Showing posts with label James Patterson. Show all posts
Showing posts with label James Patterson. Show all posts

Tuesday, December 31, 2013

The Christmas Wedding




The Christmas Wedding
James Patterson & Richard DiLallo @ 2011
Grand Central Publishing – October 2011
266 Hal.

3 tahun setelah kematian suaminya, Gaby Summerhill memutuskan untuk menikah kembali. Gak tanggung-tanggung, yang calon suaminya ada 3 orang. Untuk itu, ia mengundang anak-anaknya beserta keluarga mereka, untuk berkumpul di hari Natal dan merayakan pernikahan itu. Tapi…. Siapa calon suami yang ia pilih masih rahasia dan itu akan ia buka tepat di hari pernikahannya. 3 pria itu – Tom, Marty dan Jacob – bersaing secara sehat, mereka tetap berteman.

Tapi, buat anak-anak – Claire, Emily, Lizzie dan Seth, apa yang dilakukan Gaby bukanlah sesuatu yang aneh karena buat mereka Gaby adalah pribadi yang unik, sebagai seorang perempuan dan seorang ibu.

Novel ini ‘ramai’ sekali. Banyak tokoh-tokohnya. Ini beneran kaya’ lagi nonton film bertema Natal. Ada ibu yang tinggal sendirian, lalu dia ngirim kabar ke anak-anaknya untuk datang ke rumahnya, berkumpul lagi di hari natal. Terus, digambarin deh suasana atau keadaan masing-masing anak. Dan terakhir, satu per satu keluarga mulai berkumpul di rumah masa kecil mereka itu.

Cerita-cerita bertema Natal selalu dipenuhi dengan suasana hangat dalam keluarga. Karena gue gak merayakan Natal, tapi paling gak, itu yang gue tangkap kalo gue baca atau nonton film bertema Natal. Sama lah pastinya dengan suasana di hari raya yang lain. Keluarga berkumpul, ceria, ketawa-tawa, suasana akrab penuh dengan keceriaan. Lupa deh sama segala masalah yang ada. Kalau pun ada – seperti yang ada dalam buku ini – satu sama lain saling menguatkan dan memberi semangat. Gak boleh ada yang sedih, cemberut atau marah.

Kalau tentang satu per satu karakter:

Gaby: seorang ibu, juga bekerja sebagai guru. Punya jiwa sosial yang tinggi. Terhadap anak-anaknya, beliau sangat terbuka dan jujur. Gaby berusaha untuk gak berbohong atas segala hal, sekecil apa pun itu. Menantunya dan cucunya juga menyukai dan menyayanginya. Kaya’nya buat Gaby gak ada yang bisa bikin dia susah, apa juga dihadapi dengan senyum aja.

Claire: seorang ibu dengan 3 orang anak. Bermasalah dengan suaminya yang rada bersikap semaunya. Ditambah lagi dengan Gus, anak remajanya, yang suka bikin ulah di sekolah.

Emily: pengacara sukses, suaminya juga seorang dokter. Sedang berambisi mengejar posisi sebagai partner.

Lizzie: ibu rumah tangga, yang harus mengurus suaminya, Mike, yang sakit. Meskipun sakit keras, Mike masih berusaha melucu dalam keadaan yang payah.

Seth: satu-satunya anak laki-laki Gaby. Bersama pasangannya, Andie, mereka merencanakan sebuah kejuta. Seth ini ingin jadi seorang penulis, tapi kecewa ketika sebuah penerbit besar menolak karyanya.

Di mata Gaby, sebuah kegagalan bukan harus ditangisi berlama-lama. Ketika Seth cerita ia ditolak penerbit, maka Gaby dengan cueknya bilang “Ya udah, jangan beli lagi buku dari penerbit itu). Gaby memberi nasihat, mungkin sepintas seperti menjatuhkan, tapi justru ia berusaha membuka mata anaknya, bahwa ada kesempatan di tempat yang lain. Dan cara Gaby berkomunikasi sama anak-anaknya cukup unik, bukan melalui surat pos atau email, tapi melalui video.

Yang lucu ada ketiga tokoh pelamar Gaby – Tom, Marty dan Jacob. 3 laki-laki paruh baya yang mencoba mengharapkan cinta Gaby dan menjadi pendamping bagi Gaby. Dengan sabar dan patuh mereka mengikuti kemauan Gaby. Tapi mereka gak maksa lebih jauh. Favorit gue adalah Marty, ketika dia gantiin Gaby di kelasnya, dan ngajarin mereka cara novel yang berat dengan ‘asyik’.

Ketika membaca buku ini, gue memutuskan – bahwa gue lebih menyukai kalau James Patterson menulis buku bertema thriller. Entah kenapa, cerita yang manis ini terasa ada yang ‘nanggung’. Ending-nya sih jelas. Teka-teki terjawab. Tapi, koq rada kurang mengena di hati gue. Mungkinkah karena novel ini ditulis oleh dua orang?  Dan James Patterson yang biasanya bisa menarik perhatian gue dengan ceritanya yang berlangsung cepat, kali ini menurut gue terasa ‘lamban’. Meskipun tiap bab gak panjang, tapi ending tiap bab rada kurang ‘memuaskan’. Gak bikin gue pengen cepat-cepat cari tahu apa cerita di bab berikutnya. Entah ya, teka-teki cerita yang berpusat pada ‘siapa si pria beruntung itu?’ terasa kurang memikat. Karena, latar belakang pria yang seharusnya bikin pembaca tebak-tebakan itu, gak dibuka secara lebih lebar, sedikit-sedikit aja dan berisi yang baik-baik.

Masih banyak karya James Patterson yang pengen gue baca – kebetulan masih ada beberapa yang ada di timbunan – terutama yang bergenre thriller. Gue juga pengen tau seperti apa kalo beliau nulis buku untuk ABG di serial Middle School.


#Tulisan ini dibuat untuk posting bareng BBI  bulan Desember 2013 tema: liburan

That's a wrap... posting ini menutup posting bareng BBI selama tahun 2013 ... moga-moga tahun depan bisa lebih rajin lagi ikutan posting bareng BBI.

Happy Holiday … and

Happy New Year!!

via Pinterest

Monday, December 23, 2013

Mary, Mary



 

Mary, Mary

Barokah Ruziati (Terj.)
GPU - 2013
456 hal.

Alex Cross menghadapi dua masalah pelik. Pertama, ia harus menghadapi masalah dalam kehidupan pribadinya sehubungan dengan hak asuh atas Alex Kecil. Kedua, di tengah-tengah liburan bersama keluarganya – yang tergolong langka – ia harus dipanggil untuk berurusan dengan kasus pembunuhan berantai dengan kode ‘Mary Smith’.

Sebuah pembunuhan berantai terjadi di Los Angeles, korbannya adalah artis Hollywood papan atas, seorang ibu yang tampak sempurna, dan punya posisi penting. Setelah melakukan pembunuhan yang sangat sadis, si pelaku meninggalkan ‘souvenir’ stiker anak-anak dengan huruf A, B, lalu ia mengirim email kepada pimpinan surat kabar LA Times, yang menceritakan kronologi, atau detail dari pembunuhan itu. Pihak kepolisian seolah menemui jalan buntu, belum tuntas pemeriksaan terhadap korban terakhir, korban baru justru muncul.

Ngaku salah satu penggemar buku-buku James Patterson, tapi baru sekali ini baca buku dari seri Alex Cross, itu pun udah seri ke 11 ternyata. Hmmm… jadinya gue rada gak tau nih latar belakang kehidupan Alex Cross sebelum ini. Sekilas info yang gue dapat di buku ini, istrinya tewas ditembak, punya dua anak yang beranjak ABG, sama satu anak – Alex Kecil – hasil hubungan dengan Christine, perempuan yang rada labil, yang juga pernah jadi tawanan gara-gara Alex.

Untuk kasus yang ditampilkan di sini, buat gue emang bikin pusing. Karena ‘jejak’ yang ditinggalkan si pembunuh nyaris tidak memberikan petunjuk apa-apa. Di cerita ini, pembaca akan dibuat ‘ngilu’ dengan sepak terjang si pelaku pembunuhan, motifnya samar-samar (dan untung terjawab di akhir cerita), meskipun sosok antagonis yang hanya diketahui lewat email-email yang dikirim cukup menggambarkan betapa ia adalah seorang pembunuh berdarah dingin. Banyak yang menduga pembunuhnya adalah seorang wanita, tapi bagi Alex Cross nama ‘Mary Smith’ bisa berarti banyak – bisa laki-laki, bisa wanita pelakunya.

Apa motif si pelaku? Sticker yang ditinggalkan (buat gue) seolah menunjukkan ia punya masa lalu yang kurang baik di masa kecilnya, sehingga ia mengincar sosok wanita yang terlihat sempurna, tapi sebenarnya menyimpan cacat, sosok ibu yang dengan anak-anak yang manis, tapi sering lebih sibuk dengan aktivitas sosialnya. Tapi… apakah benar begitu motifnya? Lalu, apa maksud dengan huruf A, B yang juga ia tinggalkan?

3 bintang yang tadinya mau gue kasih, jadi berubah 4, karena gue cukup puas dengan pengambaran sosok Alex Cross – yang konon kabarnya adalah detektif handal, tapi juga ternyata adalah seorang laki-laki, seorang ayah yang rapuh, yang hanya ingin menjaga agar keluarganya tetap utuh dan aman. Dan juga karena ending yang mengejutkan, ketika gue pikir kasusnya selesai, eh... tau-tau ada kejutan lain yang dikasih.

Wednesday, September 18, 2013

The Postcard Killers



The Postcard Killers
James Patterson & Liza Marklund @ 2010
Grand Central Publishing - 2011
385 page
(MPH @ Raffles City Singapore)

Detektif Jacob Kanon terbang dari Amerika ke Benua Eropa. Bukan untuk berlibur tentunya, tapi memburu pembunuh para pasangan muda yang sedang berlibur ke beberapa negara di Eropa. Detektif Kanon sendiri punya motif pribadi, karena salah satu dari para korban adalah anak perempuannya sendiri, bernama Kimmy Kanon. Kimmy ditemukan tewas bersama tunangannya di salah satu hotel di Florence, Roma. Korban lain ditemukan di Paris, Kopenhagen, Frankfurt dan Stockholm. Para korban dijerat dengan daya pikat sang pelaku. Korban yang ingin berlibur dan menemukan teman baru, tentu saja tidak bisa menolak persahabatan yang ditawarkan, yang pada akhirnya menjebak mereka.  Dari setiap foto para korban, ditemukan sebuah pola. Di mana posisi para korban mirip dengan karya-karya seni terkemuka di kota tempat mereka ditemukan. Selain itu, harta benda para korban juga lenyap.

Seorang reporter muda bernama Dessie Larsson mendapatkan sebuah kartu pos, yang berisi sebuah pesan singkat dari orang yang diduga melakukan pembunuhan. Maka, Detektif Kanon pun mendekati Dessie, untuk diajak bekerja sama dan menawarkan diri untuk membantu kepolisian Swedia. Dessie pun mengirimkan surat balasan terbuka untuk memancing pelaku kejahatan itu.

Taktik ini membuahkah hasil, meskipun akhirnya kembali menemukan jalan buntu. Pasangan Sylvia dan Malcom Rudolph lepas dari tuduhan sebagai pelaku pembunuhan karena mereka punya alibi yang kuat. Tapi, Detektif Kanon dan Dessie tetap yakin bahwa merekalah pelaku yang sebenarnya.

Sesungguhnya, ide cerita yang ditawarkan menarik, tapi sayang, kenapa terasa kurang ‘nendang’. Kurang terasa ketegangannya. Masih ada yang terasa ‘menggantung’ atau nanggung. Entah, mungkin gue terlewat kali ya. Ya jujur aja, gue masih rada kurang jelas sama motif dari pelaku. Apa hanya untuk ‘mengapresiasikan’ dari seni yang mereka kagumi tapi dengan cara yang ‘ekstrim’, atau karena adanya trauma di masa lalu?  Dan apa yang membuat seorang Dessie Larsson terpilih untuk mendapatkan kartu pos itu? Rasanya menyebalkan ketika selesai membaca satu buku, tapi harus ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan. Kali akan lebih keren, kalo ada sebuah bab, yang isinya flashback, yang kira-kira menggambarkan latar belakang karakter si pembunuh itu terbentuk.

Gue sempat semangat ketika dengan keberhasilan Dessie dalam menemukan sebuah petunjuk. Yah, abaikan saja cerita selingan sebagai bumbu pelengkap di dalam buku ini, meskipun rada membuat gue sebal.

Gue pernah membaca beberapa karya James Patterson yang lain, dan buku-buku itu sanggup membuat gue deg-degan dan ikut terpacu dengan ketegangan yang ada. Satu hal yang membuat gue bisa menyelesaikan buku ini dengan lumayan cepat, adalah karena bab-bab cerita yang pendek, yang mau tidak mau membuat alur cerita juga cepat. Yah, buku ini oke lah untuk menemani waktu libur. Mau sedikit tegang, tapi pengen mencari cerita yang cepat selesai.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang