Tuesday, April 09, 2013

The Fault in Our Stars





The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-Bintang)
John Green @ 2012
Inggrid Dwijani Nimpoeno (Terj.)
Qanita – Cet. I, Desember 2012
424 hal.
(Gramedia Grand Indonesia)

Saat buku ini diterjemahkan, terus terang gue termasuk yang semangat untuk membeli dan membacanya. Begitu banyak pujian untuk buku ini sampai-sampai buku ini menjadi pemenang di goodreads choice awards 2012 kategori young adult fiction.

Kalau dilihat sih, ceritanya simple aja. Tentang dua remaja yang saling jatuh cinta. Jadi apa istimewanya dong?

Yang membuat cerita cinta remaja ini lebih ‘berisi’ adalah karena dua tokoh yang dalam kondisi ‘tidak biasa’. Hazel Grace, remaja berusia 16 tahun, divonis mengindap kanker thyroid . Diramalkan usianya tak akan lama lagi. Paru-paru Hazel harus bekerja sangat keras, sampai ke mana-mana Hazel harus membawa alat yang memberikan suplai oksigen untuk paru-parunya.

Hazel juga terpaksa berhenti sekolah. Biar Hazel tidak kehilangan pergaulan, ibunya memaksa Hazel untuk dalam sebuah perkumpulan bernama Kelompok Penyemangat Penderita Kanker. Hazel sih rajin datang, meskipun ia tak terlalu bersemangat. Ia hafal rutinitas setiap minggu di dalam kelompok tersebut.

Sampai suatu hari, datang seorang laki-laki… yah, cukup kerenlah. Bergaya cuek, terselip rokok yang tak pernah dinyalakan di bibirnya, cowok ini bernama Augustus Waters. Augustus menderita osteosarkoma atau kanker tulang. Salah satu kakinya sudah diamputasi dan ia memakai kaki palsu. Ironisnya, dulu Augustus adalah pemain basket.

Pertemuan pertama langsung membuat mereka dekat. Gaya mereka berteman terkesan cuek. Mereka saling berbagi buku yang mereka suka. Hazel ini terobsesi pada sebuah buku berjudul ‘Kemalangan yang Luar Biasa’, karya Peter van Houten. Akhir ceritanya menggantung, bikin Hazel penasaran apa yang selanjutnya terjadi dengan tokoh-tokoh dalam buku itu.

Kesempatan untuk bertemu Peter van Houten pun datang. Tapi sayangnya, ketika Augustus dan Hazel bertemu sang penulis di Amsterdam, justru kekecewaan yang mereka dapatkan. Padahal butuh perjuangan bagi Hazel (dan juga Augustus) untuk bisa berangkat ke Amsterdam.

Gaya bicara mereka berdua yang terkesan tanpa beban ini, sedikit banyak bisa menjadi ‘renungan’. Mereka berdua sama-sama tahu, hidup mereka tak akan lama lagi. Tapi mereka tetap semangat dan ceria. Saling menguatkan, dan gak menyerah meski dalam keadaan yang terburuk. Keluarga mereka berdua juga memperlakukan mereka dengan ‘normal’, meskipun mereka sedih setiap kali Hazel atau Augustus mendapatkan ‘serangan’, tapi mereka gak menunjukkan kesedihan itu di depan Hazel atau Augustus.

Mereka juga gak malu dengan keadaan mereka yang tidak ‘normal’. Obat-obatan menjadikan kondisi tubuh mereka berubah secara fisik. Tapi mereka tetap cuek. Bagi Augustus, Hazel adalah gadis tercantik.

Ending buku ini… *sigh* #ambil tissue…       

Errr…  Mr. Augustus Waters, I think you are one of the candidates of the book boyfriends for 2013….

The Fault in Our Stars saat ini sudah mendapatkan peran untuk Hazel Grace, yaitu Shailene Woodley, yang juga akan bermain di film Divergent.

Terus, siapa dong yang cocok jadi Augustus Waters? (kenapa gue malah kebayang Vino G. Bastian ya? Hihihi.. ketuaan juga sih kaya’nya.)

Anyway, buat gue, buku ini bagus banget – karena, berisi kisah cinta yang gak ‘menye-menye’, yang gak menjual mimpi-mimpi indah dan kata-kata gombal; karena isinya penuh ‘semangat’ dan sakit parah justru tidak menjadikan seseorang terpuruk.

Karena.. hmm.. apalagi ya… susah untuk menuliskan kata-kata untuk buku yang banyak banget dapet bintang lima ini…

3 comments:

peni astiti said...

hahahaha.... kok, Vino Bastian sih, yang jadi Augustus Waters? =))

Jun said...

Calon buku yang bakal aku batja beberapa bulan lagi, heheh.

ferina said...

@peni: hehehe.. gak tau, teh.. kebayangnya itu :D

@Jun: lho.. koq masih beberapa bulan lagi?

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang