Thursday, January 12, 2012

Clara’s Medal


Clara’s Medal
Feby Indirani @ 2011

Penerbit Qanita - Cet. 1,2011
484 hal.

“Ketika kita melangkah dan memulai, segala sesuatu di sekeliling kita pun akan berubah dan mengatur ulang diri mereka”
(hal. 380)

Enam belas peserta ditempa oleh sebuah lembaga pelatihan FUSI – Fisika Untuk Siswa Indonesia. Mereka adalah siswa-siswa terpilih dari berbagai daerah untuk kemudian menjalani seleksi tahap akhir menuju Olimpiade Fisika. Latar belakang dan motifasi mereka juga berbeda-beda. Pelatihan itu berjalan selama 5 bulan, yang diisi dengan berbagai pelatihan, praktek dan tes-tes. Hanya 12 orang yang terpilih pada akhirnya. Untuk itu semua harus bekerja ekstra keras agar tetap dalam posisi aman.

Tapi, perjalanan itu tidaklah mulus. Mental dan fisik terus diuji. Kelelahan bukan hanya dari segi fisik, tapi juga mental. Kejenuhan diisi sekreatif mungkin, seperti yang dilakukan salah satu peserta bernama Khrisna, yang mendemokan sebuah percobaan di Panti Asuhan yang ada di dekat asrama mereka. Sebuah cara sederhana yang membuat anak-anak kecil tertarik, sebuah awal untuk memperkenalkan fisika sebagai sebuah pelajaran yang asyik bukan yang membosankan.

Namun, kejadian yang menimpa Bagas karena kasusnya meng-hacker situs kepolisian, membuat suasana jadi semakin tegang. Bagas pun ditahan dan terancam gagal mengikuti Olimpiade itu, padahal ia termasuk salah satu anak yang kerap ada di posisi atas. Hal ini juga membuat para sponsor menarik dukungan mereka untuk memberi dana. Padahal memberangkatkan 12 anak ke Singapura butuh dana yang sangat besar. Kasus ini mencoreng nama baik lembaga FUSI.

Yang menarik, adalah motivasi para peserta dalam mengikuti seleksi ini. Yang paling membuat gue terharu adalah cerita Meddy, peserta asal Ambon, yang mempersembahkan usahanya ini untuk kakak tercintanya yang tewas dalam kerusuhan di Ambon. Atau yang mengundang senyum seperti cerita George. Memang sih gak semuanya diberi porsi bab khusus dalam buku ini, tapi lewat keseharian mereka, terungkap latar belakang mereka masing-masing. Semangat mereka bisa jadi contoh untuk anak-anak muda yang lain. Meskipun juga seperti Clara, anak salah satu pentolan FUSI dan kerap dipandang sebelah mata karena dianggap mendapat banyak kemudahan. Tapi, toh, ia tetap maju terus, ingin membuktikan ia bisa karena dirinya sendiri, bukan karena nama besar ayahnya.

Lalu apa hubungannya dengan ‘Mestakung’ – istilah SeMESTA MenduKUNG ini diperkenalkan oleh Profesor Yohanes Surya, seorang fisikawan dan Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Gue menjabarkan menurut kesimpulan gue ya, bahwa saat kita punya keinginan yang kuat, alam bawah sadar kita akan bereaksi dan memberikan ‘dukungan’ bagi kita untuk mewujudkan keinginan itu. Dan saat terbentur dalam kesulitan dan masalah, keinginan yang kuat akan membuka jalan bagi kita untuk mencapai cita-cita kita. Secara tak sadar pula, di sekeliling kita akan ‘membantu’ kita Kerja keras dan ketekunan itulah yang dibutuhkan. Jadi mungkin dalam peribahasa-nya, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Lalu, apa sih sebenarnya tujuan mereka: ingin menyumbang prestasi untuk Indonesia atau ‘sekedar’ menjadi juara dan mendapatkan medali?

Fisika adalah mata pelajaran yang paling menyebalkan buat gue. Fisika yang membuat raport gue saat SMA berhiaskan warna merah. Gue gak pernah ‘nyambung’ dengan pelajaran fisika. Pusing dengan rumus-rumus, pusing dengan berbagai istilah, Bagi gue, orang yang pinter dan jagoan fisika itu ciri-cirinya berkacamata tebal seperti pantat botol (ehm.. kacamata gue tebel tapi gak pinter fisika.. hehehehe), rambut berponi, muka culun dan kalo istirahat, gak pernah keluar kelas, sebal dengan pelajaran olahraga. Yah.. meskipun ternyata, temen-temen gue yang jago fisika juga gak gitu-gitu amat sih ciri-cirinya, tapi tetap aja, gue gak pernah menghilangkan image itu dari benak gue – yang mungkin juga ada di pikiran orang lain.

Membaca buku Clara’s Medal, membuka ‘mata’ gue tentang fisika, membuat gue memandang fisika dari kacamata yang berbeda, dari sudut yang baru. Di buku ini, tak ada anak-anak yang berciri-ciri seperti yang gue gambarkan. Mereka ternyata kalau tampak luar seperti anak remaja gaul. Liat Clara – satu-satunya peserta perempuan di dalam tim yang akan diberangkatkan untuk mengikuti Olimpiade Fisika, dia cantik, suka baca chicklit juga. Atau, peserta laki-lakinya ternyata gemar sepak bola, basket, juga seneng main game dan baca komik. Perbedaanya adalah karena mereka sangat jagoan di bidang fisika. Mereka menguasai fisika di atas rata-rata anak-anak SMU lainnya.

Buat para guru fisika, coba jangan terpaku dengan rumus. Bingung kalo harus menghapal rumus terus, karena terkadang kita gak punya bayangan. Coba tuh kaya’ papanya Clara, bikin percobaan sederhana, dijamin anak-anak SMU yang tukang tidur di kelas atau yang duduk di bangku belakang, bakalan tertarik dan minta diajak bantuin percobaan.

Buku ini adalah buku Feby Indirani pertama yang gue baca. Buku yang gak hanya bercerita tentang kerja keras, tapi juga memberi motivasi. Semuanya dituturkan dengan lancar, tak perlu bercerita khusus tokoh-per-tokoh, tapi mampu membuat gue mengenal mereka (terutama para tokoh utama). Ada romansa khas remaja, ada keisengan sama ada juga sabotase. Kegugupan dan ada juga rasa tertekan.

Kalau membaca cover di belakang buku ini, gue sempat berpikir ceritanya bakalan terpusat sama Bagas dan hubungannya sama Clara. Tapi justru, gak.. ini bikin satu nilai plus lagi di pandangan gue. Karena masing-masing tokoh punya ‘kasus’ sendiri-sendiri.

Tapi, gue menyayangkan ‘kejutan’ untuk para peserta yang justru lebih dulu ‘terbongkar’ di dalam percakapan Pak Tyo dan Bram, ayah Clara. Kaya’nya justru lebih asyik kalo sedikit lagi dirahasiakan. Sama satu lagi… cover-nya… rada kurang sreg aja… :D

4 bintang buat mbak Feby dan para peserta Fusi. Ditunggu ‘ledakan’ berikutnya.

Aw… panjang juga tulisan kali ini… hehehe…

*Buku kedua untuk Name in A Book Challenge 2012

8 comments:

okeyzz said...

Aku mau banget baca buku ini. Fiksi motivasi gini apalagi genre remaja pasti seru abis...

Udah mulai Name in A Book Challenge ya~ aku blm nemu bukunya nih :P

ferina said...

waktu itu gak ikutan daftar ke Om Tanzil ya?

kebetulan aja nih, ketemu buku buat challenge. setelah dibongkar2, ternyata ada beberapa yang pas

okeyzz said...

Aku nitip juga kok mba Fer. You know what, tepat setelah aku send komentar disini, paketnya datang. Haha~

Semoga bisa segera di review ya~
*derita lagi UAS*

A.S. Dewi said...

fiksi ya? sempat kirain beneran, abis di review bawa2 nama prof Yohannes Surya

ferina said...

@okeyzz: hahaha.. selamat baca ya :)

@AS.Dewi: ini fiksi. ceritanya terinspirasi sama Mestakung-nya Yohanes Surya, mbak

Althesia Silvia Koyongian said...

aku juga suka dengan cara feby bercerita..mengalir dan tidak membosankan ya..

coba klo zaman gue kuliah dulu, fisika diajarin dengan cara menyenangkan kayak di buku ini, pasti gue juga suka fisika deh..

nice review mba :)

ferina said...

@althesia: hihi, sama Esi.. andai dulu fisika diajarin kaya' begitu, pasti gak ada merah2 di raport-ku :D

ma kasih ya...

Asriani Purnama said...

buku ini koq nggak juga nyampe di rumah yah? padahal kemarin kan ikuta daftar ma rahib. XDDD

Esi ma mba Ferina suka. Aku jadi penasaran

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang