Wednesday, September 19, 2012

Fahrenheit 451



Fahrenheit 451
Ray Bradbury @ 1951
Simon & Schuster – May 2012
158 hal.
(Times Bookstore Plaza Semanggi)

 Guy Montag adalah seorang ‘fireman’  - tapi fungsi ‘fireman’ dalam cerita ini , bukan membantu memadamkan kebakaran, justru mereka ‘membuat’ kebakaran. Layaknya cerita-cerita genre dytopia yang sudah gue baca, selalu ada kebijakan-kebijakan yang mengekang rakyat agar pikiran mereka tidak ‘dicemari’ hal-hal yang bisa menentang pemerintahan. Contohnya dengan melarang adanya buku-buku yang isinya tidak sesuai dengan program pemerintah. Dalam buku ini, setiap orang yang memiliki buku, rumah mereka akan segera didatangi, rumah beserta isinya dibakar dan pemilik rumah itu tentu saja akan mendapatkan hukuman yang berat.

Awalnya Guy Montag tidak merasa ada yang salah dengan pekerjaannya. Yah, sebagai ‘pelayan’ pemerintah, tentu saja ia harus mengikuti segala peraturan yang berlaku. Tapi, suatu  hari, ia bertemu dengan tetangga barunya, seorang gadis bernama Clariesse. Clariesse ini orangnya santai, berbeda dengan orang lain yang kebanyakan Guy temui. Clariesse bercerita tentang hal-hal sepele yang sudah tak lagi jadi perhatian orang. Bagiamana semua orang sekarang terburu-buru, kalau mengendarai mobil harus ngebut. Orang tak sempat lagi memerhatikan kupu-kupu di taman, sekedar iseng bermain hujan, duduk-duduk sambil bercengkerama. Maka itu, hampir di tiap rumah, gak ada tuh yang namanya teras. Orang jadi lebih akrab dengan televisi.

Guy mulai risau, ditambah lagi, istrinya, Mildred mencoba bunuh diri dengan menelan obat tidur. Meski berhasil diselamatkan, Mildred sama sekali tidak ingat akan peristiwa itu. Clariesse pun tiba-tiba menghilang begitu saja. Guy curiga bahwa Clariesse sengaja ‘dilenyapkan’. Guy juga harus menyaksikan seorang wanita yang rela dibakar bersama buku-bukunya daripada harus menjalani hukuman di luar. Akhirnya, Guy pun ‘membelot’. Ia menyelamatkan beberapa buku dan mencoba membacanya. Guy juga berusaha mencari orang-orang yang masih menyimpan buku-buku lain. Guy akhirnya jadi buronan polisi dan proses penangkapan dirinya disiarkan di televisi nasional (hmmm jadi inget siaran di salah satu televisi swasta).

Wah, entah kenapa saat membaca buku ini, gue merasa ‘gelisah’. Mungkin karena nuansa  buku ini yang gelap. Ini pertama kalinya gue membaca buku genre dystopian tanpa ada embel-embel cerita romance di dalamnya.

Apa yang gue rasakan saat membaca buku ini adalah seperti ‘kosong’. Sama mungkin dengan para tokoh yang jiwanya ‘kosong’, gak kenal lagi yang namanya bahagia. Semua statis.

Bener ya, membaca buku kadang-kadang mempengaruhi mood. Jadilah saat membaca buku ini, gue selain gelisah, jadi rada-rada ‘depresi’. Hehehe.. sorry, deh, kalo rada berlebihan kali ya.. 

Melihat dari daftar karya-karya Ray Bradbury, beliau ini termasuk penulis yang produktif. Mulai dari novel, cerpen, karya non-fiksi, skenario untuk teater dan film televisi.

10 comments:

Peri Hutan said...

pengennnnn banget baca buku inhi, berharap ada yang mau nerjemahin, hiks

ferina said...

@Peri Hutan: penerbit mana ya, yang bisa 'dicolek-colek'?

Fanda said...

*masukin wishlist*

Azia Azmi said...

pengen baca juga.. *masuk wishlist*

miamembaca said...

Terus terang baca buku macam beginian yang bikin ngeri, entah kenapa saya sangat tidak nyaman membaca buku dystopian, Mbak Fer.. Hihi, pengen baca banyak genre tapi susah move on. Dilemma :D

ferina said...

@Fanda, Azia: tambah terusss wishlist-nya :)

@mia: sama sih, mia, aku juga kalo baca buku begini suka gak nyaman, ngeri.. rasanya dunia jadi ajaib dan statis banget. tapi koq sekarang lagi suka justru baca genre ini.

Jun said...

saya sudah punya bukunya, tinggal menunggu dibaca :D

ferina said...

@Jun: selamat membaca :)

Melisa said...

mirip-mirip 1984 nih... ya iyalah dua2nya dystopia. tapi aku kok tetep kepengen baca buku ini ya? Hehe

ferina said...

@Melisa: kalo aku pengen baca 1984 :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang