Thursday, February 09, 2012

Harmoni dalam “?”


Harmoni dalam “?”
Melvy Yendra & Andriyati
Penerbit Mahaka, Cet. I – Desember 2011
344 hal.
(hadiah ulang tahun dari temen kantor)

Ada beberapa kisah dalam novel ini yang dirangkum menjadi sebuah rangkaian yang pada akhirya saling berhubungan. Mmm… mirip-mirip film Crash. Di mana banyak cerita di antara orang-orang yang saling berhubungan.

Kisah pertama dari Rika yang baru saja menjanda karena tidak mau dipoligami. Cobaan yang menimpanya membuat keyakinannya sebagai pemeluk agama Islam goyah dan ia menemukannya di dalam agama Katolik. Ia pun pelan-pelan belajar untuk meyakini agama barunya dan berusaha menerima pandangan sinis dari orang-orang di sekitarnya.

Lalu, ada Surya, seorang pemeran figuran, tapi seringnya menganggur. Diusir dari tempat kosnya, disindir karena kedekatannya dengan Rika. Ia mendapatkan hidayah setelah membantu Rika di acara Paskah dengan berperan sebagai Yesus.

Cerita lain adalah tentang Koh Tan - yang mempunyai rumah makan bernama Canton Chinese Food. Ia dan istrinya sangat menghormati pegawai dan pelanggan mereka yang beragama Islam. Di rumah makan itu, memang menyediakan dua pilihan menu – yang halal dan tidak halal. Tapi, ia memisahkan peralatan masaknya. Ia memberi kebebasan bagi karyawannya yang Muslim untuk beribadat.

Ada Menuk dan ibunya yang terpaksa bekerja di restoran Koh karena tuntutan ekonomi. Meski hati kadang berat, tapi terpaksa.

Ada Hendra, anak Koh Tan, yang jatuh hati pada Menuk. Tapi cintanya ditolak karena Menuk lebih memilih Soleh.

Lain lagi, Soleh yang terpaksa menggantungkan hidupnya pada Menuk karena tak kunjung memperoleh pekerjaan.

Ini adalah potret sebagian kecil masyarakat Indonesia. Dengan berbagai perbedaan, mereka berusaha menjembataninya. Mereka hidup rukun dan damai. Meski diterpa sindiran, kesinisan, tapi toh, karena keyakinan mereka tetap lapang dada.

Di buku ini juga diceritakan adanya provokator yang berusaha merusak apa yang sudah berjalan dengan baik. Persis seperti baca Koran, ada berita pembunuhan seorang pastur, penyerangan restoran Koh karena gelap mata, ada juga teror bom di gereja. Rada klise sih ceritanya, tapi menarik untuk tetap dibaca. Yah, ada beberapa typo-typo sih. Tapi, gue lumayan suka dengan tokoh-tokoh di sini. Gak ada yang terlalu baik, dan gak ada yang terlalu jahat. Menarik mengikuti konflik ‘batin’ di dalam diri para tokoh.

4 comments:

desty said...

ini yang di-filmkan itu kan?

okeyzz said...

Ini yg dijadiin film Tanda Tanya ya kan mba.. aku suka bgt sama plotline banyak cerita berbeda yg saling berhubungan :D

Astrid said...

eh fer, ini bukan yang ada filmnya kan ya? yg sempet kontroversial tuh? kayanya ceritanya mirip, judulnya kalo ga salah "?" btw novel kaya gini masi rada jarang ya di indonesia, bagus juga biar lebih terbuka..

ferina said...

@desty, @okeyzz, @astrid: ooo, ada film-nya ya? hehehe.. baru tau :D, tapi novelnya oke koq

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang