Monday, May 31, 2010

If You Could See Me Now

If You Could See Me Now
Cecelia Ahern @ 2005
Harper Collins – 2006
410 hal.

So far, gue sudah membaca 3 buku Cecelia Ahern, dan seperti dua yang sebelumnya, - PS I Love You dan When Rainbow Ends - If You Could See Me Now juga membuat gue ‘tersentuh’.

Ceritanya tentang Elizabeth Egan, perempuan single, yang harus mengurus adiknya yang alcoholic dan anak adiknya, Luke. Trauma karena ditinggal ibunya, membuat Elizabeth jadi orang yang praktis, kadang gak sabaran, apalagi harus berurusan dengan yang namanya ‘mengasuh anak’.

Ditambah lagi, Luke, membuatnya kesal dengan ‘teman khayalan’ yang bernama Ivan. Ivan suka pizza yang ada olive-nya, Ivan begini, Ivan begitu. Elizabeth sampai browsing di internet, mencari referensi tentang menghadapi anak kecil yang punya teman khayalan.

Mungkin, karena Elizabeth pelan-pelan bisa menerima sosok Ivan yang datang dari negeri Ekam Eveileb itu, makanya, Elizabeth pun bisa melihat sosok Ivan pada akhirnya.

Hubungan pertemanan itu menjadi complicated, Elizabeth benar-benar beranggapan Ivan itu ‘visible’. Dia ada di saat Elizabeth butuh dirinya. Ivan hampir ‘melupakan’ tugasnya yang sebenarnya. Dan, nyaris lupa kalau suatu hari dia harus bisa meninggalkan Elizabeth dan Luke.

Tanpa disadari, Elizabeth jatuh cinta pada sosok yang invisible buat orang lain. Elizabeth bahkan tidak sadar kalau orang lain tidak bisa melihat Ivan.

Buat gue, buku ini tentang kisah cinta, kisah persahabatan yang unik. Gue yakin, gak banyak orang yang percaya sama sosok khayalan.. bahkan gue sendiri, gak percaya. Tapi, one thing for sure, looks like keep on dreaming makes someone happier.

Buku ini akhirnya selesai juga, setelah beberapa kali ‘tersalib’ karena gue baca buku yang lainnya. Padahal, buku ini udah ada di rak buku gue sejak tahun 2006, meskipun ini sih buku adek gue.

---- Hey.. kenapa akhir-akhir ini, isi blog ini begitu ringkes ya? Gue lagi agak kesulitan menggambarkan buku yang baru gue baca? Apa karena buku-buku ini kurang ‘nendang’, atau gue yang lagi ‘lack of imagination’? Hmmm….

Tuesday, May 25, 2010

The Help

The Help
Kathryn Stockett @ 2009
Berkley – Mei 2010
464 hal.

Jackson, Mississippi, tahun 1960-an. Membaca buku ini, gue merasa ikut ‘kepanasan’. Bukan hanya karena memang cuacanya yang panas (at least, yang tergambar dalam buku itu), tapi juga gregetan dengan tingkah laku salah satu tokohnya.

Ada tiga tokoh utama, yaitu Aibeleen, Minny Jackson dan Skeeter Phelan. Aibileen dan Minny Jackson, dua warga kulit hitam yang menjadi pelayan di rumah Elizabeth Leefolt dan Hilly Holbrook. Sedangkan Skeeter adalah teman dari dua orang perempuan kulit putih itu.

Di tahun 1960an, perbedaan warna kulit masih benar-benar jadi masalah. Warga kulit hitam adalah warga kelas dua, warga pinggiran, mereka tidak punya hak dalam segala hal. Semua harus dibedakan. Tidak boleh sekolah di sekolah yang sama dengan warga kulit putih, bahkan kamar mandinya pun dibedakan. Karena orang kulit hitam dianggap membawa virus penyakit berbahaya.

Skeeter ‘sedikit’ berbeda dari teman-temannya. Ia merasa perlakukan terhadap orang-orang kulit hitam sudah keterlaluan. Skeeter sangat dekat dengan pengasuh lamanya, Constantine, yang pergi begitu saja tanpa pamit dengannya.

Skeeter pun terobsesi untuk membuat sebuah perubahan. Ia mengajak Aibileen untuk bekerja sama dengannya menulis sebuah cerita tentang bagaimana bekerja menjadi pelayan di rumah orang-orang kulit putih.

Sepak terjang Skeeter membuatnya tersingkir dari pergaulan eksklusif. Teman-temannya menjauh, atau terlalu takut dengan si Ibu Ketua Hilly yang ‘diktator’ itu.

Menyelesaikan buku ini ternyata sedikit lebih lama dari yang gue rencanakan. Tapi, gpp, gue suka isinya. Kathryn Stockett menggambarkan settingnya dengan bagus. Gue sampai bisa membayangkan suasana ketika itu, gimana dandanan para ibu-ibu, yang kaya’nya seperti para Stepford Wives.

Di akhir buku ini, Kathryn menuliskan pengalamannya sendiri dengan pelayan kulit hitamnya yang akhirnya menjadi inspirasi untuk menulis The Help.

Ada lucu, ada ‘tragis’, ada konyolnya. Karakternya juga beragam banget, Hilly yang perfeksionis, Elizabeth yang rada plin-plan, Skeeter yang idealis, Celia yang konyol. Aibilen si pemberani dan bijak, Minny yang keras. Sebenernya gak semua tokoh perempuan kulit putih benci sama orang kulit hitam atau Negro, tapi mereka terlalu takut untuk bicara dan terlalu 'tunduk' sama Hilly.

Tuesday, May 18, 2010

Tempurung

Tempurung
Oka Rusmini @ 2010
Grasindo – 2010
460 hal.

Membaca buku-buku Oka Rusmini, selalu membawa gue ke tengah-tengah budaya masyarakat Bali. Mulai dari Tarian Bumi, Sagra dan Kenanga, Oka Rusmini jadi salah satu penulis favorit gue. Kalo biasanya, buku-buku itu tidak terlalu tebal, kali ini, dalam Tempurung ketebalannya lumayan juga.

Bercerita tentang perempuan, khususnya perempuan Bali. Perempuan yang kadang tidak yakin, tidak nyaman akan tubuh mereka sendiri, di mana mereka harus datang bulan, harus hamil dan merasakan kesakitan yang luar biasa, sementara kaum laki-laki terus-menerus ‘menuntut’ mereka untuk punya anak – terutama anak laki-laki. Perempuan bukanlah perempuan sejati apabila belum melahirkan anak laki-laki.

Terbagi dalam 3 cerita, mungkin akan sepintas dibuat bingung, karena tidak ada tokoh utama, banyaknya cerita yang ‘turun-temurun’. Tapi, tentu saja, tokoh utamanya seorang perempuan, meskipun tidak ada nama yang spesifik.

Dalam keseharian, sering kali terjadi ‘benturan’ antara budaya, agama dan perasaan. Terkadang tragis, tapi juga bikin kita terkagum-kagum dengan ‘kuatnya’ seorang perempuan. Pernikahan yang harusnya ada cinta, tapi malah bikin sengsara karena harta. Mereka ingin anak, tapi malah membuat mereka jadi seperti ‘pabrik anak’. Bikin anak-anak mereka justru jadi benci pada ibunya.

Mungkin karena adanya bumbu-bumbu adat-istiadat Bali, bikin beberapa bagian di buku ini terkesan ‘mistis’.

Monday, May 10, 2010

Rindu

Rindu
Sefryana Khairil @ 2010
Gagas Media – Cet. I, 2010
244 hal.

Kehilangan, apa pun bentuknya itu, pasti sangat nyakitin. Jangankan kehilangan orang-orang yang kita sayangi, kehilangan benda ‘mati’ aja, duuuhhh, kadang rasanya kesel banget, sedih dan nyesel.

Buku ‘Rindu’ ini menceritakan tentang pasangan Zahra dan Krisna yang harus kehilangan anak mereka, Daffa, karena sebuah kecelakaan. Masing-masing kemudian terpuruk dalam kesedihannya, saling menyalahkan diri sendiri, tapi tidak mampu ‘memperkuat’ pasangan masing-masing.

Rasa sedih yang berkepanjangan, akhirnya malah membuat jarak di antara mereka. Masing-masing tetap pada ego-nya sendiri. Berharap dimengerti dan dipahami oleh pasangannya. Tapi, tak mampu untuk berbuat sama.

Wuiih… buku ini (nyaris) membuat gue menangis… ditambah lagi abis baca blog ini. Makin hiks.. hiks.. hiks…

Awal gue baca buku ini, sih biasa aja, malah gue menanggap, koq isinya hanya sediihhhhhh yang panjang, sama-sama ‘terpuruk’, sama-sama gak pedulian, tapi minta diperhatiin. Tapi, menjelang ending, mungkin karena gue udah merasa ‘masuk’ ke dalam tokoh-tokohnya, gue jadi ikut ngerasa sedih. Gue jadi ngerti pelan-pelan, kenapa mereka seperti itu. Dan, Ya Allah.. gue sampai berharap, semoga gue gak mengalami hal yang sama seperti mereka. Jangan sampai…

Monday, April 19, 2010

Fragile Eternity

Fragile Eternity (Keabadian yang Rapuh)
Melissa Marr @ 2009
Monica Dwi Chresnayani (Terj.)
GPU - Maret 2010
416 hal.

Di buku ketiga ini, semua makin rumit, tumpang-tindih dan bikin pusing.

Aislinn yang sudah jadi Ratu Musim Panas, seharusnya mendampingi Keenan memerintah Kerajaan Musim Panas, tapi, Aislinn masih ‘terjebak’ dalam hubungan percintaan dengan seorang mortal, Seth Morgan. Sementara Keenan sendiri mencintai Ratu Musim Dingin yang baru, Donia. Belum lagi, adanya Kerajaan Kegelapan yang sekarang dipimpin oleh Niall, mantan penasihat Kerajaan Musim Panas.

Di Kerajaan Agung, Bananach, sang Perang, terus-menerus mencari cara agar timbul perang untuk menuntaskan rasa laparnya akan darah.

Seth dan Aislinn berada dalam sebuah dilemma. Aislinn takut suatu saat ia tetap harus kehilangan Seth. Sementara Seth berkeinginan untuk mengubah dirinya menjadi immortal agar bisa terus mendampingi Aislinn.

Tapi, makin lama, semakin mendekati musim panas, Aislinn nyari tidak bisa menolak ‘pesona’ Keenan. Mau gak mau, karena memang Aislinn harus mendampingi Keenan. Baik Keenan maupun Seth, berusaha menahan diri, menahan rasa cemburu.

Sampai akhirnya Seth, mencari cara sendiri untuk menjadikan dirinya seperti Aislinn sekarang. Selama ini, baik Aislinn, Keenan atau pun Niall, tidak ada yang mau membantu agar Seth bisa jadi immortal. Tapi, salah satu anggota Kerajaan Agung menawarkan bantuan itu dan tentu saja tidak disia-siakan oleh Seth.

Seth menghilang, Aislinn jadi kalang-kabut. Adanya Keenan membuat Aislinn jadi lebih tenang. Tapi, apa iya, hatinya bisa berpaling dari Seth?

Pusing gue baca buku ketiga ini. Pengen cepet-cepet selesai aja bacanya. Semuanya berkisar antara Aislinn yang masih setengah-setengah hati dan gak tegas, terus Seth yang jadi egois. Semua di sini gak ada yang benar-benar baik. Niall yang tampak baik, tapi tetap aja menyimpan aura jahat karena ia Raja Kegelapan. Belum lagi sosok mengerikan Bananach.

Dan ternyata… masih ada yang keempat… tokohnya si Ani, makhluk setengah mortal, setengah faery, anaknya Hound Gabriel (yang muncul di buku kedua) – gak tau deh, masih pengen lanjut apa nggak.

Tuesday, April 13, 2010

Magical Giveaway @ Books of Dela


wow... ada giveaway buku Alice in Wonderland di sini.

Iseng-iseng, ikutan yukkk... sapa tau beruntung

Blue Remembered Heels

Blue Remembered Heels (Sepatu Biru Kenangan)
Nell Dixon @ 2008
Tisa Anggriani (Terj.)
M-Pop (Penerbit Matahati) - Cet. I, Maret 2010
311 Hal.

Charlie, Abbey dan Kip Gifford – 3 bersaudara yang masih sangat muda, terpaksa hidup sendiri karena ditinggal oleh ibu mereka. Mereka tidak tahu ke mana ibu mereka pergi. Di awal-awal mereka terpaksa tinggal dengan Bibi Beatrice.

Mereka bertiga hidup dari menipu. Yup… Charlie yang cantik yang menjadi pemimpin. Menggoda orang-orang – terutama pria, yang kaya raya. Lalu mengambil uang mereka dan kabur. Abbey, sebagai asisten Charlie dan Kip yang rada ‘nerd’ bagian riset.

Setelah melakukan penipuan, biasanya mereka langsung mencari tempat tinggal baru untuk menghilangkan jejak mereka.

Tapi… gara-gara Abbey tersambar petir, rencana mereka untuk menipu Freddie nyaris gagal. Masalahnya, Abbey jadi gak bisa berbohong. Setiap ditanya, ia akan selalu berkata jujur. Karuan Charlie jadi sangat kesal.

Belum lagi, tiba-tiba ada yang seolah mengawasi mereka. Seorang polisi ganteng bernama Mike.

Ternyata urusan dengan Freddie, tidak berhenti sampai di situ saja. Freddie sadar kalau mereka sudah menipunya dan terus mengirimkan ancaman-ancaman lewat telepon.

Akibat tersambar petir, bukan hanya masalah Abbey yang tidak bisa berbohong, tapi juga, Abbey selalu mendapatkan mimpi tentang seorang perempuan bersepatu biru.

Cerita ini menurut gue, biasa aja. Kurang ‘greget’, padahal misteri si sepatu biru mungkin bisa di-ekspos lebih (duhhh… kaya’ gue yang bisa nulis aja). Dan hubungan Freddie dan perempuan bersepatu biru itu rada dipaksakan, gak jelas asal mula dan penyebabnya apa. Ada konflik apa antara Freddie dan perempuan itu. Cerita yang maunya complicated jadi so simple. Karakter-karakternya juga kurang 'kuat'.

Monday, April 12, 2010

Twenties Girl

Twenties Girl
Sophie Kinsella @ 2009
Dell Mass Market International Edition – 2010
497 Hal.

Sadie muncul tepat di hari seharusnya ia dimakamkan. Acara pemakaman hanya dihadiri segilintir orang, padahal umur Sadie mencapai 105 tahun! Sadie memilih ‘menghantui’ cucunya, Lara Lington. Sadie jadi ‘arwah penasaran’ karena ia kehilangan salah satu miliknya yang paling berharga. Ia pun menugaskan Lara untuk mencari barang berharga itu.

Lara Lington, tidak percaya ia bisa melihat hantu. Interupsi Lara di acara pemakaman, membuat ia sempat dikira depresi berat akibat putus cinta sama pacarnya. Lara mengemban tugas yang sangat berat, karena keberadaan barang itu yang tidak diketahui. Padahal, Lara sendiri nyaris tidak mengenal sosok neneknya itu.

Keinginan Sadie ternyata tidak hanya terhenti pada barang itu, tapi ada saja yang aneh. Ia minta Lara berkencan dengan seorang pria yang dianggapnya sangat keren, Lara harus berdandan a la tahun 20an, lalu mengajak pria itu berdansa gaya tahun 20an juga.

Ternyata, barang yang sangat berharga itu menyimpan berjuta rahasia – termasuk rahasia kehidupan seorang Sadie Lancaster.

Awalnya sosok Sadie itu terkesan sangat menggangu, dan reseh banget. Udah gitu Sadie sangat bossy dan egois. Sering banget ‘memaksakan kehendaknya’, sampe-sampe gue kadang kasian sama Lara dan gregetan sama Sadie. Tapi.. gue sedih ketika harus pisah sama Sadie… hiks…

Buku ini adalah salah satu buku yang masuk dalam daftar yang ‘wajib’ gue baca di tahun ini. Beruntung adek gue ternyata duluan beli, jadi gue tinggal pinjem. Ya… Sophie Kinsella adalah salah satu penulis chicklit yang buku-bukunya masih selalu gue baca, karena selalu ada yang lain di tiap bukunya. Beda dengan yang lain, yang rata-rata mirip.

Nah, di buku ini, yang beda dari buku-bukunya yang lain, adalah tokohnya yang berwujud ‘hantu fashionista’. Jangan bayangkan penampilan hantu yang menyeramkan dengan muka pucat seputih-putihnya, rambut panjang terjurai ke depan, mata dengan lingkaran hitam. Wow, Sadie Lancaster tidak seperti itu. Sadie Lancaster, ‘tampil’ dalam wujud gadis remaja tahun 20an. Penampilannya selalu bergaya dengan baju-baju yang trend di tahun 20an.

Thursday, April 08, 2010

Buddha

Buddha: A Story of Enlightenment
Deepak Chopra @ 2007
Rosemary Kesauly (Terj.)
GPU - April 2008
400 Hal.

Raja Suddhodana adalah raja yang haus dengan kekuasaan (tentu aja.. mana ada raja yang diem aja?). Ia berperang untuk menjatuhkan musuh-musuhnya, darah dan kesakitan adalah adrenalin yang terus memacunya, agar musuh-musuh bertekuk lutut dan menyerah di bawah kekuasaannya. Tentu saja, untuk menjaga agar kerajaannya tetap utuh, ia membutuhkan seorang penerus, seorang anak laki-laki.

Anak laki-laki yang ditunggu itu pun lahir. Ia diberi nama Siddhartha. Namun sayang, ibunya, Maya, meninggal beberapa hari setelah kelahiran Pangeran Siddharta. Pendeta-pendeta Brahmana dipanggil untuk meramalkan masa depannya. Pangeran Siddhartha diramal akan menguasai dunia dari empat penjuru mata angin. Mendengar ramalan ini, tentu saja Raja Suddhodana gembira. Tapi, ternyata menguasai dunia di sini bukan dalam arti menjadi raja, tapi menjadi seseorang yang lain.

Raja segera memerintahkan agar pintu-pintu kerajaan ditutup, penduduk yang sakit, yang sudah tua diusir dan dipindahkan ke tempat lain. Sang Pangeran Muda ini tidak boleh melihat adanya penderitaan. Ia harus diajarkan untuk menjadi seorang raja, menjadi prajurit dan calon pemimpin.

Untuk menemaninya, dipanggillah Devadatta, seorang pangeran muda dari salah satu kerajaan yang ditaklukan Raja Suddhodana. Tapi sayang, Devadatta punya misi tersendiri. Bukan menjadi teman, ia malah akan balik menjadi lawan.

Tapi layaknya remaja, Pangeran Siddhartha punya banyak keingintahuan. Temannya hanya Channa, anak seorang pengurus kuda. Pangeran Siddhartha merasa ada yang aneh di dalam kerajaan ini. Ia sering mendengar ‘suara-suara’ di dalam kepalanya sendiri. Ia berbeda dari bagaimana seorang pangeran harus berlaku. Dan ini membuat ayah dan gurunya cemas.

Pangeran Siddhartha pun memilih jalannya sendiri. Di usianya yang ke 29 tahun, ia memilih meninggalkan kehidupan istana, meninggalkan istri dan anaknya dan pergi mengembara menjadi seorang petapa.

Dalam perjalanannya menjadi petapa inilah, Siddhartha yang berganti nama menjadi Gautama – nama keluarga yang sudah lama tidak dipakai, ia mencari guru yang bisa mengajarinya, memberi jawaban atas apa yang dicarinya. Mencari pencerahan dan meninggalkan segala hal yang berbau duniawi.

Ia bertemu dengan banyak petapa, ada yang baik, ada yang ternyata hanya berpura-pura menjadi petapa agar bisa mengundang belas kasihan orang. 45 tahun lamanya ia menjadi seorang petapa, Gautama menjadi seorang Buddha, pengikut pertamanya adalah 5 orang petapa yang di awal-awal sering mengadakan perjalanan bersama Gautama. Pada akhirnya, Gautama menemukan sebuah pencerahan, ia memandang hidup dengan sederhana dan damaiiiii banget.

Sejujurnya gue tidak terlalu mengenal sosok ‘Buddha’. Gue hanya tau dari patung-patung yang ada di Candi Borobudur, kalau Buddha itu bernama Siddhartha Gautama. Hanya itu. Dari buku ini, hanya dua bagian pertama yang bisa gue ‘nikmati’, yaitu bagian pertama saat masih menjadi Siddharta dan bagian kedua ketika udah jadi Gautama. Bagian ketiga, yang judulnya Buddha, rasanya lebih serius, meskipun harus gue akui isinya bagus, justru di bagian ini (mungkin) inti dari pelajaran Buddha. Tapi… ya itu, mungkin karena terlalu serius, gue jadi bosan dan memilih ‘mempercepat’ baca bagian terakhir.

Meskipun gue bukan penganut Buddha, tapi pelajaran-pelajaranya bisa diambil untuk semua orang, bukan hanya untuk penganut Buddha.

Monday, April 05, 2010

Anne’s House of Dreams

Anne’s House of Dreams
Lucy M. Montogmery @ 1917
Maria M. Lubis (Terj.)
Qanita – Cet. I, February 2010
420 Hal.

Uuuuu… akhirnya Anne sama Gilbert menikah. Pernikahan pertama di Green Gables. Sebuah upacara pernikahan yang sama seperti yang ada di dalam angan-angan Anne. Gilbert, cowok yang dulu ‘dibenci’ Anne, akhirnya bisa menaklukkan hatinya. Gilbert sekarang udah jadi dokter, sementara Anne ‘berhenti’ jadi ibu guru.

Sebagai istri, Anne pun ikut pindah ke tempat Gilbert bertugas, di sebuah daerah bernama Four Winds Harbour, di Pantai Glen St. Mary. Rumah impian Anne sudah menunggu, sebuah rumah yang cantik, penuh dengan pohon, dialiri sebuah sungai kecil dan yang penting dekat dengan pantai.

Bukan Anne namanya kalau tidak mencari ‘teman sejiwa’ di mana pun ia berada. Di Four Winds ini, Anne menemukan beberapa sahabat baru, ada Kapten Jim, seorang pelaut tua yang tinggal di mercu suar, lalu ada Miss Cornelia Bryant, perempuan tua yang mirip dengan Mrs. Rachel Lynde, dan si cantik yang misterius bernama Leslie Moore.

Sejak pertama kali melihat Leslie Moore, Anne terpikat oleh kecantikannya. Tapi sayang, wajah cantik itu tampak muram dan menyimpan duka serta rahasia. Anne bertekad membuatnya tersenyum.

Anne dan Gilbert memang benar-benar pasangan yang serasi. Mereka jarang bertengkar, selalu penuh kasih sayang. Tapi, mereka juga sempat mengalami sebuah kejadian yang menyedihkan di Four Winds ini. Dan ternyata, Four Winds bukanlah tempat terakhir bagi Anne untuk mencari rumah impiannya.

Anne yang semakin beranjak dewasa justru membuat gue jadi ‘kangen’ sama Anne kecil, Anne yang polos. Meskipun Anne masih tetap berjiwa romantis dan penuh mimpi, buat gue yang paling berkesan ya justru Anne kecil.

Di buku ini, rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Tau-tau Anne sudah melahirkan, padahal lucu juga kaya’nya kalo digambarkan gimana sih Anne kalo lagi hamil, gimana mimpi romantisnya sebagai calon ibu. Dan sayang banget, Anne ‘hanya’ jadi ibu rumah tangga. Justru lebih menarik kalo pasangan pengantin baru ini dikenal sebagai pasangan dokter dan ibu guru. Orang-orang yang dikenal Anne juga gak terlalu banyak, hanya berkisar cerita tentang Kapten Jim, Miss Cornelia dan Leslie Moore. Tentang ‘agama’ juga lumayan banyak diperdebatkan di sini. Hmmm.. buat gue agak ‘mengganggu’ jalannya cerita.

Wednesday, March 31, 2010

Wicked #1 (Witch)

Wicked #1 (Witch)
Nancy Holder & Debbie Vigué @ 2002
Meithya Rose Prasetya (Terj.)
Penerbit Matahati – 2010
376 Hal.

600 tahun yang lalu, sebuah upacara persembahan digelar dengan demi mendapatkan sebuah kekuatan sihir. Pembunuhan missal terjadi untuk mendapatkan sebuah sihir yang sangat kuat bernama Black Fire, dengan sihir ini, sebuah kelompok penyihir akan menguasai dunia. Ada dua kelompok sihir yang terkuat, yaitu Dinasti Deveraux dan Dinasti Cahors. Black Fire dimiliki oleh Dinasti Deveraux. Sang Ratu Catherine bertekad mendapatkan Black Fire. Perjodohan puterinya – Isabeau dan Jean Deveraux pun diatur. Dengan tujuan memperoleh anak laki-laki agar bisa menyatukan dua kekuatan sihir, pernikahan pun terlaksana. Tapi, ternyata Ratu Catherine sangat licik, ia memberi ramuan agar puterinya tidak pernah hamil, padahal dengan melahirkan anak laki-laki, rahasia Black Fire akan diberikan oleh Dinasti Deveraux.

Dendam terus berlanjut sama ke keturunan mereka yang nyaris tidak tahu-menahu akan adanya kekuatan sihir.

600 kemudian… seorang remaja bernama Holly Cathers terpaksa pindah dari San Fransisco ke Seattle. Ia menjadi sebatang kara karena kedua orang tuanya tewas dalam suatu kecelakaan ketika sedang berarung jeram. Holly satu-satunya yang selamat. Di Seattle ia pindah ke rumah Bibi Marie-Claire, adik ayahnya, yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Ia tinggal bersama dengan sepupunya si Kembar – Amanda dan Nicole.

Di sini, Holly mengalami berbagai kejadian aneh yang selalu nyaris mencelakannya. Pertemuannya dengan keluarga Deveraux berbuntu mimpi-mimpi aneh, sebuah kejadian entah di mana, seolah Holly pernah mengalaminya.

Michael Deveraux dan anaknya, Eli, melakukan sihir-sihir hitam untuk menghancurkan Holly dan keluarga Cathers yang lain. Keluarga Cathers adalah keturunan Dinasti Cahors yang sudah berganti nama. Salah satu anak Deveraux, Jer, bermaksud melindungi Holly.

Awalnya gue bingung baca buku ini, karena tiba-tiba satu peristiwa bersambung ke satu peristiwa lain sebelum sempat ‘mencerna’ peristiwa yang pertama. Banyak peristiwa yang ‘mengerikan’ dan sadis. Sempat membuat gue berpikir, kalo buku ini hanya ‘balas dendam’ melulu isinya.

Tapi, aksi si Kembar dan Holly, ditambah mantra-mantra pelindung dari si misterius Jer, bikin buku ini jadi lumayan ‘keren’. Dari awal buku ini emang terkesan gelap, suram. Minim ‘senyum’ dan ketawa.

Masih banyak misteri yang belum terungkap, misalnya kenapa ayah Holly tiba-tiba pergi dari rumah, begitu juga dengan ibu Eli dan Jer yang juga pergi meninggalkan mereka berdua saat mereka masih kecil.

Monday, March 29, 2010

Recipes for a Perfect Marriage

Recipes for a Perfect Marriage (Resep Perkawinan Sempurna)
Kate Kerrigan @ 2005
Tanti Lesmana (Terj.)
GPU – Maret 2010
408 Hal.

Cinta yang menggebu-gebu di awal pertemuan tidak menjamin kebahagiaan sebuah pernikahan. Kalau melihat yang dialami Tres sa Nolan, dia langsung kecewa karena Dan, suaminya, tidaklah sempurna. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebelum menikah tidak jadi masalah, malah membuat Tressa emosi berat saat Dan sudah jadi suaminya. Belum lagi acara kumpul-kumpul dengan keluarga besar Dan yang nyaris setiap minggu. Tressa yang selama ini terbiasa hidup sendiri dan jauh dari keluarga, merasa tidak nyaman di tengah-tengah keluarga besar Dan, terutama ibunya yang tampaknya tidak bisa menerimanya dengan hangat.

Sebelum menikah, Tressa mendapatkan hadiah dari ibunya, berupa buku resep peninggalan neneknya, Bernadine. Lewat buku resep inilah, Tressa berusaha menyelami rahasia sebuah perkawinan, mengingat kembali liburan masa kecilnya ketika ia kembali ke Irlandia.

Bernadine sendiri sempat mengalami perkawinan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Di masa remajanya, ia jatuh cinta pada pemuda Irlandia yang tinggal di Amerika bernama Michael Tuffy. Cinta masa remaja yang menggebu-gebu, tapi ketika Michael Tuffy melamar Bernadine, keluarga Bernadine menolaknya, karena keluarga Bernadine yang miskin tidak mampu membayar mas kawin yang akan diberikan pada Michael. Bernadine kecewa, lebih kecewa lagi ketika orang tuanya menerima lamaran seorang guru bernama James Nolan. James bersedia menerima Bernadine meskipun tanpa mas kawin.

Bernadine sama sekali tidak memiliki rasa cinta untuk James. Cintanya sudah diambil oleh Michael. Bertahun-tahun, James dengan penuh kesabaran menghadapi Bernadine. Sementara Bernadine masih saja memberikan dirinya dengan setengah hati.

Dua generasi dengan dua perkawinan yang mereka anggap tidak sempurna. Butuh banyak sekali kompromi untuk mengenyahkan segala kekurangan dari pasangan biar gak jadi ganjelan.

Tressa dengan perkawinannya yang baru seumur jagung berharap bisa memperbaiki perkawinannya. Sementara di umur perkawinan yang entah sudah berapa puluh tahun, Bernadine baru menyadari rasa cintanya tumbuh perlahan-lahan.

Well… gue selalu suka buku yang yummy-yummy… meskipun di sini gak ‘seenak’ Chocolat, atau The Food of Love, atau The Marriage Officer, tapi, buku ini bisa jadi memberi ‘inspirasi’. Meskipun dalam bentuk novel, tapi, sedikit banyak gue ‘belajar’ tentang perkawinan, pernikahan.

Satu tentang cinta di awal, satu tentang cinta di akhir… dua-duanya bisa membuat gue ‘berpikir’.

Thursday, March 25, 2010

The White Tiger

The White Tiger
Aravind Adiga @ 2008
Rosemary Kesauly (Terj.)
Penerbit Andi - 2010
360 Hal.

Balram Halwai, pemuda India berasal dari kalangan yang kurang mampu. Desanya dikuasai oleh para tuan tanah yang serakah. Sebenarnya ia anak yang cerdas. Balram – yang nama aslinya adalah Munna – menjadi satu-satunya murid yang cerdas di antara murid lain yang tidak mendapatkan ‘hasil’ apa-apa dari sekolah karena gurunya tukang mabuk dan penidur. Ia pun mendapatkan julukan ‘The White Tiger’ atau ‘Harimau Putih’.

Tapi, karena kondisi ekonomi, Balram terpaksa putus sekolah. Bersama kakaknya, ia bekerja di sebuah kedai teh menjadi pelayan. Meskipun begitu, ia selalu mengamati berbagai kebobrokan yang ada di sekitarnya.

Balram pun hijrah ke Delhi. Ia memaksa seorang supir taksi untuk mengajarinya mengendarai mobil. Setelah mahir, Balram datang dari satu rumah ke satu rumah lainnya untuk menawarkan diri menjadi supir Sampailah ia ke sebuah rumah mewah, yang ternyata milik salah satu tuan tanah di Desa Balram. Salah satu anak Si Bangau (ia memberi julukan untuk setiap tuan tanah), bernama Ashok baru saja datang dari Amerika bersama istrinya, Pinky Madam.

Karena Si Bangau dan Si Luwak (anak si Bangau yang lain) kenal dengan Balram, maka ia pun dijadikan supir untuk Ashok. Sebagai pegawai, ia dituntut memberikan pengabdian penuh pada tuannya. ‘Title’nya memang sebagai supir, tapi Balram harus selalu siap untuk jadi tukang masak, pelayan, tukang pijit dan lain-lain. Sampai-sampai, ia merasa lebih mengenal tuannya dibandingkan orang tuanya sendiri.

Balram dengan setia mengantarkan Mr. Ashok dan Si Luwak ke kantor pemerintahan untuk menyuap para menteri, ke mall mengantar Mr. Ashok dan Pinky Madam (sementara ia membayangkan apa yang ada di dalam mall megah itu. Ia juga mendengar setiap pertengkaran Mr. Ashok dan Pinky Madam yang tidak betah di India.

Tapi, meskipun ia sangat setia pada tuannya, ada rasa iri dan ingin membuat perubahan pada dirinya sendiri. Ia ingin maju, tapi kalau tidak ada uang, tidak akan pernah bisa. Politik kotor yang bermain, membuat yang miskin semakin miskin dan membuat yang kaya semakin makmur. Balram tidak bisa menahan diri untuk tidak berkhianat pada tuannya.

Seperti berapa buku yang berlatar India yang gue baca, misalnya buku Vikas Swarup, menggambarkan budaya korupsi dan memeras orang yang kurang mampu. Kemiskinan membuat korupsi jadi ‘halal’. Di sini digambarkan bagaimana subsidi untuk sekolah dijadikan barang dagangan oleh guru sekolah Balram. Perkara kejahatan bisa diputarbalikan dengan uang. Polisi bisa diajak ‘bekerja sama’ asal ada uang. Cerita dalam buku ini disampaikan dalam sebuah ‘surat’ yang ditulis Balram untuk Perdana Menteri Cina yang akan berkunjung ke India. Balram akhirnya mampu punya perusahaan sendiri.

Gue nyaris bosan membaca buku ini. Biasa deh.. minim percakapan. Penuh kesinisan. Hampir aja gue ganti ke buku yang lain. Cuma, kalo gue ganti ke buku yang lain, buku ini pasti gak akan pernah gue sentuh lagi. Dan, setelah gue terusin baca, ternyata gue makin penasaran. Biar kadang bikin ngantuk, gue pelan-pelan berusaha menamatkan buku ini. Hmmm… apa buku-buku yang dapet penghargaan selalu ‘membosankan’, ya?

Friday, March 19, 2010

Waktu Aku Sama Mika

Waktu Aku Sama Mika
Indi @ 2009
Homerian Pustaka – Cet. II, Agustus 2009
145 Hal.

Gue menemukan buku ini secara tidak sengaja di Gramedia PIM. Setelah melihat-lihat buku-buku baru, gue iseng menelusuri rak-rak yang lain. Tau-tau gue ngeliat buku ini. Tentu saja, judulnya lah yang menarik perhatian gue. Cover-nya juga lucu. Gue liat isinya sekilas, tampak menarik.

Buku ini berisi kumpulan tulisan dari seorang gadis bernama Indi. Indi ini mengidap penyakit scoliosis, atau adanya gangguan pada tulang belakang Indi, sehingga gak bisa bertumbuh dengan normal. Ia harus selalu pakai penyangga untuk menopang tulangnya, dan sering jadi bahan ejekan teman-temannya. Indi sering kali merasa minder, karena ia tidak bisa seperti anak-anak lainnya.

Tapi, ada seorang pemuda bernama Mika yang memberinya semangat, yang memperlakukannya layaknya seperti orang ‘normal’ lainnya. Untuk Mika-lah, buku ini dipersembahkan. Seluruh tulisan dalam buku ini berpusar pada Mika yang merupakan pahlawan bagi Indi. Tulisan-tulisan indah bagi Mika di surga. (hiks…)

Mika memberi Indi kepercayaan diri, membuat Indi merasa dicintai, disayangi, dan Mika memberikan itu tanpa pamrih, tanpa pernah bertanya dan meminta lebih. Tapi, hubungan mereka banyak mendapatkan tantangan, karena Mika ternyata mengidap penyakit AIDS.

Tulisan-tulisan dalam buku ini menurut gue begitu jujur dan sederhana. Ungkapan-ungkapan rasa sayang yang tak berlebihan dari seorang gadis untuk pacarnya yang sudah tiada. Gue jadi kagum sama sosok mereka berdua, dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, mereka saling memberi semangat.

Gue suka buku ini. Gue pengen My Mika juga punya semangat yang sama dengan Mika (dan juga Indi) di sini (tapi… minus penyakitnya tentunya…)

Thursday, March 18, 2010

The Lovely Bones (Tulang-Tulang yang Cantik)

The Lovely Bones (Tulang-Tulang yang Cantik)
Alice Sebold @ 2002
GPU – April 2008
440 Hal.

6 Desember 1973, Susie Salmon berjalan pulang menuju rumah dari sekolahnya. Tapi, ia tidak pernah sampai di rumah lagi untuk selamanya. Mr. Harvey, salah satu tetangganya yang kerap dianggap aneh, sudah memperkosa lalu membunuhnya dengan cara yang sadis.

Jasad utuh Susie tidak pernah ditemukan dan Mr. Harvey masih berkeliaran dengan bebas. Sementara keluarga Salmon tenggelam dalam dukanya. Meskipun Jack Salmon, ayah Susie, mencurigai Mr. Harvey, tapi tak ada bukti yang bisa menjerat Mr. Harvey. Mr. Harvey selalu menampilkan sosok lugu, tak bersalah, dan bersimpati pada keluarga Salmon. Sehingga polisi malah menganggap kecurigaan Jack sebagai angina lalu.

Arwah Susie ‘berkeliaran’ mengamati kehidupan keluarganya sesudah ia pergi. Bagaiamana ayah dan ibunya berusaha keras menghindar dari kenyataan bahwa Susie sudah meninggal. Mereka masih mengharapkan adanya jasad yang bisa meyakinkan mereka. Kehidupan keluarga Salmon jadi tidak sama lagi. Ayahnya berjuang untuk kuat, sementara Abigail Salmon, ibu Susie, mencari pelarian dengan cara lain.

Bertahun-tahun, tidak ada petunjuk apa yang sebenarnya terjadi pada Susie. Rumah tangga Jack dan Abigail diambang kehancuran, sementara adik-adik Susie, Lindsey dan Buckley juga membutuhkan perhatian.

Susie mengamati banyak hal yang terjadi apda Lindsey, hal-hal sebagai seorang perempuan yang tidak sempat ia alami.

Buku ini bisa jadi sebuah bahan renungan (aduhh.. kenapa gue sok serius begini), tapi.. bener deh, sebuah renungan tentang ‘kematian’ dikemas dalam bentuk yang tidak menggurui. Bukan model buku-bukunya Mitch Albom, gue malah lebih ‘menyamakan’ ini sama buku Ghostgirl (Tonya Hurley), sama-sama bercerita tentang arwah seorang gadis yang masih ingin kembali ke Bumi. Meskipun buku ini lebih serius dibanding Ghostgirl.

Tadinya gue pikir, buku ini akan mengarah pada sosok Mr. Harvey. Membayangkan sosok Mr. Harvey, gue kebayang sama salah satu tokoh di Desperate Housewive – Paul Young, suami dari Marie Alice Young . Mr. Harvey ternyata punya kecendurngan aneh, punya rahasia yang kelam dan masa lalu yang membuatnya jadi seperti ini. Sosok yang tenang, lugu, penyendiri. Selalu dianggap aneh oleh masyarakat sekitar, tapi tidak mencurigakan.

Tokoh-tokoh lain yang menarik perhatian gue di sini selain Susie, ada Ray Singh – pemuda yang jatuh cinta sama Susie, Ruth – teman Susie yang ternyata bisa ‘merasakan’ bahwa Susie masih ‘ada’.

Buku ini nyaris terlupakan, kalo ada temen gue di kantor gak ngomongin buku ini. Gue juga lupa di mana gue taro buku ini. Bahkan gue sampe mikir, "Gue punya kan buku ini?"

Thursday, March 04, 2010

The Dressmaker

The Dressmaker
Rosalie Ham @ 2000
Duffy & Snellgrove - 2000
296 Hal.

Setelah dua puluh tahun pergi, Myrtle Dunnage – atau Tilly – kembali ke rumahnya untuk merawat ibunya yang agak sedikit tidak waras. Ia kembali ke Dungatar, sebuah kota di Melbourne, Australia. Kota tempat Tilly dan ibunya dikucilkan dan jadi selalu jadi sasaran empuk para penggosip.

Kota Dungatar dihuni oleh orang-orang yang ‘eksentrik’. Ada seorang polisi – Sergeant Farrant yang modis, pasangan Pettyman – yang istrinya bernama Marrigold maniak sama ‘kebersihan’ dan masih banyak lagi.

Kedatangan Tilly kembali ke Dungatar menimbulkan banyak prasangka dan bisik-bisik. Tilly sendiri punya rahasia kelam di kota itu, rahasia yang membuat dia terpaksa pergi dari Dungatar. Tilly kecil sering menjadi korban bullying teman-teman sekolahnya. Ibunya disebut sebagai pelacur, penyihir dan lain-lain yang tak kalah buruknya.

Tilly berusaha tidak ambil pusing, tapi ia tidak mau pergi ke acara-acara kumpul-kumpulnya warga kota Dungatar. Seorang pemuda bernama Teddy McSwiney berusaha mendekati Tilly dan akhirnya bisa membuat Tilly mau pergi dengannya ke acara dansa. Tilly muncul dan membuat para perempuan terperangah dan iri dengan busana yang ia kenakan.

Sebelum kembali ke Dungatar, Tilly ‘berkeliling’ ke Paris atau Milan. Di sana, ia belajar menjahit dan merancang busana. Salah satu barang yang ia bawa ke Dungatar adalah mesin jahit merk Singer. Gara-gara ini, perempuan-perempuan Dungatar mulai mendekati Tilly dan memintanya untuk menjahitkan busana yang mewah bagi mereka semua.

Tapi, ketika Tilly mulai pelan-pelan nyaman, lagi-lagi ia harus berhadapan dengan tuduhan bahwa ia perempuan pembawa sial, pembawa kutukan buruk. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan ‘hantu masa lalu’nya.

Kalau dibaca lebih seksama, mungkin novel ini bagus. Tapi, karena dari awal gue udah punya ‘pikiran buruk’, makanya gue bacanya asal-asalan aja. Pengen cepet-cepet selesai. Atau mungkin karena, seinget gue, baru pertama kali gue baca buku dari penulis Australia. Bahasa Inggrisnya yang ‘beda’, yang bikin gue rada bingung bacanya.

Yang membuat gue penasaran adalah apa rahasia Tilly sampai dia harus pergi dari Dungatar. Tapi, ‘kecewa’nya gue, misteri itu sedikit banget dibahas. Kaya’nya lebih banyak membahas kehidupan sosial orang-orang di Dungatar ini daripada kehidupan pribadinya Tilly yang jadi tokoh utama buku ini. Nyaris semua tokoh punya affair. Rahasianya Tilly baru terbuka di bagian-bagian akhir novel ini. Menurut gue, novel ini suram, makanya bacanya juga jadi gak terlalu semangat.

Monday, March 01, 2010

Susanna Sees Stars

Susanna Sees Stars
Mary Hogan @ 2006
Simon & Schuster - 2006
247 Hal.

Layaknya para ABG, Susanna Barringer tergila-gila dengan segala hal yang berbau selebritis. Sebuah hal yang tidak didukung oleh orang tuanya yang rada-rada hippie. Ayah Susanna adalah seorang ilmuwan, ibunya seorang manager di sebuah pertokoan besar.

Di liburan musim panas kali ini, Susanna yakin ia akan segara menjemput impiannya. Ketika ia diterima sebagai pegawai magang di majalah Scene, Susanna yakin ini adalah awal karirnya yang cemerlang dan sebuah kesempatan untuk bertemu dengan selebritis yang selama ini hanya ia lihat di majalah.

Susanna menyiapkan dirinya dengan sesempurna mungkin, bersiap-siap dengan segala ide-ide cemerlang yang ia yakin akan membuat bos-nya, Nell Wickham, melihat potensi dirinya yang tersembunyi.

Semangat Susanna yang mengebu-gebu di awal, lama-lama luntur. Nell, si boss, hanya memerintah dia melakukan hal-hal sepele banget dan gak ada hubungannya sama kerjaan, seperti beli kopi di Starbucks, beli bunga yang harus lain-lain setiap hari, ngajak anjingnya jalan-jalan, terus, nyari eyeshadow kuning yang harus sama dengan kelopak bunga.

Kadang Susanna udah gr duluan kalo dipanggil Nell ke ruang meeting, ternyata dia hanya disuruh membeli kopi pesanan seluruh peserta meeting di Starbucks. Keinginannya untuk bertemu selebritis idolanya seolah pupus begitu saja. Bahkan, ketika ia menyebutkan nama Randall Sanders sebagai idolanya, Susanna malah jadi bahan tertawaan. Susanna butuh Plan B.

Bersama Amelia, sahabatnya, Susanna menyusun sebuah rencana. Ia harus mencari berita yang akan membuat Nell akhirnya melirik potensi dirinya.

Sekilas gue merasa buku ini mirip The Devil Wears Prada dalam versi remaja. Susanna mirip Andrea yang awalnya nyaris tidak dilirik boss-nya yang sama-sama dijuluki ‘Anna Wintour Wannabe’, sering disuruh-suruh hal yang gak jelas gak hanya oleh boss-nya, tapi juga dimanfaatkan rekan sekerjanya, tapi endingnya bisa nunjukin kalo dia juga bisa ‘berguna’. Ternyata masih ada lanjutan kisah si Susanna Barringer ini, tapi rasanya gue gak terlalu tertarik untuk membaca kisah berikutnya. Satu-satunya yang gue suka adalah covernya.

Six Suspects

Six Suspects
Vikas Swarup @ 2008
Black Swan - 2009
575 Hal.

Jika orang biasa – katakanlah supir taksi, pengemis, atau karyawan biasa – tewas dalam kecelakaan atau terbunuh, tidak akan menjadi sebuah berita besar, karena dianggap itu adalah hal-hal yang biasa, tidak istimewa. Tapi, ketika seorang pejabat, anak pejabat, selebritis tewas karena hal yang sama, semua media akan secara besar-besaran memberitakan hal tersebut.

Demikian saat Vicky Rai tewas. Vicky Rai, anak seorang menteri yang berpengaruh di India, tewas dalam pesta yang diselenggarakan untuk merayakan bebasnya Vicky Rai dari tuduhan membunuh seorang pramusaji bar bernama Ruby Gil. Vicky Rai sendiri memang bukan orang yang ‘bersih’. Berkali-kali ia lolos dari jerat hukum berkat posisi ayahnya.

Jaganath Rai sendiri, sang menteri, kerap melakukan permainan ‘kotor’. Siapa saja yang berani-berani menghalangi jalannya, akan segera dihabisi – entah polisi, entah sesama politisi yang masih berusaha bersikap idealis.

Dalam kasus ini, ada 6 orang tersangka. Seorang jurnalis investigasi, Arun Advani, berusaha mengungkapkan kasus ini (jadi inget Mikael Blomkvist).

Keenam orang tersangka itu adalah: Mohan Kumar - mantan sekretaris Jaganath Rai; Shabnam Saxena – aktris Bollywood papan atas yang jadi ‘incaran’ Vicky Rai; Munna Mobile – seorang pencuri handphone; Larry Page – warga negara asal Amerika yang datang ke India untuk menemui ‘calon pengantin’ yang hanya ia kenal lewat surat-menyurat dan foto; Eketi – penduduk sebuah suku di pedalaman India; and the last but not least, adalah sang menteri sendiri, ayah dari Vicky Rai – Jaganath Rai.

Layaknya sebuah penyelidikan, ada tersangka, ada motive, ada penyelesaian kasus dan akhirnya ada sebuah ‘kebenaran’, begitulah pembagian bab-bab dalam buku ini. Kita diajak mengenal siapa sih sebenarnya para tersangka itu – gimana keseharian mereka, apa yang membuat mereka akhirnya ‘terhubung’ dengan Vicky Rai dan bagaimana mereka bisa ada di pesta tersebut.

Buku ini nyaris membuat gue gak tidur, males kerja (pengennya ngumpet di kamar mandi, biar bisa baca buku ini… hehehe…). Bener-bener bikin penasaran. Kalo Mikael Blomkvist berperan ‘aktif’ sepanjang buku, di buku ini, Arum Advani hanya muncul di awal dan di akhir, itupun berupa bentuk kolom yang ditulisnya di koran. Pembaca yang diajak ‘aktif’ untuk menelusuri kasus ini, menduga siapakah yang sebenarnya menembak Vicky Rai berdasarkan latar belakang dan motif-motif yang dipaparkan sepanjang buku ini. Bagian ‘The Suspects’ dan ‘The Motives’ memang mendapatkan porsi yang besar dalam buku ini.

Tapi, kerennya buku ini lagi, ketika udah sampai ‘kesimpulan’ siapa pelaku sebenarnya, tiba-tiba muncul sebuah ‘teori’ baru yang mematahkan bahwa tersangka yang ditangkap polisi bukanlah pelaku yang sebenarnya. Dan ketika kita (well.. paling nggak gue) mulai percaya dengan teori baru itu dan mulai mengangguk-anggukan kepala, sambil berkata. “Ooo… jadi dia pelakunya. Hmm.. iya juga sih…” tau-tau, ada lagi fakta baru yang menunjukkan pelaku sebenarnya. Ending-nya, gue harus menebak-nebak sendiri siapa pelaku sesungguhnya.

Friday, February 19, 2010

The Marriage Bureau for Rich People

The Marriage Bureau for Rich People
(Biro Jodoh Khusus Kaum Elite)

Farahad Zama @ 2008
Rinurbad (Terj.)
M-Pop (Matahati), Cet. I - Januari 2010
455 Hal.

Setelah memasuki masa pensiun, untuk mengisi hari-harinya, Mr. Ali membuka sebuah biro jodoh. Dengan bayaran 500 rupee untuk setiap keanggotaan, ia akan membantu para pencari jodoh untuk menemukan pasangan bagi mereka dengan membuka iklan di koran. Ternyata, usaha itu menarik banyak peminat – tidak hanya dari kalangan masyarakat India yang beragama Hindu, tapi juga yang beragama Islam dan Kristen. Mr. Ali sendiri adalah warga India yang beragama Islam.

Karena kesibukan yang bertambah, Mr. Ali memutuskan untuk mencari seorang asisten. Ia membuka lowongan kerja di koran. Tapi, ternyata susah juga mendapatkan asisten yang cocok. Tak disangka-sangka, calon potensial justru adalah seorang gadis berkasta Brahmana yang tinggal tak jauh dari rumah Mr. Ali sendiri. Gadis itu bernama Aruna, anak pensiunan seorang guru dengan perekononomian keluarga yang tidak terlalu baik. Ia akhirnya melepas pekerjaannya sebagai pegawai di sebuah toserba karena lebih menyukai pekerjaannya di biro jodoh Mr. Ali.

Beragam orang datang ke biro jodoh Mr. Ali, dengan beragam karakter, beragam permintaan dan beragam permasalahan. Tak jarang Mr. Ali melakukan pendekatatan personal dengan memberikan nasihat demi kesuksesan klien-nya dalam menemukan jodohnya.

Tapi sayang, kadang orang-orang itu kerap lupa akan jasa Mr. Ali dan biro jodohnya. Hanya segelintir yang mengucapkan terima kasih dan mengundang Mr. Ali ke pesta pernikahan mereka ketika sudah berhasil mendapatkan jodohnya.

Kegembiraan orang-orang yang berhasil dalam perjodohan ternyata justru tak berpihak pada Aruna. Kemiskinan membuat Aruna susah dalam mencari pasangan hidupnya. Padahal, sebagai pihak perempuan, ia harus menyerahkan mas kawin untuk mempelai pria dan menyelanggarakan pesta pernikahan. Tapi, tak banyak pilihan untuk Aruna.

Seorang klien bernama Ramanujam datang bersama keluarganya untuk mencari jodoh. Kriterianya adalah gadis cantik, tinggi, putih dan tentu saja dari golongan yang sama. Ramanujam datang dari keluarga kaya, berprofesi sebagai dokter. Tapi, siapa sangka, justru ia jatuh cinta pada asisten Mr. Ali yang sederhana itu. Untuk menikah dengan Aruna, banyak tantangan dari luar, misalnya, Aruna yang akan dianggap bukan anak baik-baik karena menemukan jodohnya sendiri (bukan dari perjodohan yang diatur keluarga), lalu keluarga Ramanujam yang mungkin nantinya akan ‘menyiksa’ Aruna secara lahir dan batin karena dianggap tidak sederajat meskipun sama-sama berasal dari kasta Brahmana. Kisah cinta yang singkat ini ibarat kisah cinta Cinderella rasa India.

Mr. Ali berusaha membuka mata Ramanujam bahwa tak semuanya harus berdasarkan uang. Dan, bagian Mrs. Ali yang mendekati Aruna agar mau mengesampingkan masalah ekonominya.

Mr. Ali sendiri juga kurang beruntung dalam perjodohan anak laki-laki semata wayangnya. Rahmen, anaknya sibuk berdemonstrasi membela kaum petani yang tanahnya diambil pemerintah untuk membangun sebuah pabrik

Rumitnya soal perjodohan di India. Karena jangankan nyari pacar sendiri, kalau sepasang perempuan dan laki-laki ketahuan berduaan, bisa menimbulan gosip-gosip. Ribetnya juga urusan kasta. Ternyata, kasta yang selama ini gue tahu hanya Brahman, Ksatria, Wesya dan Sudra, masih dibagi-bagi lagi. Seperti Brahmana yang masih terbagi jadi Brahmana Niyogi atau Brahmana Waidika.

Belum lagi masalah perekonomian, kalau dari kasta yang sama tapi tingkat perekonomian beda, belum menjamin keberhasilan sebuah perjodohan. Pokoknya, cinta itu datang belakangan, yang penting keluarga, kasta, dan keuangan.

Selama ini, gue sering mendengar kalau umat Islam dan Hindu di India sering berselisih. Tapi, di dalam buku ini, kedua umat beragama itu hidup berdampingan secara damai. Malah saling membantu.

Lokasi buku ini ada di kota Vizag, India – sebuah kota pantai. Makanya seringkali Mr. Ali kepanasan, dan dibawakan minuman segar atau buah-buah segar sama Mrs. Ali. Kalau Mr. Ali udah minum, gue jadi ikutan segar.

Wednesday, February 17, 2010

The Unknown Erros of Our Lives

The Unknown Erros of Our Lives
(Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui Dalam Hidup Kita)

Chitra Banarjee Divakaruni @ 2005
Gita Yuliani K. (Terj.)
GPU - February 2010
264 Hal.

Terdiri dari 9 cerita pendek

Tentang perempuan-perempuan India yang pindah ke Amerika, menceritakan tentang apa yang mereka rasakan, pertentangan dalam diri mereka, hubungan dengan anak, menantu, mertua, cucu, tentang perasaan kesepian (untuk para perempuan tua), karena jauh dari teman, keluarga mereka di India. Dan untuk perempuan muda, merasa asing ketika kembali ke India. Sampai akhirnya, kadang mereka gak yakin dengan keputusan mereka pindah dari tanah kelahiran mereka.

Latar belakang cerita mirip sama novel The Unaccustomed Earth – Jhumpa Lahiri, hanya menurut gue, bukunya Chitra Banerjee Divakaruni ini lebih serius, ceritanya lebih beragam. Lebih ke interaksi antara sesama orang India, bukan interaksi India-Amerika.

Favorit gue: Nyonya Dutta Menulis Surat. Masih ada beberapa lagi sih yang gue suka.

Secara keseluruhan, cerita bagus-bagus, tapi ya… memang ada berapa yang membuat gue bingung dan bikin gue jadi bosen.

Kenapa gue nulisnya begini? Karena sering kali merasa bingung kalo nulis pendapat gue tentang kumpulan cerpen. Jadi ya… begini aja deh…
 

lemari bukuku Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang