Friday, September 28, 2012

The Tokyo Zodiac Murders


The Tokyo Zodiac Murders (Pembunuhan Zodiak Tokyo)
Soji Shimada @ 1987
Barokah Ruziati (Terj.)
GPU – Cet. 2, Agustus 2012
360  hal.
(Gramedia Pondok Indah Mall)

Pembunuhan berantai terjadi di Tokyo pada tahun 1936. Diawali dengan kematian seorang seniman bernama Heikichi Umezawa, yang ditemukan tewas di studionya sendiri. Lalu, diikuti dengan kematian anak-anak dan keponakan Umezawa – yang semuanya perempuan. Lebih sadisnya lagi, tubuh mereka termutilasi.

Di dalam studio Umezawa ditemukan sebuah catatan yang merinci sebuah pembuatan patung yang jika diteliti berdasarkan potongan-potongan tubuh dari para perempuan yang tewas.

Berbagai spekulasi dan teori bermunculan. Ditambah lagi bahwa dalam catatan-catatan itu juga merinci dari segi astrologi para korban, unsur-unsur kimia berdasarkan astrologi, di mana mereka harus dikuburkan dan di mana patung yang disebut Azoth itu harus diletakkan. Dari setiap korban, si pembunuh mengambil potongan tubuh yang paling sempurna.

Singkat kata, segala teori itu akan membuat sebuah karya yang mengerikan. Mungkin orang akan mengatakan ini sebuah karya yang gila, karya orang yang kerasukan setan dan dipengaruhi hal-hal gaib.

Dan selama 40 tahun, misteri pembunuhan yang mengguncangkan ini tak bisa dipecahkan. Sampai seorang perempuan bernama Mrs. Iida datang kepada Kiyoshi Mitarai dan membawa sebuah catatan penting dari seorang perwira polisi, yang tak lain adalah ayah Mrs. Iida.

Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib sekaligus detektif yang ‘nyeleneh’. Gayanya cuek. Punya teori dan pengamatan sendiri. Sebal kalau dibandingkan dengan Sherlock Holmes oleh sahabatnya, Kazumi Ishioka. Ishioak ini tergila-gila sama cerita misteri, bahkan dia yang dengan semangat bercerita sama Mitarai tentang Pembunuhan Zodiak Tokyo, sementara Mitarai ogah-ogahan mendengarkannya.  Sikapnya yang aneh ini kadang membuat sahabatnya ini geleng-geleng kepala. Dengan gayanya yang spontan dan terkadang mirip orang gila ini, Mitarai berhasil melihat detail-detail yang luput dari pengamatan polisi selama 40 tahun.

Kali kedua gue membaca kisah pembunuhan yang ditulis oleh penulis Jepang dan dua-duanya sadisssss…. Yang pertama adalah Out – di mana daging korban diiris tipis-tipis seperti sashimi (untuk gak bikin jadi il-fil makan sashimi) dan kali ini korban dimutilasi. Harus gue akui, bahwa si pembunuh ini cerdas. Gimana gak, dengan hati-hati ia mengikuti isi surat yang ditinggalkan Umezawa dan gak ada yang tahu siapa pelakunya selama 40 tahun.

Kalau aja kita mau mengikuti pola pikir a la detektif, semua fakta sudah dijelaskan dengan rinci oleh penulis. Bahkan, di tengah-tengah cerita, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama menebak siapa pembunuhnya.

Yah, sempat sih agak bingung dengan segala penjelasan tentang astrologi itu. Karena penasaran, gue sempat mencoba mengamati pola-pola yang muncul, berdasarkan ilustrasi dari Ishioka, tapi lama-lama gue nyerah… mending baca aja dengan sabar.. hehehe… 

O ya.. gue suka covernya... Putih bersih, dengan tulisan dan gambar merah. Gak penuh detail-detail, simple tapi benar-benar pas sama ceritanya.

Kiyoshi Mitarai – resmi menjadi salah satu detektif favorit gue. Semoga aja cerita Detektif Mitarai yang lain juga diterjemahkan sama Gramedia.

15 comments:

Astrid said...

aaah...buku jepang emang absurd ya!! tapi seru juga sih, beda sama cerita misteri inggris/amrik =)

ferina said...

@Astrid: bener... gue jadi mikir, apa iya orang2 Jepang itu pada aneh2 ya? :D

bosen juga sih baca misteri inggris/amrik

@dewisidik said...

setuju klo orang Jepang itu aneh, tapi mereka tekun dan disiplin banget. coba aja liat acara TV Champion ato game show dari jepang lainnya, suka mikir nih orang Jepang apa ga punya malu ya?

inibukukoe said...

setuju... orang jepang itu aneh. coba aja liat acara TV Champion ato game show yg dari Jepang, ga ada yg beres #ngakak

bacaanbzee said...

hihi, aku juga pusing waktu baca lokasi2, garis bujur-lintang.. eh, akhirnya ga kepake juga :p

Andita Budhi Utami said...

Kayaknya keren bukunya..
Dan covernya bagus. Jadi pengen punya...

Salam kenal btw. :D

ferina said...

@dewi sidik: hahaha.. mungkin mereka pantang menyerah, jadinya gak tau malu kali ya :D

@bacaanbzee: iya.. kirain di segala arah itu ada petunjuknya

@Andita: hai, salam kenal juga ya.

Ana said...

Bener mba. SI pelaku pinter banget, meskipun kalau dilakukan di jaman sekarang mungkin metodenya akan gagal. :D

Tezar said...

terlepas dari katanya mirip ama kisah di komik Kindaichi, aku bener-bener takhjub mbak, wah begini ya peneyelesainnya :)

ferina said...

@Ana: untuk ukuran tahun segitu, termasuk canggih ya? :)

@Tezar: o ya? aku belum pernah baca Kindaichi, mas. enak juga kali ya, kalo lagi bengong2 tau2 ketemu penyelesaiannya

sinta nisfuanna said...

O ya.. gue suka covernya... Putih bersih, dengan tulisan dan gambar merah. Gak penuh detail-detail, simple tapi benar-benar pas sama ceritanya. <<< SETUJU! Pertama kali liat, langsung jatuh cinta ma covernya

oky septya said...

Iya, sama suka sama covernya. Itu model guntingan gitu pula *Apa sih namanya ngegunting kertas kayak gitu*

Orang jepang itu all-out bgt ga sih. Ga heran kalo negara mereka maju, budaya etos kerjanya kayak gitu.

ferina said...

@Sinta: hehehe.. I do judge a book buy its cover, mbak :D

@Oky: all out tapi 'sinting'. maksudnya origami ya, Ky?

Deasy W said...

Selama ini cuman baca agatha christie sama mara gd. Baru prtama kali ini baca karya pengarang jepang dan ceritanya emng bener2 ngga mudah ditebak.

ferina said...

@Deasy: hi mbak Deasy, baca buku karya penulis jepang, beda aja rasanya dgn misteri a la Agatha Christie. lebih 'aneh', tapi seru

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang