Friday, May 31, 2013

9 dari Nadira




9 dari Nadira
Leila S. Chudori
KPG – Cet. I, 2009
270  hal.
(swap sama Bu Dokter Dewi)

Biasanya gue rada males membaca kumpulan cerpen, apalagi yang ditulis keroyokan oleh penulis yang berbeda-beda. Tapi, 9 dari Nadira, membuat buku ini jadi salah satu buku favorit yang gue baca di tahun 2013.

Memang ditulis dengan latar cerita yang berbeda-beda, tapi kesamaan tokoh dan benang merah dari seluruh cerita dalam kum-cer ini, membuat gue merasa membaca satu novel utuh. Judul cerita yang berbeda-beda, bagi gue, hanyalah sebuah pergantian bab.

Dalam bayangan gue, Nadira adalah perempuan yang hidup dalam dunianya sendiri, ia sadar akan keberadaan dirinya, tahu harus berbuat apa, tapi dia gak membiarkan orang lain masuk dan dia juga gak mau keluar dari ruang yang dia buat itu. Nadira membiarkan dirinya hidup dalam kenangan yang menyakitkan akan kematian ibunya.

Kematian Kemala, ibu Nadira, menjadi awal dari cerita dalam buku ini. Nadira yang sekilas tanpa emosi, membiarkan rasa sedih dan sakit hanya untuk dirinya sendiri. Berbeda dengan kakak perempuannya yang histeris.

Tapi jauh sebelum ibunya meninggal, Nadira sudah lebih dulu merasakan rasa tertekan dan kesendirian. Kakak tertuanya, Yu Nina, pernah ‘menyiksa’ Nadira. Hanya karena Nadira memperoleh uang tambahan, Yu Nina menuduhnya mencuri.

Nadira juga kecewa pada kakak laki-lakinya, Kang Arya – yang karena keisengannya membuat karya Nadira yang selalu dibingkai ayahnya jadi hancur.

Bakat menulis Nadira menurun dari ayahnya yang seorang wartawan. Ayah dan Ibu Nadira bertemu di Belanda. Ketika itu Bram bekerja paruh waktu di sebuah bar, Kemala, ibu Nadira, kebetulan diajak temannya ke bar tersebut. Dan jatuh cintalah mereka.

Nina, Arya dan Nadira dididik dengan baik oleh orang tua mereka. Mereka juga mendapatkan pendidikan agama yang kuat dari kakek mereka, ayah Bram.

Sebagai perempuan, mungkin Nadira cenderung ‘aneh’ kali ya. Terkurung di dalam dunianya sendiri, Nadira jadi ‘penghuni kolong meja’ di kantornya. Nyaris bagai gembel. Padahal ia cukup cantik. Seuntai tasbih jadi benda kenangan yang membuat Nadira tenang, tasbih milik mendiang Kemala.

Saat yang bisa membuat Nadira tersenyum kala seorang aktivis, penyair gombal bernama Niko memasuki kehidupan Nadira. Hari-hari Nadira jadi merah jambu dan ceria, hari-hari yang malah membuat seorang Utara Bayu – atasan Nadira – jadi kelabu.

Ada kisah cinta dalam buku ini, cinta seorang orang tua pada anaknya, cinta suami istri, cinta kakak-beradik – meskipun ketiganya punya rasa sakit satu sama lain, cinta Utara Bayu terhadap Nadira yang tak kesampaian, dan cinta yang tak disadari Nadira pada Utara Bayu.

Meskipun cerita dalam buku ini melompat-lompat, tak berurutan, tapi tetap bisa menyatu sebagai satu kesatuan cerita. Jangan liat cover atau ilustrasinya, yang rada kurang nyaman dipandang.

Bahkan di akhir cerita… gue masih menantikan apa yang terjadi dengan Nadira yang pulang ke Indonesia demi Utara Bayu…

3 comments:

Helvry Sinaga said...

btw covernya ini bagus ya mbak..:)
mau cerita yg ke-10 nggak mbak?
hehehe

ferina said...

rada kurang 'klik' sama cover-nya sih, bang... emang ada cerita yang ke 10? mau donggg... :D

Ario Anindito said...

Halo mas Helvry Sinaga,
Saya illustrator yang membuat cover dan gambar isinya.
Terimakasih atas apresiasinya terhadap karya saya.
Anda memiliki selera yang bagus.
Salam,

Ario A.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang