Wednesday, March 27, 2013

After Dark




After Dark
Jay Rubin (Terj.)
Vintage Books
244 Hal.
(Books & Beyond – Plaza Semanggi)

Tengah malam… harusnya sih, rata-rata ini waktunya orang sudah ada di rumah, tidur, beristirahat. Itu normalnya. Tapi, ternyata.. mungkin ada sebagian orang justru harus bekerja saat itu – misalnya perawat yang kebagian jaga malam, satpam atau petugas di toko-toko yang buka 24 jam. Itu lagi-lagi mungkin kondisi yang normal. Nah, ada yang tergolong ‘tak normal’, yaitu orang-orang yang gak betah ada di rumah, orang yang gak bisa tidur , orang-orang yang lebih senang kerja di malam hari karena katanya lebih tenang. Inilah sedikit gambaran para tokoh yang ada di buku After Dark – Haruki Murakami.

Bercerita tentang 7 jam – mulai tengah malam sampai menjelang fajar. Jam-jam yang spooky dan sepi… tapi nyatanya masih banyak orang yang ‘berkeliaran’ di tengah malam itu.

Mari Asai, duduk sendiri di tengah malam, di sebuah restoran. Membaca buku. Pertama yang terlintas adalah ‘ngapain juga ya?’ Secara kebetulan, datang seorang pria bernama Takahashi, yang ‘kebetulan’ kenal dengan kakak Mari, bernama Eri. Mari yang pembawaannya agak dingin, terpaksa menerima Takahashi yang duduk di mejanya. Takahashi adalah seorang pemain trombone yang hendak berlatih bersama band-nya. Berbicaralah Takahashi tentang Eri yang sangat berbeda dengan Mari.

Setelah Takahashi pergi, datanglah seorang perempuan bernama Kaoru. Ia bekerja di sebuah ‘love hotel’ bernama Alphaville. Kaoru meminta bantuan Mari karena Mari bisa berbahasa Cina. Di Alphaville, seorang pelacur – pendatang gelap dari Cina – dipukul oleh pelanggannya.

Setelah itu, Mari Asai dan Takahashi bertemu kembali dan berbicara banyak. Terutama tentang Eri Asai.

Dan, rasanya tak mungkin kalau di dalam buku Haruki Murakami gak ada hal yang ‘absurd’ atau aneh… cerita orang-orang yang bertemu di tengah malam itu ‘biasa’ aja kan… dan.. okeh.. inilah yang aneh, Eri Asai tertidur selama 2 bulan… bukan dalam keadaan koma, bukan sakit atau depresi… hanya tidur… Eri Asai, gadis cantik, snow white di dalam keluarga Asai. Menurut gue, dia gadis yang rapuh. Dibandingkan dengan Mari, yang tampak lebih tough. Meskipun hanya sedikit-sedikit, bagian Eri Asai adalah bagian yang bisa bikin orang yang baca merasa depresi. Entah kenapa gue koq merasa begitu? Mungkin karena di bagian itu, semua begitu sepi dan aneh. Gak jelas apa maknanya

Buat gue, buku ini bercerita tentang kesepian. Misalnya Mari dan Eri, kakak-beradik yang berbeda, yang juga perlakuannya di rumah sering dibedakan oleh orang tuanya, tapi toh, ternyata diam-diam menyimpan rasa ingin saling curhat, ingin lebih dekat sebagai saudara kandung. Atau, Takahashi, memiliki ayah yang pernah mendekam di penjara saat ia masih kecil, sementara ibunya meninggal karena kanker. Bahkan para pekerja di Alphaville, memilih ‘menyembunyikan’ diri mereka dengan bekerja di hotel yang tidak membuat mereka harus menyapa para tamu, melarikan diri dari kehidupan yang terang-benderang dan hiruk-pikuk kesibukan di kota.

Pada awal gue mengenal karya Haruki Murakami lewat Kafka on Shore, gue bisa menikmati tulisannya, meskipun pakai acara berpikir dan gak ngerti. Tulisannya memang ‘aneh’, membingungkan, tapi tokoh-tokohnya unik menurut gue.  Seperti di dalam cerita ini, Takahashi yang jadi tempat curhat Eri dan Mari Asai, padahal keduanya belum mengenal Takahashi terlalu dekat, Eri Asai yang namanya berulang kali jadi topik pembicaraaan, tapi dia hanya tampil sebagai tokoh yang pasif, Mari, gadis 19 tahun, yang juga ingin dianggap ‘berarti’ tanpa harus dibandingkan dengan kakaknya, lalu ada Kaoru, perempuan yang ‘gagah’.

Judul buku ini diambil dari judul sebuah lagu - Five Spots After Dark



Haruki Murakami, penulis Jepang yang karya-karyanya dideskripsikan sebagai tulisan yang ‘mudah dimengerti, tapi kompleks’. Dua bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Norwegian Wood, Kafka on Shore dan Dengarlah Nyanyian Angin (Hear the Wing Sing)
 
#Posting bareng Maret_BBI kategori: Sastra Asia

12 comments:

orybun said...

belum pernah baca karya beliau. duh pingin baca ah kapan kapan. :D

ferina said...

baca deh, Vin.. kenapa ya aku berpikir, biar aneh, tapi koq malah bikin 'nagih'? :D
ndari sih yang lebih pengalaman baca bukunya beliau ini

astrid said...

sama, belum pernah baca murakami nih...takutnya stress dan depresi bawaannya, soalnya kayaknya gelap2 gitu ya ceritanya...butuh mood khusus, hihii...baca apa dulu ya enaknya?

ferina said...

@astrid: hehehe... yang After Dark, lumayan koq... gak terlalu berat. Tipis aja bukunya. Skip aja tuh bagian yang bikin depresi :)
kalo mau, gue pinjemin aja dulu deh yang ini..

desty said...

Kadang buku aneh dan anti-mainstream itu malah bikin "nagih".

ferina said...

@Desty: iya ya.. kadang kalo satu genre lagi booming, semua ikutan bikin buku yang sama. misalnya aja kaya' waktu Twilight heboh. baca buku yang 'beraliran' lain malah bikin semangat bacanya

Nur Aulia Afina said...

Aku suka After Dark, gak begitu suram kayak Norwegian Wood. XD

Peri Hutan said...

akkkk, baca reviewmu ak jadi PENGEN BANGET baca buku ini mbak, huhuhu udah diterjemahin belum ya?

ferina said...

@Sulis: whooaaa.. baru sekali nih ada yang nulis PENGEN BANGET :) hihihi... senangnya review-ku bisa 'mempengaruhi' orang.
tampaknya buku ini belum diterjemahin deh.

@Aulia: iya, ceritanya gak terlalu aneh dibanding sama Kafka on Shore

dion_yulianto@blogspot.com said...

Aku baca reviewnya saja sudah kebayang bukunya kayak gimana. jadi semacam kita membaca kemudian selesai tapi entah bagaimana sulit menjelaskan kenapa buku ini bagus. kapan2 coba baca yg kafka juga deh

Tezar said...

aduh pingin nggak ya (jadi bingung)

ferina said...

@Dion: buat aku simple-nya aja nih, kalo aku suka sama bukunya, bahasanya bisa aku 'mengerti' meskipun gak ngerti juga maksud si penulis apa, ya aku anggap bagus aja deh hehehe...

@Tezar: jadi gimana dong, mas?

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang