Showing posts with label sastra Asia. Show all posts
Showing posts with label sastra Asia. Show all posts

Wednesday, April 12, 2017

Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage


Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
Haruki Murakami
Harvill Secker – August 2014
298 hal.

Dari segelintir buku Harumi Murakami yang udah gue baca, buku ini yang rasanya paling ‘mudah’. Berkisah tentang seorang pemuda bernama Tsukuru Tazaki. Hidupnya terasa sepiiiii banget. Tinggal sendiri di apartemennya di Tokyo dan nyaris tanpa teman. Sehari-harinya hanya kantor, apartemen, kadang dia menyibukkan dirinya dengan berenang. Selebihnya, tak ada jadwal hang out bareng temen-temen, gak ada kesibukan lain yang mewarnai hidupnya, bahkan kebutuhan sehari-hari ya.. seadanya aja.

Di masa SMA-nya di Nagoya, Tsukuru punya empat teman akrab, teman satu ‘gang’ lah. Dua orang cowok bernama Akamatsu dan Oumi, dan dua perempuan, bernama Shirane dan Kurono. Uniknya, jika diartikan, nama teman-teman Tsukuru mengandung unsur warna. Akamatsu yang berarti merah, Oumi ‘biru laut’, Shirane ‘ putih’ dan Kurono ‘hitam’. Hanya nama Tsukuru sendiri yang gak ada unsur-unsur warnanya. Kadang karena ini dia merasa agak berbeda, tapi teman-temannya gak ada yang berpikir seperti itu. Hubungan mereka tetap dekat, walaupun Tsukuru melanjutkan kuliahnya di Tokyo. Setiap pulang ke Nagoya, mereka pasti kumpul-kumpul bareng lagi.

Hingga satu hari, Tsukuru mendapat kabar, bahwa keempat temannya tidak mau berhubungan lagi dengan Tsukuru. Tanpa penjelasan apa pun dan Tsukuru pun meskipun bertanya-tanya dalam hati, menerima saja keputusan sepihak itu.

Kejadian itulah yang menyebabkan akhirnya Tsukuru hidup dalam kesendirian. Hingga 16 tahun kemudian, Sara, teman dekat perempuan Tsukuru menyarankan agar Tsukuru mencari teman-temannya itu dan mencoba untuk berbicara kembali dengan mereka.

Tentu saja, ada bagian-bagian ‘absurd’ yang menurut gue tetap rada-rada ‘ganjil’,  berkisar tentang mimpi-mimpi Tsukuru, dan cerita-cerita Haida, satu-satunya teman dekat Haida selama di Tokyo, dan Haida-pun lenyap tanpa kabar.

Ending-nya emang bikin pengen getok-getok kepala. Terlalu tenang, setenang alur cerita sepanjang buku ini. Buat gue, Tsukuru ini setenang air dari luar, tapi loe gak akan tau emosi apa yang berkecamuk dalam benaknya. Bagaimana ia mengatasi kesendirian dengan begitu tenang, bagaimana selama 16 tahun ia hidup dengan rasa penasaran tapi seolah gak punya keinginan untuk mencari tahu.

Buku ini cocok untuk ‘pemula’, yang baru pengen baca buku-bukunya Murakami. Gak aneh, gak bikin kening berkerut dan ceritanya juga simple.

Somehow, tokoh-tokoh model Tsukuru gini nih, bikin gue ngerasa ada kesamaan antara gue dan Tsukuru, misalnya dalam kehidupan pergaulan gue, kadang ada masa-masa di mana gue ngerasa sepi dan sendiri … *curcol*. At the end of the book, I just wanted to ‘puk puk’ Tsukuru.





Submitted for: Name in a Book

Wednesday, April 10, 2013

The Hunter




The Hunter (Pemburu)
(Judul Asli: Kogoeru Kiba)
Asa Nonami @ 1996
Julanda Tantani (Terj.)
GPU – Desember 2012
536 hal.
(Gramedia Gandaria City)

Seorang laki-laki tewas terbakar di sebuah restoran keluarga. Peristiwa ini sungguh tidak biasa. Pertama, karena laki-laki ini tiba-tiba saja terbakar ketika baru duduk di dalam restoran itu, kedua, di sekitar tempat duduk tidak ada benda-benda pemicu terjadinya kebakaran, misalnya kabel listrik atau mungkin kompor, ketiga, ada bekas gigitan anjing di kakinya. Dan pria ini adalah satu-satunya korban jiwa dalam kebakaran tersebut.

Pihak kepolisian bekerja keras mencari bukti-bukti di tengah reruntuhan bangunan dan memeriksa mayat laki-laki tersebut. Dibentuklah sebuah tim untuk kasus ini. Tim tersebut terbagi untuk menyelidiki identitas dan latar belakang laki-laki tersebut, saksi mata di lokasi kejadian, para penyewa kantor yang ada di gedung yang sama dengan restoran keluarga, dan penyelidikan tentang kemungkinan digunakannya bahan peledak atau bom waktu yang menyebabkan laki-laki tersebut terbakar. Laki-laki ini belakangan diketahui bernama Takuma Sugawara atau dengan nama asli Teruo Hara.

Detektif Takako Otomichi, mantan polisi patroli sepeda motor, dipasangkan dengan detektif senior bernama Tamotsu Takizawa. Sejak awal mereka berdua dipasangkan, ‘suasana’ cenderung tak  bersahabat – pertama, karena sikap sini Takizawa, kedua, karena Otomichi yang perempuan. Langkanya keberadaan perempuan, membuat Otomochi dipandang sebelah mata. Di awal, Otomichi bersikap menjaga jarak, menjadi pengikut Takizawa dan cenderung diam. Bukan karena Otomichi begitu menghormati Takizawa, tapi bisa dibilang Otomichi juga gak terlalu senang dengan pasangannya yang kaku ini. Otomichi juga tak ingin terlihat lemah di hadapan Takizawa.

Kasus Teruo Hara belum menunjukkan titik terang, kembali ditemukan korban bernama Kazuki Horikawa. Korban ditemukan dalam keadaan mengerikan. Korban tewas digigit oleh anjing. Dilihat dari bekas gigitan, jejaknya sama dengan yang ada di tubuh Teruo Hara. Mulailah diselidiki lebih lanjut apa hubungan antara kedua pria ini.

Korban kembali berjatuhan dengan ciri-ciri yang sama – yaitu tewas karena serangan seekor anjing. Dan tampaknya, anjing ini bukanlah anjing biasa, melainkan anjing dengan ukuran tubuh yang tampaknya lebih besar daripada anjing lain.

Otomichi yang tekun mencatat, berkesimpulan bahwa bukan tidak mungkin anjing ini adalah perkawinan silang antara anjing dan serigala. Ciri-cirinya, anjing serigala ini akan menurut apa yang diperintahkan tuannya. Ia akan mengingat segala perintah dan akan menuntaskan tugas-tugas yang diberikan.

Siapa yang memiliki anjing serigala ini? Siapa yang melatihnya hingga mampu melakukan perbuatan yang mengerikan? Apa motifnya? Dendamkah? Hal ini yang menjadi fokus penyelidikan Takako Otomichi dan Takizawa.

Sementara itu, selain disibukkan dengan penyelidikan kasus pembunuhan berantai ini, pembaca juga diajak mengetahui apa yang ada di balik sosok kedua detektif ini. Persamaan dari keduanya adalah sama-sama sudah berpisah dengan pasangan masing-masing, sama-sama kesepiaan. Otomichi berpisah karena mantan suaminya selingkuh, sedangkan Takizawa ditinggal oleh istrinya. Untung dipasangkannya kedua detektif ini gak berujung pada kisah romantis. Meskipun sih, biar sedikit gengsi, mereka berdua saling peduli.

Otomichi sedang dalam masa ‘keemasan’ di karirnya, belakangan ia dipercaya untuk mengejar si anjing serigala ini dengan motornya. Adakalanya, ketika sedang mewawancarai saksi, Otomichi hanya duduk manis, membiarkan Takizawa yang akan terus memburu petunjuk baru dari saksi.

Sementara Takizawa yang semakin tua, terkadang agak susah bergerak karena tubuhnya yang menggemuk, tapi tak mengurangi kemampuannya untuk menganalisa jika ada petunjuk baru. Sosok Takizawa juga sering kali tak sabaran.

Ketika muncul petunjuk tentang ‘anjing-serigala’, gue sempat berpikir, apakah cerita ini akan mengarah ke cerita fantasi, apakah hewan itu adalah werewolf. Karena anjing serigala ini digambarkan cerdas dan mampu menyelesaikan tugas, meskipun tuannya tak ada di sampingnya. Tapi, namanya juga anjing-serigala, semakin banyak ‘darah’ serigala di dalam tubuhnya, maka sifatnya akan semakin mirip serigala, bukan lagi anjing.

Sosok polisi, khususnya Takizawa di sini tidak digambarkan sebagai  superheroes yang ganteng, dan berbadan bagus. Tapi, dengan masalah-masalah pribadi mereka, menjadikan mereka lebih manusiaswi, terutama sosok Takizawa yang mulai kewalahan dengan bentuk badannya.

Otomichi berusaha tampil menjadi perempuan yang kuat dan punya kemampuan di tengah-tengah dominasi kaum pria yang sering memandangnya sebelah mata hanya karena fisiknya dan sering meragukan kemampuannya. Tapi, saat-saat Otomichi mengejar si anjing serigala dengan motornya, rasanya jadi ‘adegan’ yang menggambarkan kebebasan – entah bagi Otomichi, juga bagi si anjing-serigala. Di sinilah Otomichi, kalau gue liat, berada di tempat yang ‘pas’.

Seperti novel-novel thriller Jepang yang beberapa kali gue baca, kembali digambarkan tindakan kriminal yang sadis dan bernuansa gelap.

Wednesday, March 27, 2013

After Dark




After Dark
Jay Rubin (Terj.)
Vintage Books
244 Hal.
(Books & Beyond – Plaza Semanggi)

Tengah malam… harusnya sih, rata-rata ini waktunya orang sudah ada di rumah, tidur, beristirahat. Itu normalnya. Tapi, ternyata.. mungkin ada sebagian orang justru harus bekerja saat itu – misalnya perawat yang kebagian jaga malam, satpam atau petugas di toko-toko yang buka 24 jam. Itu lagi-lagi mungkin kondisi yang normal. Nah, ada yang tergolong ‘tak normal’, yaitu orang-orang yang gak betah ada di rumah, orang yang gak bisa tidur , orang-orang yang lebih senang kerja di malam hari karena katanya lebih tenang. Inilah sedikit gambaran para tokoh yang ada di buku After Dark – Haruki Murakami.

Bercerita tentang 7 jam – mulai tengah malam sampai menjelang fajar. Jam-jam yang spooky dan sepi… tapi nyatanya masih banyak orang yang ‘berkeliaran’ di tengah malam itu.

Mari Asai, duduk sendiri di tengah malam, di sebuah restoran. Membaca buku. Pertama yang terlintas adalah ‘ngapain juga ya?’ Secara kebetulan, datang seorang pria bernama Takahashi, yang ‘kebetulan’ kenal dengan kakak Mari, bernama Eri. Mari yang pembawaannya agak dingin, terpaksa menerima Takahashi yang duduk di mejanya. Takahashi adalah seorang pemain trombone yang hendak berlatih bersama band-nya. Berbicaralah Takahashi tentang Eri yang sangat berbeda dengan Mari.

Setelah Takahashi pergi, datanglah seorang perempuan bernama Kaoru. Ia bekerja di sebuah ‘love hotel’ bernama Alphaville. Kaoru meminta bantuan Mari karena Mari bisa berbahasa Cina. Di Alphaville, seorang pelacur – pendatang gelap dari Cina – dipukul oleh pelanggannya.

Setelah itu, Mari Asai dan Takahashi bertemu kembali dan berbicara banyak. Terutama tentang Eri Asai.

Dan, rasanya tak mungkin kalau di dalam buku Haruki Murakami gak ada hal yang ‘absurd’ atau aneh… cerita orang-orang yang bertemu di tengah malam itu ‘biasa’ aja kan… dan.. okeh.. inilah yang aneh, Eri Asai tertidur selama 2 bulan… bukan dalam keadaan koma, bukan sakit atau depresi… hanya tidur… Eri Asai, gadis cantik, snow white di dalam keluarga Asai. Menurut gue, dia gadis yang rapuh. Dibandingkan dengan Mari, yang tampak lebih tough. Meskipun hanya sedikit-sedikit, bagian Eri Asai adalah bagian yang bisa bikin orang yang baca merasa depresi. Entah kenapa gue koq merasa begitu? Mungkin karena di bagian itu, semua begitu sepi dan aneh. Gak jelas apa maknanya

Buat gue, buku ini bercerita tentang kesepian. Misalnya Mari dan Eri, kakak-beradik yang berbeda, yang juga perlakuannya di rumah sering dibedakan oleh orang tuanya, tapi toh, ternyata diam-diam menyimpan rasa ingin saling curhat, ingin lebih dekat sebagai saudara kandung. Atau, Takahashi, memiliki ayah yang pernah mendekam di penjara saat ia masih kecil, sementara ibunya meninggal karena kanker. Bahkan para pekerja di Alphaville, memilih ‘menyembunyikan’ diri mereka dengan bekerja di hotel yang tidak membuat mereka harus menyapa para tamu, melarikan diri dari kehidupan yang terang-benderang dan hiruk-pikuk kesibukan di kota.

Pada awal gue mengenal karya Haruki Murakami lewat Kafka on Shore, gue bisa menikmati tulisannya, meskipun pakai acara berpikir dan gak ngerti. Tulisannya memang ‘aneh’, membingungkan, tapi tokoh-tokohnya unik menurut gue.  Seperti di dalam cerita ini, Takahashi yang jadi tempat curhat Eri dan Mari Asai, padahal keduanya belum mengenal Takahashi terlalu dekat, Eri Asai yang namanya berulang kali jadi topik pembicaraaan, tapi dia hanya tampil sebagai tokoh yang pasif, Mari, gadis 19 tahun, yang juga ingin dianggap ‘berarti’ tanpa harus dibandingkan dengan kakaknya, lalu ada Kaoru, perempuan yang ‘gagah’.

Judul buku ini diambil dari judul sebuah lagu - Five Spots After Dark



Haruki Murakami, penulis Jepang yang karya-karyanya dideskripsikan sebagai tulisan yang ‘mudah dimengerti, tapi kompleks’. Dua bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Norwegian Wood, Kafka on Shore dan Dengarlah Nyanyian Angin (Hear the Wing Sing)
 
#Posting bareng Maret_BBI kategori: Sastra Asia
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang