Friday, February 19, 2016

Hujan


Hujan
Tere Liye
GPU – Januari 2016
320 Hal.

Suatu pagi yang tampak normal … seorang anak yang bangun kesiangan, ibu yang terlambat bekerja karena harus mengantar anaknya ke sekolah dulu, kesibukan biasa di pagi hari … orang-orang yang berangkat bekerja, anak-anak semangat sekolah setelah liburan.

Pagi, ketika dunia dihebohkan dengan kelahiran penduduk ke 10 milyar. Dunia tahun 2042, dengan peralatan yang serba canggih – jam digital yang ditanam di kulit, telepon seluler yang menempel seperti anting-anting, kendaraan super cepat dan semua fasilitas canggih lainnya.

Tapi, dalam hitungan detik, semua fasilitas canggih itu lumpuh, ketika gempa bumi yang sangat dasyat terjadi. Gempa bumi yang menghancurkan dua benua. Lail, gadis berusia 13 tahun, langsung kehilangan ayah dan ibunya. Beberapa menit sebelumnya, ia masih bercanda lewat telepon dengan ayahnya yang berkerja di negara lain, ia masih menggandeng tangan ibunya, yang menemaninya berangkat ke sekolah.

Lail diselamatkan oleh seorang anak laki-laki bernama Esok, yang juga kehilangan 4 orang kakaknya dalam bencana itu. Ibu dan kakak esok terkubur di reruntuhan kereta bawah tanah.

Sejak hari itu, Esok menjadi sosok penting dalam hidup Lail. Esok yang selalu menemani Lail, hingga mereka berpisah ketika Esok diangkat menjadi anak asuh Wali Kota setempat. Esok yang cerdas sibuk dengan proyek rahasianya, Lail dan Maryam – sahabat barunya, sibuk dengan sekolah perawat dan kegiatan sebagai sukarelawan.

Sementara itu, iklim di bumi berubah drastis. Salju tiba-tiba turun di negara subtropis, disusul musim panas yang tanpa akhir.

Cover novel dengan warna biru favorit gue ini, jadi pilihan gue ketika tanpa tujuan mondar-mandir di Gramedia. Judulnya yang pas banget dengan musim saat ini. Bercerita tentang seorang gadis, yang masih muda, penuh semangat, tapi justru di dalamnya menyimpan begitu banyak kesedihan, sampai-sampai ia datang sebuah tempat di mana ia ingin membuang semua kenangan-kenangan pahitnya.

Kisah persabatan Esok dan Lail disajikan begitu mengalir. Kisah romance rasa science-fiction … Tentang persahabatan, tentang perjuangan dan juga tentang belajar menerima. Kadang kenangan itu memang gak selamanya harus manis dan indah kan … tapi tinggal gimana kita menerimanya …

Tapi ya, biasa deh, pasangan Esok dan Lail ini yang kadang bikin gemes kalo baca novel … antara mau-mau, tapi gak mau .. antara mau tahu, tapi malu dan gak enak. Gue malah lebih suka tokoh Maryam, si gadis berambut kribo, yang selalu penuh semangat dan ceria, mengimbangi Lail yang kadang suka ngelamun ini.

Marilah kita berkhayal tentang bumi dengan kendaraan yang bisa terbang, dan semua yang serba digital – dengan satu kartu, berguna untuk semua fasilitas. Tapi .. minus musim panas tanpa henti, langit tanpa awan, dan hujan yang mungkin gak akan pernah turun lagi.

Tapi ya, dari Tere Liye ini demen banget mengambil latar belakang bencana ya? Di Hafalan Sholat Delisa - ada tsunami Aceh, lalu Sunset Bersama Rosie, ada peristiwa Bom Bali. Dan yang ini gempa bumi ... 

2 comments:

Ila Rizky said...

udah baca juga buku ini. :D maryam emang tengil tapi bikin suasana jadi seru, hehe :D aku ngebayangin pas Lail dan Maryam lari di tengah hujan buat ngasih peringatan bencana, bener2 heroik.

adin dilla said...

Buku ini keren banget. Ngajak memainkan ilusi dengan kemajuan teknologi di tahun yang belum dilalui. Ditambah kisah kemanusiaan yang selalu mengena khas Tere Liye.

http://hapudin.blogspot.co.id/2016/02/buku-hujan-by-tere-liye.html

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang