuan kasar dari suami. Ingin berontak dan melarikan diri – aib seumur hidup menanti. Cap miring akan melekat pada diri sang istri, kalau punya anak perempuan, kemungkinan besar, si anak bakal susah dapet jodoh. Gue salut dengan keberanian tokoh dalam cerita pertama yang berjudul Kelelawar, meskipun buntutnya, dengan kata-kata manis dan janji-janji surga dari sang suami, si istri rela kembali ke rumah. Menurut survey (eh, hasil pengamatan gue sih), sekali laki-laki ringan tangan dan kasar sama istri, gak akan dia bisa berubah, meskipun mulutnya berbusa mengucapkan janji-janji surga.

Apalagi dengan iming-iming pergi ke Amerika… wow, itu suatu hal yang luar biasa. Kebayang dong, A-me-ri-ka…. Negara yang hebat, pastinya si laki-laki kaya raya dan punya pekerjaan yang penting. Meksipun pada kenyataannya, ternyata si laki-laki gak sehebat itu.

Cerita Pakaian dan Jalan Perak, Atap Emas – menggambarkan kehidupan imigran India, yang mencoba mengadu nasib di Amerika. Gemerlap kehidupan di Amerika, tidak mampun membawa kehidupan yang lebih baik bagi para tokoh. Mereka juga harus siap menghadapi masalah diskriminasi karena kulit gelap mereka.

Masalah budaya, juga kerap jadi masalah. Perempuan India harus siap menyembunyikan hubungan mereka dengan pria asing. Kalau ketahuan, mereka bisa diusir dari keluarga. Cerita Kata Cinta, menggambarkan kisah seorang perempuan India yang tinggal serumah dengan kekasihnya yang bule itu. Tiap ibunya telepon, ia harus siap, jangan sampai pacarnya itu yang mengangkat.

Biasanya lagi nih, perempuan India yang udah lama di Amerika, berubah menjadi perempuan modern, yang gak percaya dengan lembaga pernikahan – apalagi memiliki anak. Tapi, kadang ya, kita suka ‘kena batunya’ kalo ngomong, kaya’ Meera dalam cerita Hidup yang Sempurna, mengambil keputusan yang mengejutkan tunangannya, Richard, ketika ia ingin mengadopsi seorang anak yang ia ditemukan di dekat apartemennya.

Yah, pada dasarnya, setiap wanita memiliki naluri keibuan kali ya. Jadi begitu lekat sama seorang anak, rasanya seperti ‘teriris-iris’ ketika harus terpisah.

Gue suka cerita Pintu, tentang sepasang suami istri – keduanya keturunan India. Tapi punya kebiasaan yang beda. Preeti, si istri, suka mengunci pintu, gak nyaman katanya, biar di rumah sendiri, tapi kalo tidur, kamar gak dikunci, atau lagi mandi, kamar mandi gak dikunci. Tapi, suaminya, Deepak, malah gak suka ngunci-ngunci pintu, katanya “siapa sih yang mau liat, kita kan di rumah sendiri”. Tapi bagi Preeti, itu adalah masalah privasi. Dan bener aja, waktu Raj, sahabat Deepak datang dari India, keseimbangan rumah tangga mereka terganggu. Raj suka seenaknya masuk ke kamar, padahal Preeti cuma pake baju tidur. Sebenernya sih, si Raj gak ada maksud apa-apa, cuma karena kebiasaan, tapi risih lah si Priti.

Komunikasi penting pastinya antara pasangan suami-istri, jangan gara-gara gak enak sama sahabat, perasaan istri juga jadi korban, dan bikin semua jadi berantakan.

Tentang pasangan suami istri juga ada di cerita Perselingkuhan, dua pasang suami istri, saling bersahabat. Tapi, dengan pasangan mereka masing-masing, sebenarnya mereka tidak merasa nyaman.

Masih tentang perselingkuhan dalam cerita Bertemu Mrinal, tentang Asha, yang baru saja bercerai, tapi, ketika bertemu sahabat lamanya, ia tak berani bercerita yang sebenarnya. Ia malah terus bercerita tentang kehidupannya yang sempurna dan keluarga yang harmonis.

Satu cerita yang tak bahagia, plus meninggalkan kebingungan buat si suami – Kehilangan. Tentang istri yang pergi tanpa jejak, bikin suami bertanya-tanya apa yang salah.

Cerita paling panjang di buku ini berjudul Kisah si Pembantu. Dari obrolan seorang gadis yang hendak menikah dengan bibinya, tersebutlah sebuah kisah tentang sari berwarna kuning kunyit – warna yang dianggap sebagai pembawa sial. Banyak yang kisah dalam cerita ini, tentang sebuah peran istri sempurna, nyonya rumah yang dengan tulus mempercayai seorang pembantu – yang tentu saja membuat para pembantu lainnya sirik, bahkan juga tentang pelecehan seksual.

Rasanya, ada beban yang ‘berat’ di dalam buku ini. Gak tau ya, mungkin karena tokoh-tokoh perempuan berada di persimpangan – antara mau bahagia, tapi koq belum nyampe ke sana. Ada beban antara kebebasan pribadi dengan pandangan keluarga dan orang banyak. Antara membahagiakan orang tua, tapi juga pengen berontak.

Meskipun gak se’ngiler’ kalo ngebayangin pasta Italiano, tapi karena pada dasarnya gue suka nyoba makanan, kuliner India yang bersliweran di buku ini juga mampu membuat gue lapar. Yah, pengalaman gue dalam hal makanan India, baru sebatas samosa atau roti cane.



Submitted for:

- Baca Bareng BBI bulan April 2014 – tema: Perempuan



- Lucky No. 14 Reading Challenge – category: Favorite Author

Tuesday, March 18, 2014

Ford County



Ford County

John Grisham @ 2009

Fahmi Yamani (Terj.)
GPU – Juni 2012
416 hal.
(Beli di Bukumoo123)


Kembali ke Ford County, sebuah kota kecil tempat setting novel pertama John Grisham – A Time to Kill. Di dalam kumpulan cerita pertama yang dibuat oleh John Grisham ini, pembaca disuguhi 7 kisah yang menarik tentang masalah-masalah yang ‘bersentuhan’ dengan hukum – tanpa harus berkutat di ruang pengadilan. Harry Rex dan Dell menjadi Cameo di dalam salah satu cerita di buku ini.

Kisah-kisahnya tidak berlebihan, malah terkesan sangat nyata, tokohnya ada yang bisa membuat kita kasihan, ngeselin, berengsek dan tapi ada juga yang membuat kita sangat menyukai mereka – terlepas apakah orang itu salah atau benar.

Terbukti John Grisham gak hanya jago cerita tentang drama pengadilan, tapi juga seorang ‘pendongeng’ yang baik. Ia bercerita tentang sekelumit masalah hukum secara ‘abstrak’

Misalnya, di dalam cerita Menjemput Raymond, tentang keluarga yang pergi ke penjara, menungu proses dilaksanakannya hukuman kamar gas bagi salah satu anggota keluarga. Dari judulnya, di awal gue pikir adalah sebuah cerita berakhir happy ending, tapi malah sangat mengharu-biru.

Kasino juga ‘ajaib’ – tentang pria yang dianggap membosankan oleh istrinya, malah jadi seorang penjudi yang mampu mengeruk uang di berbagai kasino. Di awal cerita ini sangat membosankan buat gue, terlalu bertele-tele, sampai akhirnya seorang pria bernama Sidney muncul dalam cerita ini.

Tokoh dalam Quiet Haven bisa jadi menipu. Diceritakan sebagai cowok yang charming, tapi bermaksud mencari korban di panti jompo – ia mencari kekurangan dan kebusukan yang bisa dijadikan sebagai tuntutan hukum dan mengeruk uang dari penghuni panti yang kaya.

Cerita di Kamar Michael seolah membongkar kebusukan seorang pengacara- dalam hal ini Stanley Wade. Demi memenangkan kasusnya, ia mengabaikan kondisi seorang anak yang cacat karena mal praktek yang dilakukan seorang dokter.

Perjalanan Berdarah juga dipenuhi tokoh-tokoh yang menyebalkan. Tujuan awal pergi untuk mendonorkan darah, malah terlupakan karena mereka malah mampir ke klub malam untuk minum-minum dan mencari wanita.

Terakhir cerita Arsip Bau Busuk – tentang seorang pengacara bernama Mack Stafford yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya, prakter pengacara yang juga sedang dalam masa-masa lesu, tiba-tiba mendapatkan telepon yang mengubah hidupnya.

Buat gue, buku ini pas banget ditutup dengan cerita Anak yang Aneh, cerita favorit gue – tentang Adrian Keane yang dijauhi oleh penduduk kota Ford County karena mengidap AIDS. Adrian tetap tabah dan berusaha mengerti pandangan penduduk setempat dan memilih cara kematiannya sendiri. Semua berawal dan berakhir di Ford County. Kota kecil, yang penuh gosip dan kisah unik.



Submitted for:
category: First Letter's Rule


Tuesday, March 11, 2014

A Time to Kill



A Time to Kill

John Grisham @ 1989
Arrow - 1992
515 hal.

Mungkin ini adalah buku John Grisham yang paling ‘menyayat hati’ yang pernah gue baca. Buku ini dibuka dengan adegan pemerkosaan terhadap seorang anak kecil berusia 10 tahun. Tonya Hailey, seorang gadis kecil berkulit hitam, diperkosa oleh dua orang pria berkulit putih bernama Billy Ray Cobb dan Peter Willard. Tak hanya itu, Tonya juga disiksa. Memang Tonya selamat, tapi ia tak akan bisa memiliki anak. Dan yang semakin membuat geram, Billy Ray dan Peter seolah tak merasa bersalah melakukan hal itu – karena yang jadi korban adalah anak kecil berkulit hitam, mereka malah berkoar-koar dan membuat lelucon atau perbuatan mereka itu.

Meskipun akhirnya Billy Ray dan Peter ditangkap, tapi hal itu tidak membuat keluarga Hailey lega. Sejak peristiwa itu, semua jadi suram. Tonya kerap ketakutan dan tidak bisa tidur nyenyak. Sebagai seorang ayah, Carl Lee Hailey merasa harus melakukan sesuatu. Ia harus menghukum mereka berdua dengan cara yang setimpal – maka ia pun menembak Billy Ray dan Peter Willard ketika mereka digiring keluar dari pengadilan.

Clanton County pun menjadi heboh dan menarik perhatian. Orang-orang kulit hitam tentu mendukung Carl Lee Hailey. Sedangkan orang-orang kulit putih menuntut agar Carl Lee dihukum mati.

Carl Lee minta bantuan pengacara Jack Brigance untuk membebaskan dirinya dari hukuman kamar gas. Jack Brigance sendiri berusaha memahami alasan Carl Lee melakukan tindakan itu dari sisi seorang ayah. Tapi tentu saja, tak seharusnya Carl Lee main hakim sendiri.

Menjadi pengacara Carl Lee membuat hidup Jack tidak tenang. Tak hanya Jack dan keluarganya yang mendapat terror, tapi juga sekretaris dan orang-orang yang dekat dengannya. Demikian juga dengan para juri. Pelakunya adalah anggota Ku Klux Klan, yang tak rela orang-orang hitam mendapatkan keadilan dan kebebasan.  Ku Klux Klan ini adalah sebuah organisasi rahasia yang menolak persamaan hak antara orang-orang kulit putih dan kulit hitam. Mereka ini identik dengan kostum mereka yaitu jubah putih dengan topeng putih. Salah satu aksi mereka adalah dengan membakar salib – dalam buku ini, mereka membakar salib di halaman rumah Jack dan para juri yang terlibat.

via whatculture.com

Isu rasis di dalam buku ini sangatlah kental. Yang gue ingat, bagi orang kulit putih memperkosa orang hitam itu seperti ‘olahraga’. Tapi, ketika hal itu terjadi sebaliknya, maka orang hitam haruslah dihukum seberat-beratnya.

Ending dari novel ini juga membuat gue terharu, ketika para juri sedang berkumpul, berusaha membuat keputusan apakah Carl Lee Hailey bersalah atau tidak. Bertanya pada diri sendiri, apakah tindakan Hailey benar atau salah.

Novel ini adalah novel perdana John Grisham, yang diilhami oleh pengalaman pribadinya ketika menghadiri  sebuah sidang korban pemerkosaan seorang anak berusia 12 tahun. Dari seorang pengacara, John Grisham pun banting stir jadi penulis.

Dalam versi filmnya, Matthew McConaughey berperan sebagai Jack Brigance – yang melambungkan namanya menjadi salah satu aktor yang diperhitungkan, sedangkan Samuel L. Jackson berperan sebagai Carl Lee Hailey.  

Lewat buku ini (dan juga digambarkan dengan baik di dalam filmnya), sedikit banyak gue jadi tau gimana sistem pengadilan di Amerika Serikat. Para pengacara ‘haus’ dengan publisitas, jika menang dalam kasus yang menyedot perhatian publik, nama mereka tentu semakin terkenal dan akan dicari banyak orang. Di dalam buku ini, Jack Brigance, sebagai ‘street lawyer’, yang meski mencari uang, tapi tetap mengedepankan kepentingan client-nya. Bahkan ia hanya dibayar 900 dollar aja, untuk kasus besar seperti ini. Sebuah nilai yang kecil dibandingkan dengan kerugian materi yang ia dapatkan.

Drama pengadilan akan menjadi hal yang menarik di dalam novel-novel John Grisham selanjutnya. Sebagai mantan pengacara, dirinya piawai mengolah dunia hukum di Amerika menjadi sebuah bacaan yang menarik. Karena John Grisham juga menampilkan ‘sisi buruk’ dari proses hukum di Amerika – seperti suap-menyuap para juri, saksi ahli yang terkadang tidak kompeten tapi diambil demi kepentingan klien.


Submitted for:




-          JohnGrisham Read-along

Friday, February 28, 2014

The Chocolate Thief



The Chocolate Thief

Veronica Sri Utami (Terj.)
Bentang – Cet. V, Januari 2014
414 hal.

Cokelat dan Paris … sebuah kombinasi klasik dan ‘sempurna’ untuk meramu sebuah kisah percintaan yang romantis.

Cade Corey, pewaris takhta perusaahan cokelat terbesar di Amerika – Corey Chocolate, berada di Paris dalam rangka ingin menjajaki kerja sama dengan salah satu pembuat cokelat terbaik dan terkenal di Perancis, Sylvain Marquis.

Corey Chocolate bangga dengan Corey Bars yang diproduksi secara massal dan dijual seharga 33 sen di supermarket di Amerika – yah.. 1 dollar deh kalo di airport. Mereka mengklaim membuat orang Amerika bahagia dengan cokelat mereka. Karena punya ‘pabrik’ cokelat sendiri, Cade kecil ‘dilarang’ makan cokelat selain Corey Chocolate – padahal pengen juga sih ngerasain cokelat Mars atau M&M.

Berbeda dengan Marquis Chocolate, yang dibuat dengan tangan Sylvain sendiri, dirancang dengan hati-hati dan eksklusif dan dijual dengan harga yang mahal, sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Marquis Chocolate, akan langsung meleleh, lumer di mulut, menimbulkan sensasi yang luar biasa. Secara tak langsung ditujukan untuk ‘menggoda’ wanita, sebagai ‘balasan’ Sylvain yang di masa remaja kurang beruntung dalam hubungannya dengan wanita.

Dan tentu saja…. Sylvain menolak tawaran kerja sama Cade. Gengsi lah, memasang nama ‘Marquis’ di cokelat batangan produksi Corey Chocolate yang pasaran itu. Bakal turun ‘pamor’ dan kesan eksklusif dari Marquis Chocolate.

via Pinterest

Tapi, dengan berbagai cara, Cade berusaha menerobos dapur Sylvain, untuk ‘mencuri’ rahasia Marquis Chocolate – yah, mulai dari menyamar jadi peserta workshop sampai mencuri kode rahasia ruang kerja Sylvain, dan dengan nekat masuk ke dalam dapur tersebut.

Sesungguhnya, di balik percik-percik perasaan yang mulai timbul di antara keduanya, Sylvain ingin menyadarkan Cade, bahwa tak selamanya segala sesuatu itu bisa dibeli dengan uang. Uang tak selalu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup.

Tokoh Cade – perempuan yang sebenarnya ‘rapuh’ tapi berusaha menahan diri untuk tidak terlihat lemah, pantang menyerah – meskipun usahanya malah membuat dirinya jadi tampak konyol.

Sementara itu, Sylvain – hmmm… I am trying to imagine the sexy guy…. Siapa ya? Kaya’ siapa Sylvain ini? Terkesan sombong, galak dan tertutup, tapi pada dasarnya ia adalah pribadi yang hangat. Gue suka ketika digambarkan suasana yang akrab dan hangat di dalam acara keluarga Marquis. Lalu, ketika Sylvain beli roti baguette, meskipun singkat, juga sedikit membuka pribadi Sylvain yang hangat itu.

via Urban Review

Secara keseluruhan sih, ceritanya gak terlalu istimewa, tapi gue suka penggambaran proses pembuatan cokelat yang dijelaskan oleh Sylvain … *drooling* . Lumayan detail, bikin langsung ngebayangin cokelat yang lumer di mulut ….

Belum lagi setting kota Paris… menara Eiffel di malam hari, kafe-kafe kecil yang gak terlalu ramai, tapi menunya yummy … perempuan Paris yang ‘survive’ dengan high-heels … Laura Florand, menurut gue sih, lumayan berhasil menggambarkan suasana kota Paris…

via Pinterest

Pemilihan nama tokoh juga sesuai menurut gue. Cade – nama yang terkesan ‘tomboy’, cocoklah dengan karakter yang rada gak hati-hati, sementara Sylvain Marquis – memberi kesan klasik dan aristokrat (apa sihhh?) Dalam dunia kuliner sendiri, ada istilah Chocolate Marquise yang definisinya kata Wikipedia a rich chocolate dessert made with dark chocolate, butter, sugar, cocoa powder, eggs and cream’ Entah lah, apakah nama Sylvain Marquis terinspirasi dari sini.

Beberapa istilah atau kalimat dalam bahasa Perancis yang digunakan Sylvain dan Cade ada terjemahannya di bagian footnote, jadi membantu  banget untuk menangkap isi cerita. Meskipun, kalau kalimat itu berulang, gak akan diterjemahin lagi di halaman berikut (jadi, rada bolak-balik deh)

O ya, gue sih gak tau ya kalau dalam edisi bahasa Inggrisnya seperti apa, tapi, kalau memang ada bagian-bagian yang disensor, gue bisa bilang kalau sensornya cukup rapi. Karena rasanya, dalam cerita seperti ini, gue yakin  banget ada bagian-bagian yang bikin 'deg-degan' :)


Submitted for:


-          Baca Bareng BBI bulan February 2014 – tema: Kuliner




 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang