Thursday, August 29, 2013

Pada Suatu Hari Nanti/Malam Wabah



Pada Suatu Hari Nanti/Malam Wabah
Sapardi Djoko Damono
Bentang, Juni 2013
94 Hal/88 Hal.
(Gramedia Plasa Semanggi)

Ketika bajay BBI sedang ‘heboh’ untuk membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, secara gak sengaja gue ‘menemukan’ buku ini di Gramedia Plasa Semanggi. Masih gres, fresh from the oven. Segera saja, tanpa ragu-ragu dan pikir panjang, gue membawa buku ini ke kasir.

Ada dua bagian atau tema kumpulan cerita di dalam buku ini, Pada Suatu Hari Nanti dan Malam Wabah. Mari.. mari.. gue coba untuk ‘mengupas’ satu per satu. Biar keliatan apa yang bikin dua bagian ini berbeda.


Gue membaca bagian Pada Suatu Hari Nanti terlebih dahulu, karena ternyata di bagian ini berisi kumpulan cerpen yang merupakan interpretasi SDD atas dongeng-dongeng yang sudah kita kenal selama ini… well, at least gue lumayan familiar dengan beberapa dongeng yang di’ceritakan kembali’ di sini. Ada humor yang diselipkan di dalam cerita-cerita ini.

Misalnya nih, Dongeng Rama-Sita, gue mungkin gak terlalu akrab dengan cerita-cerita pewayangan, tapi sedikit banyak gue tau, kalo Rama ini pasangannya Sita. Rama yang ganteng, gagah dan Sita yang cantik jelita dan anggun. Mereka diibaratkan bagai titisan para dewa-dewi. Di sini digambarkan Rama yang pasrah tapi cerdik, harus menghadapi Sita yang tiba-tiba jadi ‘ganjen’.

Lalu ada Ratapan Anak Tiri, yang ternyata ratapannya gak setragis yang selama ini digambarkan di sinetron; Hikayat Ken Arok, seorang preman yang terpesona sama betis seorang perempuan dan rela melakukan apa saja demi si betis itu; Pada Suatu Hari Nanti, kisah Nawang Wulan yang menanti datangnya sepucuk surat di kotak pos; Dongeng Kancil, tentang si kancil yang terlunta-lunta nasibnya karena si Juru Dongeng yang selama ini sudah memberi cap pada si kancil sebagai hewan yang tukang bohong, pencuri dan nakal.

Adalagi, Nonton Ketoprak Sampek-Kentaek, Solo, 1950 – kisah Romeo dan Juliet rasa Mandarin, atau si Malin Kundang yang mencari ibunya biar gak dikutuk dalam cerpen dengan judul yang super panjang, ‘Sebenar-benarnya Dongeng tentang Malin Kundang yang Berjuang Melawan Takdir Agar Luput dari Kutukan Sang Ibu.’

Dua cerpen yang gue gak kenal ‘asli’nya adalah Crenggi dan Ditunggu Godot.


Sementara di bagian kedua, Malam Wabah, berisi cerita-cerita yang baru, di mana di sini benda mati diberi kesempatan untuk bicara, atau cerita-cerita tentang pikiran orang-orang yang mengembara, berkelana ke mana-mana.

Beberapa cerita yang ‘nyangkut’ dan mudah dicerna adalah kisah Rumah-Rumah, ‘curahan hati’ rumah-rumah yang terbengkalai, kenapa sampai gak ada yang ngontrak – menarik nih, lalu kisah Sepasang Sepatu Tua – tentang pemilik sepatu yang cinta banget sama sepatu butut dan berdebunya, Ketika Gerimis Jatuh – ‘pergolakan batin’ seorang anak kecil yang resah karena ayahnya belum pulang, bikin terharu, Bingkisan Lebaran, tentang anak kecil yang pengen sekali-sekali pulang kampung dan ngerasa bebas, Membimbing Anak Buta – cerita seorang ibu yang nyeritain apa yang dia lihat sama anaknya yang buta – dan satu cerita lagi yang gue suka adalah Membaca Konsultasi Psikologi.

Cerita yang gue baca pas banget sama Lebaran adalah Jemputan Lebaran, tentang seorang bapak tua yang merasa sendiri di tengah kehebohan lebaran, sampai-sampai dia bertanya-tanya, apa dia juga sudah benar-benar kenal dengan lebaran?

Masih ada cerita Membunuh Orang Gila – tentang seorang pria yang tak sengaja menabrak orang gila dan justru ia merasa sangat kehilangan dan bersalah.

Sementara cerita-cerita lainnya – Membunuh Orang Gila, Daun di Atas Pagar, Rel, Suatu Hari di Bulan Desember 2002, Malam Wabah dan Gadis Jilbab di Dalam Angkot – ma’af… gak lupa dan gak ngerti .. hehehe..

Secara keseluruhan sih, gue lebih suka baca bagian Pada Suatu Hari Nanti, lebih seru membaca dongeng yang tiba-tiba jadi kisah yang ‘ajaib’, yang melenceng dan sedikit ‘kacau’. Sementara di bagian Malam Wabah, kisah Rumah-Rumah yang berkesan. Gue juga jadi inget salah satu cerita di Dongeng Sekolah Tebing – Clara Ng, tentang Rumah No. 13 yang gak pernah ada mau dipakai orang.

9 comments:

Hobby Buku said...

Bacaan mbak Fer sama dengan mbak busyra :D
Belum pernah (coba) baca karya 'beliau' -- tulisannya puitis ya ?
Lagi bongkar-bongkar referensi bacaan sastra Indonesia :D
*blogwalking*
[ http://asian-literature.blogspot.com/2013/08/books-ronggeng-dukuh-paruk.html ]

Fadhilatul said...

Aku punya buku kumcer SPD yg judulnya Membunuh Orang Gila. Jangan2 isi cerpennya sama, cuma judulnya berbeda (tergantung cerpen mana yg diangkat sebagai judul hihi)

#Kilas Buku Blog Walking
http://kilasbuku.blogspot.com

orybun said...

ini model bukunya kaya Andrea Hirata yang Padang Bulan ya Mbak? Dwilogi tapi jadi satu buku?

dion_yulianto@blogspot.com said...

Baru ngeh kalau ini bukunya bolak-balik. Kirain dua buku :)

astrid said...

penasaran sama bagian yang dongeng2..selalu suka sama kisah dongeng yang dijungkirbalikkan :D

ferina said...

@Hobby Buku: iya, ternyata samaan aku :)... hmm.. puitis ya? jiwaku kurang romantis dan puitis sepertinya untuk menangkap itu ditulisan beliau :D tapi, aku suka dengan 'parodi' dongengnya, suka dengan cerita yang gak perlu orang banyak untuk 'bercakap2', tapi ternyata bisa bercerita banyak.

@Fadhil: ini buku pertama yang kubaca, jadi aku belum tau tentang cerpen yang lain

@Orybun: tampaknya begitu, Vina

@Dion: hehehe.. 'hemat' dua buku jadi satu :D

Althesia Silvia said...

aku agak-agak gk betah gitu klo baca buku yg puitis gini *jiwa seni rendah nih* tpi SDD ini emang bikin penasaran sih, abis bajay suka koar2 ttg SDD sih

ferina said...

@astrid: sama, gue juga suka kalo ada kisah dongeng yang jadi ber-ending beda.

@Essy: hahaha, aku juga gak puitis, tapi mau sok romantis.

Tezar said...

wah baru ngerti kenapa dibagi menjadi 2 bagian..... semoga kapan-kapan bisa baca yang ini ah :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang