Friday, February 10, 2012

Ayahku (bukan) Pembohong

Ayahku (bukan) Pembohong
Tere-Liye @ 2011
GPU – Cet. V, Januari 2012
(Gramedia Plasa Semanggi)

Dam adalah seorang anak yang dibesarkan dengan kisah-kisah menakjubkan yang diceritakan oleh ayahnya. Kisah-kisah itu adalah kisah saat ayah Dam masih muda. Jika diperhatikan, kisah itu mirip dengan dongeng, yang patut dipertanyakan kebenarannya. Sebut saja cerita ayahnya yang katanya berteman akrab dengan pemain sepak bola dunia yang dikenal sebagai Kapten, atau tentang layang-layang raksasa suku Penguasa Angin dan kisah tentang petualangan ayah Dam di Lembah Bukhara, atau ayah Dam yang berteman dengan seorang hakim di luar negeri yang dikenal dengan julukan si Raja Tidur.

Bagi Dam kecil, kisah-kisah itu memacu semangatnya. Meski kerap diejek oleh teman-teman sekolahnya, kisah itu menjadi ‘alat’ Dam untuk dianggap lebih oleh temannya yang sombong bernama Jajrit.

Tapi ayah Dam sering kewalahan mana kala Dam bersikeras ingin berkenalan dengan Sang Kapten. Dam ingin mengirim surat untuk Sang Kapten, bahkan bersalaman saat mereka menyaksikan pertandingan persahabatan antara tim sepak bola Sang Kapten dengan tim Indonesia.

Namun perlahan, saat Dam semakin dewasa, ia mulai mempertanyakan kebenaran kisah-kisah itu, yang selalu berujung pada pertengkaran Dam dengan ayahnya. Puncaknya, saat ibu Dam sakit keras dan meninggal dunia, Dam pun berhenti percaya akan kisah-kisah tersebut. Dan sejak saat itu pula, hubungan Dam dengan ayahnya merenggang.

Saat dewasa dan sudah berkeluarga, Dam berusaha sebisa mungkin tidak ‘mencemari’ pikiran anak-anaknya dengan kisah itu. Ia marah dan terganggun kala ayah Dam mengulang kisah tersebut kepada cucu-cucunya.

Sebenarnya tanpa Dam sadari, kisah-kisah itu mempengaruhi jalan hidupnya. Dam yang berprofesi sebagai arsitek, sering membuat desain bangunan berdasarkan imajinasinya dari kisah-kisah ayahnya. Bahkan, ia berhasil menjuarai lomba renang karena ia berkaca pada semangat sang Kapten. Tapi, rasa angkuh membuatnya tidak mau mengakui semua itu kala dewasa.

Penasaran dengan tulisannya Tere-Liye, apalagi katanya, di goodreads.com, rating-nya cukup tinggi. Buku-bukunya juga udah lumayan banyak, sebut aja Hafalan Sholat Delisa yang udah dibuat film-nya. Ini buku pertama beliau yang gue baca.

Ceritanya sederhana aja, mengalir dengan tenang, gak banyak kejutan-kejutan. Tapi, isinya lumayan ‘dalem’. Tentang hubungan orang tua dan anak, tentang apa sih arti ‘bahagia’ itu. Gue jadi pengen biar bisa rutin bacain cerita buat Mika tiap malem. Bukan hanya biar gue deket sama Mika, tapi biar Mika juga bisa punya imajinasi yang semoga berguna untuk dia saat dewasa nanti – seperti Dam.

Bagian yang rada menggangu sih, adalah tentang Jarjit yang tajir itu, yang sekolah di Inggris dan temenan sama pangeran Inggris sana. Rada berlebihan sih buat gue. Selebihnya, oke lah.

8 comments:

Asriani Purnama said...

Akhirnya beli bukunya. hehe. Padahal dulu pengen swap buku ini dengan buku di list for swap mba Ferina. :D

Pengen baca buku ini secepatnya.

helvry said...

dan aku baru tahu kalau tere liye itu cowok :)

ferina said...

@Ally: ceritanya bagus koq. aku malah pengen cari bukunya yang lain

@Helvry: sama.. aku juga baru tau :D

-ka said...

buku iniii...endingnya sukses bikin mataku banjir
T_T

ferina said...

@-ka: betul.. ending-nya bikin pengen langsung peluk bokap :)

Tanam Ide Kreasi said...

Sesungguhnya ikatan cinta kita pada ayah adalah sebuah cinta tanpa prasyarat. Kita boleh punya riwayat panjang perselisihan dengan ayah kita. Kita boleh tak bersepakat dengan ayah kita, kita boleh pula tak sama tindakan dengan ayah kita, asalkan kita tidak menafikan adanya cinta yang menyatukan hubungan ayah dan anak.

Ini kesan saya untuk buku Darwis yang satu ini.

Asep Saepurohman said...

ah saya jga jadi pengen beli :D

ferina said...

@Tanam Ide Kreasi: buat aku, cinta kepada siapa pun itu tanpa syarat... terlebih kepada orang tua.

@Asep: segeralah beli, mas :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang