Sunday, December 25, 2011

Holiday on Ice


Holiday on Ice
David Sedaris @ 1997
A Back Bay Book - 1998
134 hal
(swap sama @ndarow)

Gue gak merayakan Natal, tapi beberapa kali gue membaca buku atau cerpen atau nonton film yang berlatar belakang Natal. Dan yang sering kali gue temui dalam cerita-cerita itu, nyaris semua cerita Natal itu indah, penuh tawa dan kebahagiaan. Tapi, yang kali ini gue dapat di tulisan-tulisan pendek David Sedaris adalah cerita Natal yang – menurut gue – diawali dengan kesinisan. Ada humornya, tapi ada juga ‘sindiran’nya. Ini pertama kali gue membaca buku David Sedaris, dan, yah, bisa dibilang gak semuanya gue ngerti. Maklum deh, kadang-kadang kalo orang bule menyampaikan humor suka gak nyambung di otak Indonesia gue. Hehehe…

Ada 6 tulisan. Yang gue share di sini, hanya beberapa aja.

Yang pertama: SantaLand Diaries – berkisah tentang seorang pemuda yang bekerja sebagai Elf di sebuah mal. Biasakan kalo menjelang Natal begini, nyaris di setiap pusat perbelanjaan ada yang namanya ‘Meet & Greet with Santa Clause’. Nah, si cowok ini menjadi Elf yang bertugas mengatur para pengunjung untuk bisa akhirnya sampai ke Santa. Tugas Elf ini ada banyak, ada yang mengatur barisan, ada yang jadi fotografer, sebagai kasir atau ada yang bertugas di pintu keluar.

Si cowok ini rada-rada ‘tengil’ dan iseng, atau ‘nyeleneh’. Dalam keadaan bosan, dia bisa tiba-tiba bilang, “Eh, ada Phil Collins… ada Mike Tyson.” Kontan perhatian orang bubar, orang jadi lebih milih minta tanda tangan Phil Collins daripada baris untuk ketemu Santa.

Tipe pengunjung juga macem-macem. Ada yang plin-plan mau pake kartu kredit atau cash. Ada yang suka nyela-nyela si Elf, ada yang satu keluarga pas udah di depan Santa, si anak rewel dan merengek, sementara si orang tua sibuk ngatur gaya anaknya.

Kisah kedua: Season’s Greetings to Our Friends and Family – kisah tentang keluarga Dunbar, yang menjelang Natal tiba-tiba ‘kedatangan’ anggota baru dan berakhir dengan cukup tragis menurut gue. Jadi anggota baru ini adalah seorang gadis yang datang dari Vietnam dan mengaku sebagai anak dari Clifford Dunbar, yang bernama Khe Sahn. Ternyata di Vietnam, Clifford bukan hanya menjalankan tugas negara, tapi juga menjalin hubungan dengan seorang perempuan Vietnam.

Yang jadi kendala utama, adalah bahasa. Dengan bahasa Inggris yang minim, susah untuk berkomunikasi dengan Khe Sahn. Ditambah lagi, cara berbusana Khe Sahn yang ternyata gak kalah minim dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Sebagai seorang istri, Jocelyn cukup sabar menghadapi Khe Sahn, ia berbaik hati menjahitkan pakaian yang layak, yang sayangnya hanya jadi penghuni lemari Khe Sahn.

Kesibukan ngurusin Khe Sahn, bikin Jocelyn jadi gak sempet belanja hadiah Natal untuk keluarganya. Dan kebahagiaan Natal keluarga Dubar di tahun itu berakhir dengan tragis.

Yang ketiga, yang terakhir yang gue share di sini – juga menjadi penutup di buku ini: Christmas Means Giving, tentang sebuah keluarga yang hidupnya bisa dibilang mewah. Semua sih tampak oke-oke aja, sampai suatu hari, keluarga ini mendapatkan tetangga baru, Mr and Mrs. Cottingham. Dan ternyata tetangganya ini gak mau kalah pamor. Apa yang dimiliki tetangga mereka, pasangan Cottingham ini akan berusaha meniru andaikata mereka gak bisa melebihinya. Sampai-sampai semua yang dilakukan jadi rada gak make sense. Tradisi Natal jadi ajang pamer hadiah, pamer ucapan terima kasih. Si keluarga A bikin kartu ucapan yang ekslusif yang emang udah jadi tradisi mereka, ehhh.. si pasangan Cottingham ikut-ikutan… tapi sayangnya, belum ‘mampu’ untuk dicetak, jadinya hanya pake mesin photocopy. Ini juga sebuah kisah yang berakhir menyedihkan.

Well… mungkin dalam setiap hari raya, maknanya sama. Kesederhaaan dan saling berbagi. Gak harus mewah, tapi ada rasa lega di dalam hati. Bener gak sih…

Selamat Natal buat yang merayakan…
Wish all the best and have a wonderful Christmas

4 comments:

Maya Floria Yasmin said...

gak terlalu suka sama covernya =)

Aleetha said...

Buku ini ngga ada di Goodreads yah mba? XD

desty said...

Saya pernah baca bukunya David Sedaris yang Me Talk Pretty Someday, yg menurut rekomendasi salah satu penulis buku komedi sebagai buku komedi terbaik yang pernah dia baca.
Dan hasilnya ga ngerti sama sekali. Padahal yg saya baca udah terjemahan juga :)

ferina said...

@Maya: cover-nya emang biasa aja. ada versi lain yang lebih 'kocak'

@Aleetha: kaya'nya ada deh di GR

@Desty: yup, aku juga pernah baca Me Talk Pretty Someday, dan gak selesai. Di buku ini pun, gak semuanya aku ngerti

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang