Monday, June 18, 2012

Ibuk



Ibuk
IwanSetyawan
GPU – Juni 2012
427 hal
(Gramedia Pondok Indah)

Cinta membutuhkan sebuah keberanian untuk membuka pintu hati  
(page 15)

Tinah, si gadis desa yang lugu, sehari-hari membantu Mbok Pah berdagang baju bekas di Pasar Batu. Pendidikannya hanya sebatas SD, terbentur masalah biaya, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya. Di usia yang matang, kepolosan Tinah membuat beberapa pria kepincut, sebut saja tukang tempe yang setiap hari memberikan tempe gratis untuk Tinah dan Mbok Pah. Tapi, hati Tinah ternyata tertambah pada Sim alias Abdul Hasyim, kenek angkot, berpenampilan klimis bak bintang film India dan dikenal sebagai playboy pasar.

Pendekatan Sim yang sederhana, tanpa bunga-bunga rayuan, membuat Tinah bertekut lutut dan bersedia mewujudkan mimpinya bersama Sim. Menikah dengan Sim, dimulai pula perjalanan panjang Tinah untuk membuat keluarga tetap utuh dan kuat. Yang ada di benaknya, anak-anak harus sekolah yang tinggi, gak boleh yang hanya sampai SD seperti dirinya. Harus berhasil biar gak hanya jadi supir angkot seperti bapaknya.

Lima orang anak, pekerjaan suami sebagai supir angkot, kebutuhan yang semakin hari semakin bertambah, biaya yang besar – untuk sekolah anak, makan. Belum lagi, anak laki-laki satu-satunya yang sering merengek minta sepatu baru lah, buku baru lah…. Beruntung anak-anak perempuannya lebih pengertian.

Kesabaran Ibuk benar-benar diuji. Hampir tak pernah beliau meneteskan air mata di depan anak-anaknya. Benar-benar sabarrrr….

Rumah tangga ini – di samping masalah keuangan – rasanya benar-benar adem ayem… Gak ada tuh yang namanya pertengkaran antara suami – istri yang ngeributin masalah uang. Mungkin karena sosok Ibuk yang nrimo dan selalu sabar. Atau memang kalau pun ada gak ditampilkan di sini. Padahal sih, menurut gue, manusiawi aja kalo sekali-sekali ada tuh yang namanya sedikit ‘riak-riak’. Emosi yang rada tinggi hanya sekali ditampilkan saat Bapak benar-benar mengeluh dan putus asa saat angkotnya bolak-balik mogok dan uang hasil narik angkot habis untuk benerin angkot.

Sejujurnya, di lembar-lembar awal, gue terkesan cerita yang mengalir dengan tenang ini, setenang sosok seorang Tinah, sang Ibuk yang tak kenal lelah, pantang menyerah demi memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Gue memberikan penghormatan sebesar-besarnya pada Ibuk (dan juga Bapak) di dalam buku ini (dan juga di mana pun para Ibuk dan Bapak yang lain berada). Berkat tangan-tangan yang gigih dan kuat, bisa mengantar anak-anaknya menjadi sosok yang berhasil tanpa pamrih.

Tapi, ma’af ya, mas Iwan, kenapa makin ke belakang, gue gak merasakan sesuatu yang lebih istimewa. ‘Plain’ aja gitu. Gak melibatkan emosi yang lebih (hmm… gue sih khususnya). Karena apa yang ada di dalam buku ini, gak jauh berbeda dengan yang ada di buku 9 Summer 10 Autumn. Plek.. plek… nyaris sama. Nyaris gue skip bagian Bayek di New York. Soalnya, ya udah tau sih ceritanya kaya’ apa. Yah, tanpa perlu penasaran, pembaca bakal tau lah, siapa sosok Bayek ini.

Kembali di bagian akhir, gue kembali terharu… karena di menjelang bagian akhir ini, cerita lebih ‘bergelombang’, gak datar-datar aja.

Gue sebenernya suka sama tulisannya beliau, tapi sayang, emotionless gitu. Mungkin yang berasa ada ‘sesuatu’ hanya penulisnya aja. (hehehe.. lagi-lagi gue sok tau).

Tentang ‘Buku Keluarga’, gue jadi teringat pada sosok almarhum Om gue, yang juga menulis dan mendokumentasikan cerita tentang keluarganya – tapi emang gak dipublikasikan sih, hanya untuk keluarga aja

3 comments:

Astrid said...

wahh udah baca aja fer, cepet amat =D gue yang 9 summers aja blum baca sampe skrg..formulanya sama ya? plis jangan kayak andrea hirata donk mas iwaaaan...

putriutama said...

Kayaknya mas Iwan Setyawan memang emotionless lah. Karena bagiku walaupun 9 Summer 10 Auntums itu lumayan inspiratif, tapi nggak terlalu terasa kerasnya perjuangan mas Iwan...

Ibuk ini juga gitu yah???

ferina said...

@astrid: gue baru sekali baca bukunya Andrea Hirata - yang 11 patriot itu. sempet baca laskar pelangi sedikit... tapi, koq males nyambung lagi.. :D

@putri: iyah, di buku pertama.. oke, masih inspiratif. tapi buku kedua, buat aku rada gak 'konsisten' aja, mau ceritain tentang Ibuk-nya atau tentang dia sih :D

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang