Showing posts with label What's In a Name Reading Challenge 2013. Show all posts
Showing posts with label What's In a Name Reading Challenge 2013. Show all posts

Monday, December 23, 2013

Wrap Up Post "What's in a Name Challenge" 2013




Masuk ke bulan Desember, waktunya bikin rekap untuk berbagai challenge yang gue ikutin. Yang pertama adalah What’s in a Name Challenge. Dari daftar-daftar buku yang di awal gue bikin, ternyata gak semua berhasil gue baca, tapi ada beberapa tambahan baru.

Ini rekapnya:

























Haa… ternyata hanya lebih dua buku untuk masuk ke kategori Level 4: Crazy about Name!! Di awal memang terlalu, amat sangat optimis. Ini pelajaran kalau ikutan Reading Challenge tahun depan untuk lebih ‘sadar diri’.

Thank you, Ren, yang udah bikin reading challenge ini…

Wednesday, October 30, 2013

The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry





The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry
Rachel Joyce @ 2012
Black Swan - 2013
383 hal
(Times Travel – Terminal 2 Changi Airport, Singapore)

Harold Fry, seorang pria berusia 60 tahun, menikmati masa-masa pensiun di rumah yang sudah ia tempati bersama istrinya, Maureen, sejak ia menikah di Kingsbridge. Kehidupan yang tenang, terlihat dari luar tampak harmonis. Meskipun tidak demikian dengan kondisi yang dialami oleh pasangan senja ini. Mereka sudah tidur berpisah kamar sejak lama, pembicaraan di antara mereka terkesan basa-basi, seperti hanya sebuah kebiasaan dan tanpa emosi.

Sepucuk kartu pos yang datang di pagi hari dari mantan rekan kerja Harold bernama Queenie Hennessy. Isi yang singkat, mengabarkan bahwa Queenie sedang sekarat tapi membuat Harold terkejut. Yah, mengingat mereka sudah lama tidak saling bertukar kabar. Ia pun memutuskan untuk segera mengirimkan kartu pos balasan. Di hari yang sama ia pergi ke menuju kotak surat terdekat. Tapi, dalam perjalanannya, tiba-tiba ia memutuskan untuk pergi menemui Queenie di Berwick dengan berjalan kaki. Ada sesuatu yang harus Harold sampaikan secara langsung kepada Queenie. Tanpa persiapan apa pun, hanya dengan pakaian yang melekat di badan, membawa uang yang secukupnya, tak membawa telepon seluler, peta atau pun perlengkapan lainnya.

Harold mengabarkan Maureen tentang rencananya ini. Tapi, yah, mendapat sambutan yang dingin, meskipun dalam hati, Maureen juga terkejut. Perjalanan yang harus ditempuh Harold sangat jauh. Pada awalnya, ketika uang masih cukup, ia akan menginap di penginapan yang ia temui, makan secukupnya. Tapi lama-lama, Harold memilih untuk tidur dalam kantong tidur di alam terbuka, makan dari apa yang ia temui di sekitarnya. Badan lelah, kaki lecet dan terluka.  

Perjalanan ini membawa banyak perubahan pada Harold dan Maureen. Di usia yang senja, menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ke sebuah kota yang letaknya di perbatasan antara Inggris dan Skotlandia. Harold dan Maureen sama-sama banyak merenung tentang hubungan mereka, tentang apa yang terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka, tentang anak mereka, David. Harold juga bilang, dengan berjalan kaki, ia bisa melihat sekitarnya, yang mungkin terlewati jika kita berjalan terburu-buru atau dengan kendaraan.

Harold adalah tipe orang yang gak tegaan dan sangat sopan. Ia akan menjawab apa pun pertanyaan orang, memenuhi permintaan orang lain, dan ia gak suka jadi pusat perhatian. Masa lalunya yang membentuk pribadi Harold menjadi seperti ini. Dalam perjalanan, Harold bertemu dengan banyak orang yang simpati dan banyak menawarkan bantuan untuk Harold. Tapi, ada juga orang-orang yang ingin menemani Harold tapi malah membuat ‘rusuh’ Ia senang mendapatkan teman seperjalanan, tapi pada akhirnya justru kesendirian yang membuat ia tenang. Publikasi besar-besaran malah dinikmati oleh orang lain.

Tokoh Harold Fry, adalah tokoh yang mampu membuat pembaca simpati. He was such a sweet old man. Dia gak mau mengecewakan orang, membuat orang gak enak, dan sepertinya nih, bakalan manis banget kalau sama perempuan. Liat aja, di perjalanan, ia sempat membeli berbagai souvenir untuk Queenie dan Maureen. Padahal kalo dipikir-pikir, udah deh, waktu ada tawaran buat naik mobil atau kendaraan lain biar cepat sampai, kenapa juga gak diterima. Gak perlu nyusah-nyusahin diri sendiri. Tapi, bukan itu yang dicari sama Harold, perjalanannya seolah jadi perjalanan rohani yang memberi inspirasi pada banyak orang. Banyak yang mengira bahwa Harold dan Queenie mempunya hubungan romantis, hingga Harold keukeuh melakukan perjalanan panjang itu.

Buku ini sederhana, tapi kaya’nya ada sesuatu yang bikin hati rasanya adem dan hangat pas bacanya (aih… apa sih ini kalimat gue?) Tentang seseorang yang begitu ngebela-belain jalan kaki… jauh… demi kalimat yang simple, tapi bakal bikin hidupnya damai setelah misinya tuntas. Ada banyak yang bisa dipelajari dari sosok Harold Fry ini, tentang sabar – ini udah pasti, karena kalo gak sabar, gak bakalan deh, perjalanan dari ujung ke ujung itu selesai, dan gak akan ia memilih jalan kaki kalau gak sabaran. Tentang mema’afkan dan berdamai dengan masa lalu. Tentang cinta dalam pernikahan yang senantiasa harus dijaga. Lalu, seperti yang Harold bilang, terkadang karena terlalu sibuk, banyak hal-hal kecil di sekitar kita yang terlewati.

Selain itu, gue suka dengan ilustrasi sederhana yang mengawali setiap bab.  

Tau gak sih, tadinya ya, waktu baca sinopsis di cover  belakang, gue bikin ini bakal jadi novel science fiction atau fantasi atau yang rada absurd, soalnya ditulis, “When Harold Fry leaves home one morning to post a letter, with his wife hovering upstairs, he has no idea that he is about to walk from one end of the country to the other.” Hihihi… kurang ‘nyimak’ ini judulnya. Tapi, gue menutup buku ini dengan puas. Maklum, kalo baca buku yang masuk ke dalam nominasi award apa gitu, suka ‘parno’ duluan, takut kalo bukunya bikin ngantuk dan berakhir aneh. Hehehe.. 

The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry menjadi salah satu buku yang masuk nominasi Man Booker Prize 2012, dan ini adalah  novel pertama Rachel Joyce.

Thursday, August 15, 2013

Harry Potter and The Deathly Hallows




Harry Potter and The Deathly Hallows (Harry Potter dan Relikui Kematian)
JK Rowling @ 2007
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Januari 2008
1008 Hal
Untuk anak 12 tahun ke atas
(via Yuni Zai)

Bingung mau nulis apa tentang buku ini. Buku pamungkas dari seri Harry Potter. Buku yang paling menguras energi karena tebal, menguras emosi karena di dalamnya begitu banyak bagian-bagian yang mencekam, yang bikin haru dan sedih.

Dari awal sudah beraura gelap. Voldemort dan abdi-abdi setianya, para Pelahap Maut semakin merajalela, Kementerian Sihir mereka kuasai, mereka memburu para keturuan Muggle, memata-matai orang-orang yang menentang Voldemort. Harry Potter, Ron dan Hermione memutuskan untuk tidak kembali ke Hogwarts, mereka lebih memilih mencari sisa horcrux untuk menghancurkan Voldemort.

Puncaknya adalah pertempuran di Hogwarts yang melibatkan para guru dan murid, melawan Pelahap Maut. Dan tentu saja bagian puncak yang sangat menegangkan.

Isi buku ini gak melulu penuh adegan kejar-kejaran antara ketiga sahabat ini dengan Pelahat Maut. Ada bagian di mana, kita diajak menelusuri masa lalu Dumbledore – seperti Harry Potter, yang antara percaya dan gak percaya membaca kisah yang ditulis Rita Skeeter. Banyak kebenaran yang terungkap, termasuk siapa Profesor Snape sebenarnya.

Berat banget jadi Harry Potter. Semua bertarung melawan Voldemort, banyak yang mengorbankan nyawa – hiks… teringat beberapa tokoh – guru yang nyentrik, pasangan yang sehidup semati, juga seseorang yang baik hati, lucu dan ceria yang turut jadi korban. Kalau mau sinis, siapa dia Harry Potter ini? Dia kan ‘cuma’ anak kecil yang kebetulan selamat dari kutukan Voldemort, dan seluruh negeri rela mati untuk menyelamatkannya. Tapi, Harry Potter bukanlah sosok hebat dan pintar seperti Hermione. Untung aja dulu dia dititipkan di rumah Uncle Vernon, hingga ia jadi orang yang rendah hati. Andaikata ia ada di lingkungan penyihir, bukan gak mungkin ia bakal jadi orang yang sombong.

Tapi udah ah, gue ‘cinta’ Harry Potter koq… itu hanya sekilas pikiran aja. Harry Potter masih menjadi serial buku favorit gue, yang udah beberapa kali gue baca, tetap gak ada bosennya. Berkali-kali nonton, malah bikin gue bernostalgia… berasa ‘mengikuti’ perjalanan hidup para pemeran Harry Potter, Ron dan Hermione… dari anak-anak culun jadi remaja yang ganteng dan cantik.

Kalo mau ditulis banyak banget yang berkesan – berkesan senang dan juga sebel … bagian 7 Harry Potter, ngebayangin Bellatrix yang ‘sinting’, atau tas doraemon Hermione – gila ya, sampe tenda aja muat dalem tas itu.. kenapa Harry gak ngumpet di sana aja ya? Heheheh… marahannya Hermione sama Ron, sampai di saat genting eh sempet-sempetnya ‘kissing’…. Tapi… kalo inget pemeran Ginny, kenapa gue gak rela banget ya Harry sama Ginny… kenapa Harry gak naksir Hermione?

Penasaran nih sebenernya, selama rentang tahun 19 tahun itu, Harry Potter ngapain aja? Kerjanya apa? Dan gimana kehidupan Hogwarts setelah pertempuran akbar itu? 

Rasanya gue jadi pengen mengarang-ngarang sendiri …


Tulisan ini dibuat untuk event:


Wednesday, August 14, 2013

Millie’s Fling






Millie’s Fling
Jill Mansel @ 2001
Tjiong Fei Fang (Terj.)
Elex Media Komputindo – Cet. I, 2013
538 Hal.
(buntelan dari Gramedia)

Putus dari pacar yang menyebalkan, malah membawa banyak hal baru bagi Millie Brady. Mungkin sebuah kebetulan yang menyenangkan ketika Millie yang sedang dirayu pacarnya itu, melihat Orla Hart yang sedang berdiri di pinggir tebing. Orla Hart adalah seorang penulis novel terkenal, dan tentunya ia tidak sedang menikmati pemandangan ketika itu. Untung saja, Millie melihat ada kejanggalan dan ia berhasil mengurungkan niat Orla untuk bunuh diri. Dua kejadian membuat Orla down, suami yang selingkuh dan buku terakhir yang diulas dengan nada negatif yang sangat kejam.

Bertemu Millie memberi ide baru bagi Orla. Ia membayar Millie untuk menceritakan kehidupannya sedetail mungkin sebagai bahan novel terbarunya, yang ia jamin akan berbeda dari novel-novelnya yang sebelumnya. Selain juga karena Orla ingin membalas budi Milie. Nah, kebetulan Millie sedang jobless, jadilah ia menerima tawaran dari Orla.

Orla tidak hanya tertarik dengan kehidupan sehari-hari Millie, tapi juga keluarga, teman-teman dan bahkan mencoba jadi mak comblang bagi Millie. Tapi, tanpa sepengetahuan Orla, Millie sudah tertarik pada seorang duda lewat perkenalan yang diawali dengan cara yang kurang menyenangkan.

Penggemar novel chicklit, romance yang ringan, tentu akan mudah menyukai buku Jill Mansel ini. Cover yang manis berwarna merah jambu, tokoh yang loveable, dan cerita yang ringan dan renyah. Penuh humor, yang bahkan disajikan dengan menarik pada saat sang tokoh sedang sedih.

Karakter di buku ini menyenangkan, ada Millie yang santai, lucu tapi gak konyol. Meskipun lagi down atau sedih, Millie tetap menghadapinya dengan santai.  Hugh Emerson, sang duda yang berjanji gak mau terlibat cinta begitu cepat, yang berkepribadian hangat. Lucas Kemp, si cowok sok macho dan sok playboy, Orla Hart yang begitu glamour, serta orang tua Millie yang ajaib, dan juga sahabatnya, Hester.

Mungkin nih, Orla dalam kehidupan nyata mirip seperti Barbara Cartland, ada Joan Collins mungkin, yang dalam novelnya berkisah tentang cinta para selebritis atau sosialita, yang lama-lama kehilangan sentuhan dan bikin orang bosen.

Cinta emang gak kenal tempat dan waktu, ketika gak dicari, tau-tau muncul aja gitu dengan cara yang tak terduga seperti Millie.

Buku pertama Jill Mansel yang gue baca, dan rasanya, gue pengen baca lagi buku-bukunya yang lain, kaya’nya pas buat weekend.

Monday, July 08, 2013

Liesl & Po




Liesl & Po
Lauren Oliver @ 2011
Kei Acedera (Ilustrasi)
Prisca Primasari (Terj.)
Mizan – Cet. I, April 2013
318 Hal
(Gramedia Grand Indonesia)

Semua bermula tiga hari setelah kematian ayah Liesl. Di malam itu, Liesl bertemu hantu bernama Po yang berwujud anak kecil dan Bundle, yang berwujud hewan. Liesl dikurung oleh ibu tirinya, Augusta, di kamar loteng. Ia tidak bisa melihat saat-saat terakhir ayahnya hidup, ia diperlakukan seperti ‘penyakit’. Ibu tirinya ingin menguasai harta warisan ayah Liesl. Lewat Po, Liesl ingin mengetahui kabar ayahnya di Dunia Lain.

Di malam itu pula, terjadi kesalahan yang dilakukan Will, murid Sang Alkemis, yang selalu dianggap tak berguna itu. Ia membawa sebuah kotak berisi sihir terhebat yang berhasil diciptakan Sang Alkemis. Tapi, ternyata tak sengaja kotak itu tertukar dengan kotak tempat abu ayah Liesl disimpan. Will sendiri kerap memandang Liesl dari seberang jalan, berharap bisa berkenalan dengan gadis itu.

Bersama Po, Liesl melarikan diri, menuju rumah masa kecilnya, membawa kotak kayu yang ia yakini berisi abu ayahnya. Ia ingin menguburkan kotak itu di bawah pohon willow. Sementara, Will juga melarikan diri dari Sang Alkemis dan Lady Premier yang murka kaena Will membawa kotak kayu yang salah. Dibantu Augusta, mereka mengejar Liesl dan Will dengan tujuan yang berbeda.

Ketika membuka buku ini, gue langsung ‘jatuh cinta’. Ada ilustrasi yang cantik, tapi kelam, mewakili isi cerita di buku ini. Bahkan cover-nya juga cantik, seperti kotak kayu yang jadi benda paling menghebohkan dalam buku ini.

Buku ini penuh dengan banyak kebetulan. Kalau di novel-novel romance, gue bakalan sebel dengan berbagai kebetulan. Liesl, Po dan Will adalah mewakili tokoh anak-anak yang polos, yang ‘teraniaya’, tapi punya kemauan yang kuat. Liesl, meskipun terkurung dan takut sama ibu tirinya, akhirnya berani keluar, untuk mencari tempat terbaik untuk mengubur ayahnya, Po – meksi datang dari Dunia Lain, mau repot-repot membantu Liesl, dan Will, terlalu sering dianggap tak berguna, hingga nyaris tak berani mengungkapkan pendapatnya, ia selalu takut ia akan ditangkap. Lewat mereka bertiga, disampaikan sebuah cinta dan kasih sayang yang tulus.

Sementara, Augusta, Sang Alkemis dan Lady Premiere adalah tokoh-tokoh orang dewasa yang tamak dan kasar. Bersedia melakukan apa pun demi harta dan kekuasaan, berusaha menyembunyikan masa lalu yang buruk.

Untuk Liesl & Po – dan juga untuk Will dan Bundle, gue gak ragu-ragu memberikan 5 bintang….

Monday, July 01, 2013

Harry Potter and the Half-Blood Prince




Harry Potter and the Half-Blood Prince 
(Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran)
JK Rowling @ 2005
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Januari 2006
816 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

Dengan semakin kuatnya Voldermort, perlindungan terhadap Harry Potter juga semakin diperketat. Menjelang tahun keenam di Hogwarts, Dumbledore sendiri yang bahkan turun tangan untuk menjemput Harry Potter, untuk kemudian diantar ke The Burrow. Aura kegelapan semakin kuat di dalam buku ini. Kondisi Dumbledore juga mengkhawatirkan – semakin ringkih, rapuh dan lelah.

Ada sebuah kejutan dalam ‘pengaturan’ guru-guru di semester ini. Akhirnya Profesor Snape mendapatkan posisi yang menurut rumor sangat diidam-idamkannya, yaitu sebaga guru Pertahanan terhadap Ilmu Sihir Hitam. Sementara itu, pelajaran ramuan diisi oleh seorang guru baru, bernama Profesor Horace Slughorn.

Bukan sebuah kebetulan kenapa Profesor Dumbledore meminta Profesor Slughorn untuk kembali ke Hogwarts. Selama ini Profesor Slughorn bersembunyi dari para pengikut Voldemort yang memintanya bergabung dengan Pangeran Kegelapan. Profesor Slughorn dulunya juga guru dari Voldermort.

Profesor Slughorn ini gemar ‘mengkoleksi’ murid-murid top – sebut saja tentunya Harry Potter. Ia gemar mengadakan pesta pribadi dengan murid-murid favoritnya ini. Harry Potter awalnya tidak berniat untuk mengambil pelajaran Ramuan di semester enam ini, tapi karena nilainya masih memungkinkan, ia pun ikut. Dan ia dipinjami buku milik ‘Pangeran Berdarah Campuran’ yang misterius, yang catatan-catatan kecil di buku itu sangat membantu Harry dalam pelajaran Ramuan. Tips and trick yang semakin membuat Harry jadi murid favorit.

Masa lalu Voldemort semakin terkuak di buku ini. Bagaimana awal mula ia dijemput oleh Dumbledore di sebuah panti asuhan, bagaimana ketika ia lulus ia ingin menjadi guru di Hogwarts dan mengapa ia begitu membenci ayah yang tak pernah ia temui itu.  Harry mengetahui hal-hal tersebut lewat sesi pribadinya bersama Profesor Dumbledore. Dan tak hanya itu, tugas Harry dari Profesor Dumbledore yang cukup berat, adalah membujuk Profesor Slughorn untuk membagi sedikit kenangannya bersama Voldemort, kenangan yang ingin ia lupakan. Di buku ini, Harry dan Profesor Dumbledore ‘memburu’ Horcrux, benda-benda yang digunakan Voldemort untuk ‘memecah-mecah’ jiwanya.

Sementara itu, kebencian Harry Potter terhadap Profesor Snape dan Draco Malfoy semakin menjadi-jadi, terutama ketika ia menyaksikan bagaimana Malfor berhasil meloloskan Pelahap Maut ke dalam Hogwarts, dan ketika ia harus menyaksikan sendiri pengkhianatan Profesor Snape tanpa bisa berbuat apa-apa.

Tapi… ada cinta yang sedikit memberikan warna merah jambu ada buku ini. Ada persahabatan yang semakin kuat antara Ron, Hermione dan Harry. Membaca cemburunya Hermione, deg-degannya Harry setiap ngeliat Ginny, jadi ‘pencair’ suasana yang tegang di dalam buku ini.

Semua tokoh di dalam buku ini semakin dewasa, tapi juga lebih temperamental atau mungkin emosional. Tapi, gue menyukai perkembangan yang gue lihat dari sejak gue baca dari buku pertama sampai buku ke enam ini.

Waktu dulu pertama baca buku ke enam ini, gue 'mengetahui' satu buku lagi, gue akan 'berpisah' sama Harry Potter. Ada rasa penasaran, siapa yang akan bertahan di akhir cerita. Seperti apa pertempuran terakhir antara Harry Potter dan Voldemort. Seperti apa Hogwarts setelah kejadian di akhir cerita buku ke enam ini....

Sesuati yang membuat gue jadi sedih, berpisah dengan tokoh cerita yang begitu 'melekat'...
 


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:

Event Fun Year WithChildren’s Literature yang dihost oleh B’zee

Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku

Tuesday, June 04, 2013

Harry Potter and the Order of Phoenix




Harry Potter and the Order of Phoenix (Harry Potter dan Ordo Phoenix)
JK Rowling
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – 2004
1200 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas


Akhir tahun ke empat di Hogwarts bagi Harry membawa kepada suasana yang semakin membuat tidak nyaman. Ia tahu bahwa Lord Voldemort sudah kembali dan mulai mengumpulkan para abdi setianya yang tergabung dalam Pelahap Maut. Tapi, nyatanya tak semua orang percaya akan hal ini.

Penjagaan terhadap diri Harry juga semakin diperketat. Harry dijemput oleh beberapa penyihir untuk kemudian dibawa ke Grimauld Place No. 12, tempat kediaman keluarga Black. Di sana sudah menunggu Sirius Black, keluarga Weasley dan Hermione. Grimauld Place No. 12 menjadi markas sebuah perkumpulan rahasia bernama Ordo Phoenix. Ordo Phoenix menjadi ‘wadah’ bagi para penyihir yang menentang Lord Voldemort.

Kembali ke Hogwarts, juga menjadi tidak menyenangkan. Selain banyak bisik-bisik miring tentang Harry Potter, Harry juga ‘sebal’ karena ketidakacuhan Dumbledore. Padahal banyak yang ingin dibagi Harry kepada kepala sekolah Hogwarts itu.

Tentuu saja, ada kursi kosong untuk mata pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Kali ini posisi tersebut diisi oleh sosok perempuan, yang hmm… sebenarnya sih ‘imut-imut’ karena suka dengan yang serba pink… pokoknya girly abis… meskipun ehem.. tidak didukung dengan raut wajah yang imut-imut juga… tapi… ketika dia mulai bertindak, berbicara, sosok Dolores Umbridge menjadi sangat menyebalkan – pengen rasanya ‘memites-mites’ Dolores Umbridge ini.

Sosok Dolores Umbridge membuat stress seisi Hogwarts – kecuali para penghuni asrama Syltherine yang senang melihat orang lain menderita. Profesor Umbridge gemar membuat peraturan yang membatasi gerak-gerik para murid, gayanya yang mendayu-dayu seolah tanpa dosa itu bener-bener pengen minta ‘ditonjok’ (astaga.. gue jadi ikut emosi). Belum lagi penilaian terhadap guru-guru – yang gak cocok siap-siap hengkang dari Hogwarts.

Nah, karena murid-murid tidak mendapatkan pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang ‘sepatutnya’, Hermione memprakarsai terbentuknya Laskar Dumbledore. Dan, yang akan mengajar tak lain adalah Harry Potter. Karena kata Hermione, siapa lagi yang paling jagoan, yang paling sering ‘praktek’ dan yang pernah berhadapan dengan Lord Voldermort sendiri?

Puncaknya adalah kaburnya para tahanan dari Azkaban, mereka ini adalah Pelahap Maut yang akan segera bergabung dengan tuan mereka tercinta. Salah satunya adalah Bellatrix Lestrange, sepupu Sirius Black, adik dari Narcissa Malfoy. Sosok psikopat di dalam buku ini menurut gue.

Nuansa buku Harry Potter semakin suram dan gelap. Didukung pula dengan ketebalan buku yang membuat Harry Potter masuk ke dalam kategori buku bantal. Harry dan teman-teman jadi ikutan stress, emosi. Dan gara-gara emosi ini, Harry bahkan sempat diadili di Kementrian Sihir. Belum lagi tekanan menghadapi ujian OWL.

Bagian terkeren dalam buku ini menurut gue adalah saat Laskar Dumbledore belajar Patronus, ‘kabur’nya Fred dan George Weasley dari sekolah dan memutuskan untuk segera membuka toko lelucon mereka dan tentu saja ‘pertempuran’ Harry dan teman-temannya di suatu malam di Kementerian Sihir, melawan para Pelahap Maut, untuk merebut sebuah bola Kristal berisi Ramalan yang menyangkut Harry Potter dan Lord Voldemort. Meskipun lagi-lagi, ada kematian yang kembali mempengaruhi Harry Potter, karena korbannya adalah orang terdekat Harry sendiri.

Yang baru di buku ini, tentu saja Dolores Umbridge. Lalu, Luna Lovegood, gadis dari Ravenclaw yang aneh. Harry Potter dan teman-temannya juga sempat berkunjung ke Rumah Sakit St. Mungo, rumah sakitnya para penyihir. Di sini mereka bertemu dengan Neville Longbottom yang sedang mengunjungi orang tuanya.

Beberapa rahasia masa lalu mulai terbuka sedikit-sedikit. Tokoh Severus Snape yang menyebalkan, malah membuat gue jadi simpati dan merasa sebal dengan James Potter yang ‘diagung-agungkan’ sebagai penyihir yang baik itu.

O  ya.. gak ketinggalan dong... acara kencan Harry Potter dan Cho Chang yang 'ga-tot' itu... duh.. duh.. Harry... jangan cepet emosian ya... peka dikit sama perasaan perempuan.. hihihi...


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:


Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku

Tuesday, April 30, 2013

Harry Potter and the Goblet of Fire




Harry Potter and the Goblet of Fire
(Harry Potter dan Piala Api)
JK Rowling @ 2000
Listiana Srisanti (Terj.)
GPU – Cet. V, Oktober 2011
896 hal.
Untuk anak 12 tahun ke atas

*Spoiler Allert*

Buku Harry Potter ke 4 ini, diawali dengan peristiwa yang menggembirakan (ya, terlepas dari Harry yang tiba-tiba saja merasakan nyeri di lukanya). Bersama keluarga Weasley, Harry menyaksikan secara langsung Piala Dunia Quidditich. Di lapangan yang luas, semua penyihir dari segala penjuru dunia berkumpul. Para penyihir panitia sibuk mengelilingi stadion itu dengan sihir, agar para muggle tidak curiga.  Di Piala Dunia Quidditich ini, pemain dari Bulgaria – Viktor Krum – menjadi idola.

Tapi, di balik keriaan Piala Dunia Quidditich, mereka dikejutkan dengan munculnya Tanda Kegelapan. Para Pelahap Maut – abdi setia Voldemort – kembali berkumpul.

Keseruan lain di buku ini adalah diselenggarakannya Turnamen Triwizard yang berhadiah 1000 Galeon. Kali ini Hogwarts menjadi tuan rumah. Sekolah ini kedatangan tamu dari sekolah sihir lain yaitu Beauxbatons dan Durmstrang.

Karena Turnamen Triwizard ini sangat berat, maka persyaratannya juga berat, siswa yang mendaftarkan diri harus berusia minimal 17 tahun. Ada saja yang berusaha mengelabui persyaratan ini, contohnya si kembar Fred dan George Weasley.

Di hari yang telah ditentukan, nama-nama pemenang dari masing-masing sekolah pun keluar dari Piala Api – mereka adalah Cedric Diggory dari Hogwarts, Fleur Delacour dari Beauxbatons dan … Viktor Krum dari Durmstrang. Tapi, tentu saja ada kejutan lain… sebuah kertas bertuliskan nama Harry Potter melayang keluar dari Piala Api.

Meskipun penuh pro dan kontra, keputusan itu tak bisa dibatalkan. Harry Potter harus tetap mengikuti Turnamen Triwizard. Banyak yang mencibir dan mencela Harry Potter. Mereka pikir Harry hanya cari sensasi. Bahkan Ron pun menjauhinya.

3 tugas berat menanti mereka – berhadapan dengan naga, menyelam ke danau yang dalam, dingin dan penuh makhluk bawah air yang menyeramkan dan menyelamatkan orang-orang yang terdekat – dan yang terakhir mencari Piala Triwizard di tengah-tengah labirin yang juga penuh bahaya.

Harry Potter ke 4 ini adalah seri yang paling gue suka. Bagi gue ini adalah buku yang paling emosional – yang pertama di dalam seri Harry Potter. Awal ‘kebangkitan’, buku yang mengawali saat-saat kegelapan di Hogwarts. Pertama kalinya ada kematian dan Voldemort pun ‘mendapatkan’ kembali wujudnya.

Harry Potter #4 ini juga berhasil membuat gue tegang selama membacanya – terutama saat Harry dan para peserta turnamen Triwizard ada di dalam labirin. Kalau biasanya, gue menutup Harry Potter dengan ceria, kali ini ada rasa kehilangan.

Ehem… ada yang main mata di sini… yang bakalan married di buku ke 7. Ada yang cemburu… ada yang naksir diam-diam…

Pendatang baru di dalam buku ini adalah Mad-Eye Moody – mantan Auror – yang menjadi guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.

Dan, satu momen yang paling membuat gue ‘merinding’ adalah saat Harry Potter duel dengan Voldemort, ketika tongkat sihir mereka ‘beradu’, muncullah arwah dari korban-korban Voldemort – mulai dari Cedric, korban terakhir sampai ayah dan ibu Harry Potter. Mereka melindungi Harry dari serangan Voldemort, sehingga Harry bisa kembali lagi ke Hogwarts.


Posting ini dibuat untuk diikutsertakan dalam:

Event Fun Year With Children’s Literature yang dihost oleh B’zee



Event Hotter Potter yang dihost oleh Surga Buku


Friday, April 19, 2013

Sherlock Holmes versus Kapten Kidd




Sherlock Holmes versus Kapten Kidd: Misteri Kapal House-Boat
(The Pursuit of the House-Boat)
John Kendrick Bangs @ 1897
Istiani Prajoko (Terj.)
Visi Media – Cet. I, Maret 2013
230 hal
(hadiah dari Visi Media dan @gila_buku)

Para arwah berkumpul, mereka kebingungan. Kapal pesiar tempat biasa mereka berkumpul, menghilang. Kapal bernama House-Boat ini diduga dibawa kabur oleh bajak laut terkenal bernama Kapten Kidd. Celakanya lagi, di dalam kapal itu tertinggal para perempuan – istri, adik, keponakan atau kekasih mereka.

Arwah-arwah ini, bukan sembarang arwah, melainkan para tokoh-tokoh terkenal  - entah yang memang dari dunia nyata, atau tokoh terkenal dari buku-buku. Sebut saja, ada Socrates, Nabi Nuh, Julius Caesar, Shakespeare, Napoleon Bonaparte, Mozart, dan lain-lain, lalu  di antara para arwah perempuan ada Ratu Elizabeth, Cleopatra, Helen dari Troya, Delilah, Portia – tokoh dari The Merchant of Venice.

Para arwah seleb ini biasa berkumpul di House-Boat untuk ya… bergaul gitu deh. Minum-minum, makan, atau sekadar ngobrol-ngobrol. Arwah ternyata butuh bergaul juga ya.. hehehe….

Saat para arwah laki-laki sedang berkumpul, mencari cara untuk menyelamatkan para arwah perempuan, munculnya arwah tak dikenal dengan sikap yang sok tahu dan sok yakin – yaitu arwah Sherlock Holmes. Sherlock Holmes menjabarkan teorinya tentang ke mana kapal itu dibawa oleh Kapten Kidd.

Tapi, ya dasarnya mereka ini arwah orang-orang ‘hebat’, mereka suka gak mau ngalah atau nerima pendapat yang lain. Saling cela teori yang dikemukakan, bahkan Sherlock Holmes pun sempat dipandang sebelah mata.

Sementara para arwah laki-laki sibuk berpikir, apa yang terjadi dengan arwah perempuan? Arwah perempuan ini ternyata cerdas-cerdas, mereka juga mencari cara untuk bisa lolos dari Kapten Kidd. Biar seharusnya dalam keadaan ‘genting’, mereka ini tetap tenang.

Jangan bayangkan sosok Sherlock Holmes seperti yang bisa ditemui di buku-buku karya Sir Arthur Conan Doyle. Sherlock Holmes di sini, meskipun tetap dengan pengamatannya yang teliti, tapi agak ‘tinggi hati’. Ia menikmati kekaguman para arwah itu terhadap analisanya, karena dia kesal karena ketenarannya ‘dimatikan’ oleh sang penulis. Kali ini Holmes tidak ditemani sama sahabatnya, dr. Watson.

… “Mulai sekarang … aku bisa kembali ke bumi lagi,  bebas dari biaya, terlepas dari kenyataan pencipta agungku menginginkan aku di sana atau tidak. Aku tidak pernah menyetujui dia mematikanku seperti yang dilakukannya itu padahal aku sedang berada di puncak ketenaran.” (hal. 57)

Mungkin pada awalnya, agak kesulitan membaca buku ini, karena banyaknya tokoh yang terlibat. Tak ada tokoh sentral atau utama, bahkan Sherlock Holmes yang disebutkan dalam judul pun, tak terlalu dominan.

Yang menarik dalam buku ini adalah isu ‘girl power’. Para arwah perempuan ini menuntut kesetaraan. Keadaan sudah berubah – dibandingkan saat mereka masih hidup – mereka menuntut persamaan hak. Dan ini sempat membuat arwah laki-laki itu kebat-kebit, kebingungan.

Para tokoh di buku ini memang ditampilkan berbeda dari pada dalam cerita aslinya. John Kendrick Bangs membuat parodi atas tokoh-tokoh cerita maupun yang nyata. Hingga akhirnya, kita akan mendapati sosok yang mungkin konyol. Misalnya saja Nabi Nuh yang mengeluh ketika kapalnya diejek oleh para arwah yang lain. Atau terkadang mereka juga saling menyindir.

The Pursuit of the House-Boat ini merupakan sekuel dari buku dengan judul A House-Boat on the Styx.
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang