Tuesday, April 29, 2014

Arranged Marriage



 

Arranged Marriage (Perjodohan)

Chitra Banerjee Divakaruni @ 1995
Gita Yuliani (Terj.)
GPU - 2014
376 hal.

Mungkin udah berkali-kali ya, gue bilang di blog ini, kalo gue suka baca buku-buku dari penulis India – yah, salah satunya Chitra Banerjee Divakaruni ini. Tapi ya, pertama kali gue baca bukunya – The Mistress of Spices – gara-gara nama salah satu tokohnya itu sama dengan ‘gebetan’ gue jaman dulu. Hehehe… tapi, karena buku itu juga, gue jadi nge-fans sama buku-buku beliau yang lain. Buku Divakaruni – mengangkat tema perempuan, yang terjebak antara adat istiadat yang kuat dan dunia modern, emansipasi.

Salah satu buku Divakaruni favorit gue adalah The Palace of Illusions – sebuah versi lain dari kisah pewayangan.

Ok, tentang buku Arranged Marriage – mengupas masalah perjodohan yang masih jadi hal penting dalam kehidupan kaum perempuan di India (sok tau deh gue…). Jika sudah cukup umur, keluarga akan mengatur sebuah acara, di mana para kaum laki-laki akan menilai apakah perempuan ini layak untuk jadi istrinya –biasanya mak comblang nih yang bakal mempromosikan habis-habisan si perempuan dan laki-laki. Kalau dari buku ini, kesimpulan gue, ada sebagain perempuan yang menantikan saat-saat perjodohan, berkhayal seperti apa wujud asli dari laki-laki yang dikenal hanya via foto. Ada juga yang menginginkan kebebasan dalam memilih laki-laki yang ia sukai.

Acara perjodohan di India sendiri termasuk acara yang besar-besaran. Sebuah kesuksesan bagi keluarga pihak perempuan apabila mampu memberi mas kawin yang besar kepada keluarga calon besan. Berbeda dengan Indonesia di mana justru pihak laki-laki yang memberi mas kawin, di India, justru keluarga perempuan yang melakukan hal tersebut. Bisa jadi keluarga perempuan sampai harus berhutang demi mempersembahkan mas kawin yang besar, jangan sampai dipandang sebelah mata oleh keluarga laki-laki.

via Cultural India
Tentu saja, pernikahannya sendiri pastinya tak kalah heboh dengan acara lamarannya dong. Bayangin aja kali ya, film Bollywood dengan penari memakai baju warna-warni. Seperti yang diungkapkan oleh Agustinus Wibowo dalam Titik Nol: ArrangedMarriage

“Saya terkesima melihat kemegahan pernikahan itu Pengantin pria yang gagah dengan surban merah. Pengantin perempuan yang cantik dengan perhiasan emas dari ujung kepala sampai, sari warna merah yang anggun, dan tangan yang penuh coret-coretan henna. Belum lagi para tamu yang pakaiannya penuh warna-warni dahsyat – merah, kuning, hijau, biru, ungu, jingga, merah muda – perbendaharaan kata kita sampai tak cukup untuk menyebut semua warna yang ada”

Dan jika sudah menikah, otomatis si perempuan adalah milik keluarga laki-laki. Ia akan mengurus semua tetek-bengek dalam keluarga suami – mulai dari mengurus mertua, bahkan ipar-iparnya, masak, nyuci, mungkin juga ngipasin mertuanya yang kepanasan. Gue jadi rada kesel dan gemas ketika membaca cerita Pemeriksaan Ultasonografi – yang berkisah tentang 2 sahabat – satu di India, satu di Amerika. Mereka sama-sama hamil dan menantikan anak pertama. Runu, yang tinggal di India, ketakutan jika nanti ia melahirkan anak perempuan. Sebagai, istri dari suami dengan kasta tinggi di India, anak pertama ‘wajib’ laki-laki, kalau tidak, pilihannya adalah aborsi.

Menjadi milik suami, berarti harus menerima perlakuan kasar dari suami. Ingin berontak dan melarikan diri – aib seumur hidup menanti. Cap miring akan melekat pada diri sang istri, kalau punya anak perempuan, kemungkinan besar, si anak bakal susah dapet jodoh. Gue salut dengan keberanian tokoh dalam cerita pertama yang berjudul Kelelawar, meskipun buntutnya, dengan kata-kata manis dan janji-janji surga dari sang suami, si istri rela kembali ke rumah. Menurut survey (eh, hasil pengamatan gue sih), sekali laki-laki ringan tangan dan kasar sama istri, gak akan dia bisa berubah, meskipun mulutnya berbusa mengucapkan janji-janji surga.

Apalagi dengan iming-iming pergi ke Amerika… wow, itu suatu hal yang luar biasa. Kebayang dong, A-me-ri-ka…. Negara yang hebat, pastinya si laki-laki kaya raya dan punya pekerjaan yang penting. Meksipun pada kenyataannya, ternyata si laki-laki gak sehebat itu.

Cerita Pakaian dan Jalan Perak, Atap Emas – menggambarkan kehidupan imigran India, yang mencoba mengadu nasib di Amerika. Gemerlap kehidupan di Amerika, tidak mampun membawa kehidupan yang lebih baik bagi para tokoh. Mereka juga harus siap menghadapi masalah diskriminasi karena kulit gelap mereka.

Masalah budaya, juga kerap jadi masalah. Perempuan India harus siap menyembunyikan hubungan mereka dengan pria asing. Kalau ketahuan, mereka bisa diusir dari keluarga. Cerita Kata Cinta, menggambarkan kisah seorang perempuan India yang tinggal serumah dengan kekasihnya yang bule itu. Tiap ibunya telepon, ia harus siap, jangan sampai pacarnya itu yang mengangkat.

Biasanya lagi nih, perempuan India yang udah lama di Amerika, berubah menjadi perempuan modern, yang gak percaya dengan lembaga pernikahan – apalagi memiliki anak. Tapi, kadang ya, kita suka ‘kena batunya’ kalo ngomong, kaya’ Meera dalam cerita Hidup yang Sempurna, mengambil keputusan yang mengejutkan tunangannya, Richard, ketika ia ingin mengadopsi seorang anak yang ia ditemukan di dekat apartemennya.

Yah, pada dasarnya, setiap wanita memiliki naluri keibuan kali ya. Jadi begitu lekat sama seorang anak, rasanya seperti ‘teriris-iris’ ketika harus terpisah.

Gue suka cerita Pintu, tentang sepasang suami istri – keduanya keturunan India. Tapi punya kebiasaan yang beda. Preeti, si istri, suka mengunci pintu, gak nyaman katanya, biar di rumah sendiri, tapi kalo tidur, kamar gak dikunci, atau lagi mandi, kamar mandi gak dikunci. Tapi, suaminya, Deepak, malah gak suka ngunci-ngunci pintu, katanya “siapa sih yang mau liat, kita kan di rumah sendiri”. Tapi bagi Preeti, itu adalah masalah privasi. Dan bener aja, waktu Raj, sahabat Deepak datang dari India, keseimbangan rumah tangga mereka terganggu. Raj suka seenaknya masuk ke kamar, padahal Preeti cuma pake baju tidur. Sebenernya sih, si Raj gak ada maksud apa-apa, cuma karena kebiasaan, tapi risih lah si Priti.

Komunikasi penting pastinya antara pasangan suami-istri, jangan gara-gara gak enak sama sahabat, perasaan istri juga jadi korban, dan bikin semua jadi berantakan.

Tentang pasangan suami istri juga ada di cerita Perselingkuhan, dua pasang suami istri, saling bersahabat. Tapi, dengan pasangan mereka masing-masing, sebenarnya mereka tidak merasa nyaman.

Masih tentang perselingkuhan dalam cerita Bertemu Mrinal, tentang Asha, yang baru saja bercerai, tapi, ketika bertemu sahabat lamanya, ia tak berani bercerita yang sebenarnya. Ia malah terus bercerita tentang kehidupannya yang sempurna dan keluarga yang harmonis.

Satu cerita yang tak bahagia, plus meninggalkan kebingungan buat si suami – Kehilangan. Tentang istri yang pergi tanpa jejak, bikin suami bertanya-tanya apa yang salah.

Cerita paling panjang di buku ini berjudul Kisah si Pembantu. Dari obrolan seorang gadis yang hendak menikah dengan bibinya, tersebutlah sebuah kisah tentang sari berwarna kuning kunyit – warna yang dianggap sebagai pembawa sial. Banyak yang kisah dalam cerita ini, tentang sebuah peran istri sempurna, nyonya rumah yang dengan tulus mempercayai seorang pembantu – yang tentu saja membuat para pembantu lainnya sirik, bahkan juga tentang pelecehan seksual.

Rasanya, ada beban yang ‘berat’ di dalam buku ini. Gak tau ya, mungkin karena tokoh-tokoh perempuan berada di persimpangan – antara mau bahagia, tapi koq belum nyampe ke sana. Ada beban antara kebebasan pribadi dengan pandangan keluarga dan orang banyak. Antara membahagiakan orang tua, tapi juga pengen berontak.

Meskipun gak se’ngiler’ kalo ngebayangin pasta Italiano, tapi karena pada dasarnya gue suka nyoba makanan, kuliner India yang bersliweran di buku ini juga mampu membuat gue lapar. Yah, pengalaman gue dalam hal makanan India, baru sebatas samosa atau roti cane.



Submitted for:

- Baca Bareng BBI bulan April 2014 – tema: Perempuan



- Lucky No. 14 Reading Challenge – category: Favorite Author

9 comments:

lalaendut said...

Belum baca yang satu ini mbak, kayaknya menggoda :)

Althesia Silvia said...

aku suka kesel kalo baca cerita-cerita dimana perempuan tidak punya pilihan. kayak keputusan aborsi kalo punya anak cewek yang mba fer bilang direview itu.

tapi gak usah jauh-jauh ke india, setahuku di bagian timur, kupang dan sekitarnya masih ada kasta-kastaan gitu juga, tapi kayaknya sih gak sampe harus punya anak cowok gitu..justru disana cewek dibeli sangat mahal

bzee said...

Oh, baru tahu kalo ini ternyata kumcer

astrid said...

eh fer, gw malah rada nggak demen sama masakan india terutama yg berbau2 kare XD #salahfokus duh belum pernah baca bukunya divakaruni nih, tapi kayaknya satu jenis dengan jhumpa lahiri ya... oiya emang bener lho,org india demen banget mengadu nasib ke amerika hehehe...

Hanifah Mahdiyanti said...

kumpulan cerita pendek ya? menarik nih.. jadi pengen coba baca :)

Alvina Vanila said...

wah kumpulan cerpen ya? asyik, pengen baca juga ah. divakaruni itu pinter banget membuat cerpen cerpen sederhana tapi mengena :D

Lina said...

ini juga masuk wishlistku nih

Indah Tri Lestari said...

Ini yang bukunya sempat ketinggalan di shuttle-bus ya...

ferina said...

@Lala, Alvina, Hanifah, Bzee: iya.. aku juga baru tau pas mau beli kalo ini kumcer. buku Divakaruni lama yang baru diterbitin sama gramedia *entah kenapa lama sekali*

@Indah: hehehe... yang ternyata ketinggalan di mobil sendiri, bukan di bis

@Lina: semoga bisa dicoret dari wishlist

@Astrid: jadi kita gak bisa kopdar di resto india dong?

@Essy: emang kadang gemes kalo baca cerita soal kasta, diskriminasi gini ya...

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang