Friday, January 10, 2014

The Ocean at the End of the Lane



The Ocean at the End of the Lane (Samudera di Ujung Jalan Setapak)

Neil Gaiman @ 2013
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Cet. I, Juli 2013
264 Hal.
  
Hmmm … hmm … mikir dulu mau nulis apa ya …. masih berasa merinding - rasanya dingin banget – dingin karena ngebayangin air di samudra yang luas, karena angin yang bisa bikin menggigil, juga karena membayangkan helaian kain yang tercabik-cabik dan melambai-lambai ditiup angin, plus lagi seolah ada bisikan halus dari sebuah makhluk tak berwujud … Bersiaplah untuk menghadapi mimpi buruk ...

Ini cerita tentang seorang pria yang mengingat kembali sebuah pengalamannya ketika berusia 7 tahun. Pria ini tak bernama, gak disebutin namanya siapa hingga akhir cerita. Di waktu kecil, ia bukan termasuk anak yang popular, tak ada yang menghadiri pesta ulang tahun yang sudah disiapkan ibunya, di sekolah sering jadi bahan ejekan, tapi ia merasa gak masalah, selama ia bisa tenggelam ke dalam dunia yang ia temukan lewat buku-buku yang ia baca.

Hidupnya berubah ketika ia bertemu Lettie Hempstock dan keluarganya – ibu dan nenek Lettie. Mereka ini rada aneh, dalam bayangan gue mereka adalah keluarga penyihir baik. Mereka ini memiliki kemampuan melihat hal-hal yang gak keliatan, melihat mimpi-mimpi atau pendatang asing. Sejak itu, ada saja kejadian aneh yang menimpa anak laki-laki itu – misalnya ia tiba-tiba tersedak koin, muntah darah, telapak kakiknya kemasukan cacing, dan tau-tau datanglah seorang pengasuh cantik bernama Ursula Monkton, lalu, ayahnya yang baik jadi bersikap kejam ketika ia tidak mau makan masakan Ursula dan tidak mau minta ma’af. Ursula berhasil memikat adiknya, bahkan ayahnya pun berhasil digoda dengan kecantikannya itu.

Ia minta bantuan keluarga Hempstock untuk mengusir makhluk jahat yang bersemayam dalam diri Ursula. Dan tentu saja… tidak mudah untuk membuat Ursula pergi dari kehidupan yang nyaman.

Di luar dugaan, gue suka dengan novel Neil Gaiman satu ini, bahkan lebih menikmatinya dibandingkan ketika baca The Graveyard Book. Nuansanya gelap banget. Rasanya ketika baca, gue bersiap-siap akan adanya mimpi buruk, rasa ikut dikejar-kejar sampai kehabisan napas.

Dan dalam buku ini, si bocah nih, bilang kalau orang dewasa sering gak ngerti apa yang ada di pikiran anak-anak, sering memaksakan kehendak, sehingga anak-anak sering takut untuk bicara apa yang mereka ketahui.

Meskipun tokoh utama di dalam buku ini adalah anak-anak, tapi tampaknya ini bukan konsumsi untuk anak-anak di bawah usia 15 tahun deh, karena selain ada tentang pembunuhan, juga ada adegan yang untuk konsumsi orang dewasa meskipun sedikit.

Di setiap buku Neil Gaiman, gue selalu menemukan ‘dunia’ yang rasanya kita kenal jadi sangat berbeda. Di balik dunia yang tampak normal, dibuat sebuah cerita yang gelap, bikin bergidik. Kolam bebek bisa diputar-balikkan jadi samudra yang dalam. Sebuah cermin bisa jadi jalan masuk ke dunia lain, suasana bawah tanah kota London bisa jadi penuh cerita misterius, pemakaman yang biasanya dihindari bisa jadi tempat yang penuh sahabat dan tempat belajar yang berbeda untuk seorang anak kecil.

Dongeng-dongeng Neil Gaiman bukanlah cerita dongeng yang indah, penuh dengan putri cantik, pangeran tampan atau istana yang indah penuh bunga-bunga dan gemercik air mancur, tapi sebuah dongeng yang tetap bisa memikat meskipun ada rasa ngeri dan gak nyaman ketika membacanya. Gue – yang gak suka cerita horror – tetap bisa ikut berimajinasi melalui rangkaian kalimat yang dibuat sama Neil Gaiman.

Submitted for:



3 comments:

miamembaca said...

Ah, aku pengin bacaaa, terjemahannya enak ya Fer? Kesannya magis bener yak buku ini.. Apalagi covernya begitu.

ferina said...

terjemahannya oke koq, mia... kesannya... seperti ikut 'tersedot' ke dalam ceritanya... ah.. lebay deh gue.. :D

Tammy Rahmasari said...

Aku juga suka dengan buku ini. Terjemahannya juga bagus :D

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang