Thursday, November 08, 2012

Klik




Click (Klik)
GPU - September 2012
Jia Effendi (Terj.)
228 Hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)

Ketika George Keane meninggal dunia, ia mewariskan kamera dan foto-foto untuk Jason dan sebuah kotak berisi 7 kerang untuk Maggie. Jason dan Maggie adalah cucu George, yang lebih suka dipanggil ‘Gee’. Jason yang menginjak remaja, tak terlalu peduli dengan apa yang ditinggalkan Gee, yang ia tahu, foto-foto itu mempunya nilai uang yang cukup tinggi, cukup besar untuk membawanya ke Tobago mencari ayah kandungnya. Sedangkan bagi Maggie, sekotak kerang di dalam kotak unik ini adalah sebuah teka-teki.

Apa yang disajikan dalam buku ini adalah sebuah kisah yang menarik. 10 cerita yang ditulis oleh 10 penulis, masing-masing dengan karakter penulisan sendiri. 10 cerita ‘berbicara’ dan menceritakan kisahnya sendiri, menguak satu-per satu teka-teki, baik itu tentang foto-foto yang dimiliki Jason atau kerang yang dimiliki Maggie. Semua punya arti dalam perjalanan kehidupan seorang Gee. Gee adalah seorang fotografer, yang meliput bukan hanya tempat-tempat yang indah, tapi justru yang mempunyai nilas sejarah dan kehidupan seorang manusia. Gee pernah ada di Jepang, bertemu dengan korban perang dunia, lalu berkunjung ke penjara di Rusia, atau bagaimana Gee bisa mendapatkan foto seorang Mohamad Ali yang legendaris itu.

Dan menariknya lagi, tak kisah ini tak hanya berkisar saat Maggie dan Jason masih anak-anak, saat mereka menerima warisan tersebut, tapi sampai ke tahun 2030, saat Maggie menemukan tempat terakhir dari kerang yang dimilkinya.

Setiap cerita seolah berdiri sendiri, tapi seiring kita membaca buku ini, kita akan tau, kemana cerita-cerita tersebut saling berhubungan. 7 penulis memiliki cerita untuk satu orang, hanya Maggie yang ditulis oleh 3 orang penulis yang berbeda. Gaya bercerita tentunya juga beda-beda dan ada yang enak untuk dinikmati, ada yang hmmm.. rada bikin kening berkerut. Favorit gue adalah Lev yang ditulis oleh Deborah Ellis.

Dari 10 penulis dalam buku ini, sebagian terus terang gak familiar untuk gue. Paling-paling, tentunya Eoin Colfer – si penulis Artemis Fowl, Nick Hornby – penulis About a Boy, dan satu lagi Linda Sue Park, penulis A Single Shard.

Royalti dari buku ini akan disumbangkan ke Amenesti International, sebuah badan organisasi yang bergerak dalam perlindungan hak asasi manusia. Coba di akhir buku ini, ada salah satu penulis yang cerita tentang proses penulisan buku ini, ya… gimana sebuah cerita yang berdiri sendiri bisa menjadi satu buku yang ada benang merahnya.

6 comments:

A.S. Dewi said...

Aku lagi baca buku ini juga, mbak. Baru ampe cerita kedua.
Yg cerita pertama sih asyik. Tapi cerita kedua langsung bikin males lanjutin baca. Gaya bahasanaya ribet ah X))

ferina said...

@Dewi: mungkin ya karena yang nulis beda2, jadi ada yang ribet, ada yang enak dibaca. aku juga gak semuanya suka (dan gak semuanya 'ngerti')

HobbyBuku's Library said...

Akhirnya cari juga buku ini ya mbak :D kelebihan dan kekurangan tulisan keroyokan pasti ada aja yang kurang sreg, mungkin ada 3-4 kisah yang jadi favoritku

ferina said...

@HobbyBuku: tapi, secara keseluruhan, aku suka sih sama buku ini

astrid said...

wahh jadi pengen cepetan baca, kebetulan baru dapet kado dari Mbak @HobbyBuku =) menarik ya fer..

ferina said...

@astrid: wahh.. dapet kado Klik ya? *untung belum beliin :D*

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang