Tuesday, June 28, 2011

Sendratari Mahakarya Borobudur

Sendratari Mahakarya Borobudur
Timbul Haryono, Sutarno Haryono, Maryono & Soegeng Toekio
Penerbit KPG - 2011
142 hal.

Buku Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue peroleh dari hasil menang quiz di twitter. Buku ini terbagi dari 3 bagian.

Bagian pertama adalah sejarah Borobudur. Dari bagian ini, gue jadi tau, kalo Belanda gak hanya bisa ‘menjajah’ Indonesia, tapi justru ikut membantu di awal restorasi Candi Borobudur ini. Gue jadi bersyukur Borobudur ini gak dihancurkan meskipun saat itu sudah tertutup semak belukar dan dalam kondisi yang rusak.

Candi Borobudur menyimpan banyak filosofi. Dari relief-relief yang terpahat di dinding batu yang melingkar di Candi Borobudur, terlihat berbagai perilaku manusia plus hukuman yang menanti. Candi Borobudur dibangun atas perintah Raja Samaratungga. Saat itu keadaan kacau balau, kejahatan merajalela, saling menindas dan rakyat menderita. Untuk itulah, ayah Raja Samaratungga, merasa wajib untuk membawa rakyatnya ke jalan yang benar. Raja Samaratungga mengaplikasikan keinginan ayahnya ke dalam bentuk candi yang berisi ajaran-ajaran hidup.

Bagian kedua adalah tentang sendratari Mahakarya Borobudur itu sendiri. Tarian ini bercerita tentang riwayat pembangunan Candi Borobudur. Adegan per adegan terpapar dengan rinci di sini. Detail pakaian, aksesoris, musik, tata panggung dan cahaya. Semua dipersiapkan dengan matang, agar pada saat pementasan betul-betul menunjukkan kemegahan Candi Borobudur, dan juga sendratari itu sendiri.

Sementara di bagian terakhir, dijelaskan awal mula terbentuknya ide untuk pementasan sendratari ini. Selain untuk melestarikan budaya sendratari itu sendiri, juga ada keinginan untuk menjadikan Candi Borobudur ini ‘hidup’ di malam hari. Diharapkan dengan adanya sendratari ini, wisatawan baik domestik maupun luar negeri, akan memperoleh pengalaman baru dari kunjungan mereka ke Candi Borobudur.

Di bagian belakang buku ini, selain ada penjelasan tentang istilah-istilah yang dipakai dalam tarian-tariannya, juga ada foto-foto selama pementasan itu sendiri. Foto-fotonya cukup jelas, tapi menurut gue, akan lebih baik kalo disisipkan di bagian dua,. Jadi pembaca gak perlu bolak-balik untuk nyari penjelasan antara adegan yang ditulis dengan fotonya.

Gue membayangkan, seandainya gue bisa menyaksikan pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur ini, gue pasti bakal merasa merinding. Ahhh.. jadi pengen ke Borobudur lagi.

5 comments:

Althesia Silvia Koyongian said...

mba..cara penuturan penulisnya ngebosenin gak?

ferina said...

gak koq. dibacanya enak karena teratur penulisannya.

Fanda said...

Makin mupeng ama buku ini...

dweedy said...

Beruntungnya dapat hadiah buku :) saya gak pernah menang kalo ikutan quis :p

Sepertinya buku yang menarik :) Pengen punya juga tapi harus antri dengan buku-buku lain yang pengen saya beli :)

ferina said...

@Fanda: buruan dicari, atau berharap dapet buntelan dari kpg :D

@Dweedy: hehehe.. lagi hoki aja, mbak... sama koq, aku juga jarang2 menang kuis.

 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang