Thursday, February 27, 2014

Amba



Amba

Laksmi Pamuntjak

Gramedia – Cet. II, November 2012
494 hal.
(Obral Gramedia Plasa Semanggi 3A – Rp. 20,000 saja)

Jadi begini, buku ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Amba yang mencari keberadaan seorang pria bernama Bhisma – setelah berpuluh tahun lamanya. Semua dimulai di tahun 1965, ketika Republik Indonesia ini sedang dalam keadaan politik yang panas. Amba yang berada di Yogyakarta, sempat datang ke Kediri, untuk bekerja sebagai penerjemah catatan seorang dokter muda lulusan Universitas Karl Marx yang bernama Bhisma. Yah, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk jatuh cinta, padahal ketika itu, Amba juga sudah menjalin hubungan asmara dengan Salwa, pria baik hati dan sederhana.

Amba dan Bhisma bertemu kembali di Yogyakarta, di bulan Oktober 1965 – ketika keadaan sangat mencekam. Dan terjadi sebuah penyerbuan di Universitas Res Republica. Amba terpisah dari Bhisma, dan itulah kali terakhir Amba melihat Bhisma.

Dari awal bergulir kisah Amba yang berusaha mencari jejak Bhisma di Pulau Buru. Amba, perempuan dengan pembawaan yang mampu membuat semua orang yang bertemu dengannya menaruh hormat. Tak terkecuali Samuel, pria asal Pulau Buru yang membantu Amba.

Di dalam buku ini, tak hanya berkisah tentang latar konflik di tahun 1965, tapi juga tentang perang saudara di Ambon yang menggulirkan banyak kisah pilu di antara warga Ambon.

Amba, Bhisma dan Salwa, adalah nama yang diambil dari tokoh dalam kisah Mahabharata, dengan latar kisah yang sama. Cinta segitiga, di mana Bhisma tak bisa mendapatkan Amba, dan Salwa pun tak mau lagi menerima Amba yang sudah tak suci itu.

Sosok Bhisma memang misterius, dari awal dia lebih  banyak diam, membuat Amba kesal sekaligus penasaran. Apa yang terjadi pada dirinya setelah penangkapan itu, ditulis dalam surat-surat untuk Amba – surat-surat yang tak pernah sampai ke tangan Amba, yang ia sembunyikan di dalam bambu dan dikuburkan di bawah sebuah pohon rindang.

Dan buat gue, Amba yang selalu menjaga sikap ini malah jadi terkesan dingin. Ia menyimpan begitu banyak hal sendiri, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dibandingkan dengan kedua adiknya yang mementingkan penampilan, Amba malah ingin lebih maju, keluar dari desa dan mencari petualangan baru.

Sejujurnya, sulit buat gue untuk membuat review buku ini. Pertama, karena bahasa yang digunakan di dalam buku ini, bisa gue bilang ‘indah’, kedua, meskipun bahasanya bagus, indah, berbunga-bunga – gue malah jadi sedikit kesulitan ‘mencerna’nya. Bukan karena klasik, tapi ya itu… sedikit ‘bersayap’, ketiga: takut… hehehe… rasanya otak gue rada kurang ‘prima’ untuk mencerna begitu dalam isi buku ini. Dan mau gak mau, gue jadi membandingkan buku dengan latar belakang yang sama, yang sempat jadi kontroversi di Khatulistiwa Literary Awards yang lalu. Mungkin karena dari segi sudut pandang yang berbeda ya, gue merasa buku ini agak berat untuk gue.



Submitted for:




-          Baca Bareng BBI bulan February 2014 – tema: Historical Fiction Indonesia






9 comments:

alvina vanila said...

iya, si Bhisma itu misterius. malah jadi kayak orang sakti gitu yah x(

Dion Yulianto said...

Ampun deh cuma 20.000 saja *salah komentar wkwkwkwk

aku jg masih ketimbun buku ini :(

astrid said...

tadi baca reviewnya tirta, katanya agak sulit bersimpati sama amba ya...mungkin sama kaya yg loe rasain fer, terlalu dingin dia...tapi cowok2 kayanya banyak yg suka sama si amba ya? hihi...jd inget beli buku ini pas bareng gw :D

ferina said...

@Vina: malah jadi kesannya rada gak masuk akal :)

@Dion: hehehe.. ngeliat harga segitu, langsung ambil aja

@Astrid: Amba terlalu jaim menurut gue. Tapi karena yang misterius itu bikin cowok2 penasaran kali ya.

Hahahaha.. ini akibat berlama2 di obralan gramedia

catatanluckty said...

Wah, banyak juga yang udah baca buku ini, jadi makin penasaran... >.<

@lucktygs
http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-the-jacatra-secret/

Tirta said...

Waaaaaah 20 ribu! XD
Aku sampe akhir masih nggak ngerti apa yang bikin Amba ini segitu cintanya sama Bhisma sampe mau selingkuh segala. Terus bete deh sama Amba-nya, jadi susah buat suka banget-banget sama buku ini. Tapi cara penceritaannya emang bagus sih :)

Anonymous said...

Waduh, urusan otak prima kembali muncul >,<
Berarti aku tidak mau baca buku ini dulu deh, masih memprimakan otak xD

Helvry Sinaga said...

Lah aku malah baru tau ini hisfic.
tapi ngeliat tebalnya...ntar-ntar aja deh..

eh mbak..itu icon BBI goes to irfnya udah kadaluarsa :D

ferina said...

@Luckty: bahasanya bagus lho...

@Book-admirer: hahaha... baca aja, latihan biar otaknya semakin prima

@Bang Epi: ukuran buku dan ketebalannya emang bikin rada kurang nyaman kalo dibawa2.

hehehe.. belum sempet edit2 side bar

@Tirta: mungkin karena Bhisma yang cool dan unpredictable kali ya, yang bikin Amba rela selingkuh

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang