Wednesday, September 04, 2013

The Empress of Ice Cream



The Empress of Ice Cream (Semanis Es Krim)
Anthony Capella @ 2010
Gita Yuliani K. (Terj.)
GPU, Juni 2013
552 Hal.
(via @HobbyBuku)

Carlo Demirco hanyalah seorang bocah biasa dari keluarga miskin. Saat berusia 7 tahun, ia diambil oleh Ahmad dan dijadikan pesuruhnya. Ahmad ini adalah pembuat sherbet keluarga Medici. Semua yang dilakukan Ahmad bersifat rahasia. Tapi Demirco mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap es, hingga ia harus kehilangan jari tangannya karena terlalu lama dikurung dalam ruang penyimpanan es. Tapi, itu tidak membuatnya kapok. Demirco kerap melakukan percobaan dengan bahan-bahan yang dimiliki Ahmad. Dan ketika beranjak remaja, Demirco bertemu dengan Lucian Audiger, pria Prancis yang ingin menjadi confectioner – menurut ‘hemat’ gue, adalah pembuat makanan penutup, hidangan yang manis-manis.

Maka, Demirco pun lari meninggalkan Florence dan pergi  bersama Lucian ke Perancis. Lewat sogokan, relasi, diplomasi dan biaya yang mahal, juga perjuangan yang ulet, akhirnya keahlian Demirco diakui oleh Louis XIV, sang Raja Perancis. Nah di jaman itu, suguhan manis-manis tampaknya jadi suatu hal yang mewah dan hanya bisa dinikmati oleh para raja. Dan hanya raja juga yang berhak menentukan siapa yang ingin ia ajak untuk menikmati suguhan istimewa itu.

Lama-lama Demirco jadi terlena dengan kehidupan yang serba mewah dan bebas itu. Tapi, ketika ia bertemu dengan salah satu dayang-dayang ratu, bernama Louise de Karoulle, ia pun jatuh cinta dan berniat mengawininya, tapi sayangnya, cintanya ditolak.

Dan ketika  Louis XIV ini ingin membujuk Raja Inggris, Charles, agar menandatangani sebuah perjanjian penting yang akan menguntungkan Perancis, maka diutuslah Louise dan Demirco untuk membujuk dan memperngaruhi Charles. Louise, tentu saja dengan kecantikannya, dan Demirco dengan keahliannya dalam membuat es krim, yang ketika itu belum populer di Inggris.
 
Louise de Kerroualle - via http://www.gogmsite.net/
Raja Charles II - via Wikipedia
Louise digunakan untuk kepentingan politik. Ia harus berhasil membuat Charles tergoda, mengorbankan kehormatannya demi keberhasilan misi Raja Louis XIV. Louise dibenci, dihina, harus bersaing dengan para gundik raja yang lain. Louise, dari seorang gadis polos berubah menjadi perempuan yang berpengaruh. Ia mengumpulkan berbagai harta, membuat beberapa keputusan yang penting. Orang-orang banyak yang membencinya, seorang gundik raja yang juga artis pangung bernama Nell Gwynn, terang-terangang mengolok-olok Louise dalam setiap peran yang ia mainkan. Tapi, Louise tetap tenang.

Nell Gwyn - via Wikipedia
Dan sementara itu, Demirco harus selalu membuat hidangan es yang istimewa. Ada satu titik, di mana akhirnya, ia harus kecewa, karena dipermainkan oleh Louise. Kejadian ini yang menjadi titik balik, dan membuatnya sadar, bahwa inilah saatnya ia benar-benar harus membuat keputusan untuk masa depan yang selanjutnya. Tak peduli, bahwa hidupnya selama ini tergantung pada orang-orang yang sangat berpengaruh.

Apa yang istimewa dari buku ini? Terus terang, gue sempat merasa gak nyaman membaca buku ini. Di jaman itu tuh, rasanya bukan hal yang aneh ketika raja punya banyak pasangan. Satu istri sah, tapi selir atau gundiknya di mana-mana. Bahkan, juga  bukan rahasia kalau perempuan berhubungan dengan laki-laki lain yang bukan suaminya.

Udah gitu, raja ini boros banget ya. Pesta-pesta, judi, belum lagi hadiah-hadiah mewah, istana, apartemen mewah dan berbagai kemewahan lainnya. Dan si Raja Charles ini dikatakan bukanlah laki-laki yang setia. Untuk itu Louise perlu menjaganya, agar tidak berpaling ke perempuan lain. Sekali raja berpaling, berarti kedudukannya juga terancam. Yang pasti demi kepentingan politik, perempuan jadi umpan.

O ya, yang istimewa, setidaknya buat gue, adalah membayangkan proses pembuatan es krim itu. Gila ya, jaman dulu itu, ternyata nanas adalah buah yang sangat istimewa. Gue merasa geli ketika orang-orang jadi norak pas pertama kali mereka ngeliat buah nanas.

Lewat sosok Hannah, seorang pelayan di tempat Demirco menginap, kita akan menemukan seorang perempuan yang keras, tapi punya pendirian. Dia tahu apa yang harus ia putuskan agar ia bisa mendapatkan sebuah kebebasan, untuk menjadi manusia yang bebas tanpa terikat dengan berbagai embel-embel.

“Yang lebih baik yang bisa kuinginkan? .. ”Kerajaan tanpa raja. Gereja tanpa gereja. Negeri di mana tidak ada ikatan kewajiban ; tidak ada kewajiban mengenai hak milik, hak istimewa, ataupun kelahiran. Tempat di mana tidak ada manusia terlahir dengan sanggurdi di punggungnya agar manusia lain dapat menungganginya. Tempat setiap laki-lali bisa memilih cara beribadahnya ; dan setiap perempuan juga, dan hukum satu-satunya yang kami patuhi adalah yang tertulis dalam hati kami. Jika kami butuh pemimpin, kami akan memilih mereka. Jika kami butuh undang-undang, kami akan membuatnya sendiri.”

(hal. 522)

3 comments:

orybun said...

maish ditimbun ._. tapi mau segera bacaaa

Azia Azmi said...

masuk wishlist ku nih.. Klo buat ku novel2nya Anthony Capella tipikal buku yang dibaca tp ga dikoleksi. Mbak Fer, boleh pinjem ga? Hihihi..

ferina said...

@orybun: buruan dibaca

@Azia: mau pinjem... boleh.. :)

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang