Friday, June 27, 2014

Bite-Sized Magic



 

Bite-Sized Magic (The Bliss Bakery Trilogy #3)

Kathryn Littlewood @ 2014

@putronugroho (Terj.)

Penerbit Noura (Mizan Fantasi) – Cet. I, Mei 2014

345 Hal.


Sejak menjadi pemenang kompetisi memasak, Gala des Gáteaux Grands, hidup Rose Bliss jadi tidak nyaman. Ketika bangun pagi, yang ia lihat adalah sekurumunan wartawan yang menunggu di depan rumah mereka, siap dengan kamera, menanti untuk mewawancarai Rose. Sampai-sampai Rose pun berucap seandainya ia tak perlu lagi membuat roti.

Satu masalah selesai, maka datanglah masalah lain, kali ini dengan adanya Undang-Undang Diskriminasi Usaha Roti Besar Amerika yang menyatakan bahwa toko roti yang mempekerjakan kurang dari seribu karyawan harus berhenti beroperasi. Itu berarti Follow Your Bliss Bakery harus tutup. Calamity Falls menjadi suram, tak bergairah. Sihir dari toko roti keluarga Bliss yang selama ini ‘menghidupkan’ Calamity Falls.

Masalah ini ternyata didalangi oleh Asosiasi Internasional Penggilas Adonan, yang didukung oleh sebuah perusahaan yang memproduksi kue-kue masal bernama Mostess, dengan pimpinan Tuan Butter.  Mereka memproduksi kue-kue dengan bahan pengawet – dengan tambahan bahan-bahan sihir yang bisa membuat kekacauan di Amerika. Tujuan mereka adalah menghancurkan sebuah toko roti besar dan memonopoli usaha kue dan roti. Kue-kue mereka bisa membuat orang menjadi zombie, saling membenci dan serakah.

Rosemary Bliss diculik untuk menyempurnakan resep-resep yang mengerikan tersebut, keluarga Bliss jadi sandera. Maka mau tidak mau, Rose harus mengerjakan permintaan Tn. Butter. Di pabrik itu, ia pun mencari penawarnya. Dibantu dengan Marge, salah satu pegawai pabrik Mostess, Sage dan Ty, Rose berusaha keras agar kue-kue mengerikan itu tidak berhasil diproduksi.

Buku ketiga ini, gue justru lebih suka dengan peranan Gus, si kucing yang bisa bicara. Ia banyak membantu Rose dan memberi ketenangan sendiri  bagi Rose. Meskipun kadang tingkahnya rada ngeselin, tapi jadi penyegar di dalam buku ini.

Unsur ‘petualangan’ menurut gue lebih kental di buku kedua, ketika Rose, Sage dan Ty pontang-panting mencari bahan-bahan sihir untuk kue mereka keliling Perancis. Tapi, kalau selama ini kita kenal bahan-bahan sihir itu disimpan dalam toples biru, kali ini ada toples-toples merah yang berisi bahan-bahan sihir jahat.

Bibi Lily menghilang… tapi, pengaruhnya masih ‘kuat’, Bliss Cookery Booke sudah kembali, namun efeknya masih meninggalkan jejak.

Ihhh.. kue-kue produksi Mostess itu benar-benar mengerikan, gue jadi teringat segala jajanan dengan aneka warna yang nge-jreng. Nah, satu ‘pelajaran’ dalam buku ini, mengingatkan gue untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan. Bukan gak mungkin, kue-kue seperti ini ada di sekitar kita. Waktunya untuk mencari makanan sehat … tapi … boleh lah sekali-sekali mengudap kue-kue manis yang cantik, lembut dan yummy.

1 comments:

adin dilla said...

Kuliner ditambah sihir, adonan yang menarik. Hehehe, belum pernah baca yang fantasi, jadi nggak tau bakal suka apa enggak sama buku jenis ini...

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang