Thursday, February 16, 2012

Delirium


Delirium
Lauren Oliver @ 2011
Vici Alfani Purnomo (Terj.)
Mizan, Cet. 1 - Desember 2011
518 hal.
(Gramedia Plaza Semanggi)


Hal yang paling mematikan dari yang mematikan: cinta akan tetap membunuhmu, tak peduli apakau kau memilikinya atau tidak.
[hal. 11]

Hati adalah benda yang paling rapuh. Karena itu, kalia harus sangat berhati-hati
[hal. 16]

Amora Deliria Nervosa – nama yang cantik untuk sebuah penyakit. Sudah 64 tahun lamanya, sejak Pemerintah Amerika Serikat mengidentifikasi bahwa cinta adalah penyakit yang mematikan, oleh karenanya harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Segala hal yang berbau-bau ‘percintaan’ atau yang menjurus ke arah itu pun dilarang. Musik-musik, puisi, buku-buku roman dilarang, karena mengandung kata-kata dan ide-ide yang berbahaya. Diseleksi dengan ketat. Kalau pun ada kisah Romeo & Juliet di buku pelajaran, itu adalah sebuah peringatan bahwa cinta itu berbahaya, bukan untuk menunjukkan keindahan cinta. Jika sepasang muda-mudi kedapatan sedang berduaan, mereka akan segera ditangkap.

Untuk mencegah penyakit cinta ini, di usia 18 tahun, setiap orang akan melalui sebuah prosedur yang akan membuat mereka terbebas dari rasa cinta. Diawali dengan serangkaian tes sebelum akhirnya melewati prosedur itu. Di dalam laboratorium, mereka akan ‘dibedah’ dan kemudian akan kembali seperti manusia baru yang akan lupa dengan masa lalu mereka. Mereka akan jadi manusia ‘statis’ tanpa emosi, pasangan hidup pun sudah diatur. Hubungan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik, hanya status, tanpa ada rasa kasih sayang.

Semua orang yang sudah melewati prosedur itu berkata hidupnya akan lebih bahagia dan tenang. Karena semua yang dilakukan pemerintah adalah untuk melindunig rakyatnya dari bahaya penyakit itu.

Ada orang-orang yang menolak untuk menjalani prosedur itu, hingga akhirnya mereka kabur melewati daerah Portland. Mereka disebut kaum Invalid atau Simpatisan, dan tinggal di luar perbatasan, di daerah Alam Liar. Mereka yang berhasil ditangkap dijebloskan ke penjara bernama Kriptus.

Lena Haloway, sedang dalam penantian menunggu prosedur itu. Sebagai gadis remaja, Lena sedang dalam masa bersenang-senang dengan sahabatnya, Hana. Meskipun ia masih tetap berhati-hati, tetap berlaku baik, tidak melanggar jam malam dan batas-batas lainnya.

Tapi, saat ia berkenalan dengan Alex Sheates, semuanya berubah. Awalnya, Lena piker Alex sudah ‘disembuhkan’, dengan melihat tiga titik bekas suntikan di lehernya. Aman untuk berdekatan dengan orang-orang yang sudah disembuhkan. Bersama Alex, Lena merasakan yang namanya gejala-gejala ‘penyakit’ cinta ini. Lena ingin memberontak, ingin lepas dari prosedur yang sudah menantinya.

Membaca buku ini, gue merasa menonton film bernuasa ‘kecokelatan’ atau ‘sephia’. Hehehe.. entahlah kenapa begitu. Gue merasa tokoh-tokohnya bermuka datar, tanpa emosi. Sementara yang berwarna hanya para remaja yang belum mengalami proses penyembuhan. Dan begitu masuk ke Alam Liar, baru warna-warna mulai muncul.

Apa ya rasanya hidup di dunia seperti itu? Dunia yang tanpa emosi? Mengerikan banget. Rasanya pasti dingin.

Buku ini menarik perhatian, sejak gue membaca sinopsisnya.Gue tau buku ini dari rubrik di Free! Magazine yang memilih buku ini jadi salah satu buku favorit di tahun 2011. Seperti Romeo & Juliet, buku ini mengisahkan kisah cinta yang ‘tragis’.

Tapi ya.. setelah membaca buku ini, masih ada pertanyaan yang tersisa – entah mungkin terlewat sama gue atau gimana… kenapa sih tiba-tiba Pemerintah Amerika mengkategorikan Cinta sebagai penyakit? Awal mulanya koq gak diceritain ya?

Satu lagi yang rada gak sreg sih, cover-nya hehehe…

Gak sabar menunggu lanjutan buku ini, semoga segera diterjemahkan.

5 comments:

orybun said...

baca resensi delirium kok malah kebayang seri Ugliesnya Mata**ti ya. Cuma bedanya kalo di Uglies, yg disembuhkan itu "kejelekan" rupa manusia.
jadi penasaran, pengen cepet baca delirium. *bukunya masih nyelip ditimbunan

ferina said...

@orybun: aku belum baca Uglies. cari pinjemin ah..

Maya Floria Yasmin said...

kemarin aku iseng baca2 buku psikologi abnormal di perpus kampus dan nemu kata 'delirium', ternyata itu salah satu kelainan dalam psikologi, cuman aku lupa kelainan yg bgaimana :D

cover dari luar lebih bagus ya mbak :) cuman harganya mahal :(

okeyzz said...

Iya, sebelas dua belas mirip uglies.
*padahal blm baca uglies juga*

Mungkin ada sekuelnya kali mba, dan disana bakal dijelasin..

ferina said...

@maya: emang, aku rada gak suka dengan cover buku ini.

@okeyzz: emang ada sekuel-nya, mudah2an cepetan diterjemahin

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang