Monday, December 31, 2012

For One More Day




For One More Day
Mitch Albom
Sphere - 2006
197 hal.
(Kinokuniya – Plasa Senayan)



Satu malam, Charley Benetto memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia merasa hidupnya sudah tak ada arti lagi *sigh*. Anak perempuannya menikah, tapi Charley tidak diundang, ia sendiri sudah berpisah dengan istrinya. Sebagai salesman, juga tak menjanjikan. Charley tenggelam dalam minuman keras. Ia kerap mabuk-mabukan.

Di malam terakhir itu, Charley  benar-benar tidak peduli. Berbekal minuman keras di dalam mobilnya, ia menuju ke rumah masa kecilnya di. Menurut Charley, di sana awalnya, di sana juga akan berakhir.

Karena Charley mengendarai mobil di jalur yang salah, maka terjadi kecelakaan. Dalam keadaan koma, Charley ‘bertemu’ dengan ibunya yang sudah meninggal. Mulailah perjalanan kilas balik Charley, ke masa kanak-kanak sampai ia dewasa.

Sebagai anak-anak, adakalanya Charley berhadapan dengan sebuah pilihan – ingin jadi anak Ibu atau anak Ayah. Dan, sebagai anak laki-laki, tentu saja ia memilih jadi anak Ayah. Karena yah, ia merasa, ayahnya lebih asyik. Tapi, ia harus kecewa, ketika ayahnya pergi meninggalkan keluarga kecil mereka.

Ibu Charley, adalah perempuan pejuang. Di masa itu, orang tua tunggal masih dianggap tidak lazim. Ketika keluarga mereka masih lengkap, mereka sering dapat undangan ke pesta ulang tahun, acara makan-makan. Tetapi, ketika perpisahan itu terjadi, semua yang dulunya mengaku sebagai teman, pelan-pelan menghilang. Ibu Charley dijauhi, karena takut para suami akan tergoda.


Buku ini mengajak kita merenung, seberapa bangga kita kepada orang tua mereka? Sering kali secara tak sadar, saat mereka mengharapkan dukungan kita, justru kita malah mengecewakan mereka. Inilah yang diceritakan oleh Charley Benetto. Seberapa sering ia mengecewakan atau tak mendukung ibunya.

Tuhan memberikan Charley satu kesempatan untuk bersama Ibunya lagi selama satu hari. Satu hari di mana Charley sadar kalau Ibunya sudah banyak berkorban demi ia dan adiknya. Duh, pengen nangis rasanya baca buku ini.

Gue mengenal karya Mitch Albom ketika membaca Five People You Meet in Heaven. Padahal nih, sering gue merasa ‘alergi’ kalo baca buku yang beginian nih. Tapi, mungkin karena alur cerita yang tenang tapi bikin merenung. Dan… yang pasti gak bikin gue ngantuk.. hehehe… Setiap baca bukunya beliau ini, gue selalu bertanya-tanya, ini sebenernya based on true story atau memang murni fiksi?

5 comments:

Tezar said...

pastinya Bonneto menyesal ya pas kematioan ibunya tak bisa hadir di sisi ibunya, malah lebih memilih untuk jadi anak ayah, sekali lagi

orybun said...

kayaknya buku albom memang 'tenang' ya mbak, aku baca time keeper juga ngerasa -slooow- ceritanya

ferina said...

@Tezar: ada satu kalimat di buku ini, jangan pernah minta anak untuk milih jadi anak ayah atau ibu, karena memang gak akan pernah bisa

@Vina: tapi bagus kah ceritanya?

annisa m zahro said...

mbak, itu ada yang kurang lengkap ngetiknya kayaknya, "... ia menuju ke rumah masa kecilnya di."
hhe..

ini, bukunya kayaknya makjlebjleb buatku deh. :'(

ferina said...

@annisa: hehehe.. iya.. ada yang kurang :)
makjleb banget...

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang