Tuesday, April 02, 2013

The Diary of Amos Lee #1




The Diary of Amos Lee: I Sit, I Write, I Flush (Hasil Renungan Nongkrong di WC)
Stephanie Wong (Ilustrasi)
Tessa Febiani (Terj.)
Penerbit Buah Hati – Cet. II, Agustus 2011
140 hal.
Untuk usia 10 tahun ke atas
(Rental @ReadingWalk)

Entah dari mana ya, ide ibu Amos Lee ini datang. Daripada anaknya bengong gak karuan selama di kamar mandi menyelesaikan ‘urusan penting’-nya, maka diberilah sang anak buku dan alat tulis. Memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di kamar mandi – adalah salah satu resolusi tahun baru dari Ibu Amos Lee.

Akhirnya, dimulailah buku harian Amos Lee yang ditulisnya selama ia di kamar mandi. Apa yang ditulisnya adalah hal-hal sehari-hari saja. Seperti tentang keluarganya, asal usul nama Amos Lee yang tak lain berasal dari nama cookies terkenal Famous Amos.

Amos Lee juga bercerita tentang pekerjaan ibunya sebagai penulis lepas di sebuah majalah. Ketika ia diajak ibunya untuk hunting sarapan yang happening di Singapura.

Sebagai anak sekolahan, tentu saja Amos juga punya sahabat dekat, yaitu Anthony dan Alvin. Tak ketinggalan musuh bebuyutannya, Michael. Amos juga tipe anak yang rada jahil, tengil tapi ya gak nakal sih. Bahkan terkadang Amos juga bisa kreatif. Amos ini seneng koleksi berbagai tiket masuk ke tempat wisata.

Dan demi mewujudkan impiannya punya PSP, Amos bahkan mencari uang sendiri dengan menjual kaus dan sepatu yang dilukis. Tapi, saat musuh bebuyutannya itu tertimpa musibah, Amos tak segan untuk memberikan uang yang sudah terkumpul untuk membantu Michael. Meskipun setelah peristiwa itu gak membuat mereka jadi teman baik juga sih… tapi at least, Amos memiliki jiwa sosial juga…

Yang paling bikin Amos kesel adalah kalau ibu atau ayahnya iseng baca diary-nya Amos dan ngasih komentar yang juga ‘sok tau’. Hihihi.. lagian kenapa juga gak disimpen di tempat yang rada rahasia? Eh… tapi gak bisa juga kali ya…

Nah, selain ngalor-ngidulnya si Amos Lee ini juga, acara jalan-jalan Amos sama keluarganya, atau kuliner yang disebut-sebut Amos, bisa juga jadi referensi kalo lagi jalan-jalan ke Singapura. Terselip kebanggaan sebagai seorang anak Singapura di dalam buku ini.

Mirip-mirip The Diary of Wimpi Kid – tapi menurut gue, ini versi yang lebih ‘mendidik’. Ilustrasinya yang sederhana malah bikin sosok Amos Lee makin lucu dan menggemaskan.

Seri Amos Lee sendiri sudah sama seri ke empat, 3 di antaranya sudah diterjemahkan oleh Penerbit Buah Hati. Adeline Foo, penulis buku anak-anak yang produktif di Singapura.

Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam event Fun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee


0 comments:

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang